.
.
Kesenangan di Antara Dua Dunia
—What's Happening Beside You—
Chapter 21 . M for Meat
The Creation-Story © Yoshina Vanatala
VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua
.
.
Morinaga Mayu adalah salah seorang temanku. Dia termasuk anak yang pemalu, atau mungkin kata pemurung lebih cocok untuknya karena tidak peduli di manapun dia berada, wajahnya selalu terlihat "mendung". Dia selalu mengenakan baju serba hitam yang membuatnya semakin terlihat muram.
Mungkin aku adalah satu-satunya teman yang dia miliki. Ehm, bukannya aku GR. Dia yang selalu datang padaku itu membuatku jadi berpikir demikian.
Dia sering bilang bahwa dia selalu diikuti oleh seseorang, dan kadang bisa sampai lebih dari dua orang. Dia ketakutan. Dia selalu ngotot ingin menginap di apartemenku, tapi aku sangat bersyukur memiliki adik seperti Akaito, karena dia adalah orang yang sangat keras kepala dan menjunjung tinggi privasi seorang manusia, jadi dialah yang menolak permintaan itu ketika dia mendengar percakapanku dengan Mayu melalui sambungan telepon.
Mayu adalah anak broken-home. Orang tuanya bercerai saat dia berumur 9 tahun, dan ibunya bunuh diri karena impitan ekonomi pada saat dia berumur 11 tahun. Jadi sekarang dia ikut dengan ayahnya yang jarang pulang dari pekerjaan. Mulai dari saat itu, dia mengaku selalu merasa diikuti oleh seseorang. Dia tidak tahu siapa itu, dan tidak mau tahu.
Awalnya itu hanya perasaannya saja, tapi lama-kelamaan perasaan itu semakin kuat. Malahan dia sering mengalami peristiwa yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat, seperti tangannya terasa tergigit oleh sesuatu yang tidak diketahui apa, pintu kamarnya sering terbuka padahal sudah dikunci pada malam hari, dan banyak lagi. Aku turut prihatin dan bilang mungkin dia harus memanggil paranormal untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengannya.
"Aku tidak percaya pada siapapun, Kaito-kun." Ketika kutelepon, itulah jawabannya. "Satu-satunya orang yang kupercaya hanya... kamu."
"Uhm, tapi aku bukan paranormal." Dan Kamui juga sedang ke rumah keluarganya. "Aku tidak bisa mendeteksi keberadaan makhluk halus, ataupun mengusir mereka."
Dia tidak langsung menjawab. "Kaito-kun, datanglah ke rumahku."
"M-maaf. Aku tidak bisa. Aku sedang di klub."
"Kenapa tidak bisa?"
"Yah, sebentar lagi malam, bukan? Tidak bagus kalau laki-laki datang ke rumah perempuan malam-malam."
"Aku tidak peduli."
Aku tercengang mendengar suara itu. Seperti bukan suara Mayu. Terdengar lebih gelap dan... lebih posesif.
"Uhm, pokoknya malam ini aku tidak bisa. Mungkin lain kali aku bisa."
"Benarkah?"
"Iya."
Aku tahu seharusnya aku tidak menjanjikannya.
"Akan kutunggu."
Lalu sambungan telepon ditutup oleh Mayu.
.
.
Entah ini hanya perasaanku saja atau memang semakin hari, Mayu jadi semakin sering meneleponku. Dalam satu hari, paling tidak dia akan meneleponku satu kali. Dia jarang masuk kuliah, atau mungkin hanya aku yang jarang melihatnya di kampus. Manapun yang benar, aku tetap tidak senang karena jujur saja, aku merasa terganggu dengan teleponnya yang sering datang tiba-tiba.
Kadang-kadang aku tidak mengangkat teleponnya untuk menunjukkan bahwa aku tidak senang ditelepon terlalu sering. Ketika aku bertemu di kesempatan selanjutnya, aku hanya akan beralasan bahwa aku sedang sibuk dan aku tidak sempat mengangkat teleponnya. Kadang dia terlihat kesal, tapi kadang dia terlihat maklum. Aku sama sekali tidak bisa menebak suasana hatinya.
Dan kurasa, ketika aku tidak suka dengan sesuatu yang dilakukan seseorang padaku, seharusnya aku berterus-terang pada orang itu. Tentu saja supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Dan aku mengatakannya secara tiba-tiba begini bukan tanpa alasan.
"Kaito-kun, selamat siang."
"Selamat siang, Morinaga-san."
