Proyek GunYat ini rencananya akan didiskonyinyu mengingat peminatnya tidak ada ;_;, tapi, tiba tiba story GunYat gambar reviewnya ngacleng jadi 6, perkembangan yang tak terduga. Setelah ditelusuri dengan seksama, ada orang yang revii chapter 2,3,4 berturut turut, yaitu Hikary Cresenti Ravenia saya di sini berterima kasih banyak atas dukungannya! Saya akan melanjutkan cerita sampai selesai.^^
Disclaimer -Yoshiro Togaishi-sensei.
Rated - T. Prodak ini memuat konten konten 9 tahun ke atas (menurut lembaga survei Adel), yang masih 9 tahun dianjurkan untuk tidak baca. Harap bimbing anak anda yang masih di bawah umur dalam membaca fic ini.
Genre – Friendship (yang di chapter ini nggak jadi) & school life. Bingung pengen nambahin apa di sini '_'a mau nambahin Tragedy tapi masa' tragedy nggak pernah sekolah?
Summary – lembar 5: Prolog Ekspedisi Biji Ajaib. Berawal dari daftar yang terancam tidak lulus, ketahuan ternyata Killua tidak pernah sekolah sebelumnya, akhirnya dia dipanggil ke ruangan KepSek lalu bercakap cakap di sana. Menurut prosedur yang sebenarnya Killua harus dikembalikan ke SD kelas 1, tapi Killua tidak terima dan akhirnya Kuroro mengajukan sebuah penawaran. Lagipula, genre ff ini tidak akan jadi adventura, kan?
Kode Merah ( sabda Skipper : "Berharaplah kau hidup tidak untuk melihatnya..") - OOC-DOC, CCD, AU, cerita membingungkan anda pasti sulit menyerap isi dari fic ini. Friendship gue bingung di chapter ini nggak, pilihan school life nggak tersedia ;_; , dan lagi misstype serangkai bersarang disini. Semua itu karena authornya pelarian Saarne Institute. Bagi anda yang hanya membaca fic fic kece badai harap tutup tab ini atau kembalike HxH archive, karena fic ini bukan yang macam itu. Penting buat anda bahwa perusahaan yang menghandle fic ini — alias PT ADEL MEMANG KEPO— tidak memberikan asuransi jiwa buat anda jika otak anda terbakar saat membaca seperti Patrick. Produk ini tidak disarankan untuk orang orang normal. Terakhir yang anda harus tau jika menyukai fic ini harap bacakan di kelasmu besok pagi jika tidak suka, silahkan lindas gadget anda dengan truk sampah ehm— ralat, lindas aja authornya dengan tronton (Audience : HOREEee..!).
Killua di GunYat untuk 1 Semester Terakhir, Cuk!
Halaman ke5 :: Prolog Ekspedisi Biji Ajaib
Diproduksi Oleh
PT ADEL MEMANG KEPO INVESTAMA .Tbk.
Jl. Perum 4 No. 196 Sabi City-Indahnesia.
Ide Produk
Om-Howa
(Mourice : dan seterusnya, hore semua..)
Membayangkan kalau sebenarnya kita udah nggak sekolah-sekolah lagi sejak SD (atau emang nggak pernah sekolah) dan tiba tiba harus menghadapi sebuah ujian kelulusan SMP, ujian Negara, bagaimana ceritanya? Mengikuti kelas 9 hanya untuk semester 2? Berapa banyak macam materi yang harus dikuasai? Saat masih bocah, Killua pernah ditakut takuti dengan pemangkatan kelas 5 SD yang katanya, sih, susah, katanya. Iseng, Killua lalu dites oleh bapaknya dan nggak bisa, hingga sekarang dia baru belajar lagi (ditambah dengan model yang lebih susah) Killua baru ngerti, ngerti setelah bertahun tahun. Kenapa saat itu dia nggak ngerti? Baiklah, itu pemangkatan dasar, kalau hanya sekedar 32 misalnya, tantanglah anak kelas 5 SD dengan penjumlahan dan pengurangan akar, perkalian akar, menarik akar kuadrat, merasionalkan penyebut bentuk akar, atau pangkat pecahan? Sebenarnya mereka ini adalah jenis materi yang sama. Terus.. Killua bertanya, apa SMA nanti masih ada yang macam ini? Apa dia masih harus bertemu persamaan linear dua atau satu variabel? Percayalah, kalau kamu terjun ke lapangan saat selesai nanti, nggak ada yang bakal nanya hal yang seperti itu, tapi tergantung di mana bidang yang kamu geluti, kalau di pasar ya mana mungkin mainannya yang begitu.
Sekarang pelajaran Matematika, pelajaran 'favorit' Killua. Banyak dari mereka yang bertanya di kelas, dengan pertanyaan masing masing ini-lah, itu, lah, yah, Killua juga sempat bertanya, pertanyaan yang mudah, lalu dijelaskan dan dia mengerti, kok, apa maksudnya pembahasan jenis pangkat yang entah apa ini namanya, tapi 2 detik kemudian kalau dikasih soal yang sama, dia akan lupa dan perlu melihat buku. Sama halnya seperti ujian, mengerti kok kalau belajar, semalam belajar, tapi saat ujian beralangsung pasti lupa, apaan maksud dari angka angka ini? Simbol akar, kuadrat terus ada per-per-annya bikin gue bingung. Katanya ini karena tidak mengulang ngulang pelajaran, mengulang, ya? Belajar 1 kali seperti ini saja Killua selalu berharap untuk tidak menemuinya lagi di masa yang akan datang. Killua tidak mahir, tapi dia mencoba mengerti walau dia tau hasilnya pasti nggak bisa, yah, lakukan yang terbaik, inikah yang terbaik? Dan kenapa kalau guru sedang menerangkan pasti diberi contoh yang mudah, tapi giliran soal pasti diberi yang lebih sulit dan tidak dicontohkan, apalagi saat ujian. Killua menghela sedikit, apa cuma gue doang di sini yang begini? Dunia yang salah atau dia yang salah? Killua merasa sangat mengagumi mereka yang pintar pelajaran terutama matematika, mereka makan apa sebenarnya, apa mainset otaknya dan otak itu orang berbeda, atau logikanya saja yang tidak bisa seperti orang itu?
