.
.
.
.
Kesenangan di Antara Dua Dunia
—What's Happening Beside You—
Chapter 5 . Kazeno Yuuma (Part II)
The Creation-Story © Yoshina Vanatala
VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua
Note : Chapter kali ini lebih panjang daripada biasanya.
.
.
.
.
"Hantu pun juga memiliki perasaan." — Unknown.
.
.
.
.
Meskipun Kagamine dan Kamui adalah alumni sekolah ini—yang berarti bahwa sedikit-banyaknya mereka masih hafal dengan denahnya—kami tetap membuat Kazeno sebagai guide kami seolah kami benar-benar tidak tahu dengan lokasinya.
Oh iya. Sebelumnya aku ingin memperjelas ruangan di sekolah ini. Selama aku berkeliling ini, aku melihat sebuah bangunan besar yang berada di samping pintu gerbang sekolah. Kata Kagamine, itu ruang tata usaha. Kemudian di samping kanan dan kiri bangunan itu, ada bangunan lainnya yang tampak seperti rumah susun, padahal itu adalah ruang-ruang kelas. Yah, soalnya berpintu-pintu dan berlantai dua sih. Bangunan sebelah kanan adalah ruang kelas XII IPA dan XII IPS, sedangkan bangunan sebelah kiri adalah ruang kelas XI IPS.
Di depan bangunan menyerupai rumah susun itu, terdapat rumah susun lainnya. Yang juga merupakan ruang-ruang kelas XI IPA. Sedangkan di depan ruang tata usaha, terdapat sebuah bangunan lainnya yang juga mirip dengan ruang tata usaha, yaitu kantor guru. Di antara bangunan kelas XI IPA dan kantor guru ada sebuah kolam, dan di samping kantor guru ada ruangan kelas X-MS 1, dan di sebelahnya lagi ada jalan kecil menuju kantin. Jadi kantin berada di belakang kelas X-MS 1.
Sementara itu, di depan bangunan kelas XI IPS, ada gedung serba guna. Di samping gedung serba guna itu ada rumah-rumah penduduk. Di antara rumah penduduk dan kantor guru, ada parkiran kelas X. Dan di belakang parkiran kelas X, ada lorong kelas X itu sendiri.
Di belakang kantor guru, ada ruangan laboratorium. Di samping ruang laboratorium itu juga ada ruang kelas X-MS 1. Dan di belakang ruang laboratorium ada bangunan lainnya yang terpisah. Entah aku tidak tahu pasti bangunan apa itu. Katanya sih ruangan ekskul. Dan di belakangnya lagi, ada lorong kelas X.
Ehm, apa kau paham dengan penjelasan panjangku barusan? Itu juga aku dijelaskan oleh Kagamine selama di perjalanan tadi. Jadi maafkan aku jika kalian tetap tidak paham dengan deskripsi tadi.
Oke, kembali ke cerita.
Pertama, kami berjalan dari tempat berkumpulnya orang banyak tadi, menuju kantin. Di sana kami melihat-lihat sebentar dan Kamui mengatakan bahwa dia melihat sesuatu di sana. Kemudian kami kembali ke tempat semula dan berjalan lewat jalan lain melalui parkiran kelas X. Tidak lama setelah kami berjalan, kami pun akhirnya sampai di depan lorong kelas X yang dimaksud.
"Baiklah. Kita berangkat."
Dan sesuai kata Kamui, kami pun masuk ke dalam lorong yang gelap tersebut.
"Aku merasa seperti memasuki rumah tradisional khas Jepang. Karena di tengah lorong ini ada kolam. Ah, aku kangen." Kagamine tetap bercerita di tengah jalan.
"Ano. Apa lampunya cuma ada di sini? Soalnya aku merasa bahwa lorong ini akan menjadi sangat gelap sekali kalau tidak ada lampu."
Aku berbicara sambil memegang tengkuk. Merasakan bahwa suasana di sini mulai mendingin dan tidak beres. Merapatkan jaket biru-putihku pun tidak mengurangi rasa dinginnya. Aku sampai merasa heran pada mereka bertiga.
