"Dah, yah.."
"Wokeehhh.."
Leorio melambay, bukan dianya yang melambai (ngondek) tapi tangannya pada Killua. Ini sudah jam 6 pagi lewat dikit, saatnya untuk Killua berangkas. Sambil masih di teras, Leorio menatap langkah Killua yang semakin maju ke arah MT. SUMARYATI PRE-INTER SKULL (nama kerennya). Setelah beberapa saat dan lagkah Killua makin tidak terlihat, dia berbalik lalu masuk ke rumah kembali. Leorio melihat Gon yang diam sendiri dalam pikirannya, bengong, melihat ke luar pintu.
"Oi, pagi pagi bengong!"
Gon menoleh pada Leorio, perhatiannya langsung teralih "Hah..? Nggak!"
Leorio melihat lagi wajah itu yang ada di atas kursi sofa, dengan cemas.
"Ha iya, masa sih..? kaya ada sesuatu"
Disclimera -Yoshiro Togaishi-sensei.
Rated - T. Prodak ini memuat konten konten 9 tahun ke atas (menurut lembaga survei Adel), yang masih 9 tahun dianjurkan untuk tidak baca. Harap bimbing anak anda yang masih di bawah umur dalam membaca fic ini.
Genre – Friendship (yang haru nggak jadi) & hurt (nggak jadi)
Summary – Gon NGAMBEK! Killua yang sibuk dengan sekolahnya dianggap sombong dan tak punya waktu untuk peduli pada Gon. Gon ngamuk dan akhirnya memutuskan untuk pulkam lebaran ini. Mungkin tempatnya Killua dan Gon main sahabat sahabatan bukan di sini. Kode merah : enabled!
Kode Merah ( sabda Skipper : "Berharaplah kau hidup tidak untuk melihatnya..") - OOC-DOC, CCD, cerita membingungkan anda pasti sulit menyerap isi dari fic ini. Friendship nggak jadi friend, hurt buat Gon dan para fans yang akan mengeroyok howa karena bikin crack, dan lagi misstype serangkai bersarang disini. Semua itu karena authornya pelarian Saarne Institute. Bagi anda yang hanya membaca fic fic kece badai harap tutup tab ini atau kembalike HxH archive, karena fic ini bukan yang macam itu. Penting buat anda bahwa perusahaan yang menghandle fic ini — alias PT ADEL MEMANG KEPO— tidak memberikan asuransi jiwa buat anda jika otak anda terbakar saat membaca seperti Patrick. Produk ini tidak disarankan untuk orang orang normal. Terakhir yang anda harus tau jika menyukai fic ini harap bacakan di kelasmu besok pagi jika tidak suka, silahkan lindas gadget anda dengan truk sampah ehm— ralat, lindas aja authornya dengan tronton (Audience : HOREEee..!).
Killua di GunYat untuk 1 Semester Terakhir, Cuk!
Halaman ke4 :: Gon NGAMBEKK!
Diproduksi Oleh
PT ADEL MEMANG KEPO INVESTAMA .Tbk.
Jl. Perum 4 No. 196 Sabi City-Indahnesia.
Ide Produk
Howa
(Mourice : dan seterusnya, hore semua..)
Maaf ya sebelumnya bagi penggemar setia Gon yang sudah lama sekali tidak melihat kemunculan idolanya di fiction ini. Ya, sebenarnya ke manakah gerangan Gon pergi selama 3 chapter ini, dia lama belum disorot. Author membuangnya? Mungkin iya #jdooorrr..!
Dan kemanakah sosok Gon riang gembira yang biasanya selalu ada dalam pikiran Killua? Dia menghilang, mungkin isi otaknya hanya GunYat, GunYat, GunYat, GunYat, GunYat, GunYat, dan GunYat. Killua.. semenjak dunianya teralih pada sekolah, dan itu adalah GunYat, Killua jarang bermain seperti biasanya bersama Gon. Pulang sekolah, kalau nggak tugas kelompok, dia pulang, capek, lalu tidur, malam biasanya, BIASANYA belajar, ngerjain pr atau apa, apalagi dia harus mengejar banyak materi yang tertinggal selama 8,5 tahun di sekolah, dan nanti kelulusan, ujian negara. Melihat Gon hanya sekedar menyapa, oi, dan Gon membalasnnya, that's all. Tidak ada lagi kisah kisah mereka bermain berdua bersama. Ini salah Killua?
Gon juga tidak tau, sekarang, setiap hari dia harus pintar pintar bisa menghibur diri, entah Leorio ada atau tidak. Karena, kalau Leorio ada sebenarnya itu juga tidak jadi hiburan buat Gon, Leorio.. apa yang mau diharapkan dari orang tunakarya itu? Gon setiap hari.. sebenarnya, ingin merasa marah. Tapi.. sepertinya, dia tidak bisa melakukan hal itu hanya karena kesepian. Dunia sekolah yang seperti apa, berat ringannya seperti apa Gon tidak pernah tau. Seringkali dia menasehati dirinya sendiri dan berkata, dia harus mengerti Killua sekarang, dia sekolah, tidak ada waktu. Gon mencoba untuk bijak.
Dalam lamunanya, Gon akhirnya sadar dan berhenti lalu menatap Leorio yang masih menatapnya penuh tanya atau sekedar menilai dirinya aneh karena pagi pagi sudah bengong. Akhirnya dia bangun lalu mengerjakan tugasnya seperti biasa, menghibur diri sendiri. Dari belakang, Leorio terus memerhatikan derap langkahnya yang sendiri, dan tak ada itu suara brisik yang namanya Gon dan Killua, sekarang hanya ada Gon.
