Tittle : Hold Me Tight

Author : Kim Joungwook

Pairing : NamJin

Length : 5 of

Genre : Romance

Summary :

Warning : Shounen-ai, BoyXBoy. Typo(s). Don't Like Don't Read!

.

.

.

BTS

.

Seokjin duduk bersila diatas sofa, matanya tak berpaling dari sosok Namjoon yang kini memakai kaos milik Joungkook. Ia tak sudi meminjamkan kaosnya untuk bocah kurang ajar yang berani menggoda, bahkan menidurinya itu. Ia tak menyangka, bahwa ternyata Kim Namjoon, namja tampan yang sangat sexy itu masih anak SMA. Tuhan! Dia masih 19 tahun!

"jadi, berniat menjelaskannya, Kim Namjoon?"

"princess a – "

"Hyung! aku 7 tahun lebih tua darimu, Demi Tuhan!"

Namjoon meringis, merasa semakin nyeri dibagian pinggangnya yang memar mendengar bentakan Seokjin. Namja cantik itu ternyata cukup menakutkan saat tengah kesal.

Joungkook yang juga sudah mengganti bajunya itu duduk diam sembari menatap bingung ke arah Namjoon dan Seokjin yang saling bersitegang, tepatnya kakaknya tercinta yang menatap penuh amarah pada Namjoon.

"ehm, hyung, jika aku boleh tahu, ada apa ini sebenarnya?"

Namja Jeon itu sungguh tak tahu apa-apa sekarang. Karena yang ia dapat setelah membuka pintu rumahnya adalah posisi Seokjin dan Namjoon yang sangat menjanjikan. Apalagi setelah mendengar penjelasan Namjoon, kakak cantiknya itu langsung mengamuk dan memukuli Namjoon, membuat sunbaenya itu mengaduh kesakitan.

Dan Namjoon segera menarik tangan Joungkook hingga masuk ke dalam salah satu dari dua kamar yang ada di rumah itu – Namjoon tahu kamar Joungkook yang berada disebelah kanan dapur karena ia yakin, kamar adik kelasnya itu tak akan memiliki hiasan berwarna pink dipintunya.

"Tanya pada sunbae mu itu." Seokjin jelas-jelas memberikan penekanan pada kata sunbae dalam kalimatnya. Dan Joungkook menyadarinya dengan sangat jelas.

"sunbae a – "

"aish! Bisakah kau memnggilku tanpa sunbae? Kata itu begitu menjengkelkan!"

"yah! Jangan membentak adikku!" Seokjin balas berteriak pada Namjoon yang baru saja membentak Joungkook. Sedangkan orang yang tengah dibicarakan hanya mengerjapkan matanya bingung. Ia semakin tak mengerti.

Joungkook menelan ludahnya gugup, kakak kelas yang terkenal ditakuti seluruh sekolah itu ia tahu benar bisa sangat menakutkan jika tengah mengamuk. Dan Seokjin yang kesal juga bukan hal yang baik, ia sudah belajar dari pengalamannya. Jadi, saat ia tengah berada diantara Namjoon yang jengkel dan Seokjin yang marah, apa yang harus ia lakukan?

"eum, hyung?"

Telunjuk Seokjin tiba-tiba terangkat tepat didepan wajah Namjoon dan ia menoleh ke arah Joungkook, "dia yang sudah meniduriku malam itu."

Butuh beberapa detik bagi Joungkook untuk memahami kalimat Seokjin sebelum menangkap maksudnya. Ia membuka mulutnya terkejut, "ja – jadi, malam saat hyung tak pulang kerumah itu kau bersama Namjoon sun – ehm, Namjoon hyung?"

Seokjin mendengus keras dan kembali melipat kedua tangannya di dada. Ia menatap tajam ke arah Namjoon. kini ia merasa lebih terhina karena baru saja mendapatkan fakta bahwa orang yang telah mengambil first time nya itu bocah SMA yang masih berusia 19 tahun.

"aku lelah." Dan setelah itu Seokjin langsung berdiri dan masuk kedalam kamar – yang sudah Namjoon yakini sebagai milik namja catik itu karena hiasan pink dipintunya. Meninggalkan ruang tamu yang hening dengan hanya Joungkook dan Namjoon.

"eum, jadi hyung, apa yang dikatakan Seokjin hyung itu benar?"

Namjoon menyandarkan tubuhnya lelah, luka ditubuhnya semakin nyeri setelah dipukul dengan membati buta oleh Seokjin tadi.

"ya. kau sudah mendengar penjelasannya dengan benar tadi."

"kau tahu hyung, Seokjin hyung adalah satu-satunya keluargaku yang paling kujaga. Jadi, aku tak akan diam saja saat mendapati hyungku kehilangan keperawanannya begitu saja. aku tak takut pada hyung yang menjadi ketua geng, bahkan aku tak akan segan untuk memukulmu sekarang."

Namjoon menghela nafasnya panjang lalu berdecih, "dasar bocah. Terserah kau sajalah!" ia mendengus keras sebelum merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang sedari tadi ia duduki.

Joungkook bangkit berdiri dan melempar bantal yang ia bawa ke arah Namjoon, "pulang!"

"tidak. Kau bilang ingin memukulku. Tunggu besok, dan kau bisa langsung memukulku saat aku terbangun besok."

"aku justru tak ingin melihat wajahmu besok pagi, hyung."

Namjoon mendengus dan membalik tubuhnya, membelakangi Joungkook, "terserah. Yang penting aku mau tidur sekarang."

"aku ingin menyeretmu dan menguncimu diluar. Tapi melihat keadaan tubuhmu yang sangat mengenasakan sepertinya aku bisa mneunda misi balas dendamku besok. Kuharap kau tak akan kabur, hyung." ancam Joungkook sebelum meninggalkan Namjoon untuk masuk kedalam kamarnya.

Namjoon terkekeh samar, "aku memang tak berniat untuk kabur dari sisi kakakmu, Joungkook." Gumaman yang tak sampai ke telinga Joungkook yang sudah mengunci pintu kamarnya.

