.

.

.

.


Kesenangan di Antara Dua Dunia

What's Happening Beside You—

Chapter 4 . Kazeno Yuuma (Part I)

The Creation-Story and Opening Quotes © Yoshina Vanatala

VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua


.

.

.

.


"Jangan pernah membicarakan keburukan seseorang yang sudah mati. Karena kau tidak akan pernah tahu, bahwa mereka sebenarnya sedang memperhatikanmu." — Unknown.


.

.

.

.


"Ah, dia tidak jadi datang hari ini."

"Siapa?" Aku bertanya dan menoleh padanya yang kini sedang menggenggam ponselnya sendiri.

"Len, adik kelasku. Hari ini katanya dia mau datang berkunjung ke sini, tapi tidak jadi karena dia harus menemani kakaknya sampai nanti sore." jawabnya kemudian menghela napas dengan kecewa.

"Oh." Sementara aku hanya merespon singkat. Lalu aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Dan sebenarnya dari awal aku terdaftar dalam klub ini, aku hanya selalu bersama dengan manusia sinting ini. Entah kenapa, mungkin karena diam-diam aku menaruh rasa kagum padanya.

Karena baru kali ini aku menemukan orang seperti dia.

"Tapi aku sudah memastikan bahwa besok dia akan membayar semua itu dengan setimpal." ucapnya, dengan seringai tipis yang entah menurutku sedikit misterius. "Jadi besok kita akan bepergian ke suatu tempat."

"Ke mana?"

"Dia tidak mau memberitahukannya, tetapi yang jelas dia bilang kita tidak akan menyesal mengikutinya."

Aku merasa firasatku mengatakan sesuatu yang lain.


.

.

.

.


Keesokan harinya.

TOK TOK TOK

Aku segera bangun dari dudukku dan berjalan membukakan pintu depan apartemenku. Di depan pintu ada Kamui, dan seseorang yang tidak kukenal di sampingnya.

"Ayo. Kita berangkat sekarang." ucapnya dengan mantap. Sekilat cahaya yang membara melintas di matanya yang beriris biru sementara seringai mengembang di wajahnya. Ia memanggul sebuah tas ransel di punggungnya. Dan aku merasa tidak perlu bertanya apa yang ia bawa di dalamnya. Setidaknya dia akan membawa notebook, papan Ouija, senter, dan beberapa benda lainnya yang sebenarnya tidak perlu ia bawa. Tetapi dia bersikeras mengatakan bahwa semua itu penting dan harus ia bawa ke manapun, jadi akhirnya aku tidak protes lagi.

Aku mengangguk menanggapi ucapannya, lalu menoleh ke sampingnya. "Ano, siapa?"

"Ah, iya. Ini adik kelasku waktu SMA yang kukatakan kemarin, Kagamine Len. Dan Len, ini Shion Kaito yang kuceritakan itu." Kamui memperkenalkan kami satu sama lain.

Kemudian kulihat pemuda berambut kuning itu langsung berseru dengan antusias. "Hai, aku Kagamine Len! Salam kenal, Kaito-san!"

"Ah. Aku Shion Kaito. Salam kenal juga, Kagamine-san." Aku tersenyum kecil.

"Oh, jadi ini Kaito-san yang sering Gakupo-senpai bilang itu? Aku selalu penasaran Kaito-san itu orangnya bagaimana!" ucap Kagamine bersemangat. Dia memperhatikanku begitu lekat sampai aku jadi merasa risih sendiri.

Dan daripada kelamaan risih, aku kembali menaruh perhatian pada Kamui. "Apa yang sudah kau ceritakan tentangku padanya?"

"Tidak ada sesuatu yang berlebihan kok." Dan dia hanya berucap dengan gampangnya. "Baiklah, cukup. Sesi perkenalan selesai. Ayo kita berangkat sekarang sebelum kalian membuatku menjadi semakin tidak sabaran."

"Ah, oke." Aku segera masuk ke dalam apartemenku kembali untuk mengambil ransel milikku—yang isinya jaket dan tali, jangan tanya untuk apa karena aku berfirasat bahwa aku harus membawanya—dan kemudian mengunci pintu. "Hei, tunggu!"

