.
.
.
Gelang hitamnnya bersinar membuat kunci digital dengan teknologi tercanggih manusia itu menyala lalu perlahan terbuka. Secanggih apapun teknologi manusia masih tertinggal jauh dengan teknologi tempatnya berasal. Bahkan semua kamera CCTV tersabotase dengan mudah.
Wanita alien itu memasuki ruang pengendali antariksa dengan leluasa. Bola matanya mengedar melihat para robot itu berkerja. Ia mencibir, betapa malasnya para manusia ini. Dengan cekatan ia mulai bekerja, mencari server utama dari seluruh tenologi antariksa tempat ini. Menemukannya, ia segera mengulurkan tangannya membuat gelang hitam yang melingkar ditangannya menampilkan segaris cahaya sebelum membentuk kontur digital yang begitu rumit. Layar-kayar kaca yang menampilkan tampilan luar angkasa itu memburam sebelum mati seketika bersamaan dengan segala fungsi komputer tempat itu.
"Apa yang sedang kau lakukan ditempat ini?!"
Kyuhyun yang berniat memastikan data yang ia terima ke komputer utama berteriak saat memergoki alien ini tanpa sengaja. Membuat alien itu mempercepat proses yang sedang berjalan. Dapat Kyuhyun lihat gelang hitam alien itu berubah merah bersamaan dengan seluruh layar serta komputer utama itu menyala secara tiba-tiba.
Namun dengan tampilan yang sedikit berubah. Sistem didalamnya telah berubah.
Virus.
Mereka menyebar virus untuk menyabotase sistem server utama.
Kyuhyun tak tinggal diam, ia mencoba menghentikan wanita alien itu kalau saja wanita itu tak menghindar sebelum menyentuh gelang hitamnya.
Dan setelahnya, Kyuhyun sama sekali tak bisa mempercayai apa yang ia lihat. Bagaimana gelang itu bersinar sangat terang membuat tubuh alien wanita itu dikelilingi molekul aneh yang semakin lama semakin mengikis tubuhnya bercampur dengan molekul yang memutarinya.
Doktor itu bisa melihat seringaian di bibir alien itu sebelum menghilang tanpa bekas tepat didepannya. Meninggalkannya dengan jutaan pesan program yang membuatnya tercengang tak percaya.
Kyuhyun lekas meraih tombol emergency berkali-kali sebelum berteriak dengan penuh kepanikan di interkom.
"Terjadi penyusupan dan sabotase. Mereka berkhianat! Segera amankan para alien yang tersisa! Jangan beri mereka kesempatan menggunakan gelang hitam di tangan mereka!"
.
.
.
Stars
.
.
.
Pair: Haehyuk
.
Rate: T
.
Warning: GS/Romance/Fantasy Ilmiah
.
Summary: "Aku adalah milikmu, dan selamanya akan menjadi milikmu."
.
.
.
Mereka akan memusnahkan manusia.
Semua itu tergambar jelas dalam hologram yang menggambarkan bagaimana cara mereka menghabisi manusia di bumi tepat didepan matanya. Manusia menyambut baik kedatangan mereka, berharap lebih bahwa hal ini merupakan sejarah yang akan berdampak baik untuk kemajuan manusia.
Menjalin sebuah ikatan.
Namun pada kenyataannya itu hanya omong kosong. Bentuk kenaifan manusia akan jagat raya ini. Segalanya sama persis seperti yang selalu digambarkan difilm-film bahwa alien ini akan menjadi musuh.
Bahwa Donghae memiliki niat kejam pada dunianya. Niat kejam yang menghancurkan segalanya.
Menghancurkan kepercayaannya. Menghancurkan hatinya.
Segala percakapan mereka, simpati mereka, kebersamaan mereka, kehangatan mereka, ikatan mereka serasa memburam seketika digantikan oleh kenyataan yang sebenarnya. Seakan-akan Hyukjae baru saja dibangunkan dari mimpi dan dipaksa untuk melihat realita sesungguhnya.
Kenyataan akan perbedaan mereka yang begitu telak. Bahwa warna kulit mereka yang begitu kontras adalah harga mati.
Harga yang sama untuk seluruh nyawa di dunia ini.
"Kenapa ...?"
Air mata itu turun semakin deras sebelum isakannya terdengar. Hyukjae tak hanya bertanya pada Donghae tapi juga pada nasib yang serasa mempermainkannya. Ia tak percaya semua ini, ia tak ingin mempercayainya barang sekejap saja.
Hingga akhirnya ia hanya bisa menangis. Mengalirkan air matanya tepat didepan alien yang diam menatapnya.
Donghae terpaku, terpaku dengan kenyataan yang dirasakannya. Rasa yang dirasakannya saat wanita manusia ini menangis didepannya. Ia sama sekali tak menghira bahwa setiap aliran kesedihan Hyukjae akan berarti sama dengan satu tebasan yang seakan membelah tubuhnya. Sama dengan setiap jiwa yang direnggut dari tubuhnya.
Rasanya menyakitkan namun tak menimbulkan luka nyata.
Bahkan saat kedua tangannya merengkuh tubuh lemah itu, sesuatu didalam dadanya terasa begitu ngilu. Tak adanya perlawanan justru membuatnya tiba-tiba merasa takut.
Begitu takut bahwa Hyukjae akan menghilang darinya. Musnah dari dekapannya. Melebur bersama udara.
