.
.
.
.
Kesenangan di Antara Dua Dunia
—What's Happening Beside You—
Chapter 6 . Kazeno Yuuma (Part III End)
The Creation-Story © Yoshina Vanatala
VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua
Note : Chapter kali ini lebih panjang daripada biasanya.
.
.
.
.
"Jangan macam-macam dengan dunia lain. Bagaimana jika ada 'orang lain' yang ikut mengganggu kalian?" — Unknown.
.
.
.
.
Hal pertama kali yang kulihat ketika membuka mata adalah hamparan langit malam yang pekat dan agak mendung. Hanya ada bulan, tanpa adanya bintang di manapun.
"Kaito-san! Kaito-san gak apa-apa?"
Kagamine langsung menunjukkan wajahnya di depanku. Aku sedikit terkejut, tapi tidak merespon selain melebarkan mataku. Aku menggunakan tanganku untuk meraba-raba, apa gerangan yang sedang kutiduri saat ini. Dan sepertinya aku sedang berbaring di atas matras kulit yang diletakkan di atas tanah.
"Hei, Len. Kau membuatnya terkejut."
Kemudian aku mendengar suara Kamui menyusul, menyahuti seruan Kagamine yang khawatir.
Dan tunggu, kenapa aku bisa ada di sini? Bukannya tadi aku memasuki lorong kelas 10, lalu berkeliling bersama Kamui, berjumpa dengan sosok wajah di jendela kelas, bertemu dengan Kagamine dan Kazeno, dan akhirnya semuanya menjadi hitam—
Oh, sial. Aku ingat semuanya sekarang.
"Aku... tadi pingsan ya?" Aku bergumam pelan sambil bangun perlahan dari tidurku sehingga kini aku duduk berselonjor di atas matras. Aku memperhatikan sekeliling. Ada Kagamine yang duduk bersimpuh di sebelahku, Kamui berdiri di belakang Kagamine, dan Kazeno berdiri tidak jauh dari kami. Dan dilihat dari sekitarku, sepertinya kami berada di tempat orang-orang OSIS tadi lagi.
Aku melihat pada diriku sendiri. Jaket putih-biru milikku sepertinya dilepas dan dijadikan sebagai selimut untukku. Sehingga kini kaos polos biru muda yang kukenakan tadi pun, terekspos.
"Kaito-san langsung pingsan dan kami semua panik apalagi tiba-tiba ada hantu berwajah hancur yang melayang-layang mengejar kita!" seru Kagamine memperjelas situasi yang terjadi selama aku pingsan tadi.
"Tadi ada hantu?" Berarti aku tidak salah lihat mengenai hal itu.
"Ya, kau pingsan dan jatuh ke arahku dan aku spontan saja berlari sambil menyeretmu keluar dari lorong kelas 10 itu." sahut Kamui datar. Duh, ini orang.
"Itu gak benar, Kaito-san. Gakupo-senpai waktu itu menggendongmu, bukan menyeretmu."
Aku menoleh untuk meminta pengakuan langsung dari Kamui sendiri. Dia menatapku datar dan berkata, "Iya. Aku memang menggendongmu. Dan jujur saja, kau itu berat."
Dasar sialan orang ini.
"Trus, hantunya ke mana?" Aku bertanya lagi.
Dan awalnya mereka hanya saling pandang. Tidak sama sekali menjawabku sampai Kagamine yang menjawab. "Eng, hantunya tiba-tiba menghilang pada saat kita keluar dari lorong itu. Aku tidak tahu tapi aku merasa seolah dia diam-diam sedang mengikuti kita sekarang."
Aku terdiam.
Dan jujur saja, jawaban itu jauh lebih mengerikan daripada mengetahui bahwa lorong tadi memang benar-benar berhantu.
"Oh iya. Bagaimana keadaan Kaito-san sekarang? Kalau masih merasa pusing atau lemas, sebaiknya Kaito-san tetap tiduran saja." Kagamine berucap lagi.
"Aku... hanya masih pusing. Dibawa duduk sebentar juga, palingan sembuh sendiri."