Dalam penglihatannya, sebenarnya Killua mulai berbayang walau dia duduk tidak di belakang, efek keseringan main di depan layar yang ada radiasinya #anak jaman sekarang# pinjam catatan Niika saja, ya? Tapi Killua memaksa dirinya untuk bangun dari kemalasan ini, belajar dari pengalaman, lagipula meminjam catatan orang itu kadang jadi nggak ngerti juga. Sebenarnya tidak terlalu nggak jelas untuk dipandang, bilang saja Killua malas, yah. Yatimin itu sebenarnya ngajarnya keras, Ma' Lamfir, dengan apostrom dan huruf 'f' laga orang Arab, kalau ujian, ujian lisan, ada yang main main langsung skors 2 bulan, tata tertib juga diaturnya, saat mengajar hening kalau mau bertanya jangan asal, angkat tangan dulu. Killua merasa selalu risih apalagi dia adalah wali kelasnya, kapan sih, dia pensiun, melihat dari tampangnya toh kelihatan sudah tua, banget. Killua meskipun tertekan atau empet juga, tapi mungkin dia tau maksud Emak' ini mendidik, kan? Yah, sebuah alasan klasik agar bisa 'menertibkan' siswa, kenyataan sebenarnya juga begitu, didikan keras terkadang bagus juga tapi tergatung individu itu sendiri, walau ada beberapa organisasi yang menyalahkan guru jika muridnya malas, bagaimanapun buruknya siswa itu pengajarlah yang dicap tidak bisa mendidik.
Sambil memerhatikan interupsi di tengah pelajaran yang berupa pengumuman mendadak, Killua mengenyahkan berbagai pemikirannya yang isinya keluhan tentang hidup, tentang pendidikan yang menurutnya salah telah menetapkan kurikulum yang ngeribetin sekarang, mungkin sebenarnya hanya dia yang salah, dia yang tidak bisa tapi menyalahkan dunia. Pengumuman itu tentang
"Udah gue duga, ternyata sekolah ini emang nggak bisa 100% lulus," GunYat emang gembel, broh. Tumben sekali Niika memberikan pendapat atas buruknya sekolah, Killua yang duduk di sebelahnya langsung terdengar akan suaranya.
"Eh, lagian ini kan cuma perkiraan doang," lagi lagi, Leader, denger orang ngomong 1 langsung ikut ikutan, dia menegok ke belakangnya dengan gaple, mulai membuka konversasi diantara dia dan Niika.
"Tapi itu kan berdasarkan akumulasi nilai yang sebelumnya juga, kalo jumlahnya memang rendah berarti tuh anak nilai UNnya harus bener bener bagus supaya bisa lulus!"
Pengumuman atau peringatan bagi mereka yang nilainya menghawatirkan tidak akan lulus. Killua merasa kesindir banget mendengar pembicaraan antara Niika dan Leader, ya baiklah, mereka memang punya nilai yang diatas Killua, akui itu, dalihnya, maklumi saja Killua kan baru 'kembali' di semester 2 ini. Lagian, kok gitu? Killua juga berfikir sendiri bagaimana dengan dirinya yang sekolahnya aja nggak jelas, bagaimana untuk menetapkan NA atau Nilai akhir baginya, Nilai Sekolahnya juga, dia mengacak rambutnya yang bewarna keperakan, mungkin akan ada treatment 'khusus' baginya.
"Lagi pula.. yang gue denger dari senior sebelumnya, ada sekitar 8 anak yang nggak lulus tahun kemarin," 'Gue rasa nih sekolah emang beneran ancur!' mendengarnya membuat bathin Killua miris, termasuk dia sendiri yang mengenaskan sekolah di GunYat juga.
"Ya.. gue tau, terus, pelaksanaan UNnya juga numpang di sekolah lain 'kan?" tatapan Niika mulai makin menyombong, dia nyombong merasa sebagai anak sekolah yang ditumpangi GunYat saat UN, Killua merasa terpanggil mendengernya.
"Hah, nih sekolah UN aja ampe numpang ke sekolah lain?" akhirnya Killua ikut dengan pembicaraan mereka, Leader dan Niika langsung merasa bahwa Killua terlalu kaget untuk menyadari betapa nahasnya sekolah ini.
"Ya itu, sih, tahun lalu, kita kan belom tau lagi tahun ini kayak gimana.." Leader berusaha menyemangati dari kenyataan yang pahit.
"Dari tahun ke tahun, yang masuk ke perguruan ini makin sedikit jumlahnya, kalau dulu pas kita kelas 1 ada 6 kelas, makin lama makin menipis, sampe sekarang 4 kelas doang, 1 kelasnya nggak nyampe 20 orang lagi." tapi rasanya itu sulit buat Niika sehingga dia mengeluh terus ke depan.
"Gue rasa nih sekolah terancam akan digusur.." Killua bingung mau seker atau bagaimana, dia hanya mengeluarkan sedikit pendapat lalu mengambil ancang ancang untuk kembali nggak semanget dan nyender di korsi, dengan pose yang terlihat malesin bener.
"Bukannya terancam, emang kayak gitu, sih. Pas kelas 2, kita sempet dipindahin ke sekolah lain, karena mau digusur katanya.."
Leader membuat pengakuan yang sangat menyedihkan, Killua melihat kearahnya dan bertanya "Lu kook.. mau aja, sih, masuk ke sekolah yang gembel gini..?"
"Tanya ama diri lu sendiri, lu sendiri gitu, nggak?" Niika-lah yang membalasnya, nadanya terdengar tinggi, dia merasa kalau pertanyaan itu diarahkan juga padanya yang sama sama masuk GunYat.
