Aoi Rin Oukumaru Log In
Disclaimer : Masashi Kishimoto x Naruto
Jadi bukan punya saya :v
Pairing : Naruto U. X…..?
Rate : T ( semi M )
WARNING : Alur berantakan, Typo bertebaran, kalo nggk kuat baca bikin perih mata….harap dimaklumi karena saya author baru…DON'T LIKE DON'T READ
Chapter 7
.
.
.
Tok…Tok…Tok…
" Tunggu sebentar " ucap seorang wanita dari dalam sebuah rumah yang cukup besar di tepi Hutan tersebut, dia pun segera membuka pintu " Ya dengan keluar- Kyaa…."
Bruk
" Ada apa Tsuma ? " tanya seorang pria dari dalam rumah yang berlari menghampiri istrinya yang berteriak dengan keras, " A-A-Anata " balas wanita tadi dengan sedikit bergetar dan menunjuk sesuatu di depan pintunya.
" K-Kenapa dengan dia ? " tanya sang pria setelah melihat apa yang ada di depan pintunya, " Tsuma siapkan kamar tamu sekarang, bocah ini harus segera di rawat " ucap pria tadi dengan tegas dan mengangkat bocah tadi.
" T-T-Tapi Anata, K-Kita bahkan tidak mengenalnya " balas wanita itu dengan sedikit takut karena membantah suaminya, " Biar bagaimanapun bocah ini harus ditolong, cepat Tsuma! " setelah mendengar itu, wanita tadi segera berlari dan menyiapkan kamar untuk bocah misterius tadi.
.
" Dari lukanya dia seperti habis bertarung, tapi dengan siapa ? " tanya pria tadi entah pada siapa, " Ano…Anata dari jejak darahnya,sepertinya dia dari hutan " balas wanita itu sambil membersihkan bekas darah di sekujur tubuh bocah tadi.
" Hutan? Apa ini ulah Birdman atau Orb ? " pria itu semakin penasaran dengan keadaan yang di alami bocah yang dirawat istrinya tersebut, dia melihat bocah itu sejenak dan mulai menyungging senyum merekah diwajahnya. ' Tidak, bocah ini terlalu kecil untuk hal semacam itu, tapi mungkin aku bisa mengadopsinya '
Istri pria tadi mulai sedikit khawatir melihat tingkah suaminya yang sedang tersenyum sendiri itu, " Anata apa yang kau pikirkan? " pertanyaan polos istrinya tadi mengejutkannya, pria tadi juga melihat aura menyeramkan menguar dari tubuh istrinya itu.
' Sial, apa yang dia pikirkan tentangku ' batin pria tadi melihat aura seram itu, " Ano…Tsuma aku hanya berpikir, bagaimana kalau kita mengadopsi dia…ehehehe.." ujar pria tadi dengan tawa gugup diakhir.
" Souka…itu ide bagus Anata " balas wanita itu dengan senyum merekah di wajahnya, ' Gyah…sifatnya cepat sekali berubah, kemana istriku yang sangat manis itu pergi….' Batin pria tadi sambil menangis. " Soyeba….kita harus meninggalkan dia untuk beristirahat dulu Anata " lanjut wanita tadi sambil membereskan kain untuk membersihkan bocah tadi.
" Ha'I kita biarkan dia istirahat dulu Tsuma " balas pria itu sambil melangkah pergi diikuti oleh istrinya di belakang.
.
.
" Ugh..ittai…kepalaku sakit sekali, are…dimana aku ? " bocah yang berbaring dikasur itu mulai bangun dan memandang sekelilinya, dia seperti berada di sebuah kamar dengan satu tempat tidur dan meja kecil disamping kiri tempat tidurnya. " Apa yang terjadi padaku? " tanya bocah itu pada dirinya sendiri saat melihat banyak perban di tubuhnya.
Ceklek…
" Ara kau sudah sadar rupanya " ujar seorang wanita paruh baya didepan pintu sambil membawa kain dan tempat air di tangannya, wanita itu pun mendekat dan meletakkan tempat air itu di meja dekat tempat tidur bocah tersebut. " Anda siapa? " tanya bocah itu pada wanita tadi, wanita itu hanya tersenyum dan segera mengambil tempat duduk di tepi ranjang tersebut.
" Aku adalah Shina " jawab wanita bernama Shina tadi, bocah itu hanya memandang binggung pada wanita tadi. " Kalau kau siapa? " tanya balik Shina kepada bocah di depannya, mendengar itu bocah tadi mencoba mengingat sesuatu tapi segera rasa sakit mulai dirasakan kepalanya. " Daijobou? " tanya Shina dengan wajah khawatir.
