Tittle : Hold Me Tight

Author : Kim Joungwook

Pairing : NamJin

Length : 3 of

Genre : Romance

Summary : Hidup Seokjin benar-benar berubah setelah melewati malam bersama namja asing yang hanya meninggalkan nama dan bayangan samar mengenai wajahnya. Malam yang membuatnya tanpa sadar telah memikat seorang Kim Namjoon./NamJin

Warning : Shounen-ai, BoyXBoy. Typo(s). Don't Like Don't Read!

.

.

.

BTS

.

"Joungkook ah, hyung akan keluar malam ini." Ucap Seokjin sembari mendudukkan dirinya disamping Joungkook yang tengah menonton TV. "kemana?"

"salah satu teman di kantor menikah, hyung hanya datang ke resepsinya malam ini." Jelas Seokjin singkat. Ia sudah siap dengan kemeja putih dan jas pink yang terlihat sangat cocok ditubuhnya. Sejujurnya, ia tak ingin datang ke pesta malam ini. Tapi mau bagaimana lagi? Teman satu kantor, bahkan atasannya di kantor yang mengundang secara langsung, ia tak bisa menolak. Ia tak sampai hati menolak permintaan Jin Hyosang.

Joungkook mendengus keras, "Pasti pesta pernikahan namja yang hyung bicarakan minggu lalu. Siapa namanya? Hyesung? Hyaesung? Hy – "

"Hyosang, Joungkook, Jin Hyosang." Potong Seokjin cepat. Joungkook hanya mengangkat kedua bahunya malas, tak peduli. "lalu, hyung akan berangkat sendiri?" tanyanya lagi. Sejak kejadian seminggu yang lalu, dimana Seokjin menghilang semalaman dan menjadi korban dari tragedy 'one-night-stand' dari orang yang tak dikenal, Joungkook menjadi semakin protective. Bahkan ia melarang Seokjin untuk pulang ke rumah diatas jam 12.

Seokjin tersenyum, ia memeluk pundak Joungkook dan menempelkan pipinya di pundak sang dongsaeng, "aniya Joungkookie~ Jimin dan Yoongi akan menjemputku." Jawab Seokjin. "ah iya, aku lupa kalau Yoongi hyung juga ikut bekerja sama denganku menjaga Seokjin hyung." ucap Joungkook sembari terkekeh kecil.

"apanya yang kerja sama?! Ini namanya persekongkolan!" dengus Seokjin kesal. bagaimana tidak kesal, jika setiap saat Yoongi selalu mengikuti kemanapun ia pergi. Demi Tuhan! Ia lelaki dewasa yang bisa melindungi dirinya sendiri. Lupakan soal kejadian malam itu!

Joungkook tiba-tiba memeluk leher Seokjin, membuat wajah Seokjin menghadap dadanya. "hyung nggak boleh nakal ya. Jangan minum alcohol, jangan jauh-jauh dari Yoongi dan Jimin hyung, dan jangan pulang malam-malam. Arasseo hyung?" ucap sang adik sembari mengusap lembut rambut Seokjin. Namja cantik itu menghela nafas panjang, memilih patuh dan menyandarkan seluruh beban tubuhnya pada Joungkook. Adiknya itu sangat menyebalkan satu minggu ini, meski biasanya memang menyebalkan, tapi seminggu ini kadar menyebalkannya meningkat.

"jangan perlakukan aku seperti adikmu." Ucap Seokjin kesal, meski ia tidak mencoba melepas pelukan Joungkook dilehernya. Ia justru balik memeluk pinggang Joungkook dan memejamkan matanya nyaman. Sudah lama ia tidak bersikap seperti ini kepada adik lelaki satu-satunya. Semakin dewasa, Joungkook semakin terlihat manly dan sangat benci jika dimanja. Jadi, kenapa tidak ia saja yang dimanjakan oleh Joungkook?

"kapan Yoongi hyung menjemput?" Tanya Joungkook. Tangannya masih asik mengusap rambut Seokjin yang kini memilih untuk merebahkan tubuhnya dengan berbantal paha Joungkook. "sebentar lagi. Ia baru saja mengirim pesan kalau dijalan."

