.
.
Kesenangan di Antara Dua Dunia
—What's Happening Beside You—
Chapter 20 . M for Mysterious
The Creation-Story © Yoshina Vanatala
VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua
.
.
Aku minta waktu sebentar untuk kali ini saja, berhubung ini adalah pertemuan kita yang kedua puluh, dan sesungguhnya aku juga sedang kehabisan cerita seram. Jangan khawatir, selanjutnya kita akan kembali ber-horor ria lagi.
Aku ingin menceritakan garis besar dari apa yang sudah terjadi selama ini, dan menjawab beberapa pertanyaan yang mungkin tidak bisa dijawab oleh si penerbit cerita ini (kalian memanggilnya "author") dan hanya aku sendiri yang bisa menjawabnya.
Aku senang karena kita sudah bersama selama lebih dari satu tahun. Aku benar-benar berharap kita bisa bersama lebih lama lagi. Tidak, jangan menangis dulu. Ini bukan pertemuan terakhir kita. Setidaknya si author juga tidak rela kalau pertemuan kita berakhir hanya sampai sini saja.
Justru ini adalah awal dari semuanya.
Jadi, di pertemuan pertama, untuk pertama kalinya kalian dan juga aku bertemu dengan makhluk bernama Kamui Gakupo ini. Dia termasuk orang yang nyentrik selain karena dia sering tampak mencolok di antara orang lain dengan rambut ungu gelapnya itu, tidak semua orang punya sifat pemberani dan nekad seperti dia.
Tapi kurasa kalian malah menyukai sifatnya yang seperti itu. Aku? Entahlah. Aku selalu tidak bisa menjawab ketika ada yang menanyakan hal itu padaku.
Dari pertemuan pertama kita itu, aku selalu mendapat surat dari para pembaca yang isinya beragam. Ada yang sekalian curcol tentang pengalaman mistis mereka, ada yang memberikan pendapat mereka mengenai tingkat keseraman ceritaku di setiap pertemuan, ada yang menyarankan aku untuk membaca urban legend—siapa tahu aku berniat untuk menceritakannya pada Kamui, lalu manusia itu pun akan penasaran dan ingin membuktikan kebenarannya, dan ujung-ujungnya aku akan diseret olehnya untuk menemaninya.
Ada juga yang sepertinya cemburu kalau ada perempuan yang ikut terlibat dalam kisah seru petualanganku ini. Hahaha, aku tertawa kalau ada yang mengatakannya. Bukannya aku ini tidak tertarik pada perempuan atau bagaimana. Pasalnya aku tidak pernah terpikir kalau aku senang berada di dekat orang lain. Termasuk juga laki-laki.
Lalu ada juga yang bilang kalau bisa saja ada sesuatu di antara aku dan Kamui, saking seringnya kami berpetualang bersama. Hm, mari kuluruskan. Jadi, aku yakin, di setiap cerita, pasti ada beberapa adegan yang membuat kalian berpikir bahwa mungkin aku atau Kamui itu... homo. Malah ada yang bilang, "Ya mungkin emang gak ada homo-nya, tapi bisa aja, 'kan? Mereka diam-diam saling suka?"
Ayolah, aku sudah memfokuskan bahwa... sebentar, aku melihat ke judul dulu.
Aku sudah memfokuskan bahwa "What's Happening Beside You" yang artinya adalah "Apa yang Sedang Terjadi Di Sampingmu" ini hanya akan menceritakan sekitar dunia gaib dan seisinya, dan pengalamanku mengenainya, dan tidak akan ada yang namanya homo, yaoi, shounen-ai, atau apapun itu di sini. Aku berani bersumpah bahwa aku lebih baik diculik hantu dan tidak pernah kembali lagi ke dunia nyata daripada harus mengalaminya.
Oke, aku berlebihan.
Yang penting aku sudah ngomong ya. Masalah kalian mau tetap fangirling-an atau apapun itu, terserah kalian.
Lalu, di pertemuan kesepuluh, tiba-tiba adikku Akaito datang seenaknya dan turut memporak-porandakan hidupku dengan tingkahnya yang tidak jauh berbeda dari Kamui. Hanya saja dia lebih sembrono dan tentu saja itu karena umurnya lebih muda dariku, dan Kamui sendiri umurnya lebih tua dua tahun dariku.
Bukannya apa. Umur sering dikaitkan pada lebih berpengalamannya seseorang, bukan?
