.
.
.
Pandangannya tetap termangu menatap jendela kaca tak jauh darinya, menampilkan langit malam penuh akan jutaan bintang diatas sana. Perlahan kepalanya menunduk, melihat sebuah benda bulat terbuat dari besi dan titanium sebesar genggamannya. Benda itu mengerlip dengan kerlipan biru bertempo pelan.
Ia sedang menunggu.
Kerlipan biru itu berubah menjadi merah, menyala terus tanpa jeda sebelum akhirnya ia menyalakannya. Selayaknya cangkang, bola itu terbuka menampilkan hologram yang menyentuh udara disekitarnya menambilkan rekannya yang lain yang kini berada ditempat berbeda namun seakan-akan kini mereka saling berhadapan.
"Tindakan anda tidak bisa dibenarkan. Memperlihatkan terlalu banyak teknologi kita pada manusia itu sangat dilarang."
Alien wanita itu bicara dengan bahasa yang begitu rumit, begitu asing. Bahasa planet mereka.
"Hal seperti ini akan memicu kecurigaan mereka, mereka akan menjadi waspada saat melihat betapa kuatnya kita."Satu lagi alien yang lainnya menimpali.
"Ada satu nyawa yang terancam, sebuah hal yang dilarang juga untuk membiarkan satu nyawa menghilang."Donghae menimpalinya dengan datar.
"Itu bukan urusan kita. Jangan pernah lupa bahwa mereka adalah manusia, bukan kewajiban kita untuk terlibat dengan mereka!"
"Mereka juga hidup! Apa bedanya dengan kita?"
"Jelas berbeda! Jangan lupa alasan kita ketempat ini."
Mulut Donghae terkantup rapat saat kembali diingatkan akan tujuan mereka ditempat ini.
Sebuah peradilan.
"Aku harap hal ini tidak terjadi lagi. Anda sendiri yang meminta untuk melakukan ini karena itu kami mohon agar anda tetap dijalur yang sudah ditentukan." Alien berambut pirang itu mengingatkannya kembali.
"Ini sudah menjadi keputusan dewan tertinggi, anda tidak bisa mencegahnya."
Tangan Donghae terkepal mendengarnya.
"Kita melakukan ini untuk menyelamatkan planet ini, saya harap anda tidak lagi terlibat terlalu jauh dengan mereka."
Hologram itu menghilang menyisakan Donghae berdiri digelapnya malam. Iris biru itu menatap lurus dengan gamang.
Mengingat alasan sesungguhnya ia menginjakkan kaki di planet ini.
.
.
.
Stars
.
.
.
Pair: Haehyuk
.
Rate: T
.
Warning: GS/Romance/Fantasy Ilmiah
.
Summary: "Aku adalah milikmu, dan selamanya akan menjadi milikmu."
.
.
.
"Haaah..."
Hyukjae melihat pantulan bayangannya dicermin. Rambut berantakan, wajah kusut, dan kantung mata yang menghitam. Ia hampir tak tidur semalam, ia tak bisa memejamkan matanya. Tangan pucat itu mengambil sikat gigi di rak atas kaca wastafelnya. Baru ia akan mengeluarkan pasta gigi saat ia merasakan hangat tubuh seseorang di punggungnya.
Reflek Hyukjae berbalik, hanya untuk mendapati Donghae yang tepat ada dibelakangnya. Wanita itu menahan nafasnya saat tubuh itu mendekat padanya. Lengan alien itu terulur mengambil sikat gigi dibelakang Hyukjae, sama sekali tak sadar bahwa Letnan ini hampir lemas dibuatnya.
Seperti tanpa dosa Donghae berjalan menjauh, berdiri menyebelahi Hyukjae dan mulai mengosok gigi. Membiarkan Hyukjae akhirnya bisa bernafas dan menenangkan detak jantungnya. Berdehen sejenak, Hyukjae mencoba untuk bersikap biasa saja dan mulai menggosok gigi. Mereka menggosok gigi dengan tenang. Hyukjae mecoba menjauhkan pikiran-pikiran anehnya sebelum iris hitamnnya menangkap bayangan Donghae yang berkumur sebelum kembali mendongak setelah membuang air dimulutnya dalam wastafel.
