::::::::::::::::::::::::::::::
.
.
.
::::::::::::::::::::::::::::::
Kesenangan di Antara Dua Dunia
—What's Happening Beside You—
Chapter 16 . Who is There?
The Creation-Story © Yoshina Vanatala
VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua
::::::::::::::::::::::::::::::
.
.
.
::::::::::::::::::::::::::::::
Jujur saja, menurutku salah satu benda yang paling menyeramkan di dunia ini adalah pintu. Ya, benda yang selalu kusentuh setiap hari itu terkadang membuatku takut sendiri.
Aku punya banyak pengalaman mengenai pintu ini.
Pernah suatu hari, saat masih SMA, aku sedang berada di dalam kamar mengerjakan tugas sekolah. Kira-kira itu siang hari. Aku duduk lesehan di lantai, mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik lewat headset.
Tiba-tiba aku merasa seperti ada yang berjalan di depan pintuku.
Awalnya aku pikir aku hanya salah dengar. Karena terkadang suara basspower yang ditimbulkan oleh headset bisa membuat sebuah halusinasi. Jadi untuk memastikan kebenarannya, aku melepas headset.
Dan suara itu terdengar sangat jelas. Tepat di depan pintu kamarku. Mondar-mandir seolah mencari sesuatu, tapi dengan langkah yang begitu pelan. Dan tenang. Berhubung rumahku dulu berlantai kayu, jadi langkah sekecil apapun akan terdengar.
Ibuku sedang ke pasar, ayahku sedang bekerja, dan Akaito masih di sekolah karena katanya ada pelajaran tambahan. Jadi aku berpikir, mungkin itu maling.
Sebenarnya aku takut keluar, tapi kupaksa diriku untuk berdiri. Sebelum aku sempat membuka pintu, langkah itu terdengar lagi. Mendekat, mendekat, dan seperti sudah berada tepat di balik pintu ini.
Hening.
Aku semakin tidak berani untuk membukanya.
Aku pun meneguk ludah dengan suara yang bisa kudengar sendiri. Lalu aku berbicara dengan suara yang lumayan nyaring, "Akaito, jangan mengerjaiku. Kalau ada perlu, buka saja pintunya. Bukannya itu sudah kebiasaanmu masuk ke kamarku sembarangan?"
Lagi-lagi hanya hening.
Menutup mata sebentar seraya menarik napas dalam-dalam, akhirnya aku berani membuka pintu itu.
Dan tidak ada siapapun.
Masih dengan takut-takut, aku berjalan pelan keluar dari kamarku dan langsung menutup pintu. Aku mengelilingi seluruh ruangan di rumah sebentar, karena mungkin saja beneran ada maling.
"Tidak ada siapa-siapa."
Lalu siapa yang berjalan di depan pintu kamarku tadi?
Tanpa mendapatkan jawaban apapun dari hal itu, aku berjalan kembali ke kamarku.
Aku melihat Akaito baru saja membuka pintu depan. Dan aku tiba-tiba berpikir, pasti tadi itu dia.
Jadi aku langsung melabraknya. "Akaito, tadi kau mengerjaiku ya?"
"Hah? Siapa? Aku?" Aneh, dia terlihat kebingungan. "Dari tadi aku masih di jalan kok. Ini baru saja aku pulang."
"Kau bohong."
Dia memutar matanya. "Ayolah, aku tahu aku ini orangnya iseng. Tapi sungguh aku sama sekali tidak mengerjaimu kali ini."
Aku pun terdiam.
"Memangnya ada apa?"
Lalu aku menceritakan apa yang kualami barusan.
"Fuh, hati-hati, Kak. Bisa jadi beneran ada 'seseorang' di sana," godanya sambil menyeringai menyebalkan. Sial, dia mulai menakutiku. Aku jadi merasa tidak berani ditinggal sendirian di rumah.
