.
.
.
Wanita itu mulai bergerak dalam tidurnya, matanya perlahan terbuka karena kesadarannya mulai terkumpul. Senyum Hyukjae merekah saat wajah tidur Donghae yang pertama ia lihat begitu membuka mata. Begitu damai, seperti anak-anak.
Dapat ia rasakan tangan hangat alien ini merengkuhnya kuat, seakan takut lepas sedikit saja maka Hyukjae akan melarikan diri. Kerasnya karpet tempat mereka berbaring sudah tak Hyukjae rasakan lagi karena hangat tubuh Donghae yang mengelilinginya sejak semalam. Begini seharian pun Hyukjae tak keberatan.
Memajukan wajahnya, wanita ini mencuri satu kecupan di bibir tipis alien itu. Ia terkikik pelan saat melihat dahi Donghae mengernyit karena merasa terganggu. Tapi alien ini tak bangun, justru bergerak dalam tidur semakin mengeratkan pelukannya. Membuat tubuh keduanya menempel semakin erat dengan wajah Hyukjae yang tenggelam dilehernya. Tersenyum senang, Letnan ini balas memeluk tak kalah erat.
Rasanya menyenangkan. Adanya Donghae disisinya terasa begitu menyenangkan.
Wanita ini memejamkan matanya lagi, berencana tidur lebih lama lagi kalau saja telinganya tak menangkap suara benda jatuh di dekatnya.
Matanya berubah horor saat menengok ke sumber suara.
Oh tidak!
Ada disana, tepat didepan pintu kamar itu sesosok wanita yang melihatnya dengan ekpresi shock luar biasa. Belanjaan yang wanita ini bawa sudah jatuh berserakan di lantai, dan Hyukjae semakin ketakutan saat ekspresi shock wanita itu berubah menjadi amarah luar biasa.
"LEE HYUKJAE!"
Habislah dia.
.
.
.
Stars
.
.
.
Pair: Haehyuk
.
Rate: T
.
Warning: GS/Romance/Fantasy Ilmiah
.
Summary: "Aku adalah milikmu, dan selamanya akan menjadi milikmu."
.
.
.
Heechul. Ibu satu anak ini tak berhenti memijat pelipisnya begitu Hyukjae selesai bercerita. Ini masih pagi tapi adik semata wayangnya ini sudah membuat tekanan darahnya naik hingga keubun-ubun. Tentu ia tahu negaranya dengan tidak masuk akal mengundang mahkluk asing ke negara mereka. Tentu ia juga tahu bahwa adiknya yang berpangkat Letnan ini ikut terlibat dalam proyek aneh itu. Ia hanya sama sekali tak menyangka bahwa Hyukjae akan membawa aliennya pulang.
Sama sekali tak menyangka akan melihat adegan tak menyenangkan di pagi hari yang harusnya cerah ini.
Hyukjae sendiri hanya bisa duduk di kursi meja makan dengan menunduk takut-takut. Ia benar-benar lupa jika ini akhir bulan yang berarti nenek sihir satu ini akan datang mengunjunginya untuk memberinya bahan makanan mengingat ia wanita karir yang sibuk. Dan ia juga benar-benar lupa saudara perempuannya ini selalu datang pagi-pagi sekali.
"Onnie harusnya menelphon dulu jika ingin datang."
"Kenapa memangnya? Supaya kau bisa siap-siap dulu begitu?! Supaya tidak ada yang tahu kelakuanmu itu, begitu!"
Pelototan dari mata kucing itu membuat nyali Hyukjae menciut. Ia lebih memilih dimarahi atasannya ketimbang wanita didepannya ini.
"An-annya, hanya saja aku kan juga punya privasi."
Alasan itu langsung mengundang pukulan bertubi di pundak dan punggunya. Hyukjae lupa selain galak kakaknya ini juga ganas.
"Onnie! AH-sakit!"
"Lihat kelakuanmu itu, heh! Masih untung aku yang melihat! Coba jika ibu atau ayah, mereka akan terkena serangan jantung!"
"Aish, berhenti memukulku! Aku sudah tiga puluh tahun! Aku tahu apa yang benar dan salah, jadi tidak usah berlebihan!"