Aku langsung setengah berlari menyusul Kamui dan Kagamine. Kulihat ekspresi Kamui begitu tegang, seolah ia sungguh tidak sabar dengan apa yang akan Kagamine tunjukkan pada kami. Sedangkan Kagamine hanya berjalan di sampingnya tanpa banyak bicara, tapi arah tatapannya masih menuju padaku.

Akhirnya mereka berdua berjalan beriringan di depanku, jadi aku berjalan di belakang mereka. Kami berjalan melewati tangga—aku bersikeras tidak ingin naik lift apartemen ini karena aku trauma—hingga kami telah sampai di lantai dasar.

"Ah! Tunggu sebentar!" Tiba-tiba Kagamine berhenti di tempatnya dan menarik tangan Kamui untuk berhenti. Lalu Kamui sendiri menoleh ke belakang.

"Ada apa lagi, Len?"

"Anu. Sebelum berangkat, aku mau ke toilet dulu." ucap Kagamine sambil nyengir malu.

"Yaelah." Kamui memutar kedua matanya, sedikit kesal tapi akhirnya memaklumi juga.

"Yaudah. Di jalan situ, ada toilet umum." Aku memberi instruksi pada pemuda beriris mata biru cerah itu seraya menunjuk suatu arah.

"Oh, terimakasih, Kaito-san!"

Segera ia berlari ke toilet yang kusebutkan tadi. Akhirnya aku dan Kamui menunggu di samping pintu depan apartemen ini.

"Kira-kira apa yang akan Kagamine-san tunjukkan pada kita ya?" Aku iseng memberikan basa-basi pada Kamui, daripada kami diam-diam saja.

Awalnya dia tidak menjawab. Dia hanya memberikan sebuah lirikan padaku.

Dan entah kenapa lirikan itu tampak sedikit gelap, seolah berusaha mengintimidasiku. Meskipun mungkin dia tidak bermaksud begitu. Diam-diam aku pun meneguk ludah.

"Aku tidak tahu. Tapi entah kenapa aku merasa bahwa yang ingin Len tunjukkan pada kita adalah sesuatu yang tidak wajar."

Suaranya pun terdengar datar. Tatapannya kemudian terlempar ke arah lain, yaitu pintu depan apartemen. Aku mengikuti arah pandangnya dan yang kutemukan hanya pintu kayu yang tampak sederhana. Ruang lobi kebetulan sedang sunyi, jadi perlahan aku mulai tidak merasa nyaman dengan suasana yang ada di antara kami ini.

"Kira-kira 'sesuatu yang tidak wajar' itu apa?"

"Kenapa kau tanya lagi?" Tiba-tiba secara cepat tatapannya kembali terarah padaku. Saking cepatnya sampai membuatku terkejut. Di dalam mata itu ada sebuah kilat semangat yang selalu kulihat ketika ia mendapatkan apa yang ia cari selama ini. Dan seringai lebar pun muncul di wajahnya. "Mungkin kita bisa menemukan barang satu-dua hantu di sana."

Sudah kuduga.

Dan kupikir orang ini cocok menjadi seorang anggota teater. Dia bisa merubah ekspresi wajah dan sikapnya dengan sangat cepat dan spontan tanpa diduga.

Aku kemudian tidak menjawabnya lagi. Aku hanya menghela napas dan berpikir kenapa Kagamine sangat lama padahal cuma ke toilet.

Dan panjang umur. Tiba-tiba Kagamine muncul.

"Len, kenapa kau lama sekali?" Dahi Kamui berkedut dan matanya sedikit memicing ke arah Kagamine, memperlihatkan ketidaksabarannya. Dia berjalan duluan ke luar apartemen, dan kami hanya mengikutinya. Jadi sekarang kami sudah berada di luar apartemen. Dan hari sudah senja.

"Ah, maaf. Tadi ada sedikit masalah." Kagamine sendiri hanya menggaruk pelan belakang kepalanya dan tersenyum agak bersalah. "Oiya, Kaito-san. Apartemen ini positif ya?"

"Positif apa?" Aku bingung dengan istilah yang digunakan Kagamine itu.

"Ada 'sesuatu'nya." jawab Kagamine dengan memelankan suaranya pada kata "sesuatu".