Itu adalah pembukaan yang biasa kami lakukan ketika aku tidak tega dan akhirnya memutuskan untuk mengangkat teleponnya.
Perlahan aku mendengar sebuah suara. Begitu samar, tapi aku bisa mendengar itu seperti suara sobekan baju. "M-Morinaga-san?"
"H-huh? Ada apa, Kaito-kun?"
"Kau masih di situ?"
"Hu'um."
Dan seperti inilah biasanya yang terjadi jika aku mengangkat teleponnya. Tidak ada pembicaraan yang jelas. Tapi mungkin hanya dengan begitu saja sudah bisa membuatnya senang.
Suara sobekan baju itu semakin terdengar jelas.
"A-apa yang sedang kau lakukan, kalau aku boleh tahu?"
"Aku? Aku sedang memasak."
Memasak?
"Memasak apa?" Aku tidak tahu apa yang harus kuucapkan untuk mencairkan suasana, jadi kupikir menanyakan hal yang basi seperti itu tidak ada salahnya.
"Memasak daging."
"Oh."
Mungkin suara sobekan yang kudengar itu adalah suara daging yang dipotong. Ya, mungkin aku hanya salah dengar.
"Kalau Kaito-kun sendiri?"
"Oh, aku." Jeda sebentar selagi aku memperhatikan sekeliling. "Aku sedang di kelas. Dosen belum datang."
"Uhm...," dia bergumam pelan sebelum memanggil namaku, "Kaito-kun..."
"Ya?"
"Temani aku... aku takut."
"Err, aku lagi di kelas."
"Sebentar saja, kumohon."
Inilah alasan kenapa aku senang karena Akaito ternyata bersedia dengan senang hati menolak permintaannya ketika dia memaksa ingin menginap di apartemenku. Aku paling tidak tega jika harus berhadapan dengan perempuan yang memohon-mohon padaku.
Jadi alih-alih menolak, kali ini aku akhirnya melunak.
"Uhm, bagaimana caranya?"
"Jangan tutup teleponnya."
"Kalau dosen datang?"
"Tetap jangan tutup teleponnya."
"Nanti pulsamu habis?"
"Biar."
Aku merasakan adanya aura yang berbeda darinya ketika aku mendengar kata barusan. Sama seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Mungkin dia memang sering begitu.
Lalu aku mendengar suara air mendidih. Oh, mungkin Mayu sudah mulai merebus dagingnya.
"Hei, dagingnya mau kau apakan? Direbus saja atau bagaimana?" tanyaku.
"Mau kubuat jadi sop."
"Sop daging? Kedengarannya menarik."
"Kaito-kun boleh coba kalau mau."
"Hahaha, aku mau mencobanya, tapi sepertinya harus menunggu satu jam lagi sampai kuliah hari ini selesai."
"Kalau aku bilang aku mau menunggumu, apakah Kaito-kun akan datang ke rumahku?"
Benar juga. Selama ini aku tidak pernah berkunjung rumahnya. "Tapi aku tidak tahu di mana rumahmu."
"Akan kukirimkan alamat rumahku padamu."
"Oh, baiklah." Tiba-tiba pintu kelas terbuka. "Morinaga-san, dosenku sudah datang."
"Ya, biarkan teleponnya tetap tersambung."
Akhirnya selama pembelajaran, aku membiarkan sambungan teleponku dengan Mayu tetap tersambung. Aku menaruh telepon genggamku di kantong samping tas ranselku yang kugantung di pengait samping meja.
Lalu di tengah penjelasan dosen, aku mendengar sebuah suara yang ganjil. Dari telepon genggamku. Suara seperti suara anjing yang terdengar sedang mencabik daging.
Awalnya aku bingung karena biasanya dari tempatku duduk ini, aku tidak bisa mendengar suara yang ada dalam jarak yang sama dengan posisi telepon genggamku saat ini. Tapi telingaku mungkin sedang dalam keadaan baik, jadi aku bisa mendengarnya.
Atau mungkin aku hanya salah dengar?
Aku ingin sekali mengambil telepon genggamku itu, lalu menanyakan keadaan Mayu karena firasatku sama sekali tidak bagus. Suara itu semakin menjadi-jadi.
Ggrrkkk... ggrkk...
"Oi, Kaito. Kau lupa mematikan video di ponselmu ya?" Kyo berbisik dari bangku sampingku. Aku jadi semakin yakin bahwa orang-orang di sekitarku pasti mendengarnya juga.
