Une paire d'yeux

Seventeen © Pledis Ent

All Cast © Agensi masing-masing (?)

WARN! : YAOI, Alternate Universe!, OOC, TYPO


.

.

.


Perjalanan ke atas sebenarnya sangat singkat.

Begitu Tzuyu menjejakkan kakinya ke tanah, dia tertawa. Bukan tertawa karena lucu, tapi jenis tertawa karena impiannya tercapai.

Dia mendongak menatap langit biru dan cahaya matahari membuat wajahnya bersinar.

Gadis itu berjingkat-jingkat ringan dan menebarkan wangi aneh itu kemana-mana. Sedetik kemudian, angin berubah arah dan Mingyu akhirnya menghirup udara bersih.

Kabut di pikirannya mulai tersibak. Mingyu menatap Tzuyu dan langkah ringan Naiad itu mengingatkan sesuatu pada Mingyu. Wonwoo. Whops.

Sepertinya tumbuhan sedang hijau dan bunga juga berwarna-warni. Wonwoo pasti sedang berada di atas. Astaga.

Mingyu menatap Tzuyu dan baru akan mengucapkan selamat tinggal ketika Naiad itu berlari dan memeluk pinggangnya. Wangi aneh itu melingkupinya, membuat pusing dirinya lagi.

Setelah beberapa detik, Tzuyu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Mingyu, kemudian gadis itu berjinjit lalu mengecup pipi sang Dewa Dunia Bawah.

Naiad itu menggumam dengan nada lembut, "Kau mengatakan aku makhluk paling menarik yang pernah kau temui, kan?"

Mingyu menggumam, "Ya, kau memang makhluk paling menarik yang pernah kutemui."

Suara Tzuyu memelan, "Tapi kau sudah menikah, kan?"

Mingyu tidak mengerti kemana percakapan itu mengarah, dia hanya menangkat alis dan mengangguk.

Senyum yang dipasang Tzuyu terkesan ragu, "Kau berkata aku makhluk paling menarik? Bagaimana dengan Wonwoo? Aku lebih menarik dari dia?"

Mendengar nama itu, lidah Mingyu kelu.

.

.

.

Di sisi lain, perasaan Wonwoo berubah dari senang ke marah hanya dalam waktu beberapa detik. Awalnya dia menyadari Mingyu naik dari Dunia Bawah dan berada di atas sekarang. Wonwoo langsung terbang ke sana kemari untuk menemukan suaminya dengan semangat tinggi.

Saat sosok tinggi dan suram itu terlihat oleh Wonwoo, perasaan senangnya langsung berubah menjadi marah besar. Suaminya yang tercinta sedang dipeluk oleh seorang gadis. Ralat, Naiad.

Walaupun kesal, Wonwoo diam-diam mengakui bahwa Naiad satu itu memang cantik dan terlihat sangat mengagumkan dengan gaun hijaunya. Wonwoo ingin sekali mengutuknya, atau setidaknya menampar wajah Naiad itu. Dia jelas sedang memeluk suami orang.

Kemudian, seakan kesabarannya diuji, Naiad itu mendekat dan mengecup pipi suaminya. MENGECUPNYA. Wonwoo merasakan sesuatu di dalam kepalanya putus, mungkin itu kesabarannya.

Kemudian Naiad itu menanyakan, "Kau mengatakan aku makhluk paling menarik yang pernah kau temui, kan?"

Bilang tidak. Bilang tidak. Kumohon bilang saja tidak.

Mingyu menggumam, "Ya, kau memang makhluk paling menarik yang pernah kutemui."

Wonwoo menggertakkan rahangnya, menahan makian. Suara Tzuyu terdengar lagi, "Tapi kau sudah menikah, kan?"

Wonwoo bisa melihat Mingyu sedang berusaha menguasai dirinya sendiri. Suaminya itu mengerjap-ngerjap dan mengepalkan tinju lalu mengangguk. Naiad cantik itu tersenyum ragu, "Kau berkata aku makhluk paling menarik? Bagaimana dengan Wonwoo? Aku lebih menarik dari dia?"

Wonwoo sangat kesal melihat senyuman gadis itu. Jelas sekali senyuman itu dipasangnya dengan sengaja, Wonwoo mengenali kilatan bangga di mata gadis itu karena sudah merasa memenangkan Mingyu.

Wonwoo tanpa sadar membuat angin membersihkan seluruh udara di sekeliling Mingyu, membuat dewa itu dapat berpikir dengan benar. Wonwoo menunggu, melihat wajah Mingyu menjernih dan matanya mengerjap bingung.

Dewa itu menunduk menghadap Tzuyu, tersenyum gugup tanpa sadar.

Wonwoo menahan senyum, yakin sekali Mingyu akan mendorong pergi Naiad itu. Walaupun Dewa Dunia Bawah itu tidak memaki atau memukul gadis, dia jelas akan menjauhkan dirinya dari Naiad bermata indah itu. Mingyu pasti mampu berpikir jernih, dia harus ingat bahwa dia adalah suami Wonwoo.

Jantung Wonwoo berdegup keras saat Mingyu membuka mulut, menunggu adegan menyenangkan. Mingyu pasti akan membela Wonwoo habis-habisan, toh Mingyu tidak akan menculik Wonwoo dan mengajaknya menikah jika Mingyu tidak mencintainya, kan?

"Kau lebih cantik dari Wonwoo."