Tangan Hyukjae yang tadinya aktif menggosok giginya perlahan memelan. Iris hitamnnya tak bisa lepas pada bibir tipis yang kini terlihat basah.
Mengingatkannya betapa lembutnya saat mereka menyentuh miliknya.
Betapa hangat saat ia menekannya.
Bola mata Hyukjae bergerak mengikuti tetesan air yang mengelir didagu Donghae tanpa sadar. Melihat tetesan itu melewati leher biru alien itu dan menghilang di dalam kerah piyama alien ini. Membuat Hyukjae memperhatikan dada bidang yang terbalut piama putih bergaris itu.
Bagaimana rasanya jika ia bersandar disana?
Mata Hyukjae terbelaklak saat tersadar dari pikirannya. Ia lekas mengalihkan pandangannya dan kembali menggosok giginya.
"Akh!" Teriaknya kesakitan karena ujung sikat giginya menabrak gusi dalamnya akibat terlalu keras menggosok gigi tanpa sadar.
"Letnan Lee Hyukae, kau baik-baik saja?" Mata Hyukjae terbelalak saat melihat Alien ini mendekat padanya.
"Berhenti!"
Teriakan keras itu membuat Donghae berhenti dan melihat Hyukjae dengan pandangan tak mengerti. Iris biru gelapnya hanya dapat melihat Hyukjae yang terburu-buru berkumur sebelum melesat dari sana secepat kilat.
Dia tidak tahu bahwa sekarang Letnan itu berjalan menaiki tangga sembari memaki dirinya sendiri. Berdumal tidak jelas seperti orang gila.
"Apa yang kau pikirkan! Lee Hyukjae pabbo!"
Menepuk-nepuk pipinya yang memerah.
"Demi Tuhan dia itu biru! BI-RU! Apa sebenarnya yang kau lihat!"
Terus seperti itu hingga ia memasuki kamarnya.
.
.
.
Tangan itu aktif memutar pensil ditangannya, sebuah kebiasaannya sejak lama saat memikirkan sesuatu yang begitu rumit. Bola matanya tak pernah meninggalkan layar komputernya yang memperlihatkan sebuah vidio rekaman CCTV yang ter-pause. Ada disana sebuah beton yang melayang tepat diatas alien itu.
Kyuhyun menghela nafas. Ini semakin aneh menurutnya. Entah kenapa semakin ia mempelajari para alien ini, semakin ia tersadar akan keanehan semua ini.
Pintu ruang kerjanya terbuka begitu saja memperlihatkan Yesung, salah satu rekan kerjanya yang terengah-engah.
"Kau harus melihat ini Kyu!"
Tak perlu waktu lama kedua Doktor ini berada di ruang utama departemen mereka. Sebuah ruang utama untuk mengamati benda luar angkasa. Hampir seluruh Doktor dan Profesor ada disana menandakan hal ini benar-benar serius.
"Satelit pengawas kita tengah menangkap sesuatu di dekat orbit Saturnus semalam."
Kontan semua orang berdesas-desus.
"Karena itu kami melakukan pengamatan dengan teropong untuk melihat objek apakah itu."
Layar besar itu menyala menampilkan sebuah foto tak bergerak dengan sebuah bayangan hitam dibalik cincin indah Saturnus.
"Jika dilihat dari skala cicin Saturnus, objek tersebut memiliki ukurannya yang sangat besar namun kita belum yakin apa itu."
"Kalian yakin itu bukan meteor?"Salah satu Profesor angkat bicara.
"Kami belum yakin sebelum ada penyelidikan lebih lanjut namun yang jelas benda ini mendekat dan semakin mendekat ke matahari."
Semua orang terdiam. Semua orang tentu saja tahu jika mendekat ke matahari pasti akan bersimpangan dengan bumi. Bisa menjadi hal yang buruk jika itu benar-benar benda langit yang datang dengan kecepatan tinggi. Bisa terjadi tabrakan yang menghancurkan planet mereka.
