Title : I Give My First Love To You (KrisTao Ver)

Rate : T

Cast : Huang Zi Tao

Kris / Wu Yi Fan

Warning : Typo dimana-mana dan bahasa tidak sesuai EYD

Summary : Saat berusia 8 tahun, Yi Fan divonis bahwa usianya tidak akan bisa lebih dari 20 tahun. Tao pun juga mengetahui hal itu. Namun, Yi Fan sudah terlanjur berjanji pada Tao untuk menikahinya ketika mereka dewasa nanti. Bisakah Yi Fan menepati janjinya?

.

Remake film 'I Give My First Love To You'

.

Menerima kritik dan saran yang bersifat membangun. Jangan memakai kata-kata kasar yang menyakiti hati author.

.

.

9 Tahun Kemudian

.

.

"Bagaimana kondisiku?" tanya Yi Fan, anak lelaki yang kini sudah beranjak dewasa. Yi Fan tumbuh menjadi lelaki yang sangat tampan. Tubuhnya tinggi, namun terlalu kurus untuk ukuran tubuh lelaki normal seusianya. Walau begitu, kekurusannya sama sekali tak mengurangi kadar ketampanannya.

Dokter Huang melepaskan stetoskop yang menggantung di telinganya. Ia tersenyum manis ke arah Yi Fan. "Kondisimu stabil." ucapnya. Sungguh, dokter Huang sangat senang melihat kondisi Yi Fan yang pulih secepat ini. Padahal tujuh hari yang lalu, kondisi Yi Fan sangat buruk dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit lagi.

Yi Fan tersenyum mendengar penuturan dokter Huang. "Baguslah. Masa tujuh hariku tinggal di sini berakhir sudah." gumam Yi Fan. Yi Fan segera bangkit dari duduknya dan mengancingi kemeja yang ia kenakan.

"Tapi kembalilah kemari setiap dua hari sekali. Minum obatmu dan hindarilah latihan fisik."

Yi Fan memutar kedua bola matanya malas, ia sudah mendengarkan nasehat itu ribuan kali. Tanpa disuruh pun akan Yi Fan lakukan. "Iya, iya."

"Oh, dan tidak ada permen dan tidak ada makan-makanan asin."

"Aku tahu, aku tahu, jangan cerewet." ucapan Yi Fan ini membuat dokter Huang menatap kesal ke arahnya.

"Sampai jumpa lagi, dokter Huang. Byee." Yi Fan segera keluar dari ruangan dokter Huang dengan smirk menghiasi bibirnya.

Selepas kepergian Yi Fan, dokter Huang kembali duduk di kursi kerjanya. Punggungnya ia sandarkan di kursi kerjanya. Helaan nafas berat meluncur dari celah bibirnya. "Dia sudah dewasa sekarang."

*KT*KT*KT*KT*KT*

Yi Fan berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan langkahnya yang ringan namun pasti. Yi Fan sangat senang akhirnya ia bisa keluar dari rumah sakit yang sudah seminggu ini ia tinggali.

Langkah Yi Fan terhenti begitu matanya menangkap sesosok gadis yang berdiri bersandar pada tembok dekat pintu rumah sakit. Gadis itu sangat cantik. Rambutnya panjang bergelombang dan berwarna coklat tua yang ia ikat dua dengan asal, namun itu justru menjadikannya terkesan imut, matanya sipit dengan kantung mata menghiasinya, hidungnya mancung, telinganya ia sumpal dengan earphone berwarna hijau muda, bibirnya yang tipis dan berwarna pink segar maju beberapa senti –pertanda kesal-.

"Tao? Kau datang?" tanya Yi Fan setelah ia berdiri di hadapan Tao-gadis cantik tadi-.

Tao tersenyum senang melihat kehadiran Yi Fan. Wajah tertekuknya hilang entah kemana. Tanpa menjawab pertanyaan Yi Fan, Tao segera menggandeng dan mengajak Yi Fan keluar dari rumah sakit tempat ayahnya bekerja.

"Yi Fan, apa yang ayahku katakan?" tanya Tao di tengah perjalan.

"Dia bilang kondisiku sudah stabil. Aku baik-baik saja."