Wonwoo membeku di udara, matanya terasa pedih dan rasanya beban berat menghimpit dadanya dan nyaris memutuskan napasnya.

Dilihatnya Tzuyu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Mingyu. Hal itu menimbulkan sentakan di dasar perut Wonwoo. Kemudian, kesedihannya berubah menjadi amarah. Dia marah, oh tidak, lebih tepatnya dia murka. Dia yakin dia sendiri akan membunuh dua makhluk itu.

Walaupun Mingyu tidak bisa mati, dia mungkin akan mencincang si Dewa Dunia Bawah. Memukulnya. Meninjunya. Menenggelamkannya di sungai Styx. Apa saja yang membuatnya menderita.

Saat sedang membayangkan Mingyu disiksa dengan ratusan cara di kepalanya, Dewa itu mendongak. Mata mereka bertemu dan Wonwoo tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, apakah Mingyu terpaku kaget tapi tidak melepaskan si Naiad atau ada sesuatu asing di kedua mata suaminya.

Mereka tidak melepaskan tatapan satu sama lain, berusaha menebak apa yang dipikirkan masing-masing hanya dari tatapan mata.

Kemudian dilihat oleh Wonwoo kedua tangan Mingyu. Kedua tangannya memeluk gadis itu. Mingyu membalas pelukan gadis itu.

Wonwoo langsung terbang turun secepat mungkin, berharap bisa menampar wajah suaminya dan mungkin meninju rahangnya sekalian saat itu juga. Tapi begitu dia menginjak tanah, Mingyu sudah menghilang ke dalam kegelapan, menyisakan Naiad yang berlari berputar-putar dengan anggun.

Naiad itu bergumam dengan berbagai nada, "Mingyu mengatakan aku menarik. Dia memuji wangiku. Dia menyukaiku. Dia mengatakan aku lebih cantik dari Wonwoo. Aku akan jadi Ratu Dunia Bawah setelah menyingkirkan Wonwoo."

Tzuyu terus menerus menggumamkannya sambil melompat-lompat. Kadang gumamannya terdengar seperti lagu, yang berarti hinaan untuk Wonwoo.

Wonwoo langsung memunculkan dirinya dalam bentuk tiga kali tinggi bentuk tubuhnya yang asli, membuat dirinya menjulang di atas Tzuyu. Dia memasang senyum menakutkan dan Tzuyu berhenti untuk menatap dewa satu itu. Tatapan Tzuyu tidak terlihat takut, Naiad itu malah terlihat senang.

Ratu Dunia Bawah itu bergumam, "Suamiku memuji wangimu? Dia menyukaimu? Mungkin memang artinya hanya wangimu yang berharga. Tenang saja, aku akan membuat kau diingat karena wangimu."

Dan Wonwoo menyihirnya, juga tidak memberikan gadis itu waktu untuk membalas perkataannya. Mata Wonwoo menyipit saat dia melihat Naiad itu pelan-pelan berubah menjadi sehijau gaunnya. Tzuyu membeku dalam posisi tersenyum, perlahan berubah menjadi sebuah tumbuhan baru.

Begitu sadar apa yang sudah dilakukannya, Wonwoo berlutut di samping Tzuyu yang sudah menjadi tumbuhan. Ada sedikit perasaan bersalah karena telah menghukum Tzuyu dengan berlebihan, padahal jelas bahwa naiad itu hanya senang karena pujian Mingyu. Mingyu-lah yang layak disalahkan.

Saat menggenggam tumbuhan itu dengan tangannya, dia akhirnya mengerti.

Selama ini dia selalu menganggap Dewa-Dewi Olympus menghukum siapapun dengan berlebihan. Tapi saat melihat Mingyu tadi, dia kehilangan kendali.

Ketika Wonwoo mendekatkan wajahnya ke tumbuhan itu, dia bisa mencium wangi segar yang aneh. Dirinya menghela napas dan membatin, biarlah gadis ini berguna dalam bentuk tumbuhan. Dia menjatuhkan tumbuhan itu ke tanah dan membiarkannya hidup. Menatap Tzuyu dalam bentuk itu, Wonwoo bertekad.

Oh, jelas Mingyu akan membayar mahal atas kesalahannya.

.

.

.

Pikiran Wonwoo kali ini masih terbagi antara tidak mau ke Dunia Bawah pada saatnya nanti atau dia harus mempersiapkan pembalasan untuk Mingyu. Walaupun ia sudah memperbolehkan tumbuhan Tzuyu itu menyebar dan berguna bagi manusia, dia jelas tetap masih marah. Karena wanginya yang menyegarkan, Wonwoo menamainya tumbuhan mint.

Wonwoo menghela napas dan menatap kalender di mejanya. Dia memiliki kalender yang sama dengan milik Mingyu di Dunia Bawah. Dia juga mulai menyilang tanggal sampai waktunya ia bertemu dengan suaminya lagi, bersamaan dengan Mingyu yang menyilang di bawah sana.

Memikirkan hal itu membuat Wonwoo langsung merasa sedih. Dia merindukan suaminya, itu sudah jelas. Tapi di satu sisi dia sangat marah. Hal ini membuatnya tidak yakin apakah ia akan memeluk Mingyu saat bertemu nanti atau malah meninju rahang Dewa Suram itu.

