.

.

.

Hyukjae mulai diaduk dalam tidurnya namun ia masih tak ingin bangun. Dekapan hangat yang mengelilinginya membuatnya ingin berlama-lama dialam mimpi.

"... kjae."

Dahinya mengernyit.

"Letnan Lee Hyukjae."

Perlahan Hyukjae mulai membuka matanya, ia tak mengerti saat mendapati wajah Donghae begitu dekat dengannya.

Tunggu, Donghae?!

Kesadarannya pulih seratus persen dan begitu terkejut saat mendapati ia terbagun dipelukan alien itu.

"Kau sudah bangun?"

"KYAAAA!"

PLAK

Sekali lagi Donghae harus menghabiskan hari dengan pipi cap tangan Hyukjae.

.

.

.

Stars

.

.

.

Pair: Haehyuk

.

Rate: T

.

Warning: GS/Romance/Fantasy Ilmiah

.

Summary: "Aku adalah milikmu, dan selamanya akan menjadi milikmu."

.

.

.

Wanita itu menyeruput sup penghilang mabuknya hingga habis. Kepalanya masih pusing tapi tidak separah saat baru bangun tidur tadi. Iris hitamnnya kembali melihat alien yang duduk didepannya, terus menatapnya saat Hyukjae menaruh mangkuknya kembali kemeja makan.

Bangun tidur dipelukan alien di atas sofa rumahnya bukanlah kejutan yang baik untuk jantungnya.

Wanita itu tak berani menatap balik alien didepannya, tentu ia sadar bahwa semalam ia mabuk berat. Ia juga sadar bahwa mabuknya dirinya pasti akan sangat merepotkan orang lain. Dengan canggung dan menahan malu Hyukjae mencoba mengumpulkan harga dirinya kembali.

"Ma-maaf, untuk ...untuk itu."Dengan ragu jari pucat itu menunjuk bekas tamparan di pipi Donghae.

"Tap-tapi itu juga salahmu sendiri kenapa kau main pe-peluk dan tidur denganku di sofa?! Aku kan kaget!"Seru Hyukjae mencoba membela diri dalam usaha membangun harga diri. Pipinya merah tentu bukan karena pengaruh alkoholnya semalam.

"Letnan Lee Hyukjae, kau sendiri yang tak mau melepaskanku semalam."

Perkataan tanpa emosi itu membuat mata bulat wanita itu terbelalak. Jangan bilang ia membuat masalah saat mabuk semalam!

"Mw-mwo?!"

"Kau terus mengatakan tak ingin ditinggalkan dan menarikku untuk menemanimu tidur."

Hah? Benarkan ia melakukan itu? Hyukjae masih sulit percaya dengan perkataan Donghae.

"Kau juga menggigitku disini."

Jari biru itu menunjuk bekas kemerahan dilehernya yang sontak membuat Hyukjae terkejut bukan main, wanita itu reflek menutup mulutnya untuk mereda kekagetannya. Astaga, jangan bilang ia ingin memperkosa alien ini semalam!

Dan kenapa pula alien ini mengatakan hal seperti itu dengan begitu datar! Argh!

"A-aku sedang mabuk saat itu! Kau tahu alkohol?! Aku meminumnnya semalam , ja-jadi aku melakukannya tanpa sadar!" Bantah Hyukjae tergagap karena demi Tuhan ia sangat malu.

"Kalau kau tidak sadar kenapa kau terus bicara semalam, Letnan Lee Hyukjae?"

"Itu normal untuk orang mabuk. Memang aku bicara apa?" Hyukjae meraih gelas berisi air di dekatnya meminumnya dalam usaha meredam wajahnya yang memerah.

"Kau bilang kau menyukaiku."

Reflek, wanita itu menyemburkan air dimulutnya sebelum terbatuk-batuk mendengar penuturan Donghae. Iris hitam itu melihat alien didepannya dengan tak percaya.

"Mw-mwo..?"

"Kau bilang kau sangat menyukaiku, Letnan Lee Hyukjae."

APA?!

Batinnya berteriak tak sesuai dengan kenyataan tubuhnya yang diam mematung. Dapat Hyukjae rasakan jantungnya yang berdetak semakin cepat selaras dengan wajahnya yang semakin panas karena memerah.

Menenggelamkan wajahnya di meja, Hyukjae benar-benar terpuruk. Sungguh itu benar-benar memalukan.

"Letnan Lee Hyukjae, kau baik-baik saja?"

Tidak, dia tak baik-baik saja. Seseorang tolong bunuh saja dia sekarang! Atau tenggelamkan saja dirinya kelaut! Hyukjae benar-benar tak punya muka lagi untuk menghadapi Donghae!

