.
.
.
Ini masih sangat pagi, bahkan udara masih sangat dingin mengingat sinar matahari masih begitu minim. Meski begitu langit sudah mulai cerah, menghilangkan jejak ribuan bintang di atas langit.
Iris biru gelap itu melihat kedua tangannya. Melihat kain tipis yang menurutnya begitu primitif ini membungkus tubuhnya. Sebuah pakaian manusia kini tengah menggantikan seragam kebesarannya. Wanita manusia itu yang memaksanya berganti pakaian dengan dalih untuk membuatnya nyaman saat tidur, meski pada kenyataannya ia sama sekali tak tidur semalaman. Ia tak membutuhkan tidur mungkin hingga tiga hari kedepan. Kemajuan teknologi mereka membuat mereka dapat mengatur waktu tidur mereka sesuka hati, tubuhnya akan terus sadar sampai waktu yang sudah ditentukan.
Ia mendongak kembali melihat ruangan yang ia tempati sejak semalam. Wanita manusia itu mengatakan bahwa ini kamarnya, ruang pribadinya. Ia juga mengatakan bahwa segala keperluannya sudah disiapkan ditempat ini. Walaupun kenyataannya yang ada hanya jajaran keperluan yang manusia gunakan. Alat-alat primitih yang mengharuskannya mengunduh informasi terlebih dahulu untuk mengetahui apa kegunaan alat-alat tersebut.
Semuanya aneh. Semuanya asing.
Perlahan tubuh biru itu bangkit dari ranjang yang ia duduki semalaman. Alien itu perlahan membuka pintu kamarnya. Langkahnya sempat terhenti untuk melihat ruang tengah rumah itu, begitu sunyi. Sebuah kesunyian yang begitu aneh dan menggelitik tubuhnya. Bahkan semalaman telinga runcingnya dapat mendengar suara-suara aneh di luar bangunan ini. Suara-suara aneh yang mungkin lebih dikenal oleh manusia sebagai suara malam hari.
Kakinya perlahan melangkah sembari bola matanya mengedar melihat sekitarnya, melihat sofa, rak buku, pintu, rak sepatu, dan dapur. Ia sempat ragu saat melihat anak tangga yang mengarah ke lantai dua rumah itu sebelum akhirnya ia kembali melangkah merasakan kaki telanjanganya menginjak dinginnya tangga kayu.
Lantai dua tak lebih baik dari lantai satu. Hanya ada lorong dan beberapa pintu ditempat ini. Masih dengan kesunyian yang sama, sampai telingannya mendengar sayup-sayup suara di ujung lorong. Kakinya perlahan kembali melangkah mengikuti suara yang ditangkap telinganya. Ada pintu disana, sedikit terbuka memperlihatkan apa yang ada dibaliknya.
Ia perlahan mendekat, tanpa suara membuka pintu itu lebih lebar. Iris biru gelap itu menemukan wanita manusia pendampingnya ada disana. Berdiri membelakanginya dengan tangan yang sibuk melepas untaian kain yang membalutnya. Ia hanya diam berdiri diambang pintu melihatnya. Ia diam saat melihat jemari dengan warna yang menurutnya terlalu putih itu melepas apa yang melekat pada tubuh ramping itu. Hingga akhirnya iris hitam wanita manusia itu menemukan iris biru gelapnya.
"KYAAAAA!"
Plak.
.
.
.
Stars
.
.
.
Pair: Haehyuk
.
Rate: T
.
Warning: GS/Romance/Fantasy Ilmiah
.
Summary: "Aku adalah milikmu, dan selamanya akan menjadi milikmu."
.
.
.
Dahi Kyuhyun mengernyit melihat alien yang duduk tenang didepannya. Ia langsung menengok pada Hyukjae yang berdiri disebelahnya.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan padanya?"
"Aku tidak melakukan apa-apa."
"Ya! Siapapun dapat melihat dengan jelas cap tanganmu di pipinya!"
Hyukjae hanya menghindari tatapan tajam Kyuhyun meski percuma.
"Aish, jangan melihatku seperti itu! Dia mengintipku saat berganti baju, jadi ini salahnya sendiri!"
Doktor itu hanya berdecak.
"Kita tak tahu kebudayaan yang mereka anut disana, bisa saja hal-hal seperti itu adalah hal yang lazim disana. Jadi jangan bersikap terlalu sensitif."
