.

.

.

.


Kesenangan di Antara Dua Dunia

What's Happening Beside You—

Chapter 11 . My Childhood Friend

The Creation-Story © Yoshina Vanatala

VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua


.

.

.

.


Kalian pernah dengar teman hantu masa kecil?

Atau mungkin... kau pernah berteman dengan hantu semasa kanak-kanak? Kalau benar, apakah sampai sekarang kau masih berteman dengannya?

Aku sendiri tidak pernah mengalaminya. Hidupku bebas dari gangguan mereka. Hahaha. Sedikit disayangkan sih, tapi kurasa lebih baik itu tidak pernah terjadi dalam hidupku.

Rasanya Kamui pernah membahas mengenai ini. Dia punya teman hantu saat ia berumur 8 tahun.

"Dia laki-laki," Kamui bercerita. "Penampilannya seperti kita. Dia sama sekali tidak terlihat seperti hantu. Makanya dulu aku bisa berteman dengannya.

"Pertama kali aku bertemu dengannya adalah saat aku membongkar gudang rumahku. Aku melihatnya berdiri di pojok ruangan. Awalnya aku kaget dan aku sempat berpikir dia itu hantu. Tapi dia punya wajah, anggota tubuhnya lengkap, tidak ada bekas-bekas mayat. Pokoknya dia seperti manusia. Dan karena dulu aku juga masih bocah, jadi aku berpikir dia memang benar-benar manusia.

"Kami berteman akrab. Setiap hari kami bermain di gudang rumahku. Anehnya, aku tidak pernah terpikir kenapa dia bisa ada di dalam rumahku sementara orang tuaku sendiri tidak pernah bercerita.

"Dan ketika aku hendak pindah ke apartemen, dia sempat menangis dan memaksaku untuk tetap tinggal di rumah lamaku. Lalu aku menghiburnya dan berkata aku akan sering-sering pulang untuk mengunjunginya.

"Tapi ada satu hal yang membuatku baru sadar bahwa dia adalah hantu." Dia menjeda ceritanya sebentar. Dan tersenyum miring. "Dia mengajakku untuk mati dan pergi bersamanya."

"Lalu? Apa kau menerimanya?" Aku bertanya.

"Kalau aku menerimanya, seharusnya aku sudah tidak ada di sini sekarang, Shion." Dia tertawa mengejek. "Aku menolaknya secara halus. Dan aku bersyukur dia mau menerima penolakanku itu. Dan ya, sepertinya dia mengikutiku sampai ke sini. Terkadang aku akan melihat penampakannya sekilas di apartemenku, tapi ketika aku ingin melihatnya untuk kedua kalinya, dia sudah tidak ada. Dia masih terlihat anak-anak, karena tentu saja, hantu tidak pernah tumbuh."

Aku sedikit terpukau dengan pengalaman Kamui. Dan aku berpikir dia memiliki masa kecil yang sangat berbeda dengan kebanyakan anak-anak lainnya.

Tapi begitulah anak-anak. Mereka tidak pernah terpikir mereka sedang berteman dengan siapa. Tidak heran mereka akan berteman dengan hantu-hantu berwujud abstrak, dan kalau salah melangkah, mereka bisa dibawa pergi oleh teman hantu mereka tersebut.

Dan sore ini aku kedatangan tamu yang ingin menitipkan putrinya padaku.

"Kaito-kun, bisakah aku titip Yuki-chan selama aku pergi? Tolonglah, hanya sampai besok saja!"

Aku memperhatikan wanita muda di depanku ini dengan alis terangkat sebelah. Namanya Sakamoto Mew, wanita berambut hitam panjang yang memiliki tubuh semampai. Dia tinggal di lantai yang sama denganku. Kami sering bertegur-sapa ketika berada dalam satu lift. Dia adalah seorang wanita karir, katanya dia baru bercerai dengan suaminya beberapa minggu lalu—bukan berarti aku senang bergosip jadi bisa tahu dengan hal itu. Aku hanya kebetulan mendengarnya dari ibu-ibu yang sering berada di lantai dasar apartemen.