Gon ingin Killua tau sebenarnya, soal perasaanya, dia butuh teman dan tolong jangan tinggalkan dia sendiri. Tapi itu berat bagi Gon, dia merasa tidak enak hati juga, dia bisa ribut jadinya, mungkin, Gon merasa harus pengertian. Itu perasaan lama Gon dan sekarang terus seperti ini, makin lama makin ke sini, Gon merasa dirinya tidak berguna dan tidak diperlukan, sudah tidak ada yang peduli dengannya. Dia jadi merasa.. ingin pergi saja dari rumah itu, ya, biar saja, sampai tidak ada satupun orang yang mengetahuinya, Gon ingin menghilangkan dirinya sendiri, perlahan dengan menghapus keberadaannya. Sebenarnya, ia hanya sekedar mau melihat, masihkah ada yang peduli padanya?
Lalu akhirnya, datang suatu hari di mana Leorio pergi karena dipindahkan tugas, rumah sakit yang selama ini jadi naungannya, tempatnya berteduh, sambil melihat pemandangan wc yang ada sehari hari, uanng seribuan, duaribuan itu yang masuk ke kotak amal(?) setiap kali ada yang masuk, rumah sakit tersebut membuka cabang baru. Parahnya meskipun dia bukan di posisi yang penting, tapi dia dipindahtugaskan ke cabang yang baru. Dia pergi pagi dan pulang saat pagi lagi. Leorio bilang pada tetangga, bahwa dia ingin pindah kerja karena biaya ongkos ke sana terlalu boros, karena lebih jauh, tapi Leorio bingung kerja apa kalau dia berhenti sekarang? Akhirnya, Asuma menawarkan pekerjaan, yaitu pekerjaan lepas alias buruh di pabrik rokok. Dan entah kapan hari hari bersama rokok itu akan datang, Leorio bilang, dia mau menunggu akhir bulan.
Balik lagi karena kelamaan nyeritain Leorio, satu orang lagi di rumah itu, Gon, melakukan ekspansi dalam rangka menghapus keberadaannya dan pergi ke air terjun Niagara untuk bertapa. Sedangkan Killua penghuni yang satu lagi tetap berada di sana, menjalani kehidupannya di rumah. Leorio dan Gon pergi begitu saja, dan Killua merasa enjoy enjoy aja, saat Leorio pulang sebentar, mereka hanya bercakap cakap sebentar dan yasudah. Diantara mereka pun tidak ada yang menyadari Gon, atau bertanya, di manakah Gon beradaa..? #ingat ingat lagu ending Hachi.
Gon akhirnya gagal melakukan ekspansi, tidak pegi sampai ke Niagara, dan pulang di hari ke 3, tapi saat pulang, keadaannya juga biasa saja, tak ada yang bilang ke mana aja? Baru pulang? Kok pergi? Atau hal lainnya, Gon ada dan tidak ada juga tidak ada yang menyadarinya. Killua bersikap layaknya biasa saja, tak ada kekhawatiran, dan mungkin soal Gon pergi juga, dia tidak tau atau bahkan tidak ada yang tau.
Pintu terbuka.. dari luar,
Biasanya perhatian Leorio tidak terlalu tertarik untuk melihat siapa sebenarnya dalang di balik pintu, tapi rasanya untuk kali ini, lain, dia langsung menoleh secepat mungkin yang dia bisa, lagipula, kebetulan, dia hanya ada di meja makan. Omong omong, meja makan yang ada di tengah ruangan membuat jarak pandang luas.
Dan dia terkejut dengan apa yang ada di sana.. pemandangan yang jarang dan langka, mungkin 6000 tahun sekali, dan kiamat sudah dekat mungkin juga. Masuk tanpa mengetuk dulu, lagipula, Killua berfikir, ini rumahnya, untuk apa dia harus berbuat sopan segala? Dia tidak sedikitpun mengucapkan tadaima, or im' home.
"Yaudah, mau di mana? Sini? Kamar gue? Apa di mana..?" tanya Killua pada seluruh pengikutnya yang setia.
Dan para pengikutnya ini, yang mengikuti aliran sesat Killua terdiri dari Yokai, eh, maaf typo, maksudnya Yoken, yang sudah pulih ternyata, abangnya tercinta, Leader or Ldr, dan Niiyama a.k.a Niika. Mereka nampak menelsik keadaan rumah Killua yang berantakan, beraroma aneh, dan tak menganut tema minimalis atau apalah itu, standar standar aja. Kepo istilahnya, pengen tau aja rumah orang.
Leorio melihat anak anak sesat tersebut menggunakan seragam yang sama layaknya Killua, Leorio bisa memastikan bahwa oh, mereka anak GunYat juga, pasti. Yang jadi pertanyaan adalah, setan apa yang masuk ke dalam Killua sebenarnya yang membawanya untuk mengajak teman ke rumah. "Hoi, lu bawa temen..?"
Killua yang masih ngurusin kawan kawannya pun menoleh pada Leorio. "Iya,"
"Kiamat sudah dekat.." pikir Leorio, Killua frenly banget bawa bawa temen ke rumah.
"Yaudah, kamar aja, ya? Nggak enak, di sini,"
Akhirnya, setelah Leorio mengamati siapa pengikut Killua satu persatu, sementara baik Yoken, Leader, maupun Niika menatap wtf, dih, nih orang kenapa? Loh, gitu.
Di sisi lain, sambil bersembunyi di balik tembok dapur, Gon mendengar semuanya dengan wajah horror. Memberikan kesan lain diantara kebaikan dirinya yang selama ini orang orang kenal. 2 detik kemudian, dia lenyap dan pergi dengan sekali kejapan mata.
.
.
.
.
.
"Hmmm.., berisik banget, ya. Kedengaran nggak..?"
Ya, suara suara gaduh yang kadang kadang terdengar obrolannya apa, terngiang begitu jelas dalam rongga telinga Leorio. Tv tidak dinyalakan, terdengar jelas semua suara suara itu. Leorio baru kali ini kedatangan tamu berupa bocah bocah kelas 3 SMP, seperti apa rasanya, Leorio kan tidak tau sebelumnya. Sambil masih bengong di duduk di kursi meja makan dan suara gaduh tersebut menjadi penghiburnya.