Joungkook tiba-tiba tersenyum lebar, "aku akan mengajak Taehyung kesini. Ya hyung?"

"tidak!" jawab Seokjin cepat. Joungkook mengerutkan keningnya, "wae?" tanyanya tak terima.

"hyung tidak akan membiarkanmu berdua saja dirumah dengan Taehyung. Tidak akan pernah! Lagipula kau saja yang kerumah Taehyung, hanya berbeda lima rumah dari sini. Disana ada ahjumma Kim kan?"

Joungkook mendengus, "apa sih hyung?! lagian aku dan Taehyung tidak akan melakukan apapun. Dan males banget pacaran ada orang lain." Ucapnya kesal. Seokjin menggeleng, ia menatap tajam ke arah Joungkook, "tidak, Joungkook. Lebih baik mencegah daripada terlanjur kan?"

"kenpa tidak boleh sih? Lagipula Taehyung juga tak akan hamil berapa kalipun kita melakukannya."

Seokjin tiba-tiba bangkit dari berbaringnya dan menangkup wajah Joungkook, "beritahu hyung, siapa yang mengajarimu soal hal seperti ini? Hyung tak pernah sekalipun mengajarimu berbuat seperti ini Joungkook. Jujur, apa jangan-jangan kau pernah meniduri orang lain selain Taehyung?"

Joungkook dengan cepat menyingkirkan tangan Seokjin dari wajahnya, "hyung, ini wajar untuk remaja sepertiku dan Taehyung, naluriah. Dan maaf ya, aku bukan hyung yang bisa sembarangan tidur dengan orang yang belum kukenal."

Wajah Seokjin langsung lesu, "terserah kau sajalah. Hyung lelah." Ucapnya murung. Dan sebelum namja cantik itu beranjak berdiri, Joungkook sudah lebih dulu memeluknya, "mianhae hyungie~ aku tidak bermaksud mengatakan seperti itu. Ya? jangan marah, eo?" ucapnya manja. Ia menggoyang tubuh Seokjin kekanan dan kekiri, membuat namja cantik itu tersenyum. Ia sangat senang melihat Joungkook yang manja dan beraegyo seperti ini.

"baiklah, baiklah. Hyung maafkan. Lain kali jangan membahas kejadian itu lagi, lupakan saja, ok?! Dan sepertinya Yoongi sudah menunggu didepan. Aku mendengar suara mobilnya." Ucap Seokjin. Ia mengacak asal rambut Joungkook dan melepas pelukannya. Ia berdiri dan mengambil mantelnya sebelum berjalan ke arah pintu.

"oh ya, hyung lupa." Tiba-tiba ia berdiri dan berbalik lagi, memandang Joungkook yang juga balik memandangnya. "jangan sekali-kali kau berbohong dan membawa Taehyung kerumah malam ini. Main saja sana ke rumah Taehyung! Arasseo?"

Joungkook mendengus kesal dan berjalan cepat ke arah Seokjin, ia mendorong tubuh kakaknya itu ke arah pintu, "iya, iya. Cepat pergi sana! Dan ingat pesanku tadi!"

"baiklah, jja Joungkook ah~ jangan lupa makan malam dulu, eo?!"

Blam

"kadang aku lupa, sebenarnya Seokjin hyung adalah kakakku."

.

.

.

Seokjin pertama kali bertemu dengan Hyosang saat menjadi pegawai baru di tempatnya kini bekerja. Hyosang yang sudah 3 tahun lebih dulu berada diperusahan itu menjadi kepala bidang Marketing, yang entah suatu keberuntungan atau apa, berada bersebelahan dengan divisi yang ia masuki, Tim Kreatif. Percakapan pertama mereka tidak ada seninya sama sekali. Mereka hanya tidak segaja bertemu saat tengah membeli kopi di café lantai bawah gedung kantor. Dan walla, mereka menjadi teman selama hampir 1 tahun.

