THE SILVERSONS

EXO fanfiction

Warning: YAOI, BOYS LOVE (not the right place for homophobic), AU, Unlimited typo, Pelanggaran EYD, and so many else.

Rating: T

Pairing: ***(seme)Xkai(uke)

..

Happy Reading all

Chapter 2

Kai menjadi fenomena pagi ini. Ia seperti seseorang yang telah meng-upload video sensasional ke youtube dan menjadi artis dadakan, kemudian menjadi tranding topic di setiap pembicaraan.

Well, itu hanya analogi, intinya pagi ini Kai adalah sosok yang too flashy.

Terima kasih pada wajahnya yang terlihat sangat masam, sehingga ia menjadi pusat perhatian semua orang yang ia lewati. Oh, bahkan ada beberapa orang yang tidak ragu untuk berhenti sejenak demi memperhatikan Kai dengan segala aura gelapnya sampai pemuda itu tidak nampak lagi.

Kai tahu ada belasan atau mungkin puluhan pasang mata yang dari tadi melihatnya dengan tatapan aneh yang dapat diartikan sebagai 'apa-kau-alien?'. Ia tahu, sangat tahu malah. Ia bahkan telah menyadarinya ketika ia baru beberapa meter melewati pagar rumahnya, ketika berpapasan dengan seorang anak TK yang akan pergi sekolah bersama ibunya. Kening anak itu langsung berlipat saat melihat wajah Kai yang absurd karena ekspresi kesalnya.

"Eomma, kenapa Piccolo bisa ada di dekat rumah kita?"

What? Anak itu menyebut Kai Piccolo? Makhluk hijau yang tidak pernah tersenyum yang ada di dalam film Dragon Ball? Hell, pintar sekali anak itu, ia langsung tahu siapa karakter yang cocok untuk Kai pagi ini. Kai sendiri tidak menyalahi anak kecil itu, hanya saja ia sedikit kesal sehingga matanya membesar ketika menatap balik bocah itu. Well, maksudnya Kai sama sekali tidak marah, ia hanya kesal dan sedikit mempelototi sang anak. Ingat cuma sedikit, bahkan anak kecil itu hanya menanggis ketakutan dan bersembunyi di belakang badan ibunya. Sedikit banget kan? Bullshit.

Kai tidak henti-hentinya mendapat tatapan yang sama setelah melewati pasangan ibu-anak tadi. Selain di samakan dengan piccolo, kai juga mendengar ada beberapa orang yang menyebutnya wajahnya sama seperti hulk yang terserang sembelit. What the hell.

Okay enough ! Kai tidak akan memikirkan gelar-gelar dadakannya lagi. Sudah cukup ia kesal karena sekian masalah yang ia dapat di rumah dan juga masalah dari anak kecil tadi. Ia tidak mau menambah beban otaknya dengan meladeni mulut-mulut tanpa saringan setiap orang yang temui. Ia tidak ingin wajah memiliki keriput permanen dan tampak lebih tua di umurnya yang baru 17 tahun, layaknya Uchiha Itachi di anime Naruto. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, kayaknya asyik kalau menjadi Itachi, meskipun ada sepang keriput di bawah matanya tokoh anime itu masih tetap ganteng. Uhm Kai berharap Itachi mau memberikannya 'Tips Ganteng dengan Keriput' ketika Kai terserang penuaan dini. Rencana brilian! Berarti Kai tidak perlu menghabiskan berlemar-lembar uangnya hanya untuk paket kecantikan yang bahkan kualitasnya tidak terjamin. Itachi wait for me….

FUIIT

Kai sedkit terlonjak ketika lamunan absurdnya tentang Itachi dan rencana aneh tadi harus berhenti secara mendadak saat telinganya menangkap suara siulan-siulan ganjen. Kai langsung menoleh ke kanan dan menemukan sebuah mobil sport hitam dengan kaca sebelah kiri –menghadap Kai – terbuka sepenuhnya, menampakan tiga orang namja yang tengah menatapnya dengan tatapan mesum juga jahil.