"Tadi kau pingsan kenapa?"
"Eh, apa?" Aku menoleh ke arah Kazeno. Dan sungguh aku jujur, aku benci melihat ekspresi datar di wajahnya itu! Biarkan hanya Kamui yang memilikinya!
"Apakah sebelumnya kau sakit?"
"Uhm. Rasanya keadaanku tadi baik-baik saja. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku bisa pingsan mendadak seperti tadi."
Kemudian semuanya terdiam melihat padaku.
Hei, apakah jawabanku segitu membingungkannya?
"Shion-san."
Aku lagi-lagi menatap Kazeno. Tumben dia memanggil namaku. "Apa?"
"Sebaiknya kau hati-hati."
"Uhm, kenapa?"
"Karena jika kau sudah melihat'nya', itu berarti kau tidak aman lagi di sekolah ini."
Oh.
Aku tidak terlalu meresponnya. Bukannya aku sok tahu, tapi aku memang sudah merasakan hal itu. Bahkan sebelum aku datang ke sini pun, aku merasa seolah aku tidak seharusnya ke sini.
Ya, aku tidak seharusnya ada di sini.
Tapi, aku sudah terlanjur berjanji, bahwa aku akan selalu ikut ke manapun Kamui pergi. Kamui pergi ke sekolah ini, jadi otomatis aku pun ikut juga dengannya. Meskipun ke tempat paling berbahaya sekalipun. Bukannya aku sudah berjanji seperti itu di perjalanan pertama kami?
Lantas, apakah sudi aku mengingkarinya?
"Wah, hujan."
Aku pun tersadar dari lamunanku. Benar apa kata Kamui barusan, rintik hujan mulai jatuh dari langit. Aku spontan bangkit dari dudukku dan awalnya aku ingin ikut membantu Kamui dan Kazeno mengangkat matras yang entah bekas dipakai apa sebelum kutiduri tadi. Tapi Kagamine mencegah dengan alasan bahwa aku seharusnya masih beristirahat ketimbang mengangkat benda berat seperti itu.
Ah, sudahlah. Aku menuruti saja apa yang dikatakan Kagamine.
.
.
.
.
Singkat kata. Kami kini sudah berteduh dari hujan. Dan kami berteduh di dalam sebuah gedung besar alias aula yang dipanggil sebagai gedung serba guna ini.
Di sana tidak hanya kami. Seperti yang kubilang di awal cerita, masih ada anak-anak OSIS yang berada di sekolah ini selain kami. Jadi daripada kenapa-kenapa, kami pun disuruh berteduh di sini.
Aula yang kami tempati ini terbilang besar dan luas. Aku tidak tahu seberapa luas, tetapi yang pastinya, tempat ini bisa memuat seluruh anak OSIS dan kami. Langit-langitnya tinggi, semakin menambah kesan luas pada aula ini. Di setiap dindingnya, terdapat gambaran-gambaran hasil karya anak-anak sekolah ini. Dimulai dari yang berukuran sebesar buku gambar A4, sampai yang berukuran raksasa.
Di suatu sudut ruangan ini pun, terdapat sebuah rak yang khusus memuat piala-piala yang diperoleh para siswa. Cukup membuatku takjub tapi tidak terlalu menarik perhatianku.
Yang paling menarik perhatianku adalah panggung berukuran sedang yang ada di sisi kanan dari pintu depan aula ini.
"Wahahaha! Aku ingat sekali! Dulu waktu MOS, aku gila-gilaan di sini!" Kagamine tertawa-tawa, sedang bernostalgia dengan masa lalunya. "Gakupo-senpai juga pernah diseret ke sini karena keluyuran di sekolah waktu malam 'kaaaan?"
"Hum, aku tidak ingat dengan kejadian itu." gumam Kamui acuh tak acuh. Entah pura-pura lupa atau memang benar-benar lupa. Aku tidak tahu.
Setelahnya, Kagamine tetap berceloteh mengenai masa lalunya di sekolah ini bersama Kamui. Kadangkala Kamui ikut tertawa, tetapi dengan tawa datar. Aku yang merupakan orang luar hanya diam mendengarkan mereka.
