::::::::::::::::::::::::::::::.
.
.
.
::::::::::::::::::::::::::::::
Kesenangan di Antara Dua Dunia
—What's Happening Beside You—
Chapter 15 . The Park
The Creation-Story © Yoshina Vanatala
VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua
::::::::::::::::::::::::::::::
.
.
.
::::::::::::::::::::::::::::::
"Shion, kau mau ikut?"
Aku pun tersadar dari lamunanku. Aku menoleh dan mendapati Kamui ternyata sedang berbicara denganku.
"Ikut ke mana?" Aku bertanya.
"Ke taman."
"Fuh. Aku bukan homo. Jangan membuatnya terdengar seperti kencan." Aku spontan mendengus.
"Memangnya siapa yang bilang ini kencan?" Dia mengangkat alisnya. Mungkin dia heran darimana datangnya pikiran aneh itu. "Ini bukan sembarang taman. Nanti malam, aku ingin ke sana. Ada yang ingin kupastikan dengan kameraku."
Aku sudah bisa menduga bahwa dia pasti mendengar sebuah rumor, bahwa terjadi suatu hal mistis di taman yang dia sebutkan itu, jadi dia pun penasaran dan ingin pergi ke sana untuk melihatnya dengan matanya sendiri.
"Oh baiklah. Aku ikut."
Jadi seperti katanya tadi, kami pergi ke sana pada malam hari. Ternyata taman yang dia maksud ada di pinggir kota. Tidak. Ini tidak sama seperti yang terjadi di pertemuan kedua kita. Kali ini, benar-benar sebuah taman. Kebetulan ini malam minggu, jadi masih begitu banyak orang berpasang-pasangan bertebaran di sini meskipun ini sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam.
Aku hanya mengikutinya berjalan. Aku bisa melihat, matanya memperhatikan sekeliling dengan cermat. Seakan-akan mencari sesuatu. Terkadang dia berhenti, terlihat kebingungan. Kemudian berjalan lagi dan mencarinya.
"Shion," dia memanggilku. "Kalau kau menemukan sesuatu, beritahu aku."
Sebenarnya aku tidak paham dengan perkataannya itu, tapi beberapa saat kemudian, kurasa aku tahu apa yang dia maksud.
Air mancur di tengah taman ini adalah tempat yang paling disenangi. Ya, karena biasanya kalau masih banyak orang, pompa di air mancur ini akan tetap menyala. Membuat air di dalam patung itu menjadi bergejolak dan keluar darinya. Membentuk sebuah air mancur yang menurutku lumayan indah.
Aku tidak tahu tapi aku merasa ada sesuatu yang ganjal di sana.
"Mungkin air mancur itu?" Aku berucap padanya. Tapi sedetik sebelum aku mengatakannya, sepertinya dia sudah menyadarinya terlebih dahulu.
Tapi dia malah duduk di pinggir air mancur itu. Aku jelas merasa bingung. Mungkin kali ini aku salah menduga. Kukira dia akan mencoba memotret air mancur itu dengan kameranya, lalu akan menyeringai kesenangan melihat ada sesuatu yang tertangkap olehnya.
"Hei, kau tidak capek berdiri saja di sana?" Dia bertanya sambil mengotak-atik kamera digitalnya. "Duduklah."
Aku pun duduk di sebelahnya.
Sejenak aku memperhatikannya yang mulai memeriksa keadaan sekitar melalui lensa kameranya itu, dan sesekali dia akan memotret apapun dengan angle asal-asalan. Aku memperhatikan dari ekor mataku, foto-foto yang dia ambil kebanyakan buram. Tapi dia sama sekali tidak terlihat kecewa, malah menyeringai seperti biasanya.
Kemudian dia melirik jam taman. Ya, ada jam besar yang berdiri di salah satu sisi taman ini. Setidaknya seluruh orang yang ada di taman ini bisa melihatnya.
"Baiklah. Kita pindah tempat. Sebentar lagi jam 12." Tiba-tiba dia berdiri dan berjalan lagi menjauhi air mancur itu.
"Pindah ke mana?" Lagi-lagi aku tidak dipedulikan olehnya. Baiklah, sepertinya dia sudah mulai menemukan sesuatu yang menurutnya menyenangkan.
Mungkin yang akan dia pastikan ini baru muncul pada saat jam 12.
Kemudian dia duduk di hamparan rumput yang tidak jauh dari air mancur. Permukaannya sedikit miring, jadi masih bisa melihat air mancur itu meskipun kita sedang berbaring di sana. Aku ikut duduk di sampingnya, lalu berbaring, dan melihat ke langit.
Langit tanpa bulan. Bintang tidak ada di manapun juga. Mungkin sebentar lagi akan hujan?
