Title :Fallen Sky

Genre :Family/Angst

Pairing :6927, D18, 8059

KHR © Amano Akira

Warning :Death!Chara, OOC, Dark!Tsuna, Shounen-Ai

.

Vongola bukan lagi kelompok mafia saat Tsuna menjabat sebagai Neo Vongola Primo. Namun, keadaan itu malah membuat mimpi terburuk terjadi. Saat semua itu semakin memburuk—sebuah kejadian benar-benar akan mempengaruhi semuanya. Akanlah menjadi lebih baik, atau malah memperburuk suasana.

{2}

Chap. 2, 2 Years Later

{2}

Suasana di markas tampak sangat sepi dan juga tidak ada suara ledakan ataupun yang lainnya seperti biasa terdengar. Sudah 2 tahun sejak saat itu—ketika penghancuran mansion Vongola yang menewaskan seratus dua puluh enam orang termasuk enam guardian utama Vongola.

Semuanya berubah, tidak ada lagi suara tawa ataupun suara ledakan kecil yang tidak berbahaya karena berasal dari sang Storm Guardian yang bertengkar atau hanya suara argument dari sang Mist dan Cloud Guardian. Rasanya seperti sebuah kota mati yang tidak memiliki kehidupan.

"Bossu, aku membawakan hasil misi kemarin seperti yang anda minta—" seorang gadis berambut indigo tampak mengetuk sebuah pintu yang ada di depannya sebelum membuka perlahan karena tidak ada sama sekali suara yang keluar sebagai jawaban, "—bossu…?"

"Jangan memakan semuanya bodoh! Bagaimana kalau Shodaime ingin semua kue itu!"

"Diamlah tako-head, Tsuna-nii tidak akan makan sebanyak ini minimal Reborn tidak akan memperbolehkannya!"

"Maa-maa, bagaimana kalau kalian berhenti sebelum tempat ini hancur?"

Suara-suara itu tampak terdengar dari ruangan yang gelap gulita itu. Hanya ada cahaya dari sebuah layar video yang menjadi penerangannya. Pemuda berusia 20 tahun itu tampak duduk di sofa yang ada di depan layar itu, duduk tenang sambil memangku kepalanya dengan sebelah tangan.

"Boss—" gadis itu berhenti mendekat saat melihat beberapa bercak darah yang ada di tempat itu. Jangan lupakan tubuh-tubuh yang kini tampak tergeletak begitu saja dengan beberapa bagian tubuh mereka tampak terpotong namun membeku sebelum mengeluarkan darah.

Bukan hanya satu, namun ada tiga tubuh saat itu.

"Mereka mencoba untuk menerobos ke markas, mist flame milikmu benar-benar membantuku untuk menghilangkan keberadaan ruangan ini Chrome," suara itu tampak tidak lagi ceria ataupun berwibawa. Hanya tampak dingin dan juga menakutkan bagi satu-satunya guardian Vongola yang tersisa itu, "ah, aku jadi memegang kaset rekaman ini dengan tangan yang kotor…"

Chrome bisa melihat tangan itu yang tampak bersimbah darah. Gadis pemegang mist flame itu sedikit mundur sebelum memegang tangannya sendiri dan berjalan mendekati Tsuna dengan sebuah sapu tangan berwarna Indigo di tangannya.

Dengan segera tampak berjongkok di depan Tsuna dan mengusap tangan Tsuna begitu juga dengan tempat kaset yang dibawa olehnya. Dua tahun sudah benar-benar mengubah sifat dari Tsuna—yang awalnya benar-benar ramah seolah tidak bisa membunuh bahkan seekor semutpun, menjadi seseorang yang terlihat seperti haus akan darah dan juga pertarungan.

Trauma akan kematian semua guardiannya benar-benar mendorongnya jatuh ke jurang yang paling dalam. Membuatnya seolah buta akan semua hal dan hanya menginginkan balas dendam saja.

"Apakah kau terluka?" Tsuna tampak memegang wajah Chrome dan menyibakkan rambut indigonya untuk melihat gadis yang baru saja menyelesaikan misi darinya itu. Berbeda dengan para musuhnya, Tsuna benar-benar menjadi sangat protektif dengan para anak buah dan juga guardiannya—dalam hal ini hanya Chrome.