Tapi setelah bercerai itu, suaminya tiba-tiba menghilang entah ke mana. Tidak ada yang tahu. Ada yang berpresepsi, mungkin dia mencoba menenangkan diri di luar daerah. Tapi lenyapnya suami Sakamoto adalah hal yang sangat tiba-tiba dan entah kenapa menurutku agak ganjil.

Sakamoto pasti kerepotan mengurus anaknya sendirian.

Kemudian tatapanku beralih pada putrinya. Namanya Kaai Yuki, dengan namanya masih mengikuti marga ayahnya. Sama seperti ibunya, dia memiliki rambut hitam yang legam. Hanya saja, dia mengikatnya ala twin-tails. Mata krim kecoklatan miliknya yang besar itu menatapku dengan bingung. Mungkin dia berpikir, apakah orang ini sungguh bisa merawatnya selama ibunya pergi.

"Kaito-kun?"

"Err, aku kebetulan sedang tidak ada jadwal kuliah sih, t-tapi aku—"

"Kumohon, Kaito-kun. Aku tiba-tiba dikirim oleh atasanku ke daerah lain, dan aku tidak bisa membawa anakku selama itu."

Aku lama-lama jadi tidak tega, apalagi mendengar suaranya yang memelas itu. "Uhm, baiklah..."

Dan aku tahu, dia tidak punya sanak-saudara di kota ini.

"Benarkah? Terima kasih banyak, Kaito-kun!" Kemudian dia menuntun putrinya, dan memberikan sebuah tas berukuran sedang padaku. "Segala keperluannya ada di dalam tas ini. Kalau ada apa-apa, ini nomor teleponku. Maaf aku terburu-buru karena sebentar lagi pesawatnya sudah take-off."

Lalu dia menunduk agar bisa sejajar dengan putri tunggalnya. "Yuki-chan, Mama pergi dulu. Hari ini, Yuki-chan main sama Om Kaito ya. Besok pagi, Mama jemput Yuki-chan."

Setelah melakukan salam perpisahan, dia berdiri dan pergi begitu saja dengan langkah tergesa-gesa. Aku memperhatikan siluetnya yang perlahan menjauh dan lenyap di balik pintu lift.

Lalu aku menoleh ke sampingku. Aku melihat anak itu terlihat diam, tapi wajahnya seolah-olah mengatakan "jangan pergi". Yang membuatku kagum, dia sama sekali tidak terlihat ingin menangis.

"A-ano. Namamu siapa?" Aku mencoba untuk mencairkan suasana yang kaku. Dia pun ikut menoleh padaku, dan menatapku dengan polos. "Panggil saja aku... ehm, Om Kaito. Seperti yang dibilang mamamu tadi."

Meskipun ini bukan pertama kali, aku tetap merasa aneh jika dipanggil dengan Om.

Aku merasa kecanggunganku semakin terasa ketika anak itu hanya diam saja memperhatikanku. Tapi pada akhirnya dia menjawabku dengan riang dan ramah, membuatku lega. "Aku Yuki-chan! Salam kenal, Om Kaito!"

"Err... salam kenal juga." Bolehkah aku menggaruk dinding sekarang juga? Aku tidak tahan dengan panggilan itu!

Setelah melewati masa-masa abstrak barusan, kami pun sudah berada di dalam kamar apartemen. Tiba-tiba aku merasakan kepalaku sedikit pening, tapi ah sudahlah.

Dia duduk tenang di ruang tengah dengan bonekanya, sedangkan aku juga berada di sana, memeriksa apa saja yang ada di dalam tas pemberian ibunya. Kebanyakan yang kutemukan adalah pakaian, dan mainan. Meskipun aku yakin sebenarnya selama di sini, dia pasti tidak akan memerlukan baju ganti. Ada juga buku gambar, dan peralatan menggambar. Aku penasaran anak ini berapa umurnya.

"Yuki-chan umurnya berapa?" Aku bertanya.

Dia menoleh padaku sekilas, kemudian sibuk lagi dengan dunianya. "Umurku 8 tahun."

"Oh, berarti sudah sekolah?"

"Iya."

"Oh."

