Tittle : Hold Me Tight

Author : Kim Joungwook

Pairing : NamJin

Length : 2 of

Genre : Romance

Summary : Hidup Seokjin benar-benar berubah setelah melewati malam bersama namja asing yang hanya meninggalkan nama dan bayangan samar mengenai wajahnya. Malam yang membuatnya tanpa sadar telah memikat seorang Kim Namjoon./NamJin

Warning : Shounen-ai, BoyXBoy. Typo(s). Don't Like Don't Read!

.

.

.

BTS

.

Seokjin mengeluh parau saat suara ponselnya terdengar nyaring ke seluruh ruangan. Ia membuka matanya perlahan dan mencoba melakukan peregangan ringan. Bukannya merasa segar dan terjaga, kepalanya justru seperti terhantam palu, hangover benar-benar memukulnya telak.

"argh!" ia mengerang pelan dan mencoba memijat lembut pelipisnya. Hal yang paling ia benci setelah semalam meminum alcohol, ia sangat mudah terserang hangover paginya. Yang membuat ia tak terlalu menyukai minuman memabukkan itu. Seokjin menggerakkan tubuhnya untuk bangun, tapi rasa kulitnya yang seakan bersentuhan langsung dengan selimut membuat gerakannya terhenti. Ia mengerjapkan matanya berulang kali dan mencoba menetralkan nafasnya.

Ia mulai takut.

Apalagi setelah ia perhatikan dengan benar, ruangan tempatnya kini berbaring hanya berupa kamar sempit yang memiliki sebuah ranjang dan juga meja disampingnya. Hanya itu yang bisa ia lihat. Ia bisa mengatakan dengan jelas dan yakin bahwa ini bukan kamarnya. Bahkan jendelanya tidak menampilkan sinar matahari yang masuk, membuat ruangan ini hanya remang-remang diterangi lampu kecil di atas ranjang. Seokjin menelan ludahnya gugup dan mulai menunduk, melihat bagaimana dadanya tampak topless, tak memakai kaos apapun. Apalagi ia bisa melihat kaos dan juga jeans yang semalam ia pakai terlipat rapi di ujung ranjang.

"tidak, tidak. Ini tidak seperti yang kupikirkan. Iya kan? Tidak mungkin."

Seokjin benar-benar akan menangis saat merasakan bagian pinggang kebawahnya terasa sangat pegal, nyeri saat ia bergerak sedikit saja. apalagi saat ia menyingkap selimut yang ia pakai, bisa ia lihat ia tak memakai apapun, atau telanjang.

"astaga! Apa yang terjadi? Apa ini?" Seokjin memekik pelan, menaikkan kembali selimut yang ia pakai hingga menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala. Rasa pening yang ia rasakan semakin menjadi, ia menekuk lutut dan melipat tangan diatasnya lalu menenggelamkan wajahnya disana. ia mencoba merilekskan tubuh dan juga pikirannya. Ingatannya mengenai semalam masih terasa samar. Ia hanya mengingat satu nama.

Kim Namjoon

Tapi ia tak tahu apa yang terjadi dengan mereka semalam hingga ia bisa berada disini dengan keadaan yang, well, mengenaskan.

.

.

.

Flashback

"hey princess, aku harus pergi sekarang. Aku akan kembali lagi, yah, jika kau belum pulang." Ucap Namjoon setelah keduanya hanya diam dengan minuman masing-masing didepannya. Seokjin yang sudah mulai mabuk dengan hampir satu botol wine yang ia habiskan sendiri hanya bergumam pelan. ia menyangga dagunya dengan tangannya dan memandang Namjoon dengan wajahnya yang mulai memerah.

"hmm?"

Namjoon berdecak dan mengacak kasar rambut Seokjin, membuat kepalanya hampir jatuh terantuk meja jika saja Namjoon tak menahannya, "well, I think you cannot even move from your seat now. You are not sober anymore." Ia bergumam pelan dan meletakkan kepala Seokjin diatas meja, membiarkan lipatan tangan namja itu menjadi bantalnya.