Saat itu segalanya menjadi terlupakan dipikirannya. Segala prioritas yang tertanam sejak dulu di otaknya melebur digantikan sosok wanita manusia ini satu-satunya. Segala sesuatu menjadi hanya ada Hyukjae disana.
Semuanya. Segalanya.
"Wae? ...apa salah kami? Kenapa kalian begitu kejam?"
Segala pertanyaan penuh isak tangis itu tak ada yang bisa Donghae jawab. Semua peradilan untuk manusia yang awalnya begitu benar kini terlihat begitu salah dimatanya. Alasanya sederhana, karena Hyukjae tak menginginkannya. Karena Hyukjae akan menangisinya.
Hyukjae yang menjadi pusat kesadarannya.
"Maaf."
Satu ucapan itu memang bukan pertama kalianya ia ucapakan, tapi dengan seluruh emosi dan perasaannya ini adalah pertama kalinya.
"Maafkan aku."
Dengan segala ketulusannya meski hanya membuat wanita ini semakin menangis keras. Rengkuhannya mengerat, ketakutannya bertambah. Tangan birunya membingkai wajah putih manusia ini mencoba membuat wanita ini melihat matanya. Melihat kesungguhannya.
"Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi, Hyukjae. Aku tak akan pernah membiarkannya."
Segalanya terasa tak berguna saat wanita ini tetap mengangis seakan tak akan pernah mendengarnya meski Donghae berteriak begitu keras tepat didepannya. Kekecewaanya tengah membutakannya. Kesedihanya tengah menenggelamnya begitu dalam.
"Aku tak akan membiarkannya, aku berjanji padamu."
Pelukannya pada tubuh lemah itu semakin erat.
"Aku berjanji."
Bahkan jika hal ini mungkin terdengar mustahil, tapi Donghae tak ingin Hyukjae kesakitan. Bahkan mungkin sudah terlambat, Donghae tak ingin semakin melukai wanita ini.
Alaram itu terdengar begitu keras menyadarkan Donghae akan keadaan sekitanya, bahwa telah terjadi sesuatu. Ia tak diberi kesempatan untuk menduga saat tiba-tiba saja pintu ruangan khususnya terbuka menampilkan para prajurit bersenjata yang menerobos masuk. Manariknya dari Hyukjae, memaksanya terkapar dilantai.
Iris biru gelapnya dapat melihat salah satu dari para prajurit itu melepaskan gelang hitam dipergelangan tangannya dengan paksa. Membuatnya kini tak berdaya tanpa perlindungan diri.
"Bawa dia!"
Bersamaan dengan itu mereka menyeretnya keluar. Memaksanya menjauh dari Hyukjae yang masih diam termangu menatapnya.
Membuatnya semakin berjarak dari iris hitam yang belum sempat ia hilangkan kesedihan didalamnya.
.
.
.
Gempar.
Dunia menjadi gempar saat maksud para alien itu yang sebenarnya terpapar jelas dalam pesan program di pusat antariksa Korea. Setiap kata yang terjemahkan berarti bahwa peradilan tertinggi alien itu telah memutuskan untuk memusnahkan mereka tak peduli apa.
Belum lagi saat terkuak jika objek tak dikenal yang ternyata adalah sebuah pesawat induk itu tengah sejajar dengan bulan semakin mendekat planet mereka. Pesawat induk yang diperkirakan membawa senjata pemusnah manusia.
"Untuk saat ini kalian periksa segala sesuatu yang kalian dapat saat bersama para alien itu, kumpulkan data sebanyak yang kalian bisa ingat. Hal ini sangat penting untuk melihat kemungkinan jalan keluar masalah ini." Jenderal itu menerangkan dengan tegas kepada seluruh Letnan dan Doktor yang sebelumnya ditugaskan mendampingi alien yang kini resmi dianggap membahayakan.
Lolosnya dua alien lain dan diamnnya satu tahanan mereka membuat masalah ini semakin rumit.
Suhe mengangkat tangannya.
"Apakah kita tidak sebaiknya menyerang pesawat induk itu?"
"Seluruh sistem antariksa kita dibajak, membuat seluruh satelit bersenjata didunia kini dibawah kontrol mereka sepenuhnya. Kita tidak bisa mengambil resiko mereka menyerang kita tanpa ampun. Mereka terlalu kuat, menyerangnya dengan senjata langsung pun percuma."
"Tidak bisakah kita bernegosiasi dengan mereka?" Perkataan Sungmin mengundang helaan nafas beberapa orang.
"Mereka sudah memfonis kita untuk dimusnahkan. Tak ada gunannya bicara dengan mereka." Kyuhyun menjawab dengan putus asa.
"Kita bisa menyuruh alien tahanan kita untuk menjadi penerjemah, menjadikannya juru bicara kita."
"Dia adalah alien, Dotor Lee. Sampai matipun ia akan tetap menganggap kaumnnya yang paling benar. Dia tak akan pernah mengkhianati kaumnya."
Sungmin diam begitu Jenderal So menjawab argumennya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan dengan alien yang barhasil kita amankan?" Pertanyaan itu membuat Hyukjae mendongak tanpa sadar.
"Untuk saat ini kita tidak tahu. Tapi jika memang membahayakan terpaksa kita harus mengeksekusinya."
Hyukjae mematung mendengarnya.
"Hanya pastikan kalian mencari informasi dengan teliti, kita dalam ambang kepunahan sekarang." Jenderal itu pergi setelah mengatakannya.
