Title : I Give My First Love To You (KrisTao Ver)

Rate : T

Cast : Huang Zi Tao

Kris / Wu Yi Fan

Warning : Typo dimana-mana dan bahasa tidak sesuai EYD

Summary : Saat berusia 8 tahun, Yi Fan divonis bahwa usianya tidak akan bisa lebih dari 20 tahun. Tao pun juga mengetahui hal itu. Namun, Yi Fan sudah terlanjur berjanji pada Tao untuk menikahinya ketika mereka dewasa nanti. Bisakah Yi Fan menepati janjinya?

.

Remake film 'I Give My First Love To You'

.

Menerima kritik dan saran yang bersifat membangun. Jangan memakai kata-kata kasar yang menyakiti hati author.

.

.

"Sekarang kau sudah tumbuh dewasa ya. Terakhir bertemu kau masih sangat kecil." ucap Luhan ketika ia dan Yi Fan sedang duduk berdua di taman rumah sakit. Meninggalkan Tao yang menatap keduanya dari jauh dengan bibir mengerucut lucu.

"Tentu saja, terakhir kita bertemu saat aku masih di sekolah dasar kan?"

Luhan mengangguk tanda setuju. Lalu Luhan memperhatikan Tao dari jauh, "Kau masih bersama dengan Tao ya?" Yi Fan mengikuti arah pandang Luhan, keduanya menatap Tao yang saat ini sedang memainkan rumput-rumput di sekitarnya. "Dahulu, para perawat dan aku sering menjadikan kalian bahan candaan. Kami selalu memanggil kalian berdua dengan sebutan pasangan suami istri versi mini."

Luhan tertawa, Yi Fan pun ikut tertawa mendengar cerita Luhan. Ia jadi teringat masa-masa kecil mereka. "Oh ya, kenapa kau kembali ke rumah sakit lagi?"

"Aku mengalami serangan jantung lagi. Umurku kan sudah 20 tahun, sudah saatnya aku mengharapkan transplantasi jantung." Yi Fan mengangguk menanggapi. Yi Fan juga senasib dengan Luhan, untuk itulah Yi Fan mengerti akan apa yang dialami Luhan. Umur Yi Fan pun sebentar lagi akan mencapai angka 20, batas waktu yang diberikan dokter untuk Yi Fan. Yi Fan hanya bisa berharap akan adanya jantung baru untuknya. "Yi Fan, apakah kamu juga terdaftar untuk transplantasi?"

"Tentu saja. Itulah satu-satunya cara kita untuk bertahan hidup kan?" ucap Yi Fan sembari tersenyum. Keduanya pun tersenyum bersama, tanpa memperdulikan Tao yang memperhatikan keduanya dengan perasaan sedih. Yi Fannya yang biasanya hanya akan mau memperlihatkan senyum manisnya di hadapannya, kini Yi Fan pun juga mau tersenyum manis seperti itu di hadapan Luhan, bersama Luhan.

*KT*KT*KT*KT*KT*

"Ada apa denganmu Tao? Kenapa kamu marah?" tanya Yi Fan pada Tao, karena Tao tidak mau duduk berdekatan dengan Yi Fan di dalam bus saat perjalanan pulang. Tao memberi jarak yang cukup jauh dari Yi Fan. Kedua tangan Tao terlipat di depan dada, ia pun tak mau menatap ke arah Yi Fan. Tao hanya mau memandang pemandangan yang terlihat dari jendela bus.

"Aku tidak marah." jawab Tao dengan ketus.

Yi Fan mencoba duduk lebih dekat dari Tao lagi, "Kau ingat Luhan kan? Dia itu sering bermain bersama kita saat kita masih kecil."

Tao berdiri dari duduknya dan melangkah ke kursi bus lain yang jaraknya lebih jauh lagi dari Yi Fan, "Aku tidak ingat dia. Yang aku ingat hanya kau." teriak Tao. "Hah, kenapa pria selalu saja seperti itu, ada wanita cantik sedikit saja langsung membuat mereka lembut dan lembek." Tao bergumam lirih tapi masih dapat Yi Fan dengar.

