::::::::::::::::::::::::::::::

.

.

::::::::::::::::::::::::::::::

Kesenangan di Antara Dua Dunia

What's Happening Beside You—

Chapter 18 . Stray

The Creation-Story © Yoshina Vanatala

VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua

::::::::::::::::::::::::::::::

.

.

::::::::::::::::::::::::::::::

Pernah tersesat di suatu tempat? Mungkin saat jalan-jalan atau segala macam seperti itu?

Aku punya cerita untuk kalian. Cerita kali ini mirip seperti yang pernah kuceritakan di pertemuan ketiga kita, tapi sekarang lebih menakutkan, dan lebih aneh, menurutku.

Jadi aku dan Kamui saat itu sedang jalan-jalan di kota sebelah. Saat itu siang hari menjelang sore, dia ngotot ingin pergi bersamaku. Dan karena kebetulan aku tidak ada kerjaan juga, jadi aku akhirnya ikut.

"Kamui, setahuku ini jalan menuju tempat kemping?" Aku bertanya, karena rasanya aku pernah ke tempat ini sebelumnya.

"Uhm, iya. Memang kalau mau ke tempat kemping, kita bisa lewat jalan ini," jawabnya tanpa menoleh, di saat matanya tetap fokus memperhatikan jalan.

Aku tidak pernah habis pikir, kenapa orang ini mau-maunya berkendara melalui jalanan yang sunyi sementara hujan turun dengan gerimis di luar mobil.

Aku perhatikan dia yang sedang menyetir. Dia hanya diam, terlihat sangat fokus dengan tangan memegang setir. Lalu aku melempar tatapan keluar kaca mobil di sampingku.

Jalanan dikelilingi oleh pepohonan dan semak-semak. Ada beberapa bangunan rumah, tapi jarak satu rumah dengan yang lainnya agak berjauhan. Entah kenapa aku sangat yakin bahwa dia ke sini bukan sekedar memanfaatkan jalan alternatif kota.

"Shion. Ambil kamera di laci. Arah kananmu."

Aku menoleh padanya sekilas. Matanya terlihat memicing. Aku tahu bahwa aku harus segera melakukannya, jadi aku mengambil kamera di laci mobil yang ada di depanku. Lalu entah kenapa aku langsung paham bahwa dia ingin aku memotret sisi kananku.

Aku pun memotret pemandangan di luar mobil melalui kaca mobil di sampingku. Tapi setelahnya, aku tidak mendapati apapun.

"Tidak ada apa-apa," komentarku singkat. Aku tidak menyangka bahwa aku akan terdengar kecewa barusan.

"Hee, berarti memang tidak bisa."

Aku tidak paham apa maksudnya. Aku pun mematikan dan menaruh kameranya ke dalam laci kembali. "Maksudmu?"

Dia tidak menjawab. Lalu dia terlihat mengangkat sebelah alisnya. Dia terlihat bingung. "Shion, kau tahu jalan ini ke mana?"

"Meskipun aku bilang aku pernah ke sini, itu sudah lama sekali jadi aku sudah lupa."

"Blah. Celaka." Dia menyeringai miris.

"Kenapa?"

Dia pun memberhentikan mobil di pinggir jalan yang terbuka. "Kau harus tahu bahwa sepertinya kita tersesat."

"Kenapa kau bisa mengatakan sesuatu yang mengerikan seperti itu dengan tenang?" Kenapa kubilang mengerikan? Karena kita tidak akan tahu, di daerah mana kita sekarang!

Kemudian dia terdiam. Matanya menelusur di sekeliling, dan menyeringai lebar. "Keberatan kalau kita keliling-keliling sebentar selagi mencari jalan keluar?"

"Sesukamulah." Aku pasrah. Lagipula hanya itu yang bisa kulakukan, bukan? "Aku hanya ingin pulang sebelum malam hari."

"Hum...," dia bergumam. Matanya seperti sedang mencari sesuatu di luar mobil. "Coba kau tanya seseorang di rumah itu. Siapa tahu dia bisa menunjukkan jalan."

Aku menoleh untuk melihat rumah apa yang dia maksud. Rumah itu berdiri sendiri di antara pepohonan, lebih terlihat seperti gubuk. Seharusnya itu hanya rumah biasa, tapi karena keadaannya sedikit tidak terurus, aku jadi ragu.

"Kau yakin?"