Kemudian hening. Aku yang pada dasarnya adalah orang yang tidak terlalu suka berbicara, tidak tahu harus bicara apa lagi untuk menyambung percakapan kami.

Aku diam memperhatikan bagaimana dia bermain dengan bonekanya. Boneka berbentuk anak perempuan itu memiliki rambut pirang, tapi entah kenapa seperti terkena sesuatu sehingga ada bekas noda hitam di beberapa bagian. Setidaknya itulah bagian teraneh dari boneka tersebut.

"Hei. Yuki-chan suka apa?" Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, jadi aku hanya bisa menanyakannya. Kalau aku tahu apa yang dia sukai, setidaknya pembicaraannya jadi lebih lancar, bukan?

Dia awalnya terdiam, lalu dia menatap padaku dengan tatapan senang. "Aku suka menggambar!"

Dia menaruh bonekanya di atas meja, langsung menarik tas yang diberikan ibunya padaku tadi, dan mengambil buku gambar beserta peralatan menggambar. Dia mengambil pensil dan penghapus, dan mulai menggambar di atas kertas buku gambar. Aku bisa melihat, dia menggambar penuh dengan antusias.

"Taraa! Ini gambar bunga!" Dia memperlihatkan hasil gambarannya padaku. Di sana tergambar setangkai bunga aster.

Meskipun tidak bisa dibilang sangat bagus, setidaknya itu termasuk lumayan bagus untuk anak seumuran dia. "Wah, bagus sekali, Yuki-chan!" Aku memujinya. Dan dia menimpalinya dengan senyum polosnya.

"Hehehe, makasih, Om Kaito!"

"Nah, coba gambar bagaimana keluarga Yuki-chan!" Walaupun orang tuanya sudah cerai, seorang anak akan menganggap orang tuanya masih utuh, bukan?

Aku terkejut melihat dia terdiam dan matanya sedikit melebar. Tapi kemudian matanya menjadi normal. Dia mengalihkan kepalanya dariku dan kembali menggambar di atas kertas buku gambarnya.

Seharusnya aku tahu untuk tidak memintanya menggambarkan bagaimana keadaan keluarganya.

Dia memperlihatkan gambarannya padaku. Di sana, ada seorang anak kecil yang sedang tersenyum dan aku yakin itu adalah Yuki-chan sendiri. Di sebelah kanannya ada ibunya yang ikut tersenyum juga.

Dan di sebelah kirinya ada seseorang tanpa kepala.

"Euhm, ano. Yuki-chan? Ini gambarannya belum selesai?"

"Sudah selesai kok!"

"Tapi, ini yang di sebelahnya Yuki-chan... papa Yuki-chan, 'kan?"

"Iya!"

Aku merasakan tengkukku merinding melihatnya.

Apa maksud anak ini dengan menggambarkan ayahnya tanpa kepala begini?

"Kenapa kepalanya gak ada?"

"Hehehe, soalnya kepalanya sudah dipotong sama Mama!"

HAH.

"Yuki-chan. Jangan ngomong gitu. Gak baik. Gak mungkin mamamu melakukannya." Aku tetap bersikeras berpikiran positif meskipun aku yakin anak ini tidak mungkin berbohong. Tapi nyatanya, suara yang keluar dari mulutku ini terdengar seperti mencicit saking merindingnya.

"Soalnya Papa sudah jahat! Bikin Mama sakit hati terus! Makanya kepalanya Mama potong supaya gak bikin Mama sakit hati lagi!"

Aku yakin pasti ada yang salah dengan anak ini.

Jadi aku hanya terdiam setelah mendengarkannya, memelototi gambarannya yang super sekali ini. Kemudian aku menyadari sebuah pergerakan darinya, jadi aku mengalihkan pandanganku dari gambaran ini. "Yuki-chan mau menggambar apa?"

"Aku mau menggambar temanku!"

Oh, aku berharap semoga saja yang kali ini sedikit lebih waras.

Tapi setelah ia selesai menggambar, lagi-lagi aku dikejutkan oleh sesuatu yang sangat luar biasa.

Di dalam gambarannya, ada sebuah rumah sederhana, lalu di sebelahnya ada pepohonan. Di depan rumah tersebut ada Yuki-chan yang tersenyum.

