::::::::::::::::::::::::::::::

.

.

.

::::::::::::::::::::::::::::::

Kesenangan di Antara Dua Dunia

What's Happening Beside You—

Chapter 17 . Framed Photos

The Creation-Story © Yoshina Vanatala

VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua

::::::::::::::::::::::::::::::

.

.

.

::::::::::::::::::::::::::::::

Jadi waktu itu aku sedang jalan-jalan ke rumah sepupuku bareng Akaito. Namanya Nigaito. Sebenarnya kami mampir secara tidak sengaja karena waktu itu hujan, dan untuk pulang ke apartemen, masih terbilang cukup jauh dari stasiun ini.

"Eh, Kaito? Akaito?" Nigaito memasang wajah terkejut ketika menyambut kedatangan kami. Ya itu wajar saja, soalnya baru kali ini kami datang ke rumahnya.

"Yo, Nigaito! Lama tidak jumpa!" Akaito yang segera beradaptasi pun langsung menghambur ke dalam rumah, dan merangkul bahu Nigaito. "Kau sama sekali gak berubah ya?"

"Kau sendiri juga gak berubah, Akaito," ucap Nigaito lirih. Wajahnya menunjukkan ekspresi terganggu. Ya, selama aku mengenalnya, dia adalah orang yang tenang dan tidak begitu suka dengan keramaian. Makanya kehadiran Akaito yang selalu membawa keramaian di sini tentu saja mengacaukan ketenangannya.

"Hei, jangan suram gitu dong. Btw, paman dan tante mana?"

"Mereka lagi ke rumah saudara mereka." Nigaito melepaskan diri dari rangkulan Akaito. "Kalian ngapain ke sini?"

Ukh. Suaranya terdengar seolah-olah dia tidak mengharapkan kehadiran kami di sini.

"Ayolah, Nigaito! Kau tega membiarkan kami berhujan-hujan di luar?"

"Kaito akan kupersilakan masuk. Kau biar di luar saja."

"Nigaito kok jahat gitu sih?" Lalu Akaito memasang wajah sok sedih. Aku sendiri eneg melihatnya.

Nigaito pun memutar matanya.

"Baiklah. Silakan masuk. Di rumahku tidak ada makanan apa-apa jadi numpang makan di sini hanyalah mimpi buat kalian."

"Apa tampang kami terlihat seperti gelandangan yang kelaparan?" desis Akaito.

"Kalau kau sih, iya."

Di luar dugaanku, Akaito dan Nigaito terlihat sangat akrab walaupun Nigaito sering membalas ucapan Akaito dengan sinis. Sementara aku hanya memperhatikan mereka tanpa berbicara apapun.

Rumah Nigaito termasuk sederhana, tidak ada hiasan yang terlalu mencolok. Cat rumahnya berwarna biru royal, memberikan ketenangan tersendiri bagi siapapun yang melihatnya. Ada sofa berukuran sedang, televisi, akuarium, meja makan.

Dan begitu banyak foto pigura tertempel di dinding rumah ini.

Sungguh. Sangat banyak.

Ternyata setelah aku lihat baik-baik, rumah Nigaito memiliki lorong yang menuju bagian dapur. Di sepanjang lorong, semakin banyak foto berbingkai terpasang. Beberapa ada yang kukenal, seperti Nigaito sendiri dan orang tuanya, ada juga Kikaito (apa kalian masih ingat dengan manusia gaib ini?) dan keluarganya, lalu ada beberapa lainnya juga.

Lebih mengejutkannya lagi, ternyata ada fotoku dan keluargaku. Ya, berarti Akaito juga ada.

Pertanyaannya sekarang adalah; untuk apa foto seluruh anggota keluarga Shion dipasang di sini? Bahkan begitu banyak orang yang tidak aku kenal sama sekali?

Mungkin saja keluarga Nigaito bermaksud untuk memasang foto keluarga besar kami supaya mereka tetap bisa mengingat kami. Tapi apakah harus sampai segitunya?

Kupikir ini hanya perasaanku saja yang tidak terbiasa menemui hal-hal seperti ini.

Aku hanya duduk di ruang tamu, sementara Akaito mengelilingi rumah Nigaito, meskipun sang pemilik rumah terus-terusan mengeluh mengenai tindakan Akaito tersebut. Ya, apa yang bisa kau harapkan dari Akaito yang sedang penasaran selain itu?