"Kok tahu?" Aku bertanya lagi, kali ini aku penasaran.

"Meskipun Len tidak bisa melihat, dia setidaknya masih bisa merasakan kehadiran mereka." Kamui menyahut dan menjelaskan singkat, kemudian berpaling pada Kagamine. "Kenapa kau bisa beranggapan begitu, Len?"

"Tadi aku penasaran dengan dinding toiletnya. Kupikir ada sesuatu di sana."

"Lalu?"

"Dan lorong yang kulewati ketika hendak ke sana, tampak remang-remang. Kalau kulihat-lihat, sepertinya udara di sekitarnya agak hangat."

Aaah, cukup. Aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku bisa-bisa tidak mau ke toilet itu lagi nanti.

"Trus, di lantai dua tadi, aku merasakan suasananya juga hangat. Padahal di lantai tiga, aku merasa biasa saja."

"Oh, sudahlah. Kalau kalian terus saja berbicara seperti itu, kita tidak akan cepat sampai."

Kamui dan Kagamine kemudian diam mendengarku berucap begitu. Kami kemudian masuk ke dalam mobil milik Kagamine dan kami pun berjalan ke tempat tujuan.


.

.

.

.


"Eh, Len? Kenapa kita ke SMA kita dulu?"

Bisa kudengar suara Kamui begitu bingung dan heran dengan pemandangan di depannya. Sebuah SMA yang bisa terbilang mewah namun tidak terlalu juga. Dan sekarang langit sudah terlihat malam karena waktu sudah menunjukkan lewat pukul 7 malam.

"Gakupo-senpai gak lupa dengan sekolah kita di malam hari 'kan?"

"Apanya..." Kamui kemudian terdiam, dan dia kembali menyeringai. "Ah, iya. Aku baru ingat. Jadi kau membawa kami ke sini ya?"

Kagamine terkekeh sejenak. "Waktu itu kita gagal menjelajahi sekolah karena ada larangan berada di sekolah pada malam hari 'kan? Sekarang peraturan itu diubah! Boleh saja ke sini, asal ada surat ijin dari kepala sekolah."

"Ano, apa kita ke sini pakai surat dari kepala sekolah?" Aku bertanya, sangsi kalau Kagamine bisa mendapatkannya padahal dia hanya seorang alumni.

"Iya. Kita sekalian pinjam punya anggota OSIS yang malam ini Latdas (Latihan Dasar). Aku punya kenalan di OSIS, dan dia mau membolehkan kita masuk ke sini."

"Kau sungguh penuh modus, Len."

Sedangkan Kagamine lagi-lagi hanya terkekeh. "Hohoho, terimakasih atas pujiannya."

"Aku tidak memujimu, tahu."

Orang-orang ini sungguh unik.

Kemudian kami memasuki pintu gerbang sekolah, dan langsung berjalan menuju suatu tempat di mana banyak orang di sana. Mereka berkumpul di depan sebuah gedung sederhana berlantai satu. Kagamine menyuruh kami berdiri menunggu sedangkan dia menghampiri kerumunan orang itu. Dia tampak bercakap sebentar pada seseorang yang mungkin adalah ketuanya.

Setelah puas memperhatikan gerak-gerik Kagamine, aku menoleh dan mendapati Kamui mulai nyengir-nyengir tidak jelas.

"Ada apa, Kamui?" Aku bertanya, meskipun sebenarnya aku sudah tahu apa maksud di balik cengirannya itu.

"Hum, tidak ada apa-apa." Dan kalau sudah ia berkata begitu, itu berarti dugaanku benar. Ya, ya. Sebenarnya aku sudah mulai bersemangat, tapi wajar saja bahwa di saat yang bersamaan, aku juga sedikit merasa takut, 'kan?

Takut pada apa?

Takut pada hantu kah?

Atau sesuatu yang lebih daripada itu?

"Yo, Kaito-san! Gakupo-senpai!"

Aku menjauh dari lamunanku dan tahu-tahu Kagamine sudah ada di depan kami. Dan di sebelahnya ada seorang pemuda yang tidak aku kenal. Rambutnya merah muda—warna rambut yang sebenarnya lumayan aneh untuk seorang laki-laki—dan matanya coklat keemasan.