"Gue kasih tau ya, GunYat itu TPA! Tempat Pembuangan Akhir, isinya sampah semua!" Yoken tiba tiba muncul, bukan, dia berbalik dengan posisi yang dibuat senyaman mungkin untuk ngobrol dengan teman yang duduknya di belakang.
"Ya termasuk elu," lirik Killua pada Yoken.
"Anak anak yang nggak dipilih Tuhan untuk masuk ke SMP pilihan mereka akhirnya dibuang ke tempat terakhir bernama GunYat. Nggak ada orang yang sengaja mau masuk sini kecuali dia emang nggak ada pilihan.." lanjut anak yang sebenernya suka cari ribut alias nyolotin, 'Bilang aja lo curhat..'.
"Lu lagi, kenapa lu masuk GunYat?" Leader tiba tiba melayangkan pertanyaan, karena dia pikir Killua kan baru masuk, masuk terjerembab pada 'tong sampah'.
"Lagian sekolah mana lagi yang gue tau?" berbasis Killua memang tidak pernah sekolah sebelumnya, jadi ruang lingkupnya dan pendeskripsian untuk kata sekolah hanyalah GunYat, jaraknya nggak terlalu jauh dari rumah juga.
Tanpa sadar ternyata pengumuman tentang yang nggak lulus itu berakhir dan menjadi penutup pelajaran matematika, sekarang saatnya untuk ganti pelejaran, kelas masih rada rada rame, GunYat banget kalo nggak ada guru rame, guru pelajaran sebelumnya belum dateng. Walaupun anak laki laki, yang biasanya demen main bola sore sore di lapangan, Leader tidak suka pelajaran olahraga, sebenarnya, karenanya dia rada rada males untuk mengikuti pelajaran yang selanjutnya, tapi untuk menjaga imej sekaligus nyemangatin diri sendiri, akhirnya dia bisa bangun sedikit.
Soal pengumuman tadi, mungkin untuk menjaga nama baik perseorangan, nama mereka yang terancam tidak lulus tidak diberitahukan. Tapi Killua punya firasat, firasat yang sangat kuat kalau dia ada di dalam daftar orang orang payah itu. Killua diberitau NA (Nilai Akhir) terhitung dari 40% nilai rapot dan 60% dari nilai asli UN, sedangkan NS (Nilai Sekolah) ada 40% rapot semester 5 dan 60% rapot semester 6, termasuk UAS. Kalau Try Out memang tidak ada sangkut pautnya, hanya seperti replika UN. Lalu bagaimana untuk seseorang yang baru datang di semester 6 (semester 2 kelas 9)?
"Killua!"
"Apa?"
"Dipanggil ke ruang.."
"Kepala Sekolah"
"Nanti pas istirahat ke2, tapi.." Killua menjawab pertnyaan Leader yang kepo, nggak, dia curiga apa yang akan dia dan kepala sekolah akan bicarakan, mungkin saja beliau akan menyerahkan sekolah ini pada Killua? Tak mungkeen. Leader mengedipkan matanya sekali untuk membuat mata bola itu tetap lembab, setelah itu Leader mengambil ancang ancang untuk berdiri dari kursinya dan terlihat ingin pergi entah ke mana. Sekarang selepas pelajaran ke3, jadi sekarang istirahat. Kelas masih dalam kondisi rame nggak ada guru, you don't say.
"Oh.. kayaknya serius, kepala sekolah ya hmm.." dan itu sedikit komentarnya, Killua melihat bola mata Leader yang warnanya coklat pudar dan berputar layaknya sedang memikirkan sesuatu.
"Emang kepsek kayak gimana orangnya..?" dari pertanyaannya, Killua kedengaran seperti anak baru banget. Di tempatnya masing masing, hanya ada Niika yang sedang memakan bekalnya diam diam, Yoken pergi entah ke mana, dan Leader yang sebenarnya ingin pergi tapi hanya bisa berdiri karena dicegat pertanyaan Killua.
"Hahahah," ketawa? Sebuah kata dengan tanya yang terlintas dalam benak Killua setelah Leader tertawa pelan, sosok sebuah kepsek yang mulai terdeskripsi membuat Killua makin penasaran. "Ya kaya gitu, deh. Lu liat aja sekolah ini kayak gimana, jadi, menurut lu kepala sekolahnya kayak gimana?" itu jawaban yang sebenarnya tidak menjawab, tapi memang benar, bagaimana seorang anak dari didikan orang tuanya, atau buah tak jatuh jauh dari pohonnya, pakai pribahasa yang mana?
"Ancur," 1 kata yang dapat Killua katakan soal GunYat, ditambah dengan ekspressi antara jijik dan nggak yakin, Leader dapat menduganya kalau jawaban jelek yang akan diterimanya. Karena Leader sedang berdiri dan Killua duduk, Killua agak mendogak melihat itu ketua kelas highlighted-emo-hair.
"Yaa.. bisa jadi," , "Yang pasti laki laki, tapi kayaknya belum menikah juga walau keliatannya udah tua"
Bayang bayang seorang bapak bapak berperut tambun, beristi 'bener' 1 dan isti lainnya nggak tau berapa meredup dalam pikiran Killua, oh, jadi belum menikah? Tapi kenapa kalau sudah tua belum menikah? "Dia nggak 'menyimpang'.. 'kan..?"
..
.
.
.
..
.
.
.
..
Akhirnya tiba pada saat yang dinanti, nggak, nggak dinanti juga, tegang sih tidak, hanya saja rasa penasaran soal apa yang akan dibicarakan dan siapa sebenarnya kepala sekolah ini. Killua berjalan diantara beberapa siswa yang lalu lalang dan yang lainnya yang nongkrong nongkrong, saat bel berbunyi dia langsung tacop pergi ke ruang KepSek. Kalau memang ada beberapa yang terancam tidak lulus, apa hanya dirinya saja yang dipanggil oleh kepsek? Atau memang hanya dialah yang dari kelasnya saja? Ah, sudahlah, jari jari tangan Killua menggantung karena kosong, dicarinya sebuah ruang tempat berdiamnya kepsek, Leader sudah memberitaunya di mana, karena Killua baru dan belum mengetahui sudut sudut sekolah.
