Urara S. H {Makasih ^^}

DeLoAniMan U-know {waaah, saya terharu :') makasih ^^ semoga ini tidak mengecewakan :D}

Nabila Chan BTL {makasih ^^}

Alicia . Usagi {sa-saya malu O\\\O dan btw makasih ^^}

Malachan12 {Thanks :D}

Sinister lansteiner {hint Yaoi? Sudah ada walaupun dikit xD nah masalah Dino atau Reborn atau Xanxus ntar ada dua, itu malah ada plotnya ^^ ditunggu aja :D dan semoga seiring berjalannya waktu pertanyaan anda akan terjawal ^^ dan makasih ya sudah baca .\\\.}

NTheYaoiLoverz {Karena itu dunia parallel yang berbeda :] makasih ^^}

Foschia Cielo {sa-saya juga hancur kok nulisnya ||D /nahloh makasih sudah baca ^^}

Himeji Arisa {iyaaa Tunanya jadi gitu T_T /lah g—ga niat buat bikin hint 8018 kok /siul2 /crossfinger tapi tetep 8059 sama D18 :D}

Edogawa Riza {sudah update ^^ maaf lama :)}

Rye Yureka {iya nih, antara ga tega bikin Tuna terlalu dark sama ga bisa bikin fic dark /plak}

Sherry dark jewel {ane dapat ide dari ffic lama...tapi lupa judulnya, yang tentang Tsuna dibawa ke dunia parallel dimana para guardiannya ga pernah ketemu sama dia dan saling bunuh o.o}

LalaNur Aprilia {hehehe xD bukan cuma itu, tapi karena Chrome itu guardiannya yang tersisa, pastinya dia jadi over sama Chrome :)}

.

Title :Fallen Sky

Genre :Family/Angst

Pairing :6927, D18, 8059

KHR © Amano Akira

Warning :Death!Chara, OOC, Dark!Tsuna, Shounen-Ai

.

Vongola bukan lagi kelompok mafia saat Tsuna menjabat sebagai Neo Vongola Primo. Namun, keadaan itu malah membuat mimpi terburuk terjadi. Saat semua itu semakin memburuk—sebuah kejadian benar-benar akan mempengaruhi semuanya. Akanlah menjadi lebih baik, atau malah memperburuk suasana.

{2}

Chap. 3, You're Back

{2}

"A—aku tidak sedang bermimpi bukan Dino-san?"

Tsuna masih menatap pemandangan di depannya saat Gokudera dan juga Yamamoto saling membunuh di depannya. Bukan saling membunuh seperti dulu—ketika mereka berdua hanya bercanda, namun ini—mereka benar-benar tidak akan perduli jika ada yang terbunuh diantara mereka.

"Percayalah Tsuna, aku juga tidak percaya dengan apa yang kulihat."

"Aku harus menghentikannya—" dan Dino setuju akan hal itu. Lagipula ia yakin kalau Tsuna tidak akan mungkin melukai ataupun terluka karena serangan Gokudera dan juga Yamamoto saat ini. Dengan segera melepaskan pelukannya di tubuh Tsuna, membiarkan Tsuna yang mengaktifkan dying willnya dan segera bergerak ketengah mereka berdua.

Gokudera dan juga Yamamoto yang tampak terkejut dengan kedatangan dari Tsuna tidak bisa menghentikan serangan mereka. Namun tentu saja yang dilakukan oleh Tsuna bukanlah hanya bunuh diri dengan menerjang kearah mereka berdua.

"Zero Point Breakthough: First Edition…" dengan segera membekukan baik tanah yang ada diantara kaki Yamamoto dan juga Gokudera hingga kaki mereka membeku dan gerakan mereka terhenti.

"Ap—"

"Hayato, Takeshi—apa yang kalian berdua lakukan! Ti—tidak seharusnya kalian—" Tsuna menatap keduanya yang tampak menatapnya dengan tatapan bingung.

"Apa yang kau lakukan brengsek! Lepaskan aku sekarang juga, atau aku akan meledakkanmu sekarang juga!" Tsuna tampak menatap Gokudera yang menatapnya seolah tidak mengenalnya sama sekali—atau memang seperti itulah kenyataannya.

