.

.

.

.


Kesenangan di Antara Dua Dunia

What's Happening Beside You—

Chapter 2 . The Singing from An Authority of The God

The Creation-Story and Opening Quotes © Yoshina Vanatala

VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua


.

.

.

.


"I believe that God is anywhere, so I'm fearing of nothing." — Sevina Handrena


.

.

.

.

Waktu yang lalu, aku sempat menyinggung nama Kamui Gakupo ini.

Dia adalah seorang mahasiswa pasca-sarjana, katanya sih jurusan keagamaan. Kurang tahu juga agama apa. Makanya orangnya agak-agak religius gimana gitu. Aku tidak tahu kenapa dan bagaimana bisa ia bergabung dalam klub kampus ini. Itu sebuah misteri besar bagiku.

Sebenarnya secara tidak langsung dia itu senpaiku, tapi aku merasa bahwa gelar senpai itu tidak pantas untuknya.

Soalnya dia sering terlihat bertingkah-laku kekanakkan sih. Selalu ngotot membawaku kesana-kemari, atau mungkin memaksaku melakukan ritual-ritual pemanggilan arwah secara sepihak. Sering menyeringai tidak jelas yang membuat dirinya terkesan seperti orang gila.

Tapi entah ini hanya perasaanku atau memang dia hanya seperti itu didepanku? Pasalnya, ketika kami berada dikhalayak, dia akan bersikap kalem dan dewasa. Membuat sebagian besar orang di klub menghormatinya.

Itulah hal yang menyebalkan darinya.

Sisi baik darinya adalah, dia sering sependapat denganku. Kapanpun aku ingin melihat hantu, begitu juga dengannya. Dia akan dengan senang hati membawaku dengan mobilnya ke tempat-tempat berhantu favoritnya. Dikarenakan umurnya yang lebih tua dariku—aku 23 tahun, dia 25 tahun—maka dia lebih bisa mengambil sebuah keputusan lebih cepat dan—entah kenapa—lebih gila daripada aku.

Rambutnya ungu, tapi terkadang jika di dalam kegelapan, warna ungu itu akan terlihat seperti hitam legam. Dia berambut sepanjang bahunya, dan jika dia memiliki wajah yang cantik, bisa jadi aku akan mengiranya perempuan. Dia sering mengikat sedikit rambutnya. Lalu mata birunya itu sering bersinar dengan seram ketika ia melihat sesuatu yang ia sukai. Hantu. Dan arwah penasaran. Yah, sejenis itulah.

(A/N : Rambut Gakupo terlihat seperti rambutnya di lagu "Otona no Radio".)

Well, dia itu orang yang sedikit eksotik. Aneh, tapi luar biasa. Baru pertama kali ini aku bertemu dan berteman dengan orang seperti itu.

Dia itu gila—lebih gila dariku yang gilanya masih wajar-wajar ini. Dia sering bersikap gila apalagi ketika dia telah mendapatkan apa yang dia harapkan.

Seperti malam ini misalnya.

"Shion, kau sedang tidak ada jadwal, 'kan? Bagaimana kalau sekarang kita pergi ke suatu tempat?"

Aku tidak memiliki alasan untuk menolak, jadi kuiyakan saja.

"Baiklah. Sekarang juga?"

"Iya."

Sambungan diputus, dan lima menit kemudian dia pun sudah ada di depan pintu apartemenku.

"Kali ini kita ke mana?"

"Hm, ke suatu tempat. Kau pasti akan menyukainya."

Semoga saja kali ini tidak membuatku nyaris serangan jantung seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

Semula kami terlihat seperti berkeliling kota, namun akhirnya kami tiba di sebuah gelanggang. Semula kalian pasti berpikir bahwa dia akan membawaku untuk berenang bersama di salah satu kolam renang disini.

Tapi tentu saja, itu bukan dia sekali.

Dan sudah kuduga dia akan membawaku ke sini.

Gelanggang ini berlokasi agak jauh dari apartemenku, dan bersebelahan dengan sebuah rumah sakit pemerintah. Jika di siang hari, kalian akan mendapati tempat ini sangat ramai dengan para remaja yang entah hendak berenang atau mungkin bertanding basket di arena yang ada di sini.