Wajah Killua berpapasan pada sebuah pintu kayu dengan plamir mahogany, dia lalu menengok pada sebuah tulisan yang menggantung di atas kepalanya yang bertuliskan 'R. Kepala Sekolah', Killua diajarkan sopan santun secara tidak langsung walau dia tidak pernah sekolah sebelumnya, tidak ada yang memberitaunya secara jelas begini begini, dia hanya melihat perilaku sekitar, jadi dia tau tidak mungkin dia langsung masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu, tapi ini hanya formalitas, kalaw di rumah sih kagak, bahkan masuk ke kamar orang yang lagi ganti baju walaupun cewek. Dibalik kesibukan orang orang saat itu, Killua tidak langsung mengetuk pintu, dia berpikir tentang apa yang akan dihadapinya, kemungkinan soal itu. Apa dia terlalu serius memikirkannya? Bagaimana kalau yang dihadapi masalahnya memang serius? Sudahlah, masuk tinggal masuk.
TOK
TOKKK
TOK
TOK..
Tangan Killua merogoh gagang pintu, "Misi.." lalu mendorongnya agar pintu itu terbuka, matanya mulai mencari sesuatu. Tapi yang ada hanya beberapa interior familiar layaknya ruangan dan sebuah set sofa untuk pertemuan, Killua menarik keseimpulan bahwa yang dicarinya sedang tidak berada di ruangan, Killua menghela. Bagaimana, sih? Dia yang membuat janji tapi dia yang mengingkarinya, lalu dia menutup pintu kembali dan berbalik. Apa sekarang harus bertanya pada seseorang di mana Kepsek berada? Killua akhirnya menelusuri jalan kembali dengan pandangan agak tertunduk.
Tiba tiba, diantara belasan orang yang dipandangnya, Killua menyadari ada sebuah objek asing yang sedang bediri menyender pada tembok, tinggi, dan 'Kok, mukanya nggak asing bagi gue... ya?''. Dia langsung menghentikan langkah untuk memastikan moster tinggi berkemeja tsb, rapi, sih bajunya pake dasi pula, tapi entah kenapa kegenap-an tersebut ditafsir ganjil bagi Killua seolah memang ada yang lain dengan orang itu. Mungkin karena merasa dilihat dari jarak 3 meter yang nggak jauh jauh banget, orang ini tak terduga menoleh pada Killua dengan motion yang rada slow, Killua langsung tersentak., dikit
Perlahan orang tsb berjalan menghampiri tokoh utama, mungkin memang asli mukanya yang gitu apa gimana, tapi bola matanya yang hitam itu seperti akan menelan orang didepannya dengan kunyahan, laki laki ini lalu berhenti tepat di hadapan Killua "Jadi kamu yang namanya Killua, anak baru itu?"
"I, iya" dengan setetes keringet yang ngucur dari pelipis Killua menjawab.
Walaupun sofanya cukup empuk untuk main jingkrak jingkrak-kan, Killua duduk kaku dan hampir nggak nyender, walaupun ada beberapa aqua gelas yang disajikan di meja kopi di depannya, Killua tidak mengambilnya satupun atau sekedar membawa 1 untuk Leorio di rumah atau untuk dijual kembali, walaupun Kepala Sekolah tidak menyusung tema yang tegang atau walaupun kadang saat berhadapan dengan guru killer Killua masih rada nyante, enntah kenapa, kali ini dia tegang, bisa dikatakan begitu. Killua sekali lagi memandang orang yang duduk berhadapan dengannya, kakinya terbuka, maksudnya dia duduknya nggak ngelipet kaki, menunjukan bahwa dia sedang terbuka dan santai.
"Tau nama saya?" katanya, Killua langsung sadar.
Kluk, dia mengangguk pelan. Dengan agak tidak sopan ditunjuknya sebuah name tag yang ada di dada kiri kepala sekolah dengan jari telunjuk "Itu kan ada tulisannya.." nadanya gugup. Oh, baju dinas macam apa itu yang bahannya kemeja, tunggu dulu, ini kan sekolah swasta.. Kuroro, nggak nyangka, bahkan Killua berpikir mungkin GunYat akan terus seperti ini jika kepala sekolahnya adalah orang macam itu, lagi pula sejak kapan dunia pendidikan menarik perhatiannya? Yang ada dia membawa anak anak GunYat menjadi generasi yang main bacok-bacok-an, lah, emang gitu jikalau tawuran.
"Baiklah.." nada bicaranya masih terdengar agak sama, maksudnya seperti Kuroro yang biasa yang tak membawa imej kepala sekolah sepersenpun, wajahnya tampak teduh walau kita tau dia bisa bermuka manis di depannya saja atau mungkin karena posisi yang dibawanya sekaranglah dia jadi serius atau mungkin memang sudah tobat. "Langsung ke inti pembicaraan," Killua menelan ludah, inilah dia kegugupan yang terpenting!
"Killua, saya tau, loh, riwayat pendidikan kamu sebelumnya" sepertinya itu sudah menjadi rahasia umum, ah, tapi jangan sampai menyebar ke telinga anak-anak! Killua memperhatikan tambah serius "Mungkin kamu memang masuk ke dalam daftar terancam tidak lulus, tapi, untuk kamu.." Killua benci ini, dia tau macam nada nada yang sengaja dibuat untuk membuat kita yang jadi korban penasaran.
"Ya itu dia! Ap.. apa, pak!" pergerakan Killua yang pertama, menyeletuk. Sepertinya Kuroro kepala sekolah kita yang masih dipertanyakan ingin melanjutkan kata katanya dan berkata bahwa Killua tidak pernah sekolah sebelumnya, untuk menghentikan pendarahan kuping yang akan dialami Killua jika mendengarnya atau memang aib yang sangat memalukan, Killua memotong perkataan, lantas Kuroro langsung kicep atau dia hanya kicep karena dipanggil 'pak'? "Saya harus ngapain? Apa ada ujian khusus? Atau gimana?"
