Selamat malam Minggu.

Special untuk sahabat tercinta, yang tengah malam nanti ulang tahun. Kuro, tanjoubi omedetaou, love you! Doa yang terbaik untukmu dan jangan pernah bilang mau berhenti nulis!

Tanjoubi juga abang ganteng saya, Bakagami Taiga. Semoga makin imut, wehehe.

..

Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki Sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman–teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.

"Malam Minggu AoKagazone: Selamat Ulang Tahun, Bakagami"

By : Zokashime

Warn: Bahasanya kasar! YAOI, OOC/Typo bisa jadi, konyol, nggak jelas, humor garing, dan banyak lagi :D. DLDR!

Yosh! Semoga menghibur and happy reading.

.

.

.

Munafik, jika Kagami tak merasakan senang yang luar biasa. Siapa yang melakukan ini? Aomine? mana mungkin!

Pukul 04.00 pm di hari Sabtu.

Kagami Taiga duduk kaku di sebuah kursi, rambut acak-acakkan efek baru bangun tidur, mata tak berkedip, dan pandangan kosong, sebelas duabelas dengan ikan asin yang baru diangkat dari penjemuran.

"Baka, sadar!" Aomine menarik hidung Kagami dari sebrang meja. Sang empu mengikuti arah tarikan tersebut sampai tubuhnya condong 45 derajat.

"Aho, bangsat!" menepis lengan dim yang telah menyakitinya. Mengusap hidung yang semu kemerahan. "Sakit, sial!" masih tidak terima.

"Cengeng, huh!"

"Kirain … gue lagi mimpi. Apa-apaan ini?" Kagami memandang heran makanan yang tak seberapa, berbaris rapi di hadapannya. Bergulir menatap Aomine untuk meminta penjelasan.

"Tsk! Nggak usah heran gitu. Gue masak buat lo, Baka." Sebal, ia melengos dan menggaruk tengkuknya.

Kagami menaikkan alis sebelah. Tentu saja heran, seorang Aomine Daiki mahluk songong paling malas se planet bumi mendadak membuatkan makanan untuknya.

Ya, walaupun hanya semangkuk mie instan. Dengan tambahan telur rebus yang belum sepenuhnya matang, juga beberapa cabe yang tidak diiris. Kemudian, di sampingnya satu gelas air putih yang penuh dengan es batu.

Pilihan pertamanya jatuh pada gelas yang sudah menghasilkan banyak embun, ia meminumnya sampai dua tegukan penuh. "Jadi, ceritanya lo lagi baik sama gue, Aho. Atau ada orang lain di dalam diri lo, hh?"

"Berisik, ah!" Aomine merampas minum Kagami dengan tidak tahu diri, menegakknya brutal hingga yang tersisa hanya gundukan es batu.

Kagami tidak berkomentar. Biarkan Aomine sadar sendiri. Ia lebih memilih menyicipi mie instan yang sejauh mata memandang sangat tidak meyakinkan.

Aomine beranjak dari kursi, selepas itu ia berdiri di belakang Kagami yang sedang mengecap-ngecapkan lidahnya.

"Aho, nggak ada rasanya," protes Kagami.

"Hah, masa iya? Coba sini nyicip." Dari belakang ia mengangkat tangan Kagami yang memegang sendok berisi kuah, kemudian setelah dekat benda stainless itu diraupnya.

Kagami speechless, merasakan kuah panas menetes di kepala. Ia menghela napas, tak tahu harus berkomentar apa.

Aomine menarik kursi dan duduk di samping Kagami. Menyerahkan benda yang notabene sangat penting ketika kau memasak mie. "Nih, bumbunya ketinggalan." Aomine nyengir innocent.

Kepala sewarna lautan dalam itu menjadi sasaran empuk dari sendok yang dilayangkan Kagami. "Dasar idiot!" menggeser mangkuk mienya ke hadapan Aomine.

"Apa?" Tanya Aomine kasual

"Masukkinlah bumbunya." Kagami melipat ke dua tangan di dada.

"Harus gue?"

"Iya. Baik itu jangan setengah-setengah."

Mendengus. Ogah-ogahan, tapi tetap dijalankan, Aomine menuruti kemauan Kagami. Memasukkan bumbunya dan mengaduk sampai rata. "Udah. Perlu gue suapin?" godanya.

"Nggak! Makasih!" Sewot. Kagami menarik mangkuk itu dan menyerudupnya.

"Alah, dasar bodoh!" mengacak rambut Kagami kuat. "Lo punya hari ulang tahun juga, ya? Kirain lo lahir dari batu, kan lo keras kepala."

"Egehhh!" Kagami menggeram tak jelas, mulut sedang beralih fungsi menjadi mesin giling. Mirip seekor kucing yang ketakutan makanannya akan di rebut. Tangan kiri bergerak-gerak di udara ingin menepis jejari Aomine yang mengacak rambutnya tidak sopan.

Jail. Sesuatu yang sudah melekat pada diri Aomine sejak ia bertemu dengan mahluk yang hobinya emosian. Kurang puas mengganggu, jarinya turun ke perut Kagami yang terbalut sehelai singlet merah. Menggelitiki tanpa ampun.