"Maa, maaf tetapi aku harus menyelesaikan tugasku—" kali ini Yamamoto yang tampak masih tersenyum namun pedangnya tampak tereratkan lebih kuat, "aku tidak bisa membiarkan targetku kabur begitu saja bukan? Aku harus membunuhnya…"

"Membunuh? Tetapi—" Tsuna tampak menatap keduanya yang menatapnya dengan serius. Seolah mengatakan 'lepaskan ini atau aku akan benar-benar membunuhmu sekarang.'.

"Yang benar saja, bermimpilah karena aku yang akan membunuhmu terlebih dahulu…"

"Huh, tetapi aku sudah banyak membunuh orang-orang yang lebih kuat darimu."

"Teme—aku tidak akan mudah untuk dibunuh olehmu brengsek!"

"Tsuna—" Dino menatap Tsuna yang hanya menundukkan kepalanya saja. Tatapan matanya tampak kosong namun air mata itu tidak bisa disembunyikan saat melihat kedua guardian yang sangat ingin ia temui—sahabat pertamanya yang selalu bersama dengannya sejak SMP itu malah ingin saling membunuh.

"Kalian sudah mengganggu ketenangan wilayah kekuasaan Vongola. Aku tidak akan membiarkan kalian lolos begitu saja…" flame yang tampak berada di tubuhnya semakin besar dan saat Gokudera dan juga Yamamoto tidak sadar, Tsuna sudah memukul leher belakang mereka berdua membuat mereka berdua pingsan begitu saja.

Dino dengan segera menangkap Yamamoto saat Gokudera ditangkap oleh Tsuna. Menatap Tsuna, yang hanya menatap mereka berdua dengan tatapan kosong sebelum menoleh dan tersenyum pada Dino.

"Apa yang harus kulakukan sekarang… Dino-san…?"

{3}

"Dino."

Berbalik saat mendengar suara yang familiar, Dino yang kembali ke markas bersama dengan Tsuna dan juga Gokudera serta Yamamoto menemukan Reborn yang berjalan bersama dengan Byakuran, Uni, dan juga Enma. Menghela nafas, ia benar-benar membutuhkan seseorang untuk membantunya saat ini.

"Bagaimana keadaan dame-Tsuna saat ini?"

"Masih belum bergerak dari tempatnya," Dino menoleh pada ruangan Tsuna yang ada di belakangnya saat Tsuna berada di depan layar yang menunjukkan dua buah kamera pengawas. Di kamar yang merawat Yamamoto dan juga Gokudera, "aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Saat itu mereka berdua saling ingin membunuh, bahkan seolah tidak mengenal Tsuna sama sekali."

Kali ini Byakuran dan juga Uni saling bertatapan dan mengangguk.

"Kau mengetahui sesuatu?"

"Sebenarnya—"

{3}

"Dunia parallel bertabrakan?"

Dino, Enma, dan juga Reborn menatap kearah kedua pemimpin Millefiore itu. Uni hanya mengangguk dan tampak menunduk lemas.

"Entah apa penyebabnya, tetapi salah satu dari dunia parallel tampak bertabrakan dengan masa ini. Dan beberapa orang sepertinya terkena dampaknya," Byakuran tampak menjelaskan tentang apa yang terjadi, sambil menatap semua yang ada disana, "aku tidak menyangka kalau yang akan datang adalah Gokudera Hayato dan juga Yamamoto Takeshi dari dimensi itu."

"Lalu kenapa mereka saling membunuh dan juga seolah tidak mengenal dame-Tsuna?"

"Karena di dalam dunia itu, mereka tidak pernah mengenal Sawada Tsunayoshi. Yang kulihat, Vongola dipimpin oleh Xanxus dan benar-benar terlihat kacau," jangan fikir Xanxus menjadi baik seperti sekarang, karena dulu ia memang hanya menginginkan kekuasaan dan kekuatan sebelum mengenal Tsuna, "Yamamoto Takeshi diselamatkan oleh Hibari Kyouya—" Dino sedikit menyerengit saat mendengar nama itu, "dan menjadi pengikuti setianya."

"Lalu Gokudera-san?"

"Ia tidak pernah berusaha untuk menjadi tangan kanan Vongola. Tetapi ia pindah ke Namichuu dan sekarang tetap menjadi pembunuh bayaran. Sepertinya Hibari Kyouya mengicarnya, dan menyuruh Yamamoto Takeshi untuk membunuhnya."