Tao menghela nafas lega. Dipandanginya wajah Yi Fan dari samping. Berkali-kali harus Tao akui, Yi Fan itu sangat tampan. Matanya tajam, hidungnya mancung, kulitnya putih pucat, Yi Fan juga sangat tinggi, tinggi Tao hanya sepundak Yi Fan. "Kau curang, kenapa kau bertambah tinggi?"

"Emmm, nampaknya tinggal di rumah sakit tidak menghentikan laju pertumbuhanku."

"Kau sudah menjadi seorang pria dewasa." gumam Tao lirih namun masih bisa Yi Fan dengar.

Yi Fan tersenyum mendengar keluhan Tao, "Apakah itu hal yang buruk jika aku sudah menjadi seorang pria? Kau pun juga tumbuh. Lihatlah! Pantatmu sudah dua kali lebih besar sekarang." ledek Yi Fan membuat mata Tao membulat kesal. Tao pun langsung menghujani pukulan-pukulan kecil pada lengan Yi Fan. "Yak! Yak! Yak! Hentikan!" teriak Yi Fan kesakitan karena pukulan-pukulan Tao tidak bisa dikatakan pelan.

*KT*KT*KT*KT*KT*

Yi Fan menggerak-gerakkan tubuhnya di atas kursi sambil melihat teman-teman sekelasnya bertanding basket. Yi Fan bosan, ia juga ingin bermain, namun kondisi tubuhnya tidak memungkinkannya untuk bermain basket.

Yi Fan yang bosan segera beranjak dari duduknya, ia melenggang menyusuri koridor-koridor kelas, hingga matanya menangkap bayangan Tao yang sedang berjalan bersama temannya-Junghan dan Minghao-. Lalu...

Byuuurrrrr

Tiga orang lelaki menghadang Tao, Junghan dan Minghao, lalu ketiga lelaki tadi menyiramkan air ke tubuh Tao. Membuat Tao memekik kaget.

"Upss, maaf. Apa kau baik-baik saja." ucap salah satu dari ketiga lelaki tadi. "Kami baru saja akan mengepel koridor, namun tanganku licin dan tanpa sengaja menyirammu, kami tidak sengaja."

"Apa yang kalian lakukan? Jelas-jelas kalian sengaja menyiram Tao dengan air." bentak Junghan.

"Wuuuaaaahhh lihat. Itu merah muda. Indahnya" teriak salah satu lelaki tadi sambil menunjuk dada Tao tanpa memperdulikan omelan Junghan. Tao yang merasa ditunjuk segera mengarahkan matanya ke arah dadanya. Baju seragam Tao yang basah membuat bra merah muda yang Tao kenakan tercetak jelas. Tao reflek menutupinya dengan kedua tangannya.

Yi Fan yang melihat kejadian tersebut dari kejauhan semakin kesal, Yi Fan berjalan mendekati Tao dengan langkah lebar. Dengan segera, Yi Fan menyampirkan jas sekolahnya pada pundak Tao.

"Kalian bilang tidak sengaja?" tanya Yi Fan dengan suara seraknya. Ketiga lelaki tadi yang ditatap dengan begitu dinginnya oleh Yi Fan hanya dapat berdiri takut-takut.

"Itu hanya kecelakan." ucap mereka kompak. "Sudahlah, sebaiknya kami pergi."

Duuuagghh

Belum sempat tiga lelaki tadi pergi, Yi Fan dengan keras memukul satu per satu dari mereka. Membuat koridor yang tadinya sepi mendadak ramai. Sampai ke dua teman Yi Fan datang dan memegangi badan Yi Fan agar tak lagi memukuli tiga lelaki tadi.

"Apa yang kalian lakukan pada Tao?" bentak Yi Fan kepada ketiga lelaki tadi. "Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Yi Fan berontak saat kedua temannya semakin kencang memegangi Yi Fan.

Tao yang khawatir tentang keadaan Yi Fan pun ikut menenangkan Yi Fan. Namun, Yi Fan yang emosi sungguh sangat sulit untuk ditaklukkan.

Plakkk

Sehingga Tao harus menampar Yi Fan agar ia cepat sadar. "Tidak apa-apa Yi Fan, aku tidak apa-apa." Tao mencoba menenagkan Yi Fan yang saat ini sudah mulai tenang walau nafas Yi Fan justru terdengar satu-satu.