Padahal Kamui hanya mengenakan jaket kulit hitam yang retsletingnya ditutup rapat, dengan celana hitam panjang dan sepatu kets ungu; Kagamine mengenakan jaket kain berwarna emas yang retsletingnya terbuka menampilkan kaos bertuliskan "I just want to be free", dengan celana biru tiga perempat dan sepatu kets putih; dan Kazeno mengenakan kaos oblong putih-hitam berlengan panjang yang tampak agak kelonggaran dengan tubuhnya yang kurus, dengan celana kargo biru dan sendal jepit putih-biru.
Apalagi ketika melihat papan absensi yang tergantung di depan kelas itu sedikit bergoyang. Mungkin hanya ditiup angin biasa, tetapi kalau dilihat dari suasana seperti ini, aku mau tidak mau mulai merasa merinding.
"Kenapa, Kaito-san? Mulai takut~?" Kagamine berusaha untuk menggodaku lagi. Tapi aku tidak terlalu mempedulikannya lagi karena aku mencoba fokus kembali pada jalan di depan.
Dan seperti yang dikatakan Kagamine, tidak jauh dari tempat kami berdiri, ada sebuah kolam yang ukurannya lumayan besar. Di atasnya tidak ada atap, jadi kolam tampak sangat terang dengan pantulan cahaya bulan. Banyak bunga teratai dan eceng gondok di atas permukaannya—menurutku terkesan sedikit terabaikan. Tapi itu lebih baik daripada kolam itu bersih sehingga kami bisa melihat apa yang ada di dalamnya.
Karena terkadang ada hantu yang suka bersembunyi di dalam air.
Itu setahuku ya.
"Lorong ini memiliki dua jalan bercabang. Yang satu di sini," Kazeno menunjuk jalan tikungan yang ada di samping kami, "dan yang satu ada di sana. Pada dasarnya, lorong kelas 10 ini memiliki jalan buntu. Dua jalan bercabang tadi saling terhubung sehingga tidak ada bedanya jika kita berjalan di jalan yang berbeda."
"Iya. Jadi lorong kelas 10 ini, membentuk sebuah persegi empat dengan kolam berada di tengahnya jika dilihat dari atas." Kagamine melengkapi penjelasan Kazeno. "Dan tidak ada dinding di antara kolam dan jalan sepanjang lorong ini, jadi kita tetap bisa melihat kolam ini dari sudut manapun."
"Trus, yang ada di depan kita itu apa?" Aku melihat ke depan, seperti ada sebuah pintu yang terbuka dan bercahaya di sana. Tetapi jalan menuju tempat itu sangat gelap. Tidak seperti jalan yang kami injak saat ini.
"Oh, itu toilet pria." jawab Kazeno tenang.
"Kenapa pintunya dibiarkan terbuka begitu?" Sementara aku masih terus bertanya kepo. Yah, entah kenapa semenjak Kagamine berkata bahwa ada sesuatu di toilet apartemenku, aku jadi agak-agak parno jika melihat pintu toilet yang terbuka.
"Entah." Pemuda agak ceking itu mengangkat kedua bahunya. "Setahuku karena kuncinya rusak."
"Hm, benar juga. Aku ingat sekali dulu aku tidak mau memakainya karena pintu itu tidak bisa dikunci." gumam Kagamine mengangguk-angguk.
"Ternyata kamu cowok ya?" Kazeno berucap sinis.
"APA AKU TERLIHAT SEPERTI CEWEK?"
"Oh iya," Kazeno pun mengabaikan jeritan Kagamine barusan, "Di salah satu sudut lorong ini juga ada toilet wanita. Tetapi jauh dari sini. Apalagi agak tertutup dengan pepohonan. Jadi tidak terlihat."
Aku hanya mengangguk sekilas. Di tempat ini memang lumayan banyak pohon yang tertanam di pinggiran kolam.
"Hei, bagaimana kalau kita berpencar?"
Aku menoleh untuk menatap si pemberi ide gila itu. Ya, pelakunya adalah Kamui yang sempat terabaikan dari tadi. "Apa kau bilang?"
"Kita membuat dua tim di mana ada dua orang dalam satu tim. Kita jalan berpisah. Yang satu lewat persimpangan sini, dan yang satu lagi lewat persimpangan sana. Bagaimana? Biar lebih seru." Dan bisa-bisanya dia mengatakan sesuatu seperti itu dengan wajah merasa senang begitu!