"Ayolah. Ini masih sore, Shion. Aku yakin selain kanibal, tidak akan ada yang membuka pintunya," candanya. "Kecuali monster."

"Diam dan jangan ngomong tentang kanibal di tempat seperti ini!" Aku kesal dengan ucapan ngawurnya itu. Hati-hati, siapa tahu ucapan adalah doa.

Dia malah tertawa melihatku sewot. "Makanya, tanya sana."

Sudah minta tolong, memaksa lagi. Sialan.

Jadi aku membuka pintu mobil, dan menurunkan kaki. Aku berjalan di atas rumput liar yang pendek, pertanda bahwa daerah ini sebenarnya terawat. Dan akhirnya aku pun sampai di depan rumah itu.

Aku mengetuk pintu.

"Permisi, apa ada orang?"

Tidak ada jawaban.

Sekali lagi aku ingin mengetuk pintu yang terlihat tua dan rapuh itu, tetapi ternyata seseorang di balik pintu ini mendahuluiku. Pintu terbuka, dan kegelapan menyambutku.

Aku menahan napas sejenak. Aku sudah bersiap untuk berbalik dan berlari secepat yang kubisa, kalau-kalau sang tuan rumah ternyata adalah sosok yang seperti disebutkan Kamui tadi.

Tapi syukurlah. Hanya seorang pria tua berpakaian ala petani. Dengan ekspresi wajah datar, matanya yang tampak lelah itu menatapku dengan aneh. Dan aku jadi ikut merasa aneh dengan mata itu.

"Ano." Aku membuka pembicaraan. "Saya tersesat. Apakah Bapak tahu, jalan ini menuju ke mana?"

Aku menunjuk jalan yang searah dengan mobil di pinggir jalan.

Pria paruh baya itu tidak menjawab. Dia masih memperhatikanku dengan tatapan aneh, atau mungkin lebih tepatnya dengan tatapan kosong. Aku jadi semakin risih. Seolah-olah ada yang salah dengan kehadiranku di sini.

"Pak?"

"... di ujung jalan itu, hanya ada kematian bagi kalian."

"Hah?" Aku bengong mendengar jawabannya. Halo, ini bukan film hantu, bukan?

Lagi-lagi pria itu tidak menjawab. Malahan perlahan dia menutup pintu rumahnya.

"H-hoi, Pak." Aku masih linglung, jadi aku hanya bisa terdiam ketika pintu itu benar-benar menyembunyikan sosok misteriusnya itu.

Hell. Apa-apaan pria tua itu.

Jadi masih dalam keadaan bingung, aku kembali ke mobil di mana masih ada Kamui yang menungguku di dalamnya.

"Apa katanya?" Dia langsung bertanya setelah melepas earphone dari telinganya. Sepertinya selagi aku berhadapan dengan orang aneh tadi, dia malah dengan asyiknya mendengarkan lagu lewat MP3 player-nya. Jadi kalau tiba-tiba pria tua itu menyekap dan memutilasiku di dalam rumah angkernya itu, mungkin orang gila ini tidak akan tahu.

Tapi karena dia orangnya memang begitu, aku hanya diam.

Aku tidak langsung menjawab. Aku menutup pintu, duduk dengan tenang di sebelah bangku kemudi, dan menarik napas dalam-dalam. Mencoba untuk menenangkan diri. "Sepertinya kita tersesat di tempat yang benar-benar mengerikan."

"Memangnya apa yang orang itu katakan tadi?"

"Dia hanya bilang, di ujung jalan itu, hanya ada kematian bagi kita."

Tawanya langsung meledak. "Hahahaha, apa-apaan itu!"

"Entah kenapa, aku merasa bahwa yang dia katakan itu benar." Aku terlanjur tenggelam dalam rasa takutku. Siapa yang tahu kalau ucapan itu memang benar?

"Ha. Jadi kau takut menghadapi kematianmu sendiri, Shion?" Dia merenggangkan kedua tangannya. Lalu seringainya kembali muncul. "Tenang, dia tidak akan menggigit kok."

Aku benar-benar mengutuk orang yang sama sekali tidak pernah merasa takut ini.

"Jadi kau percaya bahwa itu benar?" Aku bertanya.

"Berhubung kita hanya numpang lewat di sini, sedangkan dia adalah penduduk lama, jadi mungkin saja dia memang mengatakan kebenaran."

"Aku jadi takut."

"Ha, pengecut."