*KT*KT*KT*KT*KT*

"Merasa lebih baik sekarang?" tanya Tao setelah Yi Fan meneguk obatnya. Saat ini keduanya ada di dalam ruang kesehatan. Tadi, saat Tao melihat Yi Fan yang bernafas dengan susah payah, Tao menyuruh teman-teman Yi Fan untuk membawa Yi Fan ke ruang kesehatan.

"Itu bukan masalah." jawab Yi Fan sekenanya. "Pergi sana! Ganti bajumu, kau pasti kedinginan."

"Jangan khawatirkan aku. Seharusnya tadi kau tidak marah. Mereka hanya bercanda."

"Mereka bajingan. Mereka sudah melihat bramu."

"Eh?" Tao menatap Yi Fan yang saat ini memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Bahkan aku tidak pernah melihatnya." gumam Yi Fan lirih. "Mereka melihatnya sebelum aku. Bramu yang berwarna merah muda."

Tao melotot tak percaya dengan gumamam Yi Fan. "Apa kau bodoh? Kau hampir bunuh diri hanya karena masalah itu?"

Yi Fan menegakkan tubuhnya karena tak terima dengan ucapan Tao. "Ini adalah harga diriku. Aku ini pacarmu. Jadi, seharusnya aku yang pertama melihatnya."

Melihat Yi Fan yang cemberut membuat Tao mendesah berat. Tao pun berdiri dan langsung menutup ranjang tempat Yi Fan duduk dengan tirai pembatas berwarna putih.

"Kalau begitu, aku akan membuatmu menjadi orang pertama." ucap Tao begitu tirai pembatas antar ranjang tertutup seutuhnya.

"Ha?" Yi Fan terkejut seperti orang bodoh karena ucapan yang terlontar dari bibir tipis Tao.

"Aku akan menunjukkannya padamu kapan pun yang kau mau. Tapi kau harus berjanji padaku, jangan pernah melakukan tindakan bodoh seperti tadi lagi."

Yi Fan tidak menyahuti ucapan Tao karena masih terlalu terkejut. Sehingga Yi Fan hanya dapat menatap Tao yang saat ini telah membuka jas miliknya yang tadi ia gunakan untuk menutupi seragam Tao yang basah. Setelah jas terlepas, Tao meletakkan jas Yi Fan pada sandaran ranjang. Lalu Tao mengangkat seragamnya secara perlahan hingga perut mulus dan langsing Tao terlihat.

"Tunggu dulu." cegah Yi Fan saat seragam Tao hampir terbuka sampai dada. Yi Fan memegangi dadanya yang mendadak berdetak cepat.

"Eh?"

"Tunggu dulu. Dada ku sakit." tutur Yi Fan. "Tenanglah, ini bukan serangan jantung. Tapi ini menyakitkan. Aku tidak tahu kenapa." jelas Yi Fan saat melihat wajah Tao yang berubah khawatir.

Tao yang tersadar segera menurunkan seragamnya dengan terburu-buru. "Aku tidak akan pernah menunjukkannya padamu lagi." Tao segera mengambil jas Yi Fan dan mengenakannya lagi, membuat Yi Fan memandang Tao bingung. "Kegembiraan yang berlebih pun bisa membunuhmu." setelah berhasil mengancingkan jas Yi Fan, Tao mulai membuka kembali tirai pembatas.

"Tidak tidak, tunggu dulu."

"Aku tidak akan menunjukkannya lagi." ucap Tao final sambil menjulurkan lidahnya. Setelah itu Tao melangkah lebar-lebar menghindari amukan Yi Fan.

"Oh ayolah Tao." mohon Yi Fan sambil berlari mengejar Tao, membuat Tao ikut berlari. Namun, Tao kalah cepat dari Yi Fan hingga Yi Fan mampu menangkap Tao. Yi Fan memeluk Tao dari belakang, mencium wangi memabukkan yang berasal dari tubuh Tao. Keduanya tampak sangat menikmati moment kebersamaan mereka saat ini.

"Aku mencintaimu." bisik Yi Fan tepat di telinga Tao. Yi Fan membalik tubuh Tao hingga keduanya kini berhadap-hadapan. Yi Fan menggenggam kedua tangan Tao dan meletakkannya di atas dadanya. Keduanya bertatapan dan tersenyum, hingga tanpa sadar, wajah Yi Fan semakin dekat dengan Tao. Kedua belah bibir itu pun bersatu, merasakan kemanisan dan kelembutan dari bibir sang terkasih.