"Mereka nggak dikasih minuman..?" Leorio bertanya pada Gon, sebenarnya maksud Leorio tuh nyuruh Gon ngasih minuman ke tamu, kode.
"Nggak perlu, lihat saja nanti kalau mereka mau.."
'Suara Gon datar banget!' membuat sebuah OOC lagi author kita ini. Gon masih mencari cari angin di teras rumah, pandangannya menghadap pada jalan dan Leorio tidak bisa melihat rupanya.
Suara derap langkah tiba tiba terdengar dari tangga, cepat dan penuh tenaga, Leorio menoleh, itu Killua. Killua tanpa melihat Leorio langsung berjalan menuju dapur dan memporak porandakan lemari piring demi menemukan beberapa gelas, lalu dibawanya bersama sebuah teko berisi air minum, mungkin. Dan naik lagi ke atas tangga, pergi. Dalam hatinya, 'Sejak kapan Leorio ada di rumah siang siang gini..? dia nggak kerja?'
"Ehmm.. eh, lu sini, sini!" manggil nggak pake nama, orang kan punya nama, oi!
Lantas, begitu dipanggil, Gon yang baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong langsung menoleh.
Setelah dihadapan Leorio, Leorio tiba tiba mengeluarkan seperak dua-perak uang dari kantong ajaibnya "Hm, nih! Anggep aja gue lagi baek, ya!" dan memberikannya pada tangan Gon yang terbuka, "Beli makanan buat mereka, ya, apa aja teserah elu. Atau.. lu tanya aja ke atas tanya mereka mau apa!"
Bahkan, Gon pun bengong, 'Leorio.. tumben baekk.. nggak pelit..' biasanya kalau ada tamu juga misalkan bapaknya Gon ke sono, nggak ada tuh istilah menjamu tamu yang baik dan benar, hanya sekedar air putih bahkan ditawarkan teh/kopi pun tidak. Tapi, Gon jadi bingung juga, mau beli makanan apa..? entahlah, tapi Gon sendiri rasanya jadi malas, bertanya pada orang orang yang belum dikenalnya, mau makan apa, lagi pula.. itulah orang orang yang sudah mengalahkannya, ya mengalahkan Gon untuk mendapat perhatiannya. 'Duh, ngomong apa, sih? Kenapa ya.. rasanya..'
Pintu langsung dibuka, tanpa sopan santun sekedar mengetuk mendengar di dalam itu ramai sekali. "Ano.. mau makan apa..?"
"Eh,"
Dan semua mata yang ada di dalam sana, yang tadi kerepotan dengan membaca buku yang dipegang masing masing, perhatiannya langsung teralih. Gon langsung terdiam, dan satu satunya tatapan yang tidak menatapnya begitu menjerumus, hanya Killua seorang, ya, Killua sudah tidak asing lagi, lah, dengan Gon, banget!
Dan hal lain yang Gon lihat adalah kertas kertas, buku, tas, alat tulis, gelas, dan barang barang lainnya yang berserakan di lantai, selain Killua .dkk yang berserakan. Sebenarnya ke-berantakan itu membuat Gon agak terhambat untuk membuka pintu tadi. Rasanya agak nggak enak. Tapi Gon tidak marah meskipun kamar Killua merupakan kamar Gon juga.
"Lu tutup bentar deh, nanti gue yang keluar" kata Killua, dia spertinya mengerti dengan pemandangan yang absurd ini.
Lalu pintu pun ditutup, Gon di luar, sementara dari kamar, Killua bersiap untuk keluar, berdiri.
"Dia siapa, Kill..? adek lu?" eakkk, Leader langsung kepo, mau tau aja urusan orang. Killua langsung meliriknya agak singit. Yang lain terdiam, lalu langsung kembali ke urusan masing masing.
"Bukan.." Killua tidak mau mengakui, kalau Gon adiknya, ya karena emang bukan.
"Terus siapa..?" masih mau tau.
"Temen gue,"
"Anak mana..?" pertanyaan anak mana..? rada menyungging hati Killua, yak, silahkan baca Ada Apa Dengan GunYat? Abang adek, pertanyaannya sama!
"Dia nggak sekolah.." dan jawaban yang didapatkan abang adek itu, sama pula.
"Udah nih, lu mau makan apa..?"
"Ahaha, terserah, asal jangan sampek ngerepotin!" Ldr sok sok nggak mau negerepotin, padahal dalam hatinya dia berharap penuh hati kalau akan dapat nasi bungkus nanti. Mupeng.
"Nggak usah, lah. Gue ngerjain soal ini 2 jam aja nggak ketemu temu jawabannya! Mau makan, lagi!" tapi ada saja cara Yoken untuk menghalangi jalan abangnya menuju kesenangan.
"Oh, lu serius nggak mau dikasih makanan..?" Niika mulai ikut ikutan.
"Yah.. lu nggak bisa mah itu derita!" Ldr tidak mau ambil pusing dengan derita adik kandungnya.
Mendengar pembicaraan yang mulai jadi debat ini, Killua straight face. Membuatnya malas untuk bertanya lagi, mau makan apa? Lagi pula, nampaknya mereka mereka ini memang nggak mau. So, akhirnya ia keluar, membuka pintu membuat Gon yang bersender di bidang tersebut langsung tersentak dan berubah posisi. "Bilang sama Leorio, makasih, nggak usah"
Setelah Killua masuk kembali ke kamar, pintu ditutup. Gon masih termangu di depan pintu.
"Eh, mana makannannya?"
"Katanya tadi pada nggak mau,"
"Siapa yang bilang begitu!"
"Udah, berisik lu..!"
"Cok, cepetan, nih, serius gue. Kalo lu mau, gue bilang lagi nanti lu pada mau makan. Gue sebagai tuan rumah yang baik sih udah berusaha, ya"
.