Dan mata itu sempat menatapku dengan pandangan seolah aku ini... monster? Tatapannya begitu dingin dan menusuk. Tapi hanya sekilas, jadi mungkin yang barusan itu hanya perasaanku saja yang merasa asing dengan sekolah ini.

"Ano, maaf agak lama. Soalnya aku lagi-lagi harus bernegosiasi dengan pembina OSIS. Akhirnya kita diperbolehkan, asalkan harus ada salah satu anggota OSIS yang ikut kita. Dan ini dia orangnya." Kagamine nyengir lalu menarik pelan lengan pemuda asing itu.

"Nee, kita kenalan dulu, kouhai. Aku Kagamine Len. Yang rambut ungu ini Kamui Gakupo-senpai, dan yang rambut biru Shion Kaito-san. Namamu siapa?"

Si pemuda tidak langsung menjawab. Ia perlahan memperhatikan kami bergantian. Dan omong-omong, wajah datarnya itu entah kenapa membuatku sedikit merasa tidak nyaman. Apalagi dia memaku tatapannya padaku sedikit lebih lama daripada ketika ia menatap Kamui.

Dan setelah puas memperhatikan kami, akhirnya ia menjawab dengan suara pelan. "Kazeno Yuuma."

"Yuuma-san? Etto, katanya kamu yang bakal menuntun kami 'kan? Salam kenal! Mohon bantuannya!"

Mungkin kalau tidak ada Kagamine, hanya akan ada keheningan dan kecanggungan di antara kami bertiga.

Dan Kazeno hanya tersenyum tipis menanggapinya.

"Oke, sudah hampir pukul 8. Bagaimana kalau kita berangkat sekarang saja?" Kamui menyudahi. Dari suaranya, bisa kutebak dia sudah mulai tidak sabaran walaupun wajahnya tetap menampilkan senyum ala profesional. Di mana wajahnya terlihat tenang meskipun dalam hati rada jengkel.

"Ayo!"

"Yahh..."

"..."

Lalu kami pun berangkat.

Di tengah jalan, entah kenapa aku merasa bahwa leherku sedikit terasa dingin ketika kami sudah agak jauh dari gedung tempat berkumpulnya orang tadi. Kami awalnya melewati sebuah jalan yang berada di samping sebuah kolam. Aku tanpa sadar memperhatikan kolam itu sedikit lebih lama. Dan aku sedikit terkesiap ketika melihat ada sesuatu yang bergerak di dalam air itu. Suara air yang bergelombang sedikit keras, menandakan bahwa yang bergerak itu sepertinya berukuran besar.

Aku mulai merasa merinding.

"Tenang saja. Itu hanya ikan kok. Jadi jangan kaget banget gitu." Kagamine sepertinya menyadari keterkejutanku, jadi ia menjelaskannya. Lalu aku menghela napas lega.

"Itu kantin!" Kagamine berlari lebih dulu daripada kami, menghampiri sebuah tempat yang ia panggil kantin. Lalu ia berhenti di depannya. Kami ikut berhenti di belakangnya. Di sana terdapat beberapa kursi yang disusun begitu rapi, dan meja panjang yang turut menemani kursi-kursi tersebut. Di belakangnya, ada sebuah bangunan yang merupakan kantin yang Kagamine maksud. Dari jauh sudah terlihat bahwa pintu kantin digembok sehingga kami tidak bisa masuk.

"Ya, ini kantin. Saat pagi, tempat ini sangat ramai dan panas oleh hampir seluruh siswa yang berada di sini. Tetapi saat malam, suasana tempat ini menjadi sangat sunyi dan gelap." Kazeno berucap pelan, menjelaskan sedikit tentang kantin ini padaku. Ya, padaku. Karena mungkin Kamui dan Kagamine masih ingat dengan tempat ini jadi tidak memerlukan penjelasan lagi mengenainya.

"Hati-hati loh. Entar ada yang lewat~" Kagamine menyahuti dengan nada menggoda, seolah berusaha menakut-nakutiku walaupun tanpa ditakuti, aku sudah takut duluan.