Frekuensi pertemuan Seokjin dan Hyosang tidak sering, bahkan cukup jarang. Bisa sampai satu bulan mereka tidak bertemu sama sekali, meski bekerja di satu lantai yang sama. Tim kreatif yang kerjanya hanya didepan meja, atau justru pergi keluar, dan tim marketing yang jarang di kantor membuat mereka sulit bertemu. Bahkan sudah hampir 1 tahun berteman, Seokjin dan Hyosang masih memakai bahasa formal. Masih ada embel-embel –ssi dibelakang nama mereka.

Seokjin pertama kali sadar kalau ia memiliki perasaan lebih pada seniornya itu saat perusahaan tengah mengadakan makan malam setelah memenangkan sebuah tender besar. Itu 3 bulan setelah ia bekerja di kantor ini dan mengenal Hyosang. Mereka tengah mabuk, dan Hyosang tanpa maksud apapun memeluknya, yang efeknya membuat Seokjin tidak tidur hampir seminggu mengingat kejadian itu. Dan sejak malam Hyosang memeluknya, Seokjin sadar, bahwa ia menyukai namja yang 1 tahun lebih tua darinya itu.

.

Awalnya, Seokjin berpikir bahwa waktu hampir dua minggu yang ia lalui setelah mendapat undangan dari Hyosang menghilangkan rasa suka atau setidaknya mengurangi rasa sukanya terhadap namja bermarga Jin itu. Namun, saat melihat sosok Hyosang yang berdiri penuh senyum dengan seorang yeoja yang memeluk erat lengannya membuat semua pikiran itu musnah. Rasa nyeri yang ia rasakan mulai menggerogoti dadanya, membuat dirinya hampir-hampir tak bisa bernafas.

Hyosang bukan cinta pertamanya, itu sudah ia alami saat masih SMA. Namun Hyosang adalah orang pertama yang benar-benar ia sukai setelah ia menginjak usia dewasa. Orang yang membantunya beradaptasi dengan lingkungan kantor yang memang baru pertama ia rasakan. Awalnya ia hanya seorang guru seni di sebuah SMA Seni ternama di Seoul. Namun ia berpindah haluan menjadi pekerja kantoran saat ada urusan mendesak yang mengharuskannya mendapat uang lebih banyak. Dan menjadi pegawai kantor salah satu cara yang cukup tepat.

Sebenarnya Seokjin sudah memikirkan kemungkinan terburuk dengan menyaksikan Hyosang menikah dengan orang lain. Karena sejak awal ia mengenal Hyosang, namja itu 'normal', dalam artian menyukai yeoja seperti namja pada umumnya. Dan ia memang tidak berniat untuk menjalin hubungan lebih dengan namja itu. Tapi, astaga! Rasa sakit ini benar-benar mencekik hingga ke pangkal tenggorokannya. Membuat matanya memanas dan nafasnya tersengal.

"hyung baik-baik saja?"

Pertanyaan yang dibisikkan Yoongi itu membuat Seokjin mengerjapkan matanya cepat. Ia sedikit mendongak dan menarik nafasnya dalam-dalam, mencegah air matanya turun. Ia akhirnya menoleh dan tersenyum tipis memandang Yoongi, "aku baik-baik saja." jawabnya lirih. Seokjin mencoba mengalihkan pandangannya dari Hyosang dan istrinya ke seluruh penjuru ballroom hotel tempat diadakannya pesta.

Tamu undangan duduk melingkar dengan sebuah meja bundar ditengahnya. Ia duduk dengan Yoongi, Jimin, dan beberapa teman sekantor yang ia kenal. Ia belum bertemu Hyosang, bahkan Seokjin berpikir tidak akan menemuinya. Tapi sebelum ia berhasil menghindar, Hyosang dan istriya sudah berdiri didepan meja mereka, mengumbar senyum dan kemesraan yang membuat Seokjin semakin meringis nyeri.

"selamat atas pernikahanmu, Hyosang ssi."

