.

.


Kesenangan di Antara Dua Dunia

What's Happening Beside You—

Chapter 22 . First Conspiration

The Creation-Story © Yoshina Vanatala

VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua


.

.


Aku masih belum bisa melupakan apa yang sudah terjadi padaku beberapa hari yang lalu.

Mayu—meskipun dia bukan teman dekatku, aku merasa terpukul dengan kepergiannya. Bukan berarti keberadaannya begitu berkesan bagiku.

Atau mungkin memang seperti itu. Aku masih ingat bagaimana dia terus-terusan meneleponku, memintaku untuk menemaninya sekalipun hanya lewat sambungan telepon. Lalu ketika aku mengunjungi rumahnya untuk pertama kali, aku harus berhadapan pada sesuatu yang belum pernah kualami seumur hidupku.

Melihat seseorang telah dibunuh dengan mataku sendiri.

Aku sering menonton film horor. Tapi kalau sudah berhubungan dengan pembunuhan atau sejenis itu, aku lebih memilih untuk menghindarinya. Nyatanya sekarang aku malah menontonnya secara live. Apa sebenarnya yang sudah terjadi padaku selama ini?

Sementara itu, Akaito sempat menyarankan aku untuk mengunjungi seorang psikiater—katanya, beberapa hari setelah kejadian itu, aku persis seperti orang yang depresi karena mengurung diri di kamar dan kadang-kadang bisa menangis sendiri tanpa sebab. Hei, aku tahu mungkin aku trauma, tapi aku terlalu sibuk untuk berurusan dengan orang-orang seperti itu!

"Halah, bilang saja gak mau keluar biaya," cibirnya saat itu. "Oh, atau mungkin kau mau memakai jasaku? Mumpung aku lagi nganggur. Cukup bayar aku dengan traktiran makan siang selama satu minggu."

Meski dia adalah anak jurusan psikologi klinis, aku tetap enggan.

Mungkin hampir seminggu, aku baru bisa masuk kuliah lagi. Teman-temanku sibuk menghiburku, tapi aku hanya bilang bahwa aku baik-baik saja.

Tapi kau harus tahu satu hal. Karena aku dan Akaito adalah orang pertama yang menemukan mayat—tidak, aku lebih senang menyebutnya jasad—Mayu di TKP, jadi aku berpikir bahwa mungkin kami berdua bisa disangka ikut terlibat dalam pembunuhan itu. Tapi syukurlah rumah Mayu terpasang kamera CCTV di ruang tengah, jadi kamera itu juga merekam kedatangan kami setelah kejadian itu terjadi.

Dan aku tidak tahu, bisa-bisanya Akaito mendapatkan duplikat rekaman CCTV itu entah bagaimana caranya!

"Kak, aku bawa barang bagus!"

Aku biarkan dia duduk di sebelahku. Hari sudah sore, dan berhubung Kamui juga belum pulang dari urusannya—yang entah kenapa sudah lebih dari seminggu meskipun dia bilang dia akan pulang kurang dari seminggu—jadi aku hanya bersantai di ruang tengah apartemenku, menonton TV. Dan tanpa cemilan, kalau kau sempat berpikir demikian. Aku masih merasa mual jika tanpa sadar membayangkan kejadian itu lagi.

Aku sama sekali tidak berselera makan sejak kejadian itu. Meski demikian, akhirnya aku bersedia makan setelah dipaksa Akaito. "Sudah cukup dengan kejadian Morinaga, Kak. Aku tidak mau menjadi orang pertama yang menemukanmu mati di apartemenmu sendiri!"

Kurang ajar.

"Apa itu?" Aku memperhatikan sebuah kartu kecil dan laptop yang dia bawa, lalu dia membuka laptopnya dengan bersemangat.

"Aku berhasil mendapatkan rekaman CCTV rumah Morinaga!"

"Hah? Bagaimana caranya?" Meskipun aku tidak tahu-menahu perihal polisi dan penyelidikannya, aku yakin pihak polisi tidak akan memberikan barang bukti begitu mudahnya pada seseorang, sekalipun hanya duplikatnya.