Ini adalah ciuman kedua mereka setelah 9 tahun yang lalu.

Tanpa Tao sadari, ia menangis di sela-sela ciuman mereka. Membuat Yi Fan melepas tautan bibir mereka. Yi Fan hanya mampu memandang Tao yang wajahnya sudah penuh dengan air mata. Lalu, dipeluknya kembali tubuh Tao dengan sangat erat.

.

.

Tao, Kekasihku

Selama tujuh hari di rumah sakit, aku berpikir

Jika aku berhasil keluar dari rumah sakit dalam keadaan hidup

Aku akan menciummu

Memegang tanganmu

Kemudian aku akan memelukmu erat-erat

Setelah itu, aku akan meninggalkanmu

Bila kau terus bersamaku, kau akan selalu menangis

Karena kau selalu memikirkan kondisiku

Kau selalu khawatir tentang sampai kapan aku bisa terus hidup

Agar kau tidak menangis lagi

Aku harus pergi darimu selagi aku masih hidup

.

.

Koridor sekolah sudah mulai sepi karena jam pelajaran sudah dimulai. Di koridor yang sepi itu, Yi Fan berjalan dengan langkah mantap menuju ke ruang Mr. Lee-wali kelasnya-. Yi Fan mengetuk pintu ruangan dan segera masuk setelah dipersilahkan oleh Mr. Lee.

"Oh, Wu Yi Fan. Ada apa?"

Yi Fan menyodorkan selembar kertas tanpa menjawab pertanyaan Mr. Lee.

"Emmm, dilihat dari rata-rata nilaimu, mungkin kau bisa lolos." ucapnya setelah selesai membaca kertas yang disodorkan Yi Fan.

"Jika begitu, saya mohon bantuannya untuk mengajukannya."

Mr. Lee melipat kedua tangannya di depan dada. Ditatapnya Yi Fan dengan pandangan menyelidik. "Saya akan membantumu. Tapi ZT University cukup jauh dari sini dan sistemnya sangat ketat, apakah kau sudah membicarakannya dengan kedua orang tua mu?"

Yi Fan hanya bisa diam mendengar pertanyaan Mr. Lee, karena memang ia sama sekali belum membicarakan hal ini kepada kedua orang tuanya, karena ia baru saja memutuskannya tadi siang.

Mr. Lee berdecik begitu tak mendapatkan respon dari Yi Fan, "Tidak perlu terburu-buru, diskusikan terlebih dahulu dengan kedua orang tuamu."

*KT*KT*KT*KT*KT*

"ZT University?" ayah Yi Fan melotot tak percaya setelah mendengar keinginan sang buah hati.

"Kalian tenang saja, ZT University memiliki sistem asrama, jadi kalian tidak perlu mencarikan tempat tinggal untukku."

Mama Huang berdiri dari duduknya. "Mama tidak setuju, bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi denganmu?"

"Ma, aku bisa jaga diri. Ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan sebelum aku mati." kedua orang tua Yi Fan langsung membeku mendengar ucapan Yi Fan. "Aku senang bisa mengetahui jalan hidupku. Aku jadi bisa melakukan apa pun yang aku inginkan tanpa adanya penyesalan."

"Apa ini karena Tao?" tanya mama Yi Fan tiba-tiba. "Kamu ingin masuk ZT University karena dia kan?"

Yi Fan tersenyum. "Ini tak ada hubungannya dengan dia."

*KT*KT*KT*KT*KT*

Tao memandang mama Yi Fan dengan pandangan yang sulit diartikan. Baru saja mama Yi Fan datang ke rumahnya dan mengatakan bahwa Yi Fan akan melanjutkan sekolahnya di ZT University yang tempatnya cukup jauh dari sini.

"Aku sebenranya tidak ingin mengatakan ini padamu. Tapi bisakah kau mengatakan padanya agar ia tidak melanjutkan ke sana denganmu? Katakan padanya bahwa kami ingin dia kuliah di universitas dekat rumah saja."

"Maaf ma, mama salah paham. Aku tidak pernah mengajak Yi Fan untuk melanjutkan ke ZT University, universitas itu terlalu sulit untukku." jelas Tao.

'Jadi begitu, Yi Fan akan melanjutkan ke ZT University? Apa ia sedang berusaha menghindariku?' batin Tao.