Teman semeja Seokjin mulai berdiri dan memberi selamat serta bersalaman dengan Hyosang juga istrinya. Yoongi dan Jimin – sebagai bentuk formalitas dan kesopanan – ikut berdiri dan memberi selamat. Mau tak mau Seokjin juga ikut bangkit, mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh tangan hangat Hyosang. Yang sangat sial karena membuat Seokjin kembali gugup, perasaan berdebar nyaman yang sudah lama ia rasakan kembali muncul. Yang sialnya lagi Hyosang tersenyum sangat lebar didepannya.

"selamat, Hyosang ssi. Kau mendapat istri yang sangat cantik." Puji Seokjin, yang sepenuhnya keterpaksaan. Ia dengan cepat melepas tautan tangannya dengan Hyosang, takut-takut namja itu tahu bahwa tangannya gemetar. Hyosang terkekeh dan memeluk semakin erat pinggang istrinya itu, "aku memang sangat beruntung mendapatkannya, dia sempurna." Dan Seokjin bagai tercekik karena tiba-tiba kakinya lemas saat melihat Hyosang dengan santainya mencium pipi yeoja yang berstatus sebagai istrinya itu. Beruntung ia sempat beregangan pada pundak Yoongi disampingnya. Ia memaksakan sebuah senyum tipis dan kembali duduk.

Hyosang dan istrinya kembali berjalan ke meja selanjutnya, meninggalkan Seokjin yang akhirnya bisa bernafas dengan benar. Ia tak menyangka bahwa rasa sukanya pada namja itu sampai separah ini. Ia tak pernah menyadari dengan benar bagaimana sebenarnya perasaan yang ia miliki untuk Hyosang, dan melihat betapa ia sangat tersiksa melihatnya dengan orang lain, membuat ia yakin bahwa ia memang sudah benar-benar jatuh cinta pada namja itu.

"kau baik-baik saja, hyung?" Yoongi menyentuh pelan lengannya dan sekali lagi bertanya. Kali ini Seokjin menggeleng samar, "aku akan keluar sebentar. Aku butuh sedikit menyegarkan pikiranku." Ucap Seokjin.

"perlu aku temani? Atau Jimin?" Tanya Yoongi lagi. Seokjin menggeleng dan tersenyum lembut, "tidak perlu, Yoongi. Aku hanya akan berada di taman hotel, kau bisa menghubungi ponselku jika sudah akan pulang. Kau nikmati dulu pestanya. Aku akan masuk lagi jika sudah merasa lebih baik. ya?"

Kali ini Yoongi mengangguk dan membiarkan Seokjin berjalan keluar ballroom, menuju taman hotel yang berada dibagian samping tempat diadakannya pesta.

.

.

.

Seokjin menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dalam satu kali hela. Ia memandang sekeliling taman yang sepi, hanya berupa lampu-lampu yang menyala terang menghiasi sekeliling taman. Ada beberapa bangku disana, dan Seokjin memilih duduk disalah satunya. Ia menyandarkan punggungnya nyaman dan memejamkan matanya. Ia merasa lebih rileks dan tenang setelah keluar dari hiruk pikuk pesta yang seakan mencekiknya.

Selama 2 minggu setelah ia menerima undangan resmi pernikahan Hyosang, Seokjin benar-benar mencoba melupakan namja itu. Ia membuang semua hal-hal yang berkaitan dengan Hyosang, dari foto sampai hadiah-hadiah yang pernah diberikan. Walau sebenarnya hanya hadiah natal juga tahun baru. Ia benar-benar langsung membuang semuanya. Yang terakhir itu kaos yang diberi Hyosang sebagai hadiah ulang tahunnya tahun lalu, yang baru ia buang minggu kemarin, setelah ia pakai untuk pertama dan terakhir kalinya.

Mengingat kaos itu membuat Seokjin kembali pada kejadian minggu lalu. Kejadian yang sungguh tak pernah ia sangka akan ia alami. Karena well, ia pikir seorang namja tak akan menjadi korban pemerkosaan. Tapi malam itu bukan sebuah kasus pemerkosaan ya? apapunlah! Yang penting tubuhnya telah dijamah saat ia tengah kehilangan kesadaran. Oleh namja brengsek yang hanya meninggalkan sebuah nama dan ingatan samar tentang wajah dan juga tubuhnya.

Kim Namjoon.

