.
.
Kesenangan di Antara Dua Dunia
—What's Happening Beside You—
Chapter 23 . M for Mistake
The Creation-Story © Yoshina Vanatala
VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua
.
.
Hari ini aku mencoba untuk menjalani kehidupanku seolah tidak ada hal mengerikan yang terjadi sebelumnya. Ya, aku tahu itu sulit, setelah menghadapi kematian Mayu di depan mataku sendiri. Tapi apa aku harus seperti itu selamanya?
Begitu aku datang ke kampus, Meito mencegatku di tengah jalan.
"Kaito."
Kelugasan suaranya sedikit menyentakku, berhubung suhu pagi yang masih terbilang dingin ini secara tidak langsung telah menciptakan beban kasat mata di kedua mataku, jadi aku sontak tersadar dari kantuk. Aku memusatkan fokus padanya. "Kenapa? Tumben kau terdengar serius."
"Setelah kuliah, apa kau sibuk?"
Aku mengerutkan dahi—sebuah gestur berpikir, tentu saja. "Mungkin aku ada waktu luang. Ada apa?"
"Aku ingin kau bercerita sesuatu padaku. Ini masalah kakakku."
"Kakakmu?" Aku menyipitkan mata. Apa Meito punya kakak?
"Meiko, Meiko."
"Oh." Aku baru tahu Meiko punya adik, dan aku juga baru tahu Meito punya kakak. Semuanya pun terjawab kenapa mereka memiliki tampilan fisik yang hampir sama.
Dan ada apa dengan Meiko? Setahuku, dia masih terlihat baik-baik saja kemarin. Atau mungkin ini bukan sesuatu yang serius, karena terkadang aku mendapati Meito senang melebih-lebihkan masalah yang sejujurnya tidak ada gunanya untuk dikuras siang dan malam seperti halnya dia yang tidak ingat di mana menaruh kopi bubuk di apartemennya sendiri.
"Iya," dia menjawab tanpa adanya penjelasan lebih lanjut. Garis wajahnya tampak tegang, mungkin kali ini dia benar-benar serius.
"Baiklah. Di taman kampus?"
"Sip."
Lalu dia berlalu setelah menepuk satu kali pada pundakku. Aku memperhatikannya dengan aneh, atau mungkin aku hanya berlebihan karena masih terbawa trauma—semenjak kejadian Mayu, secara otomatis aku menganggap serius semua permasalahan, tidak peduli sekecil apapun itu. Aku tidak mau melewatkan petunjuk-petunjuk seperti itu lagi.
Akaito mengolok, bahwa aku terlalu paranoid. Tapi peduli setan. Yang dia bicarakan sedari kemarin hanya thriller dari semua penderitaan yang kudapat. Anggapannya, itu adalah hiburan tersendiri baginya. Hiburannya melihatku menderita? Mungkin.
Begitu aku keluar pintu kelas seusai kuliah, sekilas seorang anak laki-laki berjalan melewatiku. Umurnya mungkin sekitar 10 tahun ke atas. Tidak ada yang aneh sebenarnya. Hanya terlintas sedikit perasaan menggelitik bahwa aku tidak pernah melihat anak itu sebelumnya. Apa mungkin dia mengunjungi sanak-familinya di kampus ini? Atau orang tuanya adalah dosen?
Atau mungkin benar apa kata Akaito. Aku merasa anak itu melirikkan matanya padaku walau hanya sepintas. Dan aku juga merasa seolah dia sedang mengawasiku. Ya, mungkin aku memang terlalu paranoid. Tidak ada salahnya dia melirik padaku, berhubung aku berdiri di pinggir jalur perlintasannya tadi. Dan dia tidak salah menggunakan matanya untuk memperhatikan lingkungan sekitarnya.
Aku segera menghampiri taman kampus. Sudah ada Meito di sana.
"Maaf, apa kau lama menunggu?" tanyaku tanpa menerangkan alasan bahwa aku sempat terhenti di jalan karena memikirkan ke-paranoid-anku. Aku duduk di bawah pohon pinus, lebih tepatnya di bangku samping Meito. Kebetulan suasana sedang sunyi. Mungkin inilah kenapa Meito setuju ketika aku bilang untuk bertemu di taman kampus.
"Ah, gak lama kok, Kaito. Santai aja."