Meninggalkan para Letnan dan Doktor itu yang kembali berdebat satu-sama lain karena tertekan oleh masalah ini.
Hanya Hyukjae yang diam termangu melihat udara. Tak ada yang tahu apa yang ia pikirkan. Tak ada yang tahu apa isi kepalanya.
Ia hanya diam selama berhari-hari. Ia mungkin satu-satunya manusia yang tak berteriak panik saat melihat pesawat asing dengan ukuran begitu besar itu melayang tepat di atas kepalnya. Menutup langit, menutup matahari, menimbulkan kengerian akan kemusnahan manusia.
Ia bahkan tak tahu apa yang ia pikirkan saat kedua kakinya membawanya keruang tahanan tempat Donghae berada.
Pintu besi itu terbuka memperlihatkan Sungmin yang baru keluar dari sana mengunjungi alien tahanan mereka. Doktor itu terlihat terkejut saat melihat Hyukjae memergokinya ditempat ini. Dengan salah tingkah dan ragu-ragu ia mulai bicara tanpa diminta.
"Kau tahu, ...aku masih yakin bahwa kita bisa bicara pada mereka. Mungkin saja ini hanya kesalahpahaman."
Dan Doktor itu meninggalkan Hyukjae begitu saja setelah mengatakan hal itu. Sama sekali tak tahu iris hitam Hyukjae melihat punggungnya hingga menghilang di belokan lorong.
Perlahan Hyukjae melangkah kedalam sel tahanan khusus itu. Tak ada jeruji besi disana. Hanya ada tembok kaca tranparan yang membelenggu Donghae tepat didepannya.
Donghae langsung berdiri saat melihat sosok wanita yang memenuhi pikirannya. Iris biru gelapnya menatap tepat di iris hitam wanita manusia didepannya.
Tak ada kata yang dapat mereka ucapkan. Hanya saling menatap penuh kediaman. Hanya untuk memastikan sosok didepan mereka masih baik-baik saja. Memastikan potongan hati terakhir itu masih berdiri tegak.
Namun saat emosi itu mulai timbul dan akan membuat genangan air mata itu mengalir, Hyukjae berpaling dan melangkah pergi meninggalkannya. Meninggalkan Donghae tanpa kata.
.
.
.
Seluruh kamera keamanan itu diawasi ketat oleh dua sersan. Tak sekalipun mereka lalai menjalankan tugas mereka. Namun saat tiba-tiba saja pintu itu terbuka menampilkan salah satu Letnan mereka, keduanya lekas berdiri siap menghormat saat tiba-tiba saja lutut wanita itu menghantam salah satu perut Sersan itu membuatnya rubuh di meja. Ia merebut pistolnya lalu menodongkannya pada satu yang lainnya. Saat ia keluar dari ruangan itu, terlihat kedua sersan itu sudah terkapar pingsan.
Kedua mata Donghae terbuka saat mendengar langkah kaki tak jauh darinya. Kesadarannya pulih seratus persen saat melihat Hyukjae berdiri terengah didepannya. Donghae melihat manusia itu tak mengerti saat tiba-tiba saja Letnan itu mengarahkan pistolnya tepat di sistem kunci penjara kaca itu.
Dua tembakan dan pintu itu terbuka. Bersamaan dengan alaram bahaya yang menyala. Tak ingin membuang waktu Hyukjae segera menarik Donghae keluar dari sana. Ia perlu mengeluarkan Donghae dari tempat ini secepatnya.
"Tunggu!" Donghae menarik lengan Hyukjae mengehentikan langkah mereka.
"Aku perlu gelangku kembali."
Hyukjae menatap Donghae sembari berfikir. Itu akan sangat beresiko, mereka tak punya banyak waktu.
"Aku benar-benar memerlukannya kembali, Hyukjae."
Dan untuk sekian kalinya Hyukjae tak bisa melawan Donghae. Mereka segera memutar jalan kembali kepusat tempat penyimpanan. Menghindari keramaian demi keselamatan keduanya.
"Berhenti!"
Keduanya begitu terkejut saat tiga prajurit melihat mereka. Hyukjae menarik satu diantara mereka sebelum menjegalnya hingga jatuh, namun tiba-tiba saja tubuhnya dijerat dari belakang membuatnya tak bisa bergerak. Ia akan melawan jika saja Donghae tak lebih dulu menarik prajurit itu dan membantinya ke lantai. Iris hitam itu juga melihat satu prajurit lainnya yang sudah terkapar pingsan. Hyukjae melihat Donghae tak percaya, ia tak tahu alien ini bisa bela diri.
Mendengar keributan tak jauh dari mereka, keduanya lekas memasuki ruang penyimpanan utama, kembali menembaki sistem kuncinya untuk bisa masuk. Sampai didalam mereka harus kembali mencari setiap brangkas untuk menemukan gelang Donghae tepat saat puluhan prajurit menerobos masuk dan mulai menembaki keduanya.
"Donghae, disana!"
Tepat dua barusan dari mereka, Hyukjae melihat brangkas kaca berisi gelang hitam Donghae. Alien itu segera berlari mendekat, namun brangkas itu terkunci rapat. Melihatnya, Hyukjae mendorong satu rak brangkas untuk menghadang para prajurit itu lalu melempar pistolnya pada Donghae.
Menggunakan cara yang sama saat membuka pintu, Donghae menembaki brangkas itu hingga terbuka. Alien itu lekas memakai gelangnnya gembali secepat mungkin dan menyelakan sistemnya. Ia akan melakukan teleport.
