Boku to Kimi no Monogatari

.

A Tsukiuta fanfiction presented by InfiKiss

Tsukiuta(c) Tsukino Production

.

.

(Tiga kisah yang berbeda di setiap judulnya. Tentang rasa yang tak akan pernah mampu disampaikan kepada mereka yang tak bisa lagi digapai.)

.

.


Kono Hoshi to Sekai

.

Fuduki Kai dan Shimotsuki Shun

.

"…sebuah bintang yang bersinar terang hingga seluruh dunia memperhatikan. Bintang kita. Dari bagian dunia yang manapun, meski kau dan aku tak bersama, kita akan tetap menatap bintang yang sama. Bintang kita."


Euforia festival musim panas yang digelar petang ini seolah tak mampu memenuhi relung hati seorang putra tunggal dari keluarga bangsawan Shimotsuki yang sebentar lagi akan diangkat menjadi keluarga bangsawan tertinggi di tanah Sakura. Jika biasanya ekspresi yang tergambar ialah kebanggan dan senyum penuh percaya diri, entah kenapa petang ini Shun begitu murung. Ia memilih berjalan-jalan berkeliling sendiri. Mencari sesuatu yang ia sendiri bahkan tak tahu apa itu.

Di tengah keramaian festival, di antara kedai-kedai yang menjual berbagai macam makanan tradisional, juga berbaur dengan puluhan warga yang memakai kimono atau yukata, eksistansi Shun seolah tidak nyata. Padahal saat ini ia mengenakan pakaian a la barat; setelan kemeja putih dipadukan dengan jas selutut berwarna abu-abu. Penampilan yang kontras dengan kebanyakan penduduk Negri Jepang pada zaman itu.

Angin musim panas selalu mampu menenangkan hatinya. Meski secara pribadi Shun lebih menyukai musim semi dimana Sakura mulai mekar dari kuncup yang menyembunyikan mereka. Namun ketika hatinya tengah dipenuhi kemelut misterius, aroma musim panas adalah obat paling baik. Karena di musim panas, langit malam akan tampak begitu terang dan cerah. Bintang-bintang akan kelihatan hampir seluruhnya. Langit menjelma menjadi lautan tanpa batas dengan gelombang hitam pekat yang indah.

Shun menyukai bintang. Sederhana.

"Kau di sini lagi, Shun?"

Sebuah suara yang begitu familiar. Shun menolehkan kepala. Tersenyum lembut ketika menyapa seorang lelaki jangkung berpotongan rambut cepak yang setengah menunduk di belakangnya untuk menghindari pohon-pohon bambu yang melampirkan banyak tanzaki di batangnya. Padahal saat ini pemuda itu duduk di undakan batu-batu besar di pinggir keramaian. Tapi pemuda itu selalu bisa menemukan kehadirannya secara misterius. Atau mungkin karena Shun sendiri yang ingin orang itu menemukannya.

"Kai~" Suaranya terdengar merdu dengan sedikit alunan di bagian akhir. Cara yang paling Shun sukai setiap kali menyebutkan nama pemuda itu.

Yang dipanggil pun tersenyum dan bersegera duduk di samping Shun. Merapihkan yukata coklat dengan motif garis hitam yang ia kenakan. "Kau berbaur secara ajaib dengan penampilan semencolok ini. Dan herannya tak satupun yang memperhatikanmu. Sesuai dugaanku, kau akan berada di tempat terpencil di malam seperti ini."

Pemuda berambut perak itu tertawa ringan. Mengerlingkan mata dengan nakal kearah Kai. "Kai memang selalu tahu apa kegemaranku. Kau mencariku?"

Kai mengangguk. Rasanya ada sesuatu yang membuatnya enggan menatap wajah sahabatnya malam ini. Ada resah yang bergelayut di nalurinya saat ini. Dan keresahan itu membuat Kai menjaga sedikit jarak dari Shun. Ia bergeser sedikit sambil menghela nafas panjang. Kepala menengadah hingga ia kini melihat jelas apa yang dipandangi Shun sebelumnya.