"Oooh, itu ide bagus, Gakupo-senpai! Bagaimana kalau sekalian saja kita jalan sendiri-sendiri?" Kagamine malah mengusulkan ide yang lebih gila lagi. Aku langsung memelototinya. Dan pemuda pemilik iris biru cerah seperti Kamui itu hanya cekikikan tanpa dosa.
Ya, mata Kagamine sedikit mirip dengan mata Kamui. Hanya saja, matanya lebih polos. Mata Kamui lebih gelap dari mata manusia pada umumnya.
Dan aku bukannya takut. Aku 'kan orang asing di sini. Aku tidak tahu apa-apa tentang wilayah ini. Jadi seandainya aku tersesat jika berjalan sendirian, bagaimana?
"Shion, jangan dengarkan Len. Kita tetap jalan berdua-dua karena terlalu beresiko jika berjalan sendiri di sini." Kamui berucap kalem. "Dan setidaknya jika kita berjalan berdua, hantunya masih tidak akan segan untuk keluar kok."
"Jadi dari tadi kau diam karena memikirkan hal itu?" Aku menghela napas. Yah, sudah bisa ditebak sih.
"Baiklah. Len dan Kazeno berjalan melalui jalan yang ada di sini. Sedangkan aku dan Shion berjalan melalui jalan yang ada di sana. Dan untuk jaga-jaga, kalian masing-masing bawalah senter ini." Dan entah sejak kapan, Kamui sudah mengeluarkan empat buah senter dari tas ranselnya. Lalu ia memberikan satu-satu pada kami.
"Kalau ada apa-apa. Arahkan lampu senter ke segala penjuru lorong lewat kolam."
"Tapi kolamnya terang sekali. Apa masih bisa terlihat?"
"Iya. Percaya saja padaku."
Aku hanya menatap pemuda lulusan sarjana itu dengan tatapan abstrak. Aku tidak tahu harus merespon apa. Biasanya kalau Kamui saja sudah berucap begitu, berarti akan ada sesuatu yang terjadi di tengah ekspedisi ini.
Dan biasanya juga, firasatnya tajam.
"Yosh! Kami jalan duluan ya—"
BRAK!
"... Gakupo-senpai." Kagamine menghabiskan kalimatnya barusan. Kemudian kami spontan melihat ke belakang di mana ada pintu gerbang yang kami masuki tadi.
Dan sekarang gerbang itu tertutup rapat.
"H-hei. Tadi pintunya tidak ditutup Kazeno 'kan?" Aku bisa merasakan wajahku memucat akibat dari rasa terkejut dan tidak percaya yang kurasakan saat ini. Kulihat tiga orang itu wajahnya beragam. Kagamine juga sedikit pucat sepertiku, sementara Kazeno dan Kamui entah kenapa wajahnya masih bisa tenang seperti itu.
"Iya, lalu?"
"Kenapa tertutup sendiri?" Padahal bisa saja pintu ditutup oleh orang-orang iseng dari OSIS—karena di sekolah ini, setahuku hanya ada kami dan OSIS yang melaksanakan Latdas—yang sengaja mengikuti kami. Tetapi rasanya tidak mungkin mereka sampai sejauh itu.
Apa ditutup oleh angin?
Atau oleh sesuatu?
"... sudahlah. Mungkin karena angin." Kazeno menyudahi suasana tegang barusan. Ia berjalan duluan ke jalan persimpangan di sebelah kirinya dengan menarik tangan Kagamine. Mereka tampak sudah mulai menyalakan senter mereka masing-masing.
Sementara aku dan Kamui ikut berjalan melalui rute yang disebutkan oleh pemuda berambut ungu itu barusan. Aku menyalakan senterku.
"Tapi aku beranggapan kalau itu bukan hanya sekedar angin." Kamui mulai berspekulasi sendiri.
"Trus apa?"
"Kau lihat kalau gerbang itu tertutup sangat rapat 'kan?"
"Iya, lalu?"
"Tidak mungkin angin bisa menutupnya seperti itu. Setidaknya akan ada celah di mana pintu itu tidak tertutup dengan rapat."
"Jadi maksudmu, hantu yang menutupnya?"