"Dari kantin ini, banyak jalan keluar. Yaitu jalan menuju parkiran kelas 10, dan jalan yang tembus melewati depan ruang BK dan samping ruang guru menuju lapangan." Kazeno mengambil jeda sejenak ketika ia berjalan ke tengah kursi-kursi kantin, dan menunjuk sebuah arah. "Jalan menuju parkiran ini, dikabarkan merupakan jalan menuju dunia lain. Yah, meskipun aku belum pernah melihat buktinya sih."

"Dari dulu aku ingin memasukinya! Tapi selalu saja gagal karena gak boleh ke sini waktu malam..." sahut Kagamine kembali. "Mungkin kapan-kapan Kaito-san mau mencobanya?"

"Eng. Tidak, terima kasih. Aku masih sayang dengan dunia ini." Mendengar kalimat "jalan menuju dunia lain" saja sudah cukup membuatku merinding. Apalagi untuk mencoba membuktikannya.

"Yah, mungkin kita bisa mencobanya sekali-sekali, Shion." Kamui yang dari tadi hanya diam, ikut menyahut. Duh, aku merasa dipojokkan.

"Tapi katanya ada juga 'kan, yang lewat di sini waktu festival Jepang tahun lalu? Dia bisa saja sih, kembali dengan selamat. Tapi pergelangan tangannya berdarah, seperti ada yang mencakarnya." Kagamine menambahkan.

"Iya, itu memang ada. Tapi aku tidak tahu orangnya sekarang berada di mana." Kazeno hanya menanggapinya dengan tampang datar. "Ayo. Kita lewat jalan parkiran kelas 10 saja."

Kami hanya mengikuti apa yang ia katakan.

"Hei, Shion. Kau tahu apa yang kulihat tadi?" Kamui berucap pelan dan menoleh padaku. Kami masih tetap berjalan mengikuti Kazeno.

"Apa?"

"Waktu aku melihat ke dalam ruang kantin tadi, aku sempat mendapati sebuah kursi bergerak pelan dengan sendirinya. Lalu aku merasa aku melihat sekelebat bayangan lewat di depanku yang aku yakini bukan bayangan kita karena bayangan itu berwarna putih. Hei, aku merasa bersemangat sekarang." Aku melihat dia menyeringai.

"Ah, jadi itu..." Aku hanya bergumam pelan, dan kembali menatap ke depan.

Kemudian kami kembali ke lapangan dan berjalan ke arah yang berbeda dari jalan menuju kumpulan orang tadi, melewati sebuah tempat yang mungkin tempat parkir para siswa yang disebut-sebut Kazeno tadi. Di sana suasananya gelap. Hanya ada beberapa lampu penerangan, namun jarak mereka satu sama lain terhitung jauh.

"Wah, aku kangen sama parkiran ini! Ini parkiran kelas 10-nya, ya 'kan? Sering ada anak-anak yang merokok di sini dan mereka langsung kabur begitu ada guru yang lewat!" Kagamine entah kenapa mungkin tidak merasakan adanya keganjilan dengan suasana ini, jadi ia masih bisa saja berceloteh penuh semangat seperti itu.

Sedangkan Kamui dan Kazeno hanya diam. Apalagi aku yang sama sekali tidak tahu dengan sekolah ini.

"Waah! Pos satpam gerbang belakang tetap tidak berubah! Masih sama seperti dulu!" Kemudian Kagamine tertawa pelan, seakan kami sekarang hanya sekedar berwisata di sini.

Sementara Kagamine berceloteh penuh semangat di samping Kazeno, aku diam-diam melirik ke arah Kamui yang ada di sampingku. Dan aku langsung terkesiap karena wajahnya entah kenapa sedikit mengerikan.

Wajahnya yang tersiram cahaya bulan purnama malam ini, menampakkan suatu ekspresi di mana seringai lebarnya tampak sangat menyeramkan.

"Ini dia. Lorong kelas 10 yang memiliki jalan buntu."

Kazeno menunjuk ke depan kami, lebih tepatnya pada sebuah pintu gerbang besi yang tertutup. Di belakangnya, tampak lorong gelap yang hanya diterangi sebuah lampu kecil di depannya. Dan terlihat seolah tanpa ujung.