"Hyukjae!" Tangan birunya terulur pada manusia itu, membuat Hyukjae berlari kearahnya akan meraih tangannya.
Namun Hyukjae tak pernah sampai saat para prajurit itu berhasil menangkap tubuh Letnan itu dan membantinya dilantai.
Segalanya terlambat, Donghae tak sempat bergerak saat tubuhnya menyatu dengan molekul dan menghilang tanpa bekas dari tempat itu, meninggalkan Hyukjae.
.
.
.
Tubuh Donghae kembali menyatu utuh saat teleportnya berhasil. Ia melihat sekelilinya, tak adanya Hyukjae membuatanya begitu panik. Pemandangan bumi dari luar angkasa adalah yang terpampang dari jendela kaca raksasa didepannya. Terlihat orang-orangnya tengah menghampirinya dengan khawatir.
Tapi ia tak peduli.
Segala yang ada di kepalanya adalah bagaimana ia kehilangan Hyukjae tepat didepan matanya.
"Svrafeonuravlaktas, pemusnahan akan segera dimulai, para dewan agung sudah menunggu anda."
Perkataan itulah yang kembali menyadarkan Donghae. Menyadarkan Donghae betapa asing nama itu sekarang terdengar ditelingannya. Ia terbiasa dengan cara Hyukjae memanggilnya.
Terlalu terbiasa dengan segala sesuatu tentang manusia itu.
Donghae bangkit dari kediamannya lalu berjalan meninggalkan yang lainnya tanpa kata.
Ia sudah memutuskannya sekarang.
Keputusan akhirnya.
.
.
.
Pintu itu terbuka memberlihatkan sosok Hyukjae yang perlahan masuk kedalam. Wanita itu menutup pintu rumahnya sebelum bersandar disana.
Dia telah diberhentikan.
Pengkhianatan yang ia lakukan terhadap kaumnya sendiri membuatnya di pecat secara tak hormat. Mungkin belum secara resmi tapi ia sudah tak dianggap sebagai prajurit lagi. Ponselnya bergetar, terlihat nama kakaknya di layar telephon.
"Hyuk, kau baik-baik saja? Aku sangat khawatir padamu."
Tubuh Hyukjaae perlahan merosot dilantai saat mendengar suara kakaknya. Dadanya terasa sesak akan siksaan yang mencengkram dadanya.
"Onnie..."
Panggilan itu bahkan terdengan begitu lemah membuat Heechul semakin khawatir.
"Onnie, kenapa aku seperti ini?"
Ia menangis. Ia menangis karena ketidak berdayaannya.
Kelemahanya.
"Kenapa aku menyukainya hingga seperti ini?"
.
.
.
Ruangan utama pesawat antariksa itu begitu besar dengan jajaran dewan tinggi disekelilinya. Donghae tahu alasan keberadaan mereka ditempat ini, untuk mengadili manusia.
"Aku ingin semuanya ini dihentikan."
"Itu sudah bukan wewenangmu lagi. Keputusan telah ditetapkan saat ijinmu diberikan."
"Aku tidak pernah memberikan ijin!"
"Semua sudah diputuskan dan tindakan penuh emosi yang kau lakukan saat ini sangat tak terpuji."
Tangan Donghae terkepal, sekarang ia tahu betapa dingin kaumnya.
"Ini tak adil untuk mereka."
"Keputusan dewan tinggi adalah yang paling adil. Kita berusaha menyelamatkan planet ini dari mahkluk paling egois yang menguasahinya. Kita berusaha mencegah planet ini untuk terbunuh. Lihat para manusia itu, melibas habis penompang utama sumber kehidupan mereka. Melihat mereka menyia-nyiakan planet indah ini terlihat sangat tak beradap."
Donghae tak menyalahkannya, semua itu terbukti dari bagaimana keadaan planet ini sekarang.
"Memang benar, mereka adalah mahkluk egois yang merusak planetnya sendiri, mahkluk yang tak pernah berfikir masa depan mereka lebih jauh, tapi ..."
Donghae melihat seluruh dewan tinggi dihadapannya.
"Tapi ada sesuatu dari mereka yang tak kita miliki, sesuatu yang tak tampak namun begitu istimewa."
Wajah Hyukjae terbayang dibenak Donghae saat mengatakannya. Bagaimana wanita itu tertawa, bicara, marah, tersenyum, tertidur disampingnya, serta pancaran penuh kasih sayang yang membuat dadanya berdetak tak normal. Memnbuat desir hangat yang tak terjemahkan.
"Tak bisakah kita mempercayai mereka?"
Seluruh dewan tinggi melihat Donghae tak mengerti.
"Mempercayai mereka untuk meyelamatkan planet mereka sendiri. Mempercayai mereka untuk masa depan mereka sendiri."
Seluruh dewan tinggi saling melihat sebelum berbicara pelan satu sama lain.
"Tapi keputusan adalah keputusan, tak ada yang bisa mencabutnya saat ijin telah diberikan. Kecuali jika Pemimpin tertinggi yang melakukannya."
Donghae terdiam.
Ia adalah keturunan langsung Pemimpin sebelumnya. Ia harusnya menjadi pemimpin berikutnya jika saja ia tak memberikannya pada orang lain yang kini mengantikannya. Ia tak ingin kekuasaan, ia hanya ingin menjadi seorang hakim keadilan. Meski kehormatan istimewa selalu ia dapatkan karena darah yang mengalir pada dirinya.