Donghae mengerjab tak mengerti. Manusia ini dari tadi hanya menunduk sambil berdumal tak jelas. Sesekali bahkan ia melihat wanita ini menggeleng-geleng gelisah. Membuatnya semakin tak berani mendekatinya.

"Letnan Lee Hyukjae?"

Kepala wanita itu tiba-tiba saja mendongak menatapnya. Membuatnya dapat melihat iris hitam wanita ini yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Bahkan kini wanita itu duduk tegak memancarkan dominitasnya.

"Ya. Itu memang benar!" Jawab wanita ini tegas meski pipinya masih merah karena menahan malu.

"Apa maksudmu, Letnan Lee Hyukjae?"

Hyukjae mendengus sebal, alien ini benar-benar tak mengerti atau hanya pura-pura tak mengerti untuk tambah mempermalukannya?!

"Yang aku katakan semalam! Memang benar aku menyukaimu!"

Sudah terlanjur basah jadi Hyukjae memutuskan untuk terjun saja sekalian.

Donghae melihatnya dengan wajahnya yang datar seperti biasa, bahkan garis kebingungan terlihat jelas di mata alien itu. Tapi seperti Hyukjae peduli saja! Wanita itu tiba-tiba saja berdiri dengan seluruh kharismanya sebagai seorang Letnan.

Menunjuk tepat di wajah alien didepannya dengan tegas seakan menfonis anak buahnya yang berani membuat kesalahan.

"Kau!"

Kali ini ia menunjuk dirinya sendiri dengan seluruh otoritasnya.

"Milikku!"

Ucapnya telak.

Ya, Hyukjae sudah memutuskannya.

Ia tak peduli lagi dengan planet lain ataupun akal sehatnya. Ia menyukai laki-laki biru didepannya tak peduli apa. Ia bukan gadis polos yang tak bisa membaca perasaannya sendiri, ia tahu dengan jelas ia menaruh rasa dan perhatian lebih pada Donghae. Membohongi perasaannya pun percumah malah akan menyakiti diri sendiri. Jadi masa bodoh dengan segalanya.

Ia menyukai Donghae. Titik!

Dan Hyukjae tak akan pernah menyesali keputusannya ini.

Tidak akan pernah!

.

.

.

Hyukjae menyesalinya.

Baru juga terhitung kurang lebih dua jam ia sudah menyesalinya. Wanita itu berguling-guling dikasur sebelum bengun terduduk lalu mengacak-acak rambut panjangnya hingga semakin berantakan.

Setelah seenaknya mengeclaim Donghae, ia langsung saja kabur ke kamarnya seperti pengecut. Ia tak mau mendengar tanggapan Donghae, tidak mau tahu karena jujur saja ia takut dengan apapun tanggapan alien itu.

Tangan pucat itu lalu menepuk-nepuk kedua pipinya seakan dalam usaha untuk menyadarkan diri sendiri.

"Tidak, kau tidak boleh mundur Lee Hyukjae! Kau adalah salah satu wanita tangguh di negara ini jadi jangan menyerah hanya karena malu! Harga diri? Masa bodoh!"

Hyukjae keluar dari persembunyiannya, menuruni tangga hanya untuk menemukan Donghae masih diam ditempatnya seperti saat ia meninggalkannya tadi. Duduk di salah satu kursi meja makan dengan begitu tenang. Alien itu hanya melihatnya dalam diam saat Hyukjae berdiri di sebelahnya dengan cemas.

Wanita itu mengumpulkan keberaniannya lalu berdehem sejenak untuk membersihkan tenggorokannya.

"Ayokitakencan." Ucapnya begitu cepat, tanpa jeda.

Hyukjae tak berani melihat iris biru gelap Donghae. Pipinya sudah begitu merah karena malu.

"Kau mengatakan sesuatu Letnan Lee Hyukjae?"

"Aish! Aku bilang, ayo-kita-kencan!" Wanita itu cemberut sambil bersedekap setelah berseru cukup keras. Tidakkah Donghae tahu ini sangat memalukan untuknya?!

Tak mendapatkan respon apapun membuat Hyukjae yang melihat Donghae tambah kesal. Tapi saat ditatap dengan pandangan bingung alien didepannya wanita itu tak jadi mengutarakan kekesalannya.

"Wae? Jangan bilang kau tak pernah berkencan?"Hyukjae menduga dengan ekpresi horor.

Donghae yang diam termangu cukup menjadi jawaban untuk segalanya. Hyukjae menghela nafas, bagaimana ia bisa lupa kekakuan mahkluk biru ini.

"Di bumi ini, ketika ada pria dan wanita yang tertarik satu sama lain maka mereka akan pergi untuk berkencan. Seperti yang dulu pernah kita bicarakan, menghabiskan waktu dengan pasangan. Pergi berdua ketempat yang bagus, makan malam bersama, berpegangan tangan, lalu bercium-"Hyukjae langsung berhenti bicara saat merasa topik terakhir sangat sensitif.