.
.
.
.
Gon sejak mendengar bahwa dirinya disebut tidak sekolah sebenarnya tidak sakit, sakit hati, dia memang tidak sekolah dan tidak perlu merasa marah pada Killua. Tapi mendengar semua jawaban Killua, membuat Gon merasa.. Killua sudah seperti tidak mengenalnya sama sekali, maksudnya, dari nada suaranya, ekspressi yang dibayangkannya, kata katanya, Killua berucap seperti Gon dan dia hanyalah orang baru kenal. Perasaan Gon ingin marah dan kesal, tapi itu bercampur aduk menjadi dendam.
Sepertinya, yang salah bukan Killua, dia menjawab hal yang sebenarnya terjadi. Gon tidak sekolah dan bukan adiknya Killua, atau salah satu anggota keluarganya. Gon seharusnya tidak perlu merasa kesal atau terganggu dengan hal itu, itulah kenyataannya. Mungkin karena hubungannya dengan Killua belakang ini-lah yang membuatnya sensi. Gon ingin dianggap sebagai sahabatnya, atau.. adiknya, atau apalah itu. Gon merasa juga, dia tidak seharusnya marah.
"Killua... malam ini... main, yuk, ke game center bareng.."
Sebuah tawaran keluar dari mulut Gon pagi ini, dia menatap Killua penuh harap, berharap orang yang ada di depannya ini mau dengan ajakannya. Killua ikut menatapnya tapi tidak langsung menjawab, malah minum air mineral dulu yang tersedia di depannya. Dan apa yang belum author jelaskan adalah, mereka ada di meja makan. Setting yang belakangan ini sering dipakai.
Hanya mereka berdua yang ada di rumah, Leorio sudah pergi sejak 2 detik yang lalu, rumah dengan suasana sunyinya pasti dapat membuat Killua mendengar jelas apa yang dikatakan Gon, "Oh, iya, deh, liat aja nanti"
Itu jawaban yang tak pasti.
Gon hanya diam, sesekali melirik display buah buahan plastik yang menjadi hiasan di meja makan, sementara Killua makin pergi menjauhinya. Pergi ke mana? Itu pertanyaan bodoh, jelas, dia pergi sekolah. Dan sementara Killua pergi, semua orang pergi, Gon harus pintar pintar menghibur diri. Menghindari kata bosan atau yang akan berubah jadi bosan hidup lalu nanti dia bunuh diri.
Ini sudah bulan ke.. 2 ya? Setelah Killua mengenyam manisnya pendidikan di GunYat atau kerennya MT. SUMARYATI PRE-INTER SKULL (baru ada di chapter 4). Waktu seakan lama sekali berputar dalam kehidupan 2 bulan baru Gon, lama sekali, sayangnya, Gon tidak tinggal di dunia game The Sims untuk author skip waktunya. Inilah hidup, nikmatilah, sambil sesekali lari ke rental ps atau game center, Gon melamuni kehidupannya yang mulai hampa. Ya, hampa hatiku.. #jadi inget judul lagu.
"Eh, lu pulangnya malem banget, derp!" sebenarnya ini pagi, sekitar jam 3-an.
"Maaf, deh!" eak, ikhlas nggak itu maafnya.
"Emang ada acara apaan..? stay over?"
"Bukan, Fate Stay Night"
"Waw.." katanya, sambil straight-in facenya.
Akhirnya, Leorio tidak pernah tau penyebab Killua pulang pagi buta, entah dia ngapain gitu, Killua tidak mau berpikir yang macam macam, lagi pula dia berfikir juga untuk apa mengurusi hidup orang lain sementara dirinya belum bisa mengurus hidupnya sendiri, dengan baik?
Kebetulan, karena Killua pulang pagi, dia bisa bertemu Leorio di jalan. Bertemu dengan sosok yang Killua pikir tadinya adalah penampakan tukang ojek. Tapi bukan, itu Leorio. Alhasil, karena arah pulang mereka sama (yaiyalah tinggal 1 atap), mereka pulang bareng. Berjalan bersebelahan. Killua dengan bajunya yang kasual dan tetap staylis #halah dan Leorio dengan seragam kebangaannya sebagai penjaga pintu wc.
Leorio tidak suka dengan keheningan ini, "Killua, lu rajinan ya sekarang..?"
Lantas matanya langsung menyala nyala dalam kegelapan pagi buta, dengan God Speed Implouse, Killua menjawab "Masa'..?"
"Dih, gue puji tanggepannye gitu..!" Leorio menjadi kapok untuk memuji orang, terutama orang yang berjalan di sampingnya ini.
"Hahh... Ya, 'kan apa yang gue pelajarin sebenernya lebih banyak dari anak seumur gue, kan gue baru sekolah" Killua berteori dia belajar lebih banyak, padahal dalam prakteknya tidak sama sekali.
"Ye.. 'baru' banget" menyungging.
"Padahal, kalo sekolah.. lebih enak kalo ada Gon.." tiba tiba nyamber ke Gon. Untung orang yang bersangkutan lagi ada di rumah, tidur, dan keselekannya hanya dalam mimpi.
"Nanti, deh, kalo gue udah berpenghasilan 30 juta/bulan, gue sekolahin dia!" gaji macam apa itu? Untuk ukuran seorang pekerja yang kerjanya nggak jelas. Killua mendengarnya langsung memutar matanya 360 derajat.
"Itu mah keburu gue tamat sekolah juga lewat..!"
Leorio menghela nafas sebentar, maksudnya untuk melampiaskan ketidak puasannya pada ff ini karena dia diberi nasib yang kurang beruntung. Ngomong ngomong soal Gon, Leorio jadi teringat sesuatu.. "Gue, sih nggak pernah ngomongin soal sekolah sama dia, atau dia ngomong ke gue. Tapi kalo ngeliat lu sekolah dia juga pasti pengen sekolah.."
