.

.

.

.


Kesenangan di Antara Dua Dunia

What's Happening Beside You—

Chapter 3 . Cemilan Tengah Malam

The Creation-Story © Yoshina Vanatala

VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua


.

.

.

.


Masih dengan ekspedisi tengah malam. Tapi bukan malam yang sama. Mungkin beberapa minggu setelah kejadian kemarin.

Waktu itu, sebenarnya aku baru saja pulang kuliah. Tapi tiba-tiba dia mencegatku di tengah jalan seperti hantu. Seringai tipis terlihat di wajahnya.

Kenapa lagi orang ini?

"Hai, Shion."

"Hai. Ada apa, Kamui?"

Sapaan basi.

"Bagaimana kalau kita cari cemilan tengah malam?"

Aku menyipitkan mataku padanya. Tapi karena aku juga tidak punya kegiatan besok, jadi aku mengangguk.

"Baiklah."

Jadi di sinilah aku sekarang. Aku duduk di mobilnya, di bangku belakangnya. Aku nyaris tertidur karena ia lama sekali berkendara. Ternyata dia membawaku ke sebuah tempat semacam pasar malam. Tapi sebenarnya bukan pasar malam, hanya seperti deretan restoran. Itu bertempat di pinggir kota.

Kami turun dari mobil, dan berjalan menghampiri salah satu rumah makan yang terlihat sederhana. Kami duduk di kursi yang menghadap jalanan yang memiliki pencahayaan yang agak remang-remang.

Dia menoleh padaku, dan pasti melihat kalimat yang berbunyi "kenapa disini?" di wajahku. Jadi dia pun berkata, "Kita datang sekalian buat melihat hantu. Sudah lama aku tidak ke sini."

Dia pasti tidak serius.

Melihat hantu katanya? Hm, kalimat yang sudah kuduga akan keluar darinya. Tapi kenapa sekalian pas makan sih?!

"Nanti lihatlah ke bawah saat aku bilang. Jika kau beruntung, setidaknya kau akan melihat kakinya."

Setelah mendengar kalimat itu, mustahil bagiku untuk merasakan makanan dalam mulutku.

Aku baru saja sedang mengunyah makananku dengan perlahan namun pasti. Namun tiba-tiba sebuah bunyi mulai berdering di telingaku. Dan keringat dingin membanjiri seluruh tubuhku.

Aku membeku di sebelahnya yang sedang asik memelototi sesuatu. Wajahnya terlihat fokus.

"Hei, lihat ke bawah. Sekarang."

Aku spontan melakukan yang apa yang ia ucapkan. Tetapi, sebenarnya aku tidak bisa bergerak seinchi pun saat aku menginginkannya.

Dan aku melihatnya.

Di ujung ekor mata kananku, tepat disebelah meja kami, aku melihat sepasang kaki putih tanpa alas sedang berjalan. Tanpa suara, dan dengan kecepatan yang perlahan seolah mereka melayang.

Oh, jadi itu yang membuatku merasa merinding seketika.

Sebuah tepukan di bahuku mengembalikanku ke dunia nyata.

"Hei, kau melihatnya?"

Aku langsung tersadar dan menoleh padanya. Dia terlihat menyeringai miring. Dan sepertinya tatapan antusiasku merupakan jawaban "iya" untuknya.

"Ada yang bilang bahwa disini terkadang ada sepasang kaki lainnya diantara para pelayan restoran. Bagus untukku, aku tidak hanya bisa melihat kakinya, tapi semuanya. Bagus untukmu juga, karena kau tidak bisa melihat wajahnya."

"Bagaimana wajahnya?" Aku nyaris melontarkannya, tapi urung karena kupikir ia hanya akan menampilkan seringai masokisnya itu sebagai jawaban untukku.

"Shion, kenapa malah melamun? Cepatlah makan! Dia mulai tidak menyukaiku."

Setiap hantu yang ia temui pasti akan langsung tidak menyukainya. Hah, pasti karena wajahnya yang jelek itu!

Ah, aku tidak tahu juga sebenarnya.

Setelah menyelesaikan makan—dan membayarnya—kami pergi dari tempat itu.

"Lalu, kemana kita setelah ini?"

"Karena sudah terlanjur di pinggir kota," Dia menoleh sekilas ke belakang. "Bagaimana kalau kita sekalian jalan-jalan keliling kota?"

"Terserah kaulah."

Kami sungguh jalan-jalan di pinggir kota, pada tengah malam hari.

Pertama-tama kami berjalan di sekitar pelabuhan. Tak ada hal yang khusus disana selain orang-orang yang baru saja pulang dari tempat kerjanya di seberang lautan. Kami sempat melewati pintu gerbang pelabuhan, dan di sana ada para satpam yang berjaga-jaga.