"Yah, pokoknya seperti itu!"

"Kenapa manusia melakukan itu?"

"Untuk mengenal pasangan mereka lebih baik."

Semua informasi baru itu terdengar tak masuk akal diotak Donghae, ini sangat bertolak belaka dengan budaya bangsanya.

"Kalau begitu kita sudah berkencan, Letnan Lee Hyukjae."

Giliran Hyukjae yang mengerjab binggung sekarang karena perkataan Donghae.

"Hah?"

"Aku mengenalmu dan kau mengenalku, berarti kita berkencan sejak pertama berkenalan."

Uurgh, kenapa Donghae tak menusuk jantungnya saja dengan pisau dapur! Sungguh mengajak laki-laki biru ini untuk berkencan saja Hyukjae sudah merasa umurnya berkurang sepuluh tahun.

"Bukan mengenal yang seperti itu! Mengenal dengan lebih dalam, lebih rinci. Sifat, kebaikan, keburukan, kelebihan, kekurangan, yang disukai dan tidak. Seperti mempelajari karakter pasanganmu."

"Itu hanya akan menyia-nyiakan waktu, Letnan Lee Hyukjae. Tujuan akhir dari pasangan adalah untuk bereproduksi. Di planetku setelah kami melakukan ikatan kami tinggal melakukan tugas selanjutnya yaitu menghasilkan keturunan. Kami yang berjenis kelamin laki-laki hanya perlu memasukan-"

"Stop!"

Seruan Letnan itu memotong perkataan Donghae yang menjurus kemana-mana. Tangannya bahkan terangkat demi membuat alien ini tak mengatakannya lebih lanjut.

"Ara-ara, aku tahu. Aku mengerti. Tapi Donghae-shi, kami di bumi memiliki beberapa tahapan untuk sampai ketahap seperti itu. Dan tahap pertama adalah kita harus mengenal pasangan kita lebih dalam dengan cara BER. KEN. CAN. Mengerti?"

Baru Donghae akan angkat bicara lagi tapi Hyukjae langsung memotongnya.

"Mengerti, bagus! Kalau begitu minggu ini kita kencan!" Putusnya otoriter khas kemiliteran.

"Letnan Lee Hyukjae."

"Apa lagi?! Aku sudah bilang minggu ini kita akan kencan ya ken-"

Kruyuk.

Suara apa tadi?

Hyukjae terbengong-bengong saat melihat alien itu memegangi perutnya. Mata bulatnya mengerjab lucu.

Jangan bilang kalau ...

Sontak Hyukjae tertawa, ia berusaha menahannya sekuat tenaga namun saat melihat ekpresi datar alien ini yang bertolak belaka dengan bunyi perutnya yang tak kunjung reda membuatnya tambah lucu. Hyukjae terus tertawa hingga perutnya sakit, tak peduli dengan Donghae yang melihatnya tanpa ekpresi.

Ia benar-benar lupa kalau ia meninggalkan Donghae begitu saja sejak pagi tanpa memberinya makan. Ia terlalu disibukkan dengan perasaannya sendiri hingga melupakan hal sepenting itu. Tentu saja Donghae kelaparan sekarang.

"Akan aku buatkan sarapan, astaga perutku!"

Meski masih terkikik sesekali, Hyukjae akhirnya bisa berjalan kedapur membuka kulkas untuk mengambil telur. Sambil mengocok telur wanita itu kembali melihat Donghae yang masih mengusap-usap perutnya sendiri dengan ekspresi heran. Ia kembali terkekeh.

Aish, kenapa tingkah laku alien ini begitu manis dimatanya!

Letnan satu ini benar-benar melupakan satu hal yang paling penting, bahwa partner kencannya sama sekali tak merespon pernyataan hatinya sebalumnya. Tidak setuju, juga tak menolak. Tapi sepertinya wanita ini sudah tak peduli lagi.

Jadi sudahlah, lupakan.

.

.

.

Bola mata keemasan wanita alien itu mengikuti bola titanium itu menggelinding di depannya sebelum cangkangnnya terbuka menampilkan hologram satu rekan aliennya.

"Kita harus mempercepat proses ini."

"Bukan kita yang memutuskannya."

Wanita alen itu mengeram marah. Ia benci membuang-buang waktu bersama para manuasia itu. Vonis sudah dijatuhkan lalu apa lagi yang mereka tunggu?!

"Pemusnah sudah masuk galaksi ini, tugas kita hanya memastikan bahwa para manusia ini memang seperti yang ada dicatatan yang ada. Kesalahan mereka dianggap fatal oleh dewan tinggi karena itu semuanya harus diselesaiakan sesegera mungkin!"