Dan ada yang bertanya juga, apakah aku ini punya indera keenam. Jawabannya adalah; awalnya tidak, dan sekarang aku tidak yakin. Karena kau sudah tahu, bukan? Terkadang aku bisa melihat "mereka" secara langsung dengan mataku sendiri, dan yah, itu terjadi selama aku bersama Kamui dan Akaito. Aku curiga bahwa mereka berdua membawa dampak "indera keenam" itu padaku.
Dan aku pun terpengaruh.
Uh, well, apalagi pertanyaannya? Ah, iya.
Ada yang penasaran, siapakah tokoh misterius yang akan muncul di pertemuan berikutnya? Ya, si author mengatakannya. Kadang aku heran. Aku belum mengalaminya, tapi dia sendiri sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia seperti paranormal. Meskipun terkadang dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang kalian ajukan, seperti di atas tadi.
Aku beri satu petunjuk lagi.
Dia satu kampus denganku, tapi dia tidak pernah kusebutkan namanya. Uhm, itu sama sekali tidak membantu ya? Hmm...
Baiklah, aku beri petunjuk yang benar-benar berguna—dia berinisial M, dan dia adalah perempuan. Maaf ini kejam, tapi kita benar-benar butuh perempuan di sini. Suka atau tidak, silakan simpan kekecewaan kalian nanti setelah kalian sadar siapa dia.
"Sedang apa kau, Shion?"
"Huh?" Aku menoleh, dan ternyata Kamui menghampiriku. "Aku sedang mengetik jurnal."
Aku tidak yakin apakah yang sedang kuketik ini bisa disebut jurnal atau tidak.
"Oh, jurnal itu?" Dia terkekeh sebentar. "Apakah ada yang sudi membacanya?"
Aku tidak menjawab melainkan menatapnya tajam. "Kau sendiri sedang apa? Kupikir kau tidak akan datang hari ini."
"Bicara apa kau? Bukannya aku sering datang untuk melihat klub Ilmu Gaib tercintaku ini?" Lalu dia nyengir, aku hanya melengos.
"Kau bilang kau akan sibuk dengan keluargamu selama seminggu."
"Aku baru berangkat besok." Dia mengendikkan bahunya. Dan menghela napas. "Hah, padahal aku benci bertemu mereka, tapi kurasa kali ini aku benar-benar tidak bisa kabur lagi dari mereka."
Kalian pasti penasaran bagaimana keluarganya selama ini. Aku sendiri juga penasaran sih, tapi aku tidak berani bertanya karena sepertinya dia begitu membenci keluarganya. Sesuai dengan apa yang dia katakan tadi, dia selalu kabur dari mereka.
Seakan-akan dia punya masalah besar yang tidak ingin dia selesaikan dengan mereka.
Sementara itu, aku hanya bergumam tidak jelas atas respon terhadap curcolnya tadi. Lalu aku mematikan laptopku dalam mode hibernasi, menutup monitornya, dan memasukkannya dalam tas ranselku. Aku berdiri. "Aku mau ke perpustakaan, ada buku yang mau kucari."
"Oh, baiklah. Kalau begitu, aku keliling kampus."
Aku mengangguk. Dan pergi meninggalkan dia.
Sebenarnya aku tidak begitu punya banyak teman di kampus ini. Makanya selama di perjalanan, tidak banyak orang yang kukenal. Mungkin aku akan bertegur-sapa dengan seorang gadis sebaya denganku bernama Morinaga Mayu yang terkenal dengan kesuraman dan penampilannya yang gotik. Tidak, dia hanya temanku.
Sesampainya di perpustakaan, aku langsung menuju bagian rak buku yang kucari.
Kalau kalian bertanya-tanya apa jurusanku, aku mengambil jurusan yang menurutku lumayan pasaran—bahasa Inggris. Aku tidak tahu apakah ini akan berguna suatu hari nanti tapi setidaknya di semester 5 ini, aku sedang mencari pekerjaan sampingan. Apapun itu yang penting menghasilkan uang.
Saat itu perpustakaan sebenarnya sedang tidak ramai, tapi tidak bisa dibilang sunyi karena masih ada beberapa orang yang berseliweran. Di bagian rak buku tempatku berada ini termasuk sunyi, hanya ada aku.
Aku berusaha fokus pada pencarianku.
Aku berhenti pada suatu rak yang berlabel "Sastra". Mataku mulai mencari dengan gencar, berusaha selekas mungkin mendapatkan apa yang kucari.