Kagami tak tahan, ia akan meledakkan amukannya sebentar lagi. Menaruh sendok. "Awoinedeimehh!" lagi-lagi bergumam tak jelas. Banyak untaian mie yang menggantung di bibir, mengantri untuk ditelan.

Aomine sebagai pihak penikmat, gemas menyaksikan hal itu. Menarik kursi yang diduduki Kagami supaya menghadapnya. Tanpa basa-basi ia duduk dipangkuan si mata merah yang terlihat buncah.

Senang hati ia membantu, memakan mie yang bergelantungan di bibir Kagami sampai mulut mereka beradu. Memasukkan mie yang tersisa dengan lidahnya dan dia mulai bersenang-senang di sana.

Kagami hampir tersedak. Bingung mau menelan mie atau lidah panas Aomine. Ia gagal mengimbangi kecepatan bibir panther itu dalam beraksi. Sangking menikmati permainan ganas, mereka lupa diri jika mereka berada dalam satu kursi.

BRUK!

DUG!

Terjungkal bersama. Entah nasib atau takdir, intinya kepala Kagami mencium lantai, membuatnya melihat banyak bintang bertebaran. Semoga tidak mati.

Saat tersadar, Aomine melepaskan tautan bibir. Banyak saliva yang terproduksi. Mereka bertemu pandang. Aomine mengelap sisa salivanya di mulut, kemudian dengan tak merasa bersalahnya ia terbahak. "Rasain tuh sakit, emang enak!" katanya.

"Fuck! Aho!" Kagami menekan kata-katanya dengan gigi yang bergemeretak. Ugh, kejengkelannya tak bisa lagi didefinisikan. Jika bisa pun akan setebal dan sebanyak novel Twilight. ADA MANUSIA SEPERTI AOMINE FUCKING DAIKI? ADA?

"Woi, santai," Aomine membalas dengan senyuman.

"Santai celana dalem lo!"

"Marah, nih." Alih-alih meminta maaf, Aomine malah meledek.

Sebodo amat. Kagami berusaha bangun dari tindihan tubuh Aomine. "Minggirlah, sialan!"

"Nggak mau. Gue nyaman di sini."

"Ya, lo nyaman! Gue kesiksa di bawah."

"Jadi, mau gentian di atas." Aomine menaik turunkan ke dua alisnya. "Boleh, kok."

"AHO BANG- wohh!"

Aomine tak memberi kesempatan Kagami mengumpat. Ia membalik posisi.

Kesempatan emas itu dimanfaatkan Kagami untuk bangun. Namun, tangan dim di bawah berhasil menarik pinggang hingga terjatuh lagi. Wajahnya menabrak dada bidang Aomine, ia didekap erat tak mungkin bisa lolos.

"Selamat ulang tahun, Bakagami," bisik Aomine tulus. "Walau umur lo berkurang, hiduplah lebih lama buat gue."

Kagami tersentuh, ia tersenyum. Jantungnya berdetak seirama dengan jantung lelaki di bawahnya.

Tapi sayang, hanya berlangsung lima detik. Tetiba ia mengingat sesuatu yang menjengkelkan, baru tahu kalau jantungnya bereaksi bukan karena Aomine berbicara seperti itu, tapi karena …

"SIAPA. YANG. ULANG. TAHUN." Kagami berucap keras-keras. Menyingkirkan tangan Aomine yang menjeratnya. Berdiri, tidak lupa dengan sangat sangat sengaja menginjak jari tangan Aomine.

"Hah!?" Aomine tak paham. Ia masih dalam posisi tiduran di lantai. Netranya mengikuti arah gerak Kagami dari bawah. "Ya, elo, bego! Masa gue."

Kagami mendelik. Membuka kulkas dan mengambil minuman dingin. "Maaf aja. Gue nggak pernah merasa dilahirin ke dunia tanggal 6 Agustus." Menguras cairan dari kaleng sampai peot. Melemparnya dengan sukses ke dalam kotak sampah di bawah wastafel.

Aomine mengedipkan matanya paham, bangkit dan mendekati Kagami. "Err ... jadi lo ngambek, Baka."

"Nggak, emang gue anak kecil." Berjalan keluar dapur.

Aomine mengikuti di sampingnya. "Bohong!" celanya. "Oke, maaf. Bukannya gue lupa tanggal ulang tahun lo, Bakagami. Cuma kan ponsel gue ketinggalan di sini. Jadi gue nggak bisa ngubungin lo." Jelas Aomine.

Kagami bersiul-siul, pura-pura tak mendengar. Ia menghidupkan tivi dengan volume yang memekak telinga supaya suara Aomine terendam.

Mungkin Aomine akan menganggapnya kurang dewasa. Tapi hell! Terserah saja.

Baginya, ucapan ulang tahun tidak sepenting itu sampai ia harus merajuk dan tak mendengar penjelasan Aomine. Meski ia tidak menolak, jika kalimat yang hanya bisa diucapkan setahun sekali terdengar ke telinganya.

Well, siapa yang tidak senang, jika moment pertama kita menghirup oksigen di dunia diingat banyak orang. Apalagi jika seseorang itu merupakan salah satu yang terpenting.

Hanya saja Kagami tak ambil pusing. Masalah utamanya adalah, Aomine pergi dari apartemen selama kurang lebih tujuh hari tanpa pamit, yang paling menjengkelkan dia lupa membawa ponsel. Dasar idiot!