"Begitu?" suara itu membuat mereka menoleh dan menemukan Tsuna yang sepertinya mendengarkan mereka sedaritadi, "dengan kata lain kalian mengatakan kalau mereka benar-benar Hayato-kun dan juga Takeshi, tetapi dilain pihak mereka juga bukan."

"Begitulah…"

Sekali lagi hanya diam dan keheningan, sebelum suara langkah kaki Tsuna terdengar menggema. Sosok sang Neo Vongola Primo menjauh dan tampak menuju ke tempat yang mereka tahu tujuannya.

"Apa yang kau lakukan Tsuna-kun?"

"Ta—Yamamoto sudah sadar, aku akan menjenguknya."

{3}

Yamamoto Takeshi adalah seorang pengikut dari Hibari Kyouya yang merupakan 'penegak hukum' tidak resmi yang tidak pernah bergabung dengan kepolisian sekalipun. Ia tahu ini adalah pekerjaan yang illegal, sama saja dengan pembunuh bayaran.

Namun ia berhutang nyawa pada pemuda itu, saat semua orang tidak perduli padanya. Oke, mungkin Hibari sendiri tidak perduli padanya, tetapi mungkin saat ini hanya ia yang menjadi tujuan darinya untuk hidup.

"Hibari akan benar-benar membunuhku…"

CKLEK!

Suara itu membuat pemuda berambut hitam tampak menoleh dan menemukan pemuda berambut cokelat yang tampak seusia dengannya menatapnya dengan tatapan yang—tidak bisa ditebak. Senyuman kosong itu tampak menyedihkan, namun kenapa? Ia bahkan tidak mengenal pemuda ini.

"Kau sudah sadar Yamamoto?"

"Ah, begitulah—kalau boleh tahu dimana aku?"

"Markas Vongola," Tsuna duduk di samping tempat tidur itu, dan tampak Dino yang masuk bersama dengan Enma, Reborn, Byakuran, dan juga Uni.

"Bucking Bronco…" bahkan mungkin ia tidak sadar dengan perkataan 'Vongola' yang meluncur dari mulut Tsuna saat melihat sosok sang Decimo Cavallone di depannya. Tsuna dan juga yang lainnya menatap kearah Dino yang juga tampak terkejut.

"Dimana ini? Kenapa ada Dino Cavallone disini?"

"Dame-Tsuna sudah mengatakannya padamu," kali ini Reborn yang tampak menjawabnya. Oke, sepertinya Yamamoto mengenal semua yang ada disana kecuali Uni, Tsuna, dan juga Enma—entah kenapa. Namun tatapannya tentu saja bukan tatapan seorang teman yang melihat teman lainnya, "ini adalah markas Vongola."

"Jangan bercanda, aku tahu kalau Vongola dan Cavallone tidak memiliki hubungan yang baik. Seorang don Cavallone tidak akan berada di markas Vongola." Dino dan juga Tsuna saling bertatapan, namun mereka tampak memaklumi karena itu adalah dimensi yang berbeda.

"Apakah kalian ingin mengincarku agar Hibari datang kemari?"

"Apa?"

"Jangan berpura-pura bodoh Haneuma," Tsuna masih bisa melihat senyuman dari Yamamoto yang tidak pernah berubah walaupun ucapannya benar-benar berbeda dari apa yang dirasakannya. Ia tahu itu—sangat mengetahuinya, "beberapa kali kau mencoba untuk membunuh Hibari, kau juga target yang paling dicari oleh Hibari."

"Jadi, apakah kau yakin tidak akan mengatakan apapun padaku dimana ini?" Tsuna hanya diam dan menghela nafas.

"Tidak masalah kalau kau tidak percaya, tetapi memang ini adalah markas Vongola."

Yamamoto tampak terdiam melihat tatapan Tsuna yang entah kenapa terasa sedih, namun juga mengintimidasi. Benar-benar seperti menghadapi seekor singa yang ganas dan tidak takut akan apapun. Namun disaat yang bersamaan tampak seperti seekor kelinci yang ketakutan akan seekor singa yang akan memangsanya.

TOK! TOK! TOK!