"Pasti, ya..?" Killua mengoreksi kata Leorio yang yakin sekali.
"Yaahhh, nggak sekolah mau jadi apaan, lu..?" ceramah dimulai "Kaya gue, coba gue sekolah lebih tinggi aja.. mungkin gue seenggaknya nggak perlu harus gonta ganti pekerjaan yang nggak tetap kayak gini. Serius, deh" Killua makin diam.
"Eh, lu perasaan pernah nyeramahin gue kaya gini, deh.."
"Iye, di chapter 1"
Lalu akhirnya kedua manusia(?) yang bernama Killua dan Leorio sampai pada persinggahan atau rumah tepatnya. Baru ingin melewati pagar, ternyata pagarnya sudah digembok saudara, mungkin ini ulah Gon. Muka Leorio langsung asem, sementara Killua ngantuk tampangnya, untung, besok hari minggu, dia bisa puas tidur. So, akhirnya mereka manjat dengan sangat hati hati karena selain pagarnya tinggi, bagian atas pagar tersebut dilengkapi dengan trisula trisula mini beneran yang siap menyerang siapa saja untuk memberikan efek gore, misalnya jatoh ketancep ampe nembus. Tapi ini bukan LMHBS yang ada spoiler gorenya. Berkat restu howa, mereka berhasil melewati tantangan dan masuk ke babak selanjutnya.
Yaaak, pintu rumah dikunci, apa yang harus kita lakukan?
Dimanakah Gon..?
DOKKKK...!
DOKKKKKKKKKK...!
DOOOOOOKKKKKKKKKKKKKKKKKKK...!
"WOI, GOOOOOOOOOONNN, BANGUN GONNN..! BANGUUUUUUNN! BUKA PINTUNYA, GUE MAU MASOOOOOOOOOOOOKKKK..! WOI, GOOOOOOOOOOOONNNN, BUKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA...! GOOOOOOOOOOOONNNN...!"
Crek #sfx pintu dibuka gagal.
Dan Gon tiba tiba langsung muncul dari balik pintu
Dengan mukanya yang stragiht,
Kebringasan Leorio langsung berhenti
"Apa?" kata Gon, dengan mukanya yang masih datar.
"Lu berisik banget, sih, bego. Kaya ada maling aja!"
Para tetangga pun berdatangan dengan sendirinya, bergerombol, layaknya zombi zombi yang muncul dari dalam tanah, mendengar kegaduhan tersebut. 3 orang tersebut pun diserbu. Harusnya mereka menanam Pea Shooter setidaknya.
"Tik.."
"TiK.."
"Tik.."
Dengan disudahinya riwayat bekerja di rumah sakit ternama sebagai penjaga pintu wc, Leorio bisa santai dan tidur dengan lepas tanpa pikiran sekarang. Meskipun sering kali dia malah kebingungan harus cari kerja apa, menunggu jawaban tetangga yang menjanjikan kerja? Entahlah, Leorio harus tegar dan menelan ceramahnya sendiri, toh, dia bilang harus sekolah, kalau tidak mau jadi apa nanti? Ya, dia tidak menamatkan SMP dan sekarang.. ya beginilah, makanya dia berharap anak anak muda jaman sekarang jangan malas malas.
Dia lipat kembali koran Tempol itu setelah selesai dibacanya, berita hari ini hanya mencakup kebutuhan harga naik, inflasi turun, kado liang kubur untuk koruptor, perang berkecamuk, eksplolitasi SDM, dan berita berita yang sudah diketahuinya buruk tapi tetap dibaca. Dan di kolom pekerjaan, dia tidak melihat satupun lowongan yang tertarik dengan pendidikannya yang hanya sebatas SMP nggak jadi. Ini hari minggu, bagi mereka para ekspatriat untuk weekend dan berlibur bersama keluarga atau 'simpanan', atau pegawai kantoran yang biasanya pulang malam berdiam diri di rumah hanya untuk sekedar nyante dan istirahat. Sementara Leorio yang bukan siapa siapa, tidak punya apa apa untuk weekend, dan terlalu lelah juga untuk istirahat, diam.
Dari sudut meja makan, dilihatnya rumah begitu sepi dan kosong. Baik Killua maupun Gon tidak diketahui Leorio mereka ke mana.
"Eh, sekarang tanggal berapa, sih..?"
Killua merasa dirinya dipanggil, oh, ternyata ada, sambil menuruni tangga dia menjawab "Menurut kalender suku Maya, sekarang tanggal 22, dan tanggal 23.. ada lomba TO se-kabupaten"
Leorio pun sambil bicara dengan Killua, dia melihat orangnya juga. Killua, baru bangun dan sedang berjalan menuju dapur, lalu dilihatnya jam, sekarang ½ 11, 'Anak jaman sekarang..' "Gue mah capek luh, kalo jadi elu, ngerjain TO terus.. nggak ada habis habisnya,"
"Sebenernya gue ngggak mau ikut, karena itu nggak wajib" Killua menghilang dari penglihatan Killua, mungkin dia berada di titik mati dari meja makan.
"Nah kenapa lu ikut..?" pertanyaan yang logis.
"Karena gue ngejar iMac untuk rangking 1-50!" Killua lalu terlihat lagi, sambil menatap Leorio dari kejauhan, matanya berbinar jadi bintang.
"Anjeeerr.. kalo iMac gue juga mau! Gue bisa daftar, nggak..?" tergiur dengan hadiah iMac.
Killua lalu kembali dari dapur dengan tangan kosong, entah apa yang dilakukannya Leorio tidak tau karena ya dia nggak tau aja. Killua ikut duduk di meja makan bersama Leorio. "Lu serius mau ikut..?" tapi Killua tidak yakin perihal Leorio yang maaf saja, nggak bisa apa apa mau ikut ikutan. Wajah Killua terlihat sangat tidak yakin.