Namja berambut abu-abu itu terkekeh geli dan membelai lembut kepala Seokjin. Ia memandang wajah mabuk Seokjin yang memerah dan tak bisa menahan dirinya untuk tidak mendaratkan sebuah ciuman singkat di sudut bibir namja itu yang sudah menggodanya sejak detik pertama bertemu. Bagian wajah milik Seokjin satu itu sungguh menarik perhatian dengan baby fatnya.

"sebenarnya aku tak ingin meninggalkanmu sendiri disini. Tapi, well, aku tetap harus tampil sekarang. Sampai bertemu setengah jam lagi, princess. Jangan pergi, oke?"

"pergilah!"

Namjoon tertawa mendengar gumaman tak jelas dari bibir Seokjin. Sepertinya namja itu masih cukup paham tentang apa yang ia bicarakan.

"baiklah."

.

Namjoon tersenyum lebar saat ia kembali menghampiri tempat Seokjin duduk dan masih melihat namja itu disana. ia terlihat menyangga kepalanya malas dengan salah satu tangannya dan memegang segelas wine ditangannya yang lain. Namjoon berdecak, namja semanis Seokjin ternyata memiliki toleransi alcohol cukup tinggi. Bahkan dengan wajah yang semerah itu masih bisa meneguk wine digelasnya.

"kau sudah cukup mabuk, princess. Berhentilah minum. Bahkan ini sudah botol keduamu." Ucap Namjoon sembari duduk di samping Seokjin.

Namja manis itu mengernyit, "behenti memanggilku, princess. Kau membuat wajahku semakin memerah." Namjoon tertawa menangapi protesnya. Well, sepertinya Seokjin sudah cukup mabuk hingga berkata dengan jujur seperti itu.

Setelah itu keduanya tak ada yang biacara. Seokjin hanya diam dan kembali menyesap minuman berwarna merah itu dari gelasnya. Dan Namjoon menyamankan dirinya dengan memangku dagunya diatas lipatan tangannya diatas meja dan memandang Seokjin. Namja cantik didepannya ini benar-benar mempesona.

"berhenti memandangiku seperti itu." Bentakan itu tak ditanggapi Namjoon, ia masih tetap memandang Seokjin dengan senyum lebar diwajahnya.

Tiba-tiba bibir Seokjin merengut, dan air mata turun dari sudut matanya.

"seandainya Hyosang ssi juga memandangku dengan tatapan yang sama dengan yang kau lakukan. Brengsek! Dia justru menikah dengan gadis yang sangat licik seperti gadis Bang itu. Sialan! Bahkan dia memberiku hadiah kaos yang kebesaran, yang dengan tololnya justru aku pakai sekarang. Bodoh! Aku ingin membunuh wanita sialan yang merebut Hyosang ku. Hiks, Jin Hyongsang, hiks, aku sangat mencintaimu, kenapa kau tidak melihatku dan justru memilih wanita setan itu? Hiks, bahkan kau dengan tololnya memberiku hadiah yang sangat kebesaran ini. Hiks, aku harus bagaimana Jin Hyosang. Hiks hiks."

Namjoon menganggukkan kepalanya pelan, jadi, Seokjin mabuk karena patah hati? Well, berarti ia bisa senang kan karena namja cantik didepannya ini masih single sekarang?

"Kim Namjoon!"

Namjoon tersentak saat namanya dipanggil dengan bentakan seperti itu. Tapi Seokjin tak mengatakan apapun dan kembali meneguk wine nya. Dan Namjoon terkekeh geli. Melihat bagaimana wajah memerah Seokjin dengan matanya yang sembab. Hidungnya mengerut lucu dengan bibir penuh merah miliknya mengerucut kesal. astaga, bagaimana mungkin ada namja semanis dan secantik ini?! Dihadapannya dan dengan keadaan yang sangat menguntungkan buatnya. Ia jadi ingin membawanya ke ranjang dan menikmati tubuhnya sepuas mungkin.

"astaga! Apa yang kau pikirkan Kim Namjoon." Ia menggelengkan kepalanya kasar dan dengan cepat mengangkat kepalanya dari meja. Ia memandang Seokjin dan dengan cepat berdiri.