" Gomen, aku…aku…Argh…aku…tidak ingat " ucap bocah tadi sambil mengerang menahan sakit yang teramat sangat di kepalanya, Shina bertambah cemas melihat erangan bocah tadi. " Tidak perlu dipaksakan, sebaiknya kau istirahat kembali. Aku akan mengambilkan air dan makanan dulu " ujar Shina sambil mulai beranjak dari kamar bocah tadi.
' Siapa aku? Kenapa aku ada disini? Bagaimana aku mendapat luka ini? Dan dimana aku? ' pertanyaan itu terus terulang dikepala bocah tadi. " Gomen, ini minumlah dulu " ucap Shina sambil meminumkan air kepada bocah itu, " Sudah merasa lebih baik? " tanya Shina dengan wajah sedikit cemas.
Bocah itu menunduk, " Siapa aku? Dimana ini dan apa yang terjadi padaku ? " bocah itu terus bertanya entah pada siapa, suaranya yang menyiratkan ketakutan dan juga kegelisahan masih tedengar jelas oleh Shina. Wanita tadi langsung merengkuh bocah tadi dalam pelukannya, berusaha menenangkan bocah dalam pelukannya tersebut.
" Kau aman disini, kami akan merawatmu mulai sekarang " ucap Shina dalam pelukannya pada bocah tadi, " Kami? " beo bocah tadi sedikit binggung. " Ha'I mulai sekarang panggil aku Okaa-san ya " balas Shina dengan senyum mengembang di wajahnya, " O-Okaa-san " ucap bocah tadi dengan sedikit bergetar. Perasaanya bercampur aduk antara binggung dan senang, sepertinya itu adalah sesuatu yang sangat dia inginkan.
" Ruto " gumaman bocah itu didengar oleh Shina, " Ruto? Apa itu namamu? " tanya Shina dengan sedikit penasaran. Bocah itu hanya mengangguk sedikit membenarkan ucapan Shina, " Ruto desu….nama yang bagus, baiklah mulai sekarang panggil aku Okaa-san ne Ruto-kun " ucap Shina sambil mencium pipi Ruto dan memeluknya kembali, Ruto sendiri hanya tersenyum senang dan membalas pelukan kaa-san nya tersebut.
" Sekarang kau istirahat lebih dulu, nanti kalau sudah membaik kau bisa pergi ke ruang tamu Ruto-kun " ucap Shina sambil merebahkan tubuh Ruto dan menarik selimut untuk menutupi tubuh anaknya tersebut. " Arigatou Okaa-san " gumam Ruto sebelum kembali tidur, Shina hanya mengulum senyum di wajahnya dan mengecup sekilas kening Ruto sebelum pergi dari kamarnya.
.
.
" Tadaima " ucap seorang pria dengan cukup keras setelah menutup pintu rumahnya, " Okaeri Anata " balas seorang wanita dengan rambut cokelat dan mata hitam yang sangat menawan, " Anata Ruto sudah sadar tadi, tapi sekarang dia sedang istirahat. Kyaa…aku sangat senang " lanjut wanita bernama Shina tadi sambil memeluk suaminya. " Ruto? Jadi itu namanya ? " tanya pria berambut hitam dan mata hitam serta jenggot yang sedikit lebat di dagunya.
Shina hanya mengangguk dengan semangat, pria tadi hanya tersenyum senang melihat tingkah istrinya tersebut. ' Sudah lama aku tidak melihat senyum itu, Arigatou Kami-sama kau telah mengirim kebahagiaan kedalam keluarga kecilku lagi ' batin pria tadidengan senyum yang mengembang di wajah tegasnya.
Skip Time
.
.
" Tsuma kau masak banyak sekali hari ini " ujar pria paruh baya pada seorang wanita yang merupakan istrinya, " Ha'I sepertinya Ruto-kun akan bangun jadi aku memasak banyak agar dia cepat sehat " balas wanita bernama Shina itu dengan senyum diwajahnya. Saat memasak sesekali dia bersenandung kecil dengan nada bahagia, semua itu tak luput dari pandangan suaminya.
Ceklek
" Ara…kau sudah baikan Ruto-kun " tanya Shina sambil menoleh kearah pintu yang baru dibuka tadi, " Ha'I Okaa-san aku suda- "
Wush…
" Siapa kau…kenapa kau memandang Okaa-san dengan wajah mesummu, Kono Hentai " ujar Ruto sambil menodongkan garpu kearah leher pria paruh baya itu, " Ruto-kun…dia adalah Otou-sanmu " Ruto yang mendengar itu memandang Shina dengan binggung.