Masih ada tiga tanggal yang belum disilang dalam bulan itu. Tiga hari sebelum Wonwoo harus turun dan bertemu dengan dewa yang ia rindukan. Setelah mengutuk Tzuyu, Wonwoo terus-terusan berpikir bahwa dia akhirnya mulai seperti dewa-dewi lain. Rasanya ia mulai mengerti dewa-dewi lain, tapi itu tentu saja tidak mengurangi pendapat bahwa mereka agak kejam.

Seungcheol, ayahnya. Berusaha membebaskan ibumu? BAM! Kujatuhkan kau ke bumi.

Ibunya , Jihoon. Menculik anakku? BAM! Kubiarkan seluruh dunia kelaparan.

Junhui. Tidak mau membayar upahku? BAM! Rasakan monster laut-ku, kutenggelamkan semua kapal kalian. Oh, dan juga aku tidak akan berada di pihakmu jika perang pecah.

Minseok. Membunuh anakku? BAM! Kubunuh Cyclops yang membuatkanmu petir.

Seungkwan. Berani-beraninya kau dikatakan lebih cantik dariku? BAM! Kukirim anakku untuk membuatmu menderita.

Jeonghan. Selingkuh dengan manusia? BAM! Kuhasut agar selingkuhanmu meminta agar kau memperlihatkan wujud asli lalu dia akan tewas terbakar. Anak selingkuhanmu dipuja-puja. BAM! Kukirim sepasang ular untuknya, kubuat dia menjadi gila saat marah, dan kalau perlu, dia akan membunuh seluruh keluarganya.

Walaupun sedikit, Wonwoo mulai agak memahami Jeonghan dan hobinya untuk memburu semua selingkuhan dan anak gelap Seungcheol. Tapi jauh dalam hatinya sendiri, Wonwoo tahu bahwa perlakuannya pada Tzuyu memang agak tidak adil.

Kemudian terbayang lagi olehnya wajah Mingyu saat menatap Tzuyu, tatapan yang nyaris sama saat Mingyu menatap Wonwoo saat pertemuan makan malam pertama mereka. Tatapan tertarik dan cenderung ingin tahu lebih banyak.

Wonwoo menghela napas panjang, rasanya dia harus mencecar suaminya itu saat mereka bertemu lagi. Meninju rahangnya juga, tentu saja.

Tiga hari berikutnya, yang dihabiskan dengan bertanya-tanya dalam hati dan memikirkan pertanyaan yang akan dimuntahkan di depan muka Raja Suram itu nanti terasa berlalu dengan sangat cepat. Bagi Wonwoo, setiap saat seolah dia baru saja melihat Mingyu bersama Tzuyu.

Sampai pada akhirnya Wonwoo bangun terlalu pagi di hari yang seharusnya dia nantikan. Karena dia tidak menemukan Jihoon di manapun, ia akhirnya memutuskan untuk mengirimkan Soonyoung pada ibunya nanti.

Sekarang ini, Wonwoo memiliki hal yang harus diurusnya. Well, ya seperti meninju Dewa Dunia Bawah nanti saat mereka bertemu.

Maka Wonwoo berpikir bahwa kunjungan ke istana suaminya pada waktu sepagi ini pasti bukan masalah.

.

.

.

Istana Mingyu masih gelap gulita atau mungkin memang tidak pernah terang. Wonwoo memelankan langkahnya saat dia melewati dua pintu ganda hitam. Matanya menatap seluruh istana untuk melihat jika ada sesuatu atau apapun bergerak. Mungkin saja Mingyu menciptakan senjata untuk melindungi dirinya.

Ruang singgasana kosong, bahkan Wonwoo tidak melihat satupun pelayan mayat hidup berdiri atau berada di sana. Singgasana Mingyu pun kosong, kursinya yang berwarna hitam pekat terlihat lebih suram dibanding biasanya.

Tanpa sadar alisnya terangkat, berusaha menebak apa yang sebenarnya terjadi di sini. Ia mendekat dan menatap lapisan debu tipis menyelimuti seluruh bagian singgasana itu. Berarti sudah berapa lama Mingyu tidak duduk di singgasananya?

Wonwoo tahu bahwa singgasana sesosok Olympian adalah lambang dari kekuatan mereka. Jika ada Dewa atau Dewi lain menduduki singgasana mereka, mereka akan marah besar.

Itu juga menjadi alasan mengapa mereka menyiapkan singgasana mereka sendiri dengan berbagai hiasan dan kemegahan. Alasan demikian yang membuat Jeonghan tergoda dan menerima hadiah singgasana mewah dari Hansol lalu terjebak di sana.

Tapi melihat kekosongan di ruang ini dan juga debu di singgasana Mingyu membuat Wonwoo bingung. Apa yang dilakukan Raja Dunia Bawah itu belakangan ini sampai tidak duduk di singgasananya sama sekali?

Hal ini membuat Wonwoo berjalan pelan menyusuri koridor istana Mingyu. Percaya atau tidak, seluruh lorong koridor istana ini tampak tidak terawat selama beberapa hari setelah tornado dahsyat. Beberapa langkah dari Wonwoo terlihat sebuah meja kayu dan pecahan vas di bawahnya.

Air menggenang dari salah satu pintu, botol berisi kapal hiasan dibiarkan tergeletak di bawah tempat seharusnya. Sebuah tengkorak yang biasa tertempel di dinding sebagai pajangan juga tergeletak di lantai dengan retakan lebar di bagian dahinya.

