Man in Love (Anime Boy sekuel)

Pair: V-Kim Taehyung, Jeon Jungkook, etc

Romance/Friendships/Schoolife

YAOI, BL, BOY X BOY, TYPHOS, ABAL, OOC

.

.

.

And you bless me with the best gift
That I've ever known
You give me purpose

...

Sekuel 4: Love Game

Siang itu di jam istirahat ruang musik penuh sesak oleh para siswi. Antrean panjang mengular sampai pintu reotnya mustahil untuk ditutup dan beberapa yang kurang beruntung terdorong-dorong di belakang karena kalah bersaing hanya bisa mengais-ngais pintu dengan kecewa.

Para siswa dan guru yang lewat di koridor mungkin tak pernah tahu apa yang ada di dalam ruang musik dan menyebabkan siswi-siswi di sekolah mereka bertingkah aneh jika mereka tak melangkah masuk sendiri ke dalam ruangan terbengkalai itu. Pikir mereka, bukankah tak ada hal menarik di dalam sana selain piano tua yang sudah rusak karena digerogoti tikus?

Karena itu mereka tak akan pernah tahu, bahwa di dalam ruangan sempit tersebut terdapat surga dimana para fujoshi dan fangirl akan mendapatkan pelayanan terbaik dari keenam lelaki tampan yang duduk di balik meja panjang di tengah poster-poster dwiwarna serta rak-rak buku raksasa.

Namun hari ini ada yang berbeda.

Kim Taehyung yang duduk di tengah meja menopang dagunya, menghela nafas tak bersemangat ketika ia membubuhkan tanda tangannya pada notes milik seorang gadis pemalu di depannya. Begitu selesai, gadis itu mengucapkan terimakasih dan membungkuk dalam-dalam sebelum menyambar notesnya dan berlari ketakutan menuju pintu keluar. Hal itu tentu saja tak luput dari mata tajam si bendahara klub.

"Ouch!" Taehyung mengerang, Min Yoongi yang duduk di sampingnya memukul keras belakang kepalanya.

"Jangan pasang wajah ngenes seperti itu dan membuat fans ketakutan. Mana senyum host dan gombalan yang selalu kau umbar-umbar pada kekasihmu?" Lelaki berambut hijau mint itu berbicara tajam, membuat Kim Taehyung duduk semakin merosot di kursinya.

"Tapi itu kan beda. Senyum untuk fanservice dan senyum untuk yang tersayang ibarat bumi dan langit."

"Oh, jangan mulai lagi dengan bahasa alienmu." Yoongi mendengus, mulai iba. Sebenarnya ia sudah tahu apa alasan Taehyung menggalau belakangan, tetapi saking seringnya menghadapi sahabatnya yang seperti ini, dia sudah kehabisan cara selain membujuk atau menghibur Taehyung. "Pokoknya jangan buat fans kita kecewa, oke?" Dia menepuk singkat bahu sahabatnya untuk menyemangati, sebelum berpose V sign sambil memasang senyum semanis gula untuk berselca bersama gadis mungil berlabel nama Sunny.

Min Yoongi memang sangat kaku ketika berhadapan dengan gadis di kelasnya, tetapi dia tipe pekerja keras yang bahkan rela melakukan fanservice paling memalukan sekalipun demi kelangsungan hidup klub mereka. Dialah yang akan menjadi andalan dan paling digemari oleh fangirl jika Taehyung sedang tak bersemangat menghibur.

Taehyung menjatuhkan kepalanya di atas meja, mengantuk. Rasanya lemas sekali. Seharian ini dia sibuk di klub basket dan kekasih tsunderenya sedang betah menghindarinya. Kemanapun Taehyung mencoba mendekati Jungkook, lelaki itu akan mengelak dengan mengatakan 'ada urusan penting' lalu kabur bersama Park Jimin.

Taehyung tidak merasa dia punya kesalahan yang dapat membuat lelaki bergigi kelinci itu marah, kecuali kalau Jungkook sadar kue strawberry shortcake-nya lenyap dari lemari es karena Taehyung tak sengaja memakannya kemarin, maka Taehyung pantas diperlakukan seperti ini.