Aku harus pakai kalimat apa untuk mendeskripsikan sisanya ini?

Di sebelah gambar Yuki-chan di sana, ada sesosok yang aku tidak tahu apa itu. Bentuk tubuhnya seperti manusia, tapi berwarna hitam pekat dan tidak terlihat mana kepala mana badan.

"Ini temanku!" Dia menunjuk sosok abstrak di gambarnya itu, dengan senyum lebar di wajahnya. "Dia baik loh! Dia selalu menghiburku kalau aku dimarahi sama papa!"

Aku melongo melihatnya. Dan aku lebih menganga saat dia melihat ke salah satu sudut ruang tengah. Tangannya melambai-lambai, padahal tidak ada apa-apa di sana.

Bukan. Tidak terlihat apapun. Aku merasakan sesuatu di sana. Atau mungkin aku hanya terbawa suasana saja?

"Namanya Miya-chan loh! Miya-chan, ini Om Kaito!"

Sampai sejauh apa anak ini bisa menakutiku.

"A-ahahahahahah iya iya iya salam kenal Miya-san aku Kaito aku tetangga Yuki-chan tenang saja aku takkan menyakitinya."

Tiba-tiba aku jadi gila karena semua ini. Oke abaikan.

TOK TOK TOK

"A-ah. Ada yang mengetuk. Aku buka pintunya sebentar."

Aku cepat-cepat berdiri dan menghampiri pintu. Aku membukanya dan ternyata ada Kamui.

"Kau ada waktu?" Entah kenapa aku mendengar suaranya terdengar serius. Kupikir ada sesuatu yang terjadi. Tapi ini bukan saatnya memikirkan itu.

"Eng. Masalahnya ada tetanggaku menitipkan anaknya padaku. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja." Aku menggeser badanku, membiarkannya melihat Yuki-chan di dalam.

"Oh. Begitu." Tiba-tiba matanya menyipit memperhatikan sesuatu. Aku tidak tahu tapi kurasa ia melihat teman Yuki-chan.

"Uhm. Kamui. Aku tahu ini sedikit aneh karena terkesan mendadak dan berlebihan tapi apa kau bisa menemaniku di sini? Sebentar aja cuma sampai jam 9 malam kok." Karena jam segitu, Akaito sudah pulang dari kuliahnya.

"Maafkan aku, Shion. Tapi aku ada urusan lain." Suaranya terdengar pelan, dan kemudian dia berbisik, "lagipula dia terlihat langsung membenciku meskipun ini pertemuan pertama kami."

KENAPA SEMUA HANTU BENCI PADANYA. WHY.

Tidak. Bukan itu masalahnya. Aku hanya ingin ada seseorang yang menemaniku di sini. Daripada aku harus berduaan saja dengan anak psikopat ini, atau mungkin bertigaan (?) dengan anak psikopat dan teman hantunya.

Hei, bicara apa aku ini.

Sudahlah. Lagipula, sebentar lagi juga sudah jam 8 malam. Tinggal menunggu satu jam lagi, dan Akaito pun pulang.

Aku duduk lagi di sebelah Yuki-chan.

"Yuki-chan. Mau makan?" Sebenarnya aku yang merasa lapar. Tapi karena aku terlanjur merasa takut, jadi aku kehilangan selera makan.

"Uhm!" Dia mengangguk riang. "Aku mau makan roti isi keju..."

"Oh, oke... tapi aku tidak punya daun selada."

"Kejunya aja juga enggak apa-apa kok, Om!"

Sudahlah berhenti memanggilku "Om" seperti itu. Aku jadi merasa tua.

Aku beranjak menuju dapur. Aku memeriksa lemari makananku, dan untunglah masih ada beberapa lembar roti. Aku memang terkadang suka makan rotinya saja tanpa ada bumbu apapun, jadi bukan sebuah kebetulan kalau aku menemukan roti lembaran di dalam lemari makanan.

Lalu aku membuka kulkas mini, mengambil keju lembaran yang entah sejak kapan sudah ada di dalam kulkas.