Yi Fan tak terima, ia pun kembali mendekati kursi yang Tao duduki. "Hei, perempuan pun juga sama, jika ada pria tampan, mereka akan selalu memberikan senyum manisnya dan menggoda pria tampan tersebut." pembelaan dari Yi Fan ini pun sama sekali tak merubah keadaan. Tao sudah mulai malas menanggapi, untuk itu ia, tak lagi membalas ucapan Yi Fan. Yang bisa dia lakukan hanya mendiamkan Yi Fan.

*KT*KT*KT*KT*KT*

Bel tanda pulang sekolah akhirnya berbunyi. Para siswa dan siswi berlomba-lomba keluar meninggalkan kelas yang seperti neraka bagi mereka. Ada yang langsung menuju ke asrama, ada yang pergi mencari makan di luar, atau ada pula yang pergi berkaraoke bersama teman-teman.

Seperti hari-hari biasa, Tao akan mendatangi kelas Yi Fan untuk mengajaknya makan bersama sebelum keduanya kembali ke asrama masing-masing. Tapi Tao tidak melihat kehadiran Yi Fan di kelasnya. Ia pun menghampiri Leo, teman dekat Yi Fan.

"Leo, kau tahu dimana Yi Fan sekarang?"

"Tadi ia pulang lebih awal." jawab Leo.

Tao memiringkan kepalanya sembari berfikir, "Pulang lebih awal?"

"Iyaa. Dia bilang akan ke rumah sakit."

Tao menautkan alisnya, "Tapi hari ini bukanlah jadwal checkupnya."

"Entahlah Tao, dia hanya bilang begitu, dia juga bilang akan kembali sore ini."

"Tidak akan. Dia tidak akan kembali sore ini. Dan sepertinya aku tahu kenapa ia pergi ke rumah sakit hari ini." Tao memandang ke arah jendela kelas Yi Fan dengan pandangan sedih.

*KT*KT*KT*KT*KT*

Di dalam sebuah ruangan yang serba putih itu, Luhan terbaring dengan selang yang menempel pada tangannya. Luhan sedari tadi terus menatap ke arah jendela. Sejujurnya Luhan sudah amat sangat bosan dengan keadaannya. Ia bosan dengan rumah sakit, bau obat-obatan, serta alat-alat medis yang selalu menempel di tubuhnya.

Suara ketukan pada pintu kamarnya membuat lamunan Luhan terputus, dan alangkah terkejutnya ia begitu melihat Yi Fanlah orang yang mengetuk pintu tersebut. Yi Fan masih mengenakan seragamnya, terlihat tampan dengan bunga merah cantik di tangannya.

"Yi Fan? Kau datang?" tanya Luhan tak percaya.

"Tentu saja. Ini untukmu." Yi Fan tersenyum sembari menyerahkan bunga itu kepada Luhan.

Mata Luhan membola, tak mengira jika Yi Fan akan memberikan bunga indah itu padanya, "Waahh, terimakasih, ini indah sekali, Yi Fan."

Yi Fan pun hanya bisa tersenyum senang melihat Luhan yang bahagia mendapatkan bunga darinya.

*KT*KT*KT*KT*KT*

Tao melangkah dengan kasar meninggalkan Leo dan menuju keluar dari kelas Yi Fan. Namun baru saja membuka pintu kelas Yi Fan, Tao harus merasakan kerasnya lantai yang menabrak pantatnya karena ia bertubrukan dengan dada bidang milik seorang pria yang tak Tao kenal dan menimbulkan bunyi bedebum yang cukup keras.

"Maaf, apa kau baik-baik saja?" tanya lelaki tadi sambil mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Tao berdiri.

Tao yang tadinya akan menerima uluran tangan lelaki tersebut akhirnya membatalkan niatannya begitu ia mendengar jerit histeris wanita-wanita di belakangnya. "Aku baik-baik saja." Tao pun berdiri sendiri, tanpa bantuan dari lelaki tadi. Setelahnya, Tao meninggalkan lelaki tersebut yang masih pada posisi yang sama-menjulurkan tangan kanannya-. Sepeninggalan Tao, lelaki itu pun meremas tangan kanannya pertanda kesal karena telah mendapatkan penolakan dari Tao.