"Merindukan Jungkook?"

Tepat sasaran. Taehyung mendongak dengan wajah datar.

Gadis berambut lurus sebahu dengan label nama Mina tersemat di seragamnya menyeringai ketika dia datang untuk berselca bersama Taehyung.

"Mina.. kau pikir sudah berapa ratus selca yang kau ambil bersamaku dalam sebulan ini?" Gadis itu datang kemari hampir setiap hari dan selalu meninggalkan bayaran yang tinggi, membuat Taehyung menghafal nama serta wajahnya dengan sangat baik.

Mina mengerang. "Bodoh, aku selalu datang kesini menunggu moment Taekook! Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali kau membawanya kesini lalu mengisenginya sampai wajahnya merah padam. Aku haus asupan, apalagi setelah mendengar hubungan kalian akhirnya resmi. Tapi sampai semua lembaran di buku notesku penuh terisi tanda tanganmu pun dia tak kunjung datang."

"Hubungan bukan untuk dipamerkan." Taehyung menukas.

"Hah? Lihat saja. Lelaki selalu ingin memamerkan miliknya ke seluruh dunia dan mereka bangga karenanya. Kau pasti juga seperti itu."

Lagi-lagi tepat sasaran. Kalau saja Mina tidak memiliki sifat friendly dan santai yang membuatnya teringat pada Minatozaki Sana, Taehyung benar-benar tidak mau mendebatnya. Menurut Yoongi, semua anggota klub harus memperlakukan setiap klien dengan hormat dan lembut, agar para siswi itu merasa nyaman dan berpikir bahwa mereka benar-benar diperlakukan seperti seorang putri. Namun hal itu tentunya tak berlaku bagi Taehyung yang abal-abal dan terbiasa menghibur kliennya secara spontan.

Member lain membiarkan saja Taehyung berdebat seru dengan Mina dan masih sibuk memberikan fanservice. Tetapi tepat ketika Taehyung dan Mina mulai ngaco membandingkan apakah Jungkook lebih manis mengenakan nekomimi atau baju maid, pintu ruang musik tiba-tiba terbuka dengan suara keras. Keheningan magis mendadak menyelimuti di ruangan klub yang semula riuh oleh seruan para siswi.

"Maaf aku terlambat!"

Ada orang masuk ke dalam ruangan, dan dia meminta maaf setiap kali menubruk siswi-siswi tanpa sengaja. Kim Taehyung duduk tegak secepat kilat begitu mendengar suara familier itu. Rahangnya jatuh secepat ia berdiri dari kursinya yang terbanting ke belakang kala menyaksikan rok hitam berenda putih berkibar di depan matanya sendiri. Semua mata membelalak memaku sosok yang kini sudah berdiri di samping Taehyung dengan wajah gelisah.

"Eh.. maaf Tae, aku terlambat." Jeon Jungkook menggaruk pipinya yang merah padam.

Baju terusan maid melekat sempurna pada tubuh langsingnya. Bagian atas baju itu berwarna putih, kerahnya tegak dan terdapat pita-pita di dadanya sebagai pengganti kancing. Sementara bagian roknya yang selutut berwarna hitam dan dihiasi renda putih pada pinggirannya tertutupi oleh celemek putih. Di balik rok itu Jungkook mengenakan celana panjang seragam sekolahnya, mungkin karena malu kaki-kakinya terekspos terlalu banyak, tetapi Kim Taehyung jelas tak mempermasalahkannya karena ia sudah menerjang lelaki berambut hitam itu duluan sebelum ia sempat mengatakan apa-apa.

Para fans, terutama yang fujoshi langsung tersadar dan mulai heboh sendiri.

"JUNGKOOK KEMBALI!"

"LIHAT, DIA MEMAKAI BAJU MAID!"

"SIKAT DIA TAEHYUNG-OPPA!"

Jungkook ingin bunuh diri sekarang. Rasanya muncul mendadak di klub dengan menggunakan baju maid bukan ide yang bagus. Ia mendorong sekuat tenaga Taehyung yang ngotot memeluknya sambil menjerit-jerit kegirangan sampai lelaki itu menyingkir darinya, lalu menarik nafas dalam-dalam sambil mengulas senyum lebar.