*KT*KT*KT*KT*KT*

Hari Kelulusan

.

.

Yi Fan menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Tao ditengah hinggar binggar orang-orang yang senang akan kelulusannya. Sudah 10 menit berlalu, namun Yi Fan masih belum juga menemukan keberadaan Tao.

Duk

Sebuah map berisi ijazah dan surat-surat penting lainnya hinggap di kepala Yi Fan hingga ia mengaduh kesakitan.

"Kau sedang mencari siapa? Mencariku?" tanya Tao, si pelaku pemukul kepala Yi Fan dengan map.

Yi Fan memutar kedua matanya malas. "Ck. Aku sedang tidak mencari siapa-siapa."

"Yi Fan, kau akan melanjutkan kemana?" Yi Fan terdiam mendengar pertanyaan Tao. "Universitas mana?" tanya Tao lagi.

"Aku sudah diterima di ZT University."

Walaupun Tao sudah tahu, tapi jika mendengar langsung dari bibir Yi Fan, rasanya lebih menyakitkan. Namun, Tao menutupinya dengan tawa manisnya. "Wah kau hebat, itu universitas bergengsi dan elit. Hahh, aku tidak akan bisa melanjutkan ke universitas itu dengan nilai-nilaiku, apa kau tidak menyadari betapa bodohnya aku?"

"Lalu, universitas mana yang kau pilih?"

"Aku tidak akan melanjutkan sekolah ke universitas mana pun."

Yi Fan menaikkan satu alisnya mendengarkan ucapan Tao. "Apa yang akan kamu lakukan?"

"Mungkin aku akan menjadi seorang nelayan." keduanya tersenyum. "Tapi tidak juga, aku memiliki rencana lain."

"Rencana lain?"

Tao memandang wajah Yi Fan lekat-lekat. "Rencana kita saat kita masih anak-anak. Apa kau ingat?" namun, Yi Fan justru memalingkan wajahnya ke arah lain. "Oh begitu, jadi kamu tidak ingat." Tao tersenyum getir. "Ahhhh, jadi di sinilah terakhir kalinya aku bisa bertemu denganmu."

"Tao." Yi Fan langsung menatap wajah Tao dengan pandangan sedih.

"Sampai jumpa lagi ya, Yi Fan. Selamat tinggal." Tao pun segera melangkah menjauhi Yi Fan tanpa berbalik sedikit pun.

.

.

Sekarang aku bisa menjauhkan diri dari Tao

Meski aku masih sangat mencintaimu

Kau tahu, aku tidak akan pernah sanggup mengucapkan ucapan selamat tinggal padamu

Aku bertindak seperti seorang pecundang

.

.

Yi Fan mengurung dirinya di dalam kamar. Semua lampu di kamarnya mati, hanya ada sinar bulan yang menerangi kamar Yi Fan.

Yi Fan sedang duduk di atas ranjangnya, dengan foto-foto Tao dan dirinya yang tersebar di sekitarnya. Yi Fan menatap seluruh foto-foto itu dengan air mata yang sedari tadi meluncur melewati pipi tirusnya.

Ia ingat semua moment yang ada di foto tersebut. Foto mereka yang saling menyuapi kue ulang tahun rasa keju, foto saat mereka berdansa dengan mengenakan pakaian ala China dan kembang api menjadi latar belakangnya, foto Tao dengan wajah penuh air saat mereka mencuci mobil bersama, dan masih banyak foto-foto kebersamaan mereka lainnya.

*KT*KT*KT*KT*KT*

Hari penerimaan mahasiswa baru

.

.

"Sekarang kalian sudah diterima menjadi mahasiswa ZT University. Kalian akan mendapatkan kesempatan mendapatkan ilmu pengetahuan baru, karena memperoleh pengetahuan akan memimpin kita untuk berpikir dengan cara baru..." pidato sambutan dari rektor sama sekali tidak Yi Fan dengar, karena saat ini Yi Fan sudah tertidur dengan pulas. Tepuk tangan yang meriahlah yang membuat Yi Fan terbangun dari tidurnya. Tepuk tangan tadi berarti berakhirlah pidato sambutan dari rektor.

"Sekali lagi selamat untuk kalian semua. Lalu selanjutnya, sambutan dari mahasiswi teladan, mahasiswi yang mendapatkan nilai sempurna pada ujian penerimaan mahasiswa baru, yaitu Huang Zi Tao." Yi Fan menaikkan sebelah alisnya begitu MC menyebutkan sebuah nama yang tak asing baginya.