Suara tawanya terdengar aneh. Jujur, aku merasa tidak nyaman mendengarnya. Meito seperti memaksakan dirinya untuk mencairkan suasana walaupun itu gagal. "Jadi, ada apa?"
Tawanya meredup. Dia kembali memasang wajah datarnya. Atau mungkin sebenarnya itu adalah ekspresi suram yang jarang dia tampilkan selama ini. "Maaf. Aku gak ada maksud untuk membuatmu teringat lagi, tapi aku ingin kau menceritakan serinci-rincinya kejadian pembunuhan Morinaga Mayu minggu lalu—kau ada di sana saat itu, bukan?"
Mendadak otot belikatku menegang. Aku tahu raut wajahku berubah, entah menjadi apa, pasalnya Meito sudah menjelaskannya lewat tatapannya yang terlihat sedikit bersalah. Yang pasti aku benci mengingat kejadian itu. "Memangnya kenapa?"
Matanya melirik kanan-kiri. Dia terlihat mencari sesuatu. Kuyakin itu hanya perasaan gelisah. Dia tidak nyaman, tapi dia memaksakan diri untuk menjawabku setelah terdiam sesaat. "Akan kuberitahu setelah kau bercerita."
Sepertinya kejadian Mayu memiliki hubungan dengan permasalahan Meito mengenai Meiko ini. Sejenak kucoba menerka-nerka apakah itu. Sejauh yang aku tahu, Meiko hampir tidak pernah berbincang dengan Mayu. Tapi siapalah yang tahu. Aku bahkan tidak lama mengenal Mayu.
Jadi aku pun menjelaskan semuanya—tidak, hampir semuanya karena aku tidak menyebutkan perihal mengenai sosok-yang-kata-Akaito-adalah-penggemar-rahasiaku itu. Aku merasa itu adalah masalah yang belum jelas akarnya, dan aku sendiri tidak paham kenapa itu bisa terjadi. Daripada mengusutkan apa yang belum saatnya dibentang, aku pun merahasiakannya.
Selama itu, aku mendapati bahwa anak laki-laki yang tertangkap basah melirik padaku tadi terlihat lagi di dalam jangkauan pandanganku. Dia tetap terlihat sendiri, dan berjalan seolah kampus adalah miliknya. Dia tidak peduli dengan sekitarnya, tapi di saat yang sama dia memperhatikan sekelilingnya. Tidak, ini hanya sekedar pemberitahuan. Ingatkan aku, kalau-kalau akan ada yang terjadi nanti.
Ekspresi yang tergambar di wajah Meito setelahnya sama sekali tidak bisa kubaca. Seperti lukisan abstrak. Tidak jelas, tapi memiliki makna yang dalam. Sayangnya aku tidak melihat apakah makna itu.
"Dilihat dari ceritamu, sama sekali tidak ada keanehan yang terjadi tapi..." Dia menghentikan perkataannya. Matanya terarah tidak fokus pada wajahku. Ada gurat kemarahan, atau mungkin kebingungan lebih tepat. "Kenapa malah kakakku yang dijadikan sebagai tersangka? Apa kau berpikir itu sedikit tidak logis?"
.
.
"Akaito, apa saja perkembangan terbaru dari kasus Mayu?"
"Hwah? Hwapa?" Adikku berbicara dengan mulut yang penuh makanan. Aku tidak peduli jika aku terkesan kasar dan memaksa, karena aku ingin segera tahu apa yang sedang terjadi tanpa sepengetahuanku. Sejak kapan Meiko dijadikan tersangka? Teori apa yang dipakai oleh para polisi itu? Aku yakin dia tidak bersalah. Jelas-jelas dia tidak ada di sana waktu itu.
Walaupun aku juga tidak begitu dekat dengannya.
Aku menatapnya tidak sabaran apalagi ketika dia mencoba menelan makanannya dan meminum air seusainya. Dia menghela napas lega atas keberhasilannya menghabiskan makanan. Lalu dia melempar tatapan bingung padaku. "Kasus Mayu?"
Aku mengangguk.
"Fuh, baru saja aku mau memberitahukannya padamu." Dia menyeringai, menaruh jempol dan telunjuk di bawah dagu untuk membentuk pose sok keren. Tapi seringainya perlahan turun. "Bukan hanya kita yang masuk dalam daftar praduga tersangka mereka."