Tapi kalau malam sudah datang, tempat ini seperti rumah hantu. Apalagi di jalan dekat pintu gerbang itu ada pohon beringin. Kau takkan pernah tahu apa yang sedang berdiri menunggumu di sana.

Kebetulan saja malam ini ada pertandingan bulu tangkis, jadi keadaan gelanggang masih lebih ramai.

Mobil yang kami tumpangi ini melaju dengan cepat, menembus angin malam yang membuat siapapun seketika merinding jika diterpa. Sesekali ada orang yang berjalan di jalan ini, tapi mungkin mereka hanya sekedar lewat. Bukan orang yang kurang kerjaan seperti kami ini.

Kami akhirnya berhenti dan turun dari mobil.

"Lalu, apa yang kita lakukan di sini?"

Lebih tepatnya apa yang akan kami lakukan di belakang rumah sakit pemerintah seperti ini. Karena gelanggang lebih luas daripada rumah sakitnya, maka belakang rumah sakit ini masih bisa diakses bahkan dari dalam halaman gelanggang ini.

"Kau pernah dengar cerita tentang tempat ini?"

Aku mengangguk. Tentu saja aku tahu. Tempat ini memang terkenal dengan penampakannya. Tapi tidak kusangka dia akan membawaku ke sini.

Tempat ini jelas lebih sunyi, karena berada jauh di belakang stadion tadi. Dan lebih menakutkan, dikit sih.

"Bagus kalau begitu. Aku tidak perlu menjelaskannya lagi."

Dia kembali ke mobil untuk mengambil sebuah benda keramat yang harus dibawa oleh setiap pemburu hantu dimanapun dan kapanpun—kamera.

"Shion, berdirilah di sana."

Dia menunjuk sebuah bangunan tua yang berpintu kaca. Tempat itu jelas tidak berpenghuni—dilihat dari pekarangannya yang tidak terurus, apalagi itu berada tepat di belakang rumah sakit. Tidak ada pencahayaan apapun di sana, hanya ada sinar bulan sempurna yang mulai naik ke langit.

Tapi cahaya itu tampak remang-remang, di bawah naungan pepohonan yang ada di sekitarnya. Menyambung hembusan angin malam dari jalan raya kepada kami yang ada di bawah pohon itu.

Entah kenapa dan bagaimana bisa, ada seekor burung hantu di samping rumah tua itu. Ia memperhatikan kami dengan mata lebarnya itu.

Sejenak aku merasa tengkukku merinding.

"Kenapa harus aku?" Bukan berarti aku takut. Aku memang takut, tapi nyaliku lebih besar daripada rasa takutku.

"Ayolah. Lebih baik kemungkinan digrepe-grepe atau melihat langsung?" Dia mulai menyeringai jahil.

"Err... mungkin membelakangi lebih baik." Aku pun menuruti permintaannya, berjalan ke tempat yang ia tunjuk tadi. Dan sekarang jarak di antara kami kira-kira ada 2 meter.

"Aku harus bagaimana lagi?"

"Berdirilah di depan pintu kaca di situ."

Aku menurutinya.

"Lalu?"

"Hmm... tangan kirimu bertolak-pinggang. Lalu, silangkan kakimu."

Dia berusaha mengerjaiku?

"Begini?"

"Ah, iya... tapi, kepalamu agak miring sedikit. Ya, seperti itu..."

Aku tiba-tiba mendengar suara dering. Tidak terlalu nyaring, tetapi cukup mengganggu. Mendadak aku merasa tubuhku tidak dapat bergerak sama sekali.

Dan kedua tanganku diselimuti rasa dingin yang menusuk.

"Sip." Dan sepertinya dia tahu bahwa sekaranglah aku tidak bisa bergerak. Dia menaikkan kameranya dan mengacungkan jempolnya—pertanda bahwa poseku ini sudah tepat. "Senyumlah. Peace."

Terlihat blitz yang menyilaukan mata, dan suara jepretan yang khas. Semula aku ingin bergerak, tapi aku tidak dapat melakukannya dan suara itu masih ada.

"Hei." Sebuah tepukan di bahuku menyadarkanku. "Jangan terlalu hanyut dalam posemu."

"Apakah ada sesuatu?" Aku spontan menanyakannya dan menjauh dari tempat tadi. Dan sungguhlah, aku akan memukulnya jika tidak ada apapun di foto itu. Karena untuk apa aku bersusah payah seperti tadi kalau tidak ada apa-apa!