Setelah rapat yang begitu panjang mengenai kasus tersebut akhirnya Kyuhyun berjalan menuju kembali keruangannya.
"Menurutmu ini ada hubunganya dengan para alien itu?"
Kyuhyun melihat ke arah Yesung yang bertanya padanya.
"Entahlah, dan kurasa para Profesor tak akan mengatakan apa-apa pada alien itu mengenai hal ini sebelum adanya kejelasan benda apa itu sebenarnya."
Yesung mengangguk. Kedua doktor itu kembali keruangan mereka masing-masing dengan kekalutan yang sama.
Kekhawatiran yang sama.
.
.
.
Alien itu mendongak, melihat matahari yang tertutup awan tebal diatasanya sebelum kembali menunduk melihat wanita manusia ini yang sibuk menyiapkan ini dan itu.
"Kau pernah menanam bunga?"
Donghae tak menjawab, hanya mengerjap tak mengerti pada Hyukjae yang duduk lalu meletakkan pot didepannya.
"Kemarilah!" Donghae menurut lalu mendekat pada Hyukjae.
Mereka ada dihalaman belakang rumah itu. Duduk diatas rumput dengan peralatan berkebun didepan mereka. Hyukjae tak perlu khawatir seseorang melihat Donghae karena tembok yang cukup tinggi disekeliling mereka. Wanita itu menyerahkan kaus tangan padanya sebelum dirinya sendiri memakainya lalu mulai memindahkan tanaman baru dari wadah kertas.
"Kau pernah berkebun sebelumnya?"
"Tidak, tumbuhan sangat berharga ditempat kami tak sembarang orang bisa menyentuhnya. Hanya orang-orang dengan kualifikasi khusus dan mempunyai tugas khusus untuk mengurus mereka."
"Terdengar seperti perhiasan disini."
"Lebih dari itu Letnan Lee Hyukjae, lebih dari segalanya di planet kami."
Dengan cekatan Hyukjae mencampur tanah dengan pupuk sebelum memasukannya kedalam pot. Ia mengambil satu tanaman bunga itu, membersihan akarnya sebelum mengambil gunting lalu memotong satu daun yang tak sehat membuat Donghae terbelalak.
"Letnan Lee Hyukjae!"
Seruan itu mengagetkan wanita disampingnya. Donghae merebut tanaman di tangan Hyukjae lalu menyembunyikannya dibalik punggung.
"Wae?"
"Kau akan dihukum mati jika berani membunuh tanaman."
Hyukjae memutar matanya, lalu mengatungkan tangannya pada Donghae.
"Kita ada di bumi Donghae-shi, bukan di planet tempatmu berasal. Tidak ada hukuman mati hanya karena membunuh tanaman disini! Lagi pula aku hanya memotong daun yang sudah rusak agar dia bisa tumbuh lebih subur, jadi berikan kembali padaku!"
Donghae melihat Hyukjae dengan ragu, masih kekeh menyembunyikan tanaman dibelakangnya. Hyukjae berdecak lalu mengambil pot yang sudah berisi setengah tanah didepan Donghae.
"Bagaimana kalau kau yang tanam?" Mata Donghae kembali terbelalak.
"Benarkah?"
"Ya."
"Tapi itu tugas mulia."
Ya Tuhan, berikan Hyukjae kesabaran.
"Ne, Donghae-shi, kau kuberikan tugas mulia ini. Karena itu lakukan sekarang karena langit semakin mendung!" Hyukjae benar-benar gemas dengan alien satu ini.
Saat mengambil pot itu Hyukjae bersumpah melihat cahaya kebahagiaan terselip di bola mata biru gelap itu. Dengan sabar dan telaten Hyukjae mengajarkan bagaimana menanam bunga yang baik didalam pot. Satu-persatu seluruh bunga sudah ditanam di beberapa pot kecil dan sedang. Keduanya mulai menatanya dihalaman belakang agar terlihat lebih cantik.