"pulanglah, princess. Kau tak ingin ada seseorang yang memperkosamu kan? Kau sasaran sangat empuk dengan kondisimu saat ini."

Seokjin menggeleng, "aku tak mau pulang. Aku belum melihat penampilan Yoongi. Aku bisa dibunuh olehnya jika tak melihatnya dipanggung."

Namjoon menaikkan salah satu alisnya, "Yoongi? Maksudmu Min Yoongi? Oh, princess, dia sudah tampil setengah jam yang lalu. Kau melewatkannya, sayang." Seokjin hanya bergumam, sepertinya tak menaruh perhatian terhadap apa yang diucapkan Namjoon.

Namja dengan jaket hitam itu berdecak dan menarik tubuh Seokjin berdiri, "ayo kuantar pulang. Bisa-bisa aku benar-benar menidurimu malam ini."

Seokjin mengerang dan bergerak kasar, mencoba melepas cengkeraman Namjoon dikedua lengan atasnya. "aku tak ingin pulang. Ini baru jam 10." Namjoon memutar bola matanya malas, "ini sudah lewat dari jam 11, princess."

Namjoon menghela nafas dan melepas cengkerammnya dari lengan Seokjin karena namja manis itu masih kekeh memberontak. Namun hal itu justru membuat tubuhnya limbung dan hampir menabrak tubuh Namjoon didepannya. Tinggi keduanya yang hampir sama, meski masih tinggi Namjoon beberapa senti, membuat kedua kepala mereka hampir berbenturan jika saja Namjoon tidak kembali menahan bahu Seokjin.

"woa, woa, there, princess. Listen to me, you are drunk now. Let me drive you home. Ok?"

Seokjin mengerucutkan bibirnya, yang sialnya masih berada dalam jarak membahayakan dengan wajah Namjoon.

"oh shit that! Persetan dengan semuanya."

Dan Namjoon dengan cepat mencium bibir penuh Seokjin hampir-hampir mengerang merasakan bagaimana lembut dan pasnya bibir itu dengan miliknya. Ia mengulum dan memagut kasar bibir Seokjin, tak mau melewatkan seinchipun bagian bibir merah itu dari jangkauan lidahnya. Salah satu tangannya berpindah memeluk pinggang Seokjin erat, dan yang lainnya menahan tengkuk Seokjin agar tak menjauh. Sedangkan namja cantik itu hanya memejamkan matanya dan pasrah memeluk leher Namjoon.

Ia mulai menggigiti bibir Seokjin, dan memaksa belahan bibir itu terbuka. Dan saat ia berhasil menginfasi rongga mulut Seokjin, lenguhan seksi itu terdengar.

"fuck! I let you know my beast side on the bed."

Flash back end

.

.

.

"Ya Tuhan."

Seokjin mengerang lirih. Wajahnya sudah basah oleh keringat dan juga memerah sampai ke telinganya. Kini ia sudah bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi semalam, bagaimana ia benar-benar pasrah dan tak berdaya dibawah namja bernama Kim Namjoon tersebut. Yang bahkan ia tak percaya bahwa ia memberikan tubuhnya begitu saja semalam.

Ia tahu, ia namja yang tak akan hamil jika disetubuhi begitu saja. tapi sebagai namja, ia memiliki harga diri tinggi yang tidak memperbolehkannya ditiduri oleh siapapun. Bahkan ia membiarkan dirinya berada dibawah kendali namja lain yang tidak ia kenal. Ia benar-benar merasa harga dirinya diinjak-injak begitu saja. apalagi ada sebagian dari sudut hatinya merasa kecewa dan marah, karena ia tak bisa menjaga tubuhnya sendiri.

Dan yang paling ia sesali, astaga, itu pengalaman pertama Seokjin melakukan ehm, seks, setelah 26 tahun ia hidup! Dan ia melakukannya dalam keadaan mabuk dengan orang yang tidak ia kenal. Ia yakin, namja itu hanya menjadikannya sebagai one night stand semata, tanpa berniat untuk bertemu lagi. Dan pemikiran itu membuat matanya memanas.

"aku harus segera pergi dari sini."