"Svrafeonuravlaktas belum mengatakan apa-apa tentang hal ini!"

"Dia hanya arcess!"

"Tapi dia keturunan langsung dari pemimpin kita sebelumnya!"

Wanita Alien itu langsung bungkam saat kembali diingatkan darah istimewa yang mengalir didarah salah satu rekannya.

"Tetap saja ia tak mengambil hak kekuasaannya, ia tak terhitung sebagai Sang Pemimpin."

"Mungkin tidak tapi darah yang mengalir dalam dirinya adalah Sang Pemimpin. Kau harus ingat dewan tinggi melindunginya. Kita hanya bertindak sesuai kemauannya. Jadi hanya melakukan seperti yang diperintahkan!"

Hologram itu menghilang, meninggalkan wanita alien itu yang menahan amarahnya. Ia benci melakukan hal ini. Mereka hanya tinggal melakukan langkah terkahir untuk mengakhiri omong kosong ini.

Melakukan vonis akhir yang dijatuhkan dewan tertinggi mereka untuk para manusia ini.

Vonis akhir berupa melenyapkan mereka semua dari planet ini.

.

.

.

Jemari pucat itu memilih deretan lipstik di meja riasnya. Menemukan satu yang cocok, Hyukjae segera memakainya.

"Terlalu merah."

Menghapus sebelumnya dengan tisu, kali ini ia memilih warna yang lebih muda.

"Terlalu pucat."

Butuh lima kali percobaan sebelum Hyukjae menemukan warna lipstik yang cocok. Ia mulai membenahi rambutnya yang tergerai, asal tahu saja Hyukjae rela bangun lebih pagi hanya untuk memblow rambutnya.

Berputar sejenak didepan cermin wanita itu kembali melihat terusan katun yang ia pakai, bibirnya cemberut sembari berfikir. Apa roknya terlalu pendek?

"Ani, terlihat sedikit menggoda tak masalahkan?!" Sangkalnya bicara sendiri sambil mengangguk-angguk.

Setelah memilih tas yang cocok dengan warna terusannya, Hyukjae segera turun ke bawah untuk menemui teman kencannya hari ini. Dengan wajah berseri-seri ia siap menyapa Donghae dipagi hari kalau saja iris hitamnnya tak menemukan keheningan di ruang tengahnya, bahkan dapurnya juga kosong.

Dimana alien itu?
Hyukjae berjalan ke kamar Donghae mengetuknya sembari memanggil-manggil alien itu. Apa Donghae masih belum selesai siap-siap?

Tak bisa bersabar akhirnya wanita itu membuka pintu kamar alien itu.

"Donghae, cepatlah kita harus segera ..."

Wanita itu langsung bungkam saat melihat pemandangan didepannya. Donghae tidak sedang siap-siap. Jangankan untuk siap-siap, alien ini justru masih duduk diranjangnya dengan mata mengantuk dan rambut berantakan. Selimut tebal menutup sebagian tubuhnya yang masih berbalut piyama.

Alien Donghae baru saja bangun tidur.

Terdengar bunyi gemeretak gigi Hyukjae akibat menahan kesal. Tangan wanita ini terkepal karena jengkel luar biasa.

"YA!" Seruan itu begitu mengagetkan Donghae yang masih setengah sadar.

"Apa yang sedang kau lakukan! Kita akan berkencan hari ini dan kau justru baru bangun!?"

Hyukjae segera menarik Donghae dari tempat tidur, menyeretnya paksa mendekati kamar mandi. Tak peduli jika ia sempat membuat Donghae terbentur pintu saat perjalanan ke kamar mandi.

"Aku tidak mau tahu, mandi sekarang!" Serunya sebelum mendorong Donghae ke dalam kamar mandi lalu menutupnya rapat.

Menarik nafas panjang, Hyukjae mencoba meredakan amarahnya. Dengan langkah yang menghentak-hentak karena sebal ia kembali ke kamar Donghae untuk memilihkan pakaian yang cocok.

Sulit dipercaya, seumur hidup baru kali ini Hyukjae mengalami hal ini. Ia sudah berdandan begitu cantik tapi dengan santainnya Donghae malah tak siap sama sekali!

"Apa yang kau harapkan dari alien aneh, kaku, bawel, dan tidak peka seperti dirinya, Hyukjae!" Gumannya sambil dengan kasar melempar beberapa pakaian dari lemari ke atas kasur.

Tidak ada banyak pilihan, hanya ada pakaian seadanya untuk Donghae semakin menambah miris kencannya hari ini.

Sebenarnya apa dosa yang pernah ia lakukan hingga mengalami semua ini?! Ratapnya sedih.