Tes.
Tetesan air hujan itu menyadarkan Donghae. Alien itu terdiam sebelum perlahan mendongak ke langit kelabu itu. Merasakan setiap tetesan air dari langit itu menyentuh kulitnya.
"Astaga, Hujan!" Dengan kebingungan Hyukjae mempercepat menata pot-pot itu. Ia sudah akan berlari untuk berteduh kalau saja tak mendapati alien disampingnya yang justru diam ditempat.
Alien itu mendongak dengan mata terpejam, kedua tangannya terulur seakan ingin merasakan seluruh air hujan ditubuhnya. Hyukjae terpaku melihatnya, terpaku dengan bagaimana sosok itu seakan begitu menyatu dengan sekitarnya. Begitu memikat dengan sendirinya.
Begitu indah dengan caranya sendiri.
Hujan yang semakin deras menyadarkan Hyukjae dari keterdiamannya. Wanita itu menarik tangan alien itu, membuat alien itu membuka matanya dan melihat kearahnya.
"Kita harus berteduh, kau bisa sakit."
Hyukjae mencoba untuk menariknya namun Donghae tetap diam ditempat tak bergerak.
"Letnan Lee Hyukjae."
"Ya?"
"Ini hujan."
Ia kembali mendongak, melihat kembali ke langit dengan penuh kekaguman. Mengulurkan tangannya merasakan setiap tetesannya.
"Hujan."
.
.
.
Hyukjae berhenti mengaduk cokelat panas di mug itu lalu meletakannya dimeja. Dengan kedua tangannya ia membawa dua mug itu keruang tengah hanya untuk mendapati Donghae yang masih saja betah melihat hujan di balik jendela.
Alien itu begitu menyukai hujan, dia bahkan hampir menempel seperti cicak di jendela kaca saking kagumnya. Sama sekali tak peduli dengan rambutnya yang masih basah menetesi bajunya.
Meletakkan cokelat panas itu, Hyukjae segera menghampiri Donghae. Membentang handuknya lalu mengusapkannya dirambut alien itu.
"Kau bisa sakit jika dibiarkan."
Donghae tak menyahut namun perlahan mendongak dan melihat Hyukjae. Mempertemukan iris biru gelapnya dengan iris hitam wanita ini. Hyukjae merasa pipinya menghangat sebelum mempercepat gerakannya lalu mengambil jarak sejauh mungkin dari alien ini.
Berdekatan dengan alien ini tak baik untuk kesehatan jantungnya.
Tangan biru itu mengambil mug berisi cokelat panas di sampingnya, meminumnya sedikit sebelum mengernyit karena terlalu manis dilidahnya. Hyukjae tersenyum melihatnya, Donghae masih belum terbiasa dalam mengecap rasa. Apapun yang ia makan akan terlalu kuat dilidahnya. Perlahan iris hitam itu ikut melihat hujan diluar sana.
"Rasanya menyenangkan bukan hujan-hujan seperti ini?"
Dapat Hyukjae lihat alien itu kembali melihatnya.
"Saat hujan seperti ini selalu terasa begitu damai, seperti waktu berhenti sejenak dan memberikan jeda untuk kita meringankan pikiran kita. Memberikan kita istirahat untuk tak melakukan dan memikirkan apa-apa. Hanya menikmatinya."
Bibir tipis itu sudah terbuka akan mengeluarkan teori ilmiahnya seperti biasa namun urung saat ia melihat Hyukjae tersenyum melihat rintik-rintik air dari langit itu. Semua yang dikatakan Hyukjae kembali terngiang dikepalanya.
Alien itu kembali melihat rintikan hujan diluar sana. Melihat bagaimana semua pot bunga yang ia tanam tersirami dengan baik tanpa perlu diatur oleh teknologi apapun. Begitu alami, begitu sederhana.
Saat itu Donghae mengerti, bahwa untuk pertama kali dalam hidupnya ia melihat sekitarnya dengan cara yang begitu berbeda. Tidak dengan cara yang biasa ia lakukan namun dengan cara yang lebih sederhana.