"Berlebihan katamu?! Justru karena kau sudah tiga puluh tahun, bagaimana bisa kau membawa orang asing kerumah lalu tidur bersama begitu! Ka-tunggu dulu."
Mata kucing itu membulat saat sebuah pemikiran memasuki otaknya. Dengan panik ia memegangi pundak Hyukjae agar menatapnya.
"Kau tidak mengencaninya, kan?"
Pertanyaan itu itu membuat Hyukjae terdiam sebelum menunduk tak berani menjawab ataupun melihat kakaknya. Tentu saja responnya itu membuat Heechul menatapnya horor, Heechul tahu jawabannya. Wanita satu anak itu sudah akan kembali berteriak marah kalau saja tak merasakan tekanan darahnya yang naik menyakitkan, membuatnya memegangi tengkuknya menahan sakit.
Ya Tuhan adiknya sudah gila!
"Onnie gwencana?"
Kekhawatiran Hyukjae hanya dibalas dengan tatapan tajam kakaknya sebelum lagi-lagi ia diserbu pukulan bertubi dari Heechul.
"Dasar gadis bodoh! Bagaimana mungkin kau mengencaninya! Dimana otakmu!"
"Ah! Onnie- aduh! Ampun, sakit!"
"Demi Tuhan dia itu biru, Hyukjae! BI-RU!"Mulut Heechul langsung dibungkam oleh adiknya.
"Jangan keras-keras!"
Hyukjae dengan cemas melihat ke pintu kaca jauh disana. Ada Donghae di sana duduk diteras belakang, alien itu dengan tenang melihat keponakannya yang sedang bermain dengan anjing barunya. Dengan kasar Heechul mendorong tubuh adiknya agar menyingkir darinya.
"Biar saja dia dengar, biar alien itu sadar bahwa kalian benar-benar berbeda!"
"ONNIE!"
Bentakkan Hyukjae itu kontan membuat Heechul bungkam. Hyukjae tak suka jika ada yang menyinggung masalah itu. Tidak bisakah orang lain membiarkannya saja?
Kedua wanita ini menarik nafas mereka dalam-dalam, berusaha menjernihkan pikiran mereka. Keduanya sama-sama keras kepala. Perdebatan mereka tak pernah berujung kesepakatan karena keduanya sama-sama sekeras batu.
Iris hitam wanita satu anak itu kembali melihat Hyukjae. Heechul sangat mengenal Hyukjae luar dalam. Hal seperti ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Adiknya ini sedari dulu benar-benar mempunyai kebiasaan buruk soal asmara. Hyukjae cenderung menyukai seseorang yang seharusnya tak boleh ia sukai. Saat SMU ia pernah menyukai guru seninya, saat di akademi militer ia juga pernah menyukai kekasih temannya sendiri.
Hyukjae selalu menyukai orang yang salah. Dan yang lebih mengkhawatirkannya lagi, Hyukjae cenderung tak peduli setelahnya. Apapun keadaannya jika ia menyukai seseorang maka ia akan menyukainya. Bahkan jika semua orang menyalahkan tindakannya, ia tak akan peduli.
Tak heran asmara anak ini tak ada yang berjalan mulus. Ia sering patah hati tanpa sempat memulainya. Gadis malang.
Dan sekarang tiba-tiba saja adiknya ini mengencani alien! Jika Heechul tak memiliki mental yang kuat mungkin ia sudah pingsan sedari tadi.
"Aku bukan anak kecil ataupun orang bodoh. Aku tahu apa yang aku lakukan, aku juga tahu segala konsekuensinya. Jadi onnie tak usah ikut campur."
See? Hyukjae tak akan peduli apapun.
Heechul meredakan amarahnya sebelum berjalan ke dapur membuka belanjaannya dan mulai mengeluarkan beberapa bahan makanan yang ia bawa.
"Terserah padamu."
Percuma bicara padanya, percuma memarahinya, percuma juga memukulinya. Yang bisa Heechul lakukan hanya membiarkannya, membiarkan Hyukjae merasakan sendiri akibatnya. Kejam memang, tapi adiknya itu tak akan belajar jika tak menderita. Tak akan berfikir jernih sebelum keadaan memojokannya.