"ternyata memang benar itu kau Princess."

Seokjin tersentak dan membuka matanya. Ia seakan mendengar suara seksi dari namja bernama Kim Namjoon itu. Dan saat ia membuka matanya dan melihat dengan jelas setelah berulang kali mengerjap, ia memang melihat namja itu berdiri didepannya. Menggunakan setelan jas formal berwarna hitam juga rambut yang kini berwarna – dark brown?

Namjoon terkekeh mendapati Seokjin yanga hanya diam dan memandangnya tak berkedip, "well, like what you see, Princess? My new hair? I just dyed it last night." Ucap Namjoon dengan aksen Inggrisnya yang sangat mempesona. Seokjin mengerjapkan matanya dan menunjuk Namjoon dengan telunjuk kanannya.

"kau! Apa yang kau lakukan disini?!" Seokjin hampir berteriak jika saja tak ingat kini berada ditempat umum. Ia hanya memekik dan memandang tak suka kea rah Namjoon.

Namjoon mengambil satu langkah mendekat dan memandang ke arah ballroom yang terlihat ramai, lalu kembali menatap Seokjin, "jadi, Jin Hyosang yang kau ceritakan telah mematahkan hatimu itu Hyosang yang ini? Well, aku tak menyangka hidup kita sebenarnya saling berhubungan satu sama lain. Kebetulan, karena aku juga cukup tahu mengenai Hyosang yang kau kenal itu. Dan lebih kebetulan lagi bertemu denganmu disini, Princess."

Seokjin hanya diam dan memandang Namjoon, ia terlalu lelah hanya untuk menanggapi ucapannya. Ia butuh sendiri, sangat butuh ketenangan. Kenapa Namjoon tak bisa membacanya sih?!

Satu langkah mendekat, dan ujung sepatu keduanya saling beradu. Namjoon tanpa mengatakan apapun, tiba-tiba berjongkok didepan Seokjin, ia meremas lembut kedua lutut Seokjin yang terlipat rapat.

"kau ingin pergi dari sini?"

Seokjin terkesiap. Ia tak menyiapkan diri untuk mendengar suara berat Namjoon yang bertanya lembut seperti ini. Dan pertanyaan penuh perhatian itu membuat matanya semakin memanas, benar-benar ingin menangis.

Namjoon tidak bodoh, ia tahu Seokjin sudah menahan tangisnya sejak tadi. Terlihat dari matanya yang sembab dan memerah serta hidungnya yang mengerut dengan ujung juga memerah. Apalagi suaranya terdengar bergetar dan sedikit sumbang. Lagipula, siapa yang akan baik-baik saja mendatangi pesta pernikahan orang yang ia sukai?

"Princess, kau ingin menangis disini atau pergi denganku ke tempat lain?"

Nafas Seokjin tersendat, menahan dengan sekuat tenaga tangisnya agar tidak keluar, suara lembut Namjoon benar-benar membuatnya semakin lemah, "aku – pulang."

Namjoon mengangkat salah satu alisnya, kalimat Seokjin terdengar seperti gumaman, dan beruntung ia bisa mengerti dengan cepat maksudnya. Namjoon segera berdiri dan melingkarkan tangannya di bahu Seokjin, membawanya untuk ikut berdiri. Ia hanya diam dan pasrah saja dituntun Namjoon untuk berjalan menjauhi ballroom hotel.

Katakan Seokjin bodoh, tolol, murahan, polos, atau apapapunlah karena dengan mudahnya mengikuti namja yang minggu lalu berhasil menidurinya. Tapi kali ini ia hanya butuh pergi dari sini, dan Namjoon datang diwaktu yang sangat tepat. Ia tak enak meminta Yoongi dan Jimin untuk mengantarnya pulang, mereka baru setengah jam duduk didalam.

.