"Siapa lagi yang dijadikan tersangka selain kita?"
"Hum..." Dia mengerutkan dahi. Matanya melirik ke langit-langit sebelum menjawabku dengan tidak yakin, "katanya dia dari kampus yang sama dengan kita, tapi aku tidak percaya. Kalau tidak salah, namanya Sakine Meiko—"
"Kenapa dia yang dijadikan tersangka?" Aku meledak. Suaraku dipenuhi ketidakpercayaan yang tidak kuharapkan. "Bukankah dia tidak ada di sana? Kita yang ada di sana, bukan? Kenapa..."
Aku kehabisan kata-kata.
"Tidak. Itu baru praduga. Sama seperti yang mereka tujukan pada kita kemarin." Akaito menghela napas capek. "Aku sudah bilang, mungkin itu hanya perbuatan roh yang punya dendam padanya. Tapi mereka malah menganggapku hanya berhalusinasi."
Lalu dia mengendikkan bahunya. "Dan mereka juga bilang bahwa video itu sudah dimanipulasi sebelumnya."
"K-kenapa bisa begitu?"
"Mereka menemukan bukti yang lebih kuat." Dia menyalakan telepon genggamnya. Menekan-nekan layarnya sesaat sebelum menunjukkan sesuatu di dalamnya padaku. Foto dari sebuah hasil scan rambut. Ada lembaran baju yang ternoda darah, dan foto dari seseorang yang kukenal di sebelahnya. "Ada rambut Sakine Meiko di pakaian Mayu saat itu."
Mataku membelalak tidak percaya.
"T-tapi bisa saja 'kan sebelumnya dia datang berkunjung..."
"Rekaman itu hanya memuat dari jam 11 siang. Ada kemungkinan kamera CCTV itu rusak, atau ada yang sengaja mengedit rekamannya lalu memasangnya kembali ke kamera itu seolah-olah tidak ada yang terjadi."
Aku diam saja karena aku tidak paham apa yang sebenarnya terjadi.
"Lalu, ada yang bilang bahwa di saat yang bersamaan, keberadaan Sakine Meiko tidak diketahui."
"Jadi apa kau percaya bahwa yang melakukannya adalah dia?" Aku bertanya dan menatap tajam padanya. Pemuda berambut merah itu menunjukkan gelagat tidak nyaman karena tatapanku, tapi dia berhasil mengatasinya dan tetap bersikap tenang.
"Aku tidak percaya, tapi aku juga tidak bisa percaya begitu saja. Aku bahkan tidak tahu siapa dia." Dia menggaruk belakang kepalanya. "Kau kenal? Kau sampai melotot-lotot begitu."
"Setidaknya aku mengenalnya sebagai orang yang baik."
Akaito sendiri hanya diam. Entah apakah dia tidak percaya padaku, atau dia hanya sedang membayangkan bagaimana seseorang yang awalnya baik bisa menjadi seorang pembunuh hanya karena suatu alasan tersembunyi.
"Apapun itu, kita masih belum tahu sepenuhnya." Akaito tiba-tiba terdiam lagi. Tatapannya terlihat membeku. Seolah dia baru saja melihat sesuatu yang aneh. "Tunggu, kau mendengar ada yang mengetuk pintu?"
Aku mengerutkan dahi tanpa menjawabnya. Ada apa dengan anak ini? Jangan bilang dia berusaha untuk mencairkan suasana dengan cara yang konyol begitu.
"Serius, aku mendengar ada yang mengetuknya tadi," lanjutnya ketika mendapati ketidakpercayaan di wajahku. "Seperti ada yang bersender di balik pintu."
Dengan kompak, kami berhenti berbicara untuk membuktikan prasangkanya tersebut. Aku semakin tidak percaya karena tidak ada yang terjadi seusainya. Dia pun menghela napas gusar. Dia tidak mau kalah begitu saja, dan dia pun bangkit dari duduk.
Dia membuka pintu dan tidak ada siapapun di sana. Atau apapun.
"Heh, sekarang siapa yang paranoid?" Aku mendengus, mengejeknya.
"Kak. Kau harus percaya padaku. Kau tidak merasa ada yang aneh dengan pintu ini tadi?"
"Tidak. Karena aku tidak melihat atau mendengar apa-apa dari tadi." Giliranku sekarang yang menghela napas. "Sudah malam. Aku mau tidur."