Iris hitam Hyukjae hanya melihat nyalang pada kakaknya yang mulai memasak. Ia tahu Heechul hanya mengkhawatirkannya. Ia juga tak menyalahkan tindakan ataupun ucapan kakaknya. Hyukjae hanya tak ingin memikirkan semua hal itu sekarang.
Letnan itu menghela nafas sebelum berjalan meninggalkan dapur berjalan keteras belakang. Menggeser pintu kaca membuat Donghae melihat kearahnya. Wanita itu tersenyum lemah sebelum duduk tepat disebelah alien itu, ikut melihat keponakannya yang berlari-lari dihalaman belakang bersama anjing putih kecil yang mengikutinya.
Hyukjae tak mulai bicara, ia hanya diam karena kecemasan yang melandanya. Tentang perkataan kakaknya yang seakan mencoba mengingatkan Hyukjae akan hal yang ingin ia lupakan. Bahwa Donghae begitu berbeda darinya, bahwa mereka bahkan tak hidup ditempat yang sama.
"Dia begitu kecil."
Ucapan Donghae itu membuayarkan pikiran Letnan itu, membuat Hyukjae melihat kearah alien itu. Donghae begitu fokus melihat keponakannya yang masih berumur empat tahun. Tatapan Donghae seakan-akan keponakannya itu adalah makhluk langka.
"Kau belum pernah melihat anak kecil sebelumnya?"
Donghae menggeleng.
"Seluruh bayi yang baru lahir akan diurus oleh devisi khusus. Mereka akan diperlakukan secara setara hingga dewasa dan siap membaur dengan masyarakat umum sehingga hampir mustahil melihat anak kecil berkeliaran disekitar kami."
"Maksudmu, anak-anak disana tak dibesarkan oleh orang tua mereka sendiri?"
"Ya."
"Kenapa? Itu terdengar kejam untuk anak mereka."
Donghae tak langsung menjawabnya. Selama ini ia sendiri bingung hal ini termasuk kemajuan atau justru kemunduran untuk bangsangnya.
"Kami terlalu sibuk untuk mengurus seorang anak, taraf hidup di planet kami sangat tinggi. Jangankan menyisihkan waktu untuk hal-hal seperti itu untuk tidur saja kami harus mengaturnya seminimal mungkin."
Tak ada yang bisa Hyukjae katakan mengenai hal itu. Mungkin planet Donghae memang memiliki banyak kelebihan tapi selayaknya bumi planet itu juga memiliki banyak sekali kekurangan menurutnya.
"Henry-ah!" Bocah empat tahun itu lekas menengok saat Hyukjae memangilnya, dengan tawa ceria anak itu segera berlari kearah Hyukjae yang melambai padanya.
"Hyukkie Immo!"Serunya saat Hyukjae menangkap tubuhnya, membuat Letnan itu dengan gemas menciumi pipinya.
"Kau punya teman baru? Kenapa tak mengenalkannya pada Immo?" Pertanyaan Hyukjae menjurus pada anjing kecil berwarna putih yang kini berputar-putar di sekitar mereka.
"Namanya Yuki."
"Ya! Kenapa namanya terdengar sama dengan Immo?!" Bocah itu tertawa saat Hyukjae menggelitikinya.
"Umma bilang dia mirip Immo jadi diberi nama Yuki." Aish, kakaknya itu kenapa menyamakannya dengan anjing?!
"Immo juga punya teman baru, kenapa tidak mengenalkannya padaku?"
Jari mungil itu menunjuk Donghae yang sedari tadi melihat mereka dengan penuh minat. Hyukjae baru ingat ia belum mengenalkan Donghae pada keponakannya.
Bocah ini sendiri sebenarnya sudah penasaran sejak pertama melihat bentuk tak biasa Donghae yang mengingatkannya pada salah satu tokoh animasi faforitnya, hanya saja ia tak berani menyapa karena selalu ingat dengan petuah ibunya yang melarangnya bicara dengan orang asing.
"Henry-ah, kenalkan ini Donghae Samchon."
"Donghae Samchon?"