"Hahaha, aku hanya bilang bahwa aku penasaran dengan apa yang terjadi, dan aku tidak mau jadi tersangka mentah-mentah, makanya mereka bersedia meminjamkan duplikatnya padaku! Yah, meskipun harus dikembalikan besok sih."

Aku tidak menyangka ternyata Akaito memiliki kemampuan yang hampir sama dengan Kamui—bisa meyakinkan seseorang hanya dengan berbicara. Dan pastinya mereka sama dalam satu hal juga; menggunakan kemampuan itu untuk tujuan yang sesat!

"Oh, aku tidak sabar melihatnya!"

"A-Akaito, sepertinya aku tidak perlu menonton ini..."

"Ayolah, Kak! Kau harus tahu! Sebelumnya kau ingin memastikan apakah Morinaga baik-baik saja, bukan? Karena sekarang dia sudah mati, jadi setidaknya kau harus tahu kenapa dan siapa yang membunuhnya!"

Aku berpikir, kata-katanya ada benarnya juga.

Tapi sungguh, aku merasa firasatku sama sekali sedang tidak bagus. Aku merasa bahwa akan ada sesuatu yang terjadi kalau aku menonton rekaman itu.

Ternyata tanpa aku sempat menyadarinya, Akaito sudah membuka rekaman itu di laptopnya.

Seketika, layar penuh dengan rekaman itu. Aku melihat durasinya hanya sekitar dua jam. Mungkin pihak polisi sudah memotongnya hanya dari bagian yang paling krusial.

Awalnya tidak ada apa-apa. Hanya menunjukkan tangga menuju lantai dua yang disorot dari bagian samping. Akaito mengeraskan volume-nya, dan akhirnya aku bisa mendengar suara yang terdengar seperti memotong sesuatu.

"Ini... sepertinya saat aku ditelepon olehnya," gumamku pelan. Aku yakin Akaito mendengarku, tapi dia hanya diam saja karena terlalu fokus pada rekaman itu.

Aku melihat jam digital yang terdapat di pojok kanan bawah di rekaman itu, dan segera aku mengambil telepon genggamku untuk memeriksa kapan dia meneleponku. Hanya berbeda 6 menit. Rekaman ini terjadi setelah aku meneleponnya.

"Oh iya. Aku harus ke kamar ayah. Mungkin ponsel ayah tertinggal lagi."

Dari dalam rekaman, terdengar suara Mayu—sebenarnya suaranya terdengar tidak jelas, tapi ada tulisan subtitle di bagian bawah rekaman (mungkin ada pihak polisi yang memiliki pendengaran luar biasa tajam), jadi aku masih bisa memahami apa yang terjadi. Tidak lama setelahnya, terlihat Mayu keluar dari balik tangga. Wajahnya terlihat panik dan dia bergegas berlari menaiki tangga. Suara langkah kakinya yang menggebu perlahan lenyap ditelan keheningan.

Setelahnya, tidak ada hal yang terjadi di dalam rekaman tersebut. Aku mengalihkan tatapanku ke arah lain karena aku bosan melihatnya, tapi tidak sepenuhnya beralih dari layar laptop. Sedangkan di luar dugaan, Akaito masih antusias menonton rekaman itu.

Ekor mataku menangkap sesuatu dari dalam layar.

Ketika aku memperhatikannya, aku sadar bahwa itu adalah kain... yang berjalan.

Sepertinya dari sini, semuanya mulai terasa tidak beres.

Mataku mengikuti ke mana arah kain itu berjalan... bukan, melayang dengan perlahan. Dia melayang tidak terlalu tinggi, tapi juga tidak terlalu rendah. Kain itu terlihat seolah-olah sedang menutupi seseorang yang berjalan tanpa kaki.

Dengan horor, aku menduga bahwa kain itu pergi ke dapur—atau ruangan di balik tangga. Aku tidak berani membayangkan apa yang sebenarnya ada di balik kain itu.

Kira-kira tidak terlalu lama sampai akhirnya Mayu kembali menuruni tangga. Namun sebelum dia mencapai anak tangga terakhir, dia berhenti. Kepalanya menoleh ke arah balik tangga.