.

.

.

Namjoon terbangun karena mencium bau harum masakan dan juga jendela yang terbuka lebar membuat sinar matahari menyinarinya langsung. Ia mengerang keras dan menggulung tubuhnya untuk kembali terlelap. Selimutnya ia naikkan hingga menutupi seluruh tubuhnya, menghalangi cahaya matahari untuk mengenai wajahnya.

Buk!

"Aw!" Namjoon berteriak saat punggungnya dipukul dengan bantal sofa dengan cukup keras. Nyeri akibat serangan kemarin belum sembuh, ditambah pukulan Seokjin dan sekarang apalagi ini?!

Namjoon dengan cepat bangun dan bersiap memarahi siapapun yang menganggu tidurnya sebelum akhirnya hanya diam karena melihat Seokjin yang berdiri dengan apron berwarna pink didepannya.

"Mandi lalu sarapan." Seokjin hanya berucap datar lalu kembali berjalan meninggalkan Namjoon ke arah dapur. Namjoon hanya mendengus dan akan kembali berbaring namun terhenti saat Seokjin berbalik dan menatapnya tajam.

"Jangan. Tidur. Lagi!"

Dan Namjoon memilih menurut lalu beranjak ke kamar mandi. Ia bisa melihat jasnya masih bisa dipakai, setidaknya tidak ada noda darah maupun robek. Mungkin ia bisa meminjam kemeja Joungkook. Ah, bocah menyebalkan itu.

Namjoon tanpa mengetuk langsung membuka pintu kamar Joungkook, memperlihatkan tubuh topless Joungkook yang baru saja akan memakai seragamnya.

"bisakah hyung mengetuk pintu?" Tanya Joungkook kesal. ia dengan segera mengancingkan seragamnya dan tak mempedulikan Namjoon yang berjalan masuk seenaknya.

"aku pinjam kemeja putihmu."

"untuk apa?"

Namjoon mendengus, "Sekolah."

"Memang dimana seragam hyung semalam?"

"aku tak mau memakai seragam dengan bekas darah disana. mungkin sedang dicuci kakakmu, atau mungkin sudah dibuang. Terserahlah. Sekarang pinjamkan saja aku kemeja putihmu, cepat!"

Joungkook berdecak keras namun tetap melemparkan sebuah kemeja untuk Namjoon.

"aku akan menggantinya dengan yang baru." Lalu namja Kim itu berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan gumaman kesal Joungkook, atau mungkin juga umpatan untuknya.

"Pagi yang buruk. Aku akan berangkat bersama Taetae saja."

.

Namjoon sudah siap dengan kemeja Joungkook dan celana miliknya kemarin. Ia mendapati meja makan yang penuh dengan sarapan, ada nasi goreng kimchi juga side dishes lainnya. Ia juga bisa menemukan tiga gelas susu disana yang membuat ia mengernyit, yang benar saja! susu putih?!

"Duduk dan makan saja sarapanmu." Seokjin tiba-tiba sudah muncul dengan pakaian rapinya, sebuah kemeja baby blue juga celana kain. Tangannya membawa mantel berwarna putih juga tas kerjanya. Dan Namjoon tak bisa menahan diri untuk menghampiri Seokjin dan mencuri sebuah kecupan di bibir Seokjin yang sangat menggoda pagi ini, karena berwarna merah dan terlihat segar.

"morning kiss, princess."

Namjoon berhasil menghindar dari pukulan tas Seokjin tepat waktu.

"dasar bocah kurang ajar! Sudah kubilang panggil aku hyung!" pekik Seokjin kesal. Namjoon terkekeh dan mendudukkan dirinya didepan Seokjin. Dan Joungkook muncul lalu mendudukkan dirinya disamping Namjoon, terpaksa karena Seokjin yang meletakkan makannya disana. ketiganya lalu memulai sarapan dalam hening.

"kalian berangkatlah bersama pagi ini."

"Tidak! Aku menolak!" jawab Joungkook cepat.

"aku juga menolak!" tambah Namjoon. Ia dengan santai melanjutkan sarapan yang dibuat Seokjin, "masakanmu sangat enak, princess. Kau harus membuatkanku makan setiap hari." Komentarnya kemudian, tak mempedulikan raut kesal Joungkook disampingnya.

Seokjin menghela nafasnya panjang. Ia harus lebih sabar menghadapi Namjoon. Ia hanya bocah nakal berumur 19 tahun, tidak perlu diambil emosi semua kelakukannya, ia hanya bocah, batin Seokjin mengingatkan.

"kurasa kalian bukan sunbae-hoobae yang akur. Baiklah, terserah kalian saja. aku sudah terlambat, jadi harus segera berangkat." Ucap Seokjin. Ia memakai mantelnya tergesa setelah melihat jam yang menunjukkan pukul 8.30, setengah jam lagi jam masuknya.

Joungkook tibia-tiba ikut berdiri dan membereskan makannya, "aku harus menjemput Taetae untuk berangkat bersama." Ucapnya sembari berjalan bersama Seokjin ke pintu keluar.

Namjoon mengangguk santai dan tetap melanjutkan sarapannya. Ia bahkan sempat menggumamkan beberapa lirik.

"kau tak berangkat?" Tanya Seokjin saat Joungkook sudah lebih dulu keluar setelah mencium pipinya, sebagai bentuk pamer pada Namjoon, yang hanya dibalas dengan delikan tajam dari namja Kim itu.

"memang kenapa?"

Seokjin menghela nafasnya, "aku harus mengunci pintu rumah, Namjoon."

"Tak apa, biar aku saja yang menguncinya. Kupastikan aku sudah pulang sebelum Joungkook dan kau pulang, princess. Sehingga aku bisa membukakan pintu untukmu."

"Tidak! Aku tidak mau kau kembali lagi ke rumah ini! Jangan pernah menemuiku lagi, sudah sana berangkat!" Seokjin akhirnya menarik tangan Namjoon dan menyeretnya keluar. Namjoon hanya pasrah saja, lagipula ia juga sudah menyelesaikan sarapannya.