"Heiii!" teriak lelaki tadi memanggil Tao yang rupanya sudah berjalan lumayan jauh. Tao yang merasa terpanggil pun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap lelaki tadi. Lelaki tadi pun berjalan mendekati Tao dengan kedua tangan berada di dalam saku celana. "Kau Huang Zi Tao kan?" tanyanya setelah berada di depan Tao.

Tao memandang aneh lelaki di hadapannya ini. "Ya? Kenapa?"

"Aku Park Chanyeol. Aku adalah mahasiswa dengan nilai terbaik kedua setelahmu. Senang bertemu denganmu, Nyonya Huang Zi Tao."

"O...ohh. Yaa. Senang juga bertemu denganmu."

Brukkk

Betapa terkejutnya Tao begitu ia melihat Chanyeol yang langsung berlutut di hadapannya dengan kedua tangan menggenggam tangan kanan Tao dengan begitu kuat, membuat beberapa siswi yang melihat menjerit tertahan. Jerit karena iri dengan Tao. Sang pangeran yang mereka puja telah menggenggam tangan seorang gadis bernama Tao.

"Princess Tao. Mari kita bersama-sama menikmati kehidupan sekolah kita." ucap Chanyeol dengan senyum lebar yang memperlihatkan lesung pipi kecilnya.

Tao pun berusaha untuk melepas genggaman tangan Chanyeol yang teramat kuat, tapi sepertinya Chanyeol sengaja mengencangkan genggamannya, membuat Tao kesulitan untuk melepaskan. Namun pada akhirnya, dengan kekuatan penuh, Tao dapat melepaskan genggaman tersebut. "Dasar gila." ucap Tao sebelum meninggalkan Chanyeol yang menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

*KT*KT*KT*KT*KT*

Hari sudah beranjak malam. Yi Fan berjalan menuju asrama dengan wajah tertunduk. Sesungguhnya ia sudah merasa sangat mengantuk karena kelelahan. Suara deru mobil dari depan asrama membuat Yi Fan mengangkat kepalanya. Matanya memicing, mengira-ngira keluarga siapa yang datang berkunjur selarut ini. Namun, Yi Fan yang memang cuek pun akhirnya tetap melanjutkan langkahnya menuju asrama.

Langkah Yi Fan berhenti begitu melihat seorang wanita setengah baya bersama seorang lelaki yang Yi Fan ketahui merupakan teman seasramanya.

"Apa kabar Chanyeol?" tanya wanita tadi pada si lelaki yang ternyata bernama Chanyeol. Dan hanya dibalas deheman oleh Chanyeol. "Chanyeol, ini ambilah. Aku membawakanmu banyak makanan." wanita tadi langsung memberikan bungkusan besar pada Chanyeol. "Belajarlah dengan keras, aku akan datang lagi nanti."

"Kau tak perlu datang lagi." balas Chanyeol dengan ketus, sedangkan wanita itu hanya tertawa. Ia pun berbalik, berniat untuk pulang, namun terhenti karena ia melihat Yi Fan didepannya. "Ahhh. Selamat malam." wanita itu membungkuk dan menyapa Yi Fan, setelahnya ia berlari memasuki mobilnya yang terparkir di depan asrama.

"Kau jangan beritahu hal ini pada siapa pun." ucap Chanyeol setelah Yi Fan berjalan melewatinya.

"Hah?"

"Jika orang-orang tahu bahwa aku memilik ibu yang kuno, citraku akan langsung rusak."

Yi Fan hanya tersenyum tipis mendengar penjelasan dari orang yang tadi dipanggil dengan nama Chanyeol ini. Yi Fan berfikir, jika orang-orang tahu, Chanyeol pasti akan dikata anak mamah yang manja.

"Oh ya, aku dengar kau memiliki kelainan jantung. Sejak kapan?" tanya Chanyeol setelah hening yang cukup lama diantara keduanya.

Yi Fan memandang sengit orang di hadapannya ini, "Siapa kau? Kenapa bertanya hal begitu pada orang yang tak kau kenal?" sembur Yi Fan. Yi Fan pun kembali berjalan, beranjak meninggalkan Chanyeol.

"Wu Yi Fan!" panggil Chanyeol. Yi Fan pun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Chanyeol. "Mari kita bicara." Chanyeol pun berjalan ke arah taman asrama, yang bisa Yi Fan lakukan hanyalah mengikutinya.