"A-apa..."

Dia terlihat terkejut pada apa yang sedang dilihatnya saat itu. Wajahnya memucat, dan dia segera berjalan mundur. Menurutku jika yang dia lihat itu adalah sesuatu yang berbahaya, itu adalah suatu kesalahan fatal karena berlari ke lantai atas tidak akan membuatmu kabur dari sesuatu itu.

Tapi setelah melihat apa yang terjadi setelahnya, aku sangat terkejut. Aku paham kenapa Mayu memilih untuk naik ke atas—meskipun aku tahu dia melakukannya mungkin hanya karena refleksi dari rasa takut.

Kali ini yang keluar dari balik tangga itu bukan kain, melainkan pisau daging yang berlumuran darah.

Apa—

"Aaaaahh!"

Mayu berlari menaiki tangga. Pisau yang terbilang berukuran besar itu melayang mengikutinya dari belakang. Suara gedebuk terdengar bergema. Suara Mayu masih terdengar, beriringan dengan suara langkah kaki yang terseok-seok dan samar. Karena volume laptop berada pada angka sekitar 70-an, aku yakin tetanggaku bisa mendengarnya dan mengira bahwa kami sedang menonton film horor.

Dan ini memang benar-benar film horor. Hanya saja, film ini adalah nyata. Sesuatu yang memang baru saja terjadi minggu lalu.

Kalau aku boleh memilih, aku tidak akan mau mendengar suara yang terdengar selanjutnya.

Aku merasa napasku berhenti mengalir setelah mendengar sesuatu yang tertancap berulang kali. Aku tidak tahu apakah jantungku masih berdetak, aku merasa seperti berhenti bernapas.

Clak

Lalu hening.

Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba suasananya menjadi sunyi?

Cukup lama keadaan hening itu terjadi. Aku semakin merasa tidak nyaman karena situasi apartemen yang memang sering sunyi di jam-jam seperti ini justru menakutiku. Lalu setelah kurang-lebih setengah jam berlalu, terdengar sebuah suara dari dalam rekaman yang cukup mengagetkanku.

Suara itu terdengar tidak begitu jelas, hanya seperti suara gumaman yang dalam. Dan suara itu jadi aneh karena berselingan dengan suaraku yang berbicara—mungkin itu adalah saat aku dan Akaito baru saja datang.

"..."

"Ya, aku datang seperti yang kubilang. Siapa kau? Di mana Morinaga-san?"

"..."

"Kau bohong. Suaramu terlalu ceria untuk berpura-pura menjadi Morinaga-san."

Lalu aku teringat bahwa aku sempat berpikir bahwa orang yang berbicara padaku saat itu bukanlah Mayu. Kau bertanya kenapa aku berpikir demikian? Karena... suara itu terdengar gelap dan membuatku merinding.

Tunggu. Apa aku salah lihat? Aku melihat bayangan berjalan ke atas tangga, dan berhenti di sana.

Seperti sedang memperhatikan kami di sana.

"... inilah kenapa pada saat itu, aku tidak mau naik ke lantai atas. Aku melihatnya."

Aku mendengar Akaito bergumam, tapi aku abaikan dia. Aku terus memperhatikan bagaimana aku dan Akaito berjalan masuk di rekaman itu, sementara bayangan misterius itu perlahan lenyap.

Setelah beberapa saat kami telah berada di lantai atas, aku mendengar suara jeritanku. Oh, ini pasti saat aku sudah membuka pintu kamarnya.

"Kak! KAK KAITO SIALAN! JANGAN PINGSAN SEKARANG! BANGUN!"

Meskipun aku tidak melihat apa yang kami lakukan di lantai atas, aku masih bisa mendengar suara Akaito yang panik. Sepertinya dia berusaha untuk membangunkanku yang sedang pingsan. Sesekali, aku mendengar suara tepukan. Aku pun menyipitkan mataku dengan curiga.

"Apa yang kau lakukan di bagian ini?" Aku bertanya pelan pada Akaito.

"Oh, aku berusaha membangunkanmu—sambil menampar pipimu. Siapa tahu kau bakal bangun, hehe."