"Lorong kelas 10 ini juga sama seperti kantin tadi. Ramai di siang hari, dan sunyi di malam hari. Sebenarnya tidak boleh ada yang masuk ke sini pada malam hari. Tapi kalian memaksa jadi yah... sudahlah. Aku bahkan tidak tahu apa yang ada di dalam sana sekarang."

"Kita sungguh akan memasuki lorong itu?" Aku bertanya pelan. Entah kenapa aku merasakan dadaku bergemuruh. Aku tidak tahu apakah aku sekarang ini merasa takut atau hanya gugup.

"Tentu saja." ucap Kamui dengan mantap. Raut wajahnya tetap tidak berubah dari tadi.

"Kata seorang guru, orang yang masuk ke lorong itu tidak pernah kembali lagi. Aku sebenarnya tidak percaya karena aku tidak pernah melihat buktinya. Tapi ya, itu hanya katanya. Kalau kalian masih bersikeras ingin masuk, aku sarankan kalian untuk menyiapkan diri dan jangan menghilang di dalamnya."

Aku lagi-lagi menelan ludahku, kali ini dengan suara yang keras. Kamui menyadari kegugupanku dan langsung merangkulku yang lebih pendek darinya.

"Kau takut yaa, Shion?"

"M-memangnya kenapa?"

"Naa, apa kau mau mundur dari sekarang?" Suara Kamui melirih dari sini. "Tidak apa-apa. Itu terserah pada dirimu. Kalau kau ikut masuk, aku akan dengan senang hati menemanimu. Tapi kalau kau tidak mau, tidak apa-apa. Pilihlah salah satu, dan itu berarti kau sudah tahu apa resiko atas pilihanmu itu."

Kamui berucap panjang-lebar dengan wajahnya yang tiba-tiba berubah menjadi serius. Menandakan bahwa ia tidak main-main dengan situasi kami sekarang ini.

Dan iris biru lautnya menatapku dengan tajam. Seolah ingin menyayatku dalam hening.

"A-aku..." Sedangkan aku hanya bisa bergumam tidak jelas. Bimbang.

Sebenarnya di awal perjalanan ini, aku merasa penasaran dan sangat ingin ikut ke manapun Kamui berjalan. Entah itu ke kandang buaya, atau dunia lain. Ke manapun. Tetapi tiba-tiba aku merasa ragu ketika dihadapkan pada hal semacam ini. Apakah sekarang aku merasa seolah aku akan menghilang di dalamnya jika aku sungguh memasukinya? Apa aku merasa aku akan diculik hantu atau sejenisnya di sana?

Hah?

Dan tunggu dulu, apa itu? Ada yang keluar dari lorong itu.

"Hei, tikus itu keluar dari dalam lorong! Kalau bisa, aku ingin bertanya padanya apa yang terjadi di dalam. Tapi sayangnya tidak bisa. Huft." Masih bisa-bisanya Kagamine berucap tenang seperti itu di saat begini.

"Shion, bagaimana?" Sementara itu, Kamui kembali bertanya. Meminta aku untuk segera memutuskan.

Dari tatapannya, ia terlihat ingin aku memercayainya. Percaya bahwa aku akan baik-baik saja bersamanya. Tidak peduli kami bertemu dengan makhluk seganas apapun di sana, ia akan menolongku.

Ah, aku bingung.

"Shion?"

"Eng. Baiklah. Aku akan ikut."

Dan aku sangat terkejut karena lagi-lagi Kamui mendadak menyeringai lagi. Dia mempererat rangkulannya denganku sebelum akhirnya melepaskanku. Saking senangnya. "Hah. Kau sendiri bagaimana, Len? Kau ikut?"

"Tentu saja, Gakupo-senpai! 'Kan aku yang mengajak!"

"Kazeno?"

"Aku ditugaskan untuk mengawasi kalian. Jadi pastinya aku ikut."

Kemudian, Kazeno berjalan duluan untuk membuka gembok pintu. Setelah gembok terbuka, ia pun membuka pintu gerbang dengan lebar. Jadi sekarang tampaklah lorong yang gelap itu dengan jelas.

"Baiklah. Kita berangkat."