"Baik." seorang gadis segera berdiri dari duduknya. Ia langsung melangkah dengan anggun menuju ke atas mimbar. Yi Fan melonggo tak percaya melihat gadis itu. Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Tao. Orang yang sangat ia cintai.

Sesampainya di atas mimbar, Tao menoleh ke kanan dan ke kiri, bermaksud mencari keberadaan seseorang. Lalu dua pasang mata itu pun bertemu.

"Ahh. Yi Fan! Di sana kau rupanya." Tao tersenyum senang setelah melihat keberadaan Yi Fan. "Kau kaget kan? Dengar aku baik-baik ya, kau tidak akan mungkin bisa menyingkirkanku dari hidupmu. Kau tahu? Aku belajar begitu keras. Sepuluh tutor datang setiap hari ke rumahku untuk membantuku belajar." semua mahasiswa saling berpandangan karena bingung dengan situasi saat ini. "Sekarang kau lihat aku, Yi Fan! Aku bisa masuk universitas ini dengan nilai tertinggi. Kau bodoh! Beraninya kau meremehkan aku!"

Yi Fan yang sudah tidak sabar pun ikut tersulut emosi, ia pun berdiri dari duduknya. "Aku tidak pernah meremehkanmu." ucapan lantang Yi Fan ini justru membuat semua yang ada di dalam aula mengalihkan pandangan dari Tao menjadi padanya.

"Kau bohong. Dasar bodoh! Kau tidak pernah tahu apa yang aku rasakan. Aku tidak pernah bermaksud melanjutkan sekolah. Aku mempunyai rencana lain, ahhh." tiga dosen yang mulai paham situasi semakin tidak baik langsung menuju ke atas mimbar dan mencoba membawa Tao turun dari sana. "Yak! Lepaskan aku! Hei Yi Fan, aku berencana untuk mengambil kursus memasak dan kursus tata rias agar aku bisa menjadi wanita yang anggun. Saat ini, aku telah cukup umur untuk menikah. Jadi aku akan menunggu sampai kau lulus, sampai kau berusia 20 tahun." Tao menatap Yi Fan yang sedari tadi mematung menatap Tao. "Apakah kau lupa janji kita? Aku tidak akan pernah melupakan janji kita. Jadi, jangan berani mencoba untuk mencampakkan aku. Aku ingin menjadi mempelai terbaik di dunia untuk kamu ahhhh." lagi-lagi Tao diseret paksa oleh ketiga doseen tadi. "Kau dengar kan, Yi Fan? Yak! Lepas! Aww sakit! Yak! Kau bodoh, Yi Fan. Ahhh." teriakan-teriakan Tao terus terdenar sampai Tao dikeluarkan dari aula.

*KT*KT*KT*KT*KT*

"Tentu saja aku tidak akan lupa." waktu istirahat sudah tiba, kini Tao sedang bersama dengan Yi Fan di taman sekolah.

"Kau juga ingat ciuman itu kan?"

Yi Fan mendecak sebal. "Tentu, tapi..."

"Tapi apa, Yi Fan?"

"Hei, jadi kalian berdua akan menikah?" ucap seorang gadis yang tiba-tiba lewat di depan mereka.

"Diam kau! Siapa yang bilang begitu?" jawab Yi Fan.

Tao melotot tak terima. Digandenglah tangan Yi Fan erat-erat. "Aku serius. Kita berdua akan menikah. Jadi jauhkan tangan kalian dari orang ini."

"Aiishh kau ini. Jangan kekanakan." Yi Fan yang kesal segera melepaskan dengan kasar gandengan Tao. Ia pun langsung pergi menjauhi Tao.

"Yi Fan, tunggu."

"Apa lagi?"

"Tunggu." dan aksi kejar-kejaran antara Yi Fan dan Tao pun terus berlanjut.

Tanpa sepengetahuan mereka, ada seorang lelaki yang menatap keduanya dengan tertarik.

*KT*KT*KT*KT*KT*

Setelah mata kuliah selesai, mereka berdua tidak langsung kembali ke asrama masing-masing karena hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin Yi Fan dan di bis inilah mereka sekarang. Duduk di kursi paling belakang dengan Tao yang terus menempel pada Yi Fan.