Perkataan Kyuhyun membuat Hyukjae melihatnya tak percaya. Jadi maksud Kyuhyun melihat wanita telanjang di planet alien ini adalah hal yang lazim, begitu?! Dasar doktor gila!
Iris kelam Kyuhyun kembali melihat alien didepannya yang sama sekali tak terganggu oleh bekas tamparan dari Hyukjae dipipinya.
Kyuhyun sengaja datang begitu pagi untuk memastikan keadaan tamu mereka setelah bermalam di rumah manusia biasa. Memastikan tidak ada yang salah padanya.
"Seperti kesepakatan sebelumnya dimana kalian diperbolehkan masuk ke negera kami dengan timbal balik kami juga boleh melakukan penelitian tentang kalian."
Tak ada sahutan apapun dari alien didepannya membuat Kyuhyun kembali melanjutkannya.
"Aku hanya akan bertanya beberapa hal untuk hari ini, beberapa hal dasar." Doktor itu menyalakan alat perekamnya sementara Hyukjae berjalan ke dapur untuk membuat sarapan.
"Kami menyebut planet kalian dengan Gliese 581 C, tapi aku ingin tahu apa nama planet kalian yang sebenarnya?"
Diam, tentu saja alien ini selalu tak mau langsung menjawab. Selalu melihat lawan bicaranya terlebih dahulu seperti memastikan sesuatu sebelum berbicara.
"Aaron. Kami menyebutnya Aaron."
"Seperti apa kehidupan disana? Maksudku, gambaran garis besarnya saja."
"Selayaknya yang kalian lakukan di bumi, kurasa. Kami memiliki sistem kehidupan yang hampir sama, hanya saja kami sudah meninggalkan cara-cara manual yang kalian pakai."
"Karena kemajuan teknologi kalian?"
"Ya."
Pembicaraan itu tersebut berlanjut. Jika tugas Hyukjae adalah menjawab segala pertanyaan tamu mereka, maka tugas Kyuhyun adalah sebaliknya. Doktor ini bertugas mengorek informasi sebanyak yang ia bisa. Meneliti bagaimana kehidupan yang diperkirakan berjarak 20 tahun cahaya dari bumi itu.
Menciptakan sebuah penemuan.
Seperti yang Kyuhyun katakan, pembicaraan mereka tak berlangsung lama setelah Doktor itu memutuskan untuk kembali ke pangkalan departemen pertahanan dan mengatakan akan kembali lagi besok. Meninggalkan Hyukjae sendiri lagi dengan alien mereka.
"Wae?" Hyukjae urung saat akan meneruput sup hangatnya saat mendapati iris biru gelap itu memperhatikannya.
Diam. Lagi-lagi diam tak menjawab pertanyaannya.
"Ayo dimakan, masakanku enak tenang saja."Ucapnya lalu menelan nasi banyak-banyak.
Alien itu melihat jajaran makanan didepannya. Hyukjae memasak sup kecambah dengan kimchi dan telur dadar sebagai lauk. Tapi sepertinya aroma makanan itu tak menggugah selera alien ini.
"Letnan Lee Hyukjae."
"Ya?"
"Aku tidak membutuhkan semua ini." Ucapnya mengarah pada semua makanan didepannya membuat Hyukjae tak mengerti.
"Apa maksudmu?"
"Kami sudah lama meninggalkan mengambil nutrisi untuk tubuh dengan cara manual seperti ini."
"Cara manual?"
"Ya, makan adalah cara manual dan primitif untuk mengambil nutrisi. Kami sudah tidak melakukannya lagi sejak lama."
"Tunggu, maksudmu kalian tidak pernah makan?"
"Ya."
"Lalu bagaimana cara kalian hidup selama ini jika tidak makan?"Hyukjae semakin heran oleh alien didepannya ini, semua orang tahu mahkluk hidup apapun akan mati jika tidak makan.
"Pakaian yang kami kenakan sudah diisi dengan nutrisi yang kami butuhkan, saat kami membutuhkan energi maka pori-pori kulit kami akan menyerapnya secara otomatis."