"Bisa jadi." Kamui menyeringai lagi dengan khas.
Dan seperti biasanya. Aku hanya menghela napas jika dia sudah mulai asyik dengan dunianya sendiri seperti itu.
Kami pun meneruskan perjalanan kami. Kami berjalan beriringan dengan perlahan menginjak lantai kayu lorong ini. Aku memperhatikan kolam sambil tetap berjalan. Entah kenapa cahaya bulan yang memantul pada kolam itu agak tidak wajar. Maksudku, kenapa cahayanya harus seterang itu?
Aku kemudian menoleh ke belakang karena merasakan adanya sesuatu yang tidak beres. Namun tidak ada sesuatu yang dapat menjelaskan alasan di balik firasatku ini.
Dan tanpa kuketahui apa sebabnya, aku penasaran dengan kelas yang tepat berada di samping jalan yang menjadi tempat kami menyusun strategi tadi. Di sana terlihat masih ada Kagamine dan Kazeno yang berdiri. Dan aku tidak tahu kenapa tetapi aku penasaran sekali dengan pintu yang tertutup rapat itu. Terutama pada kain berwarna coklat yang tergantung di kenop pintunya.
Ada apakah di sana?
"Ano, Kamui—"
Aku menoleh ke arah Kamui dan langsung terdiam ketika aku melihatnya menaruh jari telunjuknya di depan bibir. Isyarat bahwa aku harus diam untuk kali ini.
Jadi aku menurut.
Dan omong-omong, kenapa wajah Kamui terlihat sangat horor barusan?
Aku akhirnya berusaha untuk tidak membuat suara sedikitpun. Aku berjalan perlahan, tetapi tetap saja selop sepatuku terus-terusan membuat semacam suara yang ditimbulkan dari pergesekan antar dua benda. Sedangkan Kamui sendiri berjalan dengan sangat santai, dan sama sekali tidak bersuara.
Aku mulai curiga kalau dia berjalan tidak menapak lantai. Jadi aku spontan menoleh ke arah kakinya dan aku sangat bersyukur karena dia masih memiliki dua buah kaki dan menapak ke lantai.
Hm, mungkin aku harus mencoba untuk berjalan santai seperti dia.
Tetapi sekuat apapun aku mencoba, tetap saja bersuara. Mungkin karena aku merasa tegang dengan situasi sunyi-senyap seperti ini. Jadi akhirnya aku berjalan seadanya saja.
Kemudian aku melemparkan tatapanku ke depan. Ketika ada persimpangan jalan, kami pun berbelok.
Dan apa hanya perasaanku saja? Aku seperti melihat ada sesuatu berwarna hitam yang berdiri di depan pintu toilet itu.
.
.
.
.
Aku menoleh ke belakang untuk mengecek apakah ada yang mengikuti kami. Dan syukurlah, tidak ada.
"Ada apa, Shion?"
"T-tidak ada apa-apa."
Aku berusaha untuk melupakan apa yang kulihat barusan. Mungkin itu hanya perasaanku saja yang terbawa oleh suasana sekarang.
Aku dan Kamui tetap berjalan melewati kelas-kelas 10 yang ada di sebelah kanan kami. Kulihat papan yang tergantung di setiap atas pintu kelas. Dan kebetulan aku melihat papan kelas X-MS 4.
MS? Matematika-Sains kah?
Yah, apapun.
Kemudian, tahu-tahu deretan kelas 10 sudah habis dan kami dihadapkan pada sebuah bangunan yang lebih kecil daripada bangunan kelas 10 dan berdempet dengan bangunan kelas 10. Dan kulihat di dindingnya, terdapat tulisan "Toilet Wanita".
Oh, jadi ini yang disebut-sebut oleh Kazeno tadi...
"Kita kembali ke tempat tadi?" Aku bertanya. Karena kulihat tidak ada jalan lain di sini.
"Tidak, di sini ada jalan tembus."
Aku bingung dengan apa maksudnya karena jelas-jelas jalan ini buntu dan tidak ada apapun di sini selain toilet wanita dan pepohonan yang juga sempat disebut Kazeno tadi. Aku memperhatikan ke dalam dua buah toilet yang masing-masing pintunya terbuka. Di dalamnya ada lampu. Dan aku penasaran siapa yang akan masuk ke dalamnya malam-malam begini.