Tirai-tirai yang digunakan untuk menutupi jendela yang sama gelapnya juga robek di sana sini. Beberapa bagian tembok retak dengan bentuk aneh sehingga Wonwoo tidak bisa menebak apa atau siapa yang membuatnya. Berbagai tulang bertebaran di pinggir koridor dan sebuah pintu terbakar hangus.

Wonwoo terus-menerus terkejut melihat kehancuran itu sampai ia berbelok dan berhenti di depan pintu kamar Mingyu. Mingyu akan tinggal di kamarnya yang gelap dan suram saat Wonwoo naik ke atas, biasanya begitu.

Sosok manis itu kaget saat dirinya menemukan sebuah retakan besar di tembok tepat di samping pintu. Dilihat dari bentuknya, seseorang telah membanting tutup pintu ini dengan kekuatan yang sangat besar.

Ia mendorong pintu itu dan nyaris berteriak saat menyadari salah satu engselnya lepas. Daun pintu itu mengelayut di sana dengan mengerikan, menunggu detik-detik kejatuhannya.

Anehnya, kamar Mingyu kali ini tidak segelap biasanya. Wonwoo berjalan dengan hati-hati ke arah tempat tidur suaminya.

Wajah Mingyu yang sedang tertidur benar-benar nyaris menguapkan seluruh amarah Wonwoo. Mata Mingyu terpejam dan bibirnya tidak cemberut atau terlihat mencibir. Rambutnya agak berantakan dan kulitnya terlihat lebih gelap.

Wajahnya akan terlihat sangat tenang jika seandainya dahinya tidak berkerut. Kerutan itu seolah menampakkan suaminya tidur dengan pikiran kalut.

Tanpa sadar Wonwoo berjalan mendekat dan mendudukkan dirinya di pinggiran tempat tidur Mingyu, menatap suaminya. Kali ini Wonwoo bisa melihat pesona dari Dewa Dunia Bawah itu, dia tampan. Bukan tampan yang seperti dewa pada umumnya, dia tampan dengan caranya sendiri.

Tampan, tapi dingin, dan tidak terjamah.

Wonwoo menyentuhkan jarinya ke dahi Mingyu, berusaha meringankan kerutan di wajah suaminya. Kemudian, Mingyu bergerak dan langsung membuka mata dengan cepat. Wonwoo terlonjak dan melompat berdiri, berusaha menemukan kemarahannya selama beberapa hari, dan mungkin mulai meninju dewa satu itu.

Tapi tatapan Mingyu membuatnya membeku di tempat, tidak bisa berpikir atau melakukan apapun. Kemudian kalimat yang dikeluarkan Mingyu membuatnya menemukan amarahnya yang sempat hilang.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Astaga. Nada tajam yang digunakan Mingyu membuat bibir Wonwoo merapat dan rahang menggertak. Apakah Dewa ini bodoh? APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?

Wonwoo menghela napas panjang dan membuat dirinya tampak terkendali. Orang pertama yang berteriak adalah yang kalah.

Dia menjawab dengan nada datar, "Aku istrimu. Apakah pertemuanmu dengan Naiad cantik itu membuat kau lupa kenyataan bahwa kita menikah beberapa waktu lalu?"

Mingyu mengeryit, alisnya bertaut. "Apa yang kau lakukan di kamarku?"

Wonwoo menarik napas lagi, tidak boleh kehilangan kendali.

"Aku hanya mengikuti kekacauan di koridor, yang kebetulan berakhir di kamarmu."

Sepasang mata hitam yang menyipit saat menatapnya membuat jantung Wonwoo kehilangan satu degupan. Mingyu berkata lagi, kali ini dengan nada ringan yang berbahaya, "Kau seharusnya memberitahuku, aku akan menjemputmu, tahu?"

Satu kalimat manis itu menyentakkan amarah Wonwoo keluar batas. Wonwoo membungkuk dan meninju rahang Mingyu. Dewa itu terlonjak dan nyaris terjatuh dari tempat tidurnya, dia menggunakan tangan kirinya untuk menahan tubuhnya dan tangan kanannya mencengkeram rahang tepat di mana Wonwoo meninjunya.

Istrinya meledak tanpa bisa dikendalikan, "MENJEMPUTKU? HAH! Jangan berpura-pura segalanya baik-baik saja. Aku melihatmu! Kau memeluk gadis itu! Tidakkah kau pernah berpikir apa yang aku rasakan? Taukah kau ini pertama kalinya aku mulai mengerti perasaan Jeonghan? Kau bahkan tidak memikirkan apapun. Aku membuat wanginya tidak menyelubungimu dan kau masih memilihnya, memujinya, bahkan membalas pelukkannya! Sekarang kau di depanku, dan tidak tampak merasa bersalah? Dan juga kau bertanya apa yang kulakukan di sini? Well, kupikir sudah jelas aku tidak berarti apapun, kan?"

Wonwoo menatap Mingyu tajam. Tidak ada perubahan apapun di wajah Dewa Dunia Bawah itu, bahkan setelah semburan kalimat itu.

Mingyu menatap Wonwoo lama sebelum membalas, "Sebenarnya, kuharap kau—"

Wonwoo menyelanya, "Kau tidak berharap, ok? Kau tidak berharap padaku. Kau tidak lagi merasakan apapun."

Dia baru akan berderap keluar ketika teringat sesuatu.