"Kalian semua, apa kabar?" Jungkook menyapa setengah berteriak mengatasi keributan. "Maafkan aku karena jarang hadir di klub. Ada banyak hal yang harus kukerjakan, tapi hari ini aku datang dengan baju maid karena Kim Tae—karena Taehyung-senpai pernah bilang ingin melihatku memakainya." Wajah Jungkook memanas lagi saat ia melirik Taehyung dan mendapati lelaki berambut oranye itu balas memandangnya terharu.

"JUNGKOOKIE KAU MANIS SEKALI SINI SAMA PAPA!" Najis.

"SHIT, KIM TAEHYUNG MENYINGKIRLAH SEBENTAR DAN TAHAN DIRIMU SIALAN!"

Para fujoshi malah kegirangan melihat couple absurd itu berdebat dan mulai berteriak-teriak lagi. Mereka semua telah mendambakan asupan couple ini sejak lama, sehingga moment remeh sekecil apa pun sudah cukup membuat mereka berfangirling ria.

Yoongi diam saja melihat kekacauan di depannya dan bahkan menyandarkan tubuhnya santai pada Jimin. Dia mah senang melihat kedatangan Jungkook kalau reaksi yang ditimbulkan fangirl sampai seperti ini. Tetapi Seokjin menggeleng, dan Namjoon akhirnya mengangkat tangannya untuk meminta perhatian dan menyuruh para fans diam. Pada kesempatan itu, Jungkook sengaja menyenggol terjatuh salah satu spidol ke bawah meja.

"Ups, maaf." Jungkook nyengir. Dan ketika ia berlutut kemudian membungkukkan tubuhnya untuk mengambil spidol, ia mencengkram belakang kerah seragam Taehyung dan ikut menariknya ke bawah meja.

Di bawah meja suara fangirl bercampur suara Namjoon yang sedang mencoba menenangkan suasana terdengar teredam, dan di luar dugaan di bawah sana sangat sempit sampai-sampai pipi Jungkook dan Taehyung harus bergesekan beberapa kali.

"Well, surprise yang hebat." Komentar Taehyung. "Tapi bisa kau jelaskan kenapa tiba-tiba kau muncul dengan pakaian seperti ini?"

Jungkook menarik kerah kemeja Taehyung agar lelaki itu mendekat. "Belakangan kita jarang melewatkan waktu bersama karena kita sama-sama sibuk. Jadi sebagai permintaan maaf aku meminjam baju ini dari Sana-noona." Ia berhenti sejenak, terlihat bingung meneruskan kata-katanya, tapi lalu mendekatkan bibirnya malu-malu pada telinga Taehyung. "Apakah keinginanmu saat kita kencan di maid cafe dulu sudah terwujud?"

Kim Taehyung mengerjap bodoh selama beberapa saat memandang wajah memerah kekasihnya. Rasanya semua gear dalam otaknya mendadak berhenti bekerja karena kemanisan tak tertahankan lelaki manis di depannya ini. Namun akhirnya ia berhasil menemukan suaranya lagi setelah keheningan canggung yang membuat Jungkook menahan nafasnya selama 10 detik.

"Lebih baik dari bayanganku. Kau manis sekali, Kook."

Jungkook menekankan telapak tangan ke mulutnya sendiri, berusaha tak menjerit. Senyum rupawan yang merekah pada bibir sempurna itu ditampakkan begitu dekat padanya sementara jari-jari ramping Taehyung sekarang mengelus rambut gelapnya dengan kelembutan yang tak tergambarkan, seolah Jungkook terbuat dari kaca dan dapat pecah jika tak diperlakukan dengan sangat hati-hati. Dan sebagai penutup sebelum mereka kembali berdiri, Taehyung mendaratkan bibir merahnya sekilas di atas bibir penuh Jungkook sendiri.

Oh, seandainya bagian kolong meja yang bolong itu tidak tertutupi oleh taplak putih yang panjang, semua fujoshi di depan mereka pasti sudah melolong-lolong kegirangan dan membanjiri ruang musik dengan darah mimisan mereka.