Pantas saja setelah aku sadar, kedua pipiku terasa memar seperti habis ditampar.

Lalu terdengar suara Akaito lagi, sepertinya dia sudah lebih tenang di bagian ini. "Halo? Pak, tolong datang ke xxx, ada... terjadi pembunuhan, mungkin. Ya, tolong, Pak. Terima kasih."

Setelah itu, suasana kembali jatuh dalam keheningan. Mungkin sekitar 3 menit kemudian, Akaito kembali berbicara. Entah kepada siapa.

"Apa kau yang membunuh Morinaga-san?"

Tidak ada yang menjawabnya. Untuk kali ini, aku merasa sangat menyayangkan kenapa aku tidak bisa mendengar suara milik orang yang Akaito ajak bicara saat itu. Ya, ada suaranya, tapi hanya gumaman yang tidak jelas.

"..."

"Kenapa? Apa kau dendam padanya?"

"..."

"Eh? Benarkah?"

"..."

"Tidak mungkin kau cuma iseng—kecuali kalau kau hanya hantu penasaran yang sedang tidak ada kerjaan."

"..."

"Beritahu aku, siapa kau?"

"..."

"Oh, ayolah!"

Setelahnya, hening lagi. Agak lama rasanya seperti itu sampai akhirnya Akaito bersuara lagi.

"Hah, sial!" Dia terdengar mengerang frustasi. "Kak. Plis, kenapa harus pingsan di saat seperti ini!"

"Hah! A-apa..."

Pikiranku kembali melayang pada kamar Mayu saat itu. Penuh darah, pisau daging tertancap di kepala, di pinggir tempat tidur...

Sialan!

"Kak?" Sepertinya dia bisa membaca pikiranku. "Sabarlah."

Aku tidak menjawab. Aku tahu dia ingin menghiburku.

Mataku masih terpaku pada layar laptop. Rekaman itu masih berlanjut. Aku melihat bagaimana aku dan Akaito berjalan turun dari tangga, dan polisi memasuki rumah.

Ukh, apakah aku seperti itu minggu lalu? Aku terlihat seperti orang depresi yang sesenggukan sambil dituntun seorang polwan. Entah kenapa aku merasa malu sendiri melihatnya.

Lalu inilah bagian paling mengerikan yang sempat menghantuiku minggu lalu.

Ada bayangan yang turun dari lantai atas.

Terbang.

Lalu hilang.

Tapi anehnya, tidak ada orang di sekitar yang menyadarinya.

Dan tiba-tiba layar laptop Akaito berubah menjadi gelap. Aku dan Akaito tersentak kaget.

"Loh, kenapa mati?"

Dan aku pun parno. "A-Akaito, siapa tahu ini ada hubungannya dengan hantu itu—"

"Oh, enggak kok. Laptopnya cuma kehabisan baterai. Hehe."

Bangsat.

Aku pun menghela napas. Akhirnya rekaman itu telah selesai.

"Akaito, aku punya banyak pertanyaan untukmu mengenai rekaman itu," ucapku pelan sembari menatapnya dengan tajam.

"Eh... iya." Sementara itu, dia hanya menjawabku dengan kikuk. "Aku awalnya mau menceritakan ini padamu juga, tapi aku takut kalau-kalau kau depresi lagi. Jadi aku diam saja."

Lalu dia menceritakannya dari sudut pandangnya.


.

.


"Apa kau yang membunuh Morinaga-san?" Aku bertanya, pada sesuatu yang sebenarnya tidak aku ketahui. Aku merasa sepertinya sesuatu itu sedang ada di sekitarku, memperhatikan aku dan kakakku yang sedang pingsan. Dan jelas aku tidak mau semuanya berakhir begitu saja seperti ini.

"Ternyata kau penasaran juga—iya, memang aku yang membunuhnya." Dia menjawabku, meski tanpa menunjukkan wujudnya. Yah, aku tidak mau repot-repot memintanya. Aku hanya ingin tahu siapa dia.

"Kenapa? Apa kau dendam padanya?"

"Tidak. Aku sama sekali tidak memiliki dendam."