BRAK
Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang terjatuh. Aku terkesiap, begitu juga dengan Kamui di sampingku.
Aku mengarahkan senterku dan kami menemukan sebuah daun pohon kelapa yang tergeletak di dekat kami.
Aku memperhatikan daun itu lebih dekat. Warnanya sudah kecoklatan, berarti memang wajar jika sudah saatnya untuk lepas dari pohonnya.
Tetapi tetap saja. Rasanya ada yang benar-benar tidak beres di sini.
"Yang tadi itu tiba-tiba sekali." Aku bergumam, kemudian tertawa pelan. Mencoba untuk menutupi rasa gelisahku walaupun aku yakin wajahku tidak bisa membohongi. Sementara Kamui sendiri sudah menuruni lantai keramik yang ternyata lebih tinggi daripada tanah.
Aku bahkan baru sadar bahwa tadi di pintu masuk, lantainya kayu. Dan begitu berbelok, lantai sudah bukan lantai kayu lagi. Melainkan keramik.
"Ayo. Di sini ada jalan kecil." Kamui membuyarkan lamunanku. Aku tersadar kembali dan melihat dia berjalan melalui celah kecil di antara bahan bangunan yang menumpuk di samping toilet, dan kolam.
"Hati-hati. Di sini banyak bebatuan tajam yang licin." Kamui kembali berucap pelan. Aku hanya mengangguk dan mengikuti arah jalannya. Untung saja aku memakai sepatu yang memiliki sol tebal, jadi kakiku tetap baik-baik saja meskipun menginjak bebatuan tajam.
Aku melangkah perlahan-lahan, sedangkan Kamui masih saja bisa berjalan dengan santainya seolah batu-batu itu hanya semacam hiasan tak kasat mata. Jalan yang kami lewati ini termasuk sempit dan hanya muat satu orang saja.
Apalagi jalannya agak remang-remang karena kurangnya pencahayaan.
Namun untungnya, kami tidak perlu berjalan lebih lama lagi di jalan berbatu itu karena kami akhirnya sampai pada sebuah teras yang lebih tinggi daripada tanah tadi. Bangunan itu tampaknya masih merupakan deretan kelas 10, terlihat dari papan di atas pintu kelasnya yang menunjukkan tulisan, "X-MS 3".
Kelas ini terlihat berbeda dari kelas-kelas lainnya yang kulewati. Bangunan ini jauh lebih besar dan lebar. Lantainya berkeramik putih bersih. Dan bangunan ini juga memiliki dua pintu beserta jendela ala pertokoan yang berjejer di samping pintunya.
Seperti ruang laboratorium.
Tiba-tiba aku melihat Kamui menoleh ke belakangnya. Lebih tepatnya ke arah jalan kecil yang kami lewati tadi. Dari arah samping sini, aku bisa melihat matanya memicing, seperti mendapati sesuatu yang mungkin adalah sesuatu yang sama dengan hal yang kutakutkan dari persimpangan tadi. Lalu aku bertanya dengan bingung.
"Ada apa?"
Dia sendiri pun tidak langsung menjawab. Dia masih memperhatikan jalan itu, kemudian menutup matanya dan mengembalikan tatapannya ke depan lagi. "Tidak. Bukan apa-apa."
Aku memutuskan untuk mempercayainya. Aku sempat melihat Kamui akhirnya menyalakan senter miliknya sendiri. Heran, kenapa dia baru saja menyalakannya padahal sudah dari tadi kami berjalan.
Aku membuang wajah ke arah kolam. Permukaan air di kolam itu masih tenang. Masih dipenuhi dengan eceng gondok. Namun tiba-tiba cahaya bulan meredup. Kuperhatikan langit dan ternyata awan-lah yang menyebabkan cahaya yang redup itu.
Kemudian aku menatap ke depanku lagi. Lantai teras kelas ini terbilang lumayan luas. Lebih luas dibandingkan lantai kelas 10 lainnya. Keramik putih yang bersih ini membuatku sedikit merasa sejuk sekaligus merinding melihatnya.
Aku penasaran apa yang ada di balik tirai jendela kelas yang tertutup itu.