" Okaa-san apa kau sudah di hipnotis orang ini? " tanya Ruto masih dengan posisi yang tidak berubah, " Hoi bocah…apa ini ucapan terima kasihmu " akhirnya pria yang dari tadi diam mulai bersuara. Ruto memandangnya dengan lekat, mencoba mencari niat jahat dari sorot matanya. " Baiklah, aku percaya. Gomennasai " ucap Ruto sambil membungkuk.
" Ruto-kun, ini adalah Tou-san mu. Yah biarpun berwajah sangar dan mesum tapi dia adalah suamiku " ucap Shina sambil tersenyum, pria tadi hanya bisa menahan marah dengan perkataan istrinya.
" Baiklah, aku adalah Seigo, mulai sekarang panggil aku Tou-san ne, gaki " ucap pria bernama Seigo tadi sambil mengacak-acak rambut Ruto dan tersenyum lebar. Ruto hanya bisa terdiam, sebelum membungkuk kembali, " Gomennasai Tou-san " ucap Ruto disela membungkuknya.
Shina tersenyum dengan sikap Ruto dan Seigo tertawa dengan keras, " Kau tidak perlu begitu Ruto, yang tadi tidak usah dipikirkan. Sekarang kita akan makan masakan buatan Kaa-sanmu " ucap Seigo karena melihat Shina menyiapkan makanan di meja. " Makan yang banyak ya Ruto-kun " ujar Shina dan dibalas anggukan dari Ruto.
" Ano..Tou-san, Kaa-san, sebenarnya aku ada dimana? " tanya Ruto di sela-sela makannya, kedua orang itu menghentikan acara makannya. Mereka menatap Ruto dengan sedikit serius, " Ruto, kalau kau tau tentang dimana kita. Apa yang akan kau lakukan? " tanya balik Seigo dengan raut wajah yang sangat serius.
Ruto merenung sejenak, " Aku akan mendengarkan penjelasan Tou-san terlebih dulu " balas Ruto yang tidak kalah serius. Shina memandang khawatir mereka berdua, " Kita sekarang di Aragoto, kota dengan banyak petualang. Disini juga memiliki banyak monster, tapi hanya para petualang yang bisa mengalahkan mereka. Ruto, dunia ini sangat berbahaya " ujar Seigo dengan sangat panjang.
Penjelasan Seigo tadi ditangkap dengan baik oleh Ruto, dia merenung sejenak sebelum menatap Tou-sannya kembali. " Apa kita akan baik-baik saja Tou-san? " tanya Ruto dengan sangat serius, " Untuk sekarang kita akan baik-baik saja, tapi aku tidak tau setelahnya apa yang akan terjadi " balas Seigo sambil meminum teh di depannya.
" Ruto-kun, kau jangan berpikir yang tidak-tidak. Kita pasti aman disini " ucap Shina dengan nada sedikit khawatir meyakinkan anaknya tersebut. " Tou-san kenapa hanya kita yang tinggal di dekat hutan? " Seigo yang mendengarnya hanya menunduk, " Kenapa Tou-san, JAWAB AKU " Ruto semakin mendesak Seigo.
Seigo hanya terus menunduk, " Ruto-kun jaga sikapmu " ujar Shina sambil mengelus pundak suaminya. " Kenapa Tou-san…apa yang membuat kalian berbeda? " tanya Ruto dengan nada yang lemah dan menunduk dalam.
Puk
Ruto mendongakkan kepalanya begitu merasakan usapan di kepalanya. Dia menatap Tou-sannya yang tersenyum kecil kearahnya, " Ruto, hanya keluarga petualang yang bisa tinggal di dalam desa " Shina menunduk mendengar ucapan suaminya tersebut. " Jadi…hanya karena itu " ucap Ruto dengan nada lemah.
Duar
" Goargh…." Terdengar suara dari arah pintu depan, diikuti suara raungan. " Sial..Orb, bagaimana dia bisa sampai kemari. Shina bawa Ruto pergi, aku akan menahannya " Seigo segera mengambil tombaknya dan berdiri didepan monster berupa manusia zombie dengan badan yang gemuk dan tidak memiliki mata.
" Anata, jangan gegabah! " teriak Shina sambil memeluk Ruto, Seigo hanya tersenyum kearah istrinya. " Yang penting kau dan Ruto bisa selamat " balas Seigo dan berlari menyerang Orb tadi. Merasakan ancaman Orb tadi langsung melompat kekanan dan memukul Seigo dengan keras. " Anata! "
' Tidak…Tou-san, tidak… aku tidak mau kehilangan mereka…Tidak! Tidak! TIDAK! '
.
.
.