Jika dari sini, ada dua jalan menuju tengah kota—yaitu jalan yang kami lewati tadi, dan jalan tol. Jalan yang kami lewati tadi termasuk jalan kota, karena masih banyak orang yang lalu-lalang meskipun jam telah menunjukkan pukul 12 malam.

Banyak kejadian yang terjadi di jalan tol ini.

Karena jalan tol ini selalu sunyi—pada saat malam, dan terkadang di siang hari—makanya tempat ini adalah tempat yang bagus untukmu yang ingin memutilasi seseorang yang kau benci. Dan kudengar-dengar juga, sering banyak penampakan yang terjadi di sini.

Dan si orang sinting ini sepertinya memutuskan untuk lewat jalan tol itu malam ini.

Sebenarnya bukannya aku takut—aku tidak pernah takut, mereka yang telah mati takkan mengganggu kita yang masih hidup JIKA kita tidak mengganggu mereka. Aku berani mengganggu, karena aku berani.

Dan sebagai orang yang sering melewati pengalaman spiritual menakjubkan bersama orang di depanku ini, tentu aku percaya bahwa mereka ada.

Atau mereka sebenarnya tidak pernah ada...?

Hanya ada beberapa lampu penerangan yang berdiri dipinggir jalan. Pemerintah sepertinya sedikit mengorupsi uang rakyat—terbukti dari lampu yang remang-remang, malahan ada yang tidak berfungsi alias mati permanen. Entah sebenarnya itu salah pemerintah atau salah PLN.

Euh, kenapa aku jadi mengkritik pemerintah sih?

Aku pun melirik Kamui lewat kaca spion atas kemudi—dia terdiam, matanya meneliti setiap inchi jalanan dengan cermat. Mungkin dia pikir, siapa tahu kami bisa menemukan sesuatu yang menarik disini.

Dan mobil pun berhenti.

Kupikir mobilnya mogok atau apa. Tapi sepertinya dia yang sengaja menghentikannya.

"Kenapa berhenti?"

Aku tanpa sadar mengatakannya.

Tapi dia tidak menjawab, dan hanya memperhatikan sesuatu di balik jendela sampingnya. Wajahnya terlihat datar, pertanda bahwa dia sedang serius dan fokus memperhatikan sesuatu itu. Sebenarnya aku penasaran apa yang sedang ia lihat, tapi jika ia tidak menjawab apa-apa, itu berarti aku tidak seharusnya melihatnya.

Akhirnya dia berhenti menatap ke sebelahnya, dan kembali menjalankan mobil. "Tidak apa-apa."

Aku sungguh ingin tahu apa yang ia lihat tadi.

"Memang apaan sih?"

"Tidak apa-apa. Hanya kucing hitam."

Kucing hitam?

Seingatku, jika kau melihat ada kucing hitam sedang memperhatikanmu di tengah malam, itu berarti akan ada sesuatu yang terjadi padamu.

Kemungkinan besar, kucing hitam tadi memperhatikannya.

Aku tidak menjawab apapun lagi, sementara dia melanjutkan mobilnya lagi.

Kami terus menelusuri jalanan yang sunyi tanpa ada seorang pun yang jalan selain kami. Tak lama kemudian, kami pun menemukan beberapa orang yang tampak berkumpul di pinggir jalan.

Sepertinya itu sekelompok preman. Mereka hanya terlihat berdiri-diri, sambil membincangkan sesuatu dengan suara yang keras.

Kamui memutuskan untuk berhenti beberapa meter dari mereka. Berhubung kami datang tanpa suara, mereka tampaknya tak menyadari kehadiran kami.

Aku tidak tahu juga, kenapa ia mendadak menghentikan mobilnya disini.

Dan pada saat itulah, tiba-tiba ada yang berteriak.

Suara itu sangat keras, sampai kami saja bisa mendengar. Kalau didengar itu berasal dari arah kumpulan preman itu. Suara itu sepertinya sangat mengagetkan mereka, jadi mereka langsung bubar dan berlari menjauhi tempat itu.

Kalau kau penasaran suara apa yang kira-kira kami dengar, itu terdengar seperti, "GGRRRRRRRROOOOOOOOAAAAAAARRRRR..."

Itu bukan suara harimau, singa, atau sejenisnya. Karena suara itu jelas bergema ditelinga kami.

Suara itu seakan menembus dinding mobil ini dan membangkitkan bulu roma.

Dan mengirimkan suara dering yang menyakitkan di telingaku dalam sesaat.

Oh, no. Ada sesuatu yang terjadi disini.

Aku dan Kamui terdiam sejenak tanpa bersuara sedikitpun. Lalu tiba-tiba dia menarik kunci mobil dan membuka pintu mobilnya.

"Hei, apa yang kau lakukan!" Aku terkejut dan sempat berniat untuk menghentikannya.

"Aku penasaran siapa yang berteriak barusan."

"HEI!"

Dia pun pergi. Dan karena aku juga penasaran, jadilah aku mengikutinya.