Sedikit terluka, ia bisa gelap mata dan melukai lebih banyak siapapun yang melakukannya.

"Tidak bossu, apakah kau ingin aku meletakkan laporan ini atau—"

"Maaf, aku tidak ingin membaca laporan untuk hari ini," Chrome mengerti, semuanya mengerti kenapa pemuda itu bersikap seperti sekarang. Hari ini adalah tanggal 14 Oktober dimana seharusnya dirayakan ulang tahun ke-20 sang pemimpin pertama Neo Vongola. Namun, tidak sejak 2 tahun yang lalu—mereka bahkan tabu untuk menyebutkan atau mengingatkan sang boss akan hari ini.

Memegangi kepalanya dan tampak bernafas cepat dan tidak teratur, Chrome yang melihat tubuh sang boss gemetar segera bergerak dan memberikan obat penenang padanya.

"Maaf sudah merepotkanmu Chrome…"

"Tidak apa-apa," menggelengkan kepalanya, melihat kotak yang dipegang oleh Tsuna dengan erat berisi 5 Vongola Gear milik semua guardian yang tewas dan juga sebelah dari anting Vongola Mist Gear milik Mukuro terpasang di telinga Tsuna.

"Bossu—" Tsuna tampak sedikit merespon saat Chrome memanggilnya, "selamat ulang tahun…"

CRASH!

Chrome tersentak dan menutup matanya saat gelas yang ada di samping Tsuna membeku dan pecah begitu saja. Ia tidak pernah menyerah untuk mengucapkan itu selama ini. Namun tetap saja, pada akhirnya tidak ada yang bisa menyadarkan pemuda itu.

"Maaf, sepertinya aku salah mendengarkanmu berbicara—apa yang kau katakan tadi?"

"Tidak… maaf sudah mengganggu anda, bossu…"

{2}

Chrome tampak menghela nafas saat pintu ruangan Tsuna tampak tertutup saat ia keluar dari ruangannya. Tubuhnya tampak gemetar setiap kali ia masuk ke dalam ruangan Tsuna, namun ia mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin. Saat ia akan melangkah, matanya menangkap sosok Reborn dan juga Dino yang tampak berjalan kearahnya.

"Apakah kau tidak apa-apa Chrome?"

"U—um, sebaiknya beberapa anak buah membersihkan lantai ruangan bossu. Ia akan histeris kalau saat lampu menyala ia melihat darah itu," Chrome hanya mengangguk saat ditanya oleh Dino. Dino dan Reborn tampak saling bertatapan dengan raut wajah menunjukkan rasa aneh, "ada tiga mayat di dalam sana. Penyusup yang masuk ke markas Vongola..."

...

"A—aku akan memanggil beberapa anak buah. Permisi Reborn-san, Dino-san..." Dan dengan segera Chrome melewati Reborn dan Dino yang hanya menatapnya. Mereka yang ingin memasuki tempat itu tampak mengurungkan niat mereka.

"Tsuna benar-benar sudah berubah. Aku memang sudah menduga karena kematian mereka akan membuatnya terpuruk. Tetapi aku tidak percaya kalau ia akan seperti ini," Dino dan Reborn tampak menepi saat beberapa anak buah tampak akan memasuki ruangan itu untuk membersihkan mayat yang ada di dalam ruangan sang boss.

"Bukankah kau juga berubah?" Dino menoleh pada Reborn yang menyembunyikan wajahnya di topi fedoranya, "kau sudah tidak lagi membutuhkan anak buahmu untuk tidak bersifat ceroboh. Dan kutebak, itu bukan karena kau semakin kuat tetapi karena kau tidak ingin kehilangan anak buahmu yang mungkin tewas saat mengikutimu."

...

"Kau benar-benar hebat Reborn, semua yang kau katakan—itu benar." Dino mencoba untuk tertawa saat itu. Memang, ia menjadi boss mafia lebih lama daripada Tsuna. Namun, yang ia tahu ia tidak pernah sampai terpukul seperti saat ia kehilangan Hibari seperti sekarang. Terlebih kehilangan Tsuna yang ia kenal, "aku mencintai Kyouya, sungguh. Kenyataannya ia adalah segalanya untukku. Dan kematiannya, cukup untuk membuatku terpukul. Namun, perubahan Tsuna yang membuatku berfikir—apakah aku akan sepertinya kalau saja Romario atau semua anak buahku tewas? Akankah aku berubah menjadi seseorang yang sangat berbeda?"