"Astaga, wajahmu merah sekali, Kook. Apakah aku perlu mengantarmu ke ruang kesehatan?" Seokjin bertanya heran, namun Jungkook menggeleng kuat. Dia mengarahkan death glare pada Taehyung yang tersenyum jahil di sampingnya, lalu menendang kuat-kuat tulang keringnya sampai lelaki berambut oranye itu kehilangan suaranya untuk menjerit.

"Karena Jungkook sudah lama tidak hadir di klub ini, kalian pasti rindu dengannya.." Suara menggelegar Namjoon membuat Jungkook mengalihkan fokus padanya, dan ia melihat lelaki itu kini melempar seringai ke arahnya. "... jadi kami para generasi tua akan menyingkir, dan membiarkan para generasi muda di sini yang memimpin jalannya seluruh fanservice di klub hari ini. Jungkook juga mengatakan kalau dia akan memberikan hadiah istimewa pada Taekook shipper karena hubungan mereka sekarang sudah resmi dengan melakukan beberapa permainan yang kalian inginkan."

Para siswi langsung heboh lagi, kali ini karena girang dan antusias. Jungkook mengumpat dalam hati, melirik Taehyung menuntut penjelasan namun lelaki berambut oranye itu hanya mengangkat bahu ngeblank tanda tidak mengetahui apa-apa. Jadi ide ini rupanya murni pemikiran dari iblis yang bersemayam dalam diri Kim Namjoon.

Namjoon sendiri mengabaikan death glare Jungkook dan kelihatannya menikmati mengisengi kedua adik kelasnya itu. "Apakah di antara kalian ada yang punya ide, permainan apa yang kira-kira harus dilakukan oleh Jungkook dan Taehyung senpainya? Yak, silakan Park Jimin!"

Jimin orang yang mengangkat tangan paling cepat dalam ruangan itu. Jungkook mendeath glarenya awas, memperingatkan. Tetapi lelaki pendek itu seakan tak peduli ketika ia berjalan ke tengah sambil nyengir polos lalu berteriak keras-keras dengan suara cemperengnya,

"Bagaimana kalau permainan mouth to mouth?"

Jungkook hampir tak bisa merasakan Taehyung di sampingnya menepuk bahunya untuk menenangkannya. Otaknya hanya dapat merangkai tiga kata dalam kepalanya di saat teriakan setuju para fujoshi serta tawa keempat anggota klub lainnya meledak sampai membuat dinding-dinding rapuh dalam ruangan bergetar.

PARK

JIMIN

BANGSAT

...

Jungkook tak bisa berhenti mengutuk Jimin dalam kepalanya saat ia menatap horror lembaran kertas yang diangkat oleh jari-jari gempal lelaki berambut merah itu.

"Jadi peraturannya, Jungkook akan menerima kertas yang dioperkan oleh Taehyung-sunbae dan dalam waktu satu menit mereka harus bisa mengumpulkan sebanyak 10 lembar. Jika mereka tidak bisa mendapatkan 10 lembar, maka mereka harus memainkan satu game lagi sebagai hukuman penalti. Apakah kalian setuju nona-nona?" Park Jimin menjelaskan peraturan game-nya dengan semangat, dan jeritan antusias para fangirl mengudara membalasnya.

TERKUTUKLAH PARK BANTET JIMIN!

Permainan yang wajib dalam mouth to mouth game tentu saja adalah paper kissing game. Permainan ini biasanya dilakukan oleh banyak orang yang berjejer dalam satu baris dan mereka saling memindahkan kertas dari mulut ke mulut.

Tetapi melakukannya dengan kertas yang luar biasa tipis dan mudah sobek merupakan ide buruk. Park Jimin yang anti mainstream menyarankan mereka menggunakan jenis kertas itu memang benar-benar setan dan ingin menyiksa Jungkook separah-parahnya. Mungkin lelaki pendek itu berniat membalas dendam karena selama ini Jungkook selalu membuatnya ternistakan. Kalau saja kekasih galaknya yang berambut hijau mint tidak sedang duduk di sudut ruangan untuk mengawasi ketimbang memilih mengikuti Namjin melengos ke kantin, Jungkook pasti sudah membunuh setan bantet itu sedari tadi.