"Hai manis, sebutkan nama mu, dan aku akan mengukirnya di setiap inchi tubuhku." Ujar seorang namja dengan tampang aneh yang duduk di kursi depan. Kai menahan tangannya untuk tidak meninju wajah namja norak itu.

"Iiih Babe, kok diam sih. Eh lihat deh wajahnya merah, berarti ia tersipu karena jurus gombal kacangan Namjoon tadi." Kini namja aneh lainnya yang duduk di kursi belakang mencoba menggoda Kai. Tampaknya pemuda dengan lingkaran hitam di sekitar matanya itu tidak bisa mambedakan mana wajah merah karena tersipu dengan wajah merah karena marah. Hell, bagaimana bisa kalimat murahan dari namja yang tidak kalah murahan itu bisa membuat seorang Kai tersipu. He is angry !

"hei, hei Namjoon, Tao, stop mengganggu adik manis dengan helm pink itu. Lebih baik kalian memperhatikan wajahnya, dan mengingatnya, mana tahu kita bisa bertemu dan kencan dengan dia nanti. Oh iya jangan lupa hafal nomor plat scooter pink hello kitty-nya." Sebuah suara mengintrupsi Kai yang hendak meledak. Ia tidak bisa melihat siapa yang sudah mengejeknya karena menggunakan benda serba pink itu. Orang itu duduk di kursi kemudi dan is tertutup sepenhnya oleh namja menggerikan yang tadi dipangil Namjoon.

Kai sudah mencapai limitnya. Ia bersiap-sipa untuk memaki tiga orang yang ada di mobil sebelah.

"Fuck –"

TIN TIN –tapi sayang, sebelum umpatannya selesai, suara klakson dari mobil belakang menghentikannya.

Oh god, Kai baru sadar kalau ia tengah berada di jalan raya, menunggu lampu merah berganti menjadi hijau. Dengan sedikit gugup Kai menjalankan scooter pink-nya, kemudian berhenti di pinggir jalan setelah melewati persimpangan dan memberikan akses bagi kendraan lain untuk mendahuluinya.

Oh, demi majalah playboy yang disimpan Kris Hyung di kolong tempat tidurnya, Kai benar-benar shock sekarang. Ia sama sekali tidak ingat kalau ia tengah mengendarai sebuah scooter pink dengan motif hello kitty di tengah ramainya lalu lintas pagi kota Seoul.

Ada banyak hal yang Kai pikirkan tentang dirinya, tapi yang menjadi main topic adalah kejiwaannya. Ia kini mempertanyaakan keadaan psikologisnya; apakah mentalnya masih sehat atau butuh penanganan psikiater. Bayangkan saja ia mengendarai scooter saat pikirannya sangat fokus pada diskusi tentang tatapan aneh yang ia dapati. Ia sama sekali tidak memiliki konsentrasi untuk berkendara. Jangankan konsentrasi, ia bahakan tidak tahu kalau ia tengah berkendara. Dan hebatnya ia masih hidup dan tidak tersentuh sedikitpun masalah dalam perjalan yang cukup ramai tadi. Bahkan ia berhenti otomatis ketika lampu merah menyala, sekalipun ia tidak sadar dengan keadaan sekelilingnya.

"Aneh, perasaan tadi aku sedang berurusan dengan seorang anak TK, tapi sekarang aku sudah berada di jalan raya. Kenapa ya?" Kai berbicara dengan dirinya sendiri.

Mata Kai tiba-tiba membola "Apa jangan-jangan…"

" Wow, apa aku sekarang punya kekuatan super? Teleportasi mungkin? Atau telekinetis?" mungkin Kai benar-benar butuh pertolongan pertama untuk otak dan jiwanya. Setelah tadi ia lupa kalau ia tengah berkendara, kini ia tidak sadar kalau ia tengah tersenyum sangat lebar dan berbicara sendiri di pinggir jalan. Jangan tanya kenapa ia bertingkah seperti orang idiot itu, pemikirannya tentang kekuatan super telah berhasil membuat otak erornya menjadi semakin eror, sehingga ia tidak peduli pada setiap orang yang melihat prihatin padanya.