Kebetulan tirai tersebut tidak ditutup dengan rapat, sehingga aku bisa mengintip dari sela-selanya. Aku memperhatikan sambil mengarahkan senter ke dalamnya.
Dan aku langsung merasakan darahku mendadak berhenti mengalir tatkala aku melihat di antara celah tirai itu, ada sebuah wajah berkulit pucat, dengan rambut abu-abu berantakannya dan matanya yang menatap lurus padaku.
Aku tidak tahu apakah mata itu memiliki pupil atau apapun. Pokoknya mata itu mengarah padaku! Aku tidak tahu tetapi wajah itu terlihat sangat menyeramkan dan tepat berada di depan wajahku!
Senterku terlempar ke arah yang tidak kuketahui. Aku pun terloncat ke belakang tanpa bisa mengeluarkan suara apapun seolah pita suaraku membeku pada saat itu juga. Aku terjatuh dengan kedua tangan menopangku yang telentang. Bisa kurasakan wajahku memucat dan aku sama sekali tidak bisa merasakan denyut jantungku sendiri. Mataku masih melebar dan arahnya terpaku pada jendela itu.
"Hei, Shion! Ada apa? Jangan diam, oi!" Kamui memekik dan terdengar terkejut melihat tindakanku. Dia menghampiriku, dan sedikit mengguncangkan bahuku. Mungkin dia takut jika aku tiba-tiba kesurupan di sini.
Dan lagi-lagi, aku tidak bereaksi apapun. Aku merasakan keringat dingin mengalir deras dari pelipisku, dan aku menarik napas ketika melihat tirai jendela itu sedikit bergoyang. Mungkin ditiup angin tapi... apakah di sana ada angin?
Setelah tirai berhenti bergerak, sosok yang kulihat itu sudah tidak ada lagi di baliknya.
Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi di sini?
"Shion, apa dia mengganggumu?" Dia memelankan suaranya. Dan di saat begini, bisa-bisanya Kamui memakai bahasa gila yang tidak kupahami sama sekali. "Dia"? Dia siapa? Apakah dari tadi Kamui sudah merasakan ketidakberesan yang juga kurasakan dari awal ekspedisi ini, ataukah dia sudah jauh melampaui firasatku dan bahkan dia MELIHAT mereka ada di sekitar kami?
Tapi kuputuskan saja untuk pura-pura mengerti. Aku menggeleng pelan dengan kaku, seakan leherku baru saja keluar dari kulkas.
"Kalau begitu, cepatlah berdiri. Sebentar lagi kita sampai."
"Hei, Gakupo-senpai! Kaito-san! Ada apa?!"
Aku sudah tahu bahwa itu suara Kagamine, jadi aku tetap bergeming dan membiarkan Kamui yang meladeninya.
"Hei, ada apa?" Suara Kagamine lebih pelan daripada tadi.
"Tidak apa-apa. Shion hanya terpeleset tadi." Kemudian Kamui menyodorkan tangannya ke hadapanku, mengisyaratkan padaku untuk menyambutnya. Aku pun meraih tangannya dan dia menarikku sampai aku bisa berdiri dengan benar di sampingnya. Yah, tidak benar juga sih. Kedua kaki milikku masih terasa kaku akibat insiden barusan.
Dan aku tidak tahu mengapa Kamui memutuskan untuk berbohong pada Kagamine. Padahal wajah Kagamine memperlihatkan kekhawatirannya padaku.
"Kenapa kau berbohong?"
Eh?
Kami semua langsung menoleh pada Kazeno. Tatapannya tetap datar seperti biasa, tetapi aku bisa melihat bahwa dia menyiratkan sesuatu yang lain.
"Lantas, memangnya kenapa kalau aku berbohong?" Lalu Kamui balas menjawab pemuda itu dengan datar, sampai saja dia tidak terdengar seperti sedang bertanya.
"Kau sadar ada yang mengikuti kalian berdua dari tadi."
"Eh? Apa? Ada yang mengikuti mereka?" Kagamine bingung sendiri mendengarnya. Dia saja bingung, apalagi aku yang masih belum pulih dari rasa kagetku tadi.