BOOM
" R-r-ruto-kun " Ruto tidak menanggapi panggilan ibunya, dia terus melangkah kedepan. Guratan dipipinya menebal, kukunya mulai memanjang, dan tubuhnya di selimuti gelembung yang membentuk telinga serta satu ekor. " Tidak akan kuampuni kau " suaranya juga memberat dan menyiratkan rasa sakit. Dia memandang Orb tadi dengan tatapan membunuh yang sangat kuat.
" Goargh " monster itu berteriak dan berlari menerjang Ruto, dengan gerakan kecil dia mengeser tubuhnya ke kiri dan membiarkan monster itu melewatinya.
Buagh
Kaki kanannya langsung menyarangkan tendangan keras keperut monster tadi, saking kuatnya monster tadi terpental keluar rumah dengan cepat. " Tidak akan kubiarkan….KAU MENGANGGU KELUARGAKU " ucap Ruto dan membuka matanya, tidak ada lagi mata biru, sekarang yang ada hanya mata merah dengan pupil vertical yang menyala dengan garang.
Wush
Secepat mungkin dia menyusul monster tadi, Orb itu sudah bangun dan segera membungkuk. Dari punggungnya keluar tali dan beberapa pedang, tanpa menunggu lama Orb segera melempar semua pedang itu ke arah Ruto.
Melihat semua pedang itu, Ruto berhenti berlari. Dia diam tanpa bergerak, hanya menatap pedang yang melaju kearahnya dengan cepat. Dia segera mengibaskan tangannya dan menimbulkan tekanan angin yang kuat, semua pedang itu terpental ke segala arah.
Melihat itu Orb tadi mengaung dengan sangat keras, tubuhnya membesar dan beberapa bagian tubuhnya terbuka, mengeluarkan semua jenis benda tajam. " GOARGGGH " teriak Orb tadi dengan penuh amarah kearah Ruto.
" Aku memang hilang ingatan…." Tangan kanannya dia rentang ke samping, tiba-tiba sebuah pedang samurai meluncur cepat kearah tangan kanannya. Pedang dengan warna hitam polos, pada bagian gagangnya sedikit di hiasi pola berwarna merah.
Sring…
Ruto mulai melepas pedang itu dari sarungnya, terlihatlah bilah pedang yang berwarna perak mengkilap dan terdapat ukiran di sepanjang bilah pedang itu kecuali sisi tajamnya. Aura berwarna merah langsung menguar mengelilingi area itu, membawa tekanan membunuh dan kekuasaan yang membuatmu harus tertunduk pada pengguna pedang tersebut. " … Tapi aku adalah pengguna pedang kutukan. Murasama tunjukkan kekuasaanmu "
BOOM
Tanah di sekitar Ruto langsung amblas, menimbulkan sedikit cekungan. Tanpa basa-basi dia segera merangsek maju kearah Orb tadi, sang Orb yang merasakan pergerakan di permukaan tanah dengan cepat dia mengerakkan semua benda tajam di tubuhnya dan membuat perisai.
Trank…Sring…
Benturan dua senjata itu menimbulkan suara bising yang memekakkan telinga, beberapa pedang tersisa bergerak kearah Ruto. Merasakan bahaya Ruto segera mendorong tubuhnya untuk mundur, " Goarghh " Orb tadi mengeram marah, mengetahui serangannya gagal dia segera berlari menerjang Ruto.
Ruto segera berlari menghadapi musuhnya, pedangnya berada di sisi kanan tubuhnya. Jarak mereka semakin terkikis, Orb tadi mengarahkan tinjunya kearah kepala Ruto. Merasakan bahaya Ruto segera melompat ke kanan dan menyabetkan pedangnya kearah lengan Orb tadi, karena tidak sempat menghindar Orb tadi terkena sedikit tebasan Ruto.
" Kenjutsu : Shi no Ichigeki "
Crash…
" Goarghh " raungan kesakitan mulai terdengar dari Orb tadi, lengannya terputus dengan sangat cepat. " Biarpun hanya tergores sedikit saja, bagian tubuhmu itu akan hancur " ujar Ruto yang berdiri dengan membungkuk di samping kiri Orb tadi. " Namanya adalah tebasan kematian " lanjutnya sambil menegakkan kembali tubuhnya.