"kau ingin kemana?" Tanya Namjoon begitu mereka sudah duduk didalam mobil namja itu. Seokjin menarik nafasnya dalam-dalam, memejamkan matanya sejenak sebelum kembali menatap Namjoon. Pikirannya lebih tenang sekarang, dan ia juga mulai aware dengan keadaannya yang hanya berdua dengan Namjoon. Tapi kali ini ia dalam keadaan sadar, dan ia juga tidak akan semudah itu kembali membiarkan tubuhnya berada dibawah kendali Namjoon. Jadi, tak apakan malam ini ia membiarkan dirinya bersama namja yang telah dengan baik hati membuatnya keluar dari pesta Hyosang yang sangat menyiksanya?

"aku ingin ice cream." Seokjin menjawab pelan, jawaban yang entah kenapa terkesan sangat polos ditelinga Namjoon. "berapa umurmu?" tiba-tiba Namjoon bertanya sembari menjalankan mobilnya. Seokjin mengerutkan keningnya, "kenapa bertanya?"

Namjoon mengangkat kedua bahunya, "hanya ingin tahu. Kau terlihat sangat polos dan manis, Princess." Jawabnya sembari memberikan sebuah kerlingan pada Seokjin. Namja cantik itu mengernyitkan keningnya tak suka dan memukul pelan lengan Namjoon, "dasar genit! Aku 26 tahun ini. Bagaimana denganmu?"

"26? Well, wajahmu benar-benar menipu." Balas Namjoon. Seokjin terkekeh pelan, "menurutmu wajahku terlihat lebih muda dari umurku?" Tanya Seokjin. Namjoon mengangguk cepat, "ya. kukira kau baru 20 atau paling-paling 23. Tapi ternyata perkiraanku meleset."

Seokjin kali ini tersenyum, "gomawo, kuanggap itu sebagai pujian." Dan Namjoon menoleh sekilas untuk memberikan sebuah kecupan singkat di bibir Seokjin yang memang tengah menoleh kearahnya.

"sama-sama, Princess."

"yak! Jangan menciumku sembarangan! Kita sedang di jalan, fokuslah menyetir!" Seokjin berteriak heboh, memalingkan wajahnya dan menjauh dari Namjoon. Sedangkan Namjoon terkekeh gemas dan mengacak kasar rambut Seokjin, "kau memang sangat manis, Princess."

"shut up!"

.

.

.

Seokjin tertawa renyah mendengar jokes yang diceritakan oleh Namjoon. Ternyata namja tampan itu cukup menyenangkan, bahkan sangat menyenangkan sebagai teman cerita. Setelah tadi 30 menit awal dihabiskan dengan mendengar kalimat penuh kesedihan dan tangisan Seokjin, kini namja tampan itu mulai memberikan kalimat yang cukup menenangkan dan juga candaan ringannya, meski tetap diselingi dengan kalimat penuh godaan. Bahkan Seokjin sudah mendapat 5 kecupan di kedua pipinya. Entah kenapa Namjoon bergerak sangat cepat, dan tanpa ia duga tiba-tiba bibir tebal itu sudah menempel di pipinya begitu saja.

"sudah merasa lebih baik, Princess?" Tanya Namjoon. Ia menyangga kepalanya dengan salah satu lengan yang menumpu diatas meja, memandang lembut ke arah Seokjin didepannya.

Seokjin mengangguk, memandang dua mangkuk bekas ice cream yang sudah ia habiskan, juga gelas kopi Namjoon yang juga sudah kosong. "gomawo Namjoon." Balas Seokjin dengan senyumnya. Namjoon balas tersenyum dan membawa telapak tangan Seokjin dalam genggamannya, mengangkatnya dan memberikan sebuah ciuman singkat dipunggung tangan putih itu.

"My pleasure, Princess."

Dan Seokjin tak bisa mencegah rona merah menghampiri wajahnya. Sikap Namjoon malam ini benar-benar manis. "apa kau selalu merayu setiap orang yang kau temui?" Tanya Seokjin setelah Namjoon melepas tangannya.

"tidak. Bahkan baru kali ini aku merayu seseorang di café. Biasanya tanpa aku merayupun mereka sudah bertekuk lutut didepanku." Jawaban penuh percaya diri itu membuat Seokjin mendengus geli. "kau sangat berlebihan." Balasnya. Namjoon hanya terkekeh dan mengangkat kedua bahunya acuh.