Wonwoo berbalik dan menatap suaminya, wajah Mingyu tidak terbaca. Wonwoo menghela napas tajam sambil meneguhkan hatinya. Dia mengeluarkan sepucuk tumbuhan mint dan menjatuhkannya ke tempat tidur di depan wajah Mingyu.

"Oh, dan itu adalah Naiad pujaan hatimu. Kau bisa mengembalikannya ke wujud semula, jadikan saja dia Ratu Dunia Bawah. Mungkin ini terakhir kalinya aku menghabiskan sepertiga tahunku di Dunia Bawah."

Ketika alis Mingyu bertaut menatap Tzuyu yang telah menjadi tumbuhan, istrinya melanjutkan, "Ah, mungkin menyenangkan akhirnya kembali tinggal tetap di atas."

Wonwoo berderap keluar.

.

.

.

Kepala Mingyu berdenyut-denyut. Tepat ketika Wonwoo berderap keluar, Soonyoung melompat masuk. Sayapnya yang seperti bunyi bel itu terdengar mengesalkan.

Dia tersenyum lebar dan membungkuk, "Tuan Mingyu, sebuah kiriman dari Raja Seungcheol. Ini adalah rekaman pertemuan pertama setelah pemberontakkan. Dia ingin agar kau melihatnya supaya kau tahu apa saja hasil keputusan itu."

Mingyu membatin, Seungcheol memang mengesalkan. Untuk apa juga pertemuan pertama diadakan beberapa tahun setelah pemberontakan? Bukannya harusnya setelah kejadian itu juga? Untuk apa menunggu?

Mingyu menerima rekaman itu dan mengusir Soonyoung dengan cepat. Dewa mungil itu membungkuk dan melompat keluar.

Mingyu menekan tombol play dengan malas-malasan.

Ruang Olympian terasa agak tegang.

Seungcheol berdiri dan mulai menanyakan pertanyaan biasa tentang perubahan pada dunia. Jeonghan menatap kosong suaminya, jelas digantung selama beberapa lama di atas Khaos menimbulkan efek tidak baik bagi kejiwaannya.

Junhui berwajah datar, tapi matanya membara. Dia pasti masih menyimpan dendam.

Minseok tidak berani menatap ayahnya, dia menatap sepatunya sendiri seolah itu adalah benda paling menarik sepanjang abad. Soojung diam seperti biasa.

Jihoon terlihat muram dan dingin, seperti musim di Yunani saat itu. Walaupun dia secara resmi sudah menjadi ibu mertua Mingyu, tetap saja dia tidak menyukai menantunya itu. Bahkan jika bisa, dia ingin mengutuk Mingyu menjadi cicak, pasti dia akan berteman baik dengan Askalaphos.

Jisoo juga tidak mempedulikan Seungcheol seperti biasanya. Kali ini Dewa Perang itu sedang menatap darah kering di pedangnya dan tersenyum sendiri. Tapi ketika Seungcheol menanyakan sesuatu tentang bangsa Amazon, Jisoo mengangkat kepalanya dan menyipitkan mata pada Chan.

Hansol dibalut perban di sana-sini, menyisakan mata, hidung, dan mulut yang terlihat. Jatuh dari atas pasti sakit.

Mingyu memfokuskan diri pada perkataan Seungcheol, "—kudengar kau membantai bangsa Amazon, Nak?"

Chan menjawab dengan nada malas, "Sebenarnya, mereka yang berusaha menyerangku dan teman-temanku."

Seungcheol memasang senyum datar, "Tapi, kau jelas tahu bahwa hal ini mungkin saja membuat Jisoo dan kau berselisih, kan?"

Jisoo menatap Chan dengan tatapan tajam. Jisoo adalah pelindung bangsa Amazon––yang semuanya perempuan ganas dan suka berperang. Jika dilihat dari dewa pujaan mereka, jelas semua orang akan tahu bahwa gadis-gadis itu haus darah.

Seungcheol menatap anak bungsunya lagi, "Kau kumaafkan kali ini, Chan."

Chan memutar bola mata dan bersandar lagi. Jelas dimaafkan oleh Seungcheol bukanlah hal mengesankan yang ia tunggu-tunggu.

Seungcheol pada dasarnya hanya mengomentari apa yang terjadi pada masing-masing Olympian. Dia melewati Hansol, mungkin masih tidak mau mengakui bahwa Raja itu merasa bersalah sudah melemparnya.

Dia juga tidak mendesak Minseok yang kelihatannya memilih menghilang daripada ditanyai ayahnya. Soojung menjawab dengan percaya diri, membuat Seungcheol sendiri agak kaget. Jeonghan menjawab hanya dengan satu atau dua kata. Jadi percakapan mereka kira-kira begini :

Seungcheol: "Istriku, ada yang mau kau laporkan?"

Jeonghan: "Tidak."

Seungcheol: "Kau masih marah padaku?"

Jeonghan: "Tidak."

Seungcheol: "Bagaimana jika kubilang bahwa seorang anak selingkuhanku sekarang sedang berusaha merebut tahta raja salah satu bagian Yunani?"

Jeonghan: (menatap Seungcheol dengan mata nanar) "Aku tidak peduli."

Seungcheol: "Kau memasak apa untuk nanti siang?"

Jeonghan: "Tidak masak apapun."

Seungcheol: "Jadi, aku akan makan apa?"

Jeonghan: "Terserah kau."