Begitu banyak bintang di langit musim panas. Kegemaran mereka berdua sejak usia belia. Kini ketika dua puluh dua menjadi usia matang mereka, ternyata hal sesederhana ini masih menjadi sesuatu yang disukai. Menghabiskan sepanjang malam hanya dengan menggosipkan bintang. Dan Kai mendadak tersenyum ketika kepingan ingatan itu melesak ke pikirannya. Membayangkan Shun muda yang berdiri sambil mengangkat tangan hendak meraih bintang di tempat rahasia mereka berdua.

"Sebentar lagi hari yang dinantikan negri ini. Apa kau sudah siap?" Suara berat Kai menginterupsi ketenangan Shun.

Lelaki seputih salju itu mengangkat bahu dengan enggan. Kedua tangan disandarkan ke belakang untuk menopang berat tubuhnya. "Penobatan keluarga Shimotsuki sebagai anggota keluarga resmi kerajaan, huh? Aku tidak terlalu mempedulikannya—kalau boleh jujur. Duduk di tombak pemerintahan dan memiliki ikatan dengan Kaisar adalah tujuan utama keluarga Shimotsuki. Bagiku yang anak tunggal, hanya tinggal melanjutkan semua usaha para tetua keluarga. Jadi aku tak terlalu peduli bagaimana akhirnya. Lagipula…." Kalimat Shun menggantung sesaat ketika Kai menyela.

"Ah—jangan ungkit itu. Ini permen kapas. Kau mau?" Kai sudah menyodorkan gumpalan merah muda manis ke hadapan wajah Shun. Tersenyum lebar untuk memutus pembicaraan mereka tadi. Dan kelakuannya dihadiahi senyum lembut dari putra utama keluarga Shimotsuki tersebut.

"Seharusnya kau bawakan aku teh, Kai."

"Hahaha! Jangan bercanda! Mana ada yan jual teh kelas atas di festival rakyat seperti ini."

Meski mengatakan hal itu, toh Shun tetap meraih permen kapas yang Kai bawa. Menggigit sedikit bagian atas dan menikmati ketika lidahnya mengecap rasa manis yang cukup pekat. Lalu Shun tertawa, merasa terlalu tua untuk luluh hanya karena gulali merah muda.

Melihat reaksi Shun membuat Kai melengkungkan senyum. Senyum yang sesungguhnya memiliki makna pedih yang saat itu tidak Shun sadari.

"Ayo…. Ikut aku." Bisik Kai memecah ruang kosong diantara mereka berdua.

.

.

Gelap adalah warna netral yang mengunci pandangan Kai dan Shun. Diiringi alunan merdu serangga musim panas yang bersembunyi di semak belukar atau pepohonan rindang di dalam hutan, juga aroma tanah berlumut yang menenangkan. Jauh—jauh sekali, suara riuh festival sudah semakin samar untuk di dengar. Bahkan bunyi-bunyi musik khas tradisonal Jepang sudah benar-benar lenyap. Satu-satunya yang bisa Shun rasakan adalah kehadiran pemuda yang berjalan di depannya. Menggandeng tangannya hati-hati dengan maksud untuk membimbingnya. Meski Shun percaya ia bisa berjalan pasti tanpa bantuan Kai, tapi pemuda itu tetap mengizinkan kehangatan tangan Kai menyalur memenuhi dirinya malam ini.

"Kau bisa melangkah dengan baik 'kan?"

"Jangan remehkan aku, Kai—upss~" Sebuah batang kayu menghalangi langkah kaki Shun. Membuatnya oleng sedikit.

"Hahaha~ Yang benar saja."

Mereka tiba di sisi paing jauh dan paling dalam di tengah hutan. Namun yang mereka temukan bukanlah suatu pemandangan mengerikan. Justru sebaliknya. Lapangan kecil yang penuh dengan dandelion berbagai macam warna. Cahaya bulan yang terang seolah menyorot langsung wilayah tersebut dan meniadakan kegelapan hutan di sekelilingnya.