Aku tidak begitu tahu dengan apa yang para OSIS lakukan. Aku memperhatikan mereka sembari berbaring di atas lantai. Aku tidak tahu mengapa tapi aku merasa tidak nyaman semenjak memasuki aula ini. Mungkin karena aku adalah orang asing di sini?
Selama aku di sini, aku hanya duduk di sebelah Kamui. Dia sibuk memainkan ponsel android miliknya dan mengacuhkan seluruh tatapan yang kebanyakan berasal dari para anak perempuan. Sempat beberapa kudengar ada yang berusaha menanyakan nama pada Kamui sendiri, tapi mereka terlalu gugup dan malu untuk melakukannya. Malah ada yang dengan tidak tahu malunya berfoto selfie dengan Kamui.
Dia mendadak bagaikan artis.
Ah, sudahlah. Lupakan kejadian-kejadian barusan.
Dan tidak terasa waktu sudah memasuki pukul 11 malam. Hampir semua orang sudah tertidur, terkecuali aku, Kamui, Kagamine, Kazeno, dan beberapa senior OSIS lainnya. Ada kemungkinan yang tertidur itu adalah para junior. Mereka tertidur dalam suatu kumpulan di sudut yang berhadapan dengan panggung. Awalnya ada yang masih mengobrol dengan temannya, atau setidaknya memainkan ponsel miliknya. Namun setelah ditegur oleh seorang senior, akhirnya mereka benar-benar tidur.
Aku jadi teringat dengan masa sekolahku. Duh.
"Oh iya, kenapa kalian begitu ingin menjelajahi sekolah ini?"
Perhatianku terarah pada si penanya. Seorang pemuda yang terlihat lebih tua daripada senior OSIS lainnya, mungkin seorang alumni. Usianya tidak sampai 30 tahun, tetapi sepertinya sudah mencapai 25 tahun. Pokoknya berada di rentang umur 25-30 tahun. Tidak berbeda jauh dari kami yang sekarang merupakan anak kuliahan.
Sekarang kami tengah duduk melingkar. Di samping kiriku ada Kamui, kemudian Kagamine, Kazeno, dan tiga orang lainnya di mana si terduga alumni tadi berada di tengah tiga orang itu. Dan entah siapa yang merencanakan ide gila ini. Sementara di luar sana hujan sedang turun dengan deras, lampu-lampu dimatikan dan lilin pun dinyalakan di antara kami yang duduk melingkar.
Jadi terkesan mistis.
"Bukannya kalian juga alumni dari sekolah ini? Jadi kalian tahu, bukan? Apa saja 'sesuatu' yang ada di sini?"
"Uhm, ano. Aku bukan dari sekolah ini." Aku menyela pelan.
"Eh? Lalu kalian berdua?" Dia bertanya, menatap Kamui dan Kagamine.
"Kami alumni sini kok." jawab Kagamine bangga, sambil tersenyum lebar.
"Alumni angkatan tahun berapa? Aku angkatan tahun 20XX." Pemuda berambut platinum blonde itu tersenyum tipis. "Oh iya. Panggil saja aku Leon. Salam kenal."
"Ah, aku Kagamine Len! Aku angkatan tahun 20XX!" Seperti yang selalu terjadi sebelum dan sebelumnya, Kagamine-lah yang paling bersemangat di antara kami. "Ini Kamui Gakupo-senpai! Kami cuma beda 3 tahun!"
"Dan aku Shion Kaito. Aku berasal dari sekolah pinggiran. Lulus pada tahun 20XX." Aku tersenyum. Terasa agak terpaksa untuk tersenyum tapi, ah, sudahlah.
Dan jika kalian bingung dengan tanda XX itu, biar kujelaskan. Leon itu lulus lebih cepat 3 tahun daripada Kamui, Kamui lulus lebih cepat 1 tahun daripada aku, dan aku lulus lebih cepat 2 tahun daripada Kagamine. Mengenai tahun berapa persisnya mereka lulus, aku sendiri juga tidak begitu yakin kenapa harus disensor.