"Tidak ada ujian khusus atau bagaimana seterusnya" sebenarnya ini menyenangkan karena Killua tidak perlu melihat lembaran soal, hanya dengan melihatnya saja membuat mata kram.
"Terus apa?" tapi dia yakin, kalau tidak ada pasti ada hal lain yang biasanya lebih ngeribetin. Mata Kuroro yang hitam seolah menyembunyikan sesuatu, sementara mata Killua tidak berkedip memandangnya "Apa.. saya harus.. balik ke SD lagi..?" kemungkinan terburuk.
"Kayaknya iya," kayanya.
Dan reaksi Killua "Tapi, pak.. masa' saya dibalikin ke SD, sih? Kelas 1 lagi?!" tentu saja dia menolak antara syok dan tak terima kalau seharusnya memang begitu, ada sedikit pergerakan darinya sebagai reaksi, tapi Kuroro tak bergeming dan tetap nyante.
"Ya kelas 1 lah, mulai dari awal.." smirk mulai tertarik dari sudut bibir Kuroro, "Apa kamu mau protes dan bilang pernah sekolah sebelumnya?"
"Nggak, pak! Saya murni nggak pernah sekolah!" pengakuan yang frontal, mimiknya sangat mencerminkan kalau Killua tidak terima dengan situasi macam ini.
"Kalau mau protes, protes sama diri sendiri, kenapa baru sekarang sekolah? Ngambilnya kelas 3 SMP, lagi.."
Killua membanting dirinya untuk nyender ke ke-empukan di belakangnya dan mulai merasa ruang kepsek adalah rumah bapaknya, bukti kelelahan hidup "Yailah, pak, apa nggak ada cara lain, supaya saya nggak balik ke SD?" , "Lagian apa saya setua ini masih bisa SD?!" standar usia paling tua untuk masuk SMP kelas 1 adalah 21 tahun.
"Nilai akademik kamu bagus..?" pertanyaan yang paling mencabik hati, tangan kiri Kuroro mulai bosan dengan ini dan ingin melihat BBM-an dulu.
"Hm.. ng.. nggak juga, sih pak!" maksudnya antara nilai jelek dan bagus, "Engga, nggak! Parah banget, pak, nilai saya!" karena takut hidungnya tambah mancung, Killua mengungkapkan kebenaran, "Tapi apa nggak bisa jadi pertimbangan..?"
Kuroro tidak langsung manjawab dan beneran merogoh kantong bajunya untuk mencari alat yang bisa dipake untuk melihat BBM-an, karena sekarang bukan BB saja yang punya aplikasi macam itu. Killua mulai merasa empet dan ingin melempar closet ke muka Kuroro, itu kalau dia sudah bosan sekolah di GunYat. Pertimbangan ya, Killua sendiri mikir lagi, nilainya yang remedi terus, yang dibawah KKM terus, bisa jadi pertimbangan? Ternyata, Killua sudah mulai serius dengan sekolahnya sekarang, takut tidak lulus, mempertahankan posisinya di kelas 3 smp, peduli dengan kata kata guru dan kepsek, tapi itu bukan berarti dia mengerjakan pr, tugas, dan belajar.
"Sebenarnya.. ada 1 cara," Kuroro memasukan handphone jenis : tidak dikenal dalam sakunya kembali.
"Bapak bisa bantu saya? Nanti saya rajin belajar, deh!" 'Tapi nggak jamin..'
Kuroro 89% sudah tau jawaban itu, dia malas mendengarkan jadi dia memikirkan sesuatu yang lain "Kamu tau Unkown Rare Seed?"
"Eh, Unknown Rare Seed?" Killua mulai menafsirkan kata atau memang nama (ditulis dengan huruf kapital) yang pakai bahasa asing itu dengan kamus otaknya. Anak ini merasa kepsek akan menceritakan sesuatu.
"Unknown Rare Seed sebenarnya biji yang tidak jelas diketahui biji tanaman apa, tapi bisa saja kalau kita menanamnya, itu akan jadi pohon manusia.." otak Killua loadingnya mulai lama, "Perbandingannya 1 : 700.000.000,-"
"Pohon itu akan jadi manusia kalau kecambahnya sudah tumbuh dan muncul daun, setelah 3 bulan pohonnya bisa kita cabut, dan akarnya akan jadi bayi.." karena loading kelamaan, otak Killua pun jadi has stopped working.
"Eh, eh, akar jadi bayi? Bayi? Bayi apa? Jadi bayi gimana maksudnya?" Killua mengedipkan mata 2 kali, maksudnya nggak ngerti.
"Bayi itu lalu akan tumbuh besar kalau dirawat dan dijaga, lalu anak itu akan menjadi manusia pohon.." tapi sepertinya walau Killua bertanya tidak mengerti dan Kuroro memperhatikannya, memandang matanya, laki laki yang jauh lebih tua dari Killua ini malah terus melanjutkan ceritanya. Apa Kuroro memang ingin mentransfer data data ini ke otak Killua apa karena Killua yang tidak sopan bertanya di tengah penjelasan orang?
"Itu.. bapak.. serius? Bapak mungkin kebanyakan nonton kartun.." akhirnya Killua hanya beropini.
"Itu dia, sebenernya belum jelas juga apa beneran bisa. Tapi ada cerita yang mengatakan seorang janda tua yang tinggal di dalam gunung menanam Unknown Rare Seed dan akhirnya itu tumbuh menjadi gadis perempuan, cakep, lagi.." Kuroro mengusap-ngusap dugunya yang sebenernya nggak ada maksud tertentu, Killua rada rada gimana ekspressinya setelah mendengar akhir kalimatnya, 'cakep, lagi' bukan hanya pengharapan seorang anak akan tumbuh, tapi ada motif terselubung sepertinya atau memang iyah.