Tapi meskipun begitu, keadaan di mana aku tetap tinggal sendiri di rumah itu adalah sesuatu yang tidak bisa kuhindari. Jadi biasanya aku akan memilih untuk mengerjakan tugas di luar kamar, atau mungkin kalau di dalam kamar, aku akan duduk di atas tempat tidur karena dengan begitu, aku tidak akan begitu menyadari "suara" yang berada di depan pintuku.
Ada juga kejadian yang lebih menakutkan. Masih ketika aku SMA.
Pada saat itu malam. Seharusnya aku sudah tidur, tapi entah kenapa cuaca terasa begitu dingin, jadi aku tetap tersadar walaupun sudah sekitar jam 12 malam. Aku tetap di tempat tidurku, di bawah selimutku sambil berharap aku bisa tertidur. Lalu aku sadar bahwa ternyata hujan gerimislah yang membuat cuaca menjadi dingin.
Ketika tidur, biasanya aku tidak menyalakan lampu. Jadi pada dasarnya, aku tidur di dalam kegelapan. Tapi kebetulan malam ini bulan purnama, jadi cahayanya yang terang masuk melalui jendela kamarku. Sedikit menerangi kamar ini.
Kau masih ingat dengan kejadian di mana aku melihat "sosok" lewat jendela kamarku ini?
Well, itu terjadi lagi padaku kali ini. Tapi tidak sekilas seperti waktu itu, terjadi sedikit lebih lama.
Jadi tanpa kukehendaki, mataku melihat pada jendela yang tertutup gorden berwarna biru langit. Karena ada cahaya bulan purnama, jendela terlihat begitu bersinar malam ini.
Terlihat bayangan seseorang berdiri di depan jendelaku ini. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, hanya warna hitam.
Karena setengah mengantuk, aku tidak mempedulikannya. Kupikir itu hanya orang lewat yang sedang berteduh.
Perlahan-lahan, aku mulai menyadari sesuatu.
Rumahku ini berpagar. Meskipun tingginya hanya sekitar 1,5 meter, setidaknya pintunya sering dikunci gembok dan kurasa tidak akan ada orang yang mau nekat melompatinya kalau hanya sekedar ingin berteduh.
Kecuali kalau itu maling... atau sesuatu.
Lagipula untuk apa berteduh di samping rumahku yang jelas-jelas dekat dengan kolam dan pepohonannya tidak terlalu rindang?
Leherku tiba-tiba terasa begitu dingin. Kepalaku mulai terasa pusing dan aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Dan untuk memperburuk suasana, aku mendengar sebuah suara di dalam keheningan.
Pintu kamarku sepertinya terbuka. Dengan sangat pelan seolah takut membangunkanku yang sedang lumpuh di balik selimutku ini.
Kalau misalkan yang membuka itu adalah keluargaku, mereka akan mengetuk pintu terlebih dahulu. Atau mungkin membuka pintunya perlahan, lalu memanggil namaku.
Tapi kali ini sangat hening. Aku bahkan bisa mendengar suara napasku sendiri saking sunyinya.
Atau jangan-jangan... itu kerjaan Akaito? Bukan berarti karena selama ini dia tidak pernah melakukan hal semacam ini, aku jadi tidak bisa curiga padanya.
Aneh, aku sama sekali tidak bisa bergerak. Seolah tubuhku sendiri lebih tahu dari pikiranku dan memperingatkanku bahwa berdiam diri saja dan berpura-pura tidak tahu adalah hal paling aman untuk kulakukan saat ini.
Setelah melewati masa-masa kritis itu, akhirnya aku bisa bernapas lega karena tubuhku sudah bisa digerakkan. Tapi aku tidak mau terlalu gegabah. Jadi aku masih tetap diam, bergerak dengan perlahan di dalam selimutku, mengambil celah di antara lipatan selimutku untuk mengintip keluar.
Ada sesuatu yang bergerak sangat cepat di luar pintu. Lebih tepatnya di ruang tengah yang gelap. Aku tidak tahu apa itu tapi aku merasa darah di dalam tubuhku tiba-tiba berhenti sesaat.