Awalnya ia cuek, mungkin manusia satu itu main ke rumah Kuroko yang juga sahabatnya, atau ke rumah Kise untuk main one-on-one, atau bisa jadi kelapangan basket. Ia berpikir positif, toh Aomine sudah bukan anak kecil.

Dia malah santai mengurusi sarapan Akiko, sebelum anak itu di jemput Himuro. Sempat bertanya, tapi jawaban Akiko tidak tahu. Sampai pada jam menunjukkan pukul 11 malam, mahluk dedemit itu belum pulang juga.

Mau tak mau ia merasa was-was. Sudah menelpon semua orang dikontaknya, terutama yang mengenal Aomine. Kekhawatiran bertambah satu oktaf, ketika tidak ada satu pun dari mereka yang tahu, termasuk ibunya sendiri.

Apa? Pikiran Kagami melayang-layang kala itu. Banyak terlintas pesan negative mulai menginvasi otak. Jangan-jangan Aomine ketabrak truk, bus, kereta api atau kendaraan sejenisnya. Apa Aomine di makan anjing ganas saat main basket? Atau kesandung batu kemudian kepalanya bocor.

Semuanya, pemikiran itu, dari yang normal hingga yang abnormal datang bermunculan keluar masuk.

Kagami tak memandang sudah jam berapa, atau selarut apa. Ia cepat bergegas ke lapangan basket yang biasanya mereka gunakan untuk bermain. Takutnya, Aomine ketiduran di sana karena lelah.

Mengabaikan jalanan dan lapangan gelap. Ia tegar. Menepis semua pikiran negativenya tentang hantu. Walau kenyataan, tubuhnya bergetar hebat dan berkeringat panas dingin, apalagi ketika ia mendengar geraman anjing liar di hadapannya.

Mata anjing itu hidup, menatapnya seolah mangsa terlejat. Jantungnya serasa berhenti berdetak, dan ketika membuka mata lagi matahari sudah menyambut setinggi 40 derajat. Ia menyimpulkan sendiri, jika semalam kemungkinan ia pingsan.

Siang harinya, Kagami tak ingat pukul berapa. Ia sedang frustasi berat, tiba-tiba Ibu Aomine menelpon, dan memberi kabar jika mahluk setengah jadi itu rupanya di sana.

Kagami menarik napas penuh syukur. Sumpah, jujur, yakin, ia lega, sangat lega jika ternyata Aomine baik-baik saja.

Lima belas menit kemudian, ia mengamuk terbakar amarah. Mencaci maki Aomine sampai mulutnya berbusa. Merobek semua pamphlet dengan keterangan "Orang Hilang" lengkap dengan foto Aomine dan nomor ponselnya yang sudah susah payah ia buat, tinggal siap sebar.

HIDUP AOMINE MEMANG TIDAK BERGUNA!

.

Aomine merebut paksa remote dari tangan Kagami. Mematikan tivi yang suaranya menyaingi bioskop. Menarik wajah Kagami menghadap kepadanya. "Lo seriusan ngambek?"

"Pikir ajalah, Aomine! lo kira lucu berbuat hal semacam gitu."

Aomine?

Dari perkataannya, Aomine yakin jika Kagami bener-bener marah. Ia mendengus. "Terus gue harus gimana?"

Kagami membungkam mulut. Kekesalannya yang teramat sangat seminggu yang lalu hadir kembali.

"Baka?" Aomine merengut. "Cepet tua, lho," katanya merayu. Menoel-noel pipi Kagami yang penuh urat hidup.

Menepis jijik!

Aomine mengulanginya.

Ditepis lagi.

Aomine masih mengulanginya.

Lebih ditepis.

Aomine lebih mengulanginya.

Begitu terus. Sampai pada Kagami greget dan mengigit jari telunjuk Aomine tak tanggung-tanggung.

Aomine hanya diam menerima. Tak berteriak ataupun melawan, membiarkan Kagaminya puas. Hanya menekan giginya di dalam mulut, menahan perih saat taring Kagami merobek kulit dan menembus daging yang ada.

Setelah puas, Kagami melepaskan. Dan dia merasa bersalah melihat darah yang keluar dari lubang gigitannya. "Maaf," katanya.

"Nggak apa-apa. Kalau kurang puas gigit aja lagi. Atau mau pindah ke yang banyak dagingnya?" tawar Aomine.

"Yaudah, sih, gue kan udah minta maaf!"

"Gue tahu, sakit yang gue rasain nggak sebanding, kan, sama yang lo rasain," ucap Aomine.

Kagami muntah. Dia tertawa sekuat yang ia bisa, guling-guling sembari memegangi perutnya. Kalimat macam apa yang barusan keluar dari mulut seorang Aomine Daiki. Kagami. Ulangi. Seorang. Aomine. Daiki. Mungkin kepalanya kebentur beton jembatan.

"Belajar dari mana kalimat begitu, hh?" Kagami memukul-mukul punggung Aomine.

Sang empu ikut tertawa. Mencium bibir si Baka-nya kilat, membuat mahluk itu diam seketika.