"Ano, Om Kaito." Aku mendengar suara Yuki-chan. "Buatkan dua roti ya!"

Aku sempat berpikir untuk apa anak ini meminta dua roti. Tapi kupikir lagi, mungkin dia memang punya kebiasaan makan dua porsi sekaligus. Atau mungkin...

Setelah selesai membuat, aku kembali ke ruang tengah. Aku menaruh piring di atas meja, di mana terdapat dua roti isi di atasnya.

"Makasih, Om Kaito!"

"Iya, sama-sa..." Aku tiba-tiba terdiam karena kulihat dia mengambil salah satu roti isi, dan mendorong piring itu ke sampingnya. Masih ada satu roti isi di atasnya.

"Ayo makan bersama-sama, Miya-chan!"

"... ma." Aku lagi-lagi menganga melihatnya. Sementara ia mulai memakan rotinya, aku memperhatikan ke sisi sebelahnya. Tidak ada apapun di sana.

Dia menyadari aku bengong melihatnya sedang makan. "Om Kaito mau juga?"

"A-aku sudah kenyang kok. Haha." Atau lebih tepatnya, kehilangan selera makan. Membayangkan bagaimana aku tidur malam ini saja sudah membuatku kenyang duluan.

Lalu aku mengeluarkan ponselku. Aku berpura-pura sibuk, padahal diam-diam aku memperhatikannya yang sedang makan. Sebenarnya kalau sedang begini, dia terlihat seperti anak-anak yang polos. Tapi siapa sangka kalau anak ini kemungkinan besar abnormal dan bahkan memiliki teman hantu.

Aku menulis sesuatu di akun sosial mediaku; "Seseorang tolong aku orz"

Tiba-tiba ponselku berbunyi nyaring di genggamanku. Aku sendiri kaget mendengarnya. Dan ternyata Kagamine meneleponku.

"Halo, Kaito-saaaaan. Aku boleh ke apartemenmu, gak?"

"Eh, baiklah. Silakan..."

"Okeee! Aku langsung ke apartemenmu ya!"

Telepon langsung diputus. Entah kenapa aku masih terhenyak mendengar suara Kagamine yang tentu saja terdengar selalu bersemangat.

TOK TOK TOK

Tidak sampai 5 menit, pintu kembali diketuk oleh seseorang. Aku spontan berdiri, dan menghampiri pintu.

Oh, kau sungguh penyelamatku, Kagamine!

"Hai, Kaito-san! Selamat malam!"

Kalau aku tidak ingat dengan situasi, aku pasti sudah memeluknya saking senangnya.

"Oh, Kagamine-san. Silakan masuk." Aku buru-buru menariknya ke dalam apartemenku.

Aku bisa melihat, Kagamine tampak terkejut melihat ada Yuki-chan yang sedang duduk." Loh, ada anak kecil?"

"Dia anak tetanggaku. Namanya Kaai Yuki." Aku memperkenalkan Yuki-chan padanya. "Yuki-chan. Ini Kagamine Len."

"Hai! Salam kenal, Yuki-chan!" Di tengah suasana suram yang sempat membayangiku, aku perlahan mulai merasakan adanya situasi menyenangkan yang dibawa oleh Kagamine. Aku bersyukur, sungguh.

"Salam kenal juga, Kak Len!"

OH AYOLAH DIA HANYA BERBEDA DUA TAHUN DARIKU TAPI KENAPA DIA DIPANGGIL "KAK" SEDANGKAN AKU TIDAAAAK.

Ya Tuhan, kenapa aku jadi begitu histeris malam ini.

"Oh iya, Kagamine-san. Omong-omong ada apa tiba-tiba mau ke sini?"

Kagamine langsung menoleh padaku, dan menyeringai lebar. Kemudian dia duduk di sebelah Yuki yang sedikit bergeser menjauh dari Kagamine.

"Awalnya aku hanya ingin berkunjung. Yah, kakakku lagi PMS, jadi dari tadi siang, dia selalu marah-marah padaku. Mentang-mentang cuma ada aku di rumah," gerutunya dengan raut wajah cemberut, namun itu tidak lama karena kemudian dia menunjukkan wajah yang antusias. "Tapi aku menemukan suatu hal luar biasa yang ingin kutunjukkan padamu."