"Ini, minumlah." Chanyeol menyodorkan jus botolan pada Yi Fan setelah keduanya duduk di kursi taman asrama. "Oh iya, kau tidak boleh makan dan minum yang manis kan?" ucapnya setelah dirasa Yi Fan tidak menerima pemberiannya.

"Kenapa kau..."

"Kenapa aku mengetahuinya?" tanya Chanyeol memotong ucapan Yi Fan. "Aku mengenal seseorang dengan kondisi yang sama sepertimu. Jadi, mungkin aku lebih tahu mengenai hal ini dari pada kau dan juga Tao." Yi Fan mendelik menatap orang dihadapannya ini. Kenapa lelaki ini bisa mengenal Tao, batinnya bertanya. "Orang yang aku kenal sudah meninggal. Ia terus menunggu donor jantung sepertimu, tapi tidak berhasil dan akhirnya meninggal. Dan orang itu adalah ayahku sendiri." Chanyeol tersenyum sembari mengingat ayahnya. "Sekarat dari penyakit jantung bukanlah hal yang langka. Jadi, aku tidak tertarik pada orang-orang yang akan mati karena penyakit tersebut, aku hanya tertarik pada orang-orang yang akan ditinggalkan oleh orang tersebut."

Yi Fan terus saja menatap Chanyeol dengan pandangan was-was. "Apa maksudmu?"

"Kau tahu, sampai saat ini, ibuku masih saja merindukan ayahku, ia selalu menangis jika mengingat ayahku." Chanyeol tersenyum sedih. Setelahnya ia memandang Yi Fan dengan raut wajah serius. "Kau tahu? Saat ini aku sedang mencintai seorang wanita, sayangnya wanita itu sudah memiliki pacar. Dan yang lebih menyedihkan lagi, pacar wanita yang aku cintai pun menderita penyakit yang sama dengan ayahku. Saat aku pertama kali berjumpa dengannya, sempat terpikir olehku..." jeda cukup panjang antara keduanya. Chanyeol berdiri dari duduknya, ia melangkah dan berdiri di hadapan Yi Fan dengan mata memicing tajam. "Bila kau meninggal, Tao pun pasti tidak akan berhenti menangis seperti ibuku. Jadi untuk mencegah hal itu, aku harus membuat Tao jatuh cinta padaku sebelum kau meninggal dunia."

Yi Fan terkejut akan ucapan yang terlontar dari mulut Chanyeol, tangan Yi Fan terkepal di samping tubuhnya. "Kauuu..."

"Hei sobat, kau datang ke sekolah ini karena kau ingin putus dengannya kan? Kalau begitu lakukanlah!" ucap Chanyeol memotong ucapan Yi Fan.

*KT*KT*KT*KT*KT*

Tao baru saja keluar dari ruang dosen dan terkejut melihat Chanyeol yang sudah berdiri di depan pintu ruangan dosen tersebut.

"Hai princess." sapanya. Sedangkan Tao hanya memutar matanya malas. "Apa kau mau kencan denganku?" tanya Chanyeol terus terang.

Tao melongo, "Hah?"

"Emmm, bukan bukan." Chanyeol menggelengkan kepalanya. Dan langsung merangkul pundak Tao seenaknya. Chanyeol menatap mata Tao dengan intens. "Kau, jadilah pacarku. Ya?"

Tao pun melepaskan rangkulan Chanyeol dengan kasar, "Hei dengar ya, kau tahu kan bahwa aku..."

"Husssshhh, kau tenang saja, aku akan sabar menunggu balasan darimu kok." potong Chanyeol.

*KT*KT*KT*KT*KT*

Seperti biasa, saat pelajaran olahraga berlangsung, Yi Fan hanya bisa duduk memperhatikan teman-temannya berolahraga. Kali ini, jadwalnya sama seperti kelas Chanyeol. Yi Fan dapat melihat Chanyeol yang berhasil memasukkan bola ke dalam gawang lawan, setelahnya Chanyeol melempar cium jauh kepada para penggemarnya yang langsung berteriak heboh. Chanyeol memang cukup terkenal di kalangan para wanita karena ketampanan dan keramahannya.