"Hm... seperti dugaanmu."

Dia menyeringai miring, berarti ada hal gila yang tergambar di sana. Yah, tentunya selain aku yang berpose aneh barusan.

Damn!

Di sana ada aku yang berdiri, dimana tangan kiriku bertolak-pinggang, dan tangan kanan kubiarkan bebas. Di sampingku, ada semacam siluet aneh berupa sesosok wanita. Dia seperti berdiri di sampingku, tapi sebenarnya terlihat jelas bahwa dia berada di dalam pintu kaca itu.

Dan aku tidak dapat menemukan dimana kaki dan tangannya di foto ini.

Rambutnya hitam panjang dan mengenakan gaun putih yang kelihatan kotor sekali. Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku tidak bisa melihat wajahnya disini. Padahal poninya sendiri tidak terlalu menutupi wajahnya.

Ataukah sebenarnya makhluk itu tak berwajah? Entahlah.

Berhubung aku berdiri tepat di depan pintu kaca itu—yah, gak tepat sih, ada jarak sekitar 1 meter, aku seperti sedang berfoto mesra dengan si hantu.

Sial.

"Kau masih beruntung. Kau tidak bisa melihat wajahnya. Semula pada saat aku menemukannya lewat kamera, dia langsung melihat ke arahku dengan tatapan terganggu. Dan seperti hendak memakanku." Dia tertawa karena kalimat barusan.

Sebenarnya dia ini apa? Hei, aku tidak bisa menemukan kata yang pantas untuk orang aneh ini.

"Sudah 'kan? Jadi, bisakah kita pulang sekarang?"

"Ah, kau ini terburu-buru sekali. Baiklah, baiklah." Dia menyimpan kameranya, dan kami berjalan ke mobil tadi. "Lagipula, dia tampak tidak suka denganku. Memang sebaiknya kita harus segera pergi dari sini."

Mungkin kalian heran sendiri. Jadi kami ke sini hanya sekedar ingin berfoto satu kali saja? Ya, begitulah. Didengar dari ucapannya barusan, sepertinya kami hanya diberikan kesempatan untuk berfoto satu kali saja.

Kami masuk ke mobil lagi. Dia duduk di bangku kemudi, sedangkan aku di bangku belakangnya.

"Lalu? Foto itu akan kau apakan?"

"Kukoleksi."

"Oh, aku tahu. Aku terlalu tampan di sana, jadi kau ingin menyimpannya untuk kau puja-puja."

"Ah, iya. Kau tampan sekali jika bersanding dengan hantu berwajah datar—secara harfiah—itu. Kau tahu?" Dia pun tertawa dengan lelucon basinya itu. Kemudian, tiba-tiba ia terdiam dengan matanya mengarah padaku.

Atau lebih tepatnya ke arah belakangku.

Kurasa lebih baik aku tidak melihat ke belakang, sementara dia akhirnya kemudian menatapku.

Dan suara dering itu terdengar lagi. Kali ini terdengar dekat.

"Shion."

"Ng?"

Dia tidak menjawab. Terdiam. Lalu tiba-tiba lagi, dia menyeringai lebih lebar. Apa-apaan dia itu? Apakah ada hantu lagi di sekitar sini?

"Kau harus melihat ini."

Aku spontan mendekat padanya. Oh, ternyata tadi itu dia sedang memotret toh. Tapi kenapa harus diam-diam?

Dan dalam sekejap, aku pun mematung.

Hantu itu ada lagi di belakangku. Dan seperti tadi—wajahnya tak terlihat. Kalau aku perempuan, bisa jadi aku akan menjerit histeris menyadarinya.

"Sepertinya dia memang suka padamu, Shion." Dia masih menyeringai, dengan menyebalkan.

"Kau pasti bercanda!"

"Hahaha, tidak apa-apa. Duduklah di depan. Kau akan aman jika di sebelahku."

"Aku tidak yakin aku akan aman di sana. Kau suka sekali menaruh boneka di bangku itu."

Boneka berhubungan erat dengan ritual pemanggilan arwah. Biasanya boneka akan digunakan sebagai wadah bagi arwah yang dipanggil. Makanya aku sedikit merasa ngeri jika harus duduk ditempat duduknya. Kapan dia menggunakannya? Entahlah!