Kalimat itu mengakhiri perdebatan kami mengenai praduga tersangka pada Meiko di hari itu.
.
.
Di hari-hari selanjutnya, aku penasaran apakah yang terjadi pada Meiko setelah aku mendengar berita mencengangkan itu. Aku ingin tahu dari orangnya sendiri. Tapi Kyo bilang, banyak yang menuding dan memojokkannya. Apalagi ada beberapa bukti kuat yang mengarah padanya. Jadi, dia menghilang dari kampus. Mungkin tidak tahan, kata Kyo.
Aku prihatin. Aku tahu dia sangat syok dan mungkin dia juga bingung kenapa semua ini bisa terjadi sementara dia sendiri sama sekali tidak terlibat. Aku dan Akaito yang juga dipraduga sebagai tersangka, rasanya tidak sampai dituding seperti itu. Ya, ada sih, beberapa orang. Tapi banyak juga yang mendukung dan percaya bahwa kami memang sama sekali tidak terlibat kecuali hanya sebagai saksi.
Aku sempat bertanya pada Akaito, bahwa dia bahkan tidak mengenal Mayu sama sekali. Dia baru tahu siapa itu Mayu setelah melihat foto Mayu di telepon genggamku sebelumnya.
Tunggu, aku tiba-tiba teringat dengan sosok ikiryou yang dikatakan oleh Akaito saat itu. Entah apa yang sempat terlintas di benakku, tapi aku sempat berasumsi bahwa mungkin ikiryou itulah yang membunuh Mayu. Bukankah ada yang mengatakan, jika terdapat hantu yang muncul di dalam fotomu, kau akan mengalami kesialan setelahnya?
Mungkin semua ini secara diam-diam sudah membuatku sedikit mempercayainya.
Meito juga ikutan menghilang. Mungkin banyak yang menginterogasinya, menudingnya bahwa siapa yang tahu dia juga terlibat membantu kakaknya. Aku tidak berani menghubungi mereka berdua karena aku tahu, mereka sama sekali tidak mau diganggu di saat seperti ini.
Aku juga seperti itu pada saat depresi kemarin, haha.
Tiba-tiba telepon genggamku berdering. Ada yang meneleponku. Aku terkejut karena ternyata Kamui meneleponku. Aku segera mengangkatnya.
"Halo?"
"Hei, apa kabarmu? Kau tidak tiba-tiba jadi gila, bukan?"
"Kenapa kau bisa ngomong begitu? Ke mana saja kau?" Aku merasa aneh dengan sapaan pertama yang dia berikan padaku setelah lebih dari dua minggu tidak membiarkanku mengetahui kabarnya.
"Aku dengar apa yang terjadi di kampusmu akhir-akhir ini." Tanpa menjawab pertanyaanku sebelumnya, kami beralih ke topik lainnya. Suaranya tiba-tiba menjadi serius. "Ada yang membunuh seorang mahasiswi. Kau dan adikmu sempat diduga sebagai tersangka sampai akhirnya bukti yang tidak kuat mengalihkan perhatian mereka dari kalian."
"Tidak kusangka beritanya bisa sampai padamu walaupun sedikit terlambat."
"Aku juga baru dengar, ada mahasiswi lainnya yang diduga sebagai tersangka," ucapnya. "Apa kau ada waktu luang? Aku mau mendengar semuanya dari sudut pandangmu."
"Lusa besok mungkin ada. Aku bawa Akaito bersamaku nanti."
"Wah, bagus. Biasanya dia sangat pintar menceritakan kejujuran." Lalu dia tertawa, seperti yang sering dia lakukan dulu. Entah kenapa rasanya lega mendengar suara mistisnya itu lagi setelah lama tidak bertemu. "Besok aku masih sibuk, jadi lusa besok aku juga baru luang."
"Baiklah." Aku diam sebentar, berpikir. "Karena di kampus banyak paparazzi yang cerewet berkeliaran mencari berita, jadi datang saja ke apartemenku. Syukurlah mereka tidak tahu di mana apartemenku. Semua orang baik sekali padaku untuk tidak memberitahukannya pada mereka."
"Oh, tiba-tiba jadi superstar ya?"
"Sialan."
Dia tertawa. "Sip. Sampai ketemu lusa besok, Shion."
Sambungan telepon pun diputus.
.