"Shion," dia memanggilku lagi. Aku pun merubah posisiku menjadi duduk. "Kau pernah pacaran?"
Hah.
Kenapa dia tiba-tiba tanya begitu.
"Uhm, aku tahu kau mungkin tidak akan percaya, tapi seumur-umur aku tidak pernah pacaran."
"Sungguh?"
Aku mengangguk. "Memangnya ada apa?"
"Bukan apa-apa. Ada perempuan di kampusmu yang bertanya-tanya tentangmu padaku. Mungkin dia tahu aku dekat denganmu."
Huh?
"Siapa dia?" Aku bertanya sementara dia masih memainkan kameranya.
"Aku tidak tahu namanya," dia melirik ke jam taman sekali lagi, "tapi sepertinya dia suka padamu."
"Benarkah?" Aku mengangkat sebelah alisku. "Aku tidak percaya masih ada saja yang suka pada orang aneh sepertiku."
Dia hanya bergumam tidak jelas, dan menunjukkan sesuatu yang ada di dalam kameranya itu. "Termasuk yang ada di dalam foto ini."
Aku menerima kameranya. Dan melihat foto di dalamnya.
Hell.
Di dalam foto itu, aku sedang duduk dengan wajah anehku—dia pasti memotret ekspresiku saat dia bertanya apakah aku pernah pacaran atau tidak—tapi angle-nya sembarangan karena foto itu terlihat begitu miring.
Ada yang sedang duduk di sebelahku di dalam foto itu. Tapi yang kulihat, hanya bentuk yang gelap dan mata yang bersinar di sebelah kepalaku. Mata itu melihat ke arah kamera.
Aku spontan menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa.
"Hahaha, kau punya penggemar rahasia." Dia menertawakanku. Dan aku tidak tahu, dia sedang membahas perempuan yang menyukaiku itu, atau hantu ini. "Kau tahu, Shion? Katanya taman ini dulunya adalah bekas pemakaman orang-orang Tionghoa."
"Tionghoa? Cina?"
Dia mengangguk sekilas. "Dan aku juga mendengar, jika ada yang sedang duduk sendiri, biasanya akan ditemani oleh 'mereka'. Apalagi kalau itu sudah lewat jam 12 malam," ucapnya santai. "Aku bahkan mendengar bahwa sebenarnya mayat-mayat mereka tidak terbawa semua. Masih ada yang tersisa di taman ini dan tertimbun dalam semen."
Oh, itu menyeramkan. Berarti bisa jadi saat ini kami sedang menduduki mereka.
Tapi sebenarnya itu biasa saja, kalau dia tidak mengatakan ini padaku.
"Shion, cobalah kau cari tempat yang sunyi dan duduklah di sana sendirian."
"Kau belum pernah dipukul oleh seseorang ya?" Aku tidak tahu bagaimana cara orang ini berpikir.
Tapi kalau diingat-ingat lagi, sebenarnya bukan kali ini saja dia mengumpankanku untuk memancing mereka. Aku tahu aku dimanfaatkan, tapi aku juga tahu bahwa dia takkan membiarkanku mati di tangan mereka, tidak peduli seberapa bahayanya itu untukku. Jadi anggaplah itu impas.
Lagipula aku juga penasaran dan sama antusias dengannya.
"Ayolah. Aku akan tetap mengawasimu dari jauh lewat kameraku ini."
"Kau yakin aku tidak akan apa-apa duduk di sana sendirian?"
"Menurutku, itu tidak apa-apa dan biasa saja. Bukannya kau juga sudah terbiasa? Kau bahkan sudah pernah disentuh oleh mereka."
"Oh sudahlah. Lupakan itu." Aku tahu yang dia maksud itu adalah ketika di rumah sakit itu.
"Ayo cepat! Jangan buat mereka menunggu lama." Aku benci seringai menyebalkan dan suaranya yang terdengar main-main itu, tapi aku hanya mengabaikannya. Bukannya itu memang kebiasaannya dari dulu?
Jadi aku segera berdiri, dan melihat ke sekeliling. Taman sudah mulai sunyi. Sejauh mataku memandang, hanya ada rerumputan, lampu taman, kursi taman, jalan setapak, dan pepohonan yang masih baru dan belum rindang.
Lalu aku mendapati sebuah area yang memang benar-benar sunyi. Aku pun langsung berjalan ke sana.
Kebetulan itu tidak terlalu jauh dari tempat kami duduk tadi.
Sesampainya di sana, aku memutuskan untuk duduk di kursi taman yang dekat dengan lampu taman. Di sekitarku hampir tidak ada orang, kecuali Kamui itu sendiri. Jadi kesan ngenesnya ada juga, tapi perasaan merinding lebih dominan kurasakan.