"Apa itu?"

Dia menatapku, kemudian beralih pada Yuki-chan. Mungkin tiba-tiba dia merasa ragu untuk menunjukkannya karena ada anak itu di ruangan ini. "Err... nanti aja deh. Ada Yuki-chan di sini."

"Gak apa-apa kok, Kak Len!" Yuki-chan sendiri memperhatikan Kagamine dengan antusias, mungkin hampir menyamai keantusiasan Kagamine. "Memangnya mau menunjukkan apa sih?"

"Uhm," Kagamine bergumam seraya menolehkan kepalanya lagi padaku. "Aku hanya ingin tanya, apakah kau tahu benda apa ini?"

Aku awalnya hanya mengangkat sebelah alis karena merasa asing pada benda mini yang diangkat oleh Kagamine dengan tangan yang bersarung tangan itu. Tapi setelah beberapa saat memperhatikan baik-baik, barulah aku menyadarinya—dan terkejut setengah mati.

Itu bukannya jari manusia.

"Aku menemukannya tergeletak begitu saja di atas lantai. Dan lebih parahnya, di dekat kamar apartemenmu ini." Entah kenapa, suara Kagamine yang berubah menjadi menyelidik dan serius itu membuatku menjadi merinding. "Apa akhir-akhir ini ada berita tentang pembunuhan di sekitar sini?"

"T-tidak... aku tidak mendengarnya..." Kurasa Kagamine juga sedang tidak bercanda. Tapi kalau begitu, kenapa dia bisa menemukan benda itu di apartemen ini? Kulihat-lihat, jari itu sudah berwarna sangat pucat, biru, dan bengkak. Malah sepertinya terlihat mulai membusuk. Aku mencium bau tidak enak darinya.

Kuperkirakan, sepertinya jari itu sudah beberapa minggu terpisah dari tempatnya.

"Lalu, darimana itu berasal—"

"Ah? Kak Len dapat di mana?" Seluruh tubuhku membeku saat mendengar suara ceria Yuki-chan. "Pantas saja dari kemarin aku mencari tidak ketemu!"

"Eh?" Kagamine juga tidak kalah terkejutnya denganku. Dia menolehkan kepalanya pada Yuki-chan dan tidak bisa berbuat apa-apa saat bocah psikopat itu mengambil jari itu darinya. "A-apa maksud Yuki-chan..."

"Ini Mama yang kasih! Katanya buat mainan aku!" Kemudian ia menyimpan jari itu ke dalam kantong bajunya. "Makasih ya, Kak Len!"

Aku pun menoleh pada Kagamine. Wajahnya sudah mulai pucat, mungkin sama seperti wajahku saat ini.

Sebenarnya ada apa dengan kejiwaan anak ini.

"Uhm... memangnya itu jari siapa, Yuki-chan?" Kagamine bertanya dengan hati-hati.

"Kata Mama sih, itu jari Papa!"

HAH!

"Kenapa Mama bisa memberimu itu?" Pemuda pirang itu bertanya lagi, kali ini wajahnya mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa ia sudah mulai terbiasa dengan keadaan ini. Sungguh cepat sekali adaptasinya.

Sedangkan aku sendiri rasanya ingin muntah, apalagi setelah mendengar pengakuan Yuki-chan selanjutnya.

"Gini loh. 'Kan Papa mulai mukulin Mama lagi, trus kebetulan ada pisau, jadi Mama nusuk Papa pakai pisau itu deh. Trus, trus, sekalian Mama potong-potong badan Papa! Dan setelah itu, Mama..."

"Kagamine, aku mau ke belakang sebentar." Tanpa mempedulikan apa yang diucapkan oleh Yuki-chan, aku langsung berdiri dan berlari ke kamar mandi.

Ya, di sana aku muntah. Aku gampang merasa mual kalau membicarakan tentang—dalam kasus ini—permutilasian. Aku bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sudah dilakukan oleh Sakamoto-san pada suaminya, dan apa yang sudah diajarkan oleh wanita itu pada anaknya sendiri. Sampai-sampai saja Yuki-chan jadi terkesan seperti psikopat begitu.