"Uhm, begitu." Senyum Leon perlahan memudar, berganti dengan ekspresinya yang serius. "Aku kembali ke pertanyaan pertamaku; kenapa kalian ingin menjelajahi sekolah ini?"
"Karena Len yang mengajak kami ke sini." jawab Kamui singkat. "Dan lagipula, aku penasaran dengan sekolah ini. Dulu aku tidak diperbolehkan, dan akhirnya setelah menjadi alumni, aku bisa berkeliling di sini."
"Sebenarnya menjadi alumni pun, bukan berarti kau diperbolehkan." Leon kemudian menarik dan menghela napas, dan melanjutkan ucapannya. "Dengar, sekolah ini sebenarnya tidak aman di malam hari. Apalagi di lorong kelas 10. Di aula ini saja, aku dan Yuuma sudah memasang 'mantel' dan hanya bertahan sampai besok pagi."
"Tadi waktu kalian berkeliling saja, aku was-was sekali. Meski aku sudah mengutus Yuuma bersama dengan kalian sekalipun, aku masih takut kalau-kalau ada sesuatu yang terjadi. Dan benar saja. Sewaktu Kamui menggendong Shion yang pingsan ke sini, aku panik. Aku takut Shion kerasukan atau apa. Tetapi sepertinya tidak, karena kulihat Shion masih baik-baik saja sekarang."
Aku hanya diam mendengarkan. Sebenarnya seberapa mengerikannya sekolah ini? Dan apa yang sebenarnya telah terjadi pada diriku tadi? Dan siapa sebenarnya Leon, dan Kazeno ini?
Perlahan-lahan, aku mulai merasakan kesemutan di kedua kakiku. Mungkin hanya karena aku terlalu lama duduk di aula ini. Jadi aku mencoba mengubah posisi dudukku dari bersila, menjadi selonjoran. Kupikir kesemutan itu bisa mereda dengan cara seperti ini.
"Kalau kepala sekolah sampai tahu ada orang luar di sini, bisa mati aku." Leon bergumam pelan. Tiba-tiba aku merasa bersalah karena sudah menelusup ke dalam sekolah ini.
"Um, maafkan kami, Leon-san. Kami hanya penasaran dan ingin tahu."
"Oh iya, Leon-san. Apa benar katanya di kelas XI-SOS 3 pernah terjadi suatu peristiwa? Semacam pembunuhan gitu?" Kagamine malah memancing pembicaraan ini menuju ke sesuatu yang mistis. Duh.
Tapi entah kenapa, Leon malah menjawab pertanyaan itu seolah dia memang ingin menyambung percakapan itu! Aduh, siapa yang gila ini!
"Kelas XI-SOS 3 yang ada di sebelah GSG (gedung serba guna) ini 'kan?"
"Iya."
"Ah, itu memang benar kok." Tanpa menyadari bahwa wajahku sudah mulai pucat karena aku sama sekali sedang tidak ingin mendengarkan cerita mistis, Leon melanjutkan ucapannya. "Dulu ada anak walikota yang dikenal sombong oleh orang-orang di sekitarnya. Lalu ada orang yang tidak suka dengannya, dan diam-diam mengikutinya ke dalam kelas ketika tidak ada orang. Dan saat itulah ia membunuhnya."
"Dan konon katanya, roh anak yang dibunuh itu masih bergentayangan di ruang kelas XI-SOS 3. Dan karena itulah, pintu toilet kelas XI paling ujung yang ada di sebelah kelas XI-SOS 3, digembok karena dikhawatirkan akan ada sesuatu yang terjadi." Leon mengakhiri ceritanya.
"Eh? Setahuku karena dulu katanya ada hantu Jubah Merah yang suka mengganggu di toilet ujung itu?" ucap Kagamine bingung.
"Len, Jubah Merah itu cuma ada di toilet nomor tiga. Kalau paling ujung itu, namanya Hanako." Sementara Kamui meralat ucapan Kagamine barusan.
He, aku sendiri tidak tahu apa itu benar atau tidak.