Seungcheol: "Memangnya kau tidak lapar?"

Jeonghan: "Tidak."

Akhirnya Seungcheol mengerang dan memutuskan untuk tidak lagi menanyai istrinya.

Giliran Junhui, dia terdengar sangat kalem. Walaupun matanya masih membara, pemimpin lautan itu menjawab semua pertanyaan Seungcheol dengan nada yang diusahakan datar.

Raja bertanya, "Kau sudah mengerti bahwa aku melarangmu untuk menghancurkan Troya walaupun dia menolak memberikanmu upah, kan?"

Junhui menjawab dengan nada kelewat tenang, "Tentu saja aku mengerti."

"Tapi, kenapa kau masih tetap menenggelamkan kapal-kapal mereka?"

Junhui tertawa datar, "Aku tidak ingat sejak kapan laut adalah bagian dari Troya. Laut adalah tempat kekuasaanku, jangan mengatur apa yang ingin kulakukan dan tidak."

Seungcheol terlihat sedang menahan marah, "Lalu monster lautmu?"

Dewa laut itu tersenyum, "Kau hanya melarangku sebagai Raja Lautan untuk menyerang Troya, kan? Kau tidak bisa menyalahkan rakyatku yang ingin membalas dendam mereka."

Seungcheol menatap Junhui dengan tajam, kemudian terdengar suara petir di luar sana dan Seungcheol berpaling. Junhui terkekeh, "Kau sudah membunuh salah satu rakyatku, jadi jangan salahkan aku jika monster laut-ku tetap akan meneror Troya."

Seungcheol mengabaikannya dan menatap Seungkwan, "Kau tahu, aku mendengar kabar bahwa kau sedang menghukum seorang manusia. Siapa namanya? Oh, benar. Psyche. Kupikir kau melakukan kesalahan."

Kuku Seungkwan yang sedang dicat langsung patah. Saat dia mendongak menatap Seungcheol, matanya terlihat membara. Dewa Cinta itu berkata dengan suara lembut tapi nada mengancam, "Mereka menyebutnya lebih cantik dariku! Wajar jika aku menghukumnya. Memangnya kau tidak pernah bersalah?"

"Aku melakukan kesalahan dan berusaha memperbaikinya."

Seungkwan tersenyum mengancam, "Kalau begitu lakukan dengan baik."

Seungcheol baru akan mendebat ketika Seungkwan mengangkat tangannya dan memperlihatkan kukunya yang dicat menyerupai cakar. Dewa langit itu kelihatan menyerah, mungkin dia tahu bahwa berdebat dengan Dewa Cinta akan sulit.

Ia akan selalu mampu membalas dendam dengan hebat, Seungkwan bisa saja membuat Seungcheol jatuh cinta dengan apapun; kertas, panci, anak tangga, apa saja.

Kemudian Seungcheol balik lagi dan menjatuhkan bokong agungnya ke singgasana berukir petir miliknya. Dia melambaikan tangan. Kemudian, rekaman itu berhenti. Pertemuan usai.

Mingyu menatap Seungcheol yang duduk di singgasananya, merasa akhirnya ada sebuah kesamaan yang dia miliki dengan adiknya.

'Aku melakukan kesalahan dan berusaha memperbaikinya.'

Mingyu menggenggam tumbuhan mint itu dan berdiri, berderap keluar kamar.

.

.

.

Wonwoo duduk di atas tempat tidurnya di kamarnya yang berwarna cerah. Dagunya ditumpukan pada kedua lututnya, dan matanya menatap tembok di depannya. Ada sesuatu berdenyut di belakang kepalanya dan rasanya seperti kemarahan dahsyat.

Wonwoo masih ingin marah dan berteriak, masih belum puas. Masih ingin meninju, menendang setiap tulang yang ada di dalam tubuh abadi Mingyu, mematahkan setiap sendi agungnya.

Tapi selagi dia memutar kembali apa yang sudah dilakukannya, ada sedikit perasaan bersalah lagi. Dia meninju Mingyu, padahal Mingyu belum pernah menyakiti Wonwoo secara fisik. Selagi pikirannya berjalan, Wonwoo juga memikirkan segala hal tentang Mingyu.

Dia tidak pernah memukul Wonwoo, tidak pernah juga membentaknya. Hal termengerikan yang pernah Mingyu lakukan hanyalah berkata dengan nada tajam dan dingin.

Kemudian pintu kamar yang berwarna merah diketuk. Wonwoo langsung dengan cepat menumbuhkan ranting keras di sekeliling pegangan pintu. Anehnya, pegangan pintu itu bahkan tidak bergerak. Siapapun yang mengetuk pintu itu tidak berniat membukanya.

Tiba-tiba suara suaminya terdengar dari balik pintu, "Aku tidak akan membukanya, aku juga tidak akan memaksa masuk. Kau marah padaku, aku tahu. Aku melakukan kesalahan, aku mengakuinya."

Suara Mingyu berhenti, sepertinya dia sedang memikirkan apa yang harusnya dikatanya. Wonwoo mendongak, dan menatap pintu merahnya.

Suami suramnya memaksakan tawa pelan canggung sebelum melanjutkan pelan,

"Hmm.. kau tahu?.. ehm. Baiklah, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf, aku salah dan aku bodoh. Juga kau layak marah padaku, jika tinjumu yang tadi masih belum cukup, kau bisa menendangku, bisa mencakarku atau apapun. Tahukah kau? Mungkin ini pertama kalinya aku meminta maaf sepanjang hidup abadiku."