Senyum Shun terkembang. Ia melangkah duluan sekarang.

"Sudah lama sekali tidak kesini." Kai mengekor. Langkahnya namun terhenti ketika menemukan lima batu seukuran telapak tangan orang dewasa disusun menjadi sebuah lingkaran. Ada gundukan kecil tanah di tengah-tengah lingkaran batu tersebut. "Lihat! Bahkan makam kumbang koksi yang dulu kita buat ternyata masih ada. Karena ini bukan tepat yang bisa ditemukan dengan mudah jadi pasti tak ada yang bisa datang. Aku masih heran kenapa kita bisa menemukan tempat seeksentrik ini."

Shun tertawa bangga sambil memainkan jemari panjangnya. "Fufufu~ Tentu saja dengan menggunakan sihirku yan sangat spesial. Aku bahkan bisa membawa Kai keliling dunia jika aku mau."

"Ahaha! Oke, oke, kau memang penyihir hebat, Shun!"

Kai sibuk memperhatikan sekelilingnya. Sama sekali tak melihat apa yang tengah Shun lakukan. Hingga satu panggilan lembut menginterupsi fokus Kai, mengembalikannya kepada sang penyihir yang sudah berdiri di tengah ladang dandelion. Sosoknya yang disinari cahaya bulan membuatnya benar-benar seperti tengah menggunakan sihir misterius di mata Kai. Membuat Kai terpana dalam beberapa detik. Mengagumi betapa indanya pemandangan tersebut.

"Kai~ Kau mendengarku?"

"Ah! Iya. Apa adapa?"

"Bintangnya masih sama."

Kai menengadah. "Huh?" Senyum lembut terkulum sempurna. Di langit lepas ada banyak sekali bintang yang bertaburan. Tapi Kai tahu persis bintang mana yang tengah Shun perhatikan. Sebuah bintang yang jaraknya paling dekat dengan bulan. Bintang dengan cahaya paling redup di antara bintang-bintang lainnya.

"Ah~ Kau benar. Lagupula bintang tak mungkin pindah tempat, Shun. Dia akan tetap berada dititik itu selamamnya."

"Ya. Kau benar, Kai." Shun tertawa kecil. "Indah…. Masih sama seperti dulu. Meski kilaunya tidak seterang bintang yang lain, entah kenapa dia bintang pertama yang menyita perhatian kita dulu." Jelasnya. "Padahal dunia tak memperhatikannya. Tapi kita berdua berhasil menemukannya. Dia benar-benar bintang yang istimewa bukan, Kai?" Bagi Shun, bintang itu seolah mengartikan sosok Kai dalam dunianya. Sosok pemuda yang begitu biasa yang bahkan tak diperhatikan siapapun, tapi Kai adalah sahabat pertama dalam hidup Shun.

Tentu saja Kai memahami semua makna kalimat Shun. Namun ia bungkam seribu bahasa. Enggan menanggapi kalimat Shun. Namun tidak pula menampiknya dalam benak. Karena bagi Kai sendiri, bintang itu adalah Shun. Meskipun sinarnya redup, tapi Kai tahu ada kekuatan misterius yang membuatnya tampak begitu terang hingga Kai bisa menemukannya.

"Jika bisa sepertinya akan jauh lebih baik jika waktu berhenti saat ini. Haruskah kugunakan sihir istimewa untuk membungkam sang waktu? Hingga pagi tak perlu tiba esok hari. Mengunci kita berdua di tempat ini. Tak perlu tumbuh. Tak perlu menua. Seperti dongeng Peter Pan yang berada di Neverland."

Lelucon yang konyol. Tetapi Kai sama sekali tidak tertawa. "Itu bukan ide buruk."