"Ya.. ya.. ya.. bilang aja bapak suruh saya buat cari biji itu supaya nilai saya bisa tertutupi dan lulus?" karena dari awal Kuroro hanya menceritakan soal biji ajaib tersebut dan tidak menjelaskan maksud sebenarnya, tapi Killua tau, itu adalah kode keras yang bisa dibacanya.
"Benar sekali,"
"Pak, apa bener biji itu ada?" sebuah akal sehat memastikannya, "Lagian kalo ada juga, bapak mau nolong saya dengan cara apa? Bapak 'nyetak' NEM saya, nanti?" Killua memulai penawaran, wajahnya terlihat khawatir, buah pemikiran tidak akan menemukan biji tersebut, tapi sebenernya Killua memang mau BANGET jikalau NEMnya dicetak.
"Kuncinya adalah 'percaya'.." akal sehatnya kembali dipertaruhkan untuk keluar dari sesuatu yang rasional jadi irasional. "Menurut kamu, saya bisa jadi kepsek karena tanpa alasan? Nyetak NEM nggak perlu menghabiskan waktu lama seperti pengumuman NEM asli.."
Karena sudah tau maksud sebenarnya, sejak 20 detik yang lalu Killua ingin segera keluar dari situasi ini sebelum akal sehatnya menjadi benar benar sakit, dia melihat jam dinding yang rasanya berputar begitu lama saat ini. Killua teringat sebuah hal penting "Nyari bijinya di mana, pak..?" pertanyaan yang bagus, 'Jangan bilang adanya di kayangan.. dan hanya bisa ditempuh dengan biji kacang ajaib!''.
"Searching, dong.." kicep, "Tempat jelasnya nggak akan saya kasih, ada atau tidak ada kamu harus membawanya 5 hari sebelum UAS" kalau dihitung, kurang dari seminggu. Ada atau tidak ada? Jadi kalo emang nggak ada, apa yang mau dibawa?
"Yah.. bapak, saya nggak bisa belajar, dong.. abis UN aja, ya?" sebenarnya, kalau diberi waktu hingga kiamat pun atau Killua tidak main PlaySetan untuk sementara waktu, bukan berarti dia belajar juga. Dan UN ada 2 minggu setelah UAS.
"Boleh, tapi kamu langsung diDO.." kalau mungkin jawabannya adalah boleh, tapi kamu nggak usah ikut UN atau UAS , Killua masih bisa mempertimbangkannya karena dia bisa nyetak NEM kalau benar bisa menemukan biji tsb, tapi ini DropOut.
Killua benar benar tidak punya niat untuk menceritakan hal ini, perburuan ini, dan hal yang diluar nalar ini pada anak anak kelas 9.4 atau bahkan anak kelas berapa itu, karena kalau dia curhat tentang ini, sudah pasti aibnya soal tidak pernah sekolah sebelumnya akan terbongkar dan nama Zaoldeyeck benar benar akan hancur. Yah.. niatnya begitu, sih, tidak sampai seorang Kuroro .L datang ke kelas dan memberitaukan pada anak-anak untuk mendukung Killua yang sedang menjalani Tantangan Biji Ajaib.
Semua tatapan menuju pada Killua, seketika Killua kehilangan fokus mau menatap ke mana, keluar dari intimidasi tidak langsung ini, masih bersyukur kalau dia duduk di depan, kalau di belakang maka penderitaannya akan jauh lebih menyakitkan, semua mata itu akan terlihat. Kepsek berdiri di tengah ruangan. Kalau saja ada sebuah pocket revolver di sakunya, maka Killua akan menembakannya pada hidung Kuroro saat ini juga, karena jidat, mulut, mata, dan kepala terlalu meinstrim.
"Jadi, untuk beberapa hari kedepan, jangan ganggu Killua ya. Kalian sebagai teman sekelasnya harus mendukungnya.." argghh, dibalik kata katanya ditu dan wajahnya yang terlihat bersahaja, disembunyikan sebuah sosok gelap pembunuh berdarah kotor!
Mengganggu pelajaran, mungkin itu hal klise yang akan Killua lampiaskan kenapa dia membenci kedatangan kepsek di pelajaran kali ini, biasanya juga kalau ada pengumuman mendadak, Killua akan girang karena bisa sedikit terlepas dari pelajaran yang membebani walau terkadang tidak sampai 1 menit, apalagi pengumuman mendadak libur, aah, Killua sudah rindu momen itu. Tunggu, karena ini baru masuk istirahat siang, gurunya belum datang. Beberapa saat kemudian, di situasi anak-anak kelas yang sok-sok duduk rapih dan alim (anda tau mengapa mereka bisa diam karena ada siapa), kepsek meninggalkan ruangan. Walaupun begitu, sepertinya mata-mata itu masih melihat Killua, penasaran akan kebenarannya, Killua menoleh ke belakang dan ternyata benar, dia langsung berbalik lagi.
Bagaimana ini? Akan dicap apa kita di kelas, di sekolah, parah sekali tidak pernah sekolah sebelumnya, lalu kau ini bisa apa? Bayang bayang horror mulai bermunculan dalam grafik otak Killlua. Killua kembali menatap ke depan, hahh.. mungkin beberapa hari kedepan akan berbeda, ya. Killua tidak ingin menyalahkan kepsek berambut hitam itu, mungkin atau memang benar ini adalah murni salahnya, kenapa dia memilih jenjang ini? Kenapa dia baru sekolah sekarang? Tuh, kan, kelas masih hening saja, mungkin sebentar lagi akan terdengar bisikan bisikan dibelakang Killua. Tapi Killua menyusun rencana dengan pikiran dingin, bahwa dia akan tabah dan bersikap seperti biasanya.
"Hebat, udah nggak sekolah 8 tahun tapi masih niat sekolah?!"
"Ih, gue aja udah jarang masuk.."