"Akaito, itu kau?" Aku tidak tahu suara siapa ini. Tiba-tiba berseru lantang tapi dengan suara yang sedikit bergetar. "Ibu? Ayah?"
Keringat dingin semakin membasahi bajuku.
Jadi aku perlahan menyingkirkan selimutku, dan menurunkan kaki dari tempat tidur.
"Akaito?" Entah kenapa instingku berkata bahwa Akaito pasti ada di depan pintu ini, tapi pikiranku tetap tidak mau membantah praduga bahwa bisa jadi sebenarnya memang ada sesuatu yang menyusup ke dalam kamarku ini.
Tiba-tiba ada yang muncul di depanku.
Aku spontan menjerit.
"Hahaha!" Suara menyebalkan itu menyusul jeritanku. "Kau harus melihat wajahmu itu, Kak! Lucu sekali!"
Dan aku tahu bahwa itu pasti kerjaan Akaito!
"Akaito! Beraninya kau!" Aku mengumpat padanya, tapi dia hanya cengengesan dan menyalakan lampu kamarku.
"Aku mendengar suaramu yang mencicit ketakutan, jadi kupikir lebih baik kuteruskan saja deh. Lumayan, 'kan? Sedikit refreshing."
"Refreshing kepalamu!" Aku menyalak dengan emosi. "Jadi? Yang membuka pintu kamar itu kau juga?!"
"Huh? Kalau yang itu bukan aku." Jawabannya itu membuatku terdiam. "Aku baru mampir ke sini saat aku mendengar kau memanggil namaku."
Aku hanya memperhatikannya, siapa tahu dia berbohong. Tapi sepertinya dia memang serius. Lalu aku melihat depan jendela, bayangan hitam itu sudah tidak terlihat.
"Kau sungguh?" Aku mengalihkan perhatian pada Akaito lagi.
Dia mengangkat dua jarinya. "Sumpah dua rius."
"Tapi tadi pintunya terbuka sendiri..."
"Mungkin lock case atau engselnya rusak," ucapnya berspekulasi sendiri. "Atau mungkin ada yang membukanya yaa? Soalnya Ibu dan Ayah masih tidur sih."
"Sialan kau, berhenti menakutiku."
Keesokan harinya, ayahku memeriksa pintu itu dan ternyata sesuai dengan spekulasi Akaito. Lock case—bagian handle yang ditanam di dalam pintu, menahan pintu supaya tetap tertutup rapat—pintunya rusak.
Tapi aku yakin sekali, kehadiran sesuatu itu memang benar apa adanya. Terutama bayangan di jendela itu. Atau mungkin itu hanya halusinasiku?
::::::::::::::::::::::::::::::
.
.
.
::::::::::::::::::::::::::::::
Suatu hari lainnya lagi. Kali ini, kita berada di masa sekarang.
Saat itu kami klub ilmu gaib sedang melakukan ekspedisi bulanannya. Kali ini di gedung ruko yang katanya sudah lama tidak terpakai tapi kelihatannya baru ditinggalkan selama beberapa bulan. Dikelilingi pagar tembok, di belakang gedung ruko itu ada hutan. Dan karena pintu pagar digembok, jadi kami hanya bisa berkeliling di sekitarnya.
Kurasa tidak perlu kuceritakan sepenuhnya karena sebenarnya tidak begitu menarik dan tidak ada hal menyeramkan yang terjadi.
Tapi ada sesuatu yang ingin kuceritakan pada kalian.
"Shion, kau tahu?"
"Tahu apa?" Aku bertanya spontan pada Kamui yang sedang berjalan di sampingku. Dari ekor mataku, aku bisa melihat tangannya mengusap-usap tembok di sebelahnya. Karena memang kami sedang berjalan di dekat tembok. Sementara itu, lingkungan sekitar terlihat sedikit berkabut.
"Tembok beton ini tingginya hanya 4 meter loh."
