.

.


Kesenangan di Antara Dua Dunia

What's Happening Beside You—

Chapter 19 . The Fake Doll

The Creation-Story © Yoshina Vanatala

VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua


.

.


Aku tahu ini sama sekali tidak seram dan malah cenderung sangat garing. Tapi sudahlah. Aku yakin kalian tetap mau membaca meskipun aku bilang begitu.

Ini pengalamanku ketika aku masih bersekolah SD. Saat di mana aku masih sangat amat polos, dan belum terlalu tertarik dengan dunia gaib.

Jadi sebagai murid di sekolah biasa di mana sistem pembelajarannya pun juga biasa saja, tentu saja kita akan menemui, adakalanya suatu jam pembelajaran hanya akan dipenuhi oleh hiruk-pikuk siswa yang menganggur karena gurunya tidak hadir. Ya, aku yakin kalian pasti juga pernah mengalaminya.

Ada seorang siswi di antara kami, sebutlah dia M—karena aku tidak ingat siapa namanya. Dia terkenal sebagai orang yang ambisius, pemberani, dan pembosan. Dia tidak akan segan-segan menantang maut ketika dia sudah benar-benar penasaran dan antusias terhadap suatu hal yang menarik baginya.

Pada saat itu, dia memutuskan bahwa semua anak akan memainkan sebuah permainan yang sesungguhnya lumayan berbahaya—ini ada kaitannya dengan boneka, mungkin di tempat kalian ini disebut permainan jelangkung.

"Apa? Kau serius?" Teman-temannya sempat ragu ketika mereka mendengar keputusan si M itu. Sementara itu, M hanya mengangguk penuh antusias.

"Ayolah! Kita tidak akan apa-apa! Setelah dia menulis namanya, kita akan memintanya untuk pergi!"

Kalau kupikir-pikir sekarang, apa bisa semudah itu mengusir roh?

Aku yang saat itu sedang duduk di salah satu sisi kelas, hanya bengong karena aku tidak tahu apa-apa mengenai hal itu.

"Hei, Kaito. Kau mau ikut kami? Kami mau ke kantin," ajak temanku yang berada di sampingku. Dia sudah memasang ancang-ancang hendak meninggalkan kelas. "Kami tidak mau ikut permainan macam gini."

"Eits!" Tiba-tiba M datang dan menyergap temanku itu. "Kalian juga harus ikut! Tidak ada yang boleh pergi begitu saja!"

"Hei! Bagaimana bisa kau memutuskan seenaknya begitu?!" Jelas saja temanku tidak terima.

Tapi aku tidak begitu ingat apa yang M lakukan hingga akhirnya teman-temanku itu menyerah dan terpaksa ikut dengannya.

Jadi, sebelum ritual dimulai, kami meminggirkan meja-meja agar tercipta ruang kosong di tengah-tengah kelas. M dan teman-temannya duduk di tengah kelas, sedangkan aku duduk di pinggir kelas karena bagaimanapun juga, aku tidak paham kenapa ini bisa terjadi.

Oke, aku ingin mengingatkan. Ini adalah masa SD, di mana semua anak di dalamnya masih sangat polos dan ada beberapa di antaranya masih penakut. Hmm, mungkin aku termasuk yang terakhir ini.

Karena mereka tidak tahu di mana mencari batok kelapa—yang biasanya dijadikan sebagai kepala boneka—dan segala macam benda mengenainya, jadilah mereka mencari penggantinya dengan... pulpen.

Pulpen itu berwarna kuning, dan ada sebuah miniatur mainan yang mirip sekali dengan Bumblebee (robot Transformer) tapi bukan itu, di salah satu ujungnya. Pulpen itu berukuran lumayan besar untuk dipakai menulis, dan aku tidak tahu bagaimana bisa ada pulpen seperti itu di dunia ini.

Kemudian, mereka menyiapkan selembar kertas untuk dijadikan media menulis. Tirai jendela pun ditutup, lampu kelas dimatikan.

Mereka—si M dan teman-temannya—mulai membaca mantranya. Aku tidak tahu apakah mantranya benar atau tidak, karena aku sendiri tidak mendengarkannya. Saat itu aku mulai sadar bahwa ini adalah permainan berbahaya dimana ada kemungkinan salah satu di antara kami bisa saja mengalami kesurupan.