"Kalau kau mengatakan seperti itu, kenapa kau masih mengikuti Tsuna," Dino tampak menghilangkan senyumannya. Cavallone memang tidak banyak berubah, namun ia menjadi lebih brutal daripada sebelumnya, "apakah kau juga ingin membalaskan dendam Kyouya?"

...

"Ya. Aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang membunuh Kyouya, apapun alasan mereka." Reborn tidak perlu terkejut dengan hal itu tentu saja, "tetapi, mungkin di dalam lubuk hatiku... Aku tahu kalau alasanku adalah—melihat Tsuna kembali seperti dulu..."

"Kau tahu itu mustahil bukan?"

"Ya—aku tahu..." Dino menatap Tsuna dari balik pintu yang sedikit terbuka di depannya, "walaupun itu membunuh dirinya, aku tahu Tsuna tidak akan bisa berubah..."

{2}

Byakuran adalah orang yang bisa mengetahui apapun yang ada di dunia parallel, masa depan, dan masa lalu. Ia bukan orang yang baik—namun Vongola adalah kelompok yang membuatnya sedikit berubah. Memiliki seseorang yang mengerti, selalu membantunya walaupun di masa lalu (atau dalam kasus mereka masa depan) mereka adalah musuh.

"Byakuran..."

"Ah, Uni—" menoleh saat melihat gadis remaja sang mantan pemegang Sky Pacifier dan sekarang adalah boss Giglio Nero dengan senyuman khasnya, "—apa yang membuatmu mendatangiku?"

"Kau merasakannya juga bukan?" Senyumannya tampak membeku saat mendengar itu. Uni benar-benar memiliki darah keturunan langsung dari Sephira. Bahkan tidak memakai sky pacifierpun ia masih memiliki kekuatan untuk melihat masa depan, "salah satu dari dunia parallel bertabrakan dan menyebabkan sesuatu yang... Aneh."

"Ya, aku juga merasakannya—" melihat Mare Ring di tangannya yang berkilauan. Setelah membantu Vendice dan Vongola, mendapatkan kepercayaan penuh dari Tsuna—pada akhirnya Byakuran mendapatkan kembali Mare Ringnya kembali, "—ini berhubungan dengan Vongola..."

"Apa yang akan kau lakukan?"

...

"Mengawasi—kalau mereka mengancam Vongola, aku akan memburu mereka. Seperti pembunuh Mukuro-kun dan semua guardian Tsunayoshi-kun~" jawabnya dengan nada sarkasis dan tersenyum seperti biasa. Uni hanya bisa menghela nafas. Runtuhnya Vongola bukan berdampak hanya pada Vongola dan Cavallone—namun semuanya.

'Kuharap ini bukan hal yang buruk—'

{2}

Suara ledakan dan juga tebasan pedang tampak terdengar di salah satu sudut kota Sicilly. Tidak ada seseorangpun yang mencoba melerai atau bahkan mendekati mereka. Nafas yang memburu dan juga tetesan darah yang bercampur dengan air hujan tampak menjadi latar dari tempat itu.

"Kau brengsek..." Suara yang familiar dengan rambut berwarna perak itu tampak terdengar dan mata hijau itu menatap lurus kearah sosok yang ada di depannya. Tubuhnya tampak terluka, dan di kedua tangannya tampak beberapa dinamit terselip disana.

"Maa-maa, apakah itu adalah kata-kata yang tepat untuk saat ini—" nada yang santai dan juga tawa pelan yang khas, pemuda berambut hitam pendek dengan luka di dagu itu tampak tersenyum sambil menaruh pedang di bahunya. Tubuhnya tidaklah lebih baik dari pemuda yang ada di depannya, "—smoking bomb Hayato...?"