"Trus apa masalahnya?" Aku masih belum mengerti ke mana arah pembicaraannya. Aku tidak berpikir dia mau melompati tembok itu hanya karena ingin mengetahui apa yang ada di baliknya.
Atau mungkin itu yang dia maksud.
"Apa kau pernah mendengar mitos bahwa, di tengah malam jika kau mengetuk tembok manapun sebanyak tiga kali, maka akan ada yang membalasmu dengan mengetuk balik?"
"Ah, aku pernah mendengarnya," ucapku membalasnya sambil melihat pepohonan sekitar. "Tapi itu hanya jika ada yang menunggu di baliknya, 'kan?"
"Makanya itu aku ingin mencobanya." Dia berhenti, membuatku ikut berhenti juga. Lalu ia mengepalkan kepalan tangannya, dan mengetuk tembok itu.
Setahuku tidak akan begitu ada suara jika kita mengetuk tembok beton. Kalau sampai bisa bersuara seperti yang dilakukan Kamui itu, berarti dia benar-benar mengeluarkan tenaga ekstra hanya untuk membuatnya bersuara.
Duk duk duk
Lalu hening. Yang aku dengar hanyalah angin sepoi yang menyapu pelan kepalaku. Dan tiba-tiba aku berfirasat buruk.
"Mungkin tidak ada siapapun di sana," aku hanya berucap acuh dan ingin segera pergi dari situ karena aku ingin mendatangi teman-teman klubku lainnya, tapi dia hanya terdiam. Matanya menatap tajam pada tembok itu, dan kemudian melihat ke atasnya.
Tiba-tiba aku mendengar suara yang pelan, seperti sesuatu yang berbenturan. Arahnya berasal dari tembok depan Kamui itu.
Aku mendengar suara ketukan yang pelan. Seiring dengan suara itu, jantungku berdegup begitu pelan dan berat. Bisa kurasakan mataku melebar.
Duk duk duk
Mendengar respon itu, dia menyeringai. Dan aku tahu, dia takkan puas kalau hanya melakukan itu saja.
"Hei, kau yang ada di balik tembok ini," dengan sintingnya dia berbicara pada seseorang yang aku tidak ingin tahu siapa itu. "Maaf mengganggumu, tapi kami hanya berkeliling di sekitar sini. Senang bertemu denganmu."
Aku tidak tahu harus bagaimana. Tapi tiba-tiba lagi aku merasa seperti limbung sesaat, lalu tersadar kembali. Kamui melihatku dari ekor matanya, dan segera mengeluarkan kameranya dan menjepret sesuatu yang aku tidak tahu jelas apa itu. Aku tidak tahu apa itu, karena dia mengarahkan kameranya ke angkasa.
Dan aku kaget karena ketika dia melakukan itu, dia perlahan limbung dan terjatuh ke tanah. Tapi kamera masih ada di tangannya.
"H-hei! Kamui!" Aku menghampirinya yang mencoba menopang tubuhnya sendiri, dengan tangannya melepas kamera dan kemudian memegangi belakang kepalanya. "Apa yang terjadi barusan?"
Anehnya dia malah menyeringai dengan sangat lebar seolah seringai itu bisa memenuhi wajahnya. Dan kau harus tahu, kalau Kamui yang melakukannya, suasana tiba-tiba menjadi mencekam dan mengerikan. Sebutlah aku berlebihan, tapi itu memang benar.
"Dia menyambutku dengan sangat ramah..." Dia sudah benar-benar gila. "Lihatlah apa yang kudapat dari kameraku ini."
Aku segera mengambil kameranya, dan aku nyaris saja melemparkannya seandainya aku tidak ingat itu kamera milik Kamui. Foto di dalam kamera itu sungguh mengejutkanku.
"Kita harus segera pergi dari sini," dia berbisik sambil berdiri, lalu merapikan pakaiannya sebentar. "Kami pamit dulu. Maaf kami telah mengganggumu, dan kumohon biarkan kami pergi."
Aku ikut menyusulnya yang mulai setengah berlari menjauhi tempat itu.