Jika ia mengambil kembali haknya sebagai pemimpin tertinggi maka ia bisa mencabut perintah itu. manusia akan bebas.
Namun jika ia mengambil hak kekuasaannya itu, ia tak akan keluar dari planetnya selama sisa hidupnya. Ia tak akan pernah lagi melihat Hyukjae.
Seluruh dewan tinggi itu melihat sang pemilik darah istimewa didepan mereka.
"Semua keputusan ada ditanganmu."
Alien itu terdiam.
Tak pernah selama hidupnya Donghae di tempatkan diatas pilihan seperti ini. Dua pilihan terberat dan Donghae diharuskan memilih salah satunya.
Seluruh dunia ini atau Hyukjae.
.
.
.
Saat ini dunia seperti menghitung mundur waktu kiamat. Seluruh manusia bergejolak dan menyalahkan Korea sebagai penyebabnya. Terjadi kerusuhan dimana-mana dan semua orang diserang kepanikan saat tujuan akhir alien itu diketahui oleh seluruh pihak.
Semua negara bersiap dengan pertahan mereka masing-masing. Ada yang akan menyerang balik, ada yang hanya akan bertahan. Ini adalah masa terburuk yang dilalui seluruh manusia dibumi. Semua orang tak ada yang bisa menduga kapan para alien itu menyerang dan menghancurkan mereka.
Sungmin merasakan lengat hangat merengkuhnya. Dapat ia lihat Kyuhyun tersenyum lemah padanya. Mereka melihat kelangit dimana bayang hitam pesawat angkasa itu melayang tepat dilangit negara mereka.
"Kau ingin melakukan sesuatu? Atau pergi kesuatu tempat yang sangat kau inginkan?"
Pertanyaan Kyuhyun itu membuat Sungmin tersenyum sedih. Seakan-akan ini adalah saat-saat terakhir mereka.
Doktor wanita itu menyandarkan kepalanya dipundak kekasihnya. Lalu memejamkan matanya.
"Aku hanya ingin disisimu saja."
Belaian lembut itu seperti jawaban untuk permintaan Sungmin. Harusnya Kyuhyun tersenyum mendengarnya, namun tidak. Ini terdengar miris saat hidup mereka diujung tanduk.
Hidup seluruh manusia.
.
.
.
Kamar itu begitu sunyi, cahaya malam dari luar menjadi satu-satunya penerangan di sana. Wanita itu terlihat berbaring dengan selimut yang membalut tubuhnya. Jejak airmata terlihat jelas dipipi pucatnya.
Semilir angin malam yang masuk perlahan di kamar itu membuat kelopak mata itu terbuka. Memperlihatkan iris hitamnya. Hyukjae perlahan terbangun, bengkit terduduk saat merasakan kehadiran seseorang.
Ia melihat pintu kaca itu terbuka dengan Donghae yang berdiri di balkon kamarnya. Menatapnya.
Seakan menjelma sebagai dewa malam yang siap membawa jiwanya. Alien itu berjalan memasuki kamarnya, membuat Hyukjae melihat setiap gerakannya hingga duduk tepat dihadapannya. Tangan hangat itu menyentuh pipi Hyukjae lembut. Membuat kedua iris itu beradu mencari hal yang mereka butuhkan didalam sana.
Hal yang mencengkarm dada mereka begitu erat hingga menyesakkan.
Tak perlu ada kata yang terucap, karena mereka tak memerlukannya. Tak perlu adanya kejelasan akan segala hal yang mereka rasakan, karena mereka saling membutuhkan.
Semuanya terjadi secara alami. Begitu alami saat keduanya saling mendekat untuk menyatukan bibir mereka. Begitu alami saat mereka menelan rasa manis satu sama lain. Meraup apa yang bisa mereka raup, mengambil apa yang bisa mereka ambil. Kebutuhan udara hampir terlupakan, setiap kontak bibir mereka terlepas maka mereka akan dengan putus asa saling mencari satu sama lain.
Begitu putus asa akan kehadiran satu sama lain.
Kedua tangan mereka saling merengkuh tubuh satu sama lain begitu erat, bahkan jika terasa menyakitkan hingga ketulang mereka tak peduli.
Mereka tak peduli dengan segalanya. Mereka tak peduli dengan semuanya. Mereka ingin melupakan segalanya dan hanya ingin satu sama lain.
Hanya ingin memiliki satu sama lain.
.
.
.
Dahi Yesung mengernyit saat melihat layar besar itu. Apakah matanya sudah rusak atau hitungan jarak pesawat alien itu dengan bumi satu-persatu semakin bertambah.
"Server! Server utama telah kembali seperti semula. Seluruh virus dan sabotase telah menghilang."Seru seorang Doktor yang berlari masuk keruang kendali utama.
Semua orang terlihat terdiam mendengarnya, masih tak berani menduga apa yang terjadi saat ini.
Kembali melihat layar besar itu, melihat bagaimana hitungan jarak pesawat itu semakin bertambah dan bertambah yang berarti menjauhi bumi.
.
.
.
Hyukjae kembali membuka matanya setelah tidur singkat yang ia lalui. Sisi disebelahnya yang tengah kosong membuatnya perlahan bangun mencari keberadaan Donghae. Iris hitamnnya menemukan alien itu berdiri dibalkon kamarnya. Berdiri membelakanginya dengan tubuh atasnya yang telanjang memperlihatkan kulit birunya.