"kau mau pulang atau tetap disini? Atau ke tempatku?"

Seokjin langsung menggeleng cepat begitu mendengar tawaran terakhir Namjoon, "aku mau pulang. Sudah jam 10." Balasnya cepat. Namjoon tertawa senang mendapat respon yang menurutnya sangat menggemaskan. Mata Seokjin tiba-tiba tidak fokus dan wajahnya memerah dengan cepat. Ia tahu, Seokjin pasti teringat kejadian minggu lalu, yang well, belum bisa ia lupakan juga.

"baiklah, Princess. Aku akan mengantarmu pulang. Ayo!"

.

.

.

"berhenti disini, Namjoon. Rumahku tepat di samping kanan mobilmu." Ucap Seokjin. Namjoon menghentikan mobilnya dan menoleh ke kanan, melihat sebuah rumah sederhana dengan pagar putih sepinggang. Well, cukup berbeda jauh dengan rumahnya yang sangat mewah.

"jadi, kau tinggal sendiri?" Tanya Namjoon. Seokjin menoleh setelah berhasil melepas sabuk pengaman di tubuhnya, "tidak, aku tinggal bersama adikku." Jawabnya singkat. Ia harus segera pulang, ini sudah lewat jam 10, yang walaupun belum terlalau larut, pasti membuat Joungkook cukup khawatir. Apalagi tadi ia juga sudah bilang bahwa akan pulang tidak dengan Yoongi. Dan yang paling berbahaya, ada Namjoon disampingnya. Kesan buruk yang diberikan namja itu pada awal pertemuan mereka, yang langsung menidurinya, membuat perasaan awas dalam diri Seokjin ber alarm kuat.

Namjoon mengangguk samar, "baiklah, Princess. Sampai bertemu lain waktu."

Seokjin mengangguk dan tersenyum lembut, "gomawo Namjoon ah. Sekali lagi, aku benar-benar berterima kasih padamu. Aku merasa jauh lebih baik malam ini." Namjoon balas tersenyum dan mencondongkan tubuhnya, mencium pipi Seokjin gemas, bahkan sempat menggigit pelan daging bulat diwajah Seokjin itu.

"anything for you, Princess."

Seokjin hanya mengangguk dan membuka pintu mobil Namjoon dengan menunduk, ia sangat malu karena sejak tadi pipinya sudah dicium oleh Namjoon. Berkali-kali hingga ia sudah lelah menolak dan membentak namja itu.

"jangan lupa mengirimiku sms selamat malam, ok Princess?"

Seokjin menoleh kembali ke arah mobil Namjoon dan menggeleng pelan, "kenpa tidak kau saja?"

"waw! So, you want me to send you a good night message? I'll do that, Princess, don't worry!" ucap Namjoon dengan senyum lebarnya. Seokjin menggeleng pasrah, "terserah kau saja, Namjoon. Aku masuk dulu."

Dan Namjoon masih berdiam disana hingga Seokjin benar-benar masuk dan menutup pintu rumahnya.

"well, you really fall for that Princess huh Kim Namjoon?"

.

.

.

TBC

Well, akhirnya update lagi. Hehehe, mumpung banyak waktu mending dicepetin updatenya, ntar kalo lagi sibuk jangan tanya ilang kemana. Hahahha, canda ding~ aku usahain update terus kok.

Btw, ada yang tanya di review kenapa disini aku tulis nama si maknae 'Joungkook'. Karena well, nama hangul dia itukan 정국, yang sebenernya kalo di tulis sesuai pengucapannya itu Jeongkuk. Tapi, karena aku nggak suka nulis Jeongkuk jadinya aku tulis aja Joungkook. Kkk, semoga ngak bikin bingung ya, dan alasanku bisa diterima.

Gomawo ne untuk yang udah baca maupun review. Kkk~ sekali-kali pingin coba nulis nama kalian yang review kayak author lain, wkwkwkwkw

Special Thanks to:

Moodymonniej | Aiko Vallery | 07 | cluekey6800 | itsathenazi | princess jinnie | Bbangssang | BlackCrush | Jikyungieee Wu | mongtaevee