Kini kami berdiri di pinggir jalan yang sunyi-senyap, dan gelap tanpa ada pencahayaan lampu. Ada sih, tapi berada beberapa meter di depan sana.

"Hei! Siapapun kau yang berteriak barusan! KELUARLAH! Jangan jadi pengecut!"

Dengan sinting dan nekat, dia berteriak. Aku hanya berdiri di sampingnya, entah kenapa aku merasa ada yang tidak beres.

Atmosfer disekitar kami jauh lebih berat daripada sebelumnya.

Aku sama sekali merasa ada yang tidak beres. Apalagi karena aku merasakan rasa dingin di seluruh tubuhku.

Makanya aku segera mendekati dan menarik pelan bawah bajunya.

"Kamui, tidakkah kau merasa aneh? Bagaimana jika sekarang kita—"

"... oh, kita harus pergi."

Dia langsung menarik tanganku dan membawaku kembali ke mobil. Dengan tergesa-gesa, ia melemparku lewat pintu kemudi dan memaksaku duduk dibangku sebelahnya. Aku tidak mempermasalahkannya karena perasaan bingung memenuhi kepalaku.

"Kenapa? Ada apa?"

Dia tidak menjawab. Dia cepat-cepat menutup jendela pintu sampingnya, dan memeriksa jendela di pintu belakang.

"Hei?! Kenapa—"

Dia menoleh padaku, meletakkan jari telunjuknya didepan bibirnya. Memberi isyarat, "Jangan berisik. Tenanglah."

Oh, itukah mengapa aku mendengar suara dering sekarang? Melihat ada sesuatu yang menggeliat dengan hebat di jalan ujung sana?

Aku tak bisa begitu melihatnya. Yang kulihat hanyalah sosok berwarna hitam yang ada warna merah di salah satu sisinya. Bentuknya seperti buaya, tapi lebih seperti manusia. Aku tidak tahu apa itu. Tapi yang jelas, aku berharap dia tidak mendatangi kami sekarang juga!

Aku merasakan jantungku berdebar sangat kencang. Aku pun menunduk, tidak mau melihat apapun lagi yang ada didepanku. Seluruh tubuhku membeku seketika. Oh, kuharap ini semua segera berakhir.

"..."

"..."

Hening mengisi mobil ini dalam waktu yang agak lama. Mungkin sekitar 10 menit. Jika dalam keadaan normal, mungkin kepalaku akan terantuk-antuk—mengantuk setengah hidup.

Tapi kali ini tidak. Pertanda bahwa aku merasa sangat tegang.

Aku perlahan mulai mendongakkan kepalaku lagi. Dan aku bersyukur tidak ada apapun lagi di depan.

Semoga saja tidak ada apapun disamping maupun belakang kami.

Tapi tidak ada suara dering itu lagi. Berarti sekarang sudah aman.

Kulihat Kamui menoleh kepala sesaat ke jendela samping, kemudian menyalakan mobilnya lagi. Kami pun pergi dari tempat itu, menuju jalan kota.

"Hah, itu tadi sangat menegangkan."

Aku menghela napas lega karena mendengarnya bisa berkomentar seperti itu lagi. Seringai muncul di wajahnya.

"Memangnya tadi itu ada apa?"

"Hahaha, kau pasti akan tertawa mendengarnya." Dia tertawa. "Setelah aku meneriakinya tadi, aku merasakan ada hawa membunuh di sekitar. Kupikir itu hanya perasaanku saja, tapi ternyata itu memang benar apa adanya. Kau sempat melihat sesuatu yang menggeliat di depan mobil tadi 'kan? Kemungkinan besar, itulah yang berteriak tadi."

Oh, benarkah...

"Lalu, itu apa?"

Dia menyeringai miring, dan mengangkat sebelah bahunya. "Entahlah. Tapi semoga saja itu tidak mengikuti kita."


.

.

.

.


Aku bersyukur makhluk itu tidak mengikuti kami lagi. Bahkan sudah berhari-hari semenjak kejadian itu.

Tapi ada sesuatu yang terjadi pada Kamui.

"Hei, kau tahu? Tadi di mobilku, ada seekor ular python yang entah datang darimana. Untung saja dia saat itu sedang tidur. Padahal sebelumnya, pintunya sudah kukunci lho!"


.

.

.

.


-To be Continued-


.

.

.

.


Sumber cerita : Sebuah blog dan pengalaman teman saya.

Sekedar pemberitahuan, mungkin ini adalah chapter terakhir sebelum saya hiatus panjang. Alasannya? Hah, saya ini kelas 9, dan bakal ada berbagai macam ujian. Dimulai dari ujian praktek, ujian sekolah, remedial (saya lemah di beberapa pelajaran), dan ujian nasional. Sigh, banyak jadwal -.-

Oke, akhir kata. Mind to review?