Melihat dunia ini dengan cara bagaimana manusia melihatnya.
"Hampir waktunya makan malam, kau ingin dimasakkan apa?"
Hyukjae yang sudah bangkit berdiri tersenyum ramah pada Donghae. Pertanyaan itu bagai soal rumus kimia tak terpecahkan diotak Donghae. Bahkan kernyitan di dahinya sangat dalam.
"Aku tidak tahu."
Jawaban itu mengundang kekehan Hyukjae.
"Akan kubuatkan rebusan danging dengan sayuran yang banyak, bukankah itu lezat?"
Donghae tidak tahu, ia bahkan belum pernah melihatnya. Hyukjae kembali terkekeh melihat wajah bingung alien ini. Wanita ini mengambil dua mug yang sudah kosong itu sebelum mulai melangkah.
Melihat hal itu Donghae ikut bangkit berdiri. Ia akan mengikuti Hyukjae namun tiba-tiba saja ia merasakan aneh. Kepalanya berputar dan pandangannya mulai tak fokus. Tubuhnya perlahan mulai kehilangan tenaga saat ia menyadari apa yang terjadi.
"Kurasa di kulkas masih ada telur, kalau kau tak suka rebusan daging aku bisa membuatkanmu telur dadar." Dari pengamatan wanita ini lauk yang paling Donghae suka adalah telur dadar. Alasannya sederhana, rasanya netral.
"Letnan Lee Hyu-"
Hyukjae terkejut saat tubuh berat itu terhuyung kearahnya begitu ia menengok. Dengan lemas Donghae bersandar padanya, membuat keduanya perlahaan rubuh terduduk dilantai kayu.
"Astaga, Donghae-shi! Donghae-shi, kau kenapa?"
Panik wanita itu sambil menepuk-nepuk pipi alien itu sebelum ia menyadari tubuh tenang dan nafas alien ini yang berangsur teratur. Ia terdiam tak percaya.
Alien ini... tertidur?
Alien ini benar-benar tidur.
Tanpa sadar Hyukjae menghela nafas lega.
Sulit dipercaya, Donghae mengagetkannya saat tiba-tiba bertingkah laku seperti itu hanya karena dia akan tidur?! Hyukjae menghela nafas dengan sebal. Ia hampir terkena serangan jantung tadi.
Wanita itu kembali menunduk, melihat wajah tidur Donghae yang begitu damai, lalu pada lengan alien itu yang memeluknya begitu erat, seakan takut Hyukjae meninggalnya saat tidur.
Perlahan wajah Hyukjae memerah seiring dengan detak jantungnya yang meningkat. Posisi mereka benar-benar membuatnya malu. Bagaimana alien ini bersandar dipundaknya yang duduk dilantai, menempel begitu erat padanya hingga hidung Hyukjae dapat menangkap aroma khasnya.
Padangan wanita itu kembali di bibir tipis alien itu. Mengingatkannya akan ciuman mereka yang tak pernah terlupakan. Itu bukan pertama kalinya Hyukjae mencium laki-laki namun yang satu ini begitu menghantuinya.
Tangan pucat itu perlahan terulur. Meski dengan sedikit gemetar perlahan Hyukjae menyentuh rambut halus itu. Membelainya dalam usaha untuk semakin membuat Donghae jatuh lebih dalam ke alam mimpi.
Memberinya kasih sayang tanpa pelakunya sendiri menyadarinya.
.
.
.
Wanita berpangkat Letnan itu menenggelamkan wajahnya di tangannya yang terlipat diatas meja kantin. Ia ada didepartement pertahanan sekarang, terus menghela nafas dengan wajah kusut karena lelah dan kurang tidur.
Dan semua itu gara-gara alien bernama Donghae yang menetap dirumahnya!
Wanita ini benar-benar lupa jika dia sendiri yang mengajukan ide tersebut.
Mood Hyukjae semakin buruk saat melihat sosok wanita yang paling ia benci mendatanginya. Duduk didepannya dengan gaya khasnya yang luar biasa menyebalkan. Bolehkan Hyukjae menjambaknya?