Dan well, ia akan kembali lagi nanti sore. Tak ada salahnya juga menginap di rumah princess-nya, siapa tahu jika tadi malam ia tidur di sofa, malam ini ia bisa tidur di ranjang Seokjin.

Tidak ada yang tahu kan?!

.

.

.

Namjoon sebenarnya hanya seorang remaja berusia 17 tahun saat pertama kali masuk ke SMA yang sekarang menjadi tempatnya menimba ilmu. Ia juga tak pernah mencari masalah jika bukan orang lain yang duluan memancingnya. Ia hanya ingin menikmati hidup sesuka hatinya, ia tak suka dikekang dan diatur, jadi semua terserah keinginannya.

Namun semuanya berubah saat ia sedang duduk disemester akhir kelas 1.

Ia sama sekali tak berniat membuat kekacauan, namun segerombolan kakak kelas, mungkin geng, tiba-tiba menghadangnya dan mencoba untuk merampas apapun yang tengah ia miliki di gang kecil di belakang sekolah saat ia pulang malam. Namjoon paling tak suka dianggap remeh dan menjadi yang tertindas, jadi ia melawan. Mungkin ia beruntung malam itu, karena hanya ada tiga orang yang menjadi lawannya, dan ia bisa mneghadapinya seorang diri.

Dan berita kejadian malam itu mulai menyebar ke seluruh sekolah, membuat banyak orang yang mulai membicarakannya. Dan entah siapa yang menyebar gossip yang tidak benar, Namjoon tiba-tiba menjadi kingka yang ditakuti.

Sebenarnya Namjoon tak pernah berniat membuat geng atau apalah untuk bertarung satu sama lain. Namun Hoseok, sahabatnya yang justru tanpa persetujuannya membuat geng dan mengangkatnya sebagai ketua. Geng yang kini menjadi geng SMA yang sangat disegani dan cukup ditakuti di Seoul, Cypher.

.

"Yo, Namjoon!" Hoseok tiba-tiba merangkul bahunya dari belakang dan menyamakan langkah dengannya. Namjoon hanya bergumam pelan dan membalas high five dari namja itu.

"Kau terlihat bahagia, man." Ucap Hoseok sembari mendudukkan dirinya disamping Namjoon. Sejak Namjoon menjadi ketua Cypher, hanya Hoseok yang berani untuk duduk disamping namja Kim itu. Padahal, Namjoon tak pernah menyakiti mereka jika bukan mereka duluan yang memulainya. Dan Namjoon juga bukan orang brengsek yang memukul orang hanya karena menyentuhnya, ia tidak serendah itu.

Namjoon meringis pelan saat Hoseok tak sengaja menyentuh pinggangnya, nyeri akibat semalam masih cukup terasa. Dan Hoseok menyadari raut kesakitan di wajah Namjoon, membuatnya melihat dengan lebih teliti wajah juga tubuh sahabatanya itu. Bahkan tanpa segan ia menyingkap seragam Namjoon yang berantakan.

"Waw! Apa yang terjadi pada tubuhmu dalam waktu semalam? Kau tak coba menjadi pahlawan lagi kan?" Tanya Hoseok dengan tatapan menyelidik. Karena Hoseok paling tak suka kalau Namjoon sudah seperti pahlawan kesiangan yang membantu seorang wanita atau siapapun yang tengah terdesak oleh segerombolan orang jahat.

Sebenarnya, itu juga alasan utama kenapa Hoseok membentuk Cypher dan membuat Namjoon sebagai ketuanya. Selain namja Kim sahabatnya itu memang sangat kuat – kekuatan penghancurnya sangat luar biasa, ia juga ingin membuat Namjoon memiliki teman – eum, setidaknya anak buah yang akan dengan senang hati membantunya jika ia mendapat masalah. Karena Namjoon tanpa disadari oleh dirinya sendiri, selalu mendapat masalah meski bukan ia yang memulainya. Sikap tak peduli miliknya benar-benar membuat banyak orang salah paham.

"aku tak tahu. Semalam ada 5 orang yang menghadangku." Jawab Namjoon singkat. Hoseok hanya mengangguk, ia tak akan mengharapkan seorang Kim Namjoon menceritakan dengan lengkap dan berbicara panjang lebar, That's not his style.

Hoseok membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku yang penuh coretan didepannya. Ia menyikut pelan lengan Namjoon, dibalas dengan erangan sakit, "That hurts, asshole!"

Jangan lupakan mulut tanpa saringan Namjoon

Ia hanya memutar bola matanya malas, "Aku lihat jawaban PR Matematika kemarin." Ucapnya dengan tangan yang sibuk mengobrak-abrik tasnya, mencari keberadaan sebuah benda – apapun – untuk membantunya menulis.

Namjoon tanpa mengatakan apapun mengeluarkan sebuah buku dari laci meja, ditambah sebuah bolpoin.

Senyum Hoseok terkembang sempurna, "Kau yang terbaik, bae."

Namjoon mendengus keras, "Jangan panggil aku 'bae', That's gross."

.

.

.

Namjoon berdiri sembari bersandar pada dinding pembatas di atap sekolah. Disampingnya ada Hoseok yang duduk sembari menyesap rokoknya santai, menghembuskannya ke atas lalu memandang Namjoon bingung.

"sejak pagi kau terlihat sedikit, well, in high mood. Apa kau baru saja memiliki ibu baru?" Tanya Hoseok asal. Namjoon meliriknya sekilas lalu menendang dengan tidak-bisa-dikatakan-pelan punggungnya, membuat ia mengerang keras, "itu sakit, Namjoon!"

"mood ku tidak ada sangkut pautnya dengan Tuan Kim yang terhormat." Jawabnya malas. Hoseok tertawa dan berdiri lalu menginjak rokoknya yang sudah habis. Ia mengeluarkan bungkus rokok dari dalam saku kemejanya dan menawarkannya pada Namjoon.