"Nak, apa kau tidak berangkat sekolah? Apa kau sakit?" pertanyaan dari seorang ibu pejalan kaki yang akhirnya menyadarkan Kai.

Wajah Kai merona seketika ia memperhatikan sekelilingnya. Ia menemukan beberapa –akh maksudnya banyak orang memperhatikannya. Kai tertawa garing dan menatap wanita paruh baya itu, "hehe, saya tidak sakit Ahjumma, hanya banyak pikiran. Dan saya akan berangkat sekolah sekarang. Bye Ahjumma!" Kai langsung tancap gas setelah mengucapkan salam pada wanita itu. Kini ia merasa sangat malu, dan ia tidak sanggup lagi berlama-lama lagi di sana.

Meski Kai sudah satu tahun tidak tinggal di Seoul tapi ia tidak pernah lupa seluk beluk kota kelahirannya itu. Kai itu jenis pemuda dangan sikap nasioanalisme yang patut diacungi jempol. Ia bahkan berencana menjadi tentara jika saja ia tidak menyukai seni, khusunya tari. Bisa dikatakan kai itu tahu dan hafal 99% gang yang ada di kota Seoul. Buktinya Kai bisa sampai di sekolah barunya hanya dengan waktu 4 menit –dihitung sejak adengan ia kabur dari ahjumma tadi, dengan menggunakan jalan pintas.

Jika menggunakan rute normal Kai akan sampai di sekolahnya dalam 10 menit. Tapi di saat terdesak karena malu membuat Kai memilih jalan pintas yang langsung tembus di sebelah gerbang sekolah barunya, sehingga ia bisa menghidar dari puluhan pasang mata yang menyelidikinya.

Seoul Art High School. Kai beruntung hyungdeul-nya dulu bersekolah di sini. Ia dulu sering mendengarkan Kris hyungyang bercerita tentang sekolah seni terbaik di Seoul ini. Begitu juga dengan Baekhyun, hyung nomor duanya itu bahkan tidak pernah lupa berbagi pada Kai tentang apa saja hal baru yang ia ketahui tentang sekolah itu. Salah satu yang Kai ingat adalah, tradisi sekolah yang tidak pernah menutup gerbang pada hari pertama semester baru. Dan itu sangat membuat Kai lega. Kai tidak mau berurusan dengan satpam sekolah yang ia yakini akan membuat Kai bad mood dengan tidak mengizinkan Kai masuk. Hell no! moodnya baru saja membaik setelah ia ngebut tadi, sehingga kantuk yang mengganggunya tercecer di belakang, dan ia akan mood swing lagi? No fucking way.

Kai memarkirkan 'scooter laknat berwarna pink dengan motif hello kitty yang dipinjamkan mommy-nya secara sukarela'. Dan ia juga tidak lupa untuk melepask helm pink yang juga tak kalah laknat. Ia memperhatikan kawasan tempat parkir itu. Setengah bagian untuk kendaraan roda dua dan setengah lainnya untuk mobil.

"Rapi" gumam Kai ketika ia mengamati kendaraan-kendaraan itu tersusun apik meskipun tidak ada garis putih yang biasa digunakan sebagai tanda pembatas. Kai mewarisi sifat ibunya yang sangat menyukai kerapian, jadi jangan heran ketika kalian tidak mendapati baju yang berserak dan keadaan kacau seperti kamar remaja cowok lainnya ketika masuk ke kamar pemuda tan ini.