"Tanggung, ya, se-bulan lagi!"
"Gue rasa, dia punya semangat yang tinggi! Dia sekolahnnya bener' kan?"
"Gue nggak pernah lia dia bolos, emang elu!"
"Gue sering liat dia ikut pelajaran terus.."
"Kadang kadang, malah nilai dia lebih bagus dari nilai gue,"
"Gue, sih tahun ini juga, loh baru bisa sekolah.."
"Kemaren aja gue udah menetapkan hati nggak mau sekolah tahun depan!"
"Gue enak banget kemaren diskors 3 bulan. Pengen diskors lagiii..."
"Kalo emang males sekolah, kenapa nggak pake 'joki' aja? Gue Ijazah SD aja joki"
"Temen gue ada yang jadi joki,"
"Mendingan home-schooling!"
"Gue terancam nggak lulus, tapi gue nggak dapet kesempatan kayak gitu.."
"Itu 'kan karena lu pernah sekolah sebelumya!"
"Tapi, kan gue kelas 5 SDnya nggak naik naik terus, sampe dikeluarin.. terus, setelah umur gue cukup, langsung gue lanjutin ke sini.."
Mereka, yang kedengarannya punya pengalaman yang lebih buruk dari Killua berkumpul di belakang dan berbicara soal Killua (dan makin lama jadi menceritakan pengalaman mereka yang 'mengesankan' masing masing), Killua dapat mendengarnya, tapi bukan berarti dia menguping, hanya saja volume suara mereka terlalu keras hingga mungkin menembus ruang guru di depan. Padahal, mereka terlihat seperti tidak sengaja untuk mengumbarnya dan hanya ngobrol seperti biasa, suara kenceng dan kelas hening, siapa yang tak mendengarnya?
"Lu kaget..?" Yoken tiba tiba menengok ke belakang, ke Killua, melihat ekspressi yang tak dapat berkata kata dari anak berambut perak tsb.
"Nggak juga, sih.." memang ada gambaran bahwa mereka yang punya riwayat pendidikan di GunYat adalah mereka yang badung, berandal, rokes, dan seorang rebel banget. Tapi, sepertinya tidak semuanya separah itu juga, lalu ini kan hanya soal pendidikannya saja, lalu bagaimana dengan kehidupannya di luar? Killua tidak mau memusingkan orang lain.
"Jangan merasa lu paling parah di sini. Tuh, kalahin dulu mereka!" kini giliran Niika yang berkomentar, atau memang memberi support, tatapannya masih menerawang ke segerombolan anak laki laki di sudut belakang tersebut.
Leader yang biasanya ngoceh mulu justru hanya diam dalam posisinya, mungkin saat ini dialah yang paling terpuruk karena syok anak-anak 9.4 begini sementara dia adalah ketua kelasnya. Yah, ketua kelasnya aja dia, gimana nggak ancur..?
Sebenarnya memang ada yang ganjil soal sekolah ini, misalnya kelas Killua, 9.4 ke kelas terakhir, kenapa ada diantara mereka yang benar benar seperti berandal, dan ada juga mereka yang pintar diatas rata rata seperti Niika, Leader (nggak terlalu) dan beberapa, yah, mereka sih kalah jumlah, semuanya menyatu dalam Tempat Pembuangan Akhir bernama GunYat, seperti kata Yoken. Yoken adalah rata rata ke bawah, terkadang dia bolos juga, tapi sering mengerjakan tugas juga walaupun dengan contek-contekan di kelas, dia lumayan mematuhi perintah guru, baiklah, wlaupun buruknya lebih banyak daripada baiknya. Bagaimana caranya sekolah ini bisa naik? Sepertinya mereka yang dibawah rata rata tidak bisa berbaur dengan yang diatas untuk bersatu padu menaikkan nama sekolah. Killua sendiri, bagaimana caranya?
"Gue juga nggak pernah denger.. mungkin.. kepsek lu itu emang kebanyakan nonton kartun.." , "Bakal lebih masuk akal kalo lu ikutan ujian khusus dari pada begitu!" Leorio memangdang Killua yang lagi main DS dari meja makan.
Jangankan makanan Prancis mewah yang tersaji, tak ada apapun di meja makan berbahan kaca itu, hanya toples-toples snack kosong yang minta diisi. Leorio jadi berinisiatif besok akan pergi membeli beberapa snack kiloan yang ada di pasar, sekedar untuk menyajikan kepada tamu, ah, itu sih, akan keburu habis sebelum tamunya datang. Leorio memainkan kakinya, "Terus, lu gimana..?"
"Gimana apanya..?" Killua mulai sulit membagi otaknya antara DS ditangannya dan meladeni Leorio, otaknya hanya bisa merespon sedikit sedikit.
"Yah, usaha lu nyari biji itu gimana?" 'Ah, sialan kan, punya gue kecebur!'' Killua mulai empet dan tidak melanjutkan play again, ah, sudahlah lebih baik main Xbox 720 yang baru dikirim kakak tersayangnya kemarin. Killua memincingkan matanya pada Leorio, gara gara dia, punya gue jadi mati!
"Gue sih, udah searching, tapi ya lu tau Google nggak sempurna, mungkin Bing aja seharusnya.." anda yang lahirnya tahun 90'an seenggaknya tau saat Bing sedang eksis, Leorio yang termasuk, bukan, dia lahir jauh sebelum itu hanya bisa terdiam dan menganggap Killua yang nggak tau bagaimana Bing dulu kala meremehkannya sekarang. "Nggak mungkin tiba tiba gue lagi begong di teras, muncul tuh biji dari langit!"
"Ya tuh lu tau, harus berusaha.. kenapa masih diem aja..?"