"Mw-mwo?"Itu terdengar mengerikan ditelinga Hyukjae
"Dengan cara ini kami hanya mengkonsumsi nutrisi saja sesuai kebutuhan. Begitu berbeda dengan memakannya secara manual, akan banyak sekali zat-zat tak diperlukan yang hanya akan mengendap dalam tubuh dan merusak tubuh."
Sungguh, alien satu ini sangat tahu bagaimana merusak nafsu makan Hyukjae. Wanita itu meletakkan sumpitnya.
"Dengarkan aku, Donghae-shi." Kedua lengan kurus itu terlipat di atas meja dan iris hitam itu menatap tegas alien didepannya.
"Bukankah kita tengah sepakat bahwa kau akan menjalani hidup sebagai manusia untuk mengetahui kenapa kami manusia disebut sebagai menusia? Sebagai manusia kau juga harus bertingkah laku seperti manusia pada umumnya termasuk melakukan hal yang kau sebut makan secara manual, jadi ..."Hyukjae mengacungkan sendok tepat didepan alien itu.
"Makan sarapanmu!"
Tak bergerak, iris biru gelap itu hanya melihat sendok besi didepannya. Hampir saja Hyukjae kehilangan kesabarannya kalau saja tangan biru pucat itu tak perlahan mengambil alih sendok ditangannya. Letnan itu tersenyum tipis saat akhirnya alien itu menyendok nasinya.
Ia mengamati benda putih menggumpal itu, seumur hidupnya ia tak pernah memasukan apapun kedalam mulutnya dan ia enggan melakukannya kalau saja wanita manusia ini tak melihatnya sedari tadi.
Perlahan tapi pasti sesendok nasi itu akhirnya menyapa lidahnya dan secara naluriah mulai mengunyahnya. Manis, untuk lidahnya yang begitu sensitif karena tak pernah digunakan nasi yang hambar terasa begitu manis.
"Coba dengan lauknya!" Hyukjae menaruh kimchi di sendoknya yang sudah penuh dengan nasi lagi sebelum alien itu kembali memakannya tak yakin.
Alien itu terkejut dengan sensasi rasa berikutnya, ia lekas terbatuk-batuk saat rasa pedas kimchi terlalu kuat untuknya. Hyukjae tertawa melihatnya sambil menyodorkan air minum. Ini seperti mengajari seorang balita bagaimana makan yang baik dan benar. Pada akhirnya sarapan mereka ditutup dengan alien itu yang hanya menghabiskan setengah nasinya dengan sedikit sup, ia sama sekali tak ingin menyentuh kimchinya lagi.
"Perhatikan ini!"
Hyukjae mengacungkan sikat gigi ditangannya lalu memberinya pasta gigi di ujungnya begitu pula dengan sikat gigi di tangan alien yang berdiri disampinya. Setelah makan mereka perlu menyikat gigi mereka.
Wanita itu mulai menyikat giginya, memastikan alien ini melihatnya dengan jelas. Meski begitu kaku alien ini mengikutinya, ikut menyikat giginya yang begitu putih itu. Hyukjae mengambil air digelasnya lalu berkumur dan alien itu mengikutinya mengambil gelasnya sendiri dan berkumur.
Gleg.
Reflek, Hyukjae memuntahkan air di dalam mulutnya ke wastafel kerena terkejut.
"Hyaaaah! Jangan ditelan!"
.
.
.
Kyuhyun membaca semua data yang ia dapat dari para Doktor pendamping lainnya. Masing-masing dari alien ini menanyakan hal yang berbeda-beda. Ada yang menyangkut sistem pemerintahan dan sumber daya alam atau juga mengenai penampakan alam dan mahkluk hidup di bumi ini.
Rasa dingin itu menyekat pipi Kyuhyun membuat Doktor itu terkejut. Suara kekehan disampinya membuat Kyuhyun lekas menengok dan menemukan wanita berseragam sama dengannya tengah ada disampingnya dengan sekaleng americano dingin di tangannya.
"Ketuk pintunya, Sungmin! Jangan mengagetkanku begitu!"Meski mengomel tapi tangan Kyuhyun menarik wanita itu agar duduk dipangkuannya.
"Aku sudah mengetuk, kau saja yang terlalu serius bekerja."
Sungmin membuka kopi dingin ditangannya lalu menyodorkannya pada Kyuhyun sebelum membuka miliknya sendiri.
"Kau tidak mendapingi alienmu dan Letnan Im?"Sungmin menggeleng.