"Tsk!" yang bersangkutan berdecak. Berlari ke dapur dan datang lagi membawa sekotak alat kesehatan. "Mana gue obatin," katanya. Aomine menyodorkan jarinya yang sudah membengkak.

Huh, pada akhirnya, Kagamilah yang merasa bersalah. Memang, dia tidak bisa benar-benar marah terhadap Aomine, atau otaknya saja yang bermasalah, entahlah.

Mereka berbaikan, tertawa-tawa, dan saling tinju. Masalah tadi langsung uninsntal sampai akar dari otak masing-masing.

Banyak yang dilakukan setelah itu, Kagami membuat makanan seadanya sebab Aomine melarang masak berlebihan, tidak mengerti mengapa begitu, namun ia menurut saja.

Selekas makan bersama, mereka mandi bergantian. Kembali ke ruangan tivi untuk bermain game.

"Gue menangggg… huuuu…" teriak Kagami kesenangan.

Aomine hanya terkekeh dan mengacak surai Kagami. Melirik jam dinding, jarum pendek sudah ada di angka tujuh dan jarum panjang tepat di angka duabelas. "Baka, yang paling lo benci dari tubuh gue apa?" tanyanya.

"Hah?"

"Jangan pura-pura nggak denger, males ngulanginnya."

"Gue benci semua yang ada di diri lo, puas?" ucap Kagami, tidak mengalihkan sedikit pun pandangannya dari game.

Aomine mematikan monitor secara sepihak, Kagami di sampingnya sudah menganga siap mengajukan protes dan siap bertarung.

"Iya, gue tahu kalau lo protes," tutur Aomine lebih cepat. Menarik lengan Kagami, dan menggeretnya.

"Kita mau ke mana, Aho?" pertanyaan yang biasa.

"Udah ikut aja, pake dulu sepatu lo." Aomine meletakkan benda yang di maksud di hadapan Kagami.

Menggandengnya keluar apartemen, dan kali ini tidak ada balapan, Aomine dengan rela hati mengunci pintu.

Kagami tak protes. Tak ada satu kata yang terucap setelah terakhir mengajukan pertanyaan di apartemen. Sekarang mereka sedang mencegat taxi di pinggir jalan.

Tidak tahu lupa, atau bagaimana, Aomine tidak melepaskan gandengan tangan sampai taxi yang dipesan muncul. Mereka masuk bersama, dan barulah tautan itu di lepas.

Kagami memutar bola mata. "Kita mau ke mana, Aho? Gue nggak bawa dompet. Lo sih main tarik-tarik aja. Gue nggak mau tanggung jawab tentang pembayaran."

"Berisik kayak mulut perempuan. Diem aja kenapa, nanti juga tahu."

Kagami menonyor wajah Aomine. "Salah gue Tanya, huh!?" Suara Kagami menggaung, membuat bapak supir menengok.

Aomine menutup mulut Kagami dengan tangan. "Karena lo bilang, yang lo benci dari tubuh gue itu seluruhnya, jadi hadiahnya kita jalan-jalan."

Menautkan alis. "Terus, kalau seandainya gue Cuma benci sama mata lo? Hadiahnya apa?"

"Ya, jalan-jalan."

"Hidung?"

"Ya, jalan-jalan."

"Kepala?"

"Ya, jalan-jalan."

"Ahomine, tolol. Kalau semua hadianya jalan-jalan kenapa meski milih!"

"Biar beda, bego."

"Terus, kenapa harus milih yang dibenci?"

"Karena nanti, kalau lo inget moment ini, lo jadi nggak benci lagi sama dia."

"Omongan lo makin nggak gue paham. Kepala lo kejedot titan kolosal?"

"Iya, mungkin." Aomine terbahak.

Berikutnya mereka tak saling bicara. Aomine sibuk dengan ponsel, Kagami hanya melihat dari sudut mata. Penasaran apa yang sedang Aomine kerjakan, namun mulutnya sangat malas untuk berkata, jadi biarkanlah.

Detik-detik yang terkumpul berubah menjadi menit. Menit yang sudah tercipta begitu saja berlalu, dan taxi pun berhenti. Kagami yang turun duluan, sedangkan Aomine masih sibuk dengan Bapak supir.

Pikirannya banyak mengeluarkan tanda Tanya. Saat ini mereka sedang berdiri di depan stasiun. Kagami tahu ini jalan-jalan, tapi akan menyebalkan jika hanya kita sendiri yang tak tahu ke mana arah tujuan.

Dia masih melongo bodoh, saat tangan Aomine menariknya ke dalam dan mengantri di pintu masuk. "Tunggu di sini." Aomine pergi membeli tiket.

Kagami diam, mata yang waspada mengamati pemuda tinggi yang berdiri jauh dari jangkauannya. Uh, sepertinya ia sedang dibawa flashback ke beberapa bulan yang lalu. Ingat mereka saat naik kereta?

Yah, kurang lebih sama. Kagami berdiri di sini mengamati Aomine yang membeli tiket. Lalu, mereka masuk bersama dan menaiki kereta sesuai tujuan.

Ia paham sekarang. "Aho, gue kenal arah tujuan ini." Ia mencoba berbicara dan menatap Aomine sejelas mungkin dikerumunan manusia yang luar biasa.