Duk.
Tiba-tiba aku mendengar sesuatu yang jatuh. Aku menoleh ke kiri dan mendapati sebuah buku berada di atas lantai dengan keadaan terbalik. Aku mengerutkan dahi. Entah kenapa, sesaat aku merasa ada yang salah dengan buku itu.
Aku pun menghampirinya dan mengembalikannya ke dalam rak.
Lalu aku kembali pada rak buku tadi. Aku mencari lagi.
Duk.
Huh? Kenapa bukunya jatuh lagi?
Kali ini aku tidak langsung mengembalikannya. Aku memperhatikan di sekitar, siapa tahu ada seseorang atau mungkin apapun yang bisa didefinisikan sebagai penyebab jatuhnya buku itu.
Tapi nihil. Aku tidak menemukan apapun.
Aku berusaha untuk tetap berpikir jernih dan mengembalikan buku itu lagi ke tempatnya. Aku berulang kali memastikan bahwa buku itu tidak akan terjatuh lagi.
Aku kembali pada pencarianku. Meskipun aku fokus mencari, mataku tetap berusaha mencuri-curi lirik pada daerah buku yang terjatuh tadi.
Ketika aku sudah mendapatkan buku yang kucari, aku langsung membawa buku itu dan berbelok ke kanan—
—tanpa menyadari bahwa ada yang berdiri di sampingku.
BRUK!
Aku memekik. Dan orang yang kutabrak ini sepertinya juga ikut memekik. Aku refleks menutup mata karena terkejut.
Aku terkejut karena kupikir tidak ada orang. Lalu aku membuka mata dan ternyata ada seorang gadis yang sebaya denganku.
"M-maafkan aku, Furukawa-san. Kupikir tidak ada orang." Aku menunduk untuk membantunya berdiri. Dia tidak menolak dan dia berhasil berdiri tanpa adanya kesulitan.
"Hahaa, jangan khawatir, Shion-kun. Ini salahku karena aku diam saja dari tadi seperti seorang penguntit." Dia tertawa sembari mengusap belakang kepala merah cerinya. Namanya Furukawa Miki, dia dari jurusan psikologi kriminal. Aku bertanya kenapa dia mengambil jurusan itu, dan dia bilang dia tidak sengaja mengambilnya karena dia sedikit terobsesi dengan kata kriminal itu.
Dia bilang dia maunya jadi polisi wanita, tapi gagal karena tinggi badannya tidak memenuhi syarat. Aku jadi turut prihatin padanya.
"Tapi aku rasa aku tidak tega mengganggumu karena wajahmu tadi terlihat serius sekali." Dia memasang wajah aneh.
"Aku harus serius karena kalau tidak, aku tidak akan menemukan buku yang tembus pandang ini." Yang kumaksud tembus pandang adalah karena buku itu sulit sekali ditemukan.
"Hoo, begitukah? Hm, aku harus pergi karena aku juga mencari sebuah buku. Dosenku janji kalau aku berhasil menemukannya, dia akan menuntaskan nilai remedialku." Dia kemudian berjalan ke arah belakangku dan melempar senyum. "Sampai nanti, Shion-kun."
"Ya, sampai nanti."
Lalu dia pergi.
Aku pun memutuskan untuk segera ke meja pustakawan. Ada seorang wanita berambut persik yang duduk di belakang meja itu.
"Kembalikan buku ini satu minggu lagi," ucap si pustakawan, membubuhkan keterangan di belakang buku pinjamanku dan juga cap stempel kampus ini, lalu dia menatapku. Tersenyum tipis. "Jangan sampai terlambat lagi seperti bulan lalu, Shion."
"Ayolah, jangan diingat-ingat lagi, Maika-san. Aku sudah minta maaf, 'kan?"
Dia hanya tertawa dengan elegan. Wanita asal Spanyol yang entah kenapa namanya mirip orang Jepang itu kemudian menutup belakang buku, dan memberikannya padaku. "Atau perlu aku kirim e-mail padamu pada saat jatuh tempo?"
"Hahaha, terima kasih. Kurasa tidak perlu." Sebenarnya lumayan juga kalau ada yang mau melakukannya untukku, tapi rasanya sungkan sekali. Lalu aku berjalan pergi. "Aku pergi dulu, Maika-san."
"Muchas gracias*."
"Hah?" Aku tidak tahu apa artinya, jadi aku segera membalik badanku untuk bertanya. Dan lagi-lagi aku menabrak seseorang.