"Sebenarnya yang dibunuh itu cowok atau cewek sih?" Kazeno menyela pelan dengan bingung.
"Cowok." jawab Leon singkat.
Lalu hening.
Tiba-tiba semuanya tidak berbicara sama sekali.
Hanya terdengar suara angin yang agak menggema di dalam ruangan yang luas ini. Mataku melirik-lirik gelisah ke sekeliling. Aku bingung kenapa suasana mendadak menjadi hening begini, dan aku ingin sekali berbicara sesuatu supaya suasana tidak menjadi sehening ini. Tetapi pada akhirnya tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutku ini.
Aku sedikit merinding merasakan leherku perlahan mendingin. Dengan napas yang agak tersengal entah apa alasannya, aku spontan memegangi apapun yang ada di sekitarku, yaitu tangan Kamui yang kebetulan ada di sampingku. Aku menggenggam tangannya sangat erat, sehingga bisa kurasakan seolah-olah tulang-tulang jemari dan tanganku akan keluar dari balik kulit pucatku. Namun anehnya aku sama sekali tidak merasa nyaman dengan semua ini.
Kupikir aku hanya terlalu panik. Sebenarnya bisa saja ini hanya angin keras yang datang dari ventilasi jendela yang ada, tetapi aku merasa seperti ada yang bernapas di belakang leherku.
Sementara aku memeras tangan Kamui, dia sendiri tidak bereaksi apapun. Wajahnya tanpa ekspresi. Dari ekor mataku, kulihat matanya yang tajam memperhatikan tirai-tirai jendela yang sedikit bergerak akibat kerasnya angin badai dari luar sana.
Dan angin ini entah kenapa membuatku tiba-tiba menjadi lelah, dan mengantuk. Aku mendadak saja tidak bisa memikirkan apapun. Aku mencoba sekeras mungkin untuk memikirkan sesuatu, tetapi gagal. Kesemutan di kedua kakiku entah kenapa belum kunjung hilang, malah semakin naik ke pangkal kaki, pinggang, dada, sampai—
"Ah, ada dia."
Ucapan Kamui barusan bagai menekan suatu tombol dalam diriku untuk langsung tidak sadarkan diri. Sekilas sebelum aku menutup mata, kulihat ada yang sedang menyeringai lebar di atas panggung itu. Sangat lebar dan terkesan tidak wajar. Aku tidak melihat matanya tetapi tiba-tiba aku merasa bahwa dia bukanlah manusia.
.
.
.
.
Aku tiba-tiba tersadar karena merasakan adanya cahaya yang menusuk mataku.
Aku menutupi mataku seraya membukanya. Lalu perlahan aku bangun. Memperhatikan bahwa aku masih ada di aula sekolah tadi malam.
Tadi malam... oh iya, aku tiba-tiba pingsan. Lagi.
Lalu aku melihat wajah aneh itu.
Aneh.
Terbilang sangat aneh untuk dikatakan wajah manusia.
Memikirkannya lagi, tiba-tiba aku merasakan darahku mendesir cepat, namun hanya sekilas. Aku juga merasakan keringat dingin mulai menetes dari pelipisku. Aku merasa seluruh tubuhku terasa sangat sangat pegal. Seolah tadi malam aku baru saja melakukan hal yang sangat berat.
Kemudian kulihat ada Kamui di sebelahku. Ia sibuk melakukan sesuatu dengan android miliknya. Awalnya aku tidak ingin mengusiknya, namun sepertinya dia sudah sadar duluan.
"Ah, kau sudah bangun rupanya."
"Apa yang terjadi denganku tadi malam?" Aku tanpa basa-basi langsung menanyakannya. Itu adalah suara yang pertama kali kukeluarkan setelah kejadian tadi malam, dan di telingaku suara itu terdengar seperti mencicit.
Awalnya dia hanya memperhatikanku. Matanya menelusuri diriku dari atas kepala sampai bawah kaki. Tentu saja hal itu membuatku menjadi risih. "Apaan sih?"