Selama aku duduk di sini, aku sebisa mungkin tidak ingin menatap orang-orang yang ada di dalam foto-foto tersebut. Tapi berhubung mereka terpasang di dinding seberangku, jadi aku mengalami sedikit kesulitan dalam melakukannya.

Karena entah kenapa, aku merasa seolah-olah semua pasang mata itu sedang memperhatikanku dalam keheningan ini. Ibarat jika aku sedikit saja melakukan sesuatu yang mencurigakan, mereka akan segera menghilang dari sana dan tahu-tahu saja sudah... oh ayolah.

Terlalu lama bersama Kamui sepertinya sudah membuatku gila.

Aku sontak menoleh ketika aku mendengar sesuatu bergesekan dengan meja di depanku. Oh ternyata Nigaito, membawakan sebuah cangkir berisi minuman berwarna pekat.

"Teh?" Aku bergumam sambil mengangkat sebelah alisku.

"Teh hijau. Enak diminum pas hujan-hujan begini loh," ucapnya sambil tersenyum kalem.

"Kau bilang tidak ada apa-apa di rumah ini?" Aku masih ingat dengan kata-katanya tadi mengenai hal ini.

"Aku 'kan bilangnya makanan. Kalau minuman, aku punya banyak persediaan teh hijau." Lalu dia terkekeh pelan. "Maaf aku gak bisa menemani. Aku harus mengawasi Akaito supaya dia tidak mengacau di rumah ini atau aku akan didamprat orang tuaku."

"Oh, hahaha. Silakan. Aku tidak akan apa-apa di sini sendirian kok."

Padahal dari tadi, aku merasa gelisah dengan begitu banyak foto di ruangan ini.

Nigaito mengangguk sekilas, kemudian dia kembali berjalan memasuki lorong rumah. Menyusul Akaito yang mungkin sekarang sedang berada di dapur.

Sepeninggal pemuda berambut hijau itu, aku pun terdiam.

Kenapa suasana hening ini terasa sangat ganjil bagiku?

Mataku tidak sengaja memandang foto seseorang yang sama sekali tidak kukenal. Orang itu terlihat tersenyum kalem. Wajahnya tidak terlihat seperti orang Jepang, dan dia mengenakan setelan jas. Foto itu berwarna hitam-putih, membuatnya terkesan seperti foto jadul.

Karena merasa gelisah, aku memutuskan untuk menggeser posisi duduk ke dekat televisi. Mataku masih memperhatikan foto orang itu.

Entah apakah ini hanya perasaanku saja atau arah matanya seperti bergerak mengikutiku?

Aku segera berdiri untuk menyalakan televisi. Perlahan, suara yang dihasilkan oleh televisi itu memenuhi ruangan ini. Sedikit mengusir keheningan. Aku menghela napas lega karena suara dari televisi itu membuatku merasa tidak sendirian.

Aku mencoba untuk memperhatikan apa yang ada di dalam televisi itu. Tapi aneh, aku sama sekali tidak bisa fokus.

Dari ekor mataku, aku menangkap suatu gerakan di antara kerumunan foto-foto yang tertempel. Jantungku serasa mencelos ketika menyadarinya.

Aku langsung mengarahkan pandanganku pada asal gerakan itu. Dan tidak ada apapun yang mencurigakan sejauh kulihat.

Aku merasa sepertinya aku sudah mulai panik sehingga berhalusinasi yang tidak-tidak.

"Nigaito...," tanpa sadar aku mencicit pelan, sambil berdiri dan berjalan ke arah dapur. Saat ini, aku hanya ingin pergi dari tempat ini, dan menyeret Akaito pergi dari sini. Aku merasa sangat tidak nyaman di sini. Bukan karena rumahnya, tapi karena foto-foto mengerikan itu!

Brak.

Aku mendengar suara benda yang terjatuh.

Lalu aku menoleh perlahan untuk mengetahui benda apa itu. Dan aku menemukan ada sebuah foto pigura yang telah berada di atas lantai dalam keadaan telungkup. Aku pun menyimpulkan bahwa suara barusan disebabkan oleh foto yang terjatuh itu.

Aku tidak sengaja melihat foto pigura yang masih tertempel di dinding atasnya.

Orang di foto itu awalnya berekspresi datar.

Tiba-tiba dia tersenyum, sangat lebar.

Apa—

"Hei."