Deruan mesin juga ocehan yang keluar dari banyak mulut manusia, membuat perkataan Kagami tak sepenuhnya terdengar. Lagipula mereka terhalang satu orang. "Hah, apa? Bentar gue ngedeket." Sembari mencari celah kecil untuk lewat.

Usaha mendusel-dusel orang lain berhasil, saat ini ia berada di belakang Kagami. Menaruh kedua tangan di pundak si alis cabang sebagai keseimbangan. "Apa, Baka?" tanyanya di telinga Kagami.

Kagami menoleh mendekatkan bibir ke telinga Aomine, siap menjawab. Tetiba kereta mengalami guncangan kuat, belum sempat bicara bibir peachnya malah sukses mendarat di pipi Aomine.

Bukannya cepat ditarik Kagami hanya melongo.

Aomine jail. "Oi, Baka. Sabar sedikit, kita masih di tempat umum. Cium-cium lagi."

Kagami menjitak kepala Aomine. "Siapa juga yang cium. Itu tadi nggak sengaja, lo nggak ngerasa kalau keretanya keguncang. Salahin keretanya!" sewot.

"Alah, bilang aja malu. Padahal mau kan, kan?" Aomine memeluk Kagami dari belakang.

Urat Kagami keluar. "SHUT UP! AHOMINE!"

Aomine makin menaikkan taraf kejailannya, dan mereka tidak sadar kalau sedaritadi sebenarnya mereka menjadi pusat perhatian.

Bahkan, rombongan gadis di samping berhasil mengabadikan banyak foto. Bapak-bapak yang berhasil Aomine lewati memicing tak suka. Ibu-ibu hanya memasang muka Teflon, ada juga yang berbisik-bisik. Ekspresi yang bervariasi.

Stop bertengkar, mereka mendapati kereta sudah berhenti di stasiun tujuan. Kagami turun terlebih dulu dan tak melepas gandengan Aomine. "Stasiun ini gue tahu," katanya semangat. "Ahhh, lo mau ngajak gue ke festival musim semi lagi, ya?"

Aomine memutar bola mata malas. "Gue Tanya, emang sekarang musim apa?"

"Musim panas."

"YAUDAH KALAU GITU MANA ADA MUSIM SEMI, BEGO!" emosi.

"Biasa aja, salah dikit!" tak terima. "Ya, siapa tahu ada festival kembang api, nggak melulu musim semi, kan?"

Aomine lelah. Merangkul Kagami dan membungkam mulutnya lalu melangkah pergi keluar stasiun. "Kita bukan mau ke sana, oke."

Tak lama, Kagami dimasukkan ke dalam mobil. Menyebalkan, Serasa anak ayam. Bukan taxi, bus, ataupun truk.

Kagami tahu ini mobil mewah. Lihat dari bodi dan warnanya yang mengkilat. Hah, Aomine mendapatkannya dari mana? Untuk sekedar informasi, ada seorang supir di sana.

Hentikan wajah Aomine yang terlihat biasa saja, dan dirinya yang merasa paling bodoh karena tak tahu apa-apa.

Mobil menderukan mesinnya dan meninggalkan stasiun. Kagami mendengus dan menatap Aomine dongkol. Malas kalau harus selalu bertanya 'Kita mau ke mana?' inginnya, mulut Aomine menjelaskan sendiri tanpa harus diperjelas.

Tapi tunggu, "Kayaknya gue pernah naik mobil ini, tapi kapan, ya?"

"Perasaan lo aja kali, Baka."

"Serius, gue pernah liat bapak sopir itu sebelumnya." Masih dengan keyakinannya.

"Kapan?"

"Nggak tahu."

Aomine menarik poni depan Kagami. "Gue bilang juga Cuma perasaan lo."

"Tsk! Gue ngantuk." Menepis dan mulai memejamkan mata.

Aomine membuka paksa kelopak mata Kagami, menyembulah bola merah. "Jangan tidur."

"Ngantuk."

"Bentar lagi sampe."

Kagami mengurungkan niatannya untuk berlabuh ke pulau mimpi. Dan sedikit aneh ketika indra penciuman merasakan bau air laut yang menguar. Untuk memastikan, ia membuka jendela, benar saja mobilnya sedang melaju 500 km dari pinggir pantai.

Belum juga semua yang ada di benaknya terjawab, mobil mewah itu berhenti di sebuah villa besar nan megah. Ketika ia turun, surai kuning dari kejauhan terlihat mendekat.

"Kagamicchiiiiiiiiii…." Teriak Kise senang, menabrak Kagami antusias dan cepat memeluknya. "Selamat ulang tahun, ya. Walau aku sudah mengucap di telpon, tapi tidak puas rasanya kalau tidak secara langsung-ssu." Tertawa, mendekap Kagami sampai tak bisa bernapas. "Bagaimana liburan musim panasnya?"

"Ah, itu … aku …"

Aomine tidak suka, melepas tangan Kise yang menggelayuti Kagami. "Kisee, jangan peluk-peluk dia. Lepas!"

"Ih, Aominecchi pelit sekali, sih. Memangnya Kagamicchi Cuma punyamu." Pura-pura ngambek, tapi toh dia melepaskan Kagami juga pada akhirnya.

"Memang dia Cuma punya gu-"

"Lama sekali, Daiki." Akashi datang menengahi dan menemui supir yang menjemput mereka.