"Tumben sekali Kai tidak menyela gurauanku. Hmm~"

"Sesekali aku juga ingin sependapat denganmu, Shun. Lagipula berada di sini selamanya tidak buruk. Hutan ini memiliki semua bahan kebutuhan yang kita perlukan untuk hidup. Sederhana. Kecuali jika kau menginginkan royal milk tea dan semacamnya—maaf, tidak akan ada. Jadi apa kau yakin kau masih mau hidup di sini? Jangan lupakan sofa empuk, tempat tidur mewah, semuanya harus kau tinggalkan, lho~" Goda Kai untuk mengusir suasana canggung di antara mereka berdua.

Cemberut mengisi wajah Shun. "Kalau begitu aku sama saja mati."

"Hahaha! Kau yang mulai bergurau, lho!"

"Kai~" Panggilan lembut Shun kembali menghentikan tawa riang Kai.

"Hmm?"

"Dunia ini sebenarnya tidak seluas yang kita kira."

Sorot sepasang iris hijau-kekuningan itu tampak kosong. Cahaya bulan yang terpantul memberi kesan pilu tanpa dasar di hati Kai. Seolah tatapan Shun tengah menenggelamkan Kai pada keputus-asaan tak berujung. Tatapan yang tak pernah ingin Kai lihat seumur hidupnya mengenal Shun.

"Seperti saat ini, aku menatap bintang kita di langit malam. Entah dimana kau berada, jika kau tidak bersamaku, bintang itu akan tetap sama pada tempatnya. Tidakkah itu sama saja seperti kita tengah bersama? Jadi kurasa dunia ini tidak begitu luas. Lucu, bukan? Hanya sebuah bintang yang sangat kecil bisa membuat dunia menjadi sempit. Jadi kalau suatu hari nanti aku tak bisa lagi berada bersamamu, hanya dengan melihat bintang yang sama, tidakkah berarti jiwa kita bisa terkoneksi dengan sempurna?"

Kai diam.

"Berjanjilah satu hal padaku."

Kali ini ia menundukkan kepala dengan enggan. "Sejujurnya aku tak mau mengikat janji apapun di saat kau bicara sepeti ini,Shun."

"Sayangnya kau harus selalu menuruti permintaanku." Shun tersenyum dan berjalan mendekati Kai. Ada perintah sarat makna di setiap kata yang diutarakannya.

Dan Kai ikut tersenyum. Kini ia ikut menatap Shun hingga keduanya berdiri berhadapan. Membiarkan empat bola mata itu saling memenjarakan satu sama lain. "Hmm~ Sepertinya aku terlalu memanjakanmu. Mungkin dikehidupan berikutnya jika kita bertemu aku tak boleh seperti ini, ya."

"Hahaha~ Tidak akan berhasil."

"Lalu…janji apa yang ingin kau ikat denganku?"

Suasana kembali hening dalam beberapa detik. Shun tidak meraih tangan Kai untuk menggenggamnya, karena hubungan keduanya belumlah berlandaskan ikatan romansa yang sempurna. Keduanya sama-sama menggunakan tameng yang disebut persahabatan demi menyelamatkan hati masing-masing. Tapi tatapan mata Shun yang begitu lembut, sudah cukup bagi kai untuk merasakan semua cinta yang dimiliki lelaki itu untuknya. Pun sebaliknya, kehangatan Kai sudah cukup untuk membuat Shun sadar sebesar apa makna kehadirannya untuk pemuda tersebut.

"Berjanjilah untuk terus melihat bintang ini bersamaku. Meski aku tak ada bersamamu. Aku hanya ingin kau yang mengambilku."

"…."

"Kai~"

Hati Kai bagai tercerabut. "Jangan katakan selamat tinggal…karena aku benci itu."

"Tidak akan kuucapkan." Shun tersenyum sambil mengusap wajah Kai dengan lembut. "Jika kau selalu menurut seperti ini, aku hanya akan memberikan jiwaku kepadamu."