Jungkook merasakan tepukan pada bahunya, menoleh pada Kim Taehyung yang tampak cemas. "Jangan paksa dirimu kalau kau tak mau melakukannya, sejak awal ini memang ide gila Namjoon. Aku bisa menyuruh si bantet menghentikannya lalu kita akan menghibur para fans seperti biasa saja, bagaimana?"

Jungkook ragu-ragu sejenak. Ia menatap sebal pada Jimin yang menyeringai, lalu pada para fangirl yang tampak sangat girang dan antusias.

"Aku akan mencobanya." Ucap Jungkook tegas, membuat Kim Taehyung membelalakkan matanya tak percaya. "Aku memang sudah lama tidak datang ke klub, mungkin rasanya ini pantas sebagai permintaan maaf dan aku tidak ingin membuat mereka kecewa." Taehyung mengerjap ngeblank, Jungkook tersenyum dan menepuk bahunya riang. "Jadi ayo kita berikan mereka fanservice istimewa, senpai!"

"Baiklah, kalau begitu aku juga tidak akan ragu. Jangan tarik kata-katamu, kelinci tsundere." Taehyung menyeringai dan senyuman Jungkook segera luntur menjadi tatapan horror melihat lidah lelaki berambut oranye itu terjulur untuk menjilat bibir bawahnya sendiri.

Sepertinya ini takkan berjalan dengan mudah, dan Jungkook tahu dia tak akan seberani sewaktu dia menyanggupinya sok tegas seperti tadi.

"Baiklah, satu menit dimulai dari sekarang!" Park Jimin memberikan aba-aba diiringi pekikan girang para fangirl yang menyemangati.

Jungkook memajukan wajahnya mendekati Taehyung, ia berusaha hanya terfokus pada kertas yang terjepit di antara mulut lelaki itu yang terbuka. Tetapi seluruh tubuhnya terlalu gemetar dan wajahnya merah padam, membuat Taehyung yang kelihatannya tidak sabar memeluk pinggang ramping Jungkook lalu membenturkan kertas di mulutnya sendiri penuh nafsu pada bibir Jungkook. Jeritan bahagia para fujoshi meledak dalam ruangan dan sejenak saja pasangan absurd itu sudah dihujani oleh puluhan lampu flash dari kamera ponsel yang tak berhenti menjepret. Satu lembar pertama berhasil.

Saat mereka memulai dengan lembar kedua, kali ini Taehyung memilih pasif dan membiarkan Jungkook mengambil kertas di mulutnya dengan caranya sendiri. Jungkook bergerak kaku seperti robot dan ia merasa wajahnya yang kebakaran hampir meledak ketika tatapan panas Taehyung mengiringinya selama ia berusaha mengambil kertas itu. Aneh sekali, padahal Taehyung tadi kelihatannnya melakukannya dengan sangat mudah tapi kenapa Jungkook tidak bisa?

Frustasi karena tak kunjung bisa terambil, Jungkook menekan tengkuk Taehyung dan memiringkan kepalanya ke kiri serta ke kanan mencari sudut yang pas. Bahkan ia berusaha menggunakan lidahnya sampai kertas yang terjepit di antara mulut mereka menjadi sangat basah dan licin oleh saliva. Para fujoshi berseru mengapresiasi dan Kim Taehyung sampai melebarkan kedua matanya atas keterkejutannya dengan keagresifan kekasihnya. Kalau saja kertas itu tak menjadi penghalang di mulut mereka, Jungkook pasti sekarang benar-benar terlihat sedang berusaha melakukan deep kiss pada Taehyung. Fujoshi-fujoshi berseru kelabakan sementara tangan mereka sibuk memegangi ponsel dalam mode video. Mereka tak mengira akan mendapatkan fanservice sepanas ini.

"KYAAA LAKUKAN LEBIH AGRESIF LAGI KOOK!"

"DORONG TAEHYUNG-OPPA, BUAT KERTASNYA SOBEK!"

SHIT SHIT SHIT

"Dan ya.. WAKTUNYA HABIS!" Park Jimin berseru memperingatkan tepat ketika Jungkook terengah-engah dengan wajah merah padam dan berhasil mengambil kertas kedua dari Taehyung.