.
Aku lupa memberitahukan kalian bahwa semenjak aku diduga sebagai tersangka, aku diburu wartawan. Meskipun tidak heboh-heboh amat. Aku sangat bersyukur karena mereka tidak tahu di mana apartemenku, jadi aku masih selamat untuk saat ini.
Di televisi, aku sering mendapati berita tentang pembunuhan Mayu juga. Aku muak melihatnya. Aku jadi selalu teringat dengan kejadian di hari itu. Jadi, karena biasanya informasi televisi lebih cepat daripada informasi polisi, aku serahkan semuanya pada Akaito. Ya, aku tinggal tanya saja tentang perkembangan kasus itu padanya, kalau aku mau tahu.
Dan mungkin ini terkesan berlebihan. Sejak hari itu juga, aku merasa seperti diikuti. Persetan jika itu hanyalah wartawan, tapi Akaito yang juga merasakannya bilang itu bukan manusia. Lalu aku tanya, apakah itu roh Mayu yang penasaran? Dia bilang bisa jadi, tapi dia tidak yakin.
Dia bilang, auranya sama dengan aura yang dia rasakan ketika berbicara dengan hantu misterius itu di rumah Mayu.
Tapi kadang dia juga bilang, akhir-akhir ini dia merasa ada hantu lainnya yang mengikuti kami. Dia tidak bisa melihatnya, hanya bisa merasakan kehadirannya. Mungkin hantu itu tidak ingin kami tahu siapa dia.
Kenapa semua ini jadi sangat aneh dan ganjil? Atau hanya perasaanku saja?
Entahlah.
Keesokan harinya, karena tidak ada jadwal kuliah, jadi aku hanya berdiam diri di apartemen. Akaito sedang pergi karena dia bilang dia ingin membeli sesuatu. Aku sempat paranoid dan mencegahnya untuk keluar. Ya, aku takut kalau-kalau hantu-hantu yang mengikutiku itu tiba-tiba menampakkan dirinya, karena merasa aku hanya sendirian di apartemen.
Dan dia hanya tertawa mendengar alasanku itu. Dia bilang aku seperti anak-anak, dan setelah itu aku pun memukulnya. Sialan.
Selama seharian, aku hanya sibuk bermain game di telepon genggamku. Aku mengubah posisiku setiap satu kali selama beberapa menit. Duduk menyender, berbaring, duduk bersila, duduk selonjoran, dan lainnya.
Lalu aku memutuskan bahwa duduk bersila adalah posisi yang paling nyaman.
Jadi dengan kedua telinga disumpal earphone, aku duduk bersila sementara kedua tanganku memainkan telepon genggamku dengan lincah. Untuk sementara waktu, aku merasa aku melupakan semua beban stressku selama ini.
Dan tiba-tiba saja punggungku merasakan sesuatu. Serius, seperti ada yang menyender padaku.
Aku tidak berani menoleh. Tapi aku juga tidak berani menjauh. Bagaimana jika aku beranjak dari tempatku, dia akan marah? Atau sejenis itu?
Krek
Aku mendengar sesuatu yang bergerak. Dari titik ini, aku baru sadar bahwa aku tidak bergerak bukannya karena tidak berani, tapi karena memang tidak bisa. Ada yang menahanku.
Sesuatu itu masih bersender padaku. Tidak terlalu berat sebenarnya, tapi sosoknya lumayan kentara bahkan meskipun hanya dari punggungku. Tidak ada pergerakan dari sosok itu. Dia juga hanya diam dan seolah-olah sedang menikmati suasana yang sunyi. Jadi aku hanya diam tidak bergerak. Dalam hati aku berdoa semoga saja tidak ada hal buruk yang akan terjadi. Setidaknya sebelum Akaito datang.
"Kak!"
Aku mendengar suara Akaito. Aku tetap tidak bergerak ke manapun, meskipun sesuatu itu sudah tidak menyender padaku lagi. Aku mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa, dan aku sangat terkejut ketika merasakan ada guncangan di bahu kanan.
"Kak! Sadar! Jangan melamun!" Akaito terdengar panik. Kali ini aku baru berani menoleh. Wajahnya terlihat sangat pucat. "K-kau tidak apa-apa?"
"Aku... tidak baik," jawabku lirih. Aku menoleh ke belakang, tidak ada apa-apa. Aku menghela napas dengan sangat lega. "Apa yang kau lihat tadi?"