Berarti aku tidak salah mendengar.
"Uhm, aku yakin aku tidak menyalakan video apapun dari tadi," jawabku pelan pada Kyo. Aku semakin merasa risih, jadi akhirnya aku mengambil telepon genggamku itu, dan berdiri. "Excuse me, Sir. I have to answer this call."
Aku berkata sembari menunjuk telepon genggamku. Dosenku hanya mengangguk, dan aku pun beranjak keluar kelas. Aku segera menyahuti telepon itu.
"Morinaga-san? Kau tidak apa-apa?"
Tidak ada jawaban.
"Morinaga-san?"
Lalu perlahan, aku mendengar suara yang terengah-engah. Aku tidak tahu suara apa itu, tapi tidak terdengar seperti suara Mayu.
"... hh... hhh..."
"Morinaga-san? Kumohon, jawab aku."
"..."
Ada apa ini sebenarnya.
"... kun."
"Hei?"
"Kaito-kun..."
"Halo, ini Morinaga-san?"
Suaranya tidak terdengar seperti suara Mayu.
"Kumohon..."
"Morinaga-san? Ini Morinaga-san?"
"Tolong... jangan datang."
"Kenapa? Aku sudah janji akan datang—"
"Atau kau akan mati."
Lalu sambungan telepon tertutup.
"Sial, ada apa sebenarnya?" Aku jadi kesal sendiri. Aku mencoba meneleponnya lagi, tapi operator seluler mengatakan bahwa nomor teleponnya salah.
Kenapa jadi salah kalau tadi aku masih bisa meneleponnya!
Apakah aku harus mendatanginya sekarang juga? Tapi aku tidak tahu di mana rumahnya!
Tapi... aku akan mati katanya?
"Kak?"
"Hah?" Aku terkejut mendengar suara itu. Ternyata ada Akaito di hadapanku. "A-Akaito?"
"Kau kenapa, Kak?" Dia terlihat mengangkat sebelah alisnya.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada di sini? Bukannya kau bukan anak Bahasa Inggris?
Dia dari jurusan psikologi klinis.
"Aku ditelepon seseorang. Katanya aku harus mendatangimu karena ada sesuatu yang terjadi padamu. Makanya aku bertanya kenapa," jelasnya. Wajahnya memang terlihat khawatir, tapi aku sama sekali tidak merasa senang. Aku terlalu takut sampai saja aku tidak berniat untuk bertanya siapa yang meneleponnya itu.
"Temanku...," suaraku tertahan di tenggorokan, "... sepertinya dia berada dalam bahaya."
"Temanmu?"
Aku mengangguk. "Tapi mungkin aku baru bisa mendatanginya setelah aku selesai kuliah hari ini."
"Oh, aku boleh ikut?"
"Boleh. Sangat boleh."
Karena tidak ada Kamui, kurasa Akaito tidak terlalu buruk untuk diajak. Yang pasti aku tidak mau datang ke sana sendirian.
"Kalau begitu, aku masuk dulu. Kau tidak ada kelas hari ini?"
"Uhm, ada sih." Akaito berbalik, masih dengan wajahnya yang terlihat khawatir. "Aku pergi dulu. Kau tahu harus menelepon ke mana kalau ada apa-apa."
"Iya, iya. Kau semakin terdengar seperti ayah." Aku mendengus, tapi kemudian aku terkekeh pelan. Dia tersenyum.
"Baiklah, sampai nanti, Kak."
.
.
/Maaf, Kaito-kun. Ponselku tadi terjatuh ke dalam panci air mendidih, jadi aku terpaksa meminjam ponsel ayahku untuk menghubungimu. Dan ya, ini alamat rumahku—/
Sepulang kuliah, aku menemui Akaito dan kami pun berangkat ke rumah Mayu setelah akhirnya mendapat pesan yang berisi alamat rumahnya. Di tengah perjalanan, aku sempat menceritakan apa yang terjadi padaku mengenai Mayu akhir-akhir ini. Dia pun mengangkat sebelah alisnya seusai aku bercerita.
"Apakah aku pernah melihat bagaimana orangnya?"
"Uhm, sepertinya belum pernah. Tunggu, rasanya aku pernah tidak sengaja memotretnya."
Aku mencari-cari foto Mayu di galeri telepon genggamku. Ketika aku sudah menemukannya, aku menunjukkannya pada Akaito. Dia pun mengambil telepon genggamku.