"Kau yakin ingin mendengarnya?" Ia malah balik bertanya padaku.
"Karena kau menanyakannya, aku jadi ragu ingin mendengarnya." Aku tersenyum kecut. "Tetapi baiklah. Ceritakan."
Itu pun dia tidak langsung menceritakannya. Lagi-lagi ia hanya menatapku. Dan aku bersumpah tatapannya itu sangat membuatku takut seolah aku ini hantu!
"Tadi malam kau kesurupan." Dan akhirnya ia hanya menjawab begitu.
"H-hah? Kesurupan? Bagaimana bisa?" Aku sendiri sangat terkejut. Seumur-umur, aku belum pernah kesurupan. Kalau diganggu-ganggu semacam bahu ditepuk-tepuk tanpa kuketahui siapa pelakunya dan ada yang bernapas di belakang leherku itu, sudah biasa kualami. Tetapi kesurupan?
"Kau tiba-tiba pingsan. Lalu kau mulai meracau tidak jelas dengan bahasa yang tidak kami pahami. Dan ketika Leon ingin menenangkanmu, kau malah mengamuk. Dan saat itulah aku sadar bahwa kau kesurupan."
Aku hanya terdiam. Perlahan aku mulai merasa takut. Aku takut pada diriku sendiri. Aku takut kalau-kalau siapapun yang merasukiku tadi malam, ternyata masih ada di dalam diriku.
"Setelah Leon dan Kazeno berhasil menenangkanmu, kami bertanya siapa yang merasukimu itu dan dia tidak menjawab. Dan hanya bilang, 'Jangan ganggu kami lagi'."
Dan lagi-lagi aku hanya terdiam.
"Mungkin itu penunggu sekolah ini." Dia bergumam pelan. Namun kali ini ia tidak menatapku lagi. Ia menatap pintu utama aula yang terbuka lebar. Ah, aku sendiri baru sadar bahwa hari sudah pagi.
"Lalu? Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah dia masih... berada di dalam diriku?"
"Leon sudah berhasil mengeluarkannya setelah kami berjanji untuk tidak mengganggu mereka lagi."
Kepalaku tiba-tiba terasa sakit setelah mendengarnya. Tubuhku mengejang sebagai dampak dari rasa sakit itu, sehingga tangan kananku pun menahan kepalaku agar tidak goyah. Dia menyadarinya dan memegangi pundak kiriku untuk menjaga keseimbanganku.
"Jangan khawatir. Semuanya sudah baik-baik saja."
"Jangan kau pikir kalimat itu bisa menenangkanku." Aku bergumam sangat pelan. Sementara kepalaku masih terasa nyeri, ia tidak merespon apa-apa tapi aku yakin sebenarnya ia mendengar yang barusan. Aku hanya memutuskan untuk langsung mengalihkan topik pembicaraan. "Oh iya. Yang lain ke mana? Aku baru sadar hanya ada kita berdua di sini."
"Hm, mereka semua ada di luar. Len menemani anak-anak itu berbaris di lapangan. Awalnya dia bersikeras ingin menemanimu di sini juga, tetapi kubilang padanya bahwa kau pasti baik-baik saja."
"Haha, baru kali ini aku pingsan sebanyak 2 kali dalam satu malam." Aku mendesis, merasa miris dengan hidupku sekarang ini.
"Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Uhm, yah, begitulah." Aku menjawab pelan. "Ano, bisakah aku minta air minum?"
Dia mengambil botol minum di dekatnya, kemudian memberikannya padaku. "Ini."
Aku tanpa pikir panjang langsung menyambutnya. Dan sudah kuduga, setelah meminum air, perasaanku membaik.
"Bagaimana?"
"Sudah mendingan. Tapi kepalaku masih agak pusing sih."
Lalu ia hanya mengangguk pelan, dan fokus kembali pada android miliknya. "Iya."
.
.
.
.
"Ya, kami harus pulang sekarang."
Sekitar pukul 11 siang, kami memutuskan untuk segera meninggalkan tempat ini setelah keadaanku sudah jauh lebih membaik. Aku memperhatikan Kagamine yang berbicara sebentar dengan Leon di depan GSG. Sedangkan aku dan Kamui berdiri di dekatnya.