Suara itu membuat semuanya menoleh untuk menemukan seorang pria berambut hitam yang menggunakan jas dokter masuk. Shamal, segera dihubungi oleh Tsuna saat Gokudera dan juga Yamamoto dibawa ke markas.

"Bocah itu sudah sadar kalau kau ingin menemuinya Vongola." Tsuna hanya mengangguk mendengar itu.

"Kau akan mendapatkan informasi lainnya dari Shamal. Kufikir kau juga mengenalnya, tetapi aku yakinkan kalau ia tidak akan melakukan apapun yang buruk kecuali kalau kau yang memulainya," Tsuna tampak lelah dan berdiri dari tempat duduknya dan akan berbalik.

"Maaf—sebelum itu bisa kembalikan pedang kayuku? Aku tidak tenang tanpa itu," Tsuna benar-benar ingin tertawa, Yamamoto dengan sifat easy goingnya. Mengetahui kalau ia ditawan tentu saja senjata itu tidak akan diberikan.

"Untuk sementara aku tidak akan memberikannya. Terutama sebuah pedang kayu yang bisa berubah menjadi katana," Tsuna bisa melihat kalau raut wajah Yamamoto mengeras dan tampak menatap Tsuna dengan tatapan serius yang membuatnya sedikit terhenyak.

"Bagaimana kau bisa—"

"Percayalah Yamamoto Takeshi, aku tahu lebih banyak tentangmu dari yang kau fikirkan…" Tsuna menatap Shamal yang sudah mengetahui arti dari tatapan itu.

'Katakan apapun tentang keadaan sekarang, namun jangan katakan apapun tentang hubunganku dengan Yamamoto.'

{3}

"Sudah kubilang lepaskan aku brengsek! Aku tidak akan menuruti apa yang dikatakan oleh orang-orang Vongola!"

Tsuna yang berada di depan kamar Gokudera tampak sedikit menyerengit saat mendengar perkataan dari Gokudera. Ironis, karena ia adalah orang yang paling loyal di Vongola dan sekarang ia mengatakan hal itu.

CKLEK!

"Aku ingin bertemu dengan pemimpin kalian!"

"Baiklah, aku akan mendengarkan apa yang ingin kau katakan," suara itu membuat Gokudera terdiam dan menoleh pada Tsuna yang menatapnya dan menunggu pertanyaan dari Gokudera. Namun, hanya tatapan bingung yang terlihat di wajah pemuda Italia-Jepang itu.

"Jangan bercanda brengsek, aku tahu kalau banyak orang yang mencoba menakut-nakuti orang dengan mengaku sebagai pemimpin Vongola," Tsuna tampak tenang dan berjalan untuk duduk di samping tempat tidur Gokudera sementara Dino dan juga yang lainnya mengikutinya dari belakang, "tetapi kau—bodoh kalau mencoba untuk membodohiku."

"Setelah kau mencoba untuk mencuci otak Shamal, jangan harap aku akan sebodoh orang itu." Tsuna masih diam mendengarkan perkataan Gokudera, "kau—"

"Sudah selesai Gokudera Hayato? Kalau begitu biarkan aku yang berbicara sekarang—" Tsuna tersenyum dan tampak menautkan kedua tangannya di depan tubuhnya. Suara yang tenang itu mengandung sesuatu yang lebih mengerikan daripada sebuah bentakan. Dan itu sukses untuk membentuk sebuah ketakutan dalam diri Gokudera.

"Aku akan memperkenalkan diri," sebuah jeda yang tidak lama, "namaku adalah Sawada Tsunayoshi. Dan aku adalah pemimpin Vongola. Setidaknya di masa ini…"

{3}

Setelah mengambil semua senjata dan juga apapun yang bisa digunakan untuk menyerang, pada akhirnya Tsuna melepaskan mereka berdua dari ruang perawatan karena luka di tubuh mereka juga sudah disembuhkan dengan sun flame milik Reborn.

"Baiklah, ini adalah kamarmu Gokudera-kun," Tsuna menunjuk pada sebuah kamar yang ada di dekat kamarnya. Dino dan juga yang lainnya tampak sedikit terhenyak melihat kamar yang dipilih oleh Tsuna, "itu adalah kamarku," menunjuk pada kamar yang ada di sebelah kanan kamar Gokudera, "dan sebelahnya lagi adalah kamar darimu Yamamoto."