Wajahnya masih pucat, tapi sudah lumayan mendingan. "A-aku tidak yakin tapi aku hanya merasa ada yang duduk di belakangmu."
Kami diam.
"Oh iya, di depan pintu ada temanmu datang. Siapa namanya tadi? Oh iya, Len."
"Kagamine?" Aku spontan memberikan respon. Dia mengangkat bahu, tapi aku hanya mengangguk sementara aku berdiri dan melangkah keluar dari pintu. Begitu berada di luar, aku langsung disambut oleh suara yang familiar.
"Kaito-san!"
"Eh, Kagamine? Ada apa?" tanyaku bingung. Bukannya aku tidak merasa senang akan kedatangannya, hanya saja jarang sekali dia berkunjung kalau bukan dengan Kamui.
"Gak apa-apa, cuma kebetulan lewat kok." Dia terkekeh. "Kau sibuk? Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?"
"Uhm, maaf. Kurasa tidak untuk kali ini." Aku tersenyum kecut. Dia memiringkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Err... ada sesuatu yang terjadi padaku akhir-akhir ini."
"Apa itu? Ohh! Aku baru ingat, Kaito-san! Cowok tinggi berambut merah tadi itu siapamu? Saudaramu?"
"Lebih tepatnya, adikku."
"Dia mirip sekali denganmu," ucapnya melirik ke dalam kamar apartemenku. "Apa dia sama-sama pecinta hantu? Kayaknya gitu sih."
"Kenapa kau bisa tahu?" Aku tersenyum masam. "Ralat. Kenapa kau tiba-tiba berpikir seperti itu?"
Dia malah mengangkat bahu. "Hanya asumsiku."
Saat aku sedang memutar mata, tiba-tiba teleponku berdering. Meito memanggilku.
"Halo?"
"K-Kaito! A-aku tahu ini gak ada hubungannya denganmu tapi tolong aku! Kakakku hilang!"
"Hah? Hilang? Kok bisa?"
"Aku sudah coba telepon, tapi dia tidak menjawab! Dia benar-benar hilang, Kaito! Tolong aku!"
"T-tenangkan dirimu, Meito. Bagaimana aku bisa menolongmu?" Aku jadi ikut panik mendengar kepanikannya itu.
"Aku tidak tahu! K-kau datang saja ke stasiun!"
"Uhm, baiklah."
Sebenarnya aku malas mengurusi masalah orang lain—karena masalahku sendiri saja aku tidak tahu apa jadinya. Tapi instingku berkata, aku harus menolongnya.
Apa itu memang pertanda dari suatu hal? Atau hanya keegoisanku yang masih trauma karena kejadian Mayu?
"Ada apa, Kaito-san?"
"Aku harus pergi ke stasiun."
"Untuk apa?"
Aku mengerutkan dahi. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Lalu aku terpikir oleh suatu hal. "Kau ikut aku ke stasiun?"
"Ehh, aku ikut! Aku senggang kok!"
Aku mengangguk. "Baiklah. Akaito, aku pergi sebentar," ucapku sekilas ke dalam pintu apartemen.
"Kemana, Kak? Hei!" Dia terkejut karena sebelum dia menjawab, aku sudah berlari ke lift.
.
.
"Kaito!"
Saat aku berjalan di trotoar, aku mendengar suara Meiko memanggilku. Aku segera berhenti dan menoleh kanan-kiri. Kagamine yang melihat pun bingung. "Ada apa, Kaito-san?"
"Sepertinya Meiko memanggilku." Aku panik. "D-dia pasti di sekitar sini!"
"Kaito, tolong aku!"
"Kau mendengarnya?" Aku bertanya pada Kagamine saat kudengar suara itu lagi. Kagamine sendiri mengangguk.
"Suaranya berasal dari arah ini." Dia menunjuk pada suatu arah. Terdapat sebuah bangunan gedung yang sepertinya sudah tidak terpakai. Banyak rumput ilalang tumbuh tinggi, meski tidak sampai menutupi gudang itu sendiri. Cat tampak mengelupas pada gudang itu.
Aku mendekatinya.
"Ah, pintunya terbuka sendiri!"
Kagamine memekik dan kembali menunjuk gudang. Benar saja, aku melihat pintu gudang yang awalnya tertutup, perlahan terbuka tanpa adanya siapapun yang membukanya. Ada apa ini?