"SIAPA YANG TIDAK AKAN TAKUT KALAU TERSESAT DI TEMPAT MENAKUTKAN INI, LALU BERTEMU ORANG YANG MENGATAKAN KALAU KAU HANYA AKAN BERAKHIR MATI DI SINI—"

"Shion, tenanglah."

"KAU MENYURUHKU TENANG? MANA BISA AKU TENANG—"

Tiba-tiba dia membekap mulutku dengan tangannya. Begitu keras dan kasar, sehingga aku yakin setelah ini, pasti ada bekas lebam di sekitar rahangku ini.

Sepertinya ada yang sedang terjadi di sekitar mobil ini. Makanya aku tidak melawan ketika dia membekapku.

Aku merasakan detak jantungku semakin melaju saat aku mulai menyadari, bahwa mungkin benar-benar ada sesuatu yang tidak beres di sini.

Kaca di sekeliling mobil ini menggunakan kaca film, sehingga kita tidak akan bisa melihat isi mobil dari luar. Sementara itu, kita bisa melihat dunia luar dari dalam.

Tapi aneh.

Aku tidak melihat apa-apa selain gelap di luar sana.

Aku memegang tangannya yang masih membekap mulutku, berusaha untuk melepaskannya dariku. Tapi genggamannya begitu keras. Sungguh aku mengutuk orang ini.

Lagipula selain tangan, aku tidak menggerakkan tubuhku sama sekali. Seperti lumpuh sesaat. Aku mulai kesulitan bernapas. Bukan karena bekapannya, tapi karena aku merasakan aura yang tidak biasa di sekitarku.

Setelah beberapa saat bertahan dalam keadaan seperti itu, akhirnya dia melepaskan bekapannya.

"Akhirnya dia pergi juga."

"Fuah—apa-apaan kau ini!" Aku menggerak-gerakkan rahangku. Terasa sedikit kebas.

"Suaramu yang nyaring itu sempat mengganggu penduduk di sini, kau tahu?"

"Benarkah?"

Dia mengangguk dan menyalakan mobil. Suara mesin yang halus dan pelan pun terdengar di tengah keheningan. Lalu dia pun menjalankan mobilnya kembali.

Sejenak, suasana di antara kami benar-benar hening. Aku mulai gelisah karena aku merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Apalagi setelah kejadian tadi.

"Apakah penduduk yang kau maksud itu adalah pria tua yang kudatangi tadi?"

"... iya."

"Begitukah? Tapi tunggu. Bagaimana kau bisa melihatnya? Aku bahkan tidak melihat apapun tadi." Lalu aku melihat keluar lagi. Sudah senja, tapi matahari masih terlihat walaupun samar. Kenapa tadi aku hanya melihat gelap ya?

"Kau benar-benar tidak melihat apa-apa tadi?"

Aku mengangguk.

"Berarti sesuai dengan dugaanku. Itu bukan manusia."

"Apa?"

"Aku melihat sosoknya dengan sangat sangat jelas di kaca jendela sebelahmu tadi. Wajahnya terlihat datar. Makanya aku menunduk saja tadi ketika dia masih ada di sana."

"Oh, wajah datar ya."

"Wajah datar yang kumaksud ini adalah wajah yang benar-benar datar. Tidak ada mata maupun mulut. Syukurlah kau tidak melihatnya tadi."

"Hah?" Aku syok mendengarnya. "Pria tua yang kulihat tadi... wajahnya lengkap."

"Makanya aku sempat ragu menjawab pertanyaan pertamamu tadi, apakah penduduk yang kumaksud itu adalah orang yang sama dengan pria tua yang kau temui di rumah angker itu. Pasalnya tidak mungkin kau tidak bercerita jika pria tua itu memang berwajah datar dari awal."

Aku bengong sejenak. "Pantas saja aku merasa ada yang aneh dengan matanya tadi. Seolah mata itu... bukan mata."

Aku tahu kalimatku barusan terdengar aneh, tapi aku yakin kalian paham maksudku.

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku tidak mau tersesat di tempat seperti ini!" Aku mulai panik. Aku kembali melihat ke luar. "Dan lihat, sekarang sudah malam!"

Dia tidak menjawab. Ekspresi wajahnya masih begitu tenang, seolah-olah dia sedang berusaha memberitahuku, "Tenang saja, Shion. Cepat atau lambat, kita pasti akan menemukan jalan keluar!"