"Yo, Akashi. Tadi ada yang marah, jadi aku harus membujuknya." Aomine langsung mendapat injakan di kaki.

Akashi megabaikan pertengkaran yang sebentar lagi akan meledak. Dia mendatangi supirnya dan berkata, "Terima kasih sudah menjemput mereka," ucapnya sopan.

"Sama-sama Tuan muda, kalau begitu saya kembali."

"Hem, hati-hati."

Kagami baru mengingatnya sesuatu yang sudah di ujung lidah. Mobil mewah, sopir, villa, dan Akashi. Iya, dulu mereka pernah ke sini untuk bermain game. "Kita mau main game lagi?"

Mendadak ia merasa dibawa kabur. "Oi, tak usah lari-lari, Kise!" katanya. "Aku bisa jalan sendiri."

"Diam! Aominecchi cerewet."

Dasar, mahluk kuning tak tahu diri. Mereka lari-larian, Kagami tak tahu maksudnya apa? Makin dekat ia melihat sekumpulan orang di area terang pinggir pantai.

"Oi, Kami datang-ssu," teriak Kise.

"Kaka Taigaaaa …"

Anak kecil berlari ke arahnya. "Wo, Akiko ada di sini juga." Dan ia langsung bertatapan dengan dua orang yang sudah pasti …

"Taiga, selamat ulang tahun, ya." Himuro mendekap Kagami hangat.

"Thanks, Tatsuya," balasnya.

"Kagachin, selamat ulang tahun nee.." Murasakibara ikut memberi selamat. "Malam ini tak apa aku makan sedikit saja, biar makanannya untuk Kagachin semua."

Kagami bingung harus menjawabnya. "Thanks. T-tapi tak usah serepot itu, Murasakibara."

"Ayolah, Shin-chan…" Takao merengkek di samping Midorima yang berjalan tak peduli.

"Tidak mau, nanodayo!" Midorima jengkel. "Ck! Dan Kuroko, hentikan kamera yang mengarah kepadaku."

"Aku hanya mengambil video, Midorima." Jawab Kuroko sekenanya, focus dengan aktivitas yang ia jalankan. Kemudian kamera itu pindah menyoroti Kagami yang sedang berbincang dengan, Kise, Himuro juga Murasakibara.

"HUWAAA…. A-ada kamera melayang." Teriak Kagami

"Ini aku, Kagami-kun," nadanya datar seperti biasa.

"Oh, ooh, ooohh … K-Kuroko. Kau masih seperti biasa, ya."

"Sini, aku yang membuat video Kurokocchi." Kise mengambil kamera dari tangan mungil Kuroko dan siap bekerja.

"Kagami-kun, apa aku harus mengucap selamat ulang tahun juga?" Tanya Kuroko tak penting.

"Hah!? Y-ya terserahlah!" Kagami hampir hilang keseimbangan ketika tubuh seseorang menabraknya kuat.

"Dasar, Shin-chan pelit! Pinjam ponsel saja tidak boleh!" katanya. "Yo, Kagami. Maaf menabrakmu. Selamat ulang tahun." Merangkul-rangkul sok akrab.

"Ah, ya. Thanks Takao."

"Ini," Midorima menyodorkan mobil-mobilan plastic. Menaikkan kacamatanya. "Untuk mencegah kesialan Leo di hari ulang tahun."

Semua tertawa. Kagami menerima dengan tampang berkerut.

"Kak Muro, itu orangnya," tunjuk Akiko kepada dua orang yang baru datang. Khususnya kepada …

Aomine merasakan atmosfir tidak enak, saat matanya dan Himuro bertemu. Akashi hanya memperhatikan.

"Aomine, boleh bicara sebentar," pinta Himuro.

Aomine cepat-cepat berlindung di belakang Kagami. "Mampus gue, Baka."

"Rasain lo." Kagami pergi dengan sengaja meninggalkan Aomine, ia lebih memilih melihat video yang diambil Kise.

Akiko menatap Aomine garang. "Ka Muro, cepat marahi dia."

Aomine memasang wajah sok kalem, padahal dalam hatinya bergemuruh igin membuang anak itu ke tengah lautan. "Bukannya kita sduah baikan?"

Akiko membuang muka. Dan Himuro mendekat. "Aomine, aku dengar semua ceritanya dari Akiko. Apa benar kau membuangnya?"

Harus bagaimana? "Ah …" Aomine menoleh kanan-kiri mencari perlindungan.

"Cepat ngaku!" teriak cempreng Akiko.

"Habisnya dia menyebalkan," tunjuknya pada Akiko.

Himuro terkekeh. "Aomine, dia Cuma anak kecil. Bagaimana bisa kau meninggalkannya sendirian di keramaian."

Akiko nyengir lebar. Ia senang melihat wajah om hitam itu merasa bersalah.

Dalam hati Aomine, 'LIAT AJA GUE BUNUH LO!' tapi di luar. "Oke, tak akan terulang."

"Akiko sudah, kan. Sekarang berteman, ya, dengan ka Aomine," ucap Himuro lembut.

"Malas!"