.

.

.

Kacamata hitam, masker, dan topi. Semua itu semakin tertutup rapat oleh hoodie besar yang tersampir dikepalanya. Membuatnya semakin terlihat mencolok saat keluar dari gedung bioskop, bahkan beberapa orang mulai berdesas-desus saat melihatnya. Donghae sudah terlihat seperti artis yang sedang menyamar takut terkena scandal karena berkencan dengan pacar rahasianya.

"Maaf ..."

Pekataan penuh nada menyesal itu membuat Donghae melihat wanita disampingnya.

"Aku tahu pasti filmnya jelek sekali, tapi jangan diambil hati itu hanya imajinasi manusia saja. Mereka tidak tahu jika semua penggambaran tentang kalian selama ini sangat salah."

Mereka baru saja menonton film bersama. Bukan film biasa tapi film action peperangan antara alien dan manusia dengan akhir manusia yang berhasil melibas habis para alien jahat. Sungguh bukan maksud Hyukjae menonton film seperti itu tapi tiket yang tersisa hanya film ini bagi mereka, seluruh tiket film lainnya tengah habis karena ini akhir pekan.

Selama film diputar tak sekalipun Hyukjae menikmatinya, dengan cemas ia terus melihat Donghae yang duduk tenang disampingnnya, ia bahkan begitu terkejut saat adegan seorang manusia membelah tubuh alien di layar bioskop.

"Tidak ada yang aneh dengan hal-hal tadi. Semua mahkluk hidup memang cenderung menganggap yang bukan satu spesies adalah ancaman. Itu normal."

Senyum wanita itu kembali terukir saat mendengar perkataan Donghae.

"Kalau begitu sebaiknya kita cari makanan saja sekarang, sudah waktunya makan siang."

Donghae hanya mengangguk lalu berjalan akan meninggalkan tempat itu namun langkahnnya berhenti saat tak mendengar langkah kaki wanita itu. Dan benar saja, saat ia menengok wanita itu masih berdiri tak bergerak ditempatnya. Melihatnya dengan cara yang begitu aneh, seperti mengharapkan sesuatu.

"Aish!" Umpat wanita itu saat Donghae tak juga kunjung mengerti maksudnya, ia mengulurkan tangannya sambil cemberut.

"Kau harusnya memegang tanganku! Orang yang berkencan itu harus bergandengan tangan!"

Donghae hanya mengerjab begitu diberi tahu. Melihat wajah sebal dengan pipi merah Hyukjae, masih menyodorkan tangannya minta digandeng.

Perlahan alien itu mendekati manusia itu, dan Hyukjae tak bisa menahan senyumnya saat akhirnya merasakan jemari hangat Donghae yang menyusup di sela-sela jemarinya.

"Kajja! Kita makan!"

Letnan itu menggandeng Donghae dengan begitu riang meninggalkan tempat itu tak peduli tatapan orang-orang. Mereka memutuskan makan disalah satu restoran masakan Korea. Memesan ruang VIP agar Donghae bisa leluasa melepas atributnya tanpa orang lain bisa melihat kulit birunya.

"Aaa!"

Iris biru gelap itu melihat gulungan selada yang sudah diisi daging dan bumbu ditangan Hyukjae. Dengan ragu ia membuka mulutnya hingga Hyukjae leluasa menyuapinya. Wanita itu tersenyum bahagia saat Donghae mengunyah selada isi dagingnya.

"Bagaimana, kau bersenang-senang hari ini?"

"Letnan Lee Hyukjae bukankah yang kita lakukan ini sangat beresiko. Aku yakin jika manusia lainnya mengetahui sosokku yang sebenarnya pasti akan terjadi keributan. Kurasa kau juga dilarang melakukan semua ini."

Jawaban Donghae membuat senyum Hyukjae luntur begitu saja. Alien satu ini masih begitu hoby menghancurkan moodnya.

"Kau hanya perlu menjawab 'Ne, aku sangat senang hari ini' begitu! Tidak usah membahas hal seperti itu saat berkencan." Dengan sebal Hyukjae mengunyah seladanya, tak tahu bahwa Donghae memperhatikannya sejak tadi.

Wanita itu sudah akan mengambil selada lagi saat tiba-tiba saja Donghae menyodorkan gulungan selada isi kearahnya. Hyukjae terdiam melihatnya, iris hitamnnya melihat Donghae yang masih diam menunggunya menerima suapan alien itu. Tiba-tiba saja pipi wanita itu memerah sebelum perlahan membuka mulutnya untuk menerima selada suapan Donghae.

Senyumannya yang kembali merekah tak terlewat dari pengamatan Donghae. Perlakuan alien ini cukup manis meski selada isi buatannya sedikit terlalu banyak bawang. Tapi bukan itu yang terpenting.