"Foto itu tidak sengaja kupotret, atau mungkin memang sengaja kupotret karena ponselku saat itu baru saja nge-lag jadi—"
"Kak, aku boleh jujur?"
"Silakan." Anak ini memotong ucapanku. "Tidak biasanya kau minta izin dulu sebelum ngomong."
Dia tersenyum masam. "Temanmu ini sepertinya naksir padamu."
"Benarkah?"
"Ya ampun, jangan bilang kau tidak sadar." Dia menghela napas dalam-dalam. "Tapi kusarankan jangan terlalu dekat dengannya."
"Hoo, sejak kapan kau jadi posesif seperti itu, adikku tersayang?" sahutku dengan nada mengejek.
"Ck, aku serius, Kak," dia mendecih dan menunjukkan foto Mayu sekali lagi padaku. "Kau tidak sadar kalau ada yang salah di sini?"
"Uhm, tidak." Tiba-tiba aku merasa sama sekali tidak mau mengetahuinya.
Dia menunjuk suatu sudut di dalam foto itu. Jauh di belakang Mayu yang terlihat sedang sibuk membaca buku, ada seseorang berdiri seperti sedang mengawasi dari kejauhan. Leherku seketika terasa panas melihatnya. "Sejak kapan ada ikiryou di sini?"
.
.
Ikiryou adalah sesosok hantu yang merupakan roh dari orang yang masih hidup. Ada beberapa kondisi yang memungkinkan seseorang untuk berubah menjadi ikiryou; momen sebelum mati, sedang pingsan, perasaan yang amat dalam seperti rasa cinta atau rasa benci pada orang lain, dan bahkan ketika dia ingin mengutuk seseorang. Tentu saja untuk yang terakhir ini, harus melalui ritual tertentu.
Setahuku, orang yang sudah menjadi ikiryou tidak bisa kembali menjadi manusia lagi. Atau mati. Setahuku ya.
Ikiryou bisa berupa sosok yang tembus-pandang, tapi bisa juga sama persis dengan tubuh pemiliknya. Tidak seperti hantu-hantu lainnya, ikiryou memiliki anggota tubuh yang tampak masih utuh. Setidaknya itulah yang aku tahu dari pencarianku selama ini. Meskipun aku tidak pernah melihatnya sekalipun.
"Kenapa kau bisa bilang dia ikiryou? Bisa jadi dia hanya orang yang kebetulan lewat di sana?"
Meskipun aku tahu dia bisa membedakan mana yang manusia tulen dan mana yang bukan, aku tetap tidak mau menerima pendapatnya mentah-mentah seperti itu.
Akaito terlihat seperti kehabisan kata-kata. Dari wajahnya dia ingin membantah, tapi kemudian dia menghela napas. "Ya, mungkin. Semoga saja begitu."
Tidak lama setelahnya, aku dan Akaito sudah sampai di depan pintu rumah Mayu. Setidaknya menurut alamat yang dikirimkan oleh Mayu. Dan omong-omong, rumah ini lumayan besar. Tidak, sangat besar. Tampak seperti rumah tua.
Pantas saja Mayu sering merasa parno ditinggal sendirian di rumah ini.
"A-aku tiba-tiba ragu ingin masuk," gumamku pada Akaito.
"Sebenarnya aku begitu juga. Tapi kalau tidak sekarang, mau sampai kapan kau tidak melihat dia yang sebenarnya?"
Dia benar. Akaito benar.
Mungkin ketika aku memasuki rumah ini, aku akan mengungkap sesuatu yang tidak akan pernah kuduga dari sosok Mayu yang selama ini misterius.
"Aku ketuk pintunya ya." Akaito mengangkat tangan dan mengepalkan kepalannya. "Dan kau yang memanggilnya."
"Oke."
Tok tok tok
"Morinaga-san. Ini aku, Kaito."
Tidak ada jawaban.
"Aku datang seperti yang kubilang tadi. Ya, untuk mencicipi sop dagingmu," lanjutku.
"Sop daging?" Akaito mengangkat sebelah alisnya. Aku tidak menjawab karena aku tidak tahu persis apa yang harus kukatakan padanya.
"Morinaga-san?" Aku memanggilnya sekali lagi. Dan tetap tidak ada jawaban.
Rupa-rupanya Akaito malah membuka pintunya. "Oh, tidak dikunci."
Awalnya aku ragu karena rasanya tidak pantas masuk ke dalam rumah orang sembarangan. Tapi karena ini keadaan darurat, aku pikir tidak akan apa-apa. Toh, kalau dia marah atas tindakan Akaito tersebut, aku akan minta maaf padanya.