Dia menarik napas panjang, "Aku akan menunggu di sini, bahkan jika kau keluar dan tidak mau berbicara padaku atau bahkan meninjuku lagi. Aku juga tidak akan memberikan alasan apapun atas apa yang kulakukan, aku tidak akan lagi membela diri."

Kali ini Mingyu terdiam cukup lama sampai Wonwoo kira suaminya sudah menghilang sebelum menambahkan dengan nada halus sekali, "Aku melakukan kesalahan dan berusaha memperbaikinya."

Kemudian hening panjang.

Sosok manis itu menatap pintu itu dan merasakan matanya pedih. Ini pertama kalinya Mingyu meminta maaf selama hidupnya yang abadi. Jadi, Wonwoo jelas berarti bagi dewa itu. Tapi kemudian kenapa Mingyu memilih Tzuyu jika Wonwoo memang berarti?

Wonwoo menopang dagunya lagi, menatap pintu itu dengan tatapan membara. Dia baru saja menurunkan kaki ke lantai dan akan bangkit, mendobrak keluar serta meneriakkan makian pada Mingyu ketika kakinya menyentuh selembar kertas.

Alisnya bertaut ketika dia mengangkat kertas itu ke depan wajahnya. Berusaha membaca tulisan berantakan di sana. Dengan bingung, Wonwoo mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kamarnya.

Puluhan kertas bertebaran di lantainya yang putih, dan ia baru menyadarinya sekarang. Sebagian kosong, sebagian tercoret bahkan robek. Wonwoo membaca kertas yang ada di depannya.

Minta maaf. Buatkan makan malam––jika dia menolak? Well, entahlah.

Sebuah coretan hitam besar mencoret sisa kalimat itu, membuatnya tidak terbaca sama sekali. Wonwoo menggeleng-gelengkan kepala dan melempar kertas itu ke lantai, lalu menyambar kertas terdekat lainnya. Kali ini sebuah surat dengan tulisan berantakan.

Wonwoo, Maaf. Aku tidak tahu lagi apa yang ingin kukatakan. Hanya maaf. Aku bodoh, memang. Kali ini aku menurunkan harga diriku hanya...

Sebuah coretan berantakan lagi-lagi menutupi seluruh sisa surat itu dan sebuah kalimat besar-besar DIA TIDAK AKAN TERKESAN DENGAN KATA-KATA BODOH INI.

Sosok kurus itu kembali melepaskan kertas itu dan meraih dua kertas lainnya sekaligus. Sebuah surat lainnya, dan juga daftar hal-hal yang disukai Wonwoo. Lagi-lagi penuh coretan.

Menit-menit berikutnya dihabiskan Wonwoo dengan membaca nyaris semua tulisan acak-acakan yang tidak ditutupi coretan.

Nyaris semuanya sama; surat, permohonan maaf, daftar apa yang harus dilakukan, dan apa yang harus dikatakan. Kertas yang hanya berisi kata maaf, sampai kertas terakhir yang di temukan di kolong tempat tidurnya berisi sebuah kata makian.

Tidak ada kemungkinan makhluk lain akan menulisnya, hanya Mingyu dan Wonwoo yang boleh masuk kamar ini. Berarti Mingyu menghabiskan tiga hari dengan terus memikirkan apa yang harus dilakukan untuk meminta maaf.

Kemudian dewa itu marah karena tidak menemukan cara yang tepat untuk meminta maaf, lalu mengamuk di sepanjang koridor sampai ke kamarnya dan tidur bagaikan mayat. Itulah kenapa dia bangun kesiangan, marah, dan stress membuatnya bahkan tidak bisa bangun pagi.

Kemudian, tatapan Wonwoo menumbuk sebuah vas raksasa di pinggir tempat tidur. Bunga-bunga dengan kelopak tipis berwarna biru berada di sana. Hal itu sangat cantik sampai Wonwoo menahan napas kaget. Alisnya bertaut saat menyadari dia tidak pernah memiliki itu sebelumnya.

Ketika matanya menatap setupuk kertas di kakinya, dia mengerti. Itulah yang tertulis di salah satu kertas berantakan itu, temukan bunga baru untuknya tapi kemudian sebuah kalimat ditulis di atasnya dengan lebih tebal DIA TIDAK AKAN TERKAGUM-KAGUM.

Mingyu salah, Wonwoo kagum melihat bunga itu. Dia ingin menghampiri dan menyentuh kelopak bunga itu, tapi dia merasa itu tidak benar. Tatapannya tertumbuk lagi ke setumpuk kertas di kakinya. Dia juga kagum pada Mingyu.

Meskipun suaminya itu kadang keras kepala dan mengesalkan, dia akhirnya merelakan sikap dinginnya untuk meminta maaf. Bahkan merencanakan apa saja yang ingin dia lakukan untuk meminta maaf pada Wonwoo. Astaga, Mingyu benar-benar.. apa? Manis.

Hal itulah yang membuat Wonwoo akhirnya membiarkan ranting-ranting di gagang pintu itu menarik daun pintunya agar terbuka.

Dewa Dunia Bawah itu berdiri tepat di depannya. Rambutnya awut-awutan, wajahnya muram dan matanya terlihat sangat gelap.

Dia langsung mendongak dan menatap istrinya tepat di mata.