Kepedulian Donghae sudah cukup untuk membuat Hyukjae bahagia saat ini.

Setelah makan mereka memutuskan berjalan-jalan di jajaran toko-toko pusat kota Seoul. Membeli ace cream, popcron caramel, dan kembang gula. Mencoba beberapa permainan hingga membeli pakaian. Melakukan hal-hal seperti pasangan normal lainnya hingga malam datang tanpa terasa.

Hyukjae merentangkan tangannya saat mereka akhirnya bisa duduk di rerumputan taman pinggir sungai itu. Menarik nafas panjang sebelum melihat sekeliling mereka yang terlihat sepi, hanya segelintir orang lewat. Mereka memang sengaja mencari tempat yang jauh dari kerumunan orang demi kenyamanan Donghae. Duduk melihat langit malam di tamam pinggir sungai itu.

Akan ada pertunjukan kembang api sebentar lagi, dan Hyukjae berencana menontonnya disini bersama Donghae.

Wanita itu mendongak melihat langit malam musim panas yang penuh akan bintang.

"Donghae, dimana kira-kira planetmu berada?" Jari pucat itu menunjuk langit sambil melihat alien di sampingnnya.

"Planet kami berjarak dua puluh tahun cahaya dari bumi, sangat mustahil jika dilihat dari tempat ini."

Hyukjae hanya tersenyum mendegar jawaban ilmiah Donghae. Alien ini masih saja kaku, dia bisa asal menunjuk salah satu bintang agar suasana diantara mereka lebih romantis, tapi mana mungkin Donghae mengerti semua itu. Jadi sudahlah.

"Ceritakan lebih banyak tentang planetmu, Donghae."

"Tidak ada yang istimewa, sama seperti bumi hanya teknologi kami lebih canggih."

"Kalian juga memiliki satelit alami seperti bulan?"

"Ya, ada dua satelit alami di planet kami."

"Ada matahari juga disana?"

"Ya."

"Apa yang biasa kau lakukan disana?"

"Mungkin seperti manusia, bekerja."

"Apa pekerjaanmu?"

"Peradilan dewan tinggi."

Dahi Hyukjae mengernyit karena tak mengerti istilah pekerjaan Donghae, jadi wanita itu tak bertanya lebih lanjut.

"Apa yang paling kau sukai di planetmu, Donghae?"

Pertanyaan itu membuat Donghae terdiam.

Apa yang dia sukai?

Selama ini ia tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Ia hanya menjalani hidup sesuai sistem yang berjalan diplanetnya, seperti orang-orang diplanetnya. Mereka tak sampai memikirkan hal-hal seperti itu. Sebuah pemikiran bebas khas manusia yang begitu bertolak belaka dengan budaya planetnya.

"Donghae?"

Iris biru gelap itu kembali melihat iris hitam Hyukjae saat panggilan halus itu terdengar. Tak ada respon dari Donghae atas pertanyaannya membuat Hyukjae khawatir. Apa ia menanyakan hal yang salah?

Suara kembang api yang meledak dilangit memutus perhatian mereka. Melihat langit kota yang kini dihiasi warna warni kembang api yang begitu mempesona. Donghae kembali melihat wanita manusia di sampingnnya. Hyukjae terlihat begitu terperanggah karena kagum dengan pertunjukan kembang api didepannya. Wajah putihnya berpedar oleh cahaya warna-warni dilangit.

Wanita itu juga melihat kearahnya, tersenyum begitu lembut padanya membuat Donghae merasakan sensasi aneh ditubuhnya.

Letnan itu perlahan mendekat padanya, menyandarkan kepalanya di pundak Donghae sambil melihat kembang api dilangit kota.

Tanpa tahu iris biru gelap itu terus melihatnya. Tanpa tahu alien itu tengah merasakan hal yang meletup-letup didalam dadanya karena rasa nyaman akan kehadirannya.

Tanpa tahu ia berhasil membuat Donghae merasakan rasa hangat yang menjalar diseluruh ditubuhnya.

.

.

.

Kyuhyun mempercepat langkah kakinya menuju ruang pertemuan utama departemen atariksa. Ada panggilan darurat yang mengharuskan para doktor dan profesor berkumpul, dan firasat Kyuhyun mengatakan ini bukan hal baik.

Doktor itu segera duduk di salah satu kursi saat ruangan itu perlahan mengelap.

"Ada apa sebenarnya ini?" Sungmin bertanya padanya dengan raut khawatir.

"Aku tidak tahu, sayang. Kita dengarkan saja. Semoga bukan hal buruk." Meski Kyuhyun juga ragu.