Setelah agak jauh dari sana, di dekat jalan raya yang ramai, kami pun berhenti. Di depan mata kami, sudah ada teman-teman klub berkumpul. Mungkin mereka sudah mau pulang.
"Kau benar-benar sudah gila," ucapku sambil menyerahkan kembali kameranya.
"Aku memang gila dari dulu," gumamnya pelan sambil melihat foto di dalam kamera itu. "Wajahnya benar-benar cantik."
Aku tidak tahu harus berbicara apa.
Wanita yang terlihat "terbang" dari balik tembok dan melihat ke arah kamera dengan mata putih yang terbelalak dan lidah menjulur itu adalah sesuatu yang cantik untuknya?
::::::::::::::::::::::::::::::
.
.
.
::::::::::::::::::::::::::::::
To be continued.
::::::::::::::::::::::::::::::
.
.
.
::::::::::::::::::::::::::::::
Balesan Review. (13 review)
::::::::::::::::::::::::::::::
#kamui shion : Eciee, yang kangen GakuKai humu-an lagi. /disundul
Halusinasi yang dialami Kaito itu pernah ane alami juga. Dan halusinasi itu biasanya bisa terjadi karena lagi kecapekan, mata lagi siwer, baru aja nonton film horror, atau mungkin sebenarnya halusinasi itu adalah kenyataan loh. XD
Untuk request ente itu... mungkin nanti baru bisa dikabulkan. Mungkin aja sih. Maaf bikin kecewa. :v /dibakar/ Tapi yang penting, GakuKai bisa bersatu lagi, 'kan? Ya, 'kaaaan? /halah
Btw, ane sering kehabisan pulsa. Jadi maaf kalo lagi sms-an, tiba-tiba gak membalas lagi. Biasalah, kere. :v
Makasih udah RnR! ^^
::::::::::::::::::::::::::::::
#herobrine : Biar lebih barokah, bacanya setelah solat teraweh aja. /trusapa
Oh gitu. Sudah bisa saya duga sih. :v
Makasih udah RnR! ^^
::::::::::::::::::::::::::::::
#Mireine Neiko : Kalo ide lagi lancar (meskipun pada akhirnya maksa), biasanya bakal langsung banyak update-nya. :)
Makasih udah RnR! ^^
::::::::::::::::::::::::::::::
#lalalala-chan desu : Muka Kaito itu ngenes sih, jadi mereka seneng nyiksa dia. /dibuang
Maunya dibikin main itu, tapi entah kenapa belum kesampaian. Mungkin nanti mereka bakal memainkannya. Entah sama orang lain atau cuma mereka berduaan. XD /nak
Makasih udah RnR! ^^
::::::::::::::::::::::::::::::
#Arinna Neo Conquerra : Mereka threesome-an dengan cara yang berbeda. lol
Kalo ada adegan anu-anunya, ntar hantu-hantunya malah ngamuk karena gak terima Kaito anu-anu sama Gakupo loh, apalagi kalo ditambah Akaito. /nak
Makasih udah RnR! ^^
::::::::::::::::::::::::::::::
#Puella : Chap. 11 ada apa? Jangan-jangan ada anu-anunya. /bukaberkas/ Oh, maksudnya yang Yuki jadi psikopat itu? Atau teman hantunya? XD
Kalo dibilang bisa melihat, gak juga. Lebih sering merasakan aja. Dan saya bisa melihat "mereka" itu cuma kadang-kadang dan biasanya hanya sekilas. Karena cuma sekilas, saya sering beranggapan mungkin itu hanya halusinasi semata meskipun saya merasa bisa jadi itu benar mereka.