Jadi intinya, aku mulai ketakutan sendiri. Dan aku yakin tidak akan ada yang peduli juga dengan hal itu karena mereka juga ketakutan.

Aku bisa melihat "boneka" itu dipegang oleh lima orang siswi, termasuk si M juga, dan mereka memutarnya di atas kertas dengan gemetar. Ketahuan sekali bahwa mereka juga sebenarnya ketakutan.

Tapi aku tidak menemukan adanya raut ketakutan di wajah M. Apakah dia segitunya antusias hingga melupakan apa itu namanya rasa takut?

Seusai mereka membacakan mantranya, mereka berhenti memutar "boneka" itu. Suasana kelas pun hening. Semua orang menunggu apakah kira-kira yang akan terjadi selanjutnya.

Setelah beberapa saat, tidak ada yang terjadi. Benar-benar tidak ada yang terjadi.

M pun bergumam, "Apakah kita salah membaca mantranya?"

Tidak ada yang menjawab. Atau lebih tepatnya, tidak ada yang berani menjawabnya.

Tidak lama setelahnya, tiba-tiba "boneka" itu terlihat bergetar.

Semua anak langsung menjerit.

Mereka berlarian keluar kelas. Begitu juga dengan anak-anak yang memegang "boneka" tadi.

Tapi ada beberapa anak yang masih bertahan di dalam kelas. Entah apakah mereka hanya terlalu kaget untuk beranjak dari tempatnya, ataukah rasa penasaran mengalahkan rasa takut mereka sehingga mereka memilih untuk tetap berada di tempat?

Aku tidak termasuk di antara ketiga golongan di atas. Aku tetap bertahan di kelas karena aku sendiri terlalu bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Soalnya semua itu terjadi dengan sangat cepat.

"Apa? Apa yang terjadi?" Aku mendesis pelan. Aku menatap pada M yang ternyata masih duduk di tengah kelas. "Boneka" yang bergetar tadi sekarang berada di atas lantai. Tidak berdiri, atau melayang. "Boneka" alias pulpen itu tidak bergerak sama sekali melainkan tergeletak begitu saja di atas lantai.

Tidak ada yang menjawab pertanyaanku barusan. Yang kudengar hanyalah gumaman pelan oleh si M, dan dia tersenyum miring.

"Yah, aku gagal ketemu mereka lagi deh."


.

.


to be continued.


.

.


Balesan review. (11 review)


Kamui Shion : GYAAAAAA THANKS JUGA UDAH SETIA NUNGGUIN WHBY SAMPAI MAU BERKARAT GINI. /apaansihthor

Tapi kelakuan Akaito emang mirip anjing, 'kan? /dibakar Akaito/ Njir, ane ngetik bagian "kencan" itu dalam keadaan mabok, jadi udah gak sadar lagi. Dan ketika udah sadar, ane malah sayang mau ngehapus bagian itu. /nak

Kenapa Kaito bilang dia menyesal udah ketemu sama Gakupo? Tenang, ending cerita ini akan menjelaskan semuanya, mwahahaha. /nak

Makasih udah RnR! ^^


Inelle : Mungkin dia haus, makanya dia minjem gelas buat minum, trus dia taroh di atas meja, jadi suaranya kedengaran. /apaansih

Makasih udah RnR! ^^


purpleYumi : Yup, yang jalan sama Kaito itu setannya, tapi Kaito aja yang gak sadar saking polosnya. www

Makasih udah RnR! ^^


lalalala-chan desu : Kaito 'kan maso, jadi dia mah orapopo. /wat/ Ciee, hati-hati, ntar ada yang ngetuk-ngetuk pintu kamar loh. Trus, cilukba! /nak

Btw, rumah saya deket banget sama kuburan loh, trus ada anjing di seberang rumah, jadi anggap aja itu udah lumayan horor. www

Makasih udah RnR! ^^


macaroon waffle : Trus selama pulang magrib itu, pernah ketemu sama yang gitu-gitu gak? /apanya/ Wanjerr, Nezumi dan Shion pula. wwwww