Hyukjae menarik selimutnya, memakainya untuk menutup tubuh telanjangnnya dari udara dingin sebelum perlahan berjalan meninggalkan ranjang. Sesekali kaki pucatnya akan menginjak potongan-potongan pakaianya yang tersebar dilantai kayu kamarnya.
Donghae perlahan berbalik saat menyadari kehadirannya. Tangan alien itu terulur padanya. Menuntun tangan pucat yang akhirnya menyabut genggamannya untuk mendekat padanya. Membuat tubuh mereka berjarak begitu dekat satu sama lain.
Donghae mendongak menatap langit. Ini hampir pagi namun langit masih gelap penuh akan bintang karena matahari belum menampakkan kuasanya.
"Hari ini lima planet galaksi kalian tengah dalam posisi sejajar."
Jari biru itu menunjuk bintang-bintang tak berkelip dilangit. Letak bintang-bintang itu berjejeran membentuk garis lurus dari timur hingga ke barat.
"Mereka membentuk garis lurus dengan kesudutan sempurna menunjuk ke galaksi kami."
Iris biru gelap itu kembali menatap Hyukjae.
"Sebagai penunjuk jalan kembali ke planet kami."
Hyukjae hanya diam. Ia tahu kemana hal ini akan berakhir. Sejak awal ia tahu.
Dari cara Donghae menatapnya ia tahu apa yang ingin laki-laki ini katakan padanya.
"Dulu awalnya kupikir tak perlu adanya kesempatan untuk kalian karena kesalah kalian terhadap planet ini. Kupikir kalian mahkluk tak beradap yang bertindak semaunya dan tak terkontrol. Melakukan apa yang kalian suka dan membenci apa yang kalian tak suka. Begitu rumit, begitu tak terduga."
Donghae mengingat semua tentang peradilan yang terjadi. Tentang manusia.
"Tapi aku sama sekali tak mengira bahwa semua itu adalah kelebihan kalian, kekurangan kalian dimata kami justru yang menjadikan kalian sebagai manusia. Membuat kalian disebut manusia. Sebuah sudut pandang yang seharusnya kami lihat dan pertimbangkan karena kalian begitu tak biasa. Seharusnnya."
Donghae termenung. Ia sadar itu murni kesalaha kaumnya. Kecerobohan yang hampir mengakibatkan tindakan terkejam yang pernah ada.
Tangan hangat itu mengusap air mata yang mulai mengalir dipipi pucat wanita ini.
"Jangan menangis, Hyukjae. Ini menyakitiku."
Namun Hyukjae tak berhenti, air matanya justru semakin mengalir deras.
"Tak akan terjadi apapun. Apa yang pernah kau lihat tak akan pernah terjadi. Semuanya telah dibatalkan."
Tangan pucat Hyukjae semakin erat mencengkram selimut.
"Aku akan membawa mereka semua pergi jauh dari sini. Begitu jauh dan akan kupastikan mereka tak akan mendekat lagi. Kalian semua bebas, Hyukjae. Kalian bebas untuk menentukan masa depan kalian sendiri tanpa campur tangan kami."
Hyukjae mendongak menatap tepat di iris biru gelap yang selalu terasa menenggelamkannya. Melihat betapa lembut Donghae menatapnya. Keduanya tahu kenyataan yang terpapar di depan mereka. Namun kedua tak sanggup untuk saling mengucapkan selamat tinggal.
Hyukjae tahu Donghae akan meninggalkannya. Hyukjae tahu ini adalah terakhir kalinya mereka saling memiliki. Namun sebelum semua hal itu terjadi, biarkan dia menyampaikan isi hatinya, menyampaikan ketulusannya.
"Aku mencintaimu Donghae."
Ia menutup matanya membiarkan air matanya mengalir.
"Aku mencintaimu."
Kedua tangan Donghae merengkuh wajah wanita ini. Melihat betapa rapuh saat wanita ini menangis.
Manusia, begitu mudah terikat.
"Kau mengajarkaku banyak hal Hyukjae, kau mengajarkanku kenapa kalian disebut manusia. Segala sesuatu tentang kalian."
Iris biru itu melihat paras wanita ini sekali lagi.
"Dan kau adalah yang terindah yang pernah kutemukan."
Donghae perlahan mendekat. Ia menutup matanya, sebelum keningnya dengan hati-hati menyentuh kening wanita ini.
Membentuk ikatan dengan caranya. Mengikat wanita ini untuknya seorang.
Hyukjae begitu terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. Bahkan saat Donghae tengah menjauhkan wajahnya, wanita itu masih terpaku menatap Donghae.
Itu tadi adalah hal paling indah yang pernah ia lihat seumur hidupnya.
Cara menyampaikan sebuah ketulusan hati yang begitu berbeda.
Ia bisa melihat dengan jelas isi hati Donghae untuknya.
Cinta Donghae untuknya.
Donghae tersnyum pada wanita pemilik hatinya, seluruh jiwanya.
"Aku adalah milikmu, dan selamanya akan menjadi milikmu."
Bibir itu bertemu dengan begitu lembut. Bukan meminta, namun memberi.
Memberi kasih sayang sebanyak yang mereka miliki untuk satu sama lain. Menyampaikan seluruh cinta untuk mereka yang terkasih.