Yang benar saja, kamar dari Gokudera dan juga Yamamoto ditukar oleh Tsuna. Kamar yang digunakan Gokudera adalah kamar milik Yamamoto di masa mereka, dan kamar yang digunakan oleh Yamamoto adalah kamar yang digunakan oleh Gokudera dimasa mereka.

"Dengan begitu aku tidak akan melihat kalian saling membunuh dan menghancurkan markas Vongola."

"Kau bercanda kalau aku percaya ini dunia parallel yang berbeda dari tempat kami bukan?" Tsuna menatap kearah Gokudera, ia tahu kalau Gokudera akan mengatakan hal itu. Begitu juga dengan Yamamoto yang sebenarnya juga tidak akan percaya begitu saja.

"Aku tidak akan memaksa, tetapi memang itulah kenyataannya."

"Dan kau membiarkan kami bebas seperti ini, pada orang asing yang tidak kau kenal? Apakah kau bodoh?" Gokudera menatap kearah Tsuna yang tertawa pelan menjawab perkataan dari Gokudera, "tidak ada yang lucu!"

"Tidak, aku hanya teringat akan sesuatu melihat sikapmu," masih tertawa dan menghapus air matanya. Dino dan juga yang lainnya tampak entah kenapa merasa sedikit lega dengan sikap Tsuna, "dan aku percaya kalian tidak akan melakukan apapun padaku ataupun semua anak buahku."

Sekali lagi jeda yang menyesakkan.

"Karena kalau kalian melakukannya, aku tidak akan segan untuk membalasnya lebih daripada yang kalian lakukan…"

"Baiklah, sebaiknya kalian beristirahat saja—aku akan berada di ruanganku kalau kalian mencari," Tsuna menunjuk pada ruangan yang ada di dekat sana. Reborn tampak menghela nafas dan berjalan mendekati Tsuna, "terima kasih sudah menemaniku hari ini Dino-san, aku benar-benar berhutang padamu."

"Tidak apa-apa Tsuna, baiklah aku akan kembali lagi besok kalau kau butuh apapun."

{3}

Dino masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya, dengan Romario menjadi supirnya. Tampak sangat lelah, merebahkan tubuhnya pada kursi penumpang sambil melepaskan jas dan melonggarkan dasinya. Romario tampak menatap pada bossnya lewat kaca.

"Hari yang berat boss?"

"Ya begitulah," Dino menatap kearah tangannya, tidak percaya kalau saat ini, mungkin sedaritadi tubuhnya gemetar entah karena apa. Karena perubahan sifat Gokudera dan juga Yamamoto—ataukah—

"Jangan berpura-pura bodoh Haneuma, beberapa kali kau mencoba untuk membunuh Hibari, kau juga target yang paling dicari oleh Hibari."

Matanya menutup erat dan ia mengepalkan tangannya dengan erat. Ia—ingin membunuh Hibari Kyouya? Seseorang yang tidak akan menjadi daftar seseorang yang akan ia bunuh walaupun Hibari berkhianat ataupun mengincarnya.

"Jangan bercanda…aku tidak mungkin melakukan itu…"

Romario tampak menatap kearah bossnya yang tampak terlihat sedikit tertekan karena sesuatu. Ini bukan saatnya untuk membicarakannya, ia tahu hal itu. Dan ia akan menanyakannya saat keadaannya tepat.

{3}

"Hayato—"

Pemuda berambut perak itu tampak menoleh pada sumber suara yang tidak asing itu. Menemukan sosok pemuda yang tinggi, sedang tersenyum kearahnya. Senyuman yang tampak membuatnya terdiam, entah bagaimana seolah tersihir pada pemuda di depannya saat ini.

"Siapa—"

"Kuharap, kau bisa menjaga Tsuna dengan baik, Hayato..."

"H—huh?"

Dan saat itu hanya kehangatan dari bibirnya yang saat itu bertemu dengan bibir pemuda itu yang dirasakannya.

{3}

Matanya langsung terbuka untuk menemukan langit-langit kamar yang asing di ingatannya. Saat disorientasi ingatannya perlahan menghilang, entah kenapa yang ia ingat terlebih dahulu adalah mimpi saat seseorang mencium bibirnya. Refleks pemuda itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan dan memalingkan wajahnya.