Makasih udah RnR! ^^


Aoi-chan to Seiyuu-chan desu : Bagian "kencan" itu emang bagian yang amat ambigu dan pada saat saya sadar bahwa itu tidak seharusnya ada di fanfic ini, entah kenapa saya malah terlalu sayang buat ngehapus itu. /waat/ Wanjerrr, Kaito yang cemburu itu unyu sekalee. /apa

Makasih udah review! ^^


puella : Ah, makasih, saya emang unyu kok. /bukanlu/ Hiks, internet positif itu emang sangat kamvret sekali. :v

Makasih udah RnR! ^^


TrueNaturePJ : Adegan itu gak sengaja aku buat sebenarnya, tapi karena terlalu sayang sama bagian itu, jadi aku biarin aja. /apa/ Hahaha, di chapter 18 ada adegan yang ambigu lagi tuh, mari kita fangirl-an lagi. www /nak

Wah, bisa juga tuh. Aku pernah mampir di sana sih, tapi itu udah lama banget. Lumayan juga, siapa tau bisa mancing ide. www

Btw, sebenarnya aku udah ngerasa ini dari pertama kali kamu nge-review fanfic ini, tapi kayanya aku pernah baca fanfic yaoi apa gitu judulnya di fandom Gravitation, udah dihapus sih kayanya, dan penname authornya itu rasanya ada "truenature"nya... apa itu fanfic-mu? ._. Maaf aku cuma pengen tau /apaansihthor

Makasih udah RnR! ^^


Seijuurou Eisha : Trus aku jadi jin penunggu pohon beringin. /apanya/ Tidak! Jangan gelitik aku, gelitikin Kaito aja nih. /ngelemparKaito

Eciee, makasih. Aku senang ada yang bilang ini serem. www Wah, apa lidinya cuma satu? Trus, batang lidinya ditaroh kaya apa? Kayanya bisa dijadiin bahan cerita nih...

Makasih udah RnR! ^^


Xinon : Iyaa saya sendiri juga gak nyangka, bentar lagi WHBY udah mau tamat aja! /thor/ Yah... anggap aja itu semacam teror. Dan btw, saya seneng aja bisa bikin Kaito jadi paranoid gara-gara sering diteror sama para hantu. www /nak

Kadang-kadang baca urban legend sih, entah itu di internet, atau malah orang-orang di dunia nyata yang cerita. Njir, 3 chapter ini aja udah bikin ngesot apalagi sampai 10 chapter... tapi kalo lagi kebanjiran ide, bisa aja kayanya. /apa

Makasih udah RnR! ^^


Hanako Frost : Hahaha, tapi pada akhirnya, saya baru update hari ini. www Eciee, ketagihan pengen baca lagi. /gakgitu

Gak apa-apa, authornya ngaco juga kok, jadi kalo dapat review ngaco, authornya pasti bisa langsung paham. /nak

Makasih udah RnR! ^^


.

.


A/N : Pertama-tama, untuk ribuan kalinya jadi saya yakin kalian pasti muak membacanya, saya mau minta maaf sebesar-besarnya karena saya telat update dan ingkar janji. Ngomongnya cuma sampai November, tapi nyatanya saya baru bisa update di Desember. Ya, banyak kejadian ini-itu yang membuat saya "sibuk" dan ini juga sudah disempat-sempatkan buat update... yah, nanti bakal ada laporannya kok, apa aja yang saya lakuin selama hiatus panjang ini.

Dan btw, di chapter depan, akan muncul seorang tokoh yang benar-benar misterius dan sungguh, dia telah mengubah kehidupan Kaito 180 derajat! Dia juga termasuk faktor yang menentukan akhir dari cerita ini loh. Dia cewek atau cowok? Entah, mungkin dia bencong... /dibacok

(Hint : Dia juga pernah muncul di antara chapter 1-19 (njir, saya gak nyangka bentar lagi udah chapter 20 aja!), tapi hanya numpang nama, numpang lewat... atau bisa jadi dia sama sekali tidak pernah tampil di sini tapi sosoknya disebut-sebut oleh tokoh lainnya, silakan tebak siapakah dia)

Oke, beritahu saja saya apa yang kalian pikirkan tentang fanfic ini... atau tentang saya. /apaansihthor/ Jaa.


03122015. WHBY19. YV