Tapi kalimat itu seakan tidak pernah bisa dikeluarkan. Tidak di saat keadaan seperti ini.

Masih dengan mobil yang berjalan, kami tenggelam di dalam pikiran kami masing-masing. Aku memikirkan apa yang harus kami lakukan, mungkin dia juga seperti itu. Aku tidak tahu. Ketika aku pikir dia memikirkan ini, ternyata dia memikirkan itu. Dia sama sekali tidak bisa kutebak.

Aku memperhatikan pemandangan di luar sekali lagi lewat kaca jendela di sampingku. Sudah hampir 3 jam kami berputar-putar mencari jalan. Jalanan tampak seperti berjalan melewati mobil, padahal mobil kami yang berjalan melewati mereka. Syukurlah bulan purnama bersinar malam ini, jadi jalanan tidak terlalu gelap.

Aku sedikit mengantuk, tapi aku tahu aku sama sekali tidak bisa tidur di saat menyeramkan seperti ini. Jadi aku hanya diam, memperhatikan apapun yang bisa kulihat di luar mobil dengan penerangan seadanya.

Aku melihat pepohonan terlihat sedikit bergoyang, seakan mengirimkan sirine tanda berbahaya.

Ketika kami berjalan, tiba-tiba mobil menabrak sesuatu. Menyebabkan suara debam yang nyaring. Aku terkesiap.

Sepertinya mobil ini menabrak sesuatu, atau seseorang.

"A-apa itu tadi?" Karena aku sudah terlanjur takut, jadi aku mulai membayangkan hal yang aneh-aneh. Aku tidak berani melirik ke mana-mana. Aku benar-benar takut!

"Biar kuperiksa sebentar."

"T-tunggu!" Aku spontan menahan pintu mobil yang hendak dia buka. "A-aku tidak mau sendirian di sini!"

"Lalu kau mau ikut?"

"Aku juga tidak mau keluar mobil!"

"Trus? Kau maunya apa?" Aku bisa mendengar suaranya meninggi. Sepertinya dia mulai emosi mendengar jawabanku yang terkesan labil. "Kita tidak mungkin meninggalkan sesuatu atau seseorang yang kita tabrak tadi begitu saja di pinggir jalan. Setidaknya kalau dia mati, aku tidak mau dihantui hanya karena kejadian tabrak lari ini."

Aku terdiam tanpa bisa menjawab lagi. Napasku mulai tidak beraturan, karena aku panik. Yang dia katakan itu memang benar, tapi aku punya firasat yang lebih buruk mengenai semua ini.

"Dilihat dari kaca spion juga bisa, 'kan?" Aku berusaha mencari cara lain, pokoknya aku tidak akan membiarkan dia keluar!

Kulihat dia memutar matanya. "Ayolah. Aku hanya sebentar."

"Tapi Kamui—"

Dia begitu keras kepala dan akhirnya keluar mobil tanpa bisa kutahan lagi.

"Aku hanya sebentar. Jangan khawatir."

Dia berbisik, lalu menutup pintu mobil. Kulihat dia pergi ke belakang mobil, dan memeriksa sesuatu di sana.

Semenjak dia pergi, sekarang suasana horor semakin terasa. Aku berusaha untuk menenangkan diri, tapi semakin kucoba, aku malah jadi semakin takut.

Halusinasi tercipta ketika kita merasakan rasa takut atau cemas.

Jadi aku berhalusinasi melihat kabut di depan mobil. Entah itu memang benar-benar ada atau hanya aku yang terlalu takut. Pastinya aku hanya bisa terdiam di bangku, keringat dingin membasahi bajuku, dan aku bahkan mulai merasa seperti tidak bernapas.

Kenapa Kamui ini lama sekali!

Tunggu. Apa itu?

Aku seperti melihat sesuatu melayang jauh di depan sana.

Lalu aku dikejutkan oleh suara pintu mobil yang dibuka. Saking terkejutnya, rasanya jantungku seperti dicabut dari tempatnya.

Ternyata itu Kamui. "Sudah kubilang. Aku hanya sebentar."

Sebentar saja tapi rasanya seperti berabad-abad.

Aku ingin mengatakannya, tapi kalimat itu tertahan di ujung lidahku. Karena aku hanya bisa menganga, dia melanjutkan ucapannya lagi. "Tidak ada apa-apa di belakang. Mungkin hanya kelelawar."