Seokjin dengan cepat memakai kembali pakaian yang ia pakai semalam, meski dengan susah payah karena rasa sakit dibagian pinggulnya. Ia segera mengambil ponselnya diatas meja dan menemukan sebuah note dibawahnya.

Waw!

Semalam adalah pengalaman yang sangat luar biasa, princess. Aku yang 'pertama' kan? Kkk, aku bisa merasakannya. Well, aku bangga menjadi yang pertama untukmu. Dan kuharap kau tak melupakan bagaimana 'panas'nya kita diatas ranjang.

With Love,

Kim Namjoon

Ps. Kuharap kita bertemu lagi ;)

"brengsek!" Seokjin dengan kasar merobek kertas kecil itu menjadi serpihan-serpihan yang tak bisa dibaca lagi dan membuangnya begitu saja dilantai.

"aku berharap kau lenyap selamanya." Gumamnya kesal. ia menyalakan ponselnya dan membelalak kaget saat melihat jam yang sudah menunjukkan angka 10.30, ia terlambat untuk masuk kerja hari ini. Apalagi ia bisa melihat berpuluh miscall juga pesan masuk. Sebagian besar dari Joungkook – adiknya – dan juga Yoongi.

Drrrttt

Ponselnya tiba-tiba berdering nyaring dan terpampang nama Yoongi disana. ia hampir melempar ponselnya karena kaget tadi. Dan ia juga tak menyangka Yoongi akan menelponnya lagi setelah melihat belasan miscall yang dilakukan namja Min itu sejak semalam.

"yobo – "

"ya Kim Seokjin! Kemana saja kau sejak semalam?! Jimin bilang ia melihatmu di Tunnel, tapi kenapa kau tak menemuiku? Aku mencarimu ke penjuru klub dan tak bisa menemukanmu. Kukira kau sudah pulang. Tapi tiba-tiba Joungkook menelponku dan mengatakan kau belum pulang padahal sudah lewat tengah malam. Apa kau tahu bagaimana khawatirnya aku dan Joungkook karena kau tak bisa dihubungi? Bahkan Joungkook sampai ke apartemenku saking khawatirnya karena menunggumu yang tak kunjung pulang. Sebenarnya apa yang kau lakukan semalam? Hah?! Berani-beraninya kau membuatku khawatir? Dan sekarang kau juga tak masuk kerja. Apa maksudmu, huh? Kim Seokjin? Jawab pertanyaanku."

"…."

"hyung?"

"hiks, Yoongi ya~"

Dan isakan Seokjin tak bisa ia tahan lagi. Sejak tadi sebenarnya ia sudah ingin menangis, dan mendengar suara Yoongi – yang sepenuhnya rap – membuatnya menyerah dan meneteskan air matanya begitu saja. ia sangat sedih dan kecewa karena telah membuat Yoongi dan Joungkook khawatir.

"kau menangis hyung? kenapa? Apa yang terjadi? Kau dimana?"

Seokjin tak tahu, ia harus tetap menangis atau tertawa. Karena pertanyaan penuh kekhawatiran dari Yoongi benar-benar terdengar seperti namja Min itu yang tengah menge-rap.

"Yoongi ya, I'm screwed."

.

.

.

Seokjin sudah kembali ke rumah yang ia tinggali bersama Joungkook. Setelah menahan malu sepanjang perjalanan menaiki bis karena – demi Tuhan, ia tak membawa mantel semalam dan kini, ditengah hari yang sangat terang dan dengan pakaian yang terbuka membuat, ehm, bekas kegiatan semalam yang masih terlukis di hampir seluruh tubuhnya terlihat dengan jelas. Apalagi lehernya, ia tak tahu, semalam yang menidurinya adalah seorang manusia atau vampire, karena banyak sekali tanda yang ia tinggalkan.

"jadi, semalam kau diperko – tidak, kau melakukan seks dengan seorang namja yang baru saja kau temui malam itu?"

Seokjin mengerucutkan bibirnya mendengar pilihan kata Yoongi, "aku tidak tahu." Jawabnya singkat. Ia memeluk lebih erat bantal yang ia peluk hingga menutupi hampir separuh wajahnya. Ia kini memakai sebuah kaos lengan panjang juga celana training panjang, yang sesungguhnya sangat menyiksa dipakai ditengah musim panas seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak mau Joungkook melihat bekas kissmark di tubuhnya.