Hyukjae mengangguk saat bocah ini menirukan ucapannya.
"Ayo berikan pelukan selamat datang pada Donghae Samchon, sayang."
Donghae begitu terkejut saat bocah manusia itu langsung melompat kearahnya. Memeluknya begitu erat sambil tertawa-tawa. Membuatnya merasakan tubuh dengan tulang kecil dan kulit kenyal itu, membuatnya dapat mencium aroma khas anak-anak. Sesuatu yang pertama kali ia rasakan.
Senyum Hyukjae terukir saat melihat Henry yang menarik-narik telinga runcing Donghae sambil terkekeh. Iris biru gelap alien itu terlihat begitu kagum malihat keponakannya meski sesekali meringis karena Henry terlalu kuat menarik telingannya. Bahkan kedua tangan besar Donghae begitu erat menjaga tubuh Henry agar tidak jatuh meski masih terlihat begitu kaku. Membuatnya aman.
Begitu normal.
Donghae terlihat selayaknya manusia normal lainnya dimata Hyukjae sekarang. Membuat wanita ini kembali membangun kepercayaannya. Kembali yakin bahwa tak ada yang salah dengan semua ini.
Kembali percaya bahwa segalanya akan baik-baik saja.
.
.
.
"Untuk saat ini jumlah populasi manusia mencapai tujuh miliyar lebih. Dan untuk hal ini kami tetap mengupayakan memberi ruang hidup bagi hewan dan tumbuhan sebagai upaya pemeliharaan sumber daya alam kami."
Terlihat beberapa gambar dilayar besar ruang pertemuan itu.
"Saat ini juga banyak sekali upaya pemberian edukasi kepada masyarakat luas untuk lebih peduli tentang alam. Khusus untuk negara kami sendiri hal ini mendapatkan respon positif. Banyak sekali kegiatan-kegiatan pecinta alam yang melibatkan masayarakat luas tanpa campur tangan pemerintah. Hal membuktikan bahwa sudah meningkatnya kesadaran dari masyarakat dan dilansir akan-"
"Percuma."
Sungmin melihat Yonna berhenti menerangkan saat alien wanita didepannya ini tiba-tiba saja memotong.
"Anda mengatakan sesuatu?"
"Percuma, segala upaya kalian hanya berakhir sia-sia."
Yonna dan Sungmin saling bertukar pandang sebelum kembali melihat alien wanita tanggung jawab mereka itu. Jujur saja mereka tak mengerti maksud alien ini.
"Spesies yang terlalu mendominasi dan tak seimbang hanya akan merusak tatanan kehidupan yang ada. Kalian mengatakan menyediakan ruang untuk mahkluk hidup lain namun pertumbuhan kalian para manusia tak terkontrol, itu sama sekali tak masuk akal."
"Tapi kami mencoba menekannya, bahkan dinegara maju planet kami angka kelahiran sangat sedikit."
"Yang kami lihat manusia yang menguasahi planet ini. Menfaatkan apa yang ada diplanet kalian tak peduli dampak yang ditimbulkan."
Yonna dan Sungmin bungkam tak bisa menjawab. Jujur saja ini topik sensitif yang memang belum ada jalan keluar terbaik hingga saat ini.
"Tak pernah terpikirkankah kalian jika jalan satu-satunya permasalah ini adalah mengurangi yang mendominasi."
Kedua wanita manusia itu terdiam. Maksud alien ini apa?
"Bukan hanya kalian mahkluk hidup di planet ini, lalu kenapa kalian mengistimewakan diri kalian? Kalian mengurangi jumlah mahkluk hidup lain, bukankah itu berarti mahkluk hidup lain diplanet ini bisa menuntut hal yang sama?"
Wanita alien itu menatap manusia didepannya. Merendahkan mereka karena begitu terbelakangnya spesies ini menurutnya.
"Kalian tak bisa hidup tanpa mahkluk hidup yang lainnya, tapi mahkluk hidup lainnya bisa hidup dengan baik tanpa kalian."
.
.
.
Kepala Hyukjae muncul dibalik tembok. Iris hitamnnya melihat awas sekitarnya memastikan semua aman.