"Kulihat kau begitu jarang terlihat akhir-akhir ini, Letnan Lee. Kenapa? Alienmu sangat merepotkan?"
Hyukjae tarik kata-katanya yang tadi. Bolehkan ia mencakarnya saja? Senyum Suhe benar-benar menyebalkan dimata Hyukjae.
"Bukan urusanmu Letnan Kim. Dan aku akan sangat menghargai jika kau meninggalkan aku sendirian."Ucap Hyukjae begitu manis meski bertentangan dengan isi ucapannya.
Bukannya menanggapi ucapan Hyukjae, Suhe malah mengangkat ponselnya yang berdering.
"Ne, Oppa! Malam ini? Tentu saja aku tak keberatan, ne ditempat biasa? Baiklah sampai bertemu disana."
Wanita itu menutup ponselnya dan merasa sangat puas melihat ekpresi penasaran Hyukjae.
"Kau tahu Choi Siwon, Letnan satu Captain Han. Kami berkencan sejak seminggu yang lalu."Tawanya setelah itu begitu angkuh, benar-benar membuat Hyukjae melongo.
Hah? Anak ini sedang memamerkan pacarnya padanya?
"Kalau begitu nikmati harimu Letnan Lee."
Hyukjae hanya bisa mengumpat pelan melihat kepergian wanita menyebalkan itu, coba disini tak ramai sudah Hyukjae lempar kursi anak itu.
"Yah, jangan memasang tampang seperti itu kau menakuti semua orang." Hyukjae menoleh dan mendapati Sungmin duduk menyebelahinya sambil membawa baki makan siangnya.
"Anak itu kalau bukan juniorku sudah kucakar sejak dulu."
"Kenapa? Suhe lagi?" Decakan Hyukjae sudah cukup untuk menjawabnya.
"Apa yang sedang kau lakukan disini? Bukannya kau membawa pulang alienmu?"
"Aku harus merekap semua laporanku dan kau tahu aku tak bisa melakukannya dirumah."
"Lalu alienmu?"
"Dirumah, bersama Kyuhyun." Hyukjae kembali merosot dimeja.
Sejujurnya itu bukan satu-satunya alasan. Alasan lainnya adalah ia tak bisa lama-lama di satu ruangan dengan Donghae. Ia mulai merasakan hal yang seharusnya tak ia rasakan pada mahkluk biru dari planet lain itu. Dan jujur saja itu menakutinya.
"Apa yang harus aku lakukan?!" Keluhnya membuat Sungmin mengernyit keheranan namun tak bertanya apa-apa, Hyukjae memang selalu begitu bila sedang tertekan pekerjaan.
"Sungmin-ah."
"Hem?"
"Kau pernah menyukai seseorang yang begitu berbeda denganmu?"
Sungmin berhenti mengunyah.
"Tentu saja, Kyuhyun dan aku sangat bertolak belaka."
"Annya, buka itu maksudku." Hyukjae duduk dengan cemas karena ragu untuk bicara.
"Maksudku, kau pernah menyukai seseorang yang ... yang mempunyai warna ku-kulit yang berbeda?"
Tentu saja Sungmin semakin kebingungan dengan arah pembicaran Hyukjae.
"Kau berkencan dengan orang kulit hitam?"
"ANNYA! Tentu saja tidak, ah sudah lupakan." Hyukjae kembali merosot di meja. Percumah bicara dengan Sungmin.
Melihat betapa tertekannya temannya itu membuat Sungmin mempunyai ide. Wanita itu merangkul pundak Hyukjae.
"Hyuk-ah, bagaimana kalau kita minum saat pulang nanti? Sudah lama kita tidak minum bersama, kudengar ada kafe baru yang sedang dibuka didekat sini. Bagaimana?"
Ide sungmin terdengar menarik di telinga Hyukjae. Benar juga, siapa tahu dengan minum bisa menjernihkan pikirannya.
"Aku mau!"