"Eh? Benarkah?"

"Aku melakukannya karena iseng—selama ini, aku hampir tidak pernah membunuh seorang manusia. Jadi anggap saja aku hanya coba-coba."

"Tidak mungkin kau cuma iseng—kecuali kalau kau hanya hantu penasaran yang sedang tidak ada kerjaan."

"Hehe..."

"Beritahu aku, siapa kau?"

"Kau akan tahu nanti—atau kakakmu itu mungkin akan sadar sendiri."

"Oh, ayolah!"

Setelah itu, aku tidak mendengar dia menjawabku lagi. Aku frustasi. Aku penasaran siapa dia, tapi aku tidak melihat dia dan dia juga tidak mau menjawab pertanyaanku!


.

.


"Apa kau punya penggemar rahasia selama ini, Kak?" tanyanya setelah dia mengakhiri ceritanya. Aku kedip-kedip sebelum menjawabnya,

"Aku... tidak tahu."

"Aku curiga, jangan-jangan penggemar rahasiamu itu adalah hantu?"

"Plis, jangan bercanda di saat seperti ini."

"Hei, aku juga serius, Kak!"

Alih-alih menjawab, aku hanya mengerutkan dahi. Aku mencoba mengingat-ingat, apakah aku pernah punya masalah dengan seseorang, atau mungkin aku pernah tidak sengaja membunuh seseorang sehingga kini dia menghantuiku. Tapi aku benar-benar tidak pernah melakukannya!

Di sini, masalahnya adalah; dia menerorku lewat orang-orang yang ada di sekitarku. Sepertinya aku harus benar-benar mencari tahu sebelum semua orang yang kukenal dibunuh olehnya. Memang dalam kasus ini, hanya Mayu yang menjadi korbannya. Tapi seperti yang sering kutonton dalam film horor, biasanya ini akan berakhir menjadi pembunuhan berantai.

Dan aku tidak mau terlibat dalam kisah seperti itu.

"Hhh... sudahlah." Dia menutup layar laptopnya, dan menghela napas. Satu tangan dia gunakan untuk mengacak rambut merahnya. Dia terlihat capek dengan semua ini. "Mungkin ini hanya kebetulan."

"Kebetulan? Kau bilang itu semua hanya kebetulan setelah hantu itu bilang bahwa mungkin aku akan sadar sendiri siapa dia? Kau bodoh atau apa sih?" Aku yang terlanjur takut dikarenakan kenyataan yang baru saja kupelajari ini, tanpa sadar menyalak padanya.

Sementara itu, dia pun mendelik. Tapi yang dia ucapkan setelahnya hanya, "Bukannya kau yang bodoh, Kak?"

Sialan.

Aku tidak menjawab lagi. Aku muak membahas ini. Bukannya membuatku lega, aku malah emosi. Atau mungkin lebih tepatnya, aku takut. Dari semua pengalaman spiritual yang pernah kualami, pengalaman inilah yang benar-benar paling menakutkan.

Apakah ini karma karena aku sudah terlalu sering menantang kematianku sendiri? Jadi sekarang, malah dia yang menantangku? Entah apakah aku masih bisa mengatakan ini adalah petualangan terhadap hantu yang mendatangiku sendiri, atau malah sudah berubah menjadi cerita misteri ala detektif entah sejak kapan.

Aku merasa kepalaku pusing. Dan karena aku terlalu capek untuk pergi ke kamarku, aku hanya diam di tempat. Aku menelungkupkan kepalaku di kedua tanganku. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Akaito saat ini, tapi aku benar-benar tidak mendengar suaranya. Mungkin dia pergi, atau masih di tempatnya juga. Aku tidak tahu.

Entahlah.

Tapi, dari apa yang kualami di atas, aku pun tersadar akan sesuatu—instingku tidak pernah salah. Dari awal, aku sudah merasakan adanya ketidakberesan yang mulai terjadi akhir-akhir ini. Mungkin aku harus lebih waspada dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh instingku.

Atau akulah yang akan lenyap oleh ketakutanku sendiri.


.

.


to be continued.


.

.


18072016. WHBY22. YV