Ia tidak ingat siapa yang melakukannya, namun senyuman itu tidak pernah hilang dari ingatannya.

'Siapa sebenarnya—' bahkan mengingatnyapun membuat wajahnya memerah. Apa-apaan, ia bahkan tidak tahu siapa yang ada di dalam mimpinya, namun entah kenapa perasaannya menjadi kacau seperti ini.

Ia menoleh sekeliling, semalam ia sudah cukup lelah dan memutuskan untuk langsung tertidur. Baru pagi ini ia mengamati dengan baik ruangan yang terasa hangat itu. Bukan suhunya, sesuatu yang membuat ruangan itu terasa nyaman untuknya.

Walaupun tidak ada apapun disana, namun entah kenapa ia bisa merasakan seseorang yang pernah tinggal disini sebagai seseorang yang ia kenal. Berjalan, melihat sebuah glove baseball yang rusak dan sebuah tongkat yang terlihat tua.

'Kenapa di markas mafia ada benda seperti ini... Orang bodoh mana yang memakainya,' Gokudera menghela nafas dan meletakkan benda-benda itu kembali. Melihat kearah jendela besar yang tertutup tirai, ia membukanya untuk menemukan halaman belakang yang berupa hutan kecil yang terlihat disana.

"Markas Vongola? Dimensi lain? Yang benar saja—" mengepalkan tangannya yang tampak gemetar, "walaupun benar, semuanya akan sama saja. Tidak akan ada yang merubah kenyataan kalau pada akhirnya ibuku dibunuh oleh mafia..."

Suara ketukan terdengar saat itu membuatnya menoleh. Menemukan seseorang berambut hitam kecokelatan pendek yang membuka pintu dengan nafas yang memburu.

"Gokudera-kun, Tsuna-san benar kau kembali!"

"Huh, siapa kau?"

"UWAAAAA! Gokudera-san, Haru benar-benar senang desu!" Haru tampak memeluk Gokudera yang tampak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Haru. Selama beberapa tahun mengenal Haru, mereka berdua (Gokudera di dimensi ini) memang berteman dekat walaupun sering sekali bertengkar.

Tentu tidak ada perasaan yang spesial, bahkan Haru yang pertama kali mengetahui perasaan Gokudera pada Yamamoto dan memutuskan untuk membantu mereka bersama.

"Jangan sembarangan memelukku bakka onna!"

Haru tampak tersentak dengan panggilan itu. Tsuna memang mengatakan kalau Gokudera yang ini bukanlah Gokudera yang mereka kenal. Tetapi, dengan suara, nada, dan juga panggilan yang sama itu—Haru tidak bisa tidak merasa rindu pada sahabatnya itu.

...

"Ada apa?"

"HUAAAAA! Haru merindukan Gokudera-san, bakka! Bakka! kenapa kau harus pergi," Gokudera yang panik dengan apa yang ada di depannya—Haru yang menangis, mencoba untuk menenangkannya, "kenapa harus bertemu seperti ini. Tsuna-san pasti sangat sedih, melihat keadaanmu sekarang..."

"Aku tidak mengenalnya, kenapa ia harus bersedih karena aku?"

"Gokudera-san benar-benar jahat, Tsuna-san benar-benar membutuhkan kalian sekarang. Kenapa kalian harus bertarung," Haru tampak sedikit tenang walaupun masih terisak. Ia tahu Tsuna benar-benar sakit hati melihat Gokudera dan juga Yamamoto. Ia semakin memaksakan dirinya karena itu.

"Haru..." Suara itu membuatnya tersentak dan menoleh untuk menemukan Tsuna yang tersenyum tipis pada gadis itu. Ia juga tersenyum pada Gokudera yang ada di depannya sebelum mendekati Haru, "aku baru saja akan menjemputmu Gokudera-kun, Yamamoto sudah pergi ke ruang makan terlebih dahulu."

"Kau tidak bermaksud untuk membiarkanku bebas di sini bukan?"

"Memang itu yang aku lakukan, tetapi kau tidak bisa keluar dari markas ini tanpa pengawasan dariku langsung," Tsuna tersenyum dengan tatapan kosong. Sekali lagi Gokudera sedikit tersentak sebelum berdecak kesal dan mengangguk, "aku akan menunggumu. Haru, ayo..."