"Tidak, tidak. Kujamin, ia takkan mengikutimu lagi."

Kuharap begitu.


.

.

.

.


"Hei, Shion. Kenapa kau begitu ketakutan barusan? Apakah karena gelap?"

Hah? Kenapa dia mendadak menanyakannya?

"Hm, bukan begitu. Hanya saja, aku merasakan bahwa ada yang mengawasi kita di sana. Dan aku sama sekali tidak suka dilihat."

Kulihat dia menghela napas. Menghempaskan punggungnya di sandaran jok, dan berucap dengan mata yang menatap lurus pada jalan di malam hari,

"Apa yang membuatmu takut oleh kegelapan itu? Tutuplah matamu; disana terdapat kegelapan terdalam yang pernah hidup di dunia ini."


.

.

.

.


Dia itu lebih berani daripada siapapun yang pernah kutemui selama ini. Dia malah nekat mendatangi mereka. Di saat tidak ada siapapun yang berani, hanya dialah yang kelewat berani.

Bahkan, asalkan kau tahu saja, nyalinya takkan berkurang sepersen pun, meski kau mengatakan akan ada monster yang ingin memakannya jika ia tetap nekat menantang para hantu.

Kamui Gakupo itu sendiri artinya "Nyanyian dari Kewenangan Tuhan". Nama yang religius—tapi mungkin ada arti lain dari "Kewenangan" itu. Dan jika ditelaah dari sisi yang berbeda, nama itu akan memiliki arti yang terkesan mistis.

Yah, setidaknya, aku belum terlalu memahami siapa dirinya sebenarnya. Dan bersamanya lebih lama lagi kurasa bukanlah hal yang buruk.


.

.

.

.


-To be Continued-


.

.

.

.


Balasan Review (karena saya lagi males balas satu-satu :D) :


MaiKamano : Fanfic horror memang selalu direkomendasikan untuk dibaca pada saat gelap/ malam :D

Maaf! Saya gak pernah bisa berhenti ngelucu bahkan disaat serius sekalipun -_- Kelemahan paling serius ini

Gakkun memang kembali lagi ke hotelnya kok. Karena menurutnya, seorang pemburu hantu yang penasaran harus berani mengambil resiko apapun yang akan terjadi #apaansih

Makasih udah RnR :)


Kurotori Rei : Beneran serem ya? Saya cuma coba-coba kok, sebenarnya. Bahkan saya baru tersadar setelah fanfiksi ini dipublikasikan... dan saya gak nyangka bakal ada yang membaca! Makasih udah mau membaca! XD

Gakupo itu memang agak-agak gimana gitu. Setengah sintinglah :) #ditebas


Nekuro Yamikawa : Beberapa chapter dari fanfiksi ini (rencananya) bakal terinspirasi dari beberapa cerita yang entah dapat dari internet, teman, atau bahkan saya sendiri yang mengalaminya :) Tentu saja dengan pengembangan

Makasih udah RnR! ^^


Oceanblue : Tahu, gak? Saya buka review-mu itu lewat hape. Dan yang pertama kali terlihat di layar adalah kalimat pertamamu itu. Sumpah, saya langsung berpikir "ini pasti flame" dan nyaris pundung kalau tidak melihat kalimat berikutnya :) #diinjek

Naa, ini sudah saya usahakan untuk se-suspense mungkin. Tapi—masih—ada selingan humornya yang entah kenapa tak pernah bisa hilang! -.-

Makasih udah RnR.


A/N : Ah, kali ini inspirasi dari temannya teman -.- Dia juga pernah mengalami yang seperti ini, sama kakaknya. Tapi setting waktunya saya ubah. Dan, well, percakapan mereka itu sungguh saya karang, jadi jangan heran kalau tak jelas ._. Saya kurang yakin kalau chapter ini seram.

Oh iya, nama Gackpoid memang gitu lho, artinya. Arti Kamui itu "Kewenangan Tuhan" (maybe, it's just from my prediction), dan Gakupo itu biasanya dituliskan dalam bentuk kanji yang berarti "Penyanyi (gaku)"... duh, kenapa saya jadi sok tau gini ^^"

Naa, mind to review?