Dan sesuai dengan ucapan Kamui, kami masuk ke dalam.

Kami tidak tahu apa yang sedang menanti kami di depan ini. Mungkin hantu, atau monster, atau apapun. Entahlah. Aku tidak tahu.

Tapi yang pasti orang bernama Kazeno Yuuma ini sepertinya sedang menyimpan sesuatu di balik wajah datarnya itu.

(Dan entah kenapa, yang barusan itu tampak seperti potongan adegan dalam sebuah cerita fiksi bergenre petualangan saja. Agak aneh sebenarnya, tapi... ah, sudahlah.)


.

.

.

.


to be continueD.


.

.

.

.


Balesan Review. Buat chapter 2 dan 3 yang lalu.


CatPhones : Blog Saya mendadak membuat dunia saya berubah 180 derajat... /apaansih

Nee, sekarang sudah apdet. Maaf lama yah. Makasih udah review. ^^


Kurotori Rei : Yah, maunya di sini Kaito diceritakan semacam punya aura yang bikin hantu pada klepek-klepek (?) gitu... tapi gak tahu yah. Dipikirin lagi nanti plotnya gimana. Dan boneka itu bakal digunakan oleh Gakupo kapanpun dia mau... /apa

Oke, makasih udah review. ^^


Xinon : Yah, jadi anak baru SMA emang menyusahkan... (kamu review waktu kita masih kelas 9 'kan? Berarti sekarang sudah kelas 10 dong?) Baca waktu jam 3 pagi? HEBAT. Aku aja gak berani karena jam segitu biasanya hantu pada keluar... /hush

Makasih udah review yah. Maaf lama banget ini. ^^


Nur-Chan The Fujoshi : Kamu takut dengan cerita horor, tapi tetep aja nekad. ITU HEBAT SEKALI. /apa

Nekad gara-gara GakuKai? Oh, kamu seperti saya juga. Selama ada Gaku dan Kai, rintangan apapun akan dilewati! HAHAHAHA. /nak

Berpikir hints GakuKai bakal keluar di sini? Ah iya. Hints GakuKai emang bakal sedikit keluar. Coretkarenasayasendirijugange-shipGakuKaicoret. Tapi samar dan orang awam akan menganggap itu semacam hubungan persahabatan biasa aja. Karena sebenarnya fanfiksi ini saya buat dengan genre netral. Tanpa ada yaoi, yuri, atau semacamnya. Hanya ada horror dan horror! Tapi coretfujoshicoret bakal melihatnya dengan cara yang berbeda... www

Makasih udah review! ^^


Kagawita Hitachi : Oh, b-benarkah? Makasih... /masangtampangsokmoe /nak

Hahaha, emangnya Gakupo itu ghoul? Tiba-tiba berubah jadi monster? Tapi kaya'nya seru tuh, kalo Gakupo dibikin jadi ghoul beneran. wwww /kabur

Enggak apa-apa. Readers bebas berimajinasi dan berkomentar panjang-panjang kok. Karena itu berarti, author berhasil bikin readers penasaran. /gakgitujuga

Makasih udah review ya! ^^


A/N : Saya minta maaf sebesar-besarnya karena tiba-tiba sebelumnya saya memutuskan untuk membuat fanfiksi ini menjadi hiatus. Yah, karena berbagai macam alasan. Saya masih sekolah. Baru saja masuk SMA tahun ini, jadi saya sangat sibuk beradaptasi dengan sekolah baru. Dan baru sekarang bisa update, meskipun sedang berada dalam masa UTS, hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa saya masih hidup. orz

Dan chapter kali ini, dibagi jadi dua. Soalnya kepanjangan sih (yang ini sekitar 2898-an words, tidak termasuk balesan review dan opening). Maunya langsung apdet dua chapter, tapi kaya'nya masih ada yang harus direvisi di chapter nanti deh. Jadi, yang ini aja dulu saya publish.

Oke. Ini terinspirasi dari cerita sungguhan. Maksudnya cerita tentang sekolah yang berhantu itu loh. Detail sekolah di sini saya ambil dari detail sekolah saya yang emang berhantu juga. www

Jadi sekarang, boleh saya minta review? /blinkblink