"Bagus, aku akan telephon teman-teman yang lain."
.
.
.
Hari ini Kyuhyun benar-benar menghabiskan seluruh harinya meneliti alien didepannya ini, mereka akan berhenti untuk makan lalu kembali bertukar pikiran. Puluhan kertas bertumpuk di meja ruang tamu itu dan Pad nya sudah penuh dengan data. Doktor itu melihat jam tangannya. Hampir jam 11 malam tapi Hyukjae masih tak ada kabarnya.
Kemana Letnan satu itu, tidakkah dia tahu bahwa ia harus segera kembali ke kantornya!
Ditelephon tak dijawab, pesannya juga tak dibalas.
Iris kelam Kyuhyun kembali melihat Pad di tangannya membaca ulang hasil tukar pikirannya dengan Alien ini. Tiba-tiba saja ia teringat akan hal yang selama ini mengganjal di benaknya.
Doktor itu berdehem mengalihkan perhatian alien itu untuk melihatnya.
"Maaf jika ini sedikit menyingmu tapi aku benar-benar ingin menanyakan hal ini padamu."
Kediaman Donghae membuat Kyuhyun melanjutkannya.
"Aku tahu kami adalah pihak yang mengundang kalian untuk datang ke bumi. Kami juga yang mengajukan kesepakatan. Tapi aku benar-benar ingin tahu alasan kalian menerimanya."
Meski sekilas tapi Kyuhyun melihat iris biru tua itu sedikit goyah.
"Aku selalu merasa bahwa apa yang kalian ajukan sebagai pertukaran sama sekali tak sepadan."
Keheningan tercipta diantara keduanya. Semakin memperjelas ketegangan yang terjadi.
"Kalian tak menyembunyikan sesuatu dari kami bukan?"
Tangan biru itu tercengkram.
"Kalian tak memiliki tujuan lain, bukan?"
DOK DOK DOK
Ketukan brutal itu memutus percakapan itu. Kyuhyun lekas bangkit dan membuka pintu hanya untuk dikejutkan tubuh Hyukjae yang terhuyung kearahnya. Bau alkohol begitu menyengat dari wanita ini.
"Aku sudah mencegahnya minum terlalu banyak, tapi dia tak mau mendengarkan." Jelas Sungmin yang ada di belakang Hyukjae. Mencoba membantu wanita itu berjalan masuk kedalam rumah.
Donghae yang masih duduk diam di sofa hanya melihat ketiganya tak mengerti. Melihat Hyukjae yang merancau tak jelas dengan dua orang yang membantunya berbaring di sofa lainnya.
"Kyu, sebaikknya pindahkan ke kamar."
Baru Kyuhyun akan membopong wanita itu saat tiba-tiba saja Hyukjae memuntahkan isi perutnya. Membuat semua orang kecuali Donghae berteriak panik. Alhasil Hyukjae hanya dibiarkan tidur di sofa, Kyuhyun tak mau lagi menggendongnya. Laki-laki itu sudah keburu jengkel.
"Biarkan saja dia disini, nanti kalau sadar juga pindah sendiri," Itu yang dikatakan Kyuhyun tak peduli sebelum akhirnya meninggalkan rumah itu dengan Sungmin.
Meninggalkan Donghae yang masih duduk diam di ruang tamu bersama Hyukjae yang kini terbaring mabuk. Membuat alien itu mengamati tarikan nafas pelan manusia didepannya. Perlahan Donghae mendekati Hyukjae, sekedar memastikan wanita ini baik-baik saja.
Sama sekali tak menduga saat mata wanita itu terbuka tiba-tiba. Hyukjae mulai bangkit dengan lemas, ia masih mabuk tapi cukup kuat menompang tubuhnya sendiri. Ia tersenyum saat mendapati Donghae didepannya. Mengejutkan alien itu sasat tiba-tiba saja mengkalungkan lengannya di leher alien itu, membuat wajah mereka berjarak begitu dekat.
"Donghae~"
Hyukjae terkikik sendiri sebelum menyandarkan kepalanya pada pundak Donghae.