Kenapa dari tadi aku terus-terusan menabrak orang lain sih!
"M-maafkan aku, aku tidak sengaja..." Aku perlahan ternganga melihat, siapa yang kali ini kutabrak.
"Hum? Oh, hei. Kaito-kun."
"M-Meiko? Hatsune?" Aku memanggil nama kedua orang yang kini berada di hadapanku. Rambut coklat dan rambut teal. Sakine Meiko dan Hatsune Miku. Dua orang yang sama-sama berasal dari masa laluku.
Sebenarnya aku pernah bertemu dengan Hatsune karena dia memang kuliah di sini, aku hanya belum pernah bertemu dengan Meiko. Makanya aku terkejut.
"Hoo, apa-apaan wajahmu itu? Tidakkah kau menyapa kami dengan senyum lebar atau sejenis itu?"
"M-maaf, aku hanya syok. Aku tidak menyangka kalau aku bisa bertemu kalian di sini..." Aku masih linglung melihat mereka. "Dan aku tidak pernah terpikir kalau kau akan berteman dengan Hatsune, Meiko."
"Humm, aku juga tidak menyangka kau akan memanggil Meiko-san tanpa embel-embel apapun, Kaito-kun." Hatsune menampilkan seringainya. Aku pun segera tersadar.
"B-benar juga..."
"Oh, jangan khawatir. Aku sendiri sebenarnya tidak keberatan dipanggil seperti itu, tapi mungkin orang-orang akan curiga kalau kita ini pacaran, Kaito-kun," ucap Meiko mengangkat sebelah alisnya. Entah kenapa mendengar mereka berkata seperti itu, aku jadi merasa malu sendiri.
"Err... kalau begitu, aku panggil Meiko-san saja?"
"Hah, it's fair, really." Lalu Meiko tertawa. "Oh iya. Kami pergi dulu, Kaito-kun. Semoga kau tidak menabrak orang lain lagi ya."
Hatsune hanya tersenyum tipis padaku sebelum mereka benar-benar pergi meninggalkanku. Aku pun melongo.
Lagi? Darimana dia tahu kalau tadi aku juga menabrak orang lain?
"Tadi mereka juga dari dalam perpustakaan loh, Shion. Mungkin dia melihatmu di dalam tadi." Maika menyahut dari meja pustakawannya.
"Oh, mungkin..." Aku sendiri tidak yakin. Aku sama sekali tidak melihat mereka, makanya tadi aku cukup terkejut bertemu dengan mereka di sini.
Lalu aku pergi dari perpustakaan, dan langsung menuju ke taman karena di sana ada tempat duduk macam cafetaria tapi bukan itu. Aku sering duduk di sana.
Ternyata di sana sudah ada orang. Cih, padahal aku ingin mengerjakan tugas ini sendirian.
"Hei, Kaito!" Aku disambut oleh temanku yang sedang duduk di sana. Namanya Takahashi Kyoshi. Dia berada di sekeliling teman-temannya. "Bilang iya!"
"Hah? Apa? Kenapa aku harus bilang iya?" Biasanya kalau sudah begini, dia berencana untuk menipuku dalam entah apapun itu. "Aku tidak akan terjebak lagi, Kyo."
"Sudahlah. Ayo bilang iya!" Seseorang di sebelahnya juga ikutan memaksaku, namanya Meito—aku tidak tahu apa nama marganya—tapi dengan senyum lebar di wajahnya. Jadi dia terkesan seperti sedang bercanda denganku.
Aku tidak menjawab melainkan menatap mereka dengan tajam.
"Haha, baiklah, baiklah. Kau menang kali ini, Kaito." Lalu Kyo tertawa. Aku pun mendengus.
Terakhir kali, mereka menjebakku dalam "jebakan" di mana aku terpaksa memasang foto seorang perempuan sebagai foto profilku gara-gara aku salah jawab. Kalian masih ingat, 'kan? Di pertemuan kita yang kesepuluh itu? Dan perempuan yang mereka tentukan itu adalah, Hatsune.
Sialan, 'kan?
Tapi syukurlah Hatsune sendiri tidak keberatan setelah kujelaskan padanya mengenai semua yang telah terjadi. Dia hanya bilang supaya aku lebih berhati-hati dalam berbicara.
Well.