Yi Fan berdecik jijih melihat kelakuan Chanyeol. Akhirnya ia pun beranjak dari tempatnya. Ia berjalan dengan pelan menuju belakang sekolah.

Tao yang kebetulan baru keluar dari toilet melihat Yi Fan berjalan ke belakang sekolah pun berlari mendekati Yi Fan.

"Mau kemana kau?" tanyanya begitu ia sudah berada di belakang Yi Fan.

Yi Fan pun berbalik, namun masih tetap berjalan. "Ohhh ternyata kau. Mau ke rumah sakit. Hari ini aku tidak mendapatkan izin resmi untuk keluar sekolah. Untuk itu aku akan memanjat tembok belakang sekolah untuk kabur."

"Kau akan menjenguknya lagi."

Yi Fan mendesah kesal, "Kau tidak mengerti, ia kesepian berada di rumah sakit sendiri. Berhentilah untuk merasa cemburu."

"Hahhh?" Tao tidak terima akan ucapan Yi Fan.

"Sudah dulu. Bye." Yi Fan pun memanjat tembok belakang sekolah, dan tanpa sadar telah menjatuhkan kertas lusuh yang selalu berada di dalam saku seragamnya.

Tao pun memunggut kertas lusuh itu.

"Si bodoh itu. Kenapa masih menyimpan kertas ini."

*KT*KT*KT*KT*KT*

"Dimana ya hilangnya?" Yi Fan sibuk memeriksa semua saku pada seragamnya. Ia mencari kertas lusuh yang selalu ia bawa kemana-mana.

"Yi Fan, apa yang kau cari?" tanya Luhan yang sejak tadi memperhatikan Yi Fan yang sibuk mencari sesuatu.

Yi Fan tersenyum, "Aku mencari jimat keberuntunganku. Aku menulis sesuatu di kertas itu saat aku masih kecil. Kertas itu berisi doaku. Karena sampai saat ini aku masih hidup, maka aku menyebutnya jimat keberuntunganku. Apakah jatuh ketika aku naik dinding ya? Semoga saja Tao melihatnya dan menyimpannya untukku."

Luhan tertawa mendengar cerita Yi Fan, "Kamu sangat beruntung mempunyai seorang wanita cantik yang selalu berada di sampingmu. Sedangkan aku tidak memiliki siapa pun. Hingga saat ini, aku belum pernah memiliki seorang kekasih. Jika aku mendapatkan transplantasi jantung, aku akan mendapatkan bekas luka besar di dadaku dan tidak akan ada seorang pria pun yang ingin melihatku nantinya. Aku pasti tidak akan pernah punya kekasih."

"Heiii, kau tidak boleh berkata demikian. Kau ini adalah wanita yang sangat cantik, aku yakin akan ada banyak pria yang menyukaimu nanti."

Luhan hanya tersenyum sendu mendengarnya, "Yi Fan. Maukah kau menciumku?" Yi Fan terkejut mendengar permintaan Luhan. "Mendekatlah, Yi Fan. Kemarilah." Yi Fan hanya dapat menunduk, tidak menuruti keinginan Luhan. "Yi Fan, kau tahu? Aku belum pernah jatuh cinta, dan aku juga belum pernah punya kekasih, untuk itu aku belum pernah merasakan ciuman. Aku tidak ingin mati seperti ini." Yi Fan duduk dengan gelisah. Ia bingung harus menanggapi ucapan Luhan seperti apa. Luhan menatap Yi Fan dengan serius, "Yi Fan, apakah kau menyukaiku?"

Akhirnya Yi Fan pun memberanikan diri menatap Luhan setelah Luhan memberikan pertanyaan itu padanya, "Apa?"

"Jika kau tidak menyukaiku, maka..."

"Tentu saja aku tidak menyukaimu, aku hanya menyukaimu sebagai teman." potong Yi Fan dengan cepat.