"Kenapa kau ikut?"

"Karena aku senang bisa berada di sisimu lagi."

"Aissshhh. Jangan terlalu dekat." Yi Fan mencoba untuk melepaskan pelukan Tao pada lengannya.

"Tapi aku benar-benar senang bisa bersamu lagi."

Bruukkk

"Heiii." Yi Fan kaget dan tubuhnya sedikit oleng karena Tao kembali menubruknya dan memeluk lengannya dengan begitu kuat. Pekikan Yi Fan membuat orang lain yang ada di dalam bis menatap ke arah keduanya.

"Maaf. Maaf." Yi Fan membungkukkan badannya ke arah orang-orang dengan Tao yang masih memeluk lengan Yi Fan dengan manja.

"Aiiisshh Tao, jangan begini."

"Kenapa tidak boleh?"

"Ini tempat umum, kau harusnya tahu."

"Siapa yang peduli?"

"Ck hentikan."

"Tidak akan."

"Berhenti!"

"Tidak mau. Shhh diamlah, Yi Fan." peringatan dari Tao ini membuat Yi Fan terdiam. Tao pun memanfaatkan hal ini untuk lebih erat memeluk lengan Yi Fan. Yi Fan tersenyum lembut menikmati kebersamaannya dengan Tao. Walaupun ia melarang Tao untuk bermanja padanya, namun sebenarnya Yi Fan amat sangat senang. Yi Fan juga sangat merindukan Tao.

*KT*KT*KT*KT*KT*

"Keadaanmu stabil." jelas dokter Huang setelah memeriksa Yi Fan.

"Tentu saja, jika tidak ada kelas, aku selalu beristirat." Yi Fan mendudukkan dirinya di sebelah dokter Huang. "Dokter, aku punya pertanyaan.

"Apa?"

"Berapa banyak latihan fisik yang boleh aku lakukan?"

"Maksudmu?"

"Dapatkah aku melakukan olahraga yang tidak berlari. Sebagai contohnya memanah."

Dokter Huang terdiam sambil berpikir. Pensil yang ia pegang ia gerakkan ke kanan dan ke kiri. "Memanah ya?"

"Atau seks misalnya." suasan menjadi hening setelah Yi Fan berujar demikian.

Crak

Sreeggg

Pensil yang dokter Huang pegang kini telah patah menjadi dua. Dokter Huang bangkit dari duduknya dan bersiap untuk memukul Yi Fan.

"Dok..dokter. Tenanglah."

Dokter Huang pun menurunkan tangannya, tidak jadi memukul Yi Fan. "Dengan siapa kau akan melakukannnya?"

"Tenanglah. Aku tidak bermaksud melakukannya dengan putrimu, Tao. Aku hanya ingin tahu karena aku tidak berpengalaman." jelas Yi Fan takut-takut.

"Hahh. Itu tergantung. Tapi akan sangat berat untukmu. Sebagai dokter aku tidak akan megijinkanmu."

Yi Fan tersenyum sedih. "Seorang pria yang tidak bisa berhubungan seks tidak akan bisa menikah dengan siapa pun kan?"

*KT*KT*KT*KT*KT*

Dalam perjalanan pulang pun Tao masih menggandeng lengan Yi Fan dengan begitu erat sehingga Yi Fan sedikit kesulitan berjalanan.

"Tao, aku tidak bisa berjalan jika kau seperti ini."

"Kau pasti bisa."

Yi Fan pun mencoba melepaskan pelukan Tao kembali. "Aku tidak bisa."

"Bisaaaa." karena dilepas paksa oleh Yi Fan, Tao lagi-lagi justru menabrakkan dirinya dengan Yi Fan, membuat Yi Fan sedikit oleng.

"Hentikan, Tao."

"Ohh ayolah, jangan malu."

"Kau Yi Fan kan?" seorang perempuan cantik tiba-tiba mendekati Yi Fan dan Tao. Membuat obrolan mereka berdua terhenti.

Yi Fan terpaku sesaat setelah melihat perempuan tadi. Dan tanpa sadar melepas pelukan Tao dengan kasar. "Kau... Luhan?"

TBC

No edit. Maaf kalau banyak typo.

Siapa lelaki yang terus memperhatikan Yi Fan dan Tao?

Luhan itu siapa?

Tunggu aja next chap nya yak.