"Nggak, sih. Ngapain gue disitu? Paling kejang kejang gue ngeliat soal bezibun!" dan ternyata hal tersebut memang hanya sebuah lelucon belaka. "Emangnya lu.. optimis bisa nyampe 50 besar?"
"Kalo gue dikasih jalan sama Tuhan," jawban yang relijius banget dari seorang pembunuh bayaran
"Materi SKLnya itu lu udah kuasain semua..?"
"Nggak,"
"Yah!" dalam hati Leorio sebenarnya sudah menduga hal ini, "Tapi, lu keliatannya serius, kok.." Leorio sebenarnya tidak tau juga, seserius apa Killua, yang dia lihat hanya belakangan ini Killua jarang keluar rumah, kan biasanya dia ke game center terus.
Dibilang 'serius', Killua sendiri juga tidak yakin kalau dia memang 'serius' karena dia tidak merasa serius. Killua menatap Leorio tak percaya, lalau dia menghela nafas panjang.. "Sebenernya, gini.. gue takut nggak lulus UN, atau sekedar gue lulus tapi NEMnya kecil. Tapi.. gue nggak bisa belajar juga.." keluhnya, kolom curahan hati pun dibuka.
"Nah, itu mah, lunya aja yang males!" Leorio's advice?
"Setiap gue pelajarin satu materi, oke, gue ngerti, tapi nggak nyampe 2 detik, udah lupa lagi. Kayaknya terlalu banyak materi, jadi pusing gue," curhat pun berlanjut, wajah Killua pun nampak resah, gara gara UN.
"Ya, dan otak lu tuh penuhnya sama hapalan cheats game doang!"
Killua bungkam, meskipun memang dia sudah tak pernah terlihat lagi keluar rumah, oleh Leorio, segala macam cheats yang selalu dihapalnya masih menempel di otak, kaching, motherlode. Sedangkan untuk rumus yang lebih urgent, jauh, dia susah sekali menghapalnya. Ya beginilah, sebenarnya Killua nggak jarang ke game senter juga, Leorio yang pergi pagi pulang pagi hanya tidak tau saja kalau yang namanya Killua ini juga kadang kadang pulang sore(hampir petang) karena mampir dulu. Kemana kek, nongkrong nongkrong.
"Hahh..."
Panjang, makin ke sini, Killua makin sering menghela nafas dan panjang panjang. Mungkin kerena tekanan bathin di sekolahnya, mulai dari Leader yang paling annoying deh, Mak Lamfir.., dan materi materi itu. Killua sudah belajar, memang, dia bilang belajar, tapi merasa tidak cukup belajar juga. Karena sebenarnya dia tidak bisa mengejar 4 mata pelajaran hanya dalam semlalam. Ya, belajar dengan sistem kebut semalam, kedengarannya familiar, sistem yang hanya diciptakan untuk anak anak 'cerdas istimewa' pilihan Tuhan yang bisa menguasai sekian banyaknya materi hanya dalam satu malam. Anda bisa? Maka masa kecil anda luar biasa!(?).
Killua masih mengantuk, melihat ranjang di depan mata menghasutnya untuk tidur juga.. ranjang yang empuk.. suasana lembab-dingin dan nyaman.. oh no, Killua harus menguatkan imannya. Untuk itu, Killua segera keluar dari kamar setelah selesai urusan dengan seragamnya. Ya, dia tidak cukup tidur meskipun semalam belajar ketiduran. Belajar tak cukup, ngantuk, ketiduran. Ada satu hal yang kedengarannya lebih baik sedikit?
Dari tangga, Killua sudah bisa melihat, bahkan Leorio tertidur di sofa sementara TV menonton dirinya. Tagihan bengkak bulan ini atau token habis sebelum waktunya, Killua segera mematikan TV secepat mungkin. Masih agak malas, dia mau berleha sedikit, duduk di sofa, inginnya membuka buku untuk sekedar mengulang pelajaran, tapi Killua tidak yakin hal tersebut akan membantunya walau sedikit. Air mandi yang dipakainya tadi air dingin dan bukan air panas, diguyur air dingin saat mengantuk tidak membuatnya segar, seperti tidak ada efeknya. Justru Killua inginnya tidak mau mandi.
"Eh, Gon pergi, loh" Leorio tiba tiba bangun.
Hening..
"Hm, oh.." dan hanya itu jawaban dari karibnya sendiri, Killua.
Bahkan, Leorio tidak percaya dengan yang dikatakan oleh Killua yang nampak nggak perduli banget. Dia berniat mengulang kata katanya dengan nada yang lebih semangat dan menatap seorang Killua yang duduk di sofa sebrangnya penuh api. "Gue serius, oy! Dia mau pulkam dan nggak balik lagi! Katanya.."
Mata Killua yang tadi ngantuk dan datar datar aja, langsung membelalak "Lu serius..?!" posisinya yang duduk pun jadi berdiri.
Leorio memutar bola mata sejauh mungkin merasa children plis, pada Killua "Tadi gue bilang apa..? gue ngibul?"
"Jadi, tadi pagi pagi buta sebelom lu bangun, gue kan bangun gara gara kepanasan ga bisa tidur. Nah tiba tiba gue liat Gon bawa bawa tas gitu, katanya dia mau balik ke kampungnya, dia dijemput bapaknya, sih.." , "Dan elu tidurnye pules bener! Gue manggil manggil nggak kedengeran juga..!" ceritanya.
Terlihat jelas perubahan ekspressi yang tertera di wajah Killua, hell no, Gon pullkam! Sayangnya dia tidak menyadari perubahan waktu juga yang makin siang, Leorio sih nggak mau peduli bilang jam berapa sekarang "Eh, gue pinjem hp, dong!" dan Killua malah bilang minjem hape.
"Lu mau ngapain, udah siang gini? Lu nggak sekolah, telat aje!" tapi akhirnya.. seorang Leorio yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung pun menegur Killua, demi kebaikannya.