"aku sedang tidak butuh nikotin." Namjoon memang merokok, tapi ia bukan perokok aktif yang bisa menghabiskan belasan batang tiap hari. Hanya pada saat-saat tertentu ia butuh menghirup asap benda penuh racun itu. Sebenarnya Hoseok juga, hanya saja mungkin ia berada pada satu tingkat lebih sering daripada Namjoon.

Hoseok kembali menyimpan rokoknya lalu ikut bersandar disamping Namjoon.

Drrrtttt

Ponsel di saku celana Namjoon tiba-tiba berbunyi, "sialan! Benar-benar menganggu!" gumamnya kesal. Sedangkan Hoseok hanya terkekeh kecil, ia senang melihat ekspresi kesal di wajah Namjoon, menurutnya itu lucu.

Namjoon melirik Hoseok kesal sebelum mengangkat panggilan dari nomer yang tak dikenal. Well, hanya ada dua nomor di ponsel Namjoon. Milik Hoseok –yang dimasukkan paksa oleh namja Jung itu– juga milik Seokjin yang baru saja ia simpan.

Tak ada suara dari bibir Namjoon begitu panggilan tadi ia angkat. Justru Hoseok bia melihat sebuah seringai yang sering ditunjukkan Namjoon saat ia berhasil menaklukan lawannya.

"Temui aku setengah jam lagi didepan sekolah."

Lalu Namjoon kembali menyimpan ponselnya di saku celana.

"Siapa?" Hoseok tak bisa menahan diri untuk bertanya.

"Ahjussi Park."

"Kenapa menelpon?"

Namjoon berdecak sebal dan hanya melirik Hoseok sekilas, tak menanggapi ucapannya. Ia berjalan begitu saja ke arah pintu.

"Hey, kau mau kemana?"

"pulang." Jawab Namjoon tanpa menoleh. Hoseok mengernyitkan keningnya bingung, "Sejak kapan kau semangat pulang? Bahkan bel baru saja berbunyi 5 detik yang lalu."

"Aku tidak pulang ke rumah Tuan Kim yang Terhormat. Aku memiliki tempat lain untuk bermalam."

"hoo~ kau memiliki kekasih?" Hoseok bersiul menggoda.

Namjoon berbalik, "Kau kenal Jeon Joungkook?"

Perlu beberapa detik bagi Hoseok sebelum mengangguk, "Dia anak kelas 1 yang besok perlu kau uji coba."

"Cukup sampai situ yang perlu kau tahu." Namjoon langsung kembali berbalik dan melangkah meninggalkan Hoseok.

"Ya! Tunggu Namjoon ah! Jangan bilang kau berpacaran dengan Joungkook? Dia sudah memiliki kekasih yang manis!"

.

.

.

Namjoon berdiri sembari memandang malas ke arah murid-murid yang mulai berjalan keluar gerbang sekolah. Ia bersandar pada salah satu sisi di gerbang depan, menunggu Jeon Joungkook untuk menunjukkan dirinya. Ia butuh namja Jeon itu untuk membuka pintu rumah Seokjin. Jangan berpikiran yang aneh aneh.

Tak ada hal apapun yang dilakukan Namjoon selama menunggu Joungkook muncul. Ia hanya berdiri dan diam, ya diam. Namun para siswa yang melihat sosok Namjoon di gerbang lebih memilih menghindar dan berjalan jauh-jauh dari tempatnya menunggu. Hal itu disadari Namjoon dan membuatnya mendengus.

"berlebihan." Gumamnya malas. Ia memperbaiki kemejanya yang tidak masuk sempurna ke dalam celana panjangnya. Juga jas sekolahnya yang ia sampirkan begitu saja pada bahu kanannya. Ia tak membawa tas, untuk apa?

"Tuan Muda."

Sebuah suara berat tiba-tiba memanggil Namjoon, membuatnya sedikit berjengit kaget. Ia memandang tajam seorang namja paruh baya yang menunduk disampingnya.

"Ck, jangan mengagetkanku."

"Maafkan saya, tuan muda." Jawab namja itu dan menunduk lebih dalam. Namjoon melirik ke arah sekitar dan mulai menyadari bahwa siswa lainnya mulai berbisik memperhatikannya.

"Berdirilah dengan benar, ahjussi. Dan berhenti memanggilku tuan muda." Bisik Namjoon. Namja paruh baya yang dipanggi ahjussi oleh Namjoon itu akhirnya menegakkan tubuhnya dan tersenyum melihat Namjoon.

"Saya membawakan berkas yang tuan minta." Ahjussi park mengeluarkan sebuah map coklat dari dalam tas yang ia bawa. Namjoon tersenyum tipis dan segera mengambilnya. Ia dengan sedikit tergesa membuka map tersebut dan membaca sekilas lembaran-lembaran kertas yang ada didalamnya.

"Aku terima ini. Ahjussi bisa kembali."

Ahjussi park mengernyitkan keningnya, "Tuan muda tidak pulang lagi malam ini?"

Namjoon berdecak kesal, "Jangan memanggilku tuan muda, ahjussi! Dan ya, mungkin aku tak akan pulang seminggu, atau bahkan lebih lama. Jadi tidak perlu mencariku."

Ahjussi park mengangguk, "baiklah tuan, ehm, maksud saya Namjoon. Saya pamit."

Namjoon hanya mengangguk dan membiarkan sekretaris Park, atau yang biasa ia panggil ahjussi itu pergi. Ia kembali menyandarkan tubuhnya pada dinding disisi gerbang sekolah dan membaca lembaran kertas yang tadi diberi oleh Ahjussi Park. Sebenarnya, ia yang meminta lebaran kertas itu, atau informasi yang tertulis dalam lembaran itu.

Namjoon sudah akan membaca lembar kedua dari kertas ditangannya saat sudut matanya melihat Joungkook yang tengah berjalan keluar sekolah dengan kekasih manisnya yang kalau Namjoon tak salah ingat bernama Kim Taehyung.