"Aku sama sepertimu harus mengolah semua data yang kita dapat dari para alien itu."
"Lalu kanapa kau malah disini?"
Doktor wanita itu mendekatkan bibirnya ke telinga Kyuhyun.
"Karena aku merindukanmu." Bisiknya dengan nada begitu manja membuat Kyuhyun tertawa. Wanita satu ini tahu bagaimana menghidupkan harinya.
Kyuhyun segera memeluk wanita dipangkuannya. Mereka tertawa sambil meminum kopi mereka.
"Kau sudah merangkum semuanya?"Jemari Sungmin membuka tumpukan kertas laporan Kyuhyun dimeja.
"Hampir, tapi Sungmin tidakkah kau merasa ada yang janggal?"
"Apa yang janggal?"
"Para alien itu."
"Tentu saja! Lihat mereka begitu biru dan pendiam!"
"Bukan itu maksudku, Sayang."
"Lalu?"
"Kedatangan mereka kemari, tidakkah sangan janggal?"
"Apa maksudmu?"
Kyuhyun mencoba membenarkan posisi duduk Sungmin sehingga mereka berhadapan.
"Coba kau bayangkan jika kau adalah para Alien itu, masuk ke planet yang begitu asing dan tak begitu dikenal sebelumnya. Bukankah hal itu begitu berbahaya?"
Sungmin berkedip, mulai mengerti arah pembicaraan ini.
"Bukankah mereka mengambil resiko yang terlalu besar hanya untuk mengetahui informasi yang tak seberapa?"
Jika dipikirkan kembali apa yang dikatakan Kyuhyun ada benarnya. Bisa saja mereka akan dibunuh dan dijadikan percobaan oleh manusia, namun seakan tak peduli mereka tetap datang ke bumi hanya untuk belajar. Dan yang Sungmin dengar juga kesepakatan mereka dengan pemerintah mereka terjadi begitu saja. Terlalu mulus menjadi kenyataan.
Terlalu mudah.
"Kita sudah meningkatkan keamanan di setiap sudut Kyuhyun. Jadi jika mereka memang memiliki niat lain yang berbahaya maka para pihak dari departemen pertahanan tak akan membiarkannya. Kita selalu memastikan bahwa gerak gerik mereka selalu diawasi."
Sentuhan halus itu menyapa pipi Kyuhyun, begitu lembut dan menenangkan.
"Aku tahu, aku hanya khawatir."
"Sudahlah lupakan hal itu. Kau sudah sarapan?"
.
.
.
Shower itu menyala mengeluarkan rintikan air yang cukup deras saat Hyukjae menyalakan kerannya.
"Kau lihat, kalau ingin mematikannya tinggal putar ke arah sebaliknya." Hyukjae kembali memutar krannya hingga rintikan air itu berhenti.
Iris hitamnya melihat alien yang diam melihatnya. Memastikan bahwa mahkluk satu ini mengerti.
"Letnan Lee Hyukjae, sudah kukatakan aku tak membutuhkannya."
"Tentu saja kau buntuh, kau sendiri yang bilang seumur hidup tak pernah mandi. Untuk manusia seperti kami hal itu sangat jorok, Donghae-shi."
"Tapi pakaian kami dilengkapi dengan teknologi yang akan menscant tubuh kami setiap 25 detik sekali. Aku yakin tidak ada hal di bumi ini yang lebih bersih dari kami."
Hyukjae memutar bola matanya, ya ya terserah apa kata alien ini. Tapi tunggu dulu, otak Hyukjae tiba-tiba saja mencerna hal-hal ini.
Kalau alien ini tak pernah makan dan tak pernah mandi, berarti mereka juga tak pernah ...
Wanita ini melirik kloset tak jauh darinya, lalu merinding sendiri.
"Sudahlah. Pokoknya kau harus mandi. Ingat, lepas pakaianmu, basahi tubuhmu dengan air lalu gunakan sabun yang disana! Yang botol kuning itu. Kalau yang botol merah itu shampo untuk rambutmu. Hanya usapkan cairan itu hingga berbusa lalu bilas kembali dengan air, mengerti?"
Diam, tentu saja. Apa yang bisa Hyukjae harapakan. Perlahan wanita ini mendekat pada alien didepannya. Lalu berbisik ditelinganya seakan takut orang lain mendengarnya.