"Kalau begitu cium aku! Hanya satu kali saja. Lagipula ini hanya sebuah ciuman." namun, Yi Fan tetap pada posisinya. Ia tak beranjak mendekati Luhan. Ia hanya bisa menatap Luhan. Luhan yang jengah pun akhirnya bertindak. Ia beranjak dari tempat tidur dan melangkah perlahan mendekati Yi Fan. Dan tanpa bisa dicegah lagi, akhirnya Luhan mencium Yi Fan tepat di bibir. Bibir bertemu dengan bibir. Hanya sebuah kecupan, tidak ada hisapan ataupun permainan lidah. Hanya sebentar namun sangat berarti untuk Luhan.

"Yi Fan, itu adalah ciuman pertamaku."

*KT*KT*KT*KT*KT*

Tao duduk diam di dekat jendela kamar asramanya. Ia tidak bisa tidur, padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ia rindu dengan Yi Fannya. Sudah 2 hari ia tak bisa menghabiskan waktu berdua dengan Yi Fan karena Yi Fan terlalu sibuk dengan si Luhan itu.

Mata Tao mengerjab, memastikan orang yang ia lihat di taman asrama adalah orang yang sedari tadi ia pikirkan. Tao pun membuka jendela kamar asramanya agar ia bisa melihat dengan jelas. Ternyata dugaan Tao benar. Orang yang duduk sendiri di taman asrama adalah Yi Fan. Tao pun tersenyum senang. Ia kembali menutup jendelanya, lalu mengambil jaket tebal dan tidak lupa membawa kertas lusuh milik Yi Fan. Tao pun berjalan mengendap keluar dari asrama.

"Yi Fan. Apa yang kau lakukan malam-malam begini di sini?" sapanya setelah berada dihadapan Yi Fan.

Yi Fan terlonjak terkejut. Setelahnya ia mendesah kesal. "Pergilah Tao, aku sedang ingin sendirian."

"Apa kau di rumah sakit sepanjang hari ini." Tao pura-pura tidak mendengarkan ucapan Yi Fan.

"Apa kau tidak dengar? Aku sedang ingin sendirian."

"Apa kau di rumah sakit sepanjang hari ini." Tao menanyakan hal yang sama pada Yi Fan.

"Ya."

Tao tersenyum remeh, "Dengannya?"

"Ya. Kami berdua mengobrol."

"Mengobrol? Tentang apa?"

"Tentang banyak hal."

"Contohnya?" Yi Fan menunduk, tak berani menatap wajah Tao. "Apa? Apa yang kalian obrolkan?"

"Maafkan aku." ucap Yi Fan lirih. "Aku dan Luhan. Kami berdua berciuman." Yi Fan bisa melihat kilat kesedihan di mata Tao detik itu juga. Yi Fan pun berdiri dan mendekati Tao. "Aku tidak bisa menghindarinya. Dia bertanya padaku, "Apakah kau menyukaiku?" dan tentu saja aku menjawab "Tentu saja aku tidak menyukaimu, aku hanya menyukaimu sebagai teman." Lalu ia meminta sebuah ciuman. Dan..."

"Apakah kau bodoh? Itu adalah pertanyaan jebakan." Tao berteriak kesal. "Hanya karena dia cantik maka..."

"Bukan seperti itu, Tao."

"Lalu apa?"

"Dia bilang dia tidak ingin mati dalam keadaan seperti ini. Dia masih menunggu untuk transplantasi. Aku tidak bisa bersikap acuh pada orang dalam kondisi seperti itu."

"Tapi itu tidak bisa dikatakan bersikap baik pada orang yang sedang dalam kondisi tidak baik."

"Aku tahu itu, Tao."

Air mata yang sejak tadi ditahan oleh Tao akhirnya tumpah juga. "Yi Fan, kau tahu? Aku sungguh tidak tahan lagi berada disisimu jika kau begini terus."

"Kalau begitu, putus saja denganku." Tao menatap wajah Yi Fan dengan pandangan tidak percaya. "Kini akhirnya aku mengerti perasaanmu."

"Perasaanku? Kau tahu apa tentang perasaanku, Yi Fan."

Yi Fan menjauh dari hadapan Tao, ia kembali duduk di sebelah Tao tanpa berani menatap wajah Tao yang kini sudah penuh dengan air mata. "Kau bisa pergi jika kau mau. Setelah semua yang telah kau lakukan untukku, kau benar-benar terlalu baik untukku, Tao." Yi Fan tersenyum menatap langit, "Tapi, aku benar-benar tidak bisa mengatakan tidak pada Luhan."