"Heh, kau hanyalah anjing dari seorang Hibari Kyouya. Kau bahkan tidak tahu kenapa ia menyuruhmu untuk memburuku—" senyuman sinis tampak terlihat, senyuman di wajah pemuda itu tampak menghilang, "kenapa? Kau lupa kalau saat SMP aku berada dalam satu sekolah denganmu?"

"Aku tidak ingat—tidak ada yang namanya teman yang harus kuingat saat berada di SMP selain Hibari..."

...

"Jadi, bisakah kita lanjutkan? Aku harus membunuhmu dan melaporkannya pada Hibari," jawab pemuda berambut hitam dengan senyuman lebar di wajahnya dan nada yang seolah mengatakan satu hal yang biasa dan juga tidak mengerikan.

"Heh, kau fikir aku akan begitu saja menyerah? Yamamoto Takeshi—?" Pemuda itu hanya tersenyum dan segera menerjang kearah Gokudera yang sudah siap dengan dinamit di tangannya. Namun, saat itu tiba-tiba saja sesuatu tampak menabrak diri mereka, sebelum asap mengepul diantara mereka dan—

{2}

Matanya berat dan juga susah untuk dibuka. Namun, pada akhirnya ia harus bangun dan menghadapi hari lainnya tanpa kehadiran semua guardiannya. Sudah dua tahun lamanya, dan ia masih terus berharap kalau apa yang terjadi malam itu hanyalah mimpi dan suatu saat ia akan membuka mata dan melihat mereka kembali.

"Kau sudah sadar Tsuna?" Dino yang tampak menunggu Tsuna sadar tersenyum saat menatap mata karamel itu. Sepertinya sebelum Chrome masuk ke dalam ruangan Tsuna, pemuda itu demam dan baru disadari oleh Dino dan juga Reborn saat mereka sedang mengeceknya, "jangan bergerak dulu. Kau kelelahan dan jatuh pingsan."

"Aku bermimpi," Tsuna duduk di atas tempat tidurnya dengan kepala yang tertunduk. Dino hanya menatap Tsuna dengan tatapan bingung, "aku melihat Hayato dan juga Takeshi..."

"Tsuna..."

"Bukan mimpi yang bagus—aku bermimpi kalau mereka bertarung satu sama lainnya," memegangi kepalanya dan tampak menutup matanya erat dengan dahi yang berkedut, "bukan pertengkaran biasa, mereka benar-benar ingin membunuh satu sama lainnya..."

"Itu hanya mimpi bukan? Tenang saja—" menepuk kepala Tsuna dan tersenyum. Dalam hati, Dino cukup bingung karena ini kali pertama Tsuna bermimpi seperti itu. Seolah itu adalah pertanda akan sesuatu yang akan terjadi. Apa lagi yang akan menjadi lebih buruk setelah kematian guardian Vongola dan Tsuna yang berubah, "bagaimana kalau kau makan dulu? Kudengar dari anak buahmu kau belum makan sejak 2 hari yang lalu?"

"Apakah sudah ada kabar siapa yang membunuh mereka, Dino-san?" Dino benar-benar bersyukur walaupun Tsuna berubah ia masih memanggilnya seperti biasa.

"Maaf Tsuna, kami sudah berusaha mencari informasi tentang mereka, namun tidak ada satupun yang kami temukan," Dino bisa melihat wajah Tsuna mengeras saat mendengar itu. Ia ingin membantu sungguh, dan ia sudah melakukan sebaik yang ia bisa. Namun, jejak mereka terlalu susah untuk dilacak.

"Setelah mereka kutemukan, aku akan membunuh mereka seperti apa yang mereka lakukan," Tsuna menghela nafas dan menatap kearah tangannya. Ia sudah mengotori tangannya dengan darah yang tidak terhitung sejak 2 tahun yang lalu. Lagi-lagi Vongola menjadi kelompok mafia yang paling mengerikan di dunia hanya dalam waktu 2 tahun.

"Apa yang akan kau lakukan setelah membunuh mereka Tsuna?"

...

"Haruskah aku mengatakannya?" Tawa itu, Dino tidak menyukai nada tawa dari sang adik seperguruan. Menoleh untuk menemukan tatapan kosong dan tajam dari Tsuna dan senyuman dingin di wajah mungilnya itu, "Vongola sudah menjadi kelompok mafia yang bahkan lebih ditakuti daripada generasi sebelumnya oleh semua orang. Aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja."