"Sebelumnya kami ingin memberitahukan bahwa satelit pengawas kami sempat kehilangan objek asing didekat cincin Saturnus yang sebelumnya kami temukan."

"Benda sebesar itu menghilang? Bagaimana bisa?!" Salah satu profesor itu bertanya tak percaya.

"Ya, kami pikir begitu pada awalnya sebelum satelit kami menangkapnya kembali."

Kini layar besar itu terdapat gambar objek besar tak jelas yang berada begitu dekat dengan Mars.

Semua orang disana hampir berdiri dari duduknya karena begitu terkejut.

"Kami tidak tahu bagaimana caranya, tapi objek asing itu menghilang tiba-tiba hanya untuk muncul kembali dan sudah memasuki orbit mars."

Orbit mars, berati semakin dekat dengan bumi.

"Dengan waktu sesingkat ini? Bagaimana mungkin?!"

"Itulah yang menjadi masalah sekarang. Dan kami pikir akan lebih baik jika kita memastikan para tamu alien kita tetap dibawah pengasan ketat sampai kita tahu apa yang sebenarnya terjadi dan objek apakah ini."

Kyuhyun mengusap wajahnya frustasi, melihat wajah Sungmin yang juga tak jauh beda. Ini benar-benar kasus serius.

Kasus serius yang belum pernah terjadi sebelumnya.

.

.

.

Donghae duduk di karpet ditengah kamarnya, melihat gambar hologram didepannya. Disana ada objek besar didekai planet orange tetangga bumi. Tak ada yang tahu apa yang ia pikirkan sekarang, tak ada yang tahu apa yang sedang berjalan diotaknya sekarang.

Ketokan pintu itu membuat cangkang bola itu tertutup dan otomatis hologram itu menghilang.

"Donghae?" Ada Hyukjae di sana, membuka pintu melihat kearah Donghae yang mendongak menatapnya.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Wanita itu memasuki kamar gelap itu. Ia tak tahu bahwa Donghae tengah menatapnya dengan tak biasa.

Manatap iris hitam seperti langit malam itu.

Alien itu mengulurkan tangannya.

"Kemarilah."

Hyukjae bingung menatap tangan biru yang terulur padanya. Sebelum akhirnya menyambutnya, membiarkan Donghae perlahan menuntunnya untuk ikut duduk diatas karpet. Tepat duduk depan alien itu. Jantung Hyukjae berdetak sangat kencang saat merasa punggungnya menyentuh dada hangat Donghae. Bahkan ia menggigit bibirnya sendiri saat merasakan hembusan nafas alien ini di tengkuknya.

Donghae mengulurkan tangannya didepan, membuat gelang hitamnya menyala dengan segaris warna biru disudut.

Hyukjae sedikit terkejut saat bola besi yang baru ia sadari keberadaannya membuka cangkannya dan mengeluarkan sinar.

Iris hitam itu terbelalak saat melihat sekitarnya. Bagaimana kamar gelap ini kini penuh akan jutaan bintang yang berpedar. Ini seperti proyektor tiga dimensi namun dengan ketajaman warna yang luar biasa hingga membuat Hyukjae merasa ada ditengah ruang angkasa, sebuah teknologi yang luar biasa.

"Donghae ini ..."Hyukjae benar-benar kehabisan kata-kata.

"Ini adalah peta luar angkasa yang kami miliki. Semuanya persis seperti aslinya namun dengan skala yang lebih kecil."

Iris hitam itu tak percaya saat melihat planet bumi sebesar genggaman tangan tepat didepannya. Wanita itu tersenyum begitu kagum.

"Kau bertanya dimana letak planet kami bukan, akan kutunjukan."

Tangan Donghae terulur, lalu bergerak membuat proyektor tiga dimensi itu mengikutinya. Seperti melakukan perjalanan luar angkasa dengan kecepatan cahaya, ini lebih hebat dari yang sudah digambarkan difilm-film yang Hyukjae tonton.

Hologram itu berhenti bergerak, memperlihatkan sebuah galaksi yang indah dengan dominasi warna yang beragam. Tangan Donghae perlahan mengepal membuat galaksi itu seperti ter-zoom hingga akhirnya berhenti dan memperlihatkan sebuah planet dengan dua satelit alami mengelilinginya.

"Ini adalah Aaron. Tempatku berasal. Planet kami."

Planet ini begitu mirip dengan bumi, mungkin akan terlihat kembar jika Hyukjae tak melihat kontur daratannya yang jelas berbeda. Sama seperti bumi ada dominasi biru lautan meski tak ada awan apapun yang mengelilinginya. Di samping planet itu terdapat dua satelit alami, yang satu berukuran sangat kecil sedangkan satu lagi hampir sama dengan ukuran planetnya.