"Letnan Lee?"
Sontak Wanita itu terlonjak kaget saat seseorang memegang pundaknnya, bisa ia lihat salah satu sersannya kini tepat dibelakangnya melihat dengan sorot mata keheranan.
"Astaga kau mengagetkanku, Sersan Choi!"
"Apa yang sedang anda lakukan Letnan? Ruang pertemuan disebelah sana, alien anda menunggu anda disana."
Minho menunjuk lorong yang mengarah ke selatan, mengarah ke ruangan utama devisinya yang biasa digunakan untuk pertemuan dengan para alien itu. Sersan itu melirik bungkusan dikedua tangan Letnannya itu, membuat Hyukjae yang menyadarinya segera menyembunyikannya dibalik punggung.
"Itu apa, Letnan Lee?"
"Bukan apa-apa. Sudah sana kembali bertugas!"
Minho hanya mengangguk mengiyakan namun saat ia akan meninggalkan tempat itu Hyukjae kembali memanggilnya.
"Apa Doktor Cho sudah datang?"
"Belum, Letnan. Setahu saya Doktor Cho akan datang sedikit terlambat karena harus mengurus sesuatu didepartemen atariksa. Anda bisa memulainya dulu."
Senyum lembar wanita itu terukir begitu mendengar penjelasan sersannya. Dengan tingkah laku terlalu ceria ia menepuk pundak Minho lalu berjalan meninggalkan sersan itu keheranan.
Hyukjae membuka pintu pertemuan itu, binar bahagia terlihat di iris hitamnnya saat melihat Donghae sudah duduk tenang di ruang pertemuan sendirian menunggunya. Dengan lincah Letnan itu duduk dikursi sebelah Donghae, memamerkan senyumnya kepada laki-laki alien
itu.
"Bagaimana tidurmu semalam?" Tanya wanita itu ceria meski Donghae hanya mengerjab menatapnya tak menjawab.
"Kau pasti merindukanku kan?"
Jemari itu menusuk-nusuk pipi Donghae pelan. Sejujurnya dia yang merindukan Donghae. Sejak dua hari yang lalu tiba-tiba saja departementnya memintanya segera membawa kembali aliennya ke pusat. Hal itu membuat Donghae tak lagi menginap dirumahnya dan kembali seperti sedia kala, membuat Hyukjae harus menjaga jarak keduanya karena banyak mata yang melihat. Jujur saja itu menyiksa, dan meski mereka tetap berada di gedung yang sama entah kenapa Hyukjae merasa tak sama.
"Kenapa kau suka sekali membuang-buang waktu Letnan Lee Hyukjae? Ini sudah lewat 23 menit tapi kalian belum memulainya sesuai jadwal yang kalian berikan."
Hyukjae cemberut saat Donghae melancarkan aksi perusak suasananya, namun itu tak berlangsung lama saat senyum manis Letnan itu kembali terukir. Ia mendekat pada alien itu lalu berbisik pelan.
"Hari ini, kita membolos saja."
Tentu saja perkataannya mengundang kebingungan alien didepannya.
"Kita tak usah melakukan hal-hal yang sudah dijadwalkan dan membolos saja, bagaimana?"
Baru Donghae akan membuka mulutnya saat tiba-tiba saj Hyukjae membungkannya dengan tangan pucat wanita itu. Pintu ruang pertemuan yang terbuka membuat telinga Hyukjae dapat menangkap suara Kyuhyun yang berbicara dengan seseorang di luar.
Dengan panik Letnan itu segera menarik tubuh alien itu agar bersembunyi di bawah meja. Memaksa kepala Donghae masuk kesela meja hingga membuat kepala alien itu terbentur cukup keras. Tepat saat Kyuhyun masuk, semuanya terkamuflase dengan benar.
"Di mana alien kita?"
"Captain Kim membawanya, katanya akan ada diskusi serius antara mereka."
"Kalau begitu kita harus segara menyusl mereka, aku harus-"
"JANGAN!"
Kyuhyun begitu terkejut saat Hyukjae berteriak begitu keras padanya. Letnan itu segera menormalkan ekspresi wajahnya kembali agar Kyuhyun tak curiga.