"Ngomong-ngomong, kalau semisal kau merasakan sesuatu yang aneh di perutmu seperti ... seperti sesuatu akan keluar, tak perlu panik. Kau bisa mengeluarkannya disana." Telunjuk pucat itu mengarah pada kloset tak berdosa di sudut kamar mandi, meski hanya mendapat pandangan tak mengerti dari mahkluk biru didepannya.
Sedikit berdehem Hyukjae segera berjalan akan mengambil handuk di lemari gantung tak jauh dari sana.
"Kalau airnya terlalu dingin putar saja kerannya lebih ke kanan, kalau terlalu panas putar sebaliknya."
Tangan pucat itu memilih handuknya yang paling besar lalu berbalik melihat alien itu.
"Ya Tuhan!"
Wanita itu begitu terkejut saat melihat mahkluk biru itu tengah berusaha melepas celananya, piayama atasannya sudah menghilang entah kemana memperlihatkan tubuh atasnya yang terbalut dalam kulitnya yang biru pucat. Dengan serampangan Hyukjae segera mencoba menutup matanya dengan tangan. Apaan-apan alien satu ini!
"Tu-tunggu aku keluar dulu! Ini... ini ambil, keringkan tubuhmu dengan itu bila sudah selesai!"
Wanita itu lekas berlari keluar kamar mandi setelah melempar handuk itu sembarangan, hanya untuk terengah dibalik pintu kamar mandi yang sudah tertutup. Wajahnya merah dan jantungnya berdebar kencang karena efek terkejut.
"Mereka bilang beradaban mereka jauh lebih maju tapi kenapa mereka tak punya rasa malu sama sekali?! Astaga apa yang dia pikirkan sebenarnya?!" Sembari mengerutu Hyukjae berjalan ke kamar mengambil baju ganti untuk alien itu.
Selesai mandi, Hyukjae tak tahu lagi harus mengajarkan apa. Jadi wanita itu memilih hal yang paling mudah dilakukan.
"Seharian ini hanya perhatikan aku dan lihat apa yang kulakukan, ara?"Itu katanya.
Alhasih hampir seharian itu ada sesosok mahkluk biru yang terus mengikutinya kemanapun Hyukjae pergi. Seperti anak anjing mengikuti majikannya kesana kemari. Dengan mata yang cermat dan ekpresi serus seperti melihat sebuah hal yang berharga, ia akan memperhatikan setiap geraka manusia didepannya. Melihat Hyukjae membersihkan rumah, memasak, mencuci baju, atau bahkan menonton TV.
"Kenapa kalian manusia melakukan itu?"
"Apa?"
Jari itu menunjuk Hyukjae yang berleha-leha disofa sambil makan cemilan.
"Melakukan sesuatu yang tak berguna."
Dalam, perkataan itu memiliki kandungan sindiran yang benar-benar dalam meski disampaikan dengan wajah tanpa ekspresi seperti itu. Otomatis Hyukjae menegakan posisi duduknya dan menaruh toples cemilannya. Jemari biru itu menunjuk perut Hyukjae.
"Semuanya yang masuk kemulutmu bisa saja mengendap di perut dan membuatmu cepat mati."
Uuugh, jangan mencekiknya Hyukjae! Ingat ini adalah tanggung jawab! Tanggung jawab!
.
.
.
Siang itu begitu terik hingga Letnan itu merasa tubuhnya yang berbalut seragam terasa begitu lengket. Ia benci berada diluar ruangan ditengah musim panas seperti ini, tapi sekali lagi ini tugasnya, tanggung jawabnya sebagai salah satu Letnan. Ia melihat kembali pada rombongan orang-orang berjas rapi didepannya yang terlihat mengelilingi para alien mereka.
Hari ini menteri pertahanan tengah menyempatkan diri menyambut tamu kehormatan mereka dengan mengajak mereka semua melihat pembangunan sebuah teknologi baru yang tengah dikembangakan oleh negara mereka. Sebuah alat transportasi terbaru berupa kereta layang yang akan melaju diatas rel magnet. Teknologi ini memang sedang dikembangkan di banyak negara tapi negara mereka akan menjadi yang pertama mengomersialkannya. Tentu saja tempat ini sudah disterilkan terlebih dahulu.