"Kau benar-benar tidak tahu perasaanku. Kenapa kau tidak bisa mengatakan tidak padanya? Kau seharusnya mementingkan perasaan orang yang mencintaimu dari pada orang yang bahkan tidak tahu apakah orang itu mencintaimu atau tidak." Yi Fan terdiam. Tidak mengatakan sepatah kata pun. Tao tersenyum sedih melihatnya. Seakan teringat, Tao pun merogoh saku celana dan mengambil kertas lusuh milik Yi Fan, lalu melemparkan kertas itu ke arah Yi Fan. "Baiklah jika itu yang kau inginkan. Kita putus." setelahnya, Tao berlari meninggalkan Yi Fan dengan air mata terus mengalir dari mata pandanya.

*KT*KT*KT*KT*KT*

"Princess!" teriak Chanyeol memanggil-manggil Tao dan langsung memeluk Tao dengan erat. Tao hanya mendesah kesal. Paginya rusak karena kehadiran si genit Chanyeol ini.

"Apalagi?"

"Jika kau ada masalah, kenapa tidak membaginya denganku. Sungguh sangat menyakitkan melihat wajah murungmu itu di pagi yang cerah ini." tidak ada niatan bagi Tao untuk menawab pertanyaan Chanyeol. "Apa kau tidak menyukaiku?"

Tao berbalik dan memandang Chanyeol sembari tersenyum, "Ya, begitulah."

"Maka kau harus menyukaiku. Aku ini hanya akan jatuh cinta kepada wanita sepertimu, jadi kau tidak usah khawatir jika kau menjadi kekasihku karena aku tidak akan selingkuh. Mau mencoba?"

"Aku tidak bisa, aku lebih mencintai Yi Fan daripada dirimu, aku mencintainya lebih dari siapa pun..."

"Tidak akan lama lagi dia akan mati, kau tahu itu kan?" potong Chanyeol.

Tao melotot marah. Dan dengan sekali ayunan, tangan mulus Tao mendarat di pipi kanan Chanyeol, meninggalkan bekas merah di sana. "Aku akan membunuhmu jika kau mengatakan hal itu lagi! Yi Fan tidak akan mati dan meninggalkanku sendiri. Jangan sekali-kali berbicara mengenai hidupnya!" Tao berjalan cepat meninggalkan Chanyeol.

"Apa rasanya kehilangan seseorang yang mencintaimu dan kau cintai? Kau tidak akan mengetahuinya." ucapan Chanyeol menghentikan langkah Tao. "Saat dia meninggal, apa yang akan terjadi padamu? Jika kamu terluka..."

Brukkk

Chanyeol memeluk tubuh Tao dari belakang. "Sungguh menyakitkan untukku menyaksikannya."

*KT*KT*KT*KT*KT*

Yi Fan terkejut melihat ranjang Luhan yang kosong. Tidak ada lagi papan bertuliskan nama Luhan di ranjang tersebut. Hanya ada seorang perawat yang sedang membereskan selimut di ranjang yang biasanya Luhan tempati.

"Maaf, apa yang terjadi dengan pasien Luhan? Dia kemana?" tanya Yi Fan pada parawat.

"Dia meninggal tadi malam. Kasihan sekali. Padahal ia masih sangat muda. Tadi malam tiba-tiba dia terkena serangan jantung dan tidak ada yang bisa kita lakukan karena ia belum juga mendapatkan donor jantung." setelah mengatakan kabar tersebut, perawat itu pun pergi meninggalakan kamar bekas Luhan.

Brukkk

Yi Fan jatuh berlutut. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Tiba-tiba ia jadi sulit untuk bernafas. Nafasnya terdengar berat dan terputus-putus. Dengan tenaga yang ada, ia melepaskan dasi dan kancing bajunya sendiri agar nafasnya sedikit lebih lancar. Tapi nyatanya hal itu tidak ada gunanya. Ia masih kesulitan untuk bernafas.

"Hahh...haahhh...hahhhh...T..ao...Hahh...hahhh...Taooo..." ditengah nafasnya yang semakin berat, Yi Fan masih saja menyebutkan nama Tao, yang terkasih.

TBC