"Kaito-kun."
Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku. Berasal dari dalam rumah. Dan suara itu adalah suara misterius yang kudengar di dalam telepon tadi. Sepertinya aku pernah mendengar suara itu sebelum hari ini, tapi aku tidak ingat suara siapa itu.
"Aku senang akhirnya kamu datang, Kaito-kun. Aku senang sekali."
"Ya, aku datang seperti yang kubilang. Siapa kau? Di mana Morinaga-san?"
"Loh, aku Mayu, Kaito-kun. Masa' kamu gak ingat sama aku?"
Aku sangat yakin bahwa dia bukan Mayu. Dia hanya berpura-pura menjadi Mayu. "Kau bohong. Suaramu terlalu ceria untuk berpura-pura menjadi Morinaga-san."
Dia terdiam sebentar.
"Aku ada di lantai dua, Kaito-kun."
Aku baru saja ingin menghampiri tangga yang ada di depanku ini sebelum Akaito menangkap tanganku dengan keras. "Ada apa?"
"Kau yakin kau mau naik ke atas?" Ekspresi wajahnya terlalu aneh untuk bisa kujelaskan dalam kata-kata. Aku mengangguk.
"A-aku tidak mau ke sana..."
"Yasudah kalau kau tidak mau." Aku yakin dia akan baik-baik saja kutinggal sendirian di sini. Lagipula, yang paling kukhawatirkan saat ini adalah Mayu. Aku merasa saat ini dia sedang berada dalam bahaya.
"T-tidak!" Dia mengencangkan genggamannya pada tanganku sampai tanganku terasa kebas. Aku mengernyit sementara dia berucap lagi, "Jangan tinggalkan aku sendiri!"
Aku akan terbahak menertawakannya yang bisa-bisanya memekik seperti itu padaku kalau saja situasinya tidak sedang genting. "Aku tidak punya banyak waktu, Akaito."
Dia terdiam sebentar seperti sedang berpikir. Lalu akhirnya dia menyerah. "Baiklah. Aku ikut. Tapi aku akan langsung kabur begitu ada sesuatu yang tidak beres."
"Halah. Dasar penakut."
"Kau sendiri juga penakut."
Aku bungkam karena sama sekali tidak ada gunanya kami berdebat di tempat dan waktu seperti ini.
Kami berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Lantai rumah ini keramik, dan keadaan tampak remang-remang dengan penerangan dari sebuah lampu besar di tengah ruangan. Ada beberapa lilin terpatok di atas pagar lantai dua yang menghadap langsung ke pintu utama dan tidak memiliki dinding pembatas.
Suasana jadi semakin horor.
"Aku ada di kamarku, Kaito-kun."
Suara misterius itu memanggilku lagi. Kali ini berasal dari sebuah kamar yang berada di sisi kiri kami. Dari pintunya yang sedikit terbuka, aku bisa melihat kamar itu gelap. Dan sumpah, kali ini aku benar-benar ragu ingin memasukinya.
Aku terdiam memikirkan apa yang harus kulakukan sekarang. Apa aku benar-benar harus masuk ke dalam kamar itu? Apa yang akan terjadi setelah aku masuk? Apakah benar-benar ada Mayu di dalam sana? Apa—
"Kak, jangan melamun!" Akaito menggoyangkan bahuku dengan keras. Gerakan itu mengindikasikan bahwa dia panik. Wajahnya pucat, tapi aku pura-pura tidak tahu karena aku tidak mau ikutan panik seperti dia.
Tapi kenyataannya, saat ini aku serius panik.
"A-akan kubuka pintunya," ucapku lirih, nyaris seperti mencicit. Awalnya kami terdiam dan mendekati pintu itu, tapi tiba-tiba Akaito bertanya,
"Suara siapa itu?"
Suaranya terdengar seperti bingung, terkejut, dan tercekat. Aku jadi ikut tercekat juga seperti dia.
"Apa? Itu tadi suaraku, bukan?" Aku pun menjawabnya dengan muak. Aku hanya ingin mencari di mana Mayu, tapi kenapa orang ini—
"Suara... bisikan."
Aku terdiam.
"Aku tadi berbisik juga, 'kan?"
"Tidak. Ini suara bisikan... seperti orang yang banyak... berkerumun."
Sial. Kenapa telinganya bisa jadi sangat sensitif begitu? Jangan-jangan dia hanya berhalusinasi?