"Lu nggak liat, sekarang gue lagi berusaha..?" klasik, wajah Killua nampak mulai nantangin. "Hasil searchingan gue seenggaknya menyebutkan ada beberapa bibit yang mahal, tapi itu karena varietas unggul, ada juga menyebutkan pohon 1000 tahun, tapi nggak dicantumin soal bijinya, ada juga pohon uang yang tebuat dari emas, tapi gue pikir itu hoax banget.." Killua menyebutkan hasil searchingannya yang bisa dia ingat. Sepertinya memang tidak ada yang menyebutkan Unknown Rare Seed.
Killua sudah putar putar ke MSN, Our Searching, Delta Home Searhing, , Search V9, Ask, Yahoo, dan beberapa search engine yang nggak begitu ngetop namanya, itupun mencari hingga ke halaman 12 ke sana hingga rasanya lupa sekarang halaman ke berapa. Hasilnya yang ada hanyalah hasil yang sama seperti Google juga atau hanya sedikit berbeda, tapi diantara semua itu, tetap tidak ada yang menyebutkan Unknown Rare Seed. Sebenarnya saat mengetik kata kunci, Killua juga merasa bodoh. Mungkin karena memang Unknown, jadi siapapun memang tidak mengetahuinya. Pemikiran kalau dirinya dikelabui oleh seorang kepsek nggak bener bernama Kuroro mulai mengumbar di pikiran Killua, yah, mungkin ini hanya permainan anak anak!
..
.
.
..
.
.
..
Sebenarnya, rasa ngantuk sudah merasuki Killua, maklum pulang sore setiap hari membuatnya tidak bisa tidur siang walaupun itu hanya 5 menit. Anak itu masih bersender pada sofa sambil memegangi ponselnya, lampu ruang tengah dan ruang makan dimatikan karena anda tau Leorio mengajarkan kita untuk hidup medit. Cahaya dari layar ponsel begitu memukau diantara kegelapan ini, karenanya lah Killua bisa melihat apa yang ada padanya. Mau pakai search engine apa lagi? Killua mulai lelah menghadapi semua ini. Apa dia bilang saja besok pada Kuroro kalau dirinya memang tidak mampu.
Satu satunya search engine yang belum dilirik Killua, BING. Mungkinkah bisa? Diketiknya dulu di adress bar Bing lalu langsung nyambung ke Google pencarian. Akhirnya sampai juga pada Bing. Killua menggunakan kata kunci biji pohon ajaib. Karena sinyal akan sangat ngebut saat menjelang tengah malam, dan akan sangat lelet di jam sibuk, langsung terbuka hasil pencariannya. Di halaman pertama, Killua mebaca memindai hasil pencarian yang ada, dia tau dihalaman pertama tidak akan ada akhirnya langsung ditekannya tombol next page. Sementara loading, baru disadarinya, "Eh, tunggu, perasaan tadi, di halaman pertama.." kayaknya ada hasil yang bagus. Segeralah Killua memijit tombol back pada browsernya dan kembali ke halaman pertama.
"AJAIB! Seorang gadis cantik tumbuh dari pohon!"
Killua tak dapat berkata, serius, ada hasil pencarian kayak gini? "Tunggu... ini bukan Kaguya-hime yang muncul dari pohon bambu 'kan?" dilihatnya sedikit keterangan yang ada di bawah link tersebut di hutan terpencil, janda tua menanam sebuah biji, bener banget! Itulah yang diceritakan Kuroro. Segeralah dengan perasaan girang meskipun masih ragu, menekan link tersebut.
Unable to connect to the internet
"Ee.. daf*q! Kok nggak bisa?" Killua lalu me-reload halaman tersebut dan tulisan unable tadilah yang tampil, lagi, ah, mungkin inikah sinyal? Killua memegang dahinya dan menyibak poni yang bertengger di sana. Tapi yang dilihatnya sinyalnya sampai HSPA, baiklah, reload lagi.
Tiba tiba hpnya bergetar, sepertinya ini ada SMS karena Killua silent-in hpnya, bekas dari sekolah.
Paket harian kamu telah berakhir.. bla.. bla.. blaa..
Kalau saja saya tidak menekan tombol back untuk ke halaman pertama dan membuang data, mungkin sedikit, saya bisa membuka link tersebut.
Lagipula, genre ff ini tidak akan jadi adventura, kan?
"Yang penting gue udah tau, lah.."
GunYat, begitulah biasanya para veteran yang ngetop dan dikenal junior-juniornya memanggil almamaternya atau yang memang tidak lulus-lulus juga, nama itu akhirnya dibawa oleh para veteran tersebut hingga terdengar di kalangan anak racing dan beberapa yang sejenis. Hingga sekarang nama GunYat terus mengembang di kalangan anak anak tsb. Nama aslinya adalah Mt. Sumaryati, hingga sekarang masih belum jelas maksud dari 'Mt'nya (karena tidak pernah dijelaskan), dan 2 tahun belakangan ditambah embel embel Pre-Inter School, karena bukan internasional dan tidak menggunakan baik bahasa Inggris, Mandarin, atau Arab sehari hari. Masih pre- atau pra. Apalagi guru guru yang mengajar juga biasa saja, masih pakai bahasa negeri kita tercinta ini, sekolah ini juga tidak mengedepankan bahasa asing. Tak ada gelar RSBI, RSI ataupun SSI. Bukan full day school, masuk jam 7 dan keluar jam 1 untuk anak kelas 7 dan 8, sementara anak kelas 9 keluar jam 3. Ruang kelas tidak pakai Air Cond. ataupun kipas yang menggantung, jadi anda tau GunYat pakai exhaust fan. Format meja yang ada masih menggunakan meja kayu asli, yang 1 meja bisa untuk 2 orang, bangkunya pisah pisah, proyektor hanya untuk beberapa kelas yang anak anaknya rajin bayaran setipa bulan, papantulis pakai yang spidol. Lucunya nggak ada piket, dan petugas sekolah tau banget gimana cara agar setiap masuk kelas tiba tiba bersih, selalu.
Sekian.
Minna san... review? Saran kritik yang konkrit, dan lain sebagainya yang ingin disampaikan, pijit saja tombol REVIEW dibawah.
God Blesss...~