Hal ini tentu saja membuat Hyukjae yang sedang dalam proses menjalankan kehidupan manusia pada alien itu terpaksa membawanya kembali ke departement pertahanan sementara ini. Perlu diingatkan bahwa selain dirinya, Kyuhyun, Kangin dan beberapa orang lain tak ada yang tahu bahwa alien itu hidup dengannya.
"Kami ingin alat transportasi ini ramah lingkungan dan tetap efisien dengan kecepatan dan jarak tempuh yang tinggi."Laki-laki paruh baya berstatus sebagai Menteri pertahanan itu tersenyum ramah pada para alien didepannya.
Bukan tanpa alasan ia menunjukan semua ini, ia ingin bertukar pikiran dengan para mahkluk dengan peradaban yang jauh lebih maju dibanding mereka. Sebagai upaya untuk mengambil sisi positif untuk kemajuan negara.
"Di planet kami tenaga magnet seperti ini sudah dikembangkan menjadi tenaga anti gravitasi. Hal ini bisa membuat benda seberat apapun melayang tanpa susah payah." Alien berambut abu-abu itu menjawab.
"Apakan teknologi seperti itu bisa kami terapkan di Bumi?"
"Tidak, maksudku belum. Semua fasilitas yang ada belum bisa menciptakan teknologi seperti itu." Kali ini sang wanita alien berambut merah menyala itu menjawab.
Iris hitam Hyukjae melihat Donghae dari kejauhan lalu mencibir pelan.
"Lihat dia, begitu bawel dirumah tapi diam seperti patung dihadapan semua orang."
Satu hal yang Hyukjae pelajari mengenai alien berambut hitam itu, suka berkomentar. Ia akan berkomentar tentang apa saja yang Hyukjae lakukan. Seakan-akan setiap tingkah laku Hyukjae itu salah dan tak wajar. Rasanya telinga Hyukjae serasa terbakar setiap alien satu itu menyinggung teori ini dan itu, membuatnya pusing.
Hyukjae berjalan sedikit menjauh dari kerumunan orang-orang itu. Mencari tempat yang sedikit teduh karena ia merasa seragamnya mulai basah oleh keringat. Ia melihat Donghae dari kejahuan sebelum tersentak saat tiba-tiba saja alien itu juga melihat kearahnya. Ia segera memalingkan wajahnya, melihat sekitar tanpa mau kembali bertemu tatap dengan iris biru gelap itu.
Dua puluh tiga meter di atas sana menjulang tinggi alat berat pemindah beton untuk bangunan bertingkat. Merantai benton seberat belasan ton tanpa ada yang mengawasi karena sterillisasi tempat itu. Tidak ada yang tahu saat beton yang melayang terantai itu mulai bergerak kehilangan keseimbangan. Tak ada yang tahu saat rantai yang menyangganya tetap melayang diudara hampir putus.
Krak
Donghae menghentikan langkahnya, ada peringatan disekitarnya. Tanda berbahaya menyala memperingatkannya. Perlahan iris biru gelap itu mengedar melihat sekitarnya, sebelum ia bisa menyadarinya rantai itu terputus menciptakan suara memekikan telingan mengejutkan semua orang yang ada disana.
Saat itu Hyukjae sama sekali tak menduga saat ia mendongak, ia tepat berada di bawah sebuah beton yang siap menghantamnya. Ia termangu saat semua orang begitu ketakutan menyerukan namanya.
Ia tak bisa bergerak.
Bruk
Hyukjae merasakan benturan. Ia merasakan tubuhnya terbentur lantai beton bukan melindasnya. Tubuhnya tak merasakan sakit, tak juga serasa dilindas.
Kelopak mata itu perlahan terbuka. Hyukjae terdiam.
Ada Donghae tepat didepan wajahnya, merengkuhnya dengan lengannya yang kuat.
Tapi bukan itu yang membuatnya terdiam tak bisa berkata-kata. Namun tepat diatasnya beton dengan ukuran sangat besar dengan berat belasan ton itu berhenti diudara tepat diatas kepalanya.
Satu tangan Donghae terentang diudara, sama sekali tak menyentuh beton itu. Seakan benda berat itu melayang di udara. Menghilangkan gaya gravitasi yang berlaku di sekitar mereka.