Makasih udah RnR! ^^
::::::::::::::::::::::::::::::
#macaroon waffle : Hati-hati kalo ke kamar mandi, ntar ada yang sembunyi di langit-langit loh. /dibakar
Makasih udah RnR! ^^
::::::::::::::::::::::::::::::
#Aoi-hime to Seiyuu-Hime : Kaito 'kan imut dan nggemesin. Para hantu jadi seneng sama dia deh. /dilempar
Akaito : "Cara ngebukanya itu, aduk merica dan garam di dalam air. Trus basuh mata, jidat, sama leher pakai itu. Lakukan sebelum mandi. Seminggu dua kali ya, biar awet." /dihajar /ngawur
Hahaha, rasanya itu... seperti makan garam. Awalnya kaget sih, tapi ah sudahlah. /apaansih
Makasih udah RnR! ^^
::::::::::::::::::::::::::::::
#Shiro Rukami : Meiko, Lola, dan Miriam sudah keluar di chapter 14, kan? Meskipun cuma sebentar dan dalam bentuk anak-anak sih. :v Chara cewek lainnya mungkin akan keluar dalam waktu dekat. Tunggu aja kemunculan mereka. ^^
Makasih udah RnR! ^^
::::::::::::::::::::::::::::::
#TrueNaturePJ : Saya merasa horrornya emang maksa kok. Makanya saya agak lama update-nya sambil cari-cari inspirasi yang lebih horror lagi. '-'
Gakupo itu 'kan emang misterius, dan Kaito gak pernah sadar kalau mungkin aja sebenarnya Gakupo pernah "membukanya" saat dia lagi gak sadar. /apa
Makasih udah RnR! ^^
::::::::::::::::::::::::::::::
#YuuSee : Gakupo itu... makhluk abstrak yang bahkan lebih abstrak daripada hantu sekalipun. /dibuang
Ah, saya gak tau karena Gakupo gak pernah bilang ke saya ataupun Kaito. Mungkin dia bakal membeberkannya sendiri suatu hari nanti. ^^ /sokmisterius
Makasih udah RnR! ^^
::::::::::::::::::::::::::::::
#Seijuurou Eisha : Taroutachi. lol
Ini udah update, semoga yang kali ini horornya lebih terasa. XD Njir, setan fujo. XD
Makasih udah RnR! ^^
::::::::::::::::::::::::::::::
#Naomiharu11 : Untuk hal itu... scroll ke bawah aja untuk jawabannya ya.
Makasih udah RnR! ^^
::::::::::::::::::::::::::::::.
.
.
.
::::::::::::::::::::::::::::::
A/N : Oh iya, ada yang tanya, jangan-jangan cerita chap. 12 (tentang zebra cross) itu nyontek dari tempat lain? Oke, saya gak bakal mengelak kalau ada yang bilang gitu, tapi ini beneran pernah terjadi sama temen saya (waktu itu dia lagi jalan bareng sama saya masalahnya, tapi saya gak lihat dan cuma dia yang lihat). Dan sialnya lagi, saya baru tahu kalau cerita ini juga adalah urban legend (di situs apa gitu, saya gak inget) setelah saya update kemarin.
Jadi, saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Beneran itu hanya kebetulan semata. '-'
(Trus saya keki setengah jombi. Waktu mau upload ini cerita, ternyata kena internet positif. Gak peduli pakai cara apa, pada akhirnya sama sekali gak bisa (saya pakai telkomplek dan cuma itu yang masih ada pulsanya). Jadi saya terpaksa upload lewat HP (setelah menumpahkan air mata kuda nil (?), akhirnya bisa ter-upload meskipun harus "bolak-balik"). Makanya maaf kalo "layout"-nya jadi berantakan. Yang penting ceritanya update, 'kan?)
Btw, mumpung ada waktu. Buat yang Islam, selamat hari raya idul fitri. Saya tahu saya punya banyak dosa, terutama karena sering lelet update dan juga sering menistai Kaito, jadi mohon maaf lahir batin. Dan maafkan juga kalo misalkan cerita yang kali ini semakin gak horor dan garing. Saya sibuk banget sama ekskul selama bulan puasa ini, sumpah. Kokoro ini lelah. :v /halah
Baiklah. Terima kasih banyak sudah membaca, minna.
::::::::::::::::::::::::::::::
14072015. WHBY16. YV