Aku ingin sekali memberitahunya mengenai penemuanku tadi. Tapi aku sangat takut. Aku takut kalau aku mengatakannya, tiba-tiba "itu" akan muncul karena merasa dipanggil. Bukannya hal itu sering terjadi? Ya, 'kan?

"Tapi aku merasa seperti ada yang mengikuti kita dari tadi. Apa kau merasakannya?"

KENAPA MALAH KAU YANG MENGATAKANNYA?

Aku menoleh padanya dengan mata melotot. Dan karena dia sudah terlanjur memulainya, jadi sudahlah. Kukatakan saja padanya. "Kamui, tadi aku melihat ada sesuatu berwarna putih terbang di depan sana."

Lalu hening. Sungguh, benar-benar hening.

Tidak ada suara apapun. Bahkan aku merasa jantungku seperti tidak berdetak sama sekali.

Perlahan aku merasa bahwa tidak seharusnya aku mengatakannya.

Tiba-tiba aku melihat ekspresi wajahnya menegang. Matanya melebar. Dia segera menyalakan mobilnya, kemudian menjalankannya dengan kecepatan penuh. Mobil berjalan dengan ugal-ugalan, tapi aku tidak peduli. Aku yakin dia pasti melihat sesuatu yang tidak bisa kulihat.

Atau sesuatu yang baru saja kulewatkan.

"Shion, pegang kemudiku!" perintahnya tiba-tiba. Suaranya terdengar agak panik, tapi entahlah.

"A-apa?! Kemudi?!" Aku ikut panik mendengarnya.

"Ya. Cepatlah!"

Aku sebenarnya bingung, dari tempatku duduk ini, bagaimana caranya aku bisa mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi ini?

Tapi karena aku panik, jadi aku tidak sempat berpikir ke sana. Aku langsung mendaratkan kedua tanganku di setir mobil, dengan membengkokkan badanku. Sebenarnya aku tidak bisa mengendarai mobil—apalagi dengan keadaan brutal seperti ini, tapi entah kenapa tiba-tiba aku mendapat kemampuan untuk bisa membuat mobil tetap dalam lintasan jalan.

Tapi itu tidak berarti aku bisa mengendarainya dengan baik.

"Memangnya kau mau apa?!" Aku bertanya panik. Alih-alih menjawab, dia malah mengambil kamera dari laci mobil.

Setelahnya aku tidak tahu apa-apa lagi. Aku memusatkan seluruh perhatianku pada jalanan. Sungguh aku hanya tahu itu.

"Shion! Ke mana kau memutar kemudinya?!"

"Aku tidak tahu!"

Aku mendengar suara suatu benda yang jatuh, mungkin kamera miliknya, lalu dia segera merebut setir dariku.

Dia segera membanting setir. Jadi mobil ini akhirnya berhenti di tengah jalan setelah dia berhasil membuat mobil ini berputar-putar seperti gasing.

Dasar setan.

Saking pusingnya karena baru saja berputar-putar, aku memutuskan untuk menutup mata, dan menyenderkan kepala ke mobil.

Rasanya tidak lama kemudian, aku pingsan. Karena aku sudah sangat capek dengan semua kegilaan ini.

::::::::::::::::::::::::::::::

.

.

::::::::::::::::::::::::::::::

Aku membuka mata ketika aku merasakan cahaya menusuk mataku. Ugh, kepalaku rasanya sangat sakit. Bisakah aku melepas kepalaku ini sebentar saja?

Oke, ngawur.

Setelah membiasakan diri dengan cahaya yang ternyata berasal dari matahari ini, aku mulai memperhatikan sekeliling. Sepertinya aku masih ada di mobil Kamui yang berada dalam keadaan tidak menyala. Tapi sang pemilik mobil tidak ada di tempat.

Aku mulai merasa lapar.

Jadi aku memutuskan untuk membuka pintu mobil, dan keluar. Siapa tahu ada dia di luar mobil ini.

Udara segar pagi hari langsung menempaku. Menyegarkan seluruh kulit wajahku yang pasca kelelahan tadi malam. Rasanya begitu melegakan karena matahari pagi menyambutku dari sudut kiri dunia. Berarti aku sudah meninggalkan malam yang seakan terasa begitu panjang.

Aku baru sadar, mobil ini diparkir di pinggir jalan raya. Ada beberapa mobil yang lewat, tapi tidak ada yang berhenti.