Yoongi yang duduk di kursi tak jauh dari ranjang Seokjin beranjak dan mendekatinya, tangannya menyentuh tengkuk Seokjin dan sedikit mencubitnya, "bitemark di tengkukmu terlihat jelas, Seokjin hyung. selamat, kau telah berhasil kehilangan keperawananmu."

"Yoongi! Uh, aku namja. Dan hal seperti ini bukan suatu hal yang patut dibanggakan, apalagi diberi selamat." Balas Seokjin sebal, ia menyingkirkan tangan Yoongi dari tengkuknya.

"lalu, hyung inginnya bagaimana? Mencari namja yang telah meniduri hyung dan meminta pertanggung jawaban? Tapi sepertinya ia juga tak akan mau. Mengingat kau pasti melakukannya dengan pasrah dan tanpa paksaan semalam."

"tapikan aku dalam keadaan mabuk. Kalaupun aku ingin menolak, aku juga tak akan bisa memberontak."

Yoongi mengangkat kedua bahunya dan dengan santai merebahkan tubuhnya di samping Seokjin, "well, terima saja hyung. sepertinya kau juga menikmatinya semalam."

Seokjin hanya diam dan ikut merebahkan tubuhnya disana.

"lupakan saja, namja itu pasti juga melupakanmu hyung. paling-paling hanya menganggap sebagai one night stand."

Entahlah, ia tahu kalimat yang diucapkan Yoongi itu memang benar, tapi justru fakta itu membuat sudut hati Seokjin tersengat nyeri. Padahal, meski tidak mau ia ungkapkan terang-terangan, ia ingin tetap diingat oleh namja bernama Kim Namjoon semalam. Karena well, bohong jika ia bilang Namjoon tidak tampan. Apalagi dengan rambut dan gaya berpakaiannya, ia sangat sexy juga memiliki aura dominan yang sungguh kuat. Membuatnya sejujurnya tak bisa menolak pesonanya.

Seokjin melihat jam di dinding kamarnya, dan sedikit tersentak saat melihat sudah jam 6. Sebentar lagi Joungkook akan pulang, dan anak itu bilang akan membawa temannya untuk makan malam. Apalagi ada Yoongi, yang pastinya Jimin juga akan ikut kemari. Ia harus segera memasak.

"hyung mau kemana?" Tanya Yoongi saat melihat Seokjin berdiri.

"aku akan memasak makan malam. Sebentar lagi Joungkook pulang. Dan Jimin juga akan menjemputmu." Jawab Seokjin. Ia merapikan sebentar rambut dan juga baju panjang yang ia pakai.

"hyung, bisakah kau mengganti baju dan juga celana panjangmu itu? Ini musim panas, dan hyung membuatmu semakin gerah karena melihatmu begitu tertutup seperti ini." Protes Yoongi. Ia yang hanya memakai kaos pendek dengan celana pendek tak lebih dari setengah lututnya mengerang protes.

Seokjin menggeleng, "aku tak mau. Joungkook bisa melihat bekasnya diseluruh tubuhku. Apalagi kakiku, tidak! Aku tidak akan membiarkan Joungkook melihatnya." Jawaban itu membuat Yoongi memutar bola matanya malas, "hyung, Joungkook sudah dewasa. Bahkan aku yakin dia akan tahu apa yang telah terjadi padamu semalam. Dia sudah 17 tahun, yang artinya pasti ia sudah pernah melihat film porno, bahkan mungkin mempraktekannya langsung."

"ya Min Yoongi! Justru karena dia masih 17 tahun aku harus menutupinya. Dan tak mungkin ia sudah melakukannya."

"sepertinya sudah. Bukankah ia sudah memiliki kekasih?"

Seokjin mengernyitkan keningnya, "kekasih? Siapa?"