Karena sekarang aku merasa seperti diawasi. Baiklah, lupakan soal Kamui yang juga mengawasiku. Seolah-olah aku bisa merasakan banyak pasang mata yang memperhatikan gerak-gerikku. Dan kupikir kalau aku sedikit saja melakukan gerakan yang mencurigakan, bisa jadi aku akan langsung dimangsa oleh mereka.
"Hai."
Aku kaget mendengar suara perempuan yang tiba-tiba saja masuk ke dalam telingaku. Lalu aku menoleh, mendapati ternyata ada seorang gadis yang menyapaku. Gadis yang lumayan cantik, kalau aku boleh mengakuinya. Dia memakai kacamata hitam, dan aku harus bilang itu aneh karena ini malam. Apa dia masih bisa melihat jalan dengan kacamata hitam seperti itu?
"Sendirian saja?" Dia bertanya sambil tersenyum.
"Uhm, iya," jawabku tidak yakin. Kalau dibilang sendiri, sebenarnya Kamui masih terlihat dari tempatku duduk. Tapi kalau dibilang tidak sendiri, nyatanya hanya aku seorang yang duduk di sini.
"Oh, sama dong! Boleh aku duduk di sini?"
"Silakan."
Setelah itu kami pun berbincang, meskipun dia yang terlihat lebih banyak berbicara daripada aku. Dan sebenarnya aku tidak begitu mendengarkan apa yang ia ucapkan karena semenjak dia datang, aku merasa tidak nyaman.
Bukan karena situasi di mana aku diajak berbincang oleh seorang perempuan adalah hal yang jarang terjadi, tapi karena aura di sekitar tiba-tiba menjadi gelap dan dingin. Tapi mungkin itu hanya perasaanku saja yang paranoid.
"Hei, sudah jam segini! Sebaiknya aku pulang, pacarku bisa marah-marah kalau aku terlambat pulang!" Dia melihat jam taman lalu segera berdiri. "Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya! Ternyata kamu orangnya menyenangkan!"
Apanya yang menyenangkan? Rasanya dari tadi aku hanya menjawab "iya" sepanjang dia berceloteh panjang-lebar.
Melambaikan tangan padanya sebagai salam perpisahan, aku seperti melihat sesuatu yang aneh dengannya. Tapi aku tidak yakin karena aku tidak melihat adanya kejanggalan dari dirinya. Yah, kecuali kenyataan bahwa gadis seperti dia ternyata masih berkeliaran selarut ini.
Dan aku menghela napas lega karena aura gelap tadi sudah hilang saat dia pergi. Kupikir gadis itu yang membawanya. Sementara itu, dia sudah berjalan begitu jauh sehingga aku tidak melihatnya lagi.
Lagi-lagi aku dibuat terkejut karena tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang. Dan ekspresi datar Kamui yang kulihat setelahnya lebih membuatku terkejut lagi.
"Kamui, bisakah kau tidak mengejutkanku seperti itu?"
Tapi dia tidak menjawab. Hanya menatapku tajam dengan mata biru lautnya. Aku jadi risih dilihat olehnya seperti itu, tapi kurasa dari tempat dia mengawasi tadi, dia pasti mendapati sesuatu yang aneh dengan kami tadi.
"Shion, kupikir kau tidak sadar apa yang baru saja terjadi."
"Memangnya kenapa?"
"Apa kau tidak merasa aneh kenapa perempuan itu terus-terusan menyembunyikan tangannya darimu?"
Ternyata itu keanehan yang dia lihat barusan.
"Sebenarnya aku merasa, tapi apa kau pikir aku akan bertanya, 'Hei, kenapa kamu menyembunyikan tanganmu?' seperti orang mesum?" Aku menjawab dengan heran.
Dia hanya bergumam tidak jelas. Lalu dia mengangkat kameranya, dan memperlihatkannya padaku. "Kalau begitu, kau harus lihat ini."
Apa.
Tanpa dia jelaskan apa yang terjadi di dalam foto itu, aku sudah bisa melihatnya.
Di foto itu, terlihat bahwa kursi taman membelakangi kamera. Aku duduk di sebelah kanan, dan gadis itu duduk di sebelah kiri. Ekspesi wajahku terlihat seperti orang linglung, sedangkan gadis itu sibuk berceloteh penuh antusias sambil menyembunyikan tangan kanannya di balik sandaran kursi. Yang berarti, tangan kanannya tersebut terlihat oleh kamera.
Dan apa ini aku salah lihat?
"Jarinya... ada enam."
"Bukan itu saja keanehannya," ucapnya menggeser foto tersebut, "sebenarnya aku bingung kenapa kau tidak sadar dengan yang satu ini. Coba kau lihat kacamata hitamnya."