Aku bisa mendengar Akaito meneguk ludahnya. Sementara itu, berusaha mengabaikan ucapan misteriusnya tadi, aku perlahan berjalan lagi mendekati pintu itu. Bebauan aneh mulai menyeruak ke dalam hidungku.
"Bau darah?"
Aku refleks membelalakkan kedua mataku mendengar dugaan yang dilontarkan oleh Akaito itu. Aku tidak berani melirik ke wajahnya, dan aku juga tidak berani membayangkan bagaimana wajahku saat ini. Yang pasti, aku harus segera mencari tahu asal bebauan ini. Meskipun aku merasa takut.
Aku takut mengetahui hal yang tidak ingin kuketahui.
Aku membuka pintu kamar itu lebar-lebar. Ruangannya gelap. Tiba-tiba aku merasa mual dan ingin muntah karena bebauan itu semakin tercium dari dalam kamar ini.
Akaito meraba dinding kamar dan ruangan pun dipenuhi dengan cahaya lampu.
Aku langsung menjerit nyaring.
Lalu tiba-tiba ada yang menarik leherku ke belakang, dan aku langsung hilang kesadaran.
.
.
"Kaito-kun?"
"M—, kamu masak apa? Sepertinya enak."
"Oh! Aku masak sop daging loh. Uhm, dibantu mamaku juga sih."
"Hahaha, gak apa-apa kok, M—. Kamu juga ikut masak, 'kan? Hmm, rasanya enak sekali!"
"... uhm, terima kasih, Kaito-kun."
.
.
"... Kak. Plis, kenapa harus pingsan di saat seperti ini!"
"Hah! A-apa..." Aku menjawab pekikan Akaito yang berasal dari hadapanku. Ketika membuka mata, aku baru sadar aku sedang berbaring dan dipangku oleh Akaito. "Aduh, kenapa pipiku sakit sekali..."
"Aku sudah memanggil polisi. Sebentar lagi mereka akan datang."
Perlahan, aku mencium bebauan itu lagi. Tanpa kusadari aku melirik pada kamar yang berada di samping kananku. Pintunya masih terbuka lebar, dan aku pun terisak pelan.
"A-Akaito... kenapa..."
"Hush, sudah. Itu... jelas-jelas pembunuhan. Mayu dibunuh oleh seseorang dan pelakunya keburu kabur sebelum kita sempat datang."
"K-kalau saja kita datang lebih cepat..."
Dia tidak menjawab. Aku tahu dia pasti paham apa yang aku rasakan saat ini. Coba bayangkan. Aku baru dekat dengan Mayu beberapa hari ini, dia terus memaksaku untuk menemaninya sepanjang waktu, lalu tiba-tiba aku harus menjadi orang pertama yang menemukan gadis itu mati dalam keadaan mengenaskan.
Mungkin dari awal, dia sudah bisa membaca tanda-tanda kematiannya. Dia menunjukkannya padaku, tapi bodohnya aku tidak menyadarinya!
Apakah aku terlalu tidak peka untuk menyadari tanda-tanda yang sudah terlalu jelas itu?
"Pisau daging itu seperti menancap dari arah yang tidak bisa dijangkau oleh tangannya dan itu saja sudah membuktikan bahwa ada orang lain di tempat ini yang melakukan itu padanya."
Akaito mulai menganalisa keadaan dengan gayanya sendiri. Aku tiba-tiba merasa dia harus diam saat ini juga.
"Lalu ada banyak pecahan kaca di sekitarnya... banyak darah juga..."
"Cukup, Akaito..."
"... dan bagian paling aneh adalah bahwa kau tadi terjatuh setelah ditarik oleh sesuatu yang tidak kulihat."
"..."
Perlahan, ada suara sirine polisi terdengar dari kejauhan. Tapi aku sama sekali tidak merasa lega. Aku malah semakin gelisah.
"Ayo, kita ke bawah, Kak. Aku tidak mau terlihat memangkumu dengan mesra seperti ini." Dia mendorong kepalaku yang memaksaku untuk bangun dari posisi berbaringku.
"S-siapa juga bilang ini mesra..."
Dia tertawa mendengarku. Sepertinya dia lega karena mungkin aku tidak sedepresi ekspresiku setelah melihat pemandangan tadi.
Ketika aku menuruni tangga, aku melihat sekelebat bayangan seseorang terbang dari atas tangga.
.
.
to be continued.
.
.
18072016. WHBY21. YV