"Oii…. ayo kita mulai manggang daging-ssu," teriak antusias Kise juga Takao yang sudah mempersiapkan alat-alat dan bahan makanan. "Kagamicchi yang ulang tahun, jadi Kagamicchi yang masak, ya."

"Hah, justru aku yang ulang tahun. Harusnya aku hanya duduk." Kagami protes.

"Yasudah, kalau mau Kurokocchi yang masak supaya tak matang-matang."

"Kise-kun, kembalikan kameraku!"

"Atau, Shin-chan yang tak bisa apa-apa."

"Diam, Takao!"

Mengingat kenyataan itu, Kagami melakukannya juga. Menyiapkan daging dan lainnya yang akan dipanggang, sembari berpikir keras. Dia sadar, dari saat bangun tidur sampai sekarang terlalu banyak kejutan yang diterimanya.

Mulai dari kepulangan Aomine, yang tiba-tiba sudah membuatkan makanan di meja. Lalu, ia marah karena Aomine sama sekali tak menjelaskan alasan kepulangannya ke Hokaido, bahkan sampai detik ini pun.

Setelahnya mereka berbaikan, Aomine menyeretnya keluar untuk jalan-jalan. Hingga Kagami lelah bertanya tentang tujuan mereka ke mana.

Titik akhirnya di sini, di villa Akashi. Dan makin mengejutkan saat semua teman-temannya hadir, menyambutnya, dan mengucapkan selamat.

Munafik sekali jika ia tak merasakan senang yang luar biasa. Siapa yang melakukan ini? Aomine? mana mungkin. Jikalau benar memang Aomine, ia rasa sebentar lagi dunia Kiamat.

Tentu sajalah, sangat mustahil Aomine mengundang semua temannya, menghubungi Akashi untuk memakai villa juga pantai, hanya untuk memberi kejutan terhadapnya. Ingatkan Kagami, jika ia tak sedang dalam mimpi.

Mata mereka bertemu, ia melihat Aomine yang melambaikan tangannya dan tersenyum di kejauhan. Sedang asyik bersama Kise, Takao dan Kuroko memperebutkan Kamera.

Akashi dan Midorima menggelar karpet untuk bermain shogi. Himuro tidak ada, mungkin ia ke villa untuk menidurkan Akiko. Yah, anak kecil tidak baik di udara malam lama-lama.

Murasakibara di sampingnya. Sudah membawa piring besar untuk meminta bagian. Padahal Kagami baru saja membumbuinya. "Murasakibara, tuggu saja di sana. Ini masih lama."

Tak ada suara dari mahluk tinggi itu. Kagami tersenyum dalam diam, menepis semua pikirannya dan menikmati sesuatu yang sudah ada di depan mata. Soal penjelasan, ia akan mengintrogasi Aomine jika sudah pulang.

"Sial, Tetsu!" decak Aomine, kameranya dirampas lagi. "Jangan gunakan ilmu tak kasat matamu itu!"

"Aomine-kun saja yang bodoh!"

"APA!?"

Kise mengangguk-angguk. "Yeah, Aomicchi memang bodoh."

"Kise-kun juga tak kalah bodoh."

"Kurokocchi …. Padahal aku membelamu." Ngambek. Kise menarik Takao, pindah merusuhi Akashi dan Midorima. Takao sih, oke-oke saja.

Aomine tak peduli, ia mencuri pandang kepada seseorang yang sedang sibuk dengan para daging. Wajah itu penuh keringat akibat uap panas.

Ia tahu apa yang ada di dalam pikiran Kagami tentangnya. Semuanya jelas terlukis saat tadi mereka bertemu pandang.

TIDAK MUNGKIN AOMINE DAIKI MELAKUKANNYA. Begitu, bukan?

Ayolah, jangankan Kagami, ia pun tak menyangka bakal melakukan ini semua. Memberi kejutan yang tak pernah ada dalam pikiran minimnya. Merepotkan, itu salah satu yang terlintas jika kita akan melakukan hal besar.

Yeah, Aomine tidak bohong semua ini merepotkan. Awalnya ia hanya ingin mengajak Kagami ke majiba, lalu bermain basket di lapangan biasa. Sudah. Itu saja, yang ia rencanakan di hari ulang tahun Kagami.

Ini.

Mengundang semua teman berkumpul bersama, menghubungi Akashi untuk memakai villa, sama sekali bukan idenya. Syaraf otak yang ia miliki tak sejauh itu untuk dibuat bekerja.

Salahkan kepala biru langit dan spongegob yang sedang berlari-larian. Aomine yakin sebentar lagi Kuroko pingsan.

Tepat, ide itu datang dari mereka. Membuat grup chat membahas ulang tahun Kagami. Aomine menolak mentah-mentah, Karena apa? Karena ia tak punya biaya. Untuk mentraktir ke Majiba saja Aomine harus nabung, serius. Bayangkan, makan Kagami itu menguras dompet.

Kise memberi saran supaya dia meminjam uang kepadanya. Tentu saja tidak akan terjadi. Aomine sudah banyak hutang, please.

Saat menerima telpon di pagi hari. Aomine melotot, menanyakan kebenaran tawaran kerja dari temannya di Hokaido. Walau kenyataan harus menjadi seorang host. Ya, dia percaya dia tampan, sexi, exsotis dan segalanya.