Uhm, kurasa cukup sampai di sini. Aku sengaja menceritakan ini pada kalian, karena si M yang misterius ini adalah seseorang dari lima perempuan dan satu laki-laki yang muncul di pertemuan kali ini. Untuk Sakamoto Mew-san dan Maria? Well, kata author, mereka tidak ada hubungannya, jadi mereka tidak masuk hitungan.
Silakan tebak, tapi aku maupun si author tidak akan memberitahukan siapa dia secara gamblang. Ya, hinalah si author karena sudah tidak bertanggung-jawab.
.
.
Balasan review (9 review)
TrueNaturePJ : Akhir-akhir ini lagi suka main VN bergenre misteri sih, jadi tertarik juga mau bikin WHBY ini sedikit ada misterinya juga... oh, gitu ya. Berarti waktu itu aku salah lihat. www
Makasih udah review! ^^
macaroon waffle : Gak, jangan nangis, ini belum berakhir kok. /author ikutan nangis/ Hahaha, tapi sayang sekali! Si M adalah seorang cewek! BWAHAHAHAHA /dibakar
Entahlah, siapa yang tahu? Mungkin Gakupo beneran nge-grepe Kaito. /NAK/ Makasih buat kesannya, entah kenapa saya terharu. /sob
Makasih udah review! ^^
kamui shion : Karena Kaito pingsan, maka itu semua adalah misteri yang hanya Gakupo sendiri yang tahu. www Silakan tebak tebak, tapi jawabannya gak langsung ketahuan loh. www
Hahaha, maaf deh ya. Soalnya pas UAS, ane bukannya belajar atau gimana, malah asik ngetik fanfic dan main game sih. /janganditiru/ Meito muncul nih, tapi cuma numpang lewat. Hahaha. /nak
Makasih udah review! ^^
Aoi-chan to Seiyuu-chan desu : Itu foto orang tak dikenal, tapi bukan berasal dari Shion. Makanya Kaito panik dan gelisah melihatnya... hahaha, unyu banget, 'kan? Saya jadi pengen bikin Kaito yang polos gitu lagi nanti. XD
Makasih udah review! ^^
YuRara792 : Gak, saya usahain gak bakal tamat sebelum chapter 30 kok, karena bagaimanapun juga, saya sendiri udah terlanjur suka sama fanfic ini. www
Makasih udah review! ^^
Inelle : Uhuk, meskipun kesannya maksa, saya ngerasa mereka berdua lagi kencan di chapter 18 itu. /nak
Makasih udah review! ^^
lalalala-chan desu : Maaf banget, Hitori Kakurenbo itu udah saya rencanain buat chapter nanti, entah chapter berapa, pokoknya ada... jangan kecewa ya. /apaansih
Makasih udah review! ^^
Vanilla Latte : Haee, ane seneng baca review ente. /apaansih/ Btw, mungkin baru bakal tamat di chapter 30-an atau sekitar itu, soalnya kita baru mulai seriusnya dari sini.
Makasih udah review! ^^
Tanpa Nama : Bisa jadi Gakupo grepe-grepe dia. /sudahthor/ Oh, serem amat yak. Itu beneran? O_o
Uhm, siapa ya? Mungkin nanti bakal keliatan jawabannya meskipun gak secara langsung. www /nak
Makasih udah review! ^^
.
.
A/N : Sumpah, untuk kali ini beneran gak ada horornya karena ada sesuatu yang terjadi pada saya yang membuat saya "kehilangan selera horor untuk sementara waktu". Jangan khawatir, di chapter selanjutnya bakal lanjut lagi kok, horornya. Cuma buat merayakan chapter WHBY yang ke-20 ini aja. Karena setelah ini kita bakal lebih serius dan Kaito bakal lebih sering diteror. Mwahahaha. /ketawajahat
Siapapun yang kalian tebak, tiba-tiba saya berubah pikiran dan mau bikin si M ini menunjukkan dirinya secara perlahan namun pasti. Jadi, di setiap chapter, bakal muncul orang yang berinisal M, meskipun saya tidak bisa menjamin apakah orangnya bakal itu-itu aja atau bagaimana. Tapi si M yang sebenarnya akan ketahuan dan dia tetap merupakan orang yang sangat berpengaruh pada kehidupan Kaito. Hahaha, maaf saya seenaknya. /dibuang
Baiklah, sekian. Terima kasih dan sampai nanti, minna! XD
(Btw, Takahashi Kyoshi itu KYO dari ZOLA Project. Dia juga muncul di fanfic sebelah loh. /gakadayangnanya)
24122015. WHBY20. YV