Aku bisa merasakan mataku melebar melihatnya.
Foto ini diambil saat gadis itu sedang berjalan meninggalkanku. Angle yang diambil dari samping membuat kamera bisa menangkap sisi samping dari gadis itu. Apalagi dia juga men-zoom kamera supaya wajahnya bisa terlihat lebih jelas.
Aku tidak sadar karena dia memakai kacamata hitam.
Karena dari samping, aku bisa melihat matanya berwarna hitam. Yang berarti, tidak ada bola mata di sana.
"Mungkin dulu saat dia masih hidup, dia pernah datang ke taman ini. Dan kalimat yang ia ucapkan padamu itu adalah apa yang pernah ia ucapkan di sini."
"Jadi maksudmu dia menghantui taman ini karena dibunuh atau sesuatu?"
"Bisa jadi." Dia melihat fotonya lagi. "Heh, kau baru saja berbincang dengan hantu, Shion." Dia menyeringai menyeramkan, lalu mengantongi kameranya tersebut. "Ayo, kita pergi dari sini. Dia sepertinya tahu aku mengambil fotonya. Dia takkan senang."
Aku menuruti ucapannya.
Dan aku harus mengakui bahwa saat ini, mobil Kamui adalah tempat paling nyaman yang pernah kutempati. Aku merasa aman di sini dibandingkan di taman tadi. Karena yah, sesuatu yang mistis dan menyeramkan lagi-lagi terjadi padaku tanpa kusadari lebih cepat.
Tapi sepertinya aku lebih senang jika situasinya begitu. Daripada dia langsung menunjukkan dirinya yang sebenarnya padaku saat itu juga? Aku bisa mati di tempat.
Bahkan ketika di dalam mobil pun, dia masih sibuk mengotak-atik kameranya. Sepertinya dia terlanjur antusias untuk melihat apa saja yang sudah ia potret.
Tiba-tiba aku kepikiran suatu hal.
"Kamui," aku memanggilnya.
"Ya?" Dia menyahut tanpa menoleh.
"Apa kau tidak takut kalau kamera itu... dihantui? Atau dikutuk karena kau memakainya untuk memotret keberadaan mereka yang seharusnya tidak terlihat?"
Aku melihat tangannya berhenti menekan tombol kameranya. Sepertinya dia terkejut karena aku tiba-tiba menanyakan hal yang aneh.
"... kau berharap aku merasa takut?"
"Apa maksudmu? Aku yakin setidaknya kau pasti bisa merasa takut walaupun hanya satu-dua kali dalam beberapa hari."
Dia tidak langsung menjawab. Aku bisa merasakan bahwa matanya memperhatikanku lewat cermin tengah mobil. Atau yang sejenis itu.
"Heh," aku tidak menduga dia akan tertawa," kau harus tahu, sudah lama sekali aku tidak merasa takut."
"Bahkan yang barusan itu tidak membuatmu takut?"
"Tidak sama sekali. Kalau aku takut, tidak seharusnya aku cukup berani untuk memotret mereka."
Aku tidak mengerti orang ini. Dia... sangat misterius. Kurasa malah dialah yang seharusnya patut kutakuti.
"Kalau kau memang merasa takut pada mereka para hantu...," dia menyimpan kameranya di laci mobil, "seharusnya kau lebih takut pada dirimu sendiri."
"Kenapa?"
"Karena kau tidak akan pernah tahu, siapa dirimu dan siapa monster yang ada di dalam dirimu itu."
"Monster?"
"Monster yang kumaksud itu... adalah keinginanmu." Dia pun menyalakan mobil. "Sekedar kau tahu, bahwa keinginan itu bisa membunuh manusia yang merasakannya. Baik secara langsung maupun tidak. Dan ya, manusia itu sendiri tidak pernah menyadarinya."
Aku tidak tahu dia sedang membicarakan apa dan siapa.
Bisa kulihat dari bangku yang posisinya bersilangan dengan bangku kemudinya ini, tatapannya tiba-tiba menjadi sendu walaupun hanya sesaat. Seolah penjelasannya barusan mengingatkannya pada masa lalunya.
Entah kenapa aku tiba-tiba teringat dengan tekadku dulu. Bahwa aku akan mengikutinya menjelajahi dunia gelap yang berbahaya ini. Ke manapun dan kapanpun.
Tapi sekarang aku baru sadar. Ya, aku baru menyadarinya.
Mungkin tidak seharusnya aku berurusan dengan orang yang berbahaya seperti dia?
::::::::::::::::::::::::::::::
.
.
.
::::::::::::::::::::::::::::::
To be continued.
::::::::::::::::::::::::::::::
14072015. WHBY15. YV