Tangan biru itu bergerak dibarengi beton itu yang perlahan mengikutinya. Perlahan berpindah dari atas mereka dan jatuh tepat di tempat yang aman tanpa mencelakai siapapun.
Semua orang terdiam. Semua orang tak percaya akan apa yang mereka lihat.
"Kau baik-baik saja?"
Suara itu menyadarkan Hyukjae kembali akan sosok didepannya. Akan iris biru sedalam lautan itu. Akan kenyataan bahwa sosok ini begitu berbeda darinya.
Bahwa sosok didepannya ini bukanlah manusia.
.
.
.
"Ya, aku baik-baik saja. Aku ini Letnan, Kyuhyun. Hal seperti itu tak akan mengangguku terlalu lama. Aku hanya terkejut tapi sekarang sudah baik-baik saja."
Hyukjae tak bohong, ia hanya kaget dengan insiden yang dialaminya tapi itu tak berlangsung lama. Ia seorang prajurit yang sudah terlatih secara fisik dan mental, bukan gadis lemah seperti kebanyakan.
Hyukjae menutup ponselnya. Ia menghela nafas. Hari ini benar-benar hari yang berat untuknya.
Dengan perlahan wanita itu bangkit dari duduknya untuk berjalan keluar kamarnya dan menuruni tangga. Ia berjalan menghampiri kamar Donghae dilantai satu, mengetuknya pelan sebelum membukanya. Mendapati alien itu duduk tenang diranjangnya, melihat keluar jendela sebelum menengok pada Hyukjae diambang pintu.
"Ayo keluarlah."
Di sini mereka sekarang. Duduk dilantai ruang tengah, tepat di pintu kaca yang dibuka lebar-lebar sehingga angin malam musim panas dengan bebas masuk kedalam rumah. Hyukjae membuka kaleng soda dingin dengan ceria sebelum meyodorkannya pada Donghae yang melihatanya dengan pandangan aneh.
"Haah, segarnya..." Desah wanita itu setelah seteguk soda dingin melewati tenggorokannya.
Melihatnya, Dongahae pun ikut mencobanya hanya untuk mengernyit tak suka akan sensasi aneh yang pertama kali ia rasakan saat meneguk sodanya. Ia meletaknnya kaleng soda itu sejauh mungkin darinya membuat Hyukjae terkekeh.
"Donghae-shi."
Alien itu melihat kearah Hyukjae.
"Gomawo."
Angin musim panas mengalir menggoyangkan rambut mereka, mengisi keheningan yang tercipta saat kedua iris itu bertatapan.
"Bukan aku yang menolongmu tapi ini."Donghae menunjuk gelang hitam dipergelangan tangannya. Salah satu teknologi perlindungan diri yang diciptakan di planetnya.
"Benda ini yang menciptakan gaya non-gravitasi dan mencegah betonnya menghantam tanah, bukan-"
"Tetap saja, Gomawo Donghae-shi."Hyukjae memotongnya.
Tak adanya respon dari alien didepannya seperti biasa, namun kali ini tak membuatnya sebal. Hyukjae justru tersenyum lalu meneguk kembali sodanya. Sama sekali tak sadar jika iris biru gelap itu terus melihatnya.
"Donghae-shi, apa di planetmu juga ada musim panas?"
"Tidak ada."
"Planetmu seperti daerah tropis planet kami?"
"Tidak. Sudah tak ada musim ataupun cuaca yang dapat kami lihat. Ozon planet kami sudah menghilang total, setiap malam terasa terlalu dingin sedangkan siang hari terlalu panas. Setiap kota utama di planet kami di selubungi oleh perlindungan khusus yang membuat cuaca asli planet kami tak bisa masuk. Semua suhu sudah disesuaikan. Keadan selalu sama, siang ataupun malam."
"Jadi kalian tak pernah melihat hujan dan salju?"
"Ya, kami tak pernah melihatnya."
Terdengar miris ditelinga Hyukjae, mereka hidup dengan teknologi mutakhir tapi tak pernah merasakan indahnya empat musim, melihat tetesan hujan dari langit, atau pun putih lembutnya salju.
"Sayang sekali padahal musim salju akan menyenangkan untuk pasangan."
"Kurasa tidak ada hubungannya salju dengan pasangan."