"Udah, gue pinjem aje, mau nelepon Gon!" Killua nampak bersunguh sungguh. 'Perkembangan yang tak terduga..' Leorio diam.
"Yailah, data kontak gue ilang semua, derp! Ga' tau kenapa sebabnya!"
"Lama, lu! Minjem doang gue!" atau minjem pulsa tepatnya kalau mau buat nelpon, sih.
Leorio pasrah dan akhirnya menyerahkan hpnya yang masih kridit, "Nih, lu apal nomer Gon..?"
Wajah Killua yang serius, membuat Leorio yakin. "Sebenernya nggak juga.." tapi keyakinannya pupus sudah.
"YAHH..!"
"Eh, tunggu dulu! Kenapa lu nggak pake hp lu sendiri..?!" usul yang bagus untuk seorang pemikir amatir.
"Hape gue lowbat, mati, dan lagian pulsanya lagi masa tenggang, ga bisa dipake" Leorio langsung diam.
"Lu cas aja dulu.."
"Lagi gue cas,"
"Yaudah, lu beli pulsa aja dulu ke depan.."
"Gak ada duit gue,"
"Beli di depan boleh ngutang, kok.."
"Gak usah, gue males,"
"Yaudah, gue juga udah males ngomong, pake hp gue aja.."
.
.
.
Dengan nomor ngasal, akhirnya telfon itu tersambung juga, dengan loud speaker Killua menelepon, biar ampe Leorio kedengaran. "Halo..!" semangat Killua terasa sampai sebrang sana, sementara Leorio harap harap cemas, dengan pulsanya yang baru diisi.
"Ya..?"
"Gon, ini elu kan? lu pergi ke mane.. kenapa nggak ngasih tau gue, dulu..?!" sebenarnya, sudah diceritakan bahwa Leorio menceritakan kalau Gon pulkam pada Killua, tapi ini.. pertanyaan berulang, mencari topik dengan meganggap diri sendiri tidak tau agar bisa dijelaskan dan memperpanjang durasi.
"Eh, Gon..?"
"Iya lu Gon, kan..?" Killua mulai hening, Leorio makin menghayati situasi.
"Gon siapa..?" pertanyaan bodoh.
"UDAH LU JAWAB AJA, LU GON BUKAN..! KALO SALAH SAMBUNG GUE MATIIN, NIHH..!" lalu Killua spaningnya naik.
"Gue.. bukan dari fandom HxH, bro! Gue.." tokoh dari salah satu fandom beken yang seiyuunya sama kaya Gon, jadi maaf ya suaranya mirip-mirip!
.
.
"Lu gimana kali, nelpon nomernya nggak tau, juga..!" Leorio si pemilik hp sekaligus pulsa langsung menghardik Killua begitu selesai.
"Ssstt..! diem lu!" tidak perduli, setelah menekan beberapa nomer lagi, dia kembali menaruh ponsel di kuping.
"Halo..? ini Gon 'kan?" untuk memastikan, karena Killua merasa dirinya justru lebih pintar dari keledai #inget pribahasa.
"Ini Killua, ya"
"Ya, Gon lu pergi kok.." eakk.. baru mau memulai, langsung diakhiri.
"Weh, siapa yang Gon..? ini gue howa, author, loh, author!" soo..?
.
.
"DAFUQQQQQ LU AuTHOOORRRRRRR...!" paduan suara Killua dan Leorio bersatu padu.
Baiklah, Killua tidak lelah mencoba dan terus mencoba. Semangat semangat! Ya, lagi pula pulsa bukan punya dia ini. "Halo.. ini.." ragu Killua.
"Ya, ini Gon yang bicara." Mata Killua langsung berbinar mendengarnya.
"Gon, lu pergi kenapa kagak bilang bilang sama gue..?"
"Emangnya harus bilang..?" Gon sudah belajar nyolot rupanya.
"Gue serius! Bukan saatnya untuk nyolot nyolotan..!" dan rupanya Killua serius.
"Kan Leorio udah bilang... Aku pergi.." ya emang bener, sih.
"Ya tapi kenapa? Ada sebabnya, dong!"
"Nggak ada apa apa.."
"Spik aja, lu! Pasti ada sesuatu!" tadinya Killua justru mau membacakan ayat pribahasa tidak ada asap tanpa api.
"Aduh.. lu nelpon itu.. belom dipaketin 1 menit.. abis pulsa gue..." ringis Leorio yang hanya memerhatikan pembicaraan tersebut dari pihak Killua.
"Gini, deh, lu ada di mana nanti gue jemput balik!" cielah, mau jemput #authornye komen aje, nih!
"Killua, hari ini lu ada lomba Try Out kan..? se-kabupaten" Killua langsung diam, perihal dia tidak pernah memberi tahu tentang lomba TO itu. Kok dia tau, sih?
"Ya... itu kan try out doang! tapi.. yailah, sebenernya gue juga males!"
"Katanya ngejar iMac..?" beserta iMac-iMacnya.
Hening..
Dari mana Gon dapat membaca itu semua.
"Gon, lagian lu kenapa pergi, oi..?" Killua pun mengajak kita ke topik awal.
"Emangnya masih ada yang butuhin aku..?"
"Eh, jawab kenapa lu pergi..?!" pertanyaan Killua tak terjawab.
"Lu masih butuh gue..? Dijawab, dong!" nada bicara Gon langsung tinggi, khususnya di bagian 'dijawab dong' Killua langsung bungkam.
Dan hening..
Killua tak bisa menjawab, masih butuhkan dia sebenarnya? Buat apa dia mengejar ngejar Gon dari tadi tanpa alasan? Hanya sebatas teman, ya, ya, seorang teman yang ingin temannya kembali, kembali menemani di kala sepi. Tapi, untuk apa? Justu kalau teman itu ada, dia hanya merasakan sepi. Gon yang di sebrang sana juga tak bersuara, dia menunggu jawaban Killua, dia ragu, apa Killua bisa menjawabnya. Leorio yang biasanya banyak omong juga tidak berkomentar, author, no way..