Awalnya, ia ingin meminta kunci rumah Seokjin pada Joungkook, atau lebih ramah lagi pulang bersama namja Jeon itu. Namun, setelah membaca lembaran kertas yang sebenarnya berisi mengenai seorang Kim Seokjin dari A sampai Z membuat niat Namjoon itu harus dibatalkan. Ia memiliki rencana lain yang mungkin lebih baik untuk bisa kembali lagi menginap di rumah sederhana milik Seokjin.

Namjoon menyeringai senang, meski bagi yang melihat itu justru terlihat cukup menakutkan.

"Oi, Jeon Joungkook!" Joungkook dan Taehyung menoleh, begitu juga beberapa siswa lain yang mendengar panggilan cukup keras Namjoon.

Seringai Namjoon semakin lebar, "Sampai berjumpa nanti malam di rumah, Dongsaeng."

.

.

.

"Sialan! Brengsek! Apa maksudnya dia memanggilku begitu?!"

Serangkaian umpatan terus keluar dari bibir Joungkook. Bahkan Taehyung yang berjalan di sampingnya juga hanya menghembuskan nafasnya pasrah, sudah lelah menegur kekasihnya itu. Ia lebih memilih berjalan selangkah dibelakang Joungkook, terlinganya panas juga mendengar umpatan berbagai bahasa dari bibir Joungkook.

"seringainya itu benar-benar menyebalkan! Argh! Aku tak bisa menunggu besok untuk menghajarnya." Dan umpatan Joungkook untuk Namjoon tetap berlanjut.

"Sudahlah, Kook. Memang ada apa sih sampai dia bisa memanggilmu seperti itu, hm?" Tanya Taehyung akhirnya. Ia kembali menyamakan langkahnya dengan Joungkook.

Kekasih Jeon nya itu menghela nafas panjang dan kembali menggenggam tangannya, yang membuat Taehyung merona. "Sudah kubilang jangan menggenggam tanganku ditempat umum." Ucap Taehyung kesal meski tak mencoba untuk melepas genggaman tangan mereka. Joungkook tertawa, dan hal itu membuat Taehyung ikut tersenyum, akhirnya ia tak harus lagi mendengar umpatan dari bibir kekasihnya.

"Aku tak tahu alasan si brengsek itu memanggilku dengan panggilan menjijikkan itu."

Taehyung memutar bola matanya malas mendengar pilihan kata Joungkook. "ngomong-ngomong, Kookie ya. kau akan tetap ingin bergabung dengan Cypher? kau tahukan, Namjoon sunbae itu pemimpin Cypher?"

Joungkook mengangguk, "aku tahu."

"Lalu?"

"Lalu apa, sayang?" Joungkook balik bertanya dan memandang Taehyung. Namja Kim itu berdecak kesal, "lalu bagaimana dengan hubunganmu dan Namjoon sunbae juga Seokjin hyung?"

Joungkook mengangkat kedua bahunya acuh, "biarkan saja. lagipula dengan aku bergabung dengan Cypher aku bisa balas dendam lebih mudah dengan Namjoon hyung."

Taehyung tiba-tiba menghentikan langkahnya, "Wow! Kau bahkan memanggilnya hyung!"

"Dia yang memaksaku, kemarin. Sepertinya dia masih sebal karena Seokjin hyung menjadi semakin marah kepadanya setelah mengetahui bahwa di adalah sunbaeku di SMA. Bayangkan saja, Seokjin hyung yang sudah tua – aduh! Jangan menyikutku!"

"Seokjin hyung belum tua, Joungkook. Dia hanya lebih tua darimu."

Joungkook memutar bola matanya malas, "Iya, iya, belum tua. Pokoknya Seokjin hyung marah sekali tahu bahwa umur Namjoon hyung jauh dibawahnya. Seokjin hyung pasti merasa kesal sekali sudah ditiduri oleh anak dibawah umur."

"Lalu sekarang bagaimana?"

"Bagaimana apanya?"

"hubungan Namjoon sunbae juga Seokjin hyung."

"aku tak tahu, terserahlah. Aku tak akan mengurusi percintaan orang lain. Tapi awas saja kalau sampai Namjoon hyung menyakiti Seokjin hyung. aku saja belum membalas perbuatannya pada Seokjin hyung malam itu."

Taehyung tertawa, "Jadi gakpapa nih kalo Namjoon sunbae jadi kekasih Seokjin hyung?"

"Tapi ada banyak rintangan untuk menjadi kekasih kakakku. Tenang saja, Tae, Namjoon hyung perlu diberi pelajaran sebelum mengencani Seokjin hyung."

"Baiklah, baiklah. Bagaimana kalau mampir di café ujung jalan? Aku malas pulang. Di rumah kosong, ya kookie~?"

Joungkook tertawa, kali ini memindahkan tangannya untuk memeluk bahu Taehyung, membuat tubuh mereka bertabrakan ringan, "Apapun untukmu, sayang~"

.

.

.

Seokjin meregangkan tubuhnya yang sudah seharian duduk didepan computer, menyelesaikan desain untuk proyek terbarunya. Apalagi sejak pagi Yoongi juga sibuk dengan pekerjaannya, bahkan tak sempat makan siang bersama tadi. Membuat kehidupan kantornya hari ini terasa sangat suntuk. Belum lagi masalah di rumah – ralat, maksudnya masalah dengan remaja labil bernama kim Namjoon yang seakan tak mau berhenti menganggunya. Dan juga ponselnya. Pesan dan telpon – meski tidak satupun ia angkat – membuat harinya semakin buruk. Ditambah ibunya yang masih sibuk memenuhi pesan di ponsel Seokjin tentang penggunaan kartu kredit. Dan harinya tidak akan bisa bertambah buruk lagi.

Setidaknya itu yang ia pikirkan.

"Hi, sayang!" suara cempreng setengah berat itu menyapa pendengaran Seokjin. Namun jangan pikir itu tertuju padanya, panggilan itu untuk namja manis yang meja kerjanya tepat disamping miliknya.

"Apa sih, Jim. Aku sedang sibuk. Mungkin akan pulang telat malam ini." Itu suara Yoongi, yang memang kekasih dari si Jimin. Atau mungkin sudah naik ke tahap tunangannya.