"Tentu saja ada, saat berkencan paling menyenangkan itu saat malam natal. Saat salju turun dengan indahnya. Kami manusia biasanya pergi dengan pasangan kami saat itu. Jalan bersama, makan malam romantis, naik bianglala dan bayak lagi." Hyukjae membayangkannya seperti gadis remaja.
"Kenapa manusia melakukan hal semacam itu jika pada akhirnya mereka hanya ingin melakukan hubungan laki-laki dan perempuan?"
Wajah Hyukjae langsung berubah masam, Donghae masih saja tahu bagaimana membuat mood Hyukjae turun drastis.
"Bukan itu intinya! Kami melakukan itu untuk mengungkapkan kasih sayang kami satu sama lain, pasangan kami. Di planet kalian tidak seperti itu?"
Donghae terdiam sejenak sebelum kembali menjawab.
"Tidak. Semua pasangan sudah dipilihkan. Kami hanya perlu melakukan ikatan sebelum akhirnya melakukan tugas kami untuk bereproduksi."
Hyukjae hampir tersedak sodanya saat mendengar hal yang dikatakan Donghae.
"Mwo?! Kalian dijodohkan lalu dinikahkan begitu?"
"Tidak ada istilah menikah diplanet kami."
Donghae menunjuk kening Hyukjae.
"Saat kening kami menyatu maka ikatan itu terjalin, saat itu juga kita bisa melihat unggkapan di dalam jiwa pasanganmu. Sesuatu yang tak akan dimengerti oleh manusia seperti kalian."
Apa alien ini sedang meremehkan kaumnya? Hyukjae mendengus sebal.
"Kami juga punya yang seperti itu. Kami juga bisa mengungkapkan isi hati kami satu sama lain tanpa harus bicara seperti orang-orangmu."
"Tidak ada yang seperti itu pada diri kalian, menurut informasi yang kudapat yang manusia lakukan dengan pasangan mereka hanya bereproduksi."
Iris hitam itu menatap tajam kearah Donghae. Perlahan Hyukjae mendekat pada alien itu hingga berjarak begitu dekat.
"Ada. Manusia juga memilikinya."
Hyukjae semakin mendekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan, hingga Donghae dapat merasakan hembusan nafas Hyukjae diwajahnya.
"Cara kami mengungkapkan isi hati kami..."
Bisikan itu terdengar lembut sebelum bibir tipis Donghae merasakan sesuatu menyentuhnya.
Alien itu terdiam. Terdiam melihat manusia wanita itu menekan bibirnya dengan mata terpejam.
Detik itu juga seluruh isi kepalanya serasa menghilang.
Detik itu juga semuanya serasa putih dan lenyap.
Bahkan hingga ciuman itu terlepas, alien itu masih mematung tak bisa bergerak.
Perlahan Hyukjae membuka matanya. Mempertemukan iris hitamnya dengan iris biru gelap didepannya. Saat itu wanita itu tersadar akan tindakannya. Tersadar akan apa yang telah ia lakukan.
Wajahnya tiba-tiba saja memanas sebelum tanpa kata beranjak meninggalkan Donghae dibelakang. Meninggalkan alien itu dengan kediamannya.
Pintu kamar itu tertutup rapat. Hyukjae berjongkok menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Wajahnya sangat merah karena malu. Malu akan tingkahnya sendiri.
Kenapa ia mencium alien itu?
Kenapa ia melakukan hal seperti itu?
Hyukjae memukuli kepalanya sendiri. Sebelum pukulannya melemah dan beralih menyentuh dadanya. Merasakan getaran di dalam sana.
Merasakan jantungnya yang berdetang begitu kencang.
.
.
.
TBC.
Masih jelek ya? Ampuni aku hahaha
Ah seneng aku ternyata banyak juga yang suka cerita macam begini, gomawo semuanya ne :D
Sekali lagi aku kasih tahu ini ff special buat ultah Donghae dan chap terakhir nanti aku post tepat tanggal 15 Oktober. Jadi ff ini gak akan panjang.
Ok see u next chapter :D
Special thanks : lovehyukkie19, minmi arakida, isroie106, senavensta, DNE1986, KimziefaELF, eunhaehyuk44, Kei Tsukiyomi, TaeTae-Track, Nhac3ss, sweetgalaxy, nyukkunyuk, Amandhharu, Lim Yeon Gi Jewels, HAEHYUK IS REAL