Setelah selesai dengan urusanku, aku pun keluar dari kamar mandi. Dan duduk lagi di samping Kagamine.

Entah kenapa setelah aku kembali, suasana menjadi begitu hening.

"Ano, Kaito-san. Maaf, bukannya aku tidak betah di sini, tapi...," dia tiba-tiba berbisik dan mulai berdiri. "Sepertinya aku harus pulang sekarang. Dia menyuruhku pulang."

Dia? Siapa lagi dia ini? Apa jangan-jangan yang dimaksud oleh Kagamine adalah teman Yuki-chan?

Dan kenapa tiba-tiba saja Kagamine langsung memutuskan untuk pulang padahal tadi dia sudah kelihatan mulai betah menginterogasi bocah 8 tahun ini?

Oh Tuhan, suruh Akaito pulang sekarang juga!

"... baiklah. Silakan." Aku hanya pasrah ketika dia membuka pintu dan keluar dari kamar apartemen.

Aku merasakan napasku terhenti saat aku melihat Yuki-chan untuk sekali lagi.

Ada seseorang berdiri di belakang Yuki-chan. Tidak, itu tidak bisa dibilang orang.

Penampakannya persis seperti yang ada di gambaran Yuki-chan tadi.

Oh sial.

"Oh, Yuki-chan! Selamat malaaaam!" Aku sangat terkejut mendengar suara yang nyaring itu, sampai saja aku jatuh menabrak dinding. Oke aku tahu itu berlebihan.

Ternyata Akaito sudah pulang.

"Kak Akaito!" Bocah itu berdiri dan menyambut Akaito dengan sebuah pelukan. Tapi dia hanya mampu memeluk kaki milik Akaito yang jangkung. "Kok baru aja pulang?"

"Aku tadi kuliah. Yah, sampai malam gitu deh." Aku baru ingat, Akaito memang sering bermain dengan Yuki-chan, tapi dia tidak pernah berbicara tentang apa yang selama ini sudah terjadi pada Yuki-chan.

Atau dia kira aku sudah tahu?

"Mamamu mana, Yuki-chan?" tanya Akaito sembari melepaskan pelukan Yuki-chan darinya dengan perlahan. Sedangkan Yuki-chan sendiri tidak keberatan dan kembali duduk di tempatnya semula.

Kulihat, sosok hitam itu sudah tidak ada lagi di sana.

"Mama lagi kerja! Besok pagi baru pulang!"

"Oh gitu..." Dia melihat jam dinding. "Ayo, sudah jam segini. Seharusnya kau sudah tidur dari tadi!"

"Hehehe, tadi ada teman-teman Om Kaito yang datang sih!"

"Hum, yasudah. Ayo kita tidur!"

"Hei, Akaito. Kau sudah makan?"

"Sudah. Tadi di jalan."

Sebenarnya aku hanya basa-basi bertanya seperti itu padanya.

Dan aku sangat bersyukur karena aku tidak harus berurusan dengan Yuki-chan lebih jauh lagi. Tapi aku tidak menyangka bahwa Akaito bisa seakrab itu dengan Yuki-chan.

Jadi pada saat malam, aku tetap tidur sendiri di tempat tidurku. Sedangkan Akaito tidur dengan Yuki-chan di kasur lipatnya—setelah aku bersikeras mengatakan bahwa aku tidak akan mau tidur dengan siapapun. Persetan jika aku disebut kejam olehnya karena membiarkan anak kecil tidur di lantai. Aku hanya tidak ingin terlalu lama berdekatan dengan bocah itu! Itu saja!

Tapi kalau dibilang tidur pun, sebenarnya aku tidak merasa mengantuk sama sekali. Aku merasa sangat gelisah semalaman, karena aku selalu merasa bahwa sepertinya ada sesuatu yang terus-terusan melihatku dari suatu tempat meskipun aku tidak tahu itu benar atau tidak.