Tapi kekaguman Kai langsung sirna ketika ia melihat seorang pemuda pale tinggi yang berjalan menjauhi parkiran. 'Sehun' Kai mengeram kesal ketika matanya menangkap sosok yang telah berani mengencani pacarnya. Kai tidak menyangka akan melihat pemuda yang satu tahun lebih muda darinya itu secepat ini. Ia sudah tahu kalau Sehun juga bersekolah di SOPA, dan ia juga sudah menyiapkan rencana balas dendam untuk pemuda albino. Pemuda itu akan mendapatkan oleh-oleh terbaik dari New York karena telah berani menghancurkan hari pertamanya di Seoul dengan pergi membawa Krystal-nya.

Sehun meninggalkan tempat parkir tanpa menyadari keberadaan Kai dan seringgai menyeramkannya. "tunggu saja albino cadel. fufufu" ujar Kai sambil tertawa setan.

Seringai Kai semakin lebar saat ia melihat dua orang namja tengah bersender pada kap sebuah mobil sport hitam yang terparkir di parkiran khusus mobil. Kai tidak akan pernah lupa tampang jelek namja yang tadi mengganggunya. Dan Kai sangat bersyukur karena ia harus melewati parkiran khusus mobil agar bisa sampai di gedung sekolah.

'khukhukhu,wahai kecoa-kecoa jelek! kalian akan menjadi alat latihan yang sangat cocok sebelum aku menghabisi Sehun.' Inner Kai berubah menjadi raja iblis seketika, atau ratu iblis.

Kai tahu ia mempunyai wajah yang sangat manis untuk golongan laki-laki, dan ia tidak masalah dengan itu. Apalagi untuk momen-momen seperti pagi ini, saat ia memasang wajah polosnya yang sangat menggemaskan ketika berjalan melewati dua kecoa jelek bernama Tao dan Namjoon itu. Jangan heran kenapa Kai bisa tahu nama kecoa-kecoa itu. Ia tidak perlu menjadi mind reader hanya untuk hal sepele itu, karena ia tadi mendengar orang yang duduk di kursi kemudi memanggil mereka dengan nama Tao dan Namjoon.

Well, sebenarnya Kai tidak peduli siapa nama mereka, yang jelas mereka kini tengah memperhatikan Kai yang berjalan tepat di depan mereka dengan dengan lagak seperti tidak menyadari keberadaan dua orang tersebut. Kai yakin saat ini dua kecoa itu tengah terkejut sekaligus terpukau dengan keberadaannya. Dan sebentar lagi mereka akan–

"Hai manis!"

–memanggilnya.

Amazing, Kai bahkan belum meyelesaikan kalimat prediksinya saat orang-orang itu memanggilnya dan berjalan ke arah Kai yang berjarak beberapa langkah dari tempat mereka berdiri tadi.

"aku rasa kita memang jodoh, bahkan takdir mempertemukan kita kembali." Kai tidak tahu apakah itu suara Namjoon atau suara Tao, karena kecoa-kecoa itu masih berdiri di belakang Kai.

Seseorang dengan lingkaran mata hitam kini berpindah. Kini ia berdiri satu langkah di depan di depan Kai, memperhatikan pemuda tan itu dengan binar mata terpesona. "Aku sungguh lupa untuk memperhatikan seragam yang kau kenakan, karena aku terlalu terpaku pada wajah manismu." Ujar namja yang kalau Kai tidak salah ingat bernama Tao. "Dan ternyata kita memakai seragam yang sama." Namja itu meraih tangan Kai dan hendak menciumnya seperti adegan yang selalu dilakukan prince dan princess di film kartun kesukaaan Baekhyun hyung.

Tapi ingat Kai bukan seorang Princess yang akan tersipu saat diperlakukan manis oleh seorang prince –well, namja yang ada di depan Kai ini bahkan tidak bisa dikatak sebagai seorang Prince–. Jangan pernah tertipu dengan wajah manis serta tingkah polos seorang Kai. ia adalah drama queen –errr drama king– saat di New York dulu. Lihat saja wajah imutnya yang ia pasang kini telah berubah datar dan dingin hanya dalam beberapa detik. Dan ia juga telah berhasil membanting tubuh Tao tepat sebelum bibir kecoa itu menyentuh punggung tangan-nya. Catat Ia tidak akan sudi tangannya di cium oleh sembarangan orang.