Tidak jauh dari tempatku berada, atau lebih tepatnya di sebelah mobil, aku melihat seseorang duduk di atas karpet. Dia mengenakan jubah coklat, dan topi coklat berukuran sangat besar. Dua benda tersebut membuat dirinya tenggelam... maksudku jadi tidak terlihat. Dia juga memakai sepatu bot hitam.

Entah kenapa sepatu itu langsung mengingatkanku dengan Kamui.

Orang itu tidak melakukan apapun melainkan duduk dan duduk. Dia menundukkan kepalanya, dan menyedekapkan kedua tangan di depan dada. Sebenarnya itu biasa saja—meskipun terkesan cenderung mencurigakan, ada sebuah papan di depannya.

"Bantuan untuk seorang kaya yang fakir," ucapku dengan suara pelan.

Astaga.

"Hei, kau." Aku mencoba memanggil orang itu. Aku sangat yakin bahwa orang ini adalah Kamui, tapi dia tidak kunjung menyahuti panggilanku. "Kamui?"

Dia hanya diam.

Mungkin dia bukan Kamui. Lalu dia ada di mana?

Selagi aku sedang bingung, aku melihat ada sebuah mobil yang berjalan ke arahku. Mobil itu melaju dalam kecepatan yang pelan, tampak seperti ingin mampir. Dan, ya, mobil itu benar-benar berhenti. Di depan orang misterius ini.

Aku melihat dia menurunkan kaca mobilnya, dan tanpa membuka pintu mobil, dia melemparkan beberapa koin ke sebuah tempat di depan orang misterius itu.

Aku melongo melihatnya.

Setelah mobil itu kembali berjalan menjauh, aku memperhatikan orang misterius itu mengangkat topi miliknya sebagai tanda hromat atau apapun yang mirip seperti itu, kemudian menaruhnya kembali di atas kepalanya.

Dia mengambil koin-koin itu, dan berdiri dengan gerakan yang pelan.

Entah kenapa jantungku sedikit berdebar. Aku penasaran sekaligus takut mengenai apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

Tiba-tiba dia tertawa nyaring. Kalau aku punya penyakit jantung, mungkin rohku sudah terlempar entah ke mana. Belum puas rupanya dia mengagetkanku. Tanpa kuduga-duga, dia langsung melepaskan jubah dan topi kebesarannya itu, membuang mereka semua secara tidak beraturan.

Sudah kuduga dia itu Kamui!

"Bangsat kau. Bisakah kau tidak menakutiku sehari saja?" Aku melabraknya yang tertawa sinting dengan tangan masih menggenggam koin-koin uang tadi.

"Hahaha! Hei, kalau tidak begitu, kita takkan bisa pulang tanpa ada bensin yang mengisi mobilku ini!" Dia masih saja tertawa bahkan ketika aku memukul bahunya dengan keras. Dia memang sempat mengernyit sih.

"Hah? Maksudmu?" Sedangkan aku hanya bertanya dengan heran.

"Kau harus tahu. Gara-gara kita melarikan diri dari hantu sialan itu, mobil ini kehabisan bensin."

"Dan kau tidak membawa uang sama sekali?"

"Bingo!" Dia tertawa lagi. "Dan aku tahu kau juga tidak membawa uang, jadi aku memutuskan untuk menyamar dan mengemis saja! Lumayan, 'kan?"

"Tunggu. Kenapa kau bisa tahu kalau aku tidak ingat bawa uang?"

Dia tiba-tiba terdiam. Aku mengangkat sebelah alisku. "Hei?" Aku menegurnya.

"Hum? Ah, tentu saja itu rahasia..." Dia seolah-olah tersentak, lalu menyeringai. "Ayo. Uang ini sudah cukup dan aku yakin bensin yang masih tersisa sedikit ini juga cukup membawa kita sampai ke POM selanjutnya."

Aku menjawabnya dengan bergumam tidak jelas. Aku masih bingung bagaimana bisa dia tahu aku tidak membawa uang.

Dan aku berpikir sepertinya kalau aku menanyakannya sekarang, dia takkan mau menjawabnya.

Setelah aku berada di dalam mobil, aku memutuskan bahwa aku akan menanyakan hal itu nanti. Ya, nanti. Meskipun aku tidak tahu "nanti" itu kapan.

::::::::::::::::::::::::::::::

.

.

::::::::::::::::::::::::::::::

to be continued.

::::::::::::::::::::::::::::::

.

.

::::::::::::::::::::::::::::::

03122015. WHBY18. YV