Kai meraih tangan Shun dengan hati-hati dan mengecup punggung tangan itu dengan pasti. Ia tidak berlutut. Namun tak juga melepaskan tangan itu dari genggamannya. "Dan jiwaku pun akan kupersembahkan untukmu."

Ini adalah akhir dari takdir mereka berdua.

.

.

Keluarga Shimotsuki adalah keluarga bangsawan teratas yang akan menjalin ikatan kekeluargaan langsung dengan Kaisar. Penobatan yang dilakukan tentu saja menyita perhatian rakyat di berbagai kalangan. Banyak rakyat yang mendukung ikatan ini karena dinilai keluarga Shimotsuki yang juga disokong oleh banyak perusahaan luar negri mampu ikut mendorong negri Jepang menuju kemakmuran. Ditangan Kaisar, dan keluarga Shimotsuki, kedudukan Jepang pastilah akan naik pesat di mata dunia saat itu.

Namun semua tentu tahu intrik politik yang bergemericik di setiap negri. Jika ada yang mendukung, tentu banyak pula yang menentang. Shun dan Kai sama-sama memahami posisi mereka saat ini. Shun yang seorang putra tunggal yang kelak meneruskan keluarga Shimotsuki. Dan Kai yang seorang….

"Serangan! Serangan! Tentara keluarga Harunoichi!"

Sebuah tragedi yang entah kenapa telah dirasakan jauh-jauh hari sungguh terjadi. Istana yang dijaga ketat oleh banyak sekali tentara kekaisaran mendadak mendapat kepungan dari keluarga-keluarga bangsawan yang menentang penobatan ini.

"Kudeta!"

Teriakan dimana-mana. Pasukan berkuda datang meluluh-lantahkan ibu kota. Darah, mayat, bunyi pedang yang saling berbenturan, bersinkronisasi bagai alunan musik kematian yang menegangkan.

"Lindungi Kaisar! Lindungi keluarga Shimotsuki!"

Tapi semua tahu tak ada yang bisa dilakukan jika penggulingan kekuasaan terjadi di sebuah negri. Selain kehancuran dan ketiadaan yang tersisa kelak.

.

.

…dan Kai adalah panglima perang yang dipekerjakan oleh keluarga Harunoichi. Sejak dulu, keluarga Fuduki yang merupakan keluarga samurai kelas atas sudah mengabdi di keluarga tersebut. Kai dan Shun pun sama-sama mengetahui hal ini sedari hari pertama mereka berjumpa di festival musim panas ketika masih belia.

Shun berdiri di taman istana. Menyisakan beberapa mayat tentara yang berhasil dijatuhkannya hanya dengan sebuah pedang. Tapi Shun juga tidak sekuat seorang pangilma perang. Beberapa luka sudah mengoyak kimono kerajaan tradisional yang ia kenakan. Putih bersih yang kini dinodai warna darah, membuat pola bunga peony merah tua di kain tersebut sudah tak bisa dibedakan lagi

Kai berdiri tepat di hadapan Shun. Menghunuskan pedang di hadapan sang putera keluarga Shimotsuki yang terkenal. Sedangkan Shun memilih melempar pedang di tangannya secara sembarang. Tersenyum tulus menatap manik sewarna safir milik Kai.

"Aku sudah menunggumu sejak tadi, Kai~" Shun memejamkan mata perlahan dan membuka kedua tangannya.

Kai tersenyum pilu. "Aku datang untuk menepati janjiku padamu, Shun."

.

.

"…jangan katakan selamat tinggal. Karena aku benci itu…"

"…aku tak akan mengucapkannya."

.

.

"Selamat tinggal… Kai~"

Satu tetes air mengalir dari sudut mata Kai. "Sudah kubilang, aku membencinya~"

.

.

(End)


If you want to back or continue, please click 'next' or 'previous' button~

.

Chapter 1 ; Kimi no Namae Wa (Kannaduki Iku dan Minaduki Rui)

Chapter 3 ; Taisetsu Na Mono (Haduki You dan Nagatsuki Yoru)