"Killua, aku nggak mau nghalang halangin mimpi orang lain, untuk sekolah. Kamu sibuk? Harusnya aku mbantu dan ngdukung, tapi aku orang yang nggak berguna.. dan malah pergi"
"Mangkanya balik, dong..! Lu sendiri ngomongnya kaya gitu!" lalu giliran Killua yang bicara dengan nada tinggi. Ini turning poin baginya, menyerang balik!
"Killua, TO mulai jam berapa?" lalu Gon-lah yang berganti topik sekarang.
"Sekarang udah mulai.." nggak bersalah banget ngomongnya,
"KEJARR..!" Killua langsung menjauhkan telpon dari hadapannya, "Kejar kalo gitu!" Gon nyuruh Killua sekolah.
"Tapi lu balik, yah..?" tawarnya lagi.
"Buat apa..? aku di sana cuma jadi pajangan.."
"Gon, maafin gue.. selama ini gue sibuk sendiri, maaf banget..!" sampai kata kata maaf pun terucap.
"Yah.. aku juga minta maaf, karena bener bener nggak bisa balik.."
"Ck, apa lagi yang salah..?"
"Lu pikir gue mau buang buang tiket seharga 1 juta lebih hanya dengan alasan lu minta gue balik? Children please?!" alasan yang paling logis kenapa Gon nggak mau balik.
"Yah.. jadi lu nggak jadi balik ke sini..?" nada kekecewaan pun terdengar jelas dari Killua.
"Eh, dari awal pembicaraan, apa aku pernah bilang, 'nanti balik'..?"
"Yah, jadi gue gimana, dong..?" Killua merasa waktunya terbuang sia sia, begitu pula dengan yang dirasakan Leorio, manyun dia, pulsa abis, dan hasilnya NIHIL.
"Kejar sekolahlu, gimanapun juga..!" ya, ceramah terakhir, setelah dirasanya semua ini ternyata sia sia, untuk dia cukstaw aja, Gon nggak mau balik. Leorio menghela nafas sambil mengelus dada. Ceramah lagi dari Leorio, membuat Killua sebagai pengikut setianya langsung menoleh dan mendengarkan.
"Ya, Leorio bener.." tumben Leorio bener dan dianggap bener sama orang.
"Tapi, udah siang sekarang, udah dimulai dari tadi. Gue ke situ juga udah selesai, kali!" pesimis, ya. Tapi kalau dipikir, benar juga.
"Lu tau dari mana, hah..? pinter banget lu sekarang!" , "Coba ke sekolah aja dulu, siapa tau masih bisa.." Gon masih punya semangat sekolah meskipun dia nggak sekolah, ya, semangat untuk hal yang mustahil kedengarannya.
"..." dan diam, hening tanpa ada jawaban di sebrang sana. Killua merasa patah arang, ya, harapannya akan kembalinya Gon layaknya arang patah yang sudah tak dapat disambung kembali.
"Hoi, Killua, maaf ya, aku nggak bisa pulang, dari tadi kita ngomong cuma buang buang waktu. Kapan kapan mungkin kalau ada waktu.. aku juga bakal mampir.." dengan nada ramah seperti Gon biasanya, ya, dari kalimatnya sama sekali tidak terbaca rasa marah, kesal, atau benci.
"Ya.. ini bukan akhir dunia!" Leorio yang duduk di singgasananya tadi langsung bangkit berdiri, apa yang dikatakanya.. kuote-kah? "Udah tuh kalo lu nggak ada yang mau diomongin lagi, sini hape gue." Dan tangannya langsung mengadah pada Killua, back to business.
"Tutt.. tutt.. tuutt.. tutt..."
.
.
.
.
.
.
Akhirnya, setelah mendengarkan beberapa ceramah, Killua sampai juga pada GunYat. Apa yang belum author ceritakan adalah, sebenarnya jarak dari rumah Killua ya, bisa dibilang rumah Killua ke Gunung Yati hanya berkisar 200 meter. Jadi biasanya dia jalan nyante atau pake sepeda ke sekolah jikalau mepet waktu seperti halnya sekarang. Gerbang GunYat terbuka lebar untuk Killua, ya, bagus, tapi yang mencurigakan adalah suasana sekolah yang begitu sepi.. senyap, mungkin tenang karena ada lomba? Entahlah,
Sepeda telah diparkir sembarangan, dengan tas yang masih ada di punggungnya dia berlari sebisa mungkin. 1 ruangan, 2 ruangan, 3 ruangan hingga semuanya ditelusuri. Tapi kosong,
"Dafuq.."
Lagi lagi setelah dikecewakan oleh Gon sekarang Killua harus menerima kenyataan, terlambat, kecewa, pulang ke rumah dengan hampa. Sia sia. Ya.. langkahnya langsung lambat, menunju sepeda. Raut yang asem bener terpampang.
"Woh.."
Leorio menatap hp keluaran tahun 2014 milik Killua yang sedang di-cas di steker ruang tamu, hp model standar itu bergetar, tapi tidak berisik. Sebenarnya Leorio merasa agak lancang, untuk melihat barang pribadi orang, tapi mumpung orang yang bersangkutan, alias si pemilik tidak ada, Leorio dengan cekatan langsung menyomot hp di atas meja tsb dan melihat layar 3 inci-nya.
Telpon masuk :
Tajujin
Panggilan tak terjawab :
Tajujin (2)
Niikah (3)
SMS masuk :
5
Sayangnya, setelah menekan tombol yang ada untuk mengaktifkan hp
Leorio diminta untuk enter number password code, time left : 1s
Lalu Leorio langsung diam dan menaruh hp tersebut kembali ke tempat asalnya dan pergi.