"Tsuna—"

"Primo, seseorang menyerang markas yang berada di kota Palermo!" Tsuna segera menegakkan badannya mendengar itu. Dino benar-benar mengutuk anak buah yang menyebarkan berita itu tetapi tidak bisa menyalahkannya. Ada penyerangan dan tidak ada yang memberitahu, akan dianggap penghianat dan tidak akan segan Tsuna untuk membunuh mereka dengan tangannya.

"Maaf Dino-san, aku harus pergi..."

"Aku akan ikut," Dino tidak akan meninggalkan Tsuna. Selain karena tubuhnya yang tidak sehat, ia harus menghentikan Tsuna sebelum semakin jauh terjatuh dalam kegelapan. Tsuna sendiri tampak tidak keberatan dan tampak berjalan memakai pakaian dan juga jubahnya sebelum berjalan keluar menuju limo yang akan membawa mereka ke Palermo. Mengambil handphonenya, Tsuna menghubungi salah satu anak buah di Palermo.

"Pastikan tidak ada musuh yang keluar dari kota Palermo. Aku akan menghancurkannya dengan tanganku sendiri," hanya ada balasan singkat dari telpon itu sebelum ia menutup handphone itu dan tampak masuk ke dalam limo yang ada di depannya bersama dengan Dino.

{2}

Tidak ada yang tersisa, hanya ada mayat-mayat yang tampak membeku ataupun beberapa bongkahan es berwarna merah yang merupakan darah yang membeku. Di tengah mayat itu tampak Tsuna yang berdiri dan hanya memandangi tubuh-tubuh di sekelilingnya dengan tatapan kosong. Dino sendiri tampak mencoba untuk mengikat beberapa musuh yang berhasil ia selamatkan dengan cambuknya.

"Aku harus menyelesaikannya," Tsuna tampak berjalan mendekat kearah musuh yang diikat oleh Dino disana. Mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Tsuna membuat Dino dengan segera menahan tangan Tsuna yang sudah akan mengeluarkan Zero Point Breaktough First Edition-nya untuk membekukan lawan, "ada apa Dino-san?"

"Tsuna, hentikan. Mereka sudah tidak bisa melawan," Dino tampak menatap Tsuna dengan tatapan serius. Ia tidak akan membiarkan Tsuna melakukan lebih dari ini.

"Orang-orang seperti mereka yang membunuh Mukuro dan juga yang lainnya," tatapannya tidak berubah dan tampak kosong sembari menatap Dino yang mengeratkan peganganya. Dan juga yang lainnya, memang orang seperti mereka yang membuat Hibari Kyouya—Kyouya-nya terbunuh. Tetapi ia tidak ingin Tsuna terjun kedalam kegelapan yang lebih dalam lagi.

"Aku yang akan mengurusnya," suara itu membuat Dino dan juga Tsuna menoleh dan menemukan Reborn yang tampak berjalan kearah mereka. Tsuna yang mengetahui dan mempercayai mantan tutornya itu tampak mematikan mode HDWMnya dan menutup matanya pelan, "sebaiknya kau beristirahat bersama dengan Dino saja dame-Tsuna…"

"Itu ide yang bagus, aku tahu tempat yang tepat untuk beristirahat," Dino benar-benar berterima kasih dengan Reborn saat itu yang bisa membuat Tsuna menghentikan sesuatu yang buruk yang mungkin saja akan terjadi kalau tidak segera dihentikan, "aku tahu tempat dimana cake yang kau sukai berada. Bagaimana?"

"Aku akan memberikan laporannya padamu dame-Tsuna, pergilah…"

"Baiklah, saat kembali aku menginginkan laporannya langsung darimu Reborn," Tsuna tersenyum dan mengangguk, Dino mendorong pelan bahu Tsuna dan segera meninggalkan Reborn sendirian disana dengan beberapa anak buah dan juga musuh yang sudah tidak berdaya disana.