Orb tadi segera maju kearah Ruto dengan semua senjata tajam yang melayang dengan tali di sekitannya, Ruto segera melompat kebelakang menghindari benda tajam yang melunjur kearahnya. " Kau benar-benar keras kepala, matilah dengan tenang Monsutā "
Ruto merangsek maju menyerang Orb tadi, melihat itu sang Orb berteriak keras dan ikut berlari kearah Ruto sambil memutar semua benda tajam itu mengelilingi tubuhnya. " Baka "
Trank…Trank…Trank…
Senjata mereka saling beradu dengan cepat, Ruto terus menebas ke segala arah. Menahan dan mementalkan serangan Orb yang datang kearahnya, sampai sebuah celah terbuka. " Kenjutsu : Doragon wa Yami o Maimasu "
Wush…
Mereka saling membelakangi dan terdiam beberapa saat, " Ugh…Cough…" Ruto mulai membungkuk dan memuntahkan darah dari mulutnya. Sedangkan Orb tadi berbalik dan mulai meraung dengan keras, " Goargh…" dia meraung dengan sangat keras tapi itu tidak berlangsung lama.
Crasshh…
Bruk…
Tubuh Orb tadi segera terbelah dan jatuh ketanah dengan keras, " Akulah…pemenangnya…" ujar Ruto dengan lemah sebelum tumbang dan jatuh ke tanah dengan keras. " RUTO-KUN/RUTO " teriakan kedua orangtuanya mulai terdengar seiring derap langkah kaki yang menghampirinya.
" Ruto-kun, Daijobou. Ruto-kun jawab Kaa-san! " Shina terus memanggil nama Ruto sambil merengkuh Ruto dalam pelukannya, " Tsuma tenanglah, kita harus membawanya kerumah sebelum terlambat " ucap Seigo yang sudah membawa Ruto dalam gendongannya.
Tanpa berujar apapun mereka segera membawa Ruto kembali ke rumah mereka, memastikan Ruto beristirahat dengan nyaman. Mereka lalu keluar dari kamar tersebut, " Anata apa itu tadi 'berkah' yang Ruto-kun miliki? " tanya Shina dengan sedikit ragu.
Mendengar itu Seigo hanya diam sambil mencoba memikirkan masalah anak mereka, " Sepertinya memang begitu Tsuma, Ruto memiliki kemampuan dalam berpedang " jawaban Seigo yang menggantung itu membuat Shina semakin cemas.
" Anata, jangan biarkan Ruto-kun menjadi petualang. Kumohon Anata " ujar Shina dengan nada yang lemah dan sangat khawatir. Mereka tau konsekuensinya, menjadi petualang berarti siap untuk kematian. " Tsuma, kita percayakan semua pada Ruto " balas Seigo sambil memeluk istrinya.
Sebenarnya dia juga tidak ingin Ruto menjadi petualang, tapi kembali semua keputusan ada ditangan Ruto. Mereka hanya bisa mendukung dan memberi arahan semata, " Tapi…Tapi…"
" Tsuma kita harus percaya padanya " potong Seigo dengan nada tegasnya, matanya menyiratkan keyakinan yang sangat besar. Shina hanya menunduk mendengar perkataan Suaminya tersebut, pikirannya masih berkecamuk. Dia tidak ingin Ruto mengalami bahaya karena menjadi seorang petualang.
" Sebaiknya kita juga beristirahat Tsuma, besuk kita bahas lagi masalah ini " ujar Seigo sambil menuntun Istrinya ke kamar mereka.
.
.
.
TBC
.
.
.
Halo Halo….gomen ne minna, lama banget updatenya. Chapter ini juga pendek maaf.
Saya mengambil Differential Dimention, Seperti yang lagi trand saat ini yaitu Dunia Game. Maaf bagi yang tidak suka.
Oke balasan review :
Firdaus minato : So, itu mungkin masalah sepele. Maaf ini Cuma suffix jadi tidak berpengaruh pada cerita ini, makasih udah review firdaus-san
Mrheza26 : Great, itu emang si kuning….hehehe
Happy Hyuuga : Daijobou dayou, aka nada kejutan nanti. Ditunggu aja ya…hehehe
DeniTria : ya bakalan balik kok, tenang romance tiga orang itu akan berjalan seiring berjalannya chapter…hehehehe
Uchiha Namikaze Corp : Daijobou, biarpun Hiatus agak lama tapi akan saya lanjutkan.
Sinta Dewi468 : Hem? DxD juga terlalu mainstream. Sha…maaf kali ini tidak sesuai permintaan Sinta-san…hehehe….gomen ne
Kitsune857 : Hehehe…gomen gomen
.
.
Ya untuk yang menunggu maaf kalo kelamaan, sebentar lagi mau ujian jadi Aoi harus belajar dulu… hehehe
Tenang aja bentar lagi ujiannya habis jadi bisa focus kembali, terima kasih buat yang masih setia sama Fic ini.
Hountou ni Arigatou Reader-san
.
.
Aoi Rin Oukumaru Log Out.