"Itu adalah pertemun antar captain dan jenderal, jadi... jadi kita tak diperbolehkan ikut."
Dahi Doktor itu mengernyit saat mendengar penjelasan Hyukjae yang aneh. Setahunya mereka adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas alien itu, sangat aneh jika mereka tak diperbolehkan ikut.
"Captain sendiri yang mengatakannya, katanya mereka akan menghadap presiden dalam waktu dekat jadi banyak yang perlu dipersiapkan." Tambah Hyukjae saat melihat gurat ketidak percayaan Kyuhyun atas ucapannya.
"Baiklah, segera hubungi aku jika mereka sudah kembali."
"Ya, tentu saja."
Iris hitam itu memastikan Kyuhyun benar-benar meninggalkan ruangan itu sebelum melihat Donghae dibawah meja. Alien itu mengusap belakang kepalanya yang terbentur cukup keras dengan kayu meja yang tebal.
"Sakit sekali ya? Maafkan aku."Hyukjae ikut mengusap-usap kepala Donghae.
Meski meminta maaf nyatanya wanita itu sempat tertawa geli saat melhat raut kesakitan Donghae yang begitu aneh. Ia segera membantu alien itu keluar dari persembunyian bodoh yang diusulkannya untuk meninggalkan ruangan itu sebelum Kyuhyun melihat mereka.
Sudah Hyukjae katakan mereka akan membolos hari ini.
.
.
.
Ini adalah kebun utama ditengah-tengah bangunan itu, fungsinya yang digunakan sebagai penelitian membuat tumbuhan disana tertata begitu rapi menyerupai taman kota dengan danau buatan di tengahnnya. Tempai ini begitu luas dengan dominasi pandang rumput dan pohon besar, namun meski begitu sinar matahari musim panas tetap leluasa masuk menghangatkan udara.
"TARA!"
Hyukjae menodorkan bingkisan yang ia bawa berupa setepak potongan gulungan telur dadar di hadapan Donghae. Mereka ada di punggir danua, duduk beralaskan kain di rumput hijau dekat salah satu pohon rindang di tempat itu. Hari yang cerah untuk makan siang bersama di alam bebas.
"Aku membuatnya dengan sedikit garam, jadi tak akan terlalu menyengat dilidah."
Wanita itu menaruh sekotak penuh telur dadar itu diantara mereka sebelum membuka tepak-tepak lainnhya yang ia bawa. Ada nasi, kimbab, buah, dan biskuit untuk pencuci mulut. Wanita ini bahkan membawa termos kecil berisi susu hangat untuk mereka. Benar-benar beniat pikni.
Keduanya makan dengan lahap. Hyukjae memastika Donghae menghabiskan seluruh makannya tentu saja, meski sesekali dengan sedikit paksaan.
"Letnan Lee Hyukjae."
"Ya?"
"Jangan lakukan hal seperti ini lagi."
"Mwo?"
Wanita itu berhenti dari kegiatannya mengemasi kembali tepak-tepak makananya yang telah kosong, melihat Donghae tak mengerti.
"Melanggar aturan seperti ini, jangan lakukan lagi. Pelanggaran seperti ini pasti akan menyulitkanmu di masa depan kelak. Sebuah kesalahan pasti akan ada konsekuensinya."
"Omo, kau sedang mengomeliku? Tinggal di bumi akhirnya mulai berdampak juga padamu." Wanita itu terkekeh lalu meminggirkan tumpukan bekalnya agar menyisakan tempat yang lebih lebar untuk keduanya. Wanita itu mengeluarkan ponselnya.
"Aku melanggar aturan semua karena salahmu juga."
"Kesalahanku?"
"Ne, seratus persen salahmu!"Jemari pucat itu menekan-nekan dada Donghae penuh tuduhan.
"Aku membolos karena tadi malam tak bisa tidur, aku tak bisa tidur karena terus memikirkanmu, aku terus memikirkan apa yang sedang kau lakukan sekarang sedang jarak kamar kita begitu jauh. Kau tahu betapa menyebalkannya hal itu?!"