{2}

"Ternyata seperti itu," Byakuran yang tampak berada di markas Millefiore membuka mata dan tampak menatap sekeliling dengan serius. Dengan segera ia beranjak, dan tampak mencari sosok yang seharusnya ada di markas saat itu dan tentu saja beberapa saat kemudian ia temukan.

"Byakuran, apakah kau—"

"Aku merasakannya Uni, dunia parallel yang kacau itu—entah siapa yang melakukannya tetapi apa yang kurasakan sepertinya benar," tampak menatap Uni yang sepertinya juga merasakan sesuatu yang akan terjadi, "keadaannya akan benar-benar kacau kalau sampai Tsunayoshi-kun menemukannya…"

"Tetapi kalau sampai 'mereka' berada disini? Bukankah itu—"

"Tidak, dunia parallel yang hancur itu berbeda dengan apa yang kau fikirkan Uni," Byakuran mencoba untuk menghubungi seseorang dari handphonenya. Tentu saja, Reborn, Tsuna, Chrome, atau siapapun yang berada di markas Vongola dan bisa menghubungi sang boss.

"Apa maksudmu Byakuran?"

{2}

Berjalan masih berada di Palermo bersama dengan Dino dan juga beberapa anak buah yang bertugas untuk menjaga kedua don mafia itu. Jalanan tampak sepi dan juga damai, tentu karena tidak ada yang berani menyerang sembarangan kota yang tampak dilindungi oleh boss Vongola.

"Bagaimana kalau sesekali kau kembali ke Jepang? Maman pasti sangat senang melihatmu kembali," Dino tampak mencoba membujuk Tsuna. Sejak kejadian malam itu Tsuna tidak pernah sama sekali menginjakkan kaki ke Namimori sedikitpun. Ia sendiri lebih sering menuju ke sana hanya untuk melihat keadaan Nana dan juga Iemitsu

"Kalau saja aku memiliki waktu, aku akan datang kesana…"

"Kau menyibukkan dirimu Tsuna, apa yang membuatmu takut untuk menginjakkan kaki ke Namimori?" Tsuna sedikit tersentak karena perkataan Dino. Memang benar, ia menghindar dari kota tempat semuanya dimulai. Tempat dimana ia bertemu dengan Reborn dan juga yang lainnya.

"Apakah kau berfikir aku akan begitu saja bisa menginjakkan kaki di kota itu Dino-san?" tersenyum datar sambil menundukkan kepalanya, menghela nafas sambil mengusap kepala belakangnya, "kota itu hanya mengingatkanku lebih pada mereka. Aku bahkan terkejut karena kau masih bisa berada disana…"

"Tetapi apakah kau—"

"Dan sebelum kau bertanya, aku merindukan kaa-san—sungguh… walau bagaimanapun ia adalah ibuku Dino-san, tetapi apakah ia masih mau melihatku yang sudah terlanjur mengotori semuanya dengan darah?" tertawa pelan menatap Dino yang menyerengit mendengar itu, "lagipula musuh Vongola akan tahu tentang kaa-san kalau aku berada disana. Aku akan menyerahkan semuanya pada Iemitsu saja…"

"Kau masih bisa berhenti sekarang Tsuna, aku akan membantumu kalau kau ingin…"

"Kau tahu kalau aku tidak bisa melakukan itu bukan Dino-san? Tidak akan… karena—"

DHUAR!

Suara ledakan yang terjadi di dekat Tsuna dan juga Dino tampak membuat keduanya menghentikan pembicaraan dan tampak terkejut dengan ledakan yang tiba-tiba terjadi itu. Asap putih tampak mengepul karena ledakan yang terjadi disana.

"Apa—penyerangan lagi?!" Tsuna sudah bersiap dengan glove miliknya dan juga flame yang menyala di kepala dan juga tangannya.

"Brengsek, ledakan apa tadi—"

"Maa, sejak kapan langit jadi cerah? Kukira tadi hujan…"

"Kau lebih mementingkan cuaca daripada ledakan itu?!"

"Sebenarnya aku lebih mementingkan hal lainnya…"

Dua suara yang berasal dari dua siluet yang ada di antara kepulan asap itu tampak membuat Dino menghentikan pergerakan Tsuna. Suara yang baru disadari oleh Tsuna tampak sangat familiar itu benar-benar membuat tubuhnya membeku.