Sebuah ciuman termanis yang pernah Hyukjae rasakan, meski perlahan sentuhan itu mendingin. Semakin samar hingga akhirnya mengghilang sepenuhnya.
Perlahan Hyukjae membuka matanya. Tak ada siapapun disana selain dirinya dan cahaya fajar di ufuk timur.
Membuatnya termangu menatap kehampaan yang tercipta.
Air matanya kembali mengalir sebelum isakannya terdengar, tubuhnya perlahan merosot dilantai saat tangisannya semakin keras terdengar. Hyukjae menangis sekeras yang ia bisa, mengeluarkan seluruh kesakitannya hingga yang paling dalam.
Donghae telah pergi.
Pergi meninggalkannya.
Menghilang seperti bintang malam yang tersentuh cahaya fajar.
.
.
.
5 years latter
Kyuhyun berjalan ringan membalas sapaan pagi para juniornya sambil membawa dua cup kopi panas. Senyumnya semakin lebar saat melihat wanita yang sudah dua minggu ini berstatus istrinya duduk menunggunya di balkon besar pusat antariksa.
"Latte tanpa lemak special untuk nyonya Cho" Sungmin terkekeh mendengarnya.
Ia menarik Kyuhyun agar duduk merapat padanya, menikmati kopi pagi mereka bersama-sama.
"Profesor Cho, ini data-data yang kau minta." Seorang Doktor tiba-tiba datang menganggu mereka memberikan Pad ditangannya pada Kyuhyun.
Doktor itu pamit pergi setelah Kyuhyun menerima Pad ditangannya.
"Apa itu?"
"Proyek alien lima tahun yang lalu."
"Kenapa kau membuka proyek kontroversi itu lagi? Kau tidak berniat mengulang kesalahan para Profesor sebelumnya kan?"Kyuhyun terkekeh mendengarnya.
Ya, Proyek lima tahun yang lalu itu memang disebut proyek kontroversi karena dampak buruk yang hampir memusnahkan manusia. Sempat membuat negara mereka dalam keadaan yang sulit dan membuat gejolak disana sini.
Proyek itu disebut sebagai kesalahan. Sebuah kegagalan murni.
Kyuhyun mengamati data-data itu sekilas sebelum melihat istrinya lagi.
"Aku hanya ingin menyimpannya, Sayang."
"Untuk apa?"
Kyuhyun mengangkat bahu.
"Aku tahu ini tak seharusnya, namun aku tetap percaya bahwa kelak entah kapan itu, kita benar-benar bisa mengundang mereka secara damai."
Kyuhyun merangkul istrinya.
"Entah kenapa aku selalu percaya, bahwa kelak kita bisa menjalin sebuah hubungan baik dengan mereka. Saling membantu dan memahami satu-sama lain."
Sungmin hanya tersenyum saaat Kyuhyun mencium bibirnya cepat mengakhiri pembicaraan.
.
.
.
"Ya! Harus berapa kali kukatakan, aku tidak mau melakukannya! Aku tidak mau menghabiskan waktu berhargaku untuk mengisi seminar bodoh seperti itu!"
Wanita itu berjalan kerepotan sambil berbicara ditelephon ditengah-tengah taman bermain yang ramai. Berkali-kali ia harus menjaga keseimbangannya karena bocah digendongannya ini tak bisa diam.
"Donghae-yah, diamlah sebentar! Eomma sedang bicara, sayang."
Percuma, anak kelewat aktif itu justru semakin menggeliat-liat minta diturunkan dari gendongan ibunya. Ia ngin berjalan sendiri tapi ibunya ini kelewat khawatir ia hilang ditengah kerumunan dan berakhir menggendongnya kesana-kemari.
Tak punya pilihan lain, Hyukjae menurunkan anaknya itu dari gendongannya dan membiarkannya berjalan sendiri. Membiarkan anak kelewat aktif itu kini berjalan melompat-lompat dengan popcorn caramel ditangannya.
"Letnan Choi, aku ini sudah pengsiun. Jadi berhenti mengangguku dan biarkan aku menghabiskan waktuku bersama anakku! Hari ini ulang tahunnya yang ke empat, kami akan bermain seharian ditaman hiburan, jadi bye!"
Hyukjae menutupnya tanpa perasaan, sebelum bersungut-sungut karena sebal. Meski status tidak hormatnya telah dicabut dan diganti menjadi seorang Letnan berjasa karena keterlibatannya menyelamatkan bumi dari alien lima tahun silam, Hyukjae masih dendam dengan departement pertahanan. Membuatnya sama sekali tak mau kembali dan memilih pengsiun dini pada akhirnya.
Lagi pula saat itu ia membawa satu nyawa lagi dalam dirinya.
Hyukjae tersadar dari lamunannya saat mendengar teriakan Donghae. Anak itu terjatuh di tanah, membuat popcorn caramelnya berhamburan keman-mana. Hyukjae segera mendekatinya, membantunya berdiri sembari memeriksa jika anaknya terluka.
"Aish, Eomma sudah katakan hati-hati saat berjalan." Omel Hyukjae sambil membersihkan popcron yang mengotori rambut anaknya sebelum tangan pucat itu perlahan berhenti saat tak sengaja menyentuh telinga Donghae yang meruncing ke atas.
Satu-satunya hal yang menandakan bahwa darah yang mengalir dalam tubuh anak ini tidak hanya darah manusia.