Mingyu memasang senyum tipis, ujung bibirnya berkedut. "Kau membaca semua rencana konyolku?"

Wonwoo tidak menjawab.

Mingyu berdeham dan menghela napas panjang bergetar, "Kau juga melihat bunga itu, mereka salah. Aku menciptakan bunga yang salah, harusnya bunga itu tumbuh. Tapi bunga itu lebih seperti bunga plastik daripada asli. Maaf."

Dia tersenyum tipis lagi, "Jadi?"

Wonwoo tidak menjawabnya, tapi membiarkan Mingyu mendekat dan duduk di sampingnya.

Dewa tinggi itu duduk dengan tegang dan menghela napas panjang,

"Dengar, aku minta maaf. Aku menghabiskan tiga hari ini untuk terus menerus merenungkan kebodohanku karena tidak mencarimu saat itu juga, karena aku sudah dengan bodohnya membiarkan Tzuyu memeluk dan mengecup pipiku padahal aku sudah menjadi milikmu, kan? Aku juga mulai belajar menerima kenyataan bahwa aku memang kadang harus merendahkan–"

Wonwoo memotong kalimat Mingyu dengan gumaman, "Aku kagum pada bunganya."

Mata Mingyu melotot sampai nyaris keluar dari rongganya, "Apa?"

Istri manisnya itu mengangkat bahu, "Well, aku tahu kau jelas salah. Tapi aku memaafkanmu, kurasa. Aku juga melihat sisi baru darimu, meminta maaf, memikirkan apa yang kusuka dan sebagainya. Bisa dibilang kau membuatku terkesan. Kau bahkan menghabiskan tiga hari dengan merasa bersalah dan menghancurkan koridor istanamu."

Mingyu menggaruk tengkuknya dengan salah tingkah, "Sebenarnya bagian menghancurkan koridor itu tidak ada dalam rencanaku sih. Jadi, kau memaafkanku?"

Wonwoo-nya tersenyum simpul, "Ya."

Secara otomatis memberikan dorongan untuk Mingyu tersenyum, dan melingkarkan tangannya ke sekeliling bahu Wonwoo, merengkuhnya mendekat. Jantung Wonwoo berdegup keras, terutama saat merasakan wajah Mingyu hanya beberapa senti dari wajahnya.

Sosok suram itu bergumam, "Oh ya, aku ingin sekali menciummu."

Tidak ada waktu bagi Wonwoo untuk bereaksi sebelum Mingyu menciumnya. Hal itu menimbulkan sentakan pelan, dan akhirnya Wonwoo mengerti apa yang dimaksud kupu-kupu berterbangan di perutnya. Satu-satunya yang bisa dipikirkan Wonwoo adalah betapa hangatnya kulit Mingyu.

Ciuman Mingyu hanya sebentar, tapi itu membuat Wonwoo membeku selama beberapa saat.

Mingyu menatapnya dengan alis berkerut, "Kau akan marah lagi padaku?"

Makhluk manis di hadapannya memaksakan tawa pelan sambil meluruskan pikirannya, "Tidak jika kau membiarkanku mendekorasi ulang koridormu."

Mingyu menggeleng dengan gaya berlebihan, "Kumohon jangan merah muda."

Tapi Dewa Dunia Bawah itu tersenyum.

Wonwoo membalas dengan menggerutu, "Toh kau akan belajar menyukainya."

Mingyu tersenyum, "Pasti, karena aku sudah menjadi milikmu? Lagipula jika tidak, kau akan tetap memaksakannya, kan?"

Wonwoo mengangguk dan terdiam.

Mingyu menyentuh bahu Wonwoo, "Ada apa?"

Wonwoo tersenyum, dan mendongak menatap wajah Mingyu, "Menurutmu, ini pertama kalinya kita berselisih?"

Raja Dunia Bawah itu pura-pura kaget, "Benarkah? Bukannya saat kau menolak ide buket pernikahan berwarna hitam?"

Kemudian, suara tawa Mingyu bergabung dengan tawa Wonwoo.

.

.

.


END

.

.

.

OKE! CHAP INI END!

Semuanya! Tenang tenang! Miming masih cinta Wonu kok! Sungguh! Liat tuh dia sampe galau buat minta maaf! :'''''''')

Duh aku udah nyangka kalian pasti bakal ngamuk karna aku bikin Mingyu hampir selingkuh disini. Baperin aja si Mingyu, dia lagi khilaf sih (?)

Jadi, apakah chapter ini udah cukup unyu? :"''''') Maaf ya kalo ini kurang unyu :''') Tenang aja, Mingyu tetep bersama Wonu kok. Mereka akan bahagia selamanya UHUHUHHUHUH /kenapa sih/ karna mereka itu pasangan paling unyu (?)

Nah, Seungcheol cinta Jeonghan gak sih? Dia cinta, tapi yah gitu. Dia gak tahan sama satu pasangan doang. Suka lirik lirik gitulah (?) Maafkan si babeh itu ya. Seungcheol kenapa jadi yang paling kecil disini? Karna Zeus itu anak bungsu, dan aku menyesuaikan umurnya Seungcheol disini.

Nah, chap depan aku akan post oneshot baru dengan kopel lain. Menurut kalian itu bakal siapa? Verkwan? Jeongcheol? ato Junhao? Heheheheh.

Jadi tetep review ya! Aku tunggu! :3

Mind to RnR?