"Asalkan kau tahu," Kazeno merapatkan jaketnya, dan mengambil langkah untuk menjauh dari kami. Dan entah kenapa, sepertinya dia menatapku. Yang berarti dia sedang berbicara padaku. "Semakin kau berusaha untuk berpura-pura tenang, semakin mereka akan mudah mempengaruhimu. Karena rasa takut itu akan semakin meluber keluar selagi kau berpura-pura. Dan kau tahu mereka menyukainya."
Seusai mengucapkannya, dia pun melangkah pergi. Kagamine yang sebenarnya masih merasa bingung, akhirnya menghela napas dan memutuskan untuk mengikuti Kazeno.
"Kaito-san, hati-hati ya."
"Iya."
Mataku memperhatikannya yang turun dari lantai keramik ini, dan dia pun menghilang di balik bahan-bahan bangunan yang berantakan di jalan sempit itu.
"Ayo, Shion. Kita lanjut berjalan lagi."
"Ah, iya."
Kami akhirnya melanjutkan perjalanan kami lagi. Kali ini aku lebih berhati-hati dalam memperhatikan sesuatu. Sehingga aku lebih cenderung memperhatikan jalanan saja. Oh iya, sekarang lantai yang kami jalani ini adalah lantai kayu ulin, sama seperti yang kami lewati di awal tadi. Yang berarti, kami memang akan sampai sebentar lagi.
"Aku masih merasa terkejut sekali..." Aku bergumam, sekedar melepas rasa gelisahku akibat kejadian tadi. Wajah itu masih terbayang di benakku. Dan jujur saja, memikirkannya terus-menerus membuatku mual dan ingin sekali pingsan.
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Setidaknya, sebentar lagi kita akan sampai di gerbang." Tiba-tiba dengan wajar datar, dia mengeluarkan sebuah kamera digital dari saku jaketnya, dan mengarahkan lensanya pada suatu sudut.
"Bisa-bisanya kau berfoto di saat begini."
"Kau baru sadar, heh? Padahal sudah dari tadi aku memakai kamera ini."
Oh, berarti ini salahku yang dari tadi terlalu fokus pada lingkungan sekitarku.
Kemudian, aku tidak mempedulikannya lagi. Kubiarkan sesukanya mengambil foto di sekitar kami selagi aku merasakan firasatku memburuk. Seperti akan ada yang terjadi tidak lama lagi.
"Hum, mungkin karena kamera ini bukan inframerah, jadi tidak ada yang bisa kutangkap di sini." Kamui memperhatikan sekeliling menggunakan lensa kameranya tersebut. "Hum, coba aku pakai yang inframerah."
Dia masih sibuk dengan dunianya sendiri, dan kami tetap berjalan dengan tenang melewati lantai kayu ulin ini. Suasana masih terbilang lumayan gelap, karena awan masih numpang lewat di langit. Mungkin suasana ini yang membuatku merasa semakin merinding.
"Loh? Tadi rasanya pintu kelas ini ditutup 'kan?"
Aku berucap terkejut ketika kulihat pintu kelas yang sempat kuperhatikan di awal ekspedisi tadi, sekarang telah terbuka lebar.
Tadi aku tidak salah lihat, 'kan?
Kenapa pintunya terbuka?
Dan kenapa kain berwarna coklat itu sudah hilang dari kenop itu?
"Ah iya. Pintunya terbuka. Padahal tadi tertutup." Kamui menyahuti dengan nada pelan.
"..."
Kami kemudian terdiam dan memutuskan untuk mengabaikannya.
Padahal aku sangat yakin, Kamui pasti akan berkata "Oh, itu pasti ulah mereka si hantu!" dengan seringai lebarnya seperti biasanya. Tetapi kali ini tidak. Sungguh tidak. Karena sepertinya ada sesuatu yang telah memasuki firasat Kamui.
Sepertinya.
"... Shion." Tiba-tiba Kamui berucap lirih. Ia terlihat sedang memperhatikan apa yang ia potret dengan kameranya tersebut.
Mau tidak mau, aku jadi penasaran. "Apa?"
"Lihat. Aku mendapatkan sesuatu di sini."
Ia memberikan kameranya padaku sambil memperhatikan di sekelilingnya, seolah ia takut ada orang lain yang ikut melihatnya juga. Aku pun menerima kamera itu dan melihatnya.