"Hae ..."
Donghae diam tak bergerak, sudah lupa dengan bau alkohol yang begitu menyengat. Melihat Hyukjae yang kembali tenang, perlahan ia membaringkan wanita itu di sofa. Menjauhkan tangan wanita itu darinya agar bersandar di sofa.
Ia akan bangkit meninggalkan tempat itu kalau saja lengan kurus itu tak kembali menangkapnya. Menariknya hingga menindih tubuh manusia itu dibawahnya. Hyukjae kembali membuka matanya. Membuat Donghae terdiam saat melihat iris hitam itu menatapnya dengan cara yang tak biasa.
Tangan pucat itu perlahan menyentuh wajah Donghae, menelusurinya dengan sentuhan yang bagai bulu.
"Kanapa kau begitu tampan, Donghae?" Rancaunya.
Jemari itu terus turun hingga keleher kuat alien itu lalu berhenti di dadanya. Hyukjae kembali melihat iris biru tua yang kini sedang meneggelamkannya.
Menenggelamkannya hingga begitu dalam.
Wanita itu memajukan wajahnya, meminta kontak lebih dengan alien diatasnya ini. Mengerti isi kepala manusia ini, Donghae menjauhkan wajahnya. Menghindari kontak yang pernah terjadi beberapa hari yang lalu.
"Wae~" Rengek Hyukjae saat tak mendapatkan yang ia mau. Seperti anak kecil yang tak dibelikan permen.
Donghae tetap diam melihatnya. Kontak antar bibir mereka waktu itu masih merupakan hal tabu baginya. Ia tak mengerti kenapa Hyukjae melakukan itu, kenapa manusia melakukannya.
Seperti tak menyerah Hyukjae kembali mengangkat wajahnya. Tapi diluar dugaan Donghae, Hyukjae tak mengincar bibirnya. Wanita ini justru menggigit lehernya, membuat alien itu mengeram pelan.
Sebuah sentuhan baru. Sentuhan yang begitu tabu.
Wanita itu kembali melihat alien diepannya, tersenyum penuh kemenangan sebelum mengeratkan pelukannya.
"Aku menyukaimu Donghae."
Memejamkan matanya saat hidungnya menangkap aroma Donghae didekapannya.
"Sangat menyukaimu."
Nafas Hyukjae berangsur teratur dan rangkulan lengannya pada Donghae melemah. Alien itu melihat wajah damai manusia didepannya. Kata-kata Hyukjae terngiang dikepalanya.
Tak sadar saat jemari itu perlahan menyentuh wajah Hyukjae.
Salah satu sifat dasar manusia, tak bisa hidup tanpa yang lainnya.
Begitu mudah terikat dengan yang lainnya.
.
.
.
Hyukjae mulai diaduk dalam tidurnya namun ia masih tak ingin bangun. Dekapan hangat yang mengelilinginya membuatnya ingin berlama-lama dialam mimpi.
"... kjae."
Dahinya mengernyit.
"Letnan Lee Hyukjae."
Perlahan Hyukjae mulai membuka matanya, ia tak mengerti saat mendapati wajah Donghae begitu dekat dengannya.
Tunggu, Donghae?!
Kesadarannya pulih seratus persen dan begitu terkejut saat mendapati ia terbagun dipelukan alien itu.
"Kau sudah bangun?"
"KYAAAA!"
PLAK
Sekali lagi Donghae harus mengahabiskan hari dengan pipi cap tangan Hyukjae.
.
.
.
TBC.
Chapter ini kenapa jelek banget sih! Mian chingu tapi aku nulis ini buru-buru bgt jadi yah cuma bisa begini :(
Tapi aku tetep seneng ternyata yang suka ff ini makin banyak, wah jangan bosan-bosan baca ff Haehyuk ya chingu hehe. Maaf gak bisa sebutin atu-atu karena buru2 tapi aku selalu baca review kalian, dan kalian tetap pembacaku yang TOP MARKOTOP!
So next chap akan semakin jelas aku janji :)
see u next cahpter