Seokjin yang kini tengah membereskan mejanya sedikit melirik ke meja Yoongi dengan Jimin yang ikut duduk disampingnya. Entah kursi siapa yang ia gunakan. Lagipula ini sudah jam 6 lebih, sudah lewat dari jam pulang kantor hingga lantai tempat divisi mereka juga mulai sepi.

Seokjin meringis melihat Yoongi yang sudah berhenti mengomel dengan Jimin yang berada dibelakangnya dan memberikan pijatan ringan dikedua bahunya. Dalam hati Seokjin iri dengan kemesraan mereka, tepatnya dengan seseorang seperti Jimin yang bisa mengimbangi sifat Yoongi. Ia juga menginginkan seseorang untuk memanjakannya seperti Jimin memanjakan Yoongi.

"Hah! Sepertinya aku terlalu lelah. Aku harus segera pulang." Gumamnya pelan. ia segera mengambil tasnya dan berjalan menghampiri sepasang kekasih itu. Ia menepuk pelan bahu keduanya.

Yoongi dan Jimin menoleh ke arahnya, "Oh, mau pulang, hyung?" Tanya Jimin dengan senyum lebarnya. Seokjin balas tersenyum dan mengangguk, "Ya. aku duluan ya, Jim, Yoongi ya. jangan terlalu malam."

"Ne. hati-hati di jalan hyung!"

Seokjin berjalan menuju basement tempat mobilnya berada, memikirkan tentang apa yang harus ia beli untuk makan malam. Ia terlalu lelah untuk memasak, meski hanya untuk dua porsi. Dan meski Seokjin tak mau mengakuinya, salah satu sudut otaknya berteriak bahwa malam ini tidak akan menjadi malam dengan dua kursi saja yang terisi di ruang makan.

"sepertinya pizza dan ayam cukup untuk makan malam. Aku tiba-tiba ingin ayam goreng." Seokjin bergumam dan tanpa sadar menghela nafas panjang saat melihat mobilnya yang masih terparkir sempurna di tempatnya sejak pagi.

Langkah seokkjin semakin cepat, "aku tak sabar ingin segera pulang."

"Kenapa kau lama sekali, Princess?"

Seokjin berhenti dan segera menoleh, mendapati sesosok namja tampan – tidak! Namja menyebalkan yang entah bagaimana bisa berdiri dibelakangnya.

"K – kau! Apa yang kau lakukan disini?" Seokjin memekik dan menunjuk Namjoon.

Namjoon terkekeh dan berjalan mendekat, menggenggam jemari Seokjin yang masih terangkat kerahnya, "tentu saja menunggumu. Hah~ aku tak menyangka ternyata kau bekerja di perusahaan sebesar ini. Aku jadi tak sabar untuk kembali ke rumahmu."

Seokjin mendengus dan menyentak tangannya agar terlepas dari genggaman Namjoon. Ia terlalu lelah untuk menanggapi sikap menyebalkan Namjoon, jadi ia lebih memilih menghampiri mobilnya dan segera pulang.

Rencananya, ia akan langsung masuk dan mengunci pintu mobil lalu melesat pergi untuk membeli makan malam sebelum pulang. Tapi, seharusnya dia tahu, bahwa menghindari Namjoon tidak semudah itu. karena kecepatan Namjoon lebih baik daripada dirinya. Hingga ia bisa duduk tepat disampingnya sepersekian detik sebelum ia sempat menekan tombol kunci.

"Kau berniat meninggalkanku? Teganya~"

Seokjin mengerang kesal, dia bisa melihat Namjoon yang masih memakai jas sekolahnya, yang ternyata baru ia sadari sama persis dengan milik Joungkook. Jika ia benar, anak itu seharusnya sudah pulang jam 5 tadi, dan ini bahkan sudah lewat dari jam 6.

"dengar Namjoon, aku sangat lelah sekarang. Aku tak memiliki sisa tenaga meski hanya untuk mengusirmu dari mobil. Jadi, bisakah kau turun dengan baik-baik? setidaknya kau harus pulang dan mengganti seragammu jika ingin keluyuran malam-malam."

Namjoon mengernyitkan keningnya tak terima, "princess, aku tak ingin keluyuran. Aku hanya ingin menginap dirumahmu, apa tidak boleh?"

Seokjin memijat pelipisnya pelan, "Dengar Namjoon, aku – hah! Kehidupan kita berbeda, bahkan tidak bersinggungan sama sekali. Jadi, bisakah kau pulang lalu melupakan segala hal tentang kita selama ini? Anggap saja kita tak pernah bertemu. Karena memang seharusnya kita tidak ber – "

"Aku tidak mau."

Seokjin berjengit mendengar nada dingin dan tanpa bantahan dalam kalimat Namjoon. Ia tak mengerti, karena ini pertama kalinya ia mendnegar Namjoon berbicara dengan nada seperti ini.

Jadi, Seokjin hanya diam. Bahkan saat Namjoon keluar dari mobilnya dan berputar, hanya untuk membuka pintu kursinya dan menggendong, benar-benar menggendongnya untuk berpindah ke kursi penumpang, Seokjin juga hanya diam.

Jujur, Seokjin sangat takut mendengar nada otoriter dalam suara Namjoon.

"jadi, kau ingin langsung pulang?"

Seokjin menelan ludahnya gugup. tangannya mencengkeram erat sabuk pengaman yang dipasangkan juga oleh Namjoon.

"Pizza dan ayam, makan malam." Bahkan Seokjin kehilangan kemampuan untuk menyusun kalimatnya. Dia hanya, shock, ya shock. Seorang seperti kim Namjoon, yang selalu tebar pesona dan bertindak seenakanya disekitarnya ternyata bisa berbicara setegas itu.

Kau hanya tak tahu bagaimana Kim Namjoon yang tidak berada disekitarmu, Seokjin.

Namjoon tiba-tiba terkekeh, "Jangan takut, princess, aku tak akan menggigitmu. Well, setidaknya tidak sekarang." Tangannya mengusap lembut rambut Seokjin.