"Kim Taehyung bukan kekasihnya? teman yang sering ia bawa kemari itu?" Tanya Yoongi. Seokjin menggeleng, "Joungkook bilang ia bukan kekasihnya. tapi yeah, siapa tahu memang mereka sepasang kekasih tapi tak mau memberitahuku. Terserahlah. Tapi aku benar-benar akan marah jika ia sudah melakukan seks dengan kekasihnya itu."

Yoongi lagi-lagi mengerang, "hyung, Joungkook itu sudah dewasa. Pergaulan jaman sekarang membuat umur segitu sudah biasa melakukannya. Kau saja yang terlalu berpikiran kolot hingga baru kehilangan keperawananmu semalam."

"lalalalala~ aku tak mendengarmu, Min Yoongi. Lalalala~"

.

.

.

"semalam hyung kemana?"

Pertanyaan singkat dari Joungkook itu membuat pergerakan tangan Seokjin terhenti. Dan hal itu membuat semua yang tengah duduk dimeja yang sama melihatnya. Apalagi Yoongi, satu-satunya yang tahu mengenai kejadian itu.

Joungkook mengangkat salah satu alisnya, "hyung?"

"y – ya?" jawab Seokjin ragu. Ia tak tahu, reaksi apa yang akan ditunjukkan Joungkook jika ia berkata jujur. Lagipula disini ada Taehyung, teman Joungkook dan juga Jimin. Ia tak mungkinkan berkata, "oh, semalam hyung melakukan seks dan tidur dengan seorang namja yang baru saja hyung temui di klub."

"hyung semalam tidur dimana? Kenapa teleponku tidak diangkat."

Pertanyaan Joungkook itu membuat Seokjin membeku, ia tak tahu apa yang harus dikatakan pada dongsaengnya itu. Ia melirik Yoongi, yang dibalas dengan sebuah gerakan bibir yang terbaca jujurlah, hyung.

Dan Seokjin memilih untuk jujur. Adiknya akan tahu cepat atau lambat, meski ia tutupi sekalipun. Dan sepertinya, satu-satunya keluarga yang tinggal bersamanya harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lagipula ini bukan masalah besar, iyakan? Ia namja, tidak akan terjadi apapun.

"semalam sebuah kesalahan, Joungkook. Hyung membuat kesalahan."

Suara dentingan nyaring yang terdengar karena Joungkook melempar sendok dan sumpitnya begitu saja membuat Seokjin berjengit kaget. "ini tidak seperti apapun yang tengah aku pikirkan sekarang kan hyung?" nada datar dalam pertanyaan Joungkook membuat Seokjin bergetar. Adik lelakinya itu terkadang bisa bersikap sangat dingin dan dewasa jika ia mau.

"mian, Joungkook ah."

Dengan cepat Joungkook bangkit dari kursinya dan berjalan memutari meja ke arah Seokjin yang duduk diseberangnya. Ia, tanpa diduga oleh siapapun, menarik kerah baju Seokjin hingga memperlihatkan bahu putihnya, yang kini ternoda oleh bercak merah yang cukup banyak. Joungkook kembali mengembalikan posisi kaos Seokjin dan kini berlutut, memutar kursi Seokjin hingga berhadapan dengannya. Ia memegang kedua bahu kakaknya itu, "katakan hyung, siapa yang telah melakukannya?"

Seokjin menghela nafasnya panjang, ini salah satu hal yang tak ia inginkan jika berkata jujur. Joungkook itu sedikit posesif dan berlebihan jika menyangkut dirinya.

"ini hanya sebuah kesalahan, Joungkook. Hyung dan orang itu mabuk semalam. Lagipula ini bukan masalah besar kan? Hyung namja, tak akan terjadi apapun."

Joungkook menggeram tak terima, "tapikan itu pengalaman perta – "

"ya!" Seokjin memekik dan dengan cepat membekap mulut Joungkook dengan tangannya. Ia menoleh dan memandang Taehyung serta Jimin, yang tak tahu apapun, lalu tersenyum tipis.

"jangan katakan apapun! Kita bicarakan lagi berdua. Oke? Tidak disaat ada orang lain." Bisik Seokjin. Joungkook memutar bola matanya malas, "kita akan benar-benar membicarakannya nanti, hyung." dan kembali berdiri untuk kembali ke kursinya, melanjutkan makan malamnya yang tertunda.