Kemudian aku berpikir, mungkin itu teman Yuki-chan. Mungkin dia sedang duduk di pojok kamar ini, memperhatikan temannya yang sedang tertidur pulas dengan Akaito, lalu mengalihkan tatapannya padaku yang sedang berkeringat dingin dan merasa kesulitan dalam meredupkan kesadarannya. Tapi aku berusaha untuk pura-pura tidak tahu dan mencoba sekeras mungkin untuk tidur. Dan pada kenyataannya, aku sama sekali tidak bisa tidur selama itu.

Beberapa saat setelahnya, aku mulai merasa mengantuk. Aku senang karena akhirnya aku bisa tidur, tapi entah kenapa mataku tetap tidak mau menutup sepenuhnya.

Sampai pada saat ada sesuatu yang menyentuh tanganku yang menjulur keluar dari selimut, aku langsung terdiam. Aku bahkan tidak yakin apakah aku bernapas atau tidak. Aku tidak yakin bahwa menarik tanganku pada saat itu juga adalah hal yang bagus. Jadi aku hanya diam, diam, berdoa semoga apapun yang menempel di tanganku ini segera lepas dan pergi sejauh-jauhnya dariku, dan akhirnya aku tertidur—atau mungkin hilang kesadaran. Aku tidak tahu juga.

Keesokan paginya, Yuki-chan dijemput oleh ibunya pagi-pagi sekali. Mungkin sekitar jam 5 pagi.

"Terima kasih banyak sudah menjaganya tadi malam, Akaito-kun. Aku benar-benar terbantu karena kemarin sore, bosku tiba-tiba memintaku untuk mendatanginya di luar daerah saat itu juga. Dan berhubung penitipan anak sudah tutup, aku bingung mau menitipkan Yuki-chan ke mana karena hari ini dia sudah harus berangkat sekolah."

Saat itu aku baru saja keluar dari kamar dengan keadaan wajah yang aku yakin pasti tidak karuan bentuknya karena tidak bisa tidur semalaman. Untung saja hari ini aku tidak ada jadwal kuliah, jadi aku bisa melanjutkan tidurku lagi setelah semua ini selesai.

"Hahaha, iya. Tidak masalah kok, Sakamoto-san! Aku senang bisa membantumu!"

Yaiyalah dia cuma dapat senangnya, sedangkan aku harus menderita karena berhadapan dengan sisi lain dari Yuki-chan yang gelap dan baru pertama kalinya kulihat. Aku bisa stress kalau setiap hari dia berkunjung ke kamar apartemenku.

"Oh iya. Terima kasih juga untuk Kaito-san! Pasti dia yang susah mengurus Yuki-chan tadi malam!" Dia pasti melihat wajahku yang amburadul ini, dan mengira bahwa aku kerepotan dengan putrinya walaupun itu memang benar apa adanya.

Aku hanya mengangguk sekilas. Aku langsung berlalu ke kamar mandi untuk mengecek wajahku. Dan benar saja, aku merasa kasihan pada diriku sendiri karena wajahku terlihat kusam dan kusut sekali pagi ini. Kemudian aku pun memegangi wajahku sendiri—

What.

Apa ini.

Aku terbelalak melihat tanganku sendiri.

Oke. Aku tahu aku adalah orang yang tertarik untuk mengetahui bagaimana kehidupan para hantu dan roh. Aku bahkan sering mengikuti ekspedisi supranatural yang dipimpin oleh Kamui. Aku sering mengalami hal-hal mistis yang aku tidak tahu kenapa harus menimpaku.

Dan aku tidak tahu kenapa pagi ini, aku harus mendapati tanganku sendiri berlumuran darah segar. Entah darah siapa.


.

.

.

.


Sampai saat ini, Yuki-chan dan teman hantunya itu masih merupakan misteri bagiku. Bahkan ketika kutanya tentang suami Sakamoto-san pada Akaito pun, dia hanya menjawab tidak tahu. Entah itu benar atau tidak.

Tapi yang pasti, semenjak saat itu, aku tidak pernah melihat Yuki-chan lagi. Aku tidak tahu apakah aku saja yang tidak melihatnya, atau memang dia yang tidak ada di apartemen ini lagi.


.

.

.

.


To be continued.


.

.

.

.


15062015. WHBY11. YV