Oh, sial. Aku berharap aku tidak melihatnya.
Dari foto tersebut, aku bisa menyimpulkan bahwa dia membuatku menjadi objek fotonya. Angle-nya terlihat sedikit sembarangan, mungkin dia sedang malas memotret dengan benar. Di sana, aku terlihat seperti boneka es yang berjalan karena wajahku terlihat agak pucat dan tegang. Tapi dari semua hal yang kulihat, bukan itu masalahnya.
Masalahnya terletak pada sesuatu yang ada di belakangku.
Aku tidak tahu apa itu. Hanya seperti segumpal bayangan hitam yang berjalan dan tingginya setara denganku. Tidak ada hal lain yang bisa kulihat selain warna hitam dan hitam di bayangan tersebut. Aku yakin itu bukan bayanganku karena itu berdiri tepat di belakangku.
Hei...
Apakah sekarang "dia" sedang mengawasiku? Membayangiku TEPAT di belakangku?
Aku tahu aku tidak seharusnya melakukan ini, tetapi aku akhirnya menoleh ke belakang.
Dan tidak ada apa-apa.
Dan ini semua semakin membuatku takut. Aku merasa ada yang "berdiri" di belakangku. Sesuatu yang tidak dapat kulihat langsung dengan mataku ini. Mungkin Kamui melihatnya, atau apapun. Aku tidak tahu.
Tapi tetap saja itu sangat mengerikan.
"Shion. Jangan terlalu lama bengong. Ayo kita susul Len dan Kazeno."
Meskipun dia berucap begitu, aku tetap bergeming. Seolah ada yang menahanku untuk tetap berada di tempatku.
"Shion? SHION!"
Tiba-tiba aku merasa kakiku kesemutan. Pelan, hampir tidak terasa. Ah, mungkin ini hanya karena aku kelelahan.
Dan mungkin juga Kamui sudah mulai tidak sabaran menungguku yang hanya berdiri saja, jadi dia mulai menarik tanganku dan menyeretku ke pertigaan di depan sana. Menyeret, karena aku hampir tidak berjalan.
"Ah, Gakupo-senpai!"
Aku mendengar suara Kagamine yang memanggil. Tidak lama, kami kembali ke tempat perhentian pertama kami. Yaitu di dekat pintu gerbang kelas 10.
"Bagaimana perjalanan kalian?" Kagamine bertanya seolah kami baru saja kemping ke gunung.
"Yah, begitulah. Lumayan." Sedangkan Kamui hanya menjawab sekedarnya. Matanya mulai melirik-lirik gelisah. Bisa kuperkirakan dia menyadari... tidak, MERASAKAN kehadiran mereka di sekitar kami. "Kalian sendiri?"
"Segalanya berjalan agak membosankan, sampai kami menemukan ini di depan kelas X-MS 4 tadi."
Kagamine kemudian menunjukkan sesuatu yang ia bawa.
Selembar kain.
Tunggu, bukankah itu kain di kenop pintu tadi?
"Apa kau membawanya, Len?"
"Eh?" Tidak hanya Kagamine, aku dan Kazeno sendiri terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Kamui barusan.
"Aku tanya, apakah KAU yang membawanya dari awal tadi?" Kamui bertanya sekali lagi dengan adanya penekanan, mata yang agak melebar dan alis yang tertekuk. Dengan suasana seperti ini, ekspresinya itu bisa dibilang sangat menyeramkan.
"A-aku tidak membawanya! Aku menemukannya di jalan begitu saja!" Kagamine berdalih. Ia panik, mungkin karena Kamui sendiri adalah orang yang jarang menunjukkan perasaan emosionalnya selain merasa senang dan penasaran. "Benar 'kan, Kazeno-san?!"
Kazeno hanya mengangguk, mengiyakan.
Dan tiba-tiba segalanya berubah drastis.
Aku melihat semuanya begitu abstrak di mataku. Sebelum aku kehilangan kesadaranku, aku melihat warna hitam, warna merah, bayangan, Kamui, Kagamine, Kazeno—
—dan seseorang yang melayang dari toilet pria.
.
.
.
.
to be continueD.
.
.
.
.