Hyukjae semakin cemberut saat Donghae hanya melihatnya bingung. Mahkluk tak peka ini tentu saja tak mengerti maksudnya.
Bahwa dia hanya merindukan Donghae. Itu saja.
"Sekarang, kau harus bertanggung jawab dan temani aku tidur, ara!"
Hyukjae lekas mendorong tubuh Donghae agar merebah di alas kain dibawah mereka sebelum ia sendiri menempatkan diri berbaring tepat disebelah Donghae. Menjadikan lengan kuat alien itu sebagai bantal.
Hyukjae memasang headset disatu telinganya dan satu telingan Donghae. Itu adalah sebuah lagu lama milik Elvis yang dicover oleh seorang penyanyi wanita dengan suaranya yang serak namun lembut.
Kedua bola mata itu saling memandang. Mencoba mengintip isi hati dari jendela mata, mencoba menyerapi arti satu sama lain. Memperlihatkan pada Donghae sebanyak apa kasih sayang yang terpancar dari iris hitam wanita ini untuknya. Setulus apa hati Hyukjae untuknya.
Perlahan Hyukjae memejamkan matanya, merapat pada Donghae tanpa tahu iris biru gelap itu terus menatap pergerakannya. Membuat Donghae kembali merasakan desiran aneh yang menjalar menghangatkan tubuhnya saat mereka bersentuhan.
Angin berhembus menyapa kulit mereka, menggerakan anak-anak rambut wanita disampinngnya. Donghae bisa merasakan dan melihat ketenangan yang menyenangkan ini seakan-akan memenuhi dadanya hingga tak tertampung dan meluber keluar. Melihat Hyukjae yang sesekali berguman lirik lagu yang mereka dengarkan sambil bergelung hangat padanya di bawah sinar matahari yang mengintip dari sela dedaunan.
.
Wise men say only fools rush in
But I can't help falling in love with you
Oh shall I stay, would it be a sin
Oh if I can't help falling in love with you
.
Take my hand, take my whole life too
For I can't help falling in love with you
I can't help falling in love with you
.
.
.
Hologram itu begitu penuh akan gemerlapan warna merah yang menakutkan. Penuh akan gambaran nyata akan apa yang sebenarnya akan mereka lakukan.
Tujuan mereka sesungguhnya.
Bola mata alien wanita ini menatap dingin semua hal didepannya. Peradilan untuk para manusia. Takdir yang tak bisa mereka tolak akibat kesalahan mereka sendiri.
Dia akan mengirimkan ijin dan keputusan yang seharusnya sudah lama mereka lakukan tanpa membuang-buang waktu dengan semua hal ini.
Ia tak peduli jika tindakannya dinilai melangkahi derajatnya, bukan haknya. Namun ia sudah tak tahan lagi. Seseorang perlu melakukan ini karena waktu mereka terbuang sia-sia.
Alien wanita ini yakin ia melakukan hal yang benar. Sesuatu yang memang sudah seharusnya.
Saat ijin itu telah terkirim pada sang pemusnah maka keputusan telah didapat.
Hasil akhir bahwa manusia harus dileyapkan telah ditetapkan.
Akhir planet ini.
Akhir segalanya.
.
.
.
"Bisakah kita bicara sebentar?"
Donghae hanya bisa mengangguk pelan setelah mendiamkan Doktor itu cukup lama didepan ruangan khusus miliknya. Dua laki-laki berbeda spesies itu berjalan menuju tempat istirahat yang disediakan gedung ini untuk para prajurit dan lainnya melepas ketegangan dan penat.
Sebuah balkon raksasa yang penuh akan kursi dan meja serta fasilitas mesin makanan.
Kyuhyun menyodorkan kopi panas itu pada Donghae sebelum berdiri menyebelahi Donghae di pagar pembatas balkon tempat itu.
Di satu sisi Hyukjae mengendap memasuki kamar Donghae dengan kewenangannya. Kartu identitasnya memang bisa dijadikan kunci darurat untuk membuka ruangan khusus aliennya. Ia cemberut saat melihat Donghae tak ada disana. Dia sudah dengan susah payah mengendap-endap kemari tapi Donghae justru menghilang entah kemana.