Kami menembus hamparan ilalang. Tidak kupedulikan rasa gatal yang segera menyerang kulit tanganku. Aku sangat yakin, Meiko pasti ada di dalam sana. Ya, pasti.
.
.
Aku awalnya tidak sadar apa yang sebenarnya terjadi.
Rasanya aku merasakan ada getaran yang kemungkinan besar berasal dari telepon genggamku—tapi aku tidak menghiraukannya. Aku mendengar suara teriakan, entah siapa. Menyuruhku untuk tetap berdiri di tempat dan bukannya memasuki gudang.
Tapi semuanya sudah terlambat, jadi apa gunanya?
"Kaito-san, apa yang kau..." Kagamine tercekat, suaranya begitu ketakutan. "Astaga."
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menemukan seorang manusia tergantung di depan mataku sendiri. Iya, digantung, menggunakan tali belati. Dan aku merasa seluruh isi tubuhku runtuh saat aku sadar bahwa orang yang tergantung oleh seutas tali itu adalah Meiko.
"Meiko?" Aku menggumam dengan suara tercekik. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari tubuh yang melayang di udara itu, meski aku sangat menghendakinya! "Meiko?"
"Kau mengenalnya, Kaito-san? Kaito-san!" Sepertinya Kagamine terkejut melihat aksiku berikutnya. Aku jatuh bertumpu lutut akibat kehilangan tenaga. Isi perutku seperti diaduk-aduk, kepalaku pusing. Apakah aku akan pingsan? Tapi nyatanya dari tadi, aku masih bisa merasakan kerasnya lantai gudang. Aku masih tersadar. Bahkan aku mulai mendengar suatu suara.
"2-0, Kaito-kun. Hihihihi."
"Apa? SIAPA?" Aku kalap mendengar suara yang pelan itu. Aku menolehkan kepala dengan beringas. Aku melihat Kagamine semakin terkejut atas tingkahku.
"Ada apa, Kaito-san? Tenangkan dirimu!"
Aku akhirnya bisa merasakan napasku yang terengah sementara aku memelototi Kagamine yang mulai memberikan tatapan kasihan padaku. "Yang tabah, Kaito-san."
Aku tidak menjawab apapun. Aku mulai bisa menenangkan diri, jadi kemudian aku membuang wajah darinya.
"Sebentar, aku telepon polisi—"
"Jangan."
"Kenapa?" Kagamine terdengar keberatan. "Aku tahu kau mungkin tidak mau terlibat dengan kasus kematian seperti ini lagi, tapi—"
"Aku bilang JANGAN."
Kagamine tidak menjawab lagi setelahnya. Mungkin dia terkejut, tapi dia tidak memberikan respon apapun.
Pertanda apa ini?
Kemarin Morinaga, sekarang Meiko?
Kenapa semuanya adalah orang yang kukenal baik?
Dan kenapa harus aku yang menjadi orang pertama yang menemukan mereka?
"Sepertinya ponselmu berdering, Kaito-san."
Tanpa tenaga, aku menggerakkan tanganku untuk mengambil telepon. Kulihat ada nama Kamui di sana.
Kenapa si bangsat ini meneleponku di saat seperti ini? Tapi akhirnya meski dengan ogah-ogahan, aku menjawabnya, "Halo?"
"Sedang apa kau?"
"Kenapa?"
"Kau butuh bantuan?"
"Bantuan?" Aku semakin heran dengan orang ini.
"Aku ke tempatmu—jangan tanya."
"Tapi kenapa—hei!" Aku menjauhkan layar telepon dari telinga. Sambungan ternyata diputus.
Apa maksudnya dia mau ke sini? Apa dia tahu tempatku berada saat ini?
"Itu tadi Gakupo-san, 'kan? Kenapa dia bilang seperti itu tadi?" Sepertinya Kagamine mendengar percakapanku dengan Kamui tadi. Tapi kepalaku sudah terlalu pusing untuk memikirkan apapun. Aku... tiba-tiba merasa lelah.
Sesaat sebelum aku akhirnya pingsan, aku melihat ada bayangan hitam melintas di belakang Kagamine. Bayangan itu tersenyum padaku.
.
.
to be continued.
.
.
31122016. WHBY23. YV