"Baiklah Tsuna-san..."

{3}

"Hari ini kapan aku bisa pergi ke markas Vongola Romario?"

Dino tampak sedang bersiap di markasnya bersama dengan Romario. Dua tahun sudah berlalu, walaupun hanya sebentar Dino selalu memastikan keadaan Tsuna di markas setiap hari. Romario yang berada di sampingnya tampak melihat jadwal sang Boss Cavallone dengan baik.

"Hanya dua pertemuan penting, dan anda bisa mengunjungi Vongola boss," Dino hanya mengangguk dan tampak memakai jas putihnya yang tadi dibawa oleh Romario.

"Baiklah, aku akan—"

DHUAR!

Suara ledakan tampak benar-benar membuatnya tersentak. Dari lantai satu, dan suara-suara berisik seolah sedang bertarung juga terdengar. Seolah alarm di dalam kepalanya berbunyi, Dino tampak menegang dan segera membawa cambuknya.

"Menjauh dari pertarungan Romario, aku tidak akan membiarkan musuh melukai kalian," Romario menatap bossnya yang tampak panik dengan wajah memucat. Semenjak Hibari tewas, Dino selalu seperti itu. Walaupun biasanya ia akan terlihat biasa-biasa saja, saat berhadapan dengan musuh ia benar-benar akan berbeda dari yang dulu.

"Boss!" Salah satu anak buah tampak membuka pintu dengan terburu-buru, "beberapa orang menyerang markas, dan beberapa dari mereka yang terluka melihat sesuatu!"

"Sesuatu?"

"Sebuah lambang Komite Kedisiplinan Namichuu!"

Matanya tampak membulat sempurna mendengar itu. Sekali lagi, perkataan Yamamoto tampak terngiang di kepalanya, membuatnya tampak sedikit takut dengan apa yang ada di bawah. Benarkah—benarkah apa yang akan ia lihat saat ini? Apakah ia bisa menghadapi apa yang ada di bawah?

"Aku akan—" baru saja akan bergerak saat merasakan sesuatu. Menoleh kearah beranda, menyadari sesuatu itu ada di dekat sana, "Romario, pertahankan markas! Aku akan menyusul kalian semua!"

"Tetapi—"

"Cepat, kalau seperti ini markas akan hancur karena mereka..." Romario menatap Dino yang tampak tidak akan mengubah keputusan. Merasakan ada yang aneh dengan Dino, namun pada akhirnya mengangguk dan berbalik untuk membantu yang lainnya mempertahankan markas. Dino yang meyakinkan kalau Romario sudah tidak ada di dekat sana hanya diam dan berbalik.

"Dua tahun aku mengharapkan untuk bertemu denganmu, aku tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu dalam keadaan seperti ini," terenyum lemah dan tampak masih menatap beranda kosong itu, "Kyouya..."

Suara langkah itu tampak terdengar, hingga wujud Hibari Kyouya tampak terlihat menatapnya dengan tatapan dinginnya. Dino hanya bisa menghela nafas pasrah, tidak mengatakan apapun pada Hibari yang ada di depannya.

"Hn, kenapa kau tidak melawan seperti biasa..."

"Seperti biasa? Aku tidak tahu apa yang kulakukan padamu di dunia itu," Dino mengerti bagaimana perasaan Tsuna saat ini, ketika ia berhadapan dengan kedua sahabatnya yang tidak mengenalnya. Terasa terlalu berat, hingga ia tidak bisa menunjukkan emosi apapun di depan mereka, "tetapi, aku tidak akan melakukan apapun padamu."

"Kenapa aku harus percaya padamu...?"

"Karena aku mencintaimu," dahi Hibari berkerut mendengar itu dari orang yang ia anggap sebagai musuh utamanya, "dan aku tidak akan melakukan apapun yang akan melukaimu..."

...

"Itukah caramu untuk memancingku sekarang? Mengatakan hal yang nonsen seperti itu?" Hibari mengeluarkan pistol entah darimana dan tampak mengarahkannya pada Dino, "jangan harap aku percaya begitu saja padamu..."