Aomine tertarik, lebih baik menjadi seorang host dan menghasilkan uang daripada harus menghutang, meski ia tahu resikonya Kagami akan marah besar. Ia sengaja tidak pamit, dan sengaja meninggalkan ponselnya.

Karena ia tahu, jika bilang-bilang, Aomine tak akan diizinkan. Kemungkin Kagami akan berbicara seperti ini, "Ulang tahun gue nggak sepenting itu, Aho. Jadi, nggak usah melibatkan diri."

Dan entah mengapa, Aomine juga tak ingin mengecewakan Kise dan Kuroko yang sudah sangat antusias dan semangat merencanakan ulang tahun Kagami daripada dirinya. Dan saat itu ia berkata, "Gue setuju, tapi nggak tepat dihari ulang tahun Kagami, ya. Paling lambat minggu depan."

Malam ini. Malam Minggu di musim panas mereka menjalankan rencananya. Jika Aomine sering berkata gombal pada Kagami, itu efek menjadi seorang host selama seminggu.

Hidup itu berat!

"Baka, laparrrrr.." rengek Aomine merusuhi daging-daging yang sudah matang.

"Minechin, ngantri. Aku sudah lama menunggu di sini." Murasakibara kesal.

Kagami mulai tak peduli saat keduanya bertengkar. Memanggil yang lain untuk makan bersama. "Oi, Kuroko hentikan kameramu itu. Kau tak mau makan, pantas saja tak tumbuh-tumbuh." Kagami memperingati.

"Kagami-kun duluan saja."

"Shin-chan, mau kusuapi tidak?" menyodor-nyodorkan makanan ke mulut Midorima

"Hentikan, Takao- mpp."

"Yahaaa, aku berhasil memasukkannya. Mau lagi?"

Midorima memakan daging yang ada di hadapannya cepat. "A-aku sudah kenyang."

"Kurokocchii … aaaa….." Kise sukses memasukkan makanan ke mulut Kuroko, karena pada dasarnya manusia bak hantu itu tidak peduli, ia akan berterima kasih jika ada yang menyuapinya, sebab ia hanya focus pada video yang sedang direkam.

"Baka, aa….." Aomine membuka mulutnya meminta disuapi juga

"Makan sendirilah, punya tangan, kan! Gue capek."

Semua menikmati makanan dengan syahdu. Murasakibara malah tak mau sama sekali diganggu, baik itu Himuro sekalipun.

Mereka beristirahat setelah makan. "Taiga, selamat ulang tahun. Sepertinya aku belum memberimu selamat."

"Uh, iya. Thanks, Akashi … Juga untuk villanya."

"Biasa saja."

.

.

.

Tengah malam tiba, mereka sudah masuk villa untuk beristirahat. Tinggal menyisakan dua mahluk dengan tinggi badan yang hanya berbeda 2 cm, duduk di pasir menghadap lautan luas, walaupun yang terlihat hanya bentangan hitam karena malam.

Kagami melukis pasir, membuat bola basket dengan jari-jarinya. Mendengarkan nyanyian alam malam hari. Deruan ombak yang santai, dan bau khas air laut yang dibawa angin disampaikan dengan baik hingga ke hidungnya.

Kagami melihat betapa luasnya langit di atas lautan. Warnanya mengingatkan kepada mata seseorang yang berada di sampingnya. "Thanks, Aho. Semoga gue nggak lagi mimpi," katanya terkekeh, meninju pipi Aomine pelan.

"Semustahil itu kalau gue berbuat baik, hh?" Aomine menyelonjorkan kaki, dan menarik kedua tangannya ke belakang untuk bertumpu.

"Bercanda," Kagami mengubah posisi menghadap Aomine, menarik kepala navy itu mendekat ke wajahnya. Mencium bibir Aomine hangat. "Thanks," katanya. Mendekap tubuh lawannya untuk meminta kehangatan.

Aomine tidak menolak. "Tumben lo manis banget. Ada apa nih?"

Kagami tak menjawab, malah lebih mengeratkan pelukannya. Aomine membalas dan berbisik, "Sama-sama." Merasakan pipi dingin Kagami yang menempel di lehernya.

Dia mendorong tubuh Kagami sampai tertidur. Tangannya masuk ke dalam baju. Lagi-lagi dia berbisik, "Apa gue perlu bilang I love you, biar lengkap, hh?"

"NGGAK PERLU! TENGGELEM SANA KE LAUT!" Teriak Kagami murka dan tak sengaja menendang 'itu' Aomine.

"BAKA, SIALAN!"

.

O

o

O

o

O

..

Terima kasih sudah membaca.

Vergissco: Ini berlanjut. Kayaknya masih lama tamatnya. Kayaknya lo, ya.

Haryakei: Iya, thanks, ya.

HaremKagamiLove: Hoho, kalau nggak ada halangan, nggak akan lama kok, diusahain tiap malem minggu kayak biasa.

Maji Tenshi 10: Mungkin memang dia kambing yang berevolusi jadi manusia, buktinya dia jarang mandi wkwkwk. Sudah lanjut, thanks, ya.

Melani: Jangan dibayangin, otak kita nggak akan nyampe. Hahah.

Guest: Welcome juga. Iya, sama-sama. Thanks, ya.

SALAM AOKAGA

ZOKA