Saat Jungkook menyumpahi Park Jimin keras-keras dan membantu menghentikan pendarahan Taehyung yang rupanya mimisan karena tidak kuat dengan perlakuan agresif Jungkook tadi, beberapa fujoshi terlihat sudah tak sadarkan diri dan bergelimpangan di lantai kehabisan darah. Sementara sisanya masih bertahan dengan mata berbinar antusias walaupun darah mengalir deras dari hidung mereka, dan bahkan masih kuat menagih hukuman penalti dengan menggebu-gebu.

"HUKUMAN! AYO LAKUKAN LAGI!"

"LAKUKAN LAGI! LAKUKAN LAGI!"

"Well, karena mereka hanya berhasil mendapatkan dua lembar maka diputuskan mereka akan melakukan satu game lagi sebagai hukuman." Jimin mengumumkan senang melihat tatapan horror yang dilayangkan oleh Jungkook.

Hukuman penalti, atas usul dari seorang gadis emo berkacamata adalah peppero kissing game. Biskuit pocky rasa matcha yang diberikannya secara sukarela kini terjepit di antara bibir merah muda Jungkook yang berdiri gelisah.

Karena ini hukuman penalti dan tak ada batas waktunya, Taehyung yang mimisannya sudah pulih bergerak perlahan. Ia memeluk pinggang ramping Jungkook dengan satu lengan dan memajukan wajahnya dengan santai untuk menggigit ujung pocky yang satunya lagi.

Jungkook berkeringat dingin kala jari panjang Taehyung mencengkeram rahangnya. Ruangan hening oleh ketegangan dan Jungkook hampir bisa merasakan para fangirl juga ikut menahan nafas sepertinya ketika Taehyung mulai bergerak maju menggigit pocky dengan sangat perlahan.

Kelambatan yang menyiksa di bawah tatapan panas Kim Taehyung dan wajah sempurnanya. Jungkook tidak tahu lagi harus mengalihkan matanya kemana. Jantungnya memompa darah naik cepat sekali dan membuat wajahnya kini lebih merah dari kepiting rebus. Rasanya dia sanggup meledak. Taehyung semakin dekat, dan batang pocky yang tersisa semakin memendek. Sampai akhirnya batang pocky itu sudah tinggal tersisa beberapa inci lagi di ujung bibir Jungkook, Taehyung masih nekat juga memakannya dan bahkan memiringkan kepalanya.

Tepat ketika dering bel yang menandakan waktu istirahat siang telah selesai berbunyi, cairan merah pekat yang sudah berusaha Jungkook tahan sekuat tenaga menyemprot deras dari hidungnya bersamaan dengan ledakan jeritan para fujoshi.

"ASTAGA MEREKA BENAR-BENAR BERCIUMAN!"

"INI FANSERVICE TERBAIK SEPANJANG MASA!"

Min Yoongi dan Jimin kelabakan mengurus lembaran uang yang beterbangan di udara. Belum pernah anime club sesukses ini sejak berdiri setahun yang lalu. Taehyung dan Jungkook yang berjasa besar dalam melakukan fanservice tentu akan bangga melihat hasil kerja keras mereka. Sayangnya kini Taehyung sedang panik melarikan Jungkook yang pingsan ke ruang kesehatan.

-SEKUEL 4 END-

A/N:

Gatau, gatau sumpah saya nulis apaan :") sekuel kemarin maaf ya typo-nya bertebaran. Banyak yang ngerequest waktu mereka lagi di klub, dan jujur saya hampir lupa keberadaan klub ini kalau tidak diingatkan. Words-nya yang lumayan panjang sebagai perayaan untuk comebacknya Bangtan. Ada yang masih hidup setelah nonton MV-nya? Hehe.

Terus denger-denger mereka mulai promosi dan ngadain fansign lagi. Sayang banget ya Vkook duduknya ga sebelahan, padahal saya nantiin banget moment mereka T_T tapi gapapa, saya denger mereka sempat ngode-ngode kok. Walau duduk jauhan tetap tak terpisahkan ya.

Sampai jumpa di sekuel berikutnya~