"Aku tidak memintamu untuk percaya padaku," meletakkan begitu saja cambuk yang tadi ia pegang, dan juga pistol yang ada di pinggangnya. Menaikkan tangannya menunjukkan kalau ia tidak memiliki senjata sama sekali di tubuhnya, "tetapi, aku akan menunjukkannya dengan tidak melukaimu apapun yang kau lakukan..."

"Itu adalah hal paling bodoh yang pernah aku dengar darimu..."

"Hmph," Dino hanya mendengus pelan dan berjalan mendekat dengan perlahan. Hibari mengunci pelatuk dan siap untuk menembak Dino, "aku bukan orang yang kau kenal. Percaya atau tidak..."

"Apa maksudmu?"

"Kau mengenalku, tetapi saat ini—kau tidak akan mengenalku. Karena aku bukan orang yang kau kenal," Hibari tampak mengerutkan alisnya dan terdiam, entah kenapa hingga Dino berada di depannya dan memegang tangannya yang masih terulur. Mendekati wajahnya dan berada di depan telinga pemuda itu, "kau juga merasakannya bukan? Kau tahu aku tidak akan melukaimu. Dan kau tahu, aku bukan orang yang kau kenal..."

...

"Apa yang membuatmu yakin aku tidak akan membunuhmu..." Hibari menurunkan pistol yang ia ulurkan tadi, sementara Dino hanya tertawa pelan.

"Percayalah, aku mengenalmu dengan baik Kyouya..." Hibari terdiam dengan wajah datar, sementara Dino hanya tersenyum. Bau yang sama, nada yang sama dengan terakhir kali ia lihat, dan suara yang sama bahkan wajah yang sama. Ia tidak percaya kalau Hibari Kyouya yang ada di depannya saat ini bukanlah Hibari yang ia kenal.

BANG!

Suara itu menggema, saat pistol itu meletus di tangan Hibari melontarkan peluru tepat di dada Dino. Suasana hening saat itu, Dino hanya bisa terdiam dengan mata membulat, saat rasa sakit semakin menjalar. Dan ia bisa merasakan tubuhnya yang melemas hingga terjatuh begitu saja di depan sang pemuda bersurai hitam di depannya yang masih memegang moncong pistol berasap di tangannya. Darah mengalir dari dadanya, dan ia tidak bisa menghentikan batuknya yang juga mengeluarkan darah.

Kesadaran begitu cepat menghilang dari sekelilingnya, namun matanya seolah terkunci pada sosok yang berdiri angkuh di depannya.

"Kalau kau mengetahui tentangku, kau juga akan tahu kalau aku akan tetap membunuhmu apapun yang terjadi..."

Dan sosok itu tampak bergerak menjauh, meninggalkan Dino yang tergeletak di atas lantai dan tidak bisa bergerak dari kubangan darahnya sendiri itu. Ia hanya tersenyum tipis, dan matanya tampak sangat berat untuk dibuka.

'Seharusnya aku tahu Kyouya tidak akan kembali...'

Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri saat itu, dan matanya semakin tidak fokus dengan sekeliling.

'Apa yang kufikirkan—tentu saja, bagaimanapun dia adalah Kyouya...'

Kegelapan tampak semakin menguasainya, dan satu hal yang terlintas saat itu hanyalah bayangan dari Hibari Kyouya yang menatapnya dingin seperti biasa. Namun ia tentu tahu, apa yang selalu ada di balik tatapan dingin itu.

'Ah, kau kembali? Maaf, aku terlambat menemuimu—Kyouya...'

{To be Continue}

...

Dino mati?

Reader : /hajar author/

Gyaaaa! Y—yah, kan sudah dibilang ini semi dark Dx la—lagipula kan...lagipula kan Dx

Reader : apaan author gebleg! Balikin Dino!

G—ga janji... /siul-siul/

Reader : /deathglare/

*glup* O—oke, ini chap 3nya ^^; ga ada yang spesial, cuma ceritain tentang gimana perlakuan dari Tsuna terhadap 8059 dan gimana kemunculan Kyouya yang sangat epik.

Reader : epik gundulmu!

Epik dong D: kan pas muncul-muncul malah nyerah markas Cavallone! U—udah ah, daripada nyawa terancam, silahkan dibaca dan direview ^^

Karena review anda semangat saya untuk menulis :')

{RnR}