"Kami adalah planet ke empat dijajaran galaksi. Seperti bumi, planet kami satu-satunya yang berpenghuni digalaksi kami."

"Planetmu sangat indah Donghae." Puji Hyukjae saat melihat kerlipan cahaya yang lebih terang dari bumi di daratan planet itu. Menandakan kemajuan kota palnet ini jauh ketimbang di bumi.

"Ukuran planet kami 50% lebih besar dari bumi."

"Benarkah? Jadi satu hari terasa lebih lama disana dari pada di bumi?"

"Ya. Sekitar 36 jam jika dibumi."

Hyukjae segera berbalik melihat wajah Donghae.

"Bagaimana kehidupan disana?"

"Sudah kukatakan tak ada yang istimewa, kami hanya terlalu maju."

"Oh, sayang sekali."

Entah kenapa Donghae merasa tak senang melihat wajah kecewa Hyukjae.

"Tapi kami memiliki sebuah air tejun melingkar yang bisa berubah warna." Binar ceria itu kembali di iris hitam Hyukjae saat mendengar perkataan Donghae.

"Setiap tahun warnanya akan berganti sesuai warna langit. Warnanya begitu lembut namun begitu kuat disaat bersamaan."

Iris biru gelap itu menatap Hyukjae begitu dalam.

"Seperti dirimu, Letnan Lee Hyukjae."

Perkataan itu membuat wanita itu terdiam. Dapat ia rasakan tangan hangat Donghae menyentuh rambut di pelipisnya, menyingkirkan anak rambut itu dari wajah wanita manusia didepannya ini.

Semua jadi terlupakan.

Perlahan alien ini mendekat dengan sorot mata yang begitu fokus menatap bibirnya membuat wanita ini hampir menahan nafasnya. Namun Donghae berhenti saat hidung mereka bersentuhan. Hyukjae tahu alien ini ragu dan bingung dengan yang ia rasakan. Wanita ini perlahan mendekat, tetap menjaga agar bibir mereka tak bersentuhan sebelum berbisik begitu lirih.

"Hanya ikuti instingmu, Donghae."

Iris biru itu sempat kembali bertemu dengan milik Hyukjae sebelum akhirnya laki-laki alien ini menghapus jarak mereka. Mempertemukan bibir mereka dengan cara yang begitu lembut.

Ciuman pertama yang dimulai oleh Donghae.

Perlahan Hyukjae mulai bergerak, menuntun Donghae agar bisa menciumnya dengan benar. Menggigit bibir bawahnya hingga ia bisa menyusup di hangat mulut Donghae.

Rasanya sangat aneh, Donghae merasa kepalanya pening saat lidah Hyukjae bergerak dalam mulutnya membuatnya semakin memejamkan matanya erat.

Meski bingung Donghae perlahan mengimbangi wanita ini. Mengikuti Hyukjae saat Letnan ini mengudangnya memasuki mulutnya. Merasakan manis serta hangat wanita ini dengan lidahnnya sendiri sebagaimana yang Hyukjae lakukan padanya.

Meraupnya seperti tak ada hari esok karena tak pernah merasa cukup. Ada sesuatu dalam dirinya yang ingin sekali menguasahi wanita ini. Ingin memilikinya.

Sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan.

Kontak itu terputus. Menyisakan keduanya yang terengah dengan iris yang saling menatap satu sama lain. Melihat refleksi bayang mereka tepat dibola mata masing-masing.

Saat Donghae kembali menciumnya dengan seluruh dominasinya kali ini, Hyukjae sama sekali tak keberatan. Ia melingkarkan lengannya di leher alien itu, memeluknya erat. Ingin ciuman mereka melelehkan tubuh mereka.

Merasakan manisnya pujaan hati ditengah jutaan bintang yang mengelilingi mereka.

.

.

.

TBC

Nggak! Enggak bobo bareng! kalian ini yadong semua hahaha.

Bagi yang merasa reviewnya gak muncul kemarin jangan panik, review kalian masuk semua kok coba aja dicek lagi. Ffn emang gitu suka error dan meng-hiding beberapa review selama beberapa hari tapi akan balik normal kembali kurang lebih 3 ampe 4 hari. Udah sering begini soalnya tapi aku juga gak tahu apa sebabnya.

So, tinggal dua chapter lagi kawan! Aku harap chap ini semakin jelas buat kalian dan gak ngecewain ya hehe

See u next chapter

Special thanks: lovehyukkie19, senavensta, Amandhharu, Aura57, DNE1986, eunhaehyuk44, sweetgalaxy, TaeTae-Track, HAEHYUK IS REAL, isroie106, Kei Tsukiyomi, Lim Yeon Gi Jewels, lusianti, Elfishy09, Nhac3ss, Guest, KimziefaELF, Tina Kwonlee, FN.