Mencoba mengesampingkan pikirannya. Hyukjae kembali menutupi telinga itu dengan rambut hitam anaknya. Mencoba kembali menggendongnya namun anak ini tetap tidak mau. Donghae justru menunjuk-nunjuk arah belakang Hyukjae.
"Wae?"
"Eomma balon, aku ingin balon itu!" Hyukjae hanya bisa mengehela nafas saat mendengar rengekan manja itu.
Jika biasanya ia akan memarahi anak ini tanpa ampun jika bersikap terlalu manja, tapi hari ini berbeda.
Ini hari ulang tahunnya. Hari special.
"Arra, kita beli balon. Kajja!"
Terkekeh-kekeh senang saat mendapatkan balon biru kesukaannya, anak itu kembali melenggang pergi mendahului ibunya. Membuat Hyukjae kesusahan mengimbangi anak itu. Sungguh, ia terkadang berfikir Donghae terlalu aktif untuk anak seusianya.
Ponselnya kembali berbunyi, kali ini kakaknya.
"Wae? Kenapa banyak sekali yang menganggu kecanku hari ini!"Semburnya langsung pada kakaknya.
"Kenapa kau berteriak padaku?! Aku ini hanya mengkhawatirkanmu!"
"Aish, Onnie selalu saja khawatir."
"Kau itu orang tua tunggal dari anak paling bebal dikota ini, siapa yang tidak khawatir?!"
"Yah! Anakku tidak bebal!"
Hyukjae terlalu sibuk berdebat dengan kakaknya hingga tak menyadari balon ditangan Donghae terbang karena terlepas dari gengamannya. Membuat anak itu segera berlari mengejar balon birunya ditengah kerumunan orang.
"Aku malas bicara padamu Eon- ... Hae-yah?"Perkataan Hyukjae terpotong saat menyadari anaknya tak ada disekitarnya.
Ia segera menutup poselnya saat melihat siluet anaknya yang berlari ditengah kerumunan orang-orang berkostum.
"Hae-yah! Donghae!" Wanita itu segera menyusul anaknya.
Kepanikan melandanya saat sosok kecil Donghae menghilang dari pandangannya tenggelam dikerumunan orang-orang hingga tak terlihat lagi. Ia kehilangan anaknya.
"Donghae! Donghae!"
Dengan panik ia melihat kesana-kemari. Dadanya mulai sesak sejurus dengan air mata yang mulai mengenang di matanya.
Ya Tuhan, jangan anaknya.
Dia miliknya satu-satunya.
Hyukjae mungkin sudah akan menangis kalau saja iris hitamnya tak menangkap balon biru yang begitu akrab. Ia berlari mendekat, dan betapa leganya ia saat melihat sosok kecil anaknya yang memegangi balonnya erat sekarang dari kejauhan. Ia sangat bersyukur saat melihat ada orang yang menangkap anaknya yang bebal itu. Menggendongnya agar tak lari kemana-mana.
Dengan langkah cepat Hyukjae mendekati keduanya. Ia sudah siap dengan omelan super panjangnya meski senyum lega terpatri diwajahnya, namun perlahan langkanya memelan sejurus dengan senyumnya yang menghilang.
Ia terpaku, terdiam ditempatnya.
Melihat dengan ketidak percayaan saat kedua sosok itu bercengkaramah dari tempatnya berdiri. Ia bisa melihat bagaimana Donghae tertawa saat orang itu mencium pipinya, tersenyum padanya, dan berbicara sesuatu padanya.
Hyukjae mengenalinya. Ia sangat mengenalnya.
Wanita ini diam tak bergerak bahkan saat keduanya melihat kearahnya. Melihat saat tangan mungil Donghae melambai-lambai sebari memanggilnya, dan sosok itu tersenyum menatapnya penuh kasih.
Bahkan jika tubuhnya tertutup topi dan mantel gelap, Hyukjae masih bisa melihat kulit biru pucat itu. Masih bisa menatap iris biru gelap yang serasa menenggelamkanya bagai laut dalam.
Bahkan hingga detik ini Hyukjae selalu memimpikannya setiap malam, merindukannya setiap waktu.
Karena sesungguhnya, meski segala ketidak mungkinan yang ada didepan matanya, segala kemustahilan yang ada. Jauh dilubuk hati kecilnya yang terdalam Hyukjae selalu percaya bahwa tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, tak peduli sejauh apa jarak yang membentang, cintanya pasti akan kembali kepadanya.
Bahwa Donghae akan kembali ke dekapannya.
.
Aku adalah milikmu, dan selamanya akan menjadi milikmu.
.
.
.
.
END
Maafkan aku. Tapi aku memang menunda post ff ini karena kemarin salah satu sahabat dekatku sedang berduka. Ya mari kita doakan semoga ayahhanda-nya dapat
diterima disisi-Nya dan keluarganya diberi ketabahan, amin.
Semangat ya my best friend! You are the strongest girl I've ever known :D
.
Kembali ke ff, sebenernya logikaku mengatakan mustahil mereka bersatu, sedangkan egoku ingin mereka tetep bersatu. Jadi ku putuskan milih ending seperti ini.
Terserah kalian menafsirkannya seperti apa dan bagaimana kelanjutannya, semua aku kembalikan pada kalian.
So terima kasih untuk kalian semua, yang baca, yang review, dan yang dukung selama ini. Ff ini gak akan selesai tanpa kalian semua. Popo MUAH! MUAH!
And the last tentu aja meski telat sehari, HAPPY BIRTHDAY LEE DONGHAE
See you next story.