"Apa Kyuhyun membawanya?"
Gumannya sambil masih mengedarkan pandangannya disekeliling tempat itu. Merasa percuma, Hyukjae melangkah akan meninggalkan tempat itu namun langkahnya terhenti saat bola aneh itu bersinar tiba-tiba menampakkan hologram diudara. Wanita itu berbalik melihatnya dengan kebingungan, ia nyakin tak meyentuh apapun disini.
Namun raut kebingunnya perlahan menghilang saat iris hitam itu melihat gabaran hal yang hologram itu paparkan di depan matanya.
"Aku lahir di kota pinggir laut negara ini, keluargaku hanya ada ayah ibu dan kakak perempuan tapi kami hidup bahagia selama ini."
Donghae hanya diam melihat manusia disampingnnya, masih belum mengerti arah pembicaraan Kyuhyun.
"Meski kehidupan di tempat ini tak ada yang menyenangkan dan mulus tapi kami semua tak membencinya. Itulah hidup, tak ada yang berjalan mudah. Namun setidaknya kami memili orang lain yang ada di sisi kita."
Kyuhyun melihat kearah alien didepannya.
"Aku tidak tahu apa tujuan kalian sebenarnya, tapi jika itu akan merugikan kami maka hentikan saja."
Angin malam itu berhembus mengisi keheningan yang tercipta.
"Banyak nyawa ada ditempat ini, banyak kehidupan yang terjadi. Tak semua dari kami hidup untuk diri kami sendiri, banyak dari kami hidup untuk orang lain. Mungkin cara hidup kami sedikit berbeda dengan kalian tapi setidaknya ikatan kami lebih kuat. Ikatan yang akan selalu memberi kesempatan hidup satu sama lain."
Ya, Donghae melihatnya sendiri. Sesuatu yang dimiliki manusia namun tak dimiliki oleh kaumnya.
"Aku mengatakan ini karena aku tahu kau sudah belajar banyak tentang kami. Kau tahu dengan jelas seperti apa kami, karena itu setidaknya cobalah lihat dari sudut pandang kami."
Sudut pandang manusia?
Donghae terdiam. Ia tak pernah mencobanya. Karena jujur saja manusia begitu rumit, hal-hal tentang mereka seperti tak memiliki batasan. Mereka bisa maju begitu jauh namun juga bisa mundur terlalu jauh, tak terduga dan tak bisa diprediksi.
Segala perkataan Kyuhyun terus terngiang dipikiran alien itu saat ia berjalan menuju ruangan khususnya.
Semua hal yang mengingatkannya kembali tentang peradilan, tentang tugasnya berada di tempat ini.
Tujuan sesungguhnya.
Namun segalanya terlihat samar sekarang. Keraguan mulai menguasahinya.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Pintu ruangan itu terbuka. Donghae terdiam saat melihat sosok wanita itu berdiri membelakanginya. Alien itu membeku saat melihat apa yang ada didepan mereka.
Kenyataan sebenarnya.
Perlahan wanita itu berbalik kearahnya. Sesuatu dalam dirinya terasa dihantam keras saat melihat iris hitam wanita ini melihatnya dengan sorot penuh akan kekecewaan.
Penuh akan rasa sakit.
Dan saat air mata mengalir dipipi pucat itu, seakan-akan segalanya kembali diingatkan bahwa sesungguhnya realita begitu kejam memutus segala kepercayaan yang ada.
Menyiram kesakitan di atas kasih sayang yang ada.
.
.
.
TBC
Apakah kurang jelas? Jelek?
Oke next Last Chapter yang berarti kita akan masuk konflik utama sekaligus ending, aku akan berusaha adil untuk endingnya.
Makasih untuk semuanya yang baca, yang review, taupun yang dukung love you all!
So see u next chapter :)
Special thanks: Nhac3ss, Qeura, senavensta, lovehyukkie19, isroie106, DNE1986, sweetgalaxy, rineul, eunhaehyuk44, Amandhharu, Lim Yeon Gi Jewels, HAEHYUK IS REAL, Kei Tsukiyomi, haehyuknips, Guest, Lusianti, kartika. kawai, FN, haehyuknips.