"oh iya hyung. sebenarnya ada hal yang ingin aku dan Taehyung sampaikan." Ucap Joungkook begitu sudah kembali duduk.

"apa? Jangan bilang kini kalian sepasang kekasih?" ucap Yoongi cepat. Ia yang duduk disamping Seokjin kini menatap Joungkook dan Taehyung bergantian, begitu pula Seokjin. Apalagi kedua remaja itu wajahnya kini memerah mendengar pertanyaan Yoongi.

Seokjin tersenyum lembut, "jadi benar sekarang kalian berpacaran? Sejak kapan?" tanyanya kemudian.

"hyung tidak marah? Hyung menerimanya?"

"memang kenapa hyung harus marah?"

Joungkook mengusap tengkuknya gugup, "yah, aku dan Taehyung sama-sama namja. Kukira hyung akan menentangnya."

Yoongi tertawa keras, "hyungmu itu juga gay. Kenapa ia juga menolak adiknya yang gay?"

Jimin menepuk pelan lengan Yoongi, "kalimatmu hyung kalimatmu. Bibirnya dijaga dong!" tegur Jimin. Yoongi hanya mendengus dan melanjutkan makannya.

"hyung tidak akan menentangnya, selama kau bahagia, kenapa tidak? Itu pilihanmu lebih menyukai laki-laki atau perempuan. Hyung justru senang karena kau memiliki kekasih yang sudah hyung kenal dengan baik. benarkan Taehyung ah?"

Taehyung tersenyum, memperlihatkan senyum kotak khas miliknya, "ya, hyung. kita akan sering bertemu kedepannya."

"wah, apa sekarang hyung harus menambah uang sakumu agar bisa berkencan dengan Taehyung?"

Joungkook tersenyum lebar dan mengangguk, "menambah uang untuk membeli tiket bioskop sebulan sekali juga boleh hyung." yang ditanggapi sebuah tawa dari Seokjin.

"sudah berapa lama berpacaran? kalian sudah pernah berciuman? Sampai mana hubungan kalian?" pertanyaan tiba-tiba dari Yoongi itu membuat wajah Taehyung dan Joungkook kembali memerah. Dan Seokjin tertawa lagi melihat wajah Joungkook dan Taehyung yang sangat manis dengan sikap malu-malu mereka.

"sejak kapan?" tambah Seokjin.

"baru seminggu, hyung. dan siapa yang bisa menahan diri untuk tidak mencium bibir Taehyung?!"

Jawaban Joungkook itu membuat Yoongi tersenyum puas, apalagi melihat reaksi Taehyung yang hanya menunduk malu. Seokjin mengulum senyumnya, "yah, wajar saja jika kalian berciuman. Tapi jika baru seminggu kalian sudah melewati 'batas' dan melakukan semuanya itu me – "

Seokjin menghentikan kalimatnya saat melihat reaksi Taehyung dan Joungkook yang kini menunduk dengan kedua telinga yang memerah. Ia membelalakkan matanya tak percaya, "Astaga Jeon Joungkook! Kim Taehyung! Apa yang telah kalian lakukan?! Ya, Joungkook! Apa yang kau lakukan dengan Taehyung. Astaga~ kalian benar-benar, uh – "

Berbeda dengan reaksi Seokjin, Jimin hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya santai, "kalian masih kecil, baru 17 tahun kan? Melakukannya sesekali tak apa, tapi jangan terlalu sering."

"yah Park Jimin! Apa yang kau ajarkan pada adikku!" teriak Seokjin. Yoongi tertawa, "Joungkook sudah besar ya. sudah lebih dewasa dari Seokjin hyung."

"yah Min Yoongi! Apalagi maksudnya itu!"

.

.

.

TBC

Update! Yeay! Wkwkwkwk

Gomawo untuk semua review yang udah masuk. Aku nggak nyangka bakal disambut sebaik ini FF yang menurutku abal-abal. Hiks, gomawo~

Semoga chapter 2 ini lebih baik ya, hehe

Sekali lagi terima kasih untuk yang sudah membaca maupun review! Love you all! Mumumuah!