Tanpa sadar Seokjin menarik nafasnya dalam-dalam. Namjoon kembali menjadi seseorang yang ia kenal.

"Cepat beli makan. Aku lapar!"

Namjoon mengangguk dan dengan cepat membawaa mobil Seokjin menjauhi gedung kantor.

Tiba-tiba, saat Namjoon tengah santai membawa mobilnya, Seokjin memekik heboh, "ya, ya, ya! kau masih SMA! Kau belum memiliki SIM! Kenapa kau menyetir mobilku!"

"tenang, Princess, aku sudah biasa membawa mobil."

"Tidak, tidak, tidak, hentikan mobilnya dan biarkan aku menyetir!"

"hahahahha~ kau menggemakan jika tengah kesal, princess."

"berhenti dan Hyung! panggil aku hyung, Namjoon!"

.

.

.

Seokjin pikir, pulang kerumah adalah satu-satunya jalan agar ia tidak lagi merasa pening dan lebih rileks, sedikit melupakan segala masalahnya. Entah masalah pekerjaan di kantor maupun masalah pribadinya. Bahkan selama dia dijalan menuju rumah pun ada masalah berupa Kim Namjoon yang sangat menyebalkan sebagai teman pulang.

Namun, semuanya menjadi berantakan dan sangat jauh dari kata tenang karena dua anak labil.

Pertama, Kim Namjoon.

Yang eksistensinya sangat tidak ia harapkan dan benar-benar menguji kesabaran Seokjin. Meski ia sudah berkata pada diri sendiri bahwa Namjoon hanyalah remaja labil yang nakal, dan ia hanya akan menganggapnya seperti Joungkook yang memang suka usil. Tapi demi Tuhan! Siapa yang mau memiliki adik mesum dan tak tahu diri semacam Namjoon?!

Kedua, Jeon Joungkook.

Tidak, Seokjin tidak akan mengumpat karena eksistensi adik tercintanya itu. namun, astaga! Sejak kapan Joungkook menjadi berandalan kecil yang sangat senang mencari masalah?! Khususnya dengan Kim Namjoon. Karena sejak Seokjin dan Namjoon masuk rumah dengan membawa 2 kardus pizza dan 3 kardus ayam, Joungkook sudah beraksi. Dia dan Namjoon tak berhenti beradu mulut dan tak membiarkan ketenangan barang sebentar untuk Seokjin.

Brak!

Seokjin melempar sumpit dan sendok yang tengah ia bawa ke atas meja makan begitu saja. ia sudah mencoba sabar, meninggalkan dua anak itu untuk berganti baju dan setidaknya membersihkan dirinya sebelum makan, berharap bahwa setidaknya keduanya berhenti adu mulut.

Namun, pemandangan pertama yang ia lihat adalah keduanya sudah berada dalam posisi siaga siap menyerang kapanpun. Bahkan ia bisa melihat jas Namjoon terlepas dengan beberapa kancing yang hilang dari tempatnya.

"sekarang, bereskan kekacauan yang sudah kalian buat. Makan semua yang ada di meja, makan!"

Lalu Seokjin kembali melangkah kedalam kamar dan menutup – membanting pintu lalu menguncinya.

Namjoon mengusap wajahnya kasar dan memandang jengah ke arah Joungkook.

"Kau menggagalkan rencanaku malam ini, bocah?!"

"Cih, terserah hyung. aku mau makan. Lebih baik hyung pulang sekarang. Seokjin hyung yang marah tidak akan mau berbicara dengan hyung sampai setidaknya 12 jam kedepan."

"kalau begitu biarkan aku menginap di rumahmu sampai 12 jam kedepan agar aku bisa kembali berbicara dengan Seokjin."

"Tidak." Joungkook menjawab ketus dan sudah kembali duduk di meja makan, siap memakan makan malamnya.

Namjoon mendengus kesal, meski ia juga ikut Joungkook untuk duduk dan makan malam, "Kenapa kau sangat membenciku?!"

"Adakah alasan untuk menyukaimu?"

"Banyak!"

"Menurutku tak ada. Dan berhenti bicara. Cepat keluar!"

"Sudah kubilang aku akan menginap malam ini."

"Tidak ada yang menerimamu di rumah ini. Tidak aku tidak Seokjin hyung."

"hanya kau yang tidak menerimaku disini. Bahkan Seokjin biasa saja dengan kehadiranku."

"Dasar tak tahu diri."

"Sialan! Apa maksudmu mengataiku seperti itu, brat?!"

"kau harusnya sadar posisimu disini."

"Cih! Terserah dirimu. Aku juga tak butuh persetujuanmu untuk bersama Seokjin."

"Tentu saja kau butuh persetujuanku. Aku adiknya."

"Well, terserah. Aku tetap tidak peduli."

"Seperti Seokjin hyung mau saja denganmu."

"Tentu saja mau. Just remember my irresistible existence."

"Whatever! Just go away!"

"I said no."

"Kau – "

Brak!

"Diamlah! Kalian benar-benar berisik!"

Tiba-tiba Seokjin muncul dan mengambil sepotong pizza – ah dan sekotak penuh ayam. Lalu kembali kedalam kamar. Bahkan ia sempat membawa satu botol soda dalam genggamannya.

"hahahahahaha~" tawa Namjoon memecah keheningan sepeninggal Seokjin, "Kakakmu sungguh meggemaskan jika tengah marah dan kesal."

Joungkook tanpa sadar terkekeh dan mengangguk, "Seokjin hyung memang menggemaskan. Terkadang ia memang tak sadar umur."

Lalu keduanya saling berpandangan, dan berhenti tertawa, digantikan dengan deheman gugup dan suasana menjadi semakin canggung.

.

.

.

Pada akhirnya, Namjoon tetap menginap dirumah itu. namun, jika malam sebelumnya ia masih diberi selimut dan bantal oleh Seokjin, kini tidak sama sekali. Bahkan namja cantik itu tak repot-repot membangunkannya untuk ke sekolah. Justru Joungkook yang menendang – serius! menendang dengan kakinya untuk membuatnya terbangun.