"HUWAAA!" Aku jatuh tersungkur dalam keadaan tersungkur ketika ada yang menepuk bahuku. Aku sangat amat terkejut. Aku spontan menoleh ke belakang dan mendapati Akaito yang ikut terkejut melihat responku.

"Hei, hei. Santai, bro. Ada apaan sih?" Akaito bingung melihatku. "Kau terlihat kaget sekali."

"H-hahaha..." Tanganku terasa begitu dingin dan gemetaran sementara mataku masih mencuri lirik pada foto yang kulihat tadi. Orang di sana kembali berekspresi datar. "T-tidak, aku tidak apa-apa..."

"Kaito, ada apa? Aku mendengar kau berteriak." Nigaito menyusul di belakang Akaito, tampaknya dia juga terkejut mendengar jeritanku tadi.

"Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa." Suaraku terdengar sangat lemah. Seakan seluruh kekuatanku langsung menguap begitu saja dalam teriakanku.

Aku merasa badanku sangat basah karena keringat dingin.

"Tapi wajahmu sangat pucat?" Nigaito bertanya lagi dengan raut khawatir. Namun itu tidak cukup untuk menghiburku. Aku ingin segera pergi dari sini!

Akaito sepertinya paham.

"Eh, sepertinya sudah gak hujan lagi." Akaito menurunkan tubuhnya hingga berjongkok di depanku. "Kita harus pulang sekarang, Kak. Aku ada tugas kuliah yang belum dikerjakan masalahnya."

Aku hanya bengong memperhatikannya.

"Kak, kau bisa berdiri?" Tatapannya terlihat aneh pada saat mengatakannya. Tapi aku tidak peduli. Aku pun mengangguk dan berusaha berdiri walaupun dengan sempoyongan.

"Eh, tapi teh hijaunya gak diminum?" Bisa-bisanya Nigaito masih memikirkan teh hijau yang dia sajikan padaku tadi.

"Gak, makasih. Tapi aku gak haus." Aku tersenyum hambar. Sekali lagi bukan karena dia, melainkan karena foto-foto itu.

Setelah segala macam bentuk basa-basi dan salam perpisahan yang tidak bisa kuingat karena aku terlalu takut pada saat itu, akhirnya aku dan Akaito pun pulang.

Sesampainya di apartemen, aku langsung jatuh terduduk dengan kaki lemas di ruang tengah.

"Hei! Kak!" Jelas saja dia terkejut. Dia langsung mengambil air minum dan memberikannya padaku. "Kau kenapa sih, Kak?"

"Aku... takut, Akaito."

"Takut?" Lagi-lagi dia memberikan tatapan aneh yang sama seperti tatapan yang dia berikan di rumah Nigaito tadi. "Maksudmu foto-foto itu?"

Ternyata dia juga menyadarinya.

Tanpa menunggu jawabanku, dia melanjutkan ucapannya.

"Dengar, Kak. Aku juga merasakannya. Aku merasa seolah orang-orang yang ada di dalam foto itu seperti memperhatikan setiap langkahku. Makanya meskipun tadi masih gerimis, aku tetap ngotot mau pulang." Sebenarnya aku cukup merasa lega ketika mendengar bahwa ternyata tidak hanya aku yang mengalaminya.

"Tapi kau harus mendengar ini, Kak. Kuharap kau bisa menerimanya dengan baik, dan tenang saja, aku juga merasa sangat terkejut karena hal ini."

"Memangnya kenapa?"

"Sebenarnya...," dia mulai tersenyum miring, atau mungkin masam karena wajahnya juga ikut memucat walaupun hanya sedikit, "foto-foto itu tidak pernah ada di sana. Foto orang-orang asing itu. Nigaito memberitahukannya padaku bahwa hanya orang-orang yang memiliki kemampuan untuk 'melihat' saja yang bisa menyadarinya."

"..."

"Makanya, kau masih ingat dengan kotak-kotak kardus di ruang tamu tadi, 'kan? Dia mau pindah dari sana karena dia dan keluarganya tidak tahan dengan rumah itu!" Akaito mulai terkekeh. "Keh, kau harus tahu, Kak. Kalau bukan karena aku benci diikuti, setidaknya aku akan memotret mereka!"

"..."

Oh sial.

::::::::::::::::::::::::::::::

.

.

::::::::::::::::::::::::::::::

to be continued.

::::::::::::::::::::::::::::::

.

.

::::::::::::::::::::::::::::::

03122015. WHBY17. YV