"Shion-san sudah baikan, bukan?" Leon bertanya padaku dengan senyum tipis.
"Ah, iya. Setidaknya aku sudah lebih baik daripada tadi malam." Aku pun juga membalasnya dengan senyum ramah. Sungguh, perasaanku sudah jauh lebih mendingan. Makanya aku sudah bisa tersenyum dengan wajar.
"Hm, syukurlah."
Aku memperhatikan Kazeno yang ada di sebelah Leon. `Tatapannya tetap datar seperti tadi malam. Tetapi ah ayolah. Aku tidak ingin mengurusinya.
"Baiklah, kami pergi dulu. Sampaikan salam kami kepada anak-anak OSIS! Bye!" Kagamine berseru dan melambai pada Leon dan Kazeno, sambil berjalan menjauhi GSG. Aku dan Kamui berjalan menyusulnya.
"Ya, bye."
Dan ketika aku ingin menyusul Kamui, tiba-tiba Kazeno menarik tanganku. Spontan saja aku menoleh dan menatap padanya.
"Hati-hati dengan kerumunan."
"Hah?" Aku bertanya bingung, tetapi ia tidak menjawab apa-apa selain menatapku. Karena aku berpikir ia tidak akan menjawabku, jadi aku memutuskan untuk melepaskan tangannya dariku.
"Ah, iya. Aku akan berhati-hati."
Kemudian aku pun menyusul Kamui dan Kagamine.
"Kagamine-san, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Aku bertanya ketika aku sudah berada di dekat mereka.
"Uhm, apa?" Kagamine merespon pelan tanpa berhenti berjalan.
"Sebenarnya Leon dan Kazeno itu siapa?"
"Loh? Kaito-san gak tau?" Kagamine malah terlihat heran. "Oh iya. Aku belum bilang. Leon-san dan Kazeno-san itu sebenarnya berasal dari keluarga paranormal, makanya mereka bisa mengusir-usir hantu gitu."
"Oh, begitu." Aku kemudian diam karena merasa sudah mendapatkan jawaban. Oh, ternyata mereka itu paranormal toh. Pantas saja. "Jadi mereka itu manusia, 'kan?"
"Hahahah, tentu saja, Kaito-san." Kagamine tertawa mendengar pertanyaanku. Ya jelaslah, itu adalah pertanyaan yang konyol. Tetapi mengingat Kazeno memiliki aura yang sedikit berbeda dari orang pada umumnya, jadi mungkin tidak ada salahnya juga aku menanyakannya.
"Hum. Ternyata SMA ini penuh dengan hantu ya? Hahaha, aku bisa ke sini lagi kapan-kapan." Dan Kamui hanya menyeringai kesenangan.
"Haha. Iya. Kau mendapatkan foto-foto mereka, sedangkan aku harus dua kali mengalami pingsan dan satu kali kesurupan dalam satu malam." Aku tersenyum kecut. Sungguh yang tadi malam itu sangat luar biasa sekali. Sampai saja, mungkin aku takkan pernah bisa melupakannya.
"Tidak apa-apa. Anggap saja itu pengalaman." Kemudian dia tertawa sinting lagi.
Aku hanya menghela napas.
Dalam perjalanan kami menuju pintu gerbang yang berjarak 100 meter, aku berbalik ke arah kerumunan OSIS. Entah apa yang mendorongku untuk melakukannya, aku hanya tiba-tiba ingin melakukannya.
Dan di antara kerumunan OSIS yang sedang berbaris di bawah terik matahari yang panas itu, aku melihat seseorang melihatku. Ia melihatku dengan senyumnya yang sangat lebar, sangat lebar dan tidak wajar, seperti yang kulihat tadi malam.
.
.
.
.
to be continueD.
(Kazeno Yuuma Part END)
.
.
.
.
P.S : Ada bonus di chapter berikutnya. Cuma ada Kaito sih, dan pendek banget, tapi semoga saja bisa menghibur. XD