"Ah! Bisakah kau membangunkan dengan cara yang lebih normal, brat?!"

Joungkook mendengus keras, "seharusnya aku membangunkanmu dengan cara yang lebih kasar. Kau tahu, gara-gara hyung pagi ini aku tidak bisa menikmati sarapan buatan Seokjin hyung. bahkan Seokjin hyung ikut marah padaku."

"baguslah. Setidaknya aku tidak menderita sendirian."

"ck, Ini sudah jam setengah 9 lebih, terserah hyung mau sekolah atau tidak. Aku mau berangkat sekarang."

Lalu Joungkook melangkah keluar rumah begitu saja. setelah berteriak untuk mengunci pintu jika Namjoon ingin keluar.

"Sialan! Dasar bocah tengik sialan! Sudah tahu aku tidak akan ke sekolah ia juga tetap membangunkanku. Brengsek! Dia benar-benar menyebalkan."

Namjoon mendengus kesal dan segera bangkit, ia tidak berencana untuk kembali tidur di sofa ruang TV. Meski cukup nyaman, namun ia tak mau mengambil resiko punggugnnya semakin sakit. Jadi, ia berjalan menuju kamar dengan hiasan pink didepannya, milik princess Jinnya.

"hah~ Untung tidak dikunci." Ia menghela nafas lega dan segera masuk.

Sing ~

Beberapa detik dihabiskan Namjoon untuk berdiri mematung begitu satu langkah memasuki kamar Seokjin. Bahkan mulutnya terbuka kaget.

Namjoon tak pernah menyangka bahwa Seokjin benar-benar menyukai warna yang dianggap girly itu. maksudnya, oke, tidak ada yang salah sebenarnya seorang namja menjadikan pink sebagai warna favoritnya. Namun Namjoon tak menyangka kalau hampir seluruh benda yang ada di kamar Seokjin berwarna pink. Beruntung kamarnya juga tidak di cat pink. Warna orange pastel masih cukup enak dipandang daripada benda-benda berwarna pink disekitarnya. Bahkan sprei dan bed cover diatas ranjang.

"Untung saja dia cantik." Gumam Namjoon pelan. ia terkekeh, "Manis juga selera warnanya." Tambahnya kemudian.

Mendapati kamar Seokjin membuat ngantuk Namjoon menghilang. Ia memilih untuk melangkahkan kakinya mengelilingi kamar Seokjin dan seluruh bagian dari rumah sederhana milik Seokjin dan adiknya yang bernama Jeon Joungkook.

Ngomong-ngomong soal perbedaan marga, Namjoon sudah mendapatkan jawabannya kemarin. Lembar dari ahjussi Park benar-benar memberitahu Namjoon seluruh kehidupan Seokjin, bahkan sampai kasus orang tua, ah maksudnya ibu kandung yang tidak pernah memperhatikan keduanya.

"Rumah ini sudah cukup kecil, dan perabotannya sangat sedikit. Mungkin, aku perlu mengganti beberapa hal. Aku tak mau hidup merepotkan."

Namjoon akhirnya mendaratkan pantatnya kembali di sofa depan TV. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas meja dan menghubungi seseorang, tidak, maksudnya menghubungi nomer terakhir yang masuk di daftar pemanggilnya kemarin.

Terdengar nada tunggu beberapa kali sebelum diangkat.

"Ahjussi?"

"Ne, Tuan – eh, maksud saya Namjoon. Ada apa menelpon?"

Namjoon tersenyum lebar, ia tidak salah nomor.

"Bisakah ahjussi melakukan beberapa hal untukku?"

"Ya, tentu saja."

"Baiklah. Aku ingin ahjussi membeli TV, ah, jangan. Perangkat theater home saja lalu mesin cuci, kulkas, Queen size bed, sofa satu set, perangkat masak, lalu – ah, atau begini saja, karena sepertinya aku akan membutuhkan banyak hal, bisakah ahjussi kemari?"

"Ehm, maaf Namjoon. Tapi bisakah ahjussi bertanya semua itu untuk siapa?"

"Seokjin, Kim Seokjin. Ahjussi pasti belum lupa mengenai orang yang kemarin aku suruh untuk selidiki. Jadi, bisakah ahjussi sekarang ke rumahnya? Aku disana."

" – baiklah."

Lalu Namjoon memutuskan sambungan begitu saja.

"hah~ Aku perlu mandi."

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan Namjoon masih duduk santai di sofa baru yang ada di rumah Seokjin. Seharian ini ia sibuk untuk merenovasi beberapa bagian dari rumah Seokjin, bahkan hampir merubah seluruh bagiannya.

Ia membelikan perangkat theater home untuk menggantikan TV Seokjin yang menurut Namjoon sudah ketinggalan zaman, sofa depan TV, pantry dapur, seluruh alat memasak, kulkas, bahkan ia membeli 2 kulkas yang isinya juga penuh, ada juga mesin cuci, bed baru untuk Joungkook dan Seokjin, serta beberapa perabotan kecil lainnya. Bahkan ia memasang wallpaper dengan aksen pink di kamar Seokjin.

Namjoon tengah menikmati snack dan bersandar nyaman di sofa saat ponselnya berbunyi. Ia bisa melihat nama Hoseok disana dengan ID yang sangat menjijikkan.

Jung Hobie is calling . . . .

"Wae?"

"Jangan bilang kau lupa dengan acara kita sore ini?!"

"Ha? Acara apa?"

"Kau lupa? Sore ini kita perlu menguji coba beberapa hobae yang ingin masuk Cypher."

"Ah, aku lupa."

"Ck! Cepatlah kemari, ketempat biasa. Aku akan memulainya jika kau tidak datang-datang."

Namjoon menghela nafasnya malas, "Mulai saja."

"Dasar ketua tidak bertanggung jawab."

"Kau yang seenaknya menunjukku menjadi ketua." Namjoon berdecak kesal.

"hehehehe, baiklah baiklah. Aku akan memulainya tanpamu."

"ya. mulai saja. eh – tunggu!"

"Apa lagi?"

"