Asap semakin menipis, saat dua orang yang berada di dalam kepulan asap itu tampak semakin jelas dan semakin jelas. Hingga akhirnya saat asap menghilang sempurna, dua sosok yang familiar itu terlihat jelas.

"Ap…a?" bahkan Dino sendiri tampak membulatkan matanya melihat bagaimana pemuda berambut perak yang memegang dinamit itu sedang berhadapan dengan pemuda berambut hitam pendek dengan luka di dagunya—yang sedang tersenyum dingin sambil memegang pedangnya.

"H—Hayato, Takeshi…" Tsuna mencoba untuk berlari dan tampak mendekati keduanya untuk memastikan kalau apa yang dilihatnya bukannya ilusi ataupun delusinya saja.

"Oh otakmu terkadang jalan juga—" suara itu sedikit berbisik, tidak sadar kalau Tsuna berlari kearahnya. Hell, bahkan ia tidak perduli dengan sekelilingnya saat ini, "—yang lebih penting adalah… menghabisimu sekarang juga."

Dino mendengar itu—Tsuna tampaknya sedikit terguncang hingga tidak mendengar perkataan yang dilontarkan pemuda berambut perak itu dan saat Dino melihat sebuah pistol yang akan dikeluarkan oleh Gokudera—

"Tsuna!" ia dengan segera menghentikan Tsuna yang masih mendekati mereka.

BANG!

Dan saat itu mata Tsuna benar-benar terbuka ketika peluru yang tertembak itu mengenai bahu Yamamoto tanpa ada ragu sedikitpun. Seolah Gokudera memang benar-benar ingin membunuh pemuda di depannya.

"Aku akan menghakhiri semua ini disini… Yamamoto Takeshi."

{2}

"Dunia parallel dikacaukan oleh seseorang hingga bertabrakan dengan masa ini. Beberapa orang dari dunia parallel yang berbeda terkirim kemari—tetapi aku belum mengetahui siapa-siapa saja yang sudah dan akan terkirim," Byakuran memakan kue marshmalownya sambil berbincang dengan Uni di depannya.

"Apa yang membuatmu mengatakan kalau dunia parallel yang bertabrakan itu berbeda?"

"Dunia itu—adalah dunia dimana Tsunayoshi-kun tidak pernah ada di dunia ini," Uni tampak menyerengit, sedikit banyak menyadari apa yang dimaksud oleh Byakuran, "semua guardian Vongola dan juga yang lainnya… mereka tidak pernah mengenal seorang Sawada Tsunayoshi."

{To be Continue}

Ehm, ada yang kurang ngerti? ^^;

Jadi, ada kekacauan diantara dunia parallel satu dengan yang lainnya. Membuat dua dunia bertabrakan dan pada akhirnya beberapa orang dari dunia yang berbeda terkirim ke masa dimana Tsuna berada.

Tentu yang ngirim masih misterius ^^

Dan dunia yang terkena imbas adalah "Dunia dimana tidak ada Sawada Tsunayoshi" jadi, bisa terbayang kalau semua guardian akan memiliki kehidupan yang benar-benar berbeda. Dua orang yang pertama kali tampak, Gokudera dan juga Yamamoto ;)

Nah, silahkan kalau ada yang mau ditanya atau masih bingung, saya tunggu reviewnya ^^

{RnR}

Himeji Arisa {Dark!Tuna ga terlalu difokusin sih, saya ga bisa bikin ffic yang terlalu dark :| nah ada alasan kenapa ditulis kalau pairingnya kaya di atas dan mungkin sudah terjawab kemungkinannya di chap ini ;) makasih buah reviewnya ^^}

Skyruu {Maaf ya, tapi Dark!Tuna ga terlalu difokusin karena saya sendiri ga bisa bikin ffic!Dark xp makasih fave sama reviewnya ^^}

Widi Orihara {Terjawab di chap ini~ ;)}

Sherry dark jewel {Makasih ^^ silahkan membaca~}

Yuto {yep, saya berusaha buat bikin tragis walaupun kayaknya kurang :|}

LalaNur Aprillia {Naaa, tenang aja—mereka ga bener-bener ditinggalin kok ;)}