Tanpa sedikitpun merasa simpati pada Tao yang kini tengah terbaring tak berdaya, Kai langsung berbalik dan menghantam wajah namjoon dengan tinjunya. Hei, meskipun badan Kai tidak lebih besar dari Namjoon, bukan berarti ia tidak bisa menumbangkan namja itu. Buktinya kini Namjoon terduduk di tanah setelah Kai memberi pipi kirinya sebuah bogem mentah.

"Kalian salah jika menganggap ku tidak bisa apa-apa. Satu hal yang perlu kalian ingat, jangan pernah menganggu kucing yang sedang tertidur, karena ketika bangun, ia akan lebih ganas dari singa kelaparan." Ucap Kai dengan intonasi dingin. Ia bisa melihat raut keterkejutan di wajah kedua orang tersebut.

'khekhe, tentu saja, karena singanya kelaparan jadi dia lemas, tidak bisa apa-apa. Jadi kalah deh dengan kucing garong, eh maksudnya kucing baru bangun tidur.' narasi Kai dalam hati saat melihat wajah pucat kedua kecoa di bawahnya.

"kecoa bodoh." Ujar Kai sebelum ia berjalan meninggalkan kedua nemja yang kini memasang wajah cengo. Dan Kai melewatkan saat seorang Namja keluar dari mobil sport tempat dua kecoa tadi bersandar.

Kai tadi tiba di sekolah pukul 8:15, dan selama perjalanannya menuju ruang administrasi, ia melihat tidak ada satupun kelas yang belajar. Bahkan ada banyak murid yang berkeliaran di koridor.

'wow, bahkan murid sekolah favorit pun akan heboh saat jam kosong.'batin Kai.

Nampaknya Kai harus menguatkan batinnya. Ini yang Kai tidak sukai saat memasuki lingkungan baru, ia akan mendapat tatapan penasaran dari banyak orang dan itu mengganggunya. Ia memang menerima hal yang sama saat hari pertama di New York High School dulu, tapi itu tidak separah hari ini karena saat itu ia bersama puluhan murid baru lainnya, jadi ia bisa sedikit santai. Tapi sekarang, ia sendiri yang murid baru, lupakan anak kelas satu yang juga baru karena kelas mereka berada di lantai tiga, sedangkan kini Kai berada di lantai satu, teritorinya para murid kelas tiga. Murid-murid yang merasa mereka yang paling berkuasa karena telah duduk di tingkat akhir.

'Akhhh, kenapa kantor administrasinya ada di lantai yang sama dengan murid kelas tiga?' batin Kai terdengar miris, ia sama sekali tidak betah dengan mata-mata yang mengarah padanya. Dari yang Kai bisa tanggap, banyak murid laki-laki yang menatapnya dengan tatapan terpesona, dan tatapan tidak suka dari murid perempuan.

Kai berusaha fokus pada peta sekolah yang ada ditangannya dan mengabaikan semua hal yang ada di sekelilingnya.

'YES I found you fucking room' batin Kai berteriak saat ia melihat palang ruangan di depannya bertuliskan 'Ruang Administrasi'. Tampaknya Kai sangat senang sampai-sampai ia tidak sadar kalau ia telah mengumpati ruang administrasi.

Don't mind, cause he is fucking Kai.

tbc

hai..hai..

happy Wednesday all. How are you doing? Aku hampir lupa klo sekarang hari rabu, jadwalnya TS tayang *wtf*. Ya beginilah, klo pikiran lagi bercabang banyak.

Ngak mau banyak bacot lah, please wait for next chapter. Apa yang akan Kai alami di hari pertama sekolahnya, dan apakah pair akan terbongkar?

Thanks a lot untuk yg udh review, follow and fav.

annyeong...

big hug

kimy