.

.

.

.


Kesenangan di Antara Dua Dunia

What's Happening Beside You—

Chapter 8 . Kikaito's House

The Creation-Story © Yoshina Vanatala

VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua


.

.

.

.


"Hei, menurut kamu, hantu itu hanyalah ilusi atau sungguh kenyataan?" —Unknown


.

.

.

.


Halo, lama tidak bertemu.

Maaf aku baru bisa hari ini berbagi cerita dengan kalian. Biasalah, anak kuliahan. Sibuk sendiri. Haha.

Waktu liburan semester 1 yang lalu, aku sempat menginap di rumah keponakan di desa selama seminggu. Rumahnya termasuk rumah tua. Besar dan berbahan dasar kayu. Di sekeliling rumah terdapat taman (atau mungkin lebih tepatnya kebun) yang seluruh tanamannya terawat dengan baik.

Ah, seandainya Kamui ada di sini, dia pasti akan tertarik dengan rumah ini. Sayangnya dia sudah punya rencana liburannya sendiri, jadi dia tidak ikut denganku.

Sebenarnya rumah ini termasuk lumayan menyenangkan dan asri, karena lingkungannya seperti rumah vila. Di sana-sini, yang terlihat adalah kebun sayuran dan buahan, serta pepohonan. Aku senang sekali berkeliling di sini ketika pagi hari karena udaranya yang sangat sejuk dan jauh dari asap kendaraan di kota.

Dan malam harinya... ah, sudahlah...

Aku datang ke rumahnya tanpa bilang apapun terlebih dahulu. Makanya Kikaito dan keluarganya tampak terkejut saat menyambutku. Yah, aku ingin memberi kejutan pada mereka. Haha.

Aku sering mengalami sesuatu yang janggal selama menginap di rumah keponakanku ini. Semacam handuk yang tiba-tiba berpindah tempat dengan sendirinya, suara langkah kaki di tangga, dan kue kering yang tergeletak begitu saja di atas lantai dengan kondisi telah digigit dan bernoda darah.

Euh.

Sebut saja keponakanku ini, namanya Kikaito. Penampilannya kurang lebih seperti aku, hanya saja rambutnya berwarna kuning cerah, dan pakaian yang ia kenakan identik dengan warna kuning-putih. Kalau kau pernah bertemu dengan seorang bocah autis yang sering mengaku-ngaku sebagai bule dari London, itu pasti dia. Dengan modal grammar English-nya yang tidak karuan itu.

Meskipun kusebut sebagai bocah, sebenarnya dia hanya berbeda dua tahun dariku. Yah, dia seumuran Kagamine. Dia kuliah, dan juga sedang libur sepertiku. Jadi karena dia libur, dia disuruh sambil bantu-bantu di kebun oleh ayahnya. Dan karena aku tidak enak juga ikut menginap di rumah orang, jadi aku juga membantunya.

Sebenarnya dari awal aku menginap, aku sudah merasakan adanya sesuatu yang tidak beres di sini. Tetapi semudah aku memikirkannya, semudah itu juga aku melupakannya.

Salah satu hal janggal yang pernah kualami adalah yang pernah terjadi di suatu malam. Sekitar jam 8 malam mungkin, sehari sebelum aku berencana akan pulang ke kota.

"Oh, sial."

Aku bergumam sembari menghambur benda-benda yang ada di atas meja hias di kamarku. Aku baru sadar bahwa ponselku hilang. Makanya aku sekarang sedang panik mencarinya.

"Kaito-kun! Ayo keluar! Makan malam sudah siap!" Aku bisa mendengar suara Kikaito yang memanggilku. Aku bisa memperkirakan, dia memanggilku bukan karena dia ingin makan bersamaku. Melainkan dia hanya ingin segera makan malam. Apalagi tadi sepertinya aku mencium bau masakan kari. Makanan favoritnya dia.

"Ck, tunggu sebentar." Aku mendecak pelan, karena aku masih belum mendapatkan ponselku. Dan mungkin dia sudah sangat tidak sabar, jadi dia langsung saja membuka pintu kamarku dengan seenaknya. Tanpa ketuk pintu dulu atau apa kek gitu.

"Ada apaan sih?" Dengan wajah gusar, dia menghampiriku. Dan tidak kalah gusar, aku membalasnya dengan judes.

"Ponselku hilang. Aku tidak bisa berhenti mencari kalau aku tidak mendapatkannya juga."

"Yaelah, santai aja, Bang. Nanti juga ketemu." Kenapa dia dengan gampangnya mengatakan hal seperti itu! Dan sungguh nada suaranya itu membuatku ingin sekali menaboknya. "Ayolah, makan aja dulu. Siapa tahu setelah makan, pikiranmu menjadi jernih kembali atau..."

Aku merasa bahwa Kikaito menggantung kalimatnya, tetapi karena aku terlanjur kesal, jadi aku tidak ingin mengurusinya dan kembali berusaha mencari ponselku.

"... ada yang mengambilnya."

"Apa kau bilang sesuatu?" Pertanyaan itu spontan keluar dari mulutku karena mentalku yang terlatih sebagai orang yang akan langsung tertarik pada sesuatu yang bersifat misteri dan menggantung. Walaupun sebenarnya—seperti yang kubilang di atas tadi—aku sedang tidak ingin mengurusinya.

"Mungkin ada yang mengambilnya."

"Siapa?"

Dia tidak menjawabku melainkan mengerlingkan matanya ke arah jendela kamarku yang tertutup—

Tunggu, sejak kapan jendela itu terbuka? Bukannya tadi sudah kututup?

Dan kenapa tiba-tiba aku merasa kepalaku nyeri?

"... makanya, ayo kubilang makan dulu. Nanti kubantu cari deh."

Aku merasa bahwa aku merasakan firasatku tidak beres dan bahkan aku merasa bahwa ada yang mengikutiku sampai ruang makan.


.

.

.

.


"Aku mau cari ke taman depan."

"Sekarang juga?" Kikaito bertanya, merasa sangsi pada pernyataanku.

"Iya."

Setelah itu, cowok berpostur tubuh sepertiku itu hanya diam. Dia melihatku dengan tatapan abstrak, tetapi tidak juga mencegahku. "Uhm, baiklah. Tapi hati-hati."

Entah kenapa melihat wajahnya itu, aku jadi merasa ngeri sendiri. Aku tidak tahu apa itu.

Taman yang kumaksud itu adalah kebun stroberi yang ada di depan rumah ini. Tidak tepat di depan sih. Kebun itu memiliki ukuran kira-kira 50 hektar. Bisa kau bayangkan seluas apa itu.

Dan omong-omong, rumah ini berlantai 3. Yang mana lantai 3 itu adalah loteng. Semua kamar tidur ada di lantai 2. Kamar tamu yang kutempati sekarang memiliki jendela yang menghadap ke arah samping kiri rumah.

Jendela kamar Kikaito menghadap ke depan rumah.

Dan sekarang di sinilah aku. Dengan nekad aku berjalan mengelilingi kebun stroberi ini hanya bermodalkan senter besar, jubah, sepatu bot, dan keberanian. Karena kau tahu, pada malam hari perkebunan biasanya memiliki temperatur yang lumayan rendah.

Aku mencarinya di sini karena tadi siang, aku sempat berjalan-jalan di kebun. Siapa tahu ponselku terjatuh di sini saat aku sedang asik-asiknya menyusuri asrinya alam.

Jadi aku berjalan mengelilingi kebun sambil nungging (oke, abaikan kata tidak baku barusan). Aku mengarahkan senterku ke jalanan. Berharap aku bisa mendapatkan ponsel kesayanganku.

Tanpa senter ini, lingkungan di sekitarku teramat gelap. Penerangan hanya ada dari rumah Kikaito. Di langit yang mendung hanya ada bulan sabit. Dan angin berhembus dengan sangat pelan, menggelitik tengkuk dan membelai helaian rambut biruku.

Membisikkan adanya tanda bahaya. Karena aku sempat mencium bebauan tidak enak yang dibawa oleh angin itu.

Wah, suasana seperti ini sangat menegangkan.

Aku berjalan dengan perasaan agak was-was. Aku merasa seperti diperhatikan oleh banyak pasang mata di setiap langkahku. Mungkin akan ada laron yang terbang mengelilingiku.

Dan kau pernah mendengar bahwa ada yang mengatakan laron itu adalah perwujudan dari kuku mayat? Oke, aku hanya mengingatkan. Bukan berarti apapun.

Meskipun suasana sudah semakin terasa dingin, aku sudah terbiasa dengan suasana ini. Jadi aku tetap akan mencari ponselku sampai dapat kecuali jika—

"KAITO-KUN!"

Aku terkejut mendengar jeritan Kikaito itu. Aku menoleh ke arah rumah di mana aku bisa melihat cowok autis itu berada di depan jendela kamarnya. Wajahnya sangat pucat, dan aku tahu bahwa pasti ada sesuatu yang terjadi.

Sesuai dengan dugaanku.

"Kembalilah! Kumohon kembalilah SEKARANG JUGA!"

Aku tidak mengerti kenapa Kikaito harus berteriak sehisteris itu (apalagi sampai matanya melotot-lotot seperti itu). Tetapi sekali lagi. Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Lalu aku segera berlari dari tempatku berdiri.

Tetapi berhubung posisiku saat itu lumayan jauh dari rumah, jadi aku tidak bisa langsung sampai. Dan di tengah jalan ketika aku hendak keluar dari kebun, aku sempat melihat ada sesuatu yang berwarna merah di depanku—


.

.

.

.


Hell, kenapa aku sering sekali pingsan?

Tapi, tunggu. Padahal aku sudah sadar, tetapi aku belum bisa membuka mata. Aku belum bisa bangun. Apa yang terjadi?

Hei?

Dan samar-samar, aku mendengar suara orang-orang yang berbicara. Setelah beberapa saat membiasakan telingaku dengannya, akhirnya aku sadar bahwa itu adalah suara Kikaito yang berbicara dengan orang tuanya.

"... sudah berapa kali kubilang, jangan..."

"... aku tidak..."

"... dia sekarang diikuti..."

"... aku tidak tahu."

Apa?

Aku semakin bingung dan tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Meskipun aku tidak tahu, aku merasa bahwa mereka sedang membicarakanku.

Ya Tuhan aku ingin bangun sekarang juga!

Kemudian perlahan, akhirnya aku bisa membuka mata.

Ketika membuka mata, aku mendapati diriku berada di dalam kamar tidurku.

Tapi anehnya, selain mendapati jendela yang terhalang gorden dan pintu yang tertutup rapat, tidak ada siapapun di sekitarku.

Padahal rasanya baru saja aku mendengar suara Kikaito yang berbicara. Suaranya terdengar sangat dekat tetapi kenapa mereka tidak ada?

Ah, mungkin sebenarnya mereka ada di luar kamar ini?

Kemudian dengan rasa penasaran, aku mencoba bangun. Aku melirik pada jam digitalku. Jam 3 malam. Dan seketika aku teringat lagi dengan kejadian di kebun tadi.

Yang tadi itu... apa? Ia seperti bukan manusia. Atau mungkin dia memang bukan manusia.

Tadi melihat sosok itu, aku langsung pingsan. Itu membuatku sungguh penasaran. Sumpah.

Tapi mungkin sekarang bukan saat yang tepat untuk memikirkannya. Karena sekarang aku harus mencari Kikaito dulu.

Lalu aku beranjak dari tempat tidur—dan rasanya aneh. Aku merasa langkah kakiku terasa begitu ringan dan melayang seolah aku berjalan tidak menapak tanah. Aku melirik ke bawah kakiku. Fiuh, masih menginjak tanah. Berarti itu hanya efek dari pingsan barusan.

Aku berjalan ke arah pintu. Dan membuka pintu itu.

Dan aku rasa mungkin seharusnya aku tidak membuka pintu itu. Karena begitu membuka pintu, aku merasa bulu kudukku merinding seketika.

Baiklah, sekedar informasi saja. Dari pintu depan, ada ruang tamu. Dari ruang tamu, ada dua jalur. Yang satu menuju dapur, dan yang lainnya menuju kamar-kamar yang ada di lantai 2. Untuk menuju lantai 2, kita harus menaiki tangga (karena tidak mungkin juga kita terbang untuk menuju ke sana). Ada 4 kamar tidur; milik orang tua Kikaito, milik Kikaito, dan sisanya kamar tamu. Semua kamar diposisikan dalam satu deret. Kamarku ada di sebelah kamar Kikaito.

Dan arah tangga membelakangi pintu utama.

Jadi begitu aku membuka pintu kamar, kegelapan yang menyambutku. Begitu gelap, begitu hening. Aku semakin terkejut dan ngeri bahwa ternyata tidak ada Kikaito atau siapapun di sini.

Apakah yang barusan kudengar itu hanya ilusi?

Kemudian tanpa cahaya lampu, aku perlahan berjalan menjauhi kamarku sembari menutup pintu. Aku mulai membiasakan mataku dengan gelap, sementara melangkah dengan hati-hati.

Aku tiba-tiba berinisiatif untuk merogoh kantong bajuku. Siapa tahu ada sesuatu yang berguna. Dan benar saja, aku ketemu senter.

Dan kau tahu apa yang terjadi ketika aku menyalakan senter?

Tiba-tiba seekor kelelawar lewat di hadapanku.

Sebenarnya kelelawar tidak akan berbahaya selama kau tidak mengganggunya. Hanya saja kehadirannya yang tiba-tiba barusan membuatku cukup terkejut.

Fuh, yang tadi itu nyaris saja.

Aku masih bisa melihat kelelawar itu terbang di sekitarku. Ia kemudian terbang dan menengger di jendela rumah yang terbuka. Menampakkan lingkungan luar yang begitu gelap seolah tidak ada penerangan sedikitpun.

Seolah di dalam kegelapan itu, ada sesuatu yang sedang bersembunyi. Menunggumu untuk bergerak, menunggu untuk menerkammu. Seolah hidupmu hanya bergantung pada waktu yang berjalan.

Kemudian aku kembali fokus pada senterku. Ini senter yang kupakai saat mengelilingi kebun stroberi tadi. Ah sudahlah. Daripada tidak ada penerangan sama sekali.

Tiba-tiba lagi, lampu di lantai 1 menyala. Aku terkejut tapi bersyukur karena aku tidak perlu memakai senter sebagai peneranganku karena jelas saja cahaya yang dihasilkan oleh lampu ruangan lebih terang daripada lampu senter.

Lalu aku berpikir, mungkin itu Kikaito dan orang tuanya. Jadi aku cepat-cepat mematikan senterku, dan berjalan menuruni tangga dengan tergesa-gesa.

Tanpa mempedulikan bahwa aku mulai mencium bau busuk yang sangat, dan hawa dingin semakin membiusku. Aku tidak tahu bau apa itu tetapi aku tidak peduli karena aku ingin segera bertemu dengan Kikaito.

Namun ketika aku ingin menginjak anak tangga terakhir, ada sebuah siluet yang begitu cepat menghampiriku dari suatu arah.

Itu sosok yang kulihat di kebun tadi.

Aku ingin mundur dan menjauh darinya, tetapi aku kurang cepat dan malah ditangkap olehnya.

Kau harus tahu bahwa sosok yang kini sedang mencekekku itu memiliki wajah yang hancur seperti dikuliti dengan sesuatu seperti darah yang menyelimuti seluruh kepalanya. Rambutnya terlihat habis dicukur. Dan dia tidak punya bola mata.

Jadi yang paling kulihat selama aku dicekek olehnya adalah dua lubang besar yang seharusnya diisi oleh bola mata. Karena wajahnya terlihat seperti dikuliti, kau bisa melihat daging yang membusuk dari sana. Oh, pantas saja dari atas tangga tadi, aku mencium baunya.

Ketika aku panik dan berusaha untuk melepaskan diri dari kedua tangannya yang terlihat gosong, dalam keadaan mulai kehabisan napas karena cekekannya yang sangat keras, aku sempat mendengar ia menjerit tertahan dengan suara yang menyeramkan.

"Jangan... pergi...!"

"Kaito-kun...!"

Mendengar panggilan itu, aku langsung kehilangan kesadaran—lagi.


.

.

.

.


Aku langsung memelototkan mataku. Aku bisa merasakan seluruh tubuh dan wajahku basah dengan keringat dingin. Dengan napas ngos-ngosan, aku melihat ada Kikaito di depan mataku.

Oh syukurlah. Akhirnya aku bertemu dengannya lagi.

"Kaito-kun, kau baik-baik saja?"

Ia bertanya pelan, terlihat sekali wajahnya sangat khawatir. Alih-alih menjawab, aku memperhatikan sekeliling dengan napas yang sudah mulai kembali stabil.

"Di mana... aku?" Aku tidak menyangka suaraku akan terdengar seperti tikus yang mencicit saking takutnya.

Jujur, aku sangat ketakutan karena kejadian mengerikan tadi. Mungkin itu hanya mimpi karena sekarang aku tersadar di tengah kebun di mana aku pertama kali pingsan tadi.

Kupikir aku akan benar-benar mati di tangan monster itu...

Tapi tunggu.

Aku segera memeriksa tubuhku, takut kalau-kalau sebenarnya aku sudah mati dan kini hanya berupa roh. Tapi dipikir-pikir kalau aku sudah mati, kenapa Kikaito masih bisa melihatku?

"Kaito-kun, apa itu?"

Kikaito menunjuk padaku dengan wajah ngeri, lebih tepatnya pada leherku. Ketika tanganku perlahan meraba permukaan kulit leherku, aku merasa jantungku seolah berhenti berdetak.

Aku merasakan rasa sakit yang membakar di sana. Seperti habis dicekek oleh sesuatu yang sangat keras.

Berarti, yang terjadi di dalam mimpi itu bukan hanya sekedar mimpi...

Aku mengernyit kesakitan sebagai responnya. Pantas saja aku tidak bisa bernapas dengan benar dari tadi.

"Kaito-kun, ayo bangun pelan-pelan. Kau harus istirahat."

Aku pun mengangguk, dan bangun sambil dituntun olehnya. Aku merasa kakiku keseleo, tetapi sekarang aku tidak ingin memikirkan kenapa itu bisa terjadi.

Aku hanya ingin tidur, melupakan semua mimpi buruk ini. Dan pulang ke apartemenku yang nyaman meskipun tetap saja ada aura mistis-mistisnya.

Sampai di dalam rumah, aku disambut oleh kedua orang tua Kikaito yang tidak kalah terkejut dan khawatirnya. Mereka langsung merawatku malam itu juga, dan aku pun tidur di kamar Kikaito.

Tetapi yang paling aneh, mereka sama sekali tidak bertanya kenapa aku bisa mengalami hal seperti ini. Seolah hal yang sudah kualami ini adalah sesuatu yang sudah bisa mereka tebak.

Dan apa ini hanya perasaanku saja? Ketika aku hendak naik tangga, aku melihat ada sosok monster tadi sedang tersenyum lebar di belakang pintu depan.

Seolah ia berbisik tanpa suara, padaku.

"Kena kau."


.

.

.

.


"Fuh, bagaimana liburanmu, Shion? Apa ada sesuatu yang menarik?"

Akhirnya aku sudah pulang ke kota karena liburan telah berakhir. Begitu bertemu Kamui, hal pertama yang ia ucapkan padaku adalah kalimat barusan. Dan kau tidak perlu bertanya, seringai itu kembali menghias wajahnya.

Hari itu kami duduk di kantin. Kami duduk di meja agak pojok, di mana tidak terlalu banyak orang yang lalu-lalang. Dibilang sedang berada di kantin pun, kami tidak membeli makanan atau minuman apapun. Hanya sekedar nongkrong saja.

"Haha begitulah." Aku hanya tertawa miris menanggapinya. Liburan kali ini adalah liburan yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Luka cekekan itu masih bisa kurasakan, meskipun tidak begitu terlihat lagi di leherku yang kuselimuti dengan syal.

"Oh, dan hasil ekspedisimu kali ini adalah luka lebam di sekeliling lehermu itu?"

Sudah kuduga Kamui pasti masih bisa melihatnya. Meskipun aku sudah menutupinya sebisa mungkin.

"Apa yang kau temui di sana?"

"Oh sudahlah. Aku tidak ingin mengingatnya."

Mungkin aku tidak akan pernah ingin mengunjungi rumah keponakanku lagi. Karena, yah, sejujurnya aku trauma.

"Apa kau bawa oleh-oleh?"

Tanpa menjawab apapun, aku mengeluarkan ponselku—yang akhirnya kutemukan secara misterius di atas meja lampu di kamar Kikaito pada pagi harinya, padahal sebelumnya aku tidak melihatnya sama sekali—dan ia pun menyambutnya. Karena ia pasti paham apa yang kumaksud.

Aku sempat memotret-motret di sana. Seperti memotret perkebunan, dan rumah Kikaito. Termasuk juga berfoto selfie dengan keponakanku itu di depan rumahnya.

"Kau berlibur di perkebunan seperti ini? Aku juga ingin sekali-sekali ke sana." Entah kenapa saat ia mengatakannya, aku tidak melihat ekspresi apapun di wajahnya.

Aku tidak menjawab dan hanya memperhatikannya yang sedang menggeledah ponselku.

"Trus, tanganmu itu kenapa?"

Aku menatap pada tangan kanannya yang diperban.

"Oh? Ini hanya karena aku yang terlalu agresif bermain api kemarin. Hahaha." jawabnya santai tanpa berhenti mengeksplorasi isi ponselku.

"Oh, begitu."

Kemudian tiba-tiba tangannya berhenti menekan-nekan tombol ponselku. Aku bisa melihat raut wajahnya menegang dan matanya agak melebar, seolah-olah ia melihat sesuatu yang menyeramkan di dalam ponselku itu.

"Shion."

"Ya? Kenapa?"

"Kenapa kau berfoto dengan mayat di sini?"


.

.

.

.


Aku baru sadar bahwa selama liburan kemarin, aku tidak menginap di rumah Kikaito. Awalnya ia memang tinggal di situ, tetapi kemudian pindah ke daerah lain pada saat ia hendak memasuki masa SMA. Yang berarti bahwa ia sudah pindah jauh sebelum aku berlibur di sana.

Kau bertanya apa yang sebenarnya sudah terjadi selama ini?

Ternyata rumah itu dibeli oleh seorang saudagar yang bujangan (jomblo, kalau kau tidak mengerti dengan kata barusan). Namun kemudian rumahnya kerampokan dan dibakar. Saudagar itu sempat disiksa sebelum akhirnya dibiarkan mati terbakar di sana.

Setelahnya, rumah itu dirobohkan dan dijadikan perkebunan. Kamui—yang ternyata juga mencari informasi mengenai tempat berliburku yang terlalu menyenangkan itu—mengatakan bahwa para pekerja kebun itu terkadang mendengar suara jeritan mengerikan dari sana. Entah itu siang maupun malam.

Dia juga mengatakan bahwa yang dia lihat di foto selfie-ku dengan 'Kikaito' itu adalah aku yang berfoto dengan sesosok mayat—yang klasifikasinya sangat mirip dengan sosok monster yang terus menghantui mimpiku dari liburan lalu—dengan background kebun pohon pisang di belakang kami. Padahal sebelum ia melihatnya, aku masih melihat foto itu biasa-biasa saja.

Aku menceritakan semua ini pada Kikaito yang sebenarnya setelah aku mengetahui bahwa ternyata ia tinggal tidak jauh dari apartemenku. Ia tidak merespon apapun kecuali wajahnya yang langsung berubah jadi ungu saking pucat dan ngerinya.

Sial...

Oh Tuhan. Kumohon, apakah ada mimpi yang lebih buruk dan mengerikan daripada ini?


.

.

.

.


To be continued.


.

.

.

.


Balesan review :


Seiyuu-hime to Aoi-kishi : Yah, itu ambigu... kalo gak inget ini fanfic "no yaoi", itu sudah kubikin jadi adegan shounen-ai beneran. XD /nak

Kalo Kaito dibikin meluk Gakupo, ntar kasihan Len dan Yuuma jadi merasa jones bertubi-tubi. /apaandah

Ini udah di-update. Makasih udah review. Maafkan karena update-nya begitu lama. :D


Seijuurou Eisha : Nyahaha, asal jangan tunjuk ke hantunya aja. :D /apaan

Oke, ini udah lebih dibikin detail ke-horror-annya. Apa udah semakin terasa? =w=

Makasih udah review! Maaf update-nya lama. :D


Xinon : Iiih, review-mu bikin aku gemes. /apamaksud

Yaudah, ntar gua bikin Yuuma nge-raep Kaito. /nak

Di sini Kaito gak kesurupan... cuma "digangguin" aja kok. XD

Makasih udah review! ^^


kamui shion : Sampai review 2 kali... saya terharu... makasih... /ambil syal Kaito buat mengusap ingus/ Gak apa-apa kok, banyak-banyak review aja. Luapkan semua yang kamu rasakan... (halah, bilang aja modus minta dipenuhin kotak reviewnya)

Saya gak tau harus ngomong apa. Pokoknya selama saya masih bisa mengetik dan masih punya minat pada cerita horror, fanfiksi ini akan terus berlanjut sampai kapanpun. /eaaa

Suka GakuKai ya? Eciee, yang suka sama es terong (?). /apaandah

Kali ini idenya agak buntu, jadi cuma bisa 1 chapter... tapi baca deh A/N di bawah, semoga kokoro-nya sedikit terhibur. XD

Makasih banyak udah review! ^^


Kagawita Hitachi : Di depan jendela itu masih teringat di benak saya, btw. DX

Semoga aja chapter kali ini horror-nya lebih terasa. Soalnya ini bikinnya tengah malam, biar makin greget. =w=

Oke, makasih udah review! ^^


Nurul Fadhillah : Cius miapah? /bahasaapadek

Hwahahaha, Yuuma itu terlalu ketje untuk dibikin jadi hantu. Makanya saya gak tega. :D /apaan

Hahaha, makasih udah review. ^^


A/N : Halo, lama gak ketemu... /sembunyi di belakang Kaito/ Maaf, maaf banget... baru bisa update hari ini. Soalnya... yah... biasalah... /apanya

Hampir semua yang terjadi di sini adalah kisah nyata, kecuali monsternya yang di cerita aslinya sebenarnya adalah siluman ular. Monster berdarah itu terinspirasi dari monster yang muncul di Silent Hill Mobile 2.

Ehm, sebelumnya, makasih buat yang sudah mengikuti WHBY sampai sejauh ini, dan memberikan feedback yang ketje-ketje. Entah dengan RnR, atau cuma Read doang, atau nge-fav, atau nge-follow, atau cuma dengan Review aja. /mana ada/ Pokoknya, makasiiiih banyak, minna. Ai lope yu all. ^^ /nak

Oke... berkenan untuk review? Kali ini janji deh, update-nya akan lebih cepat. =w= /apaandah

(Berita gembira untuk para GakuKai lovers : Bulan ini, saya mau publish fanfic GakuKai. Mohon didoakan semoga gak ada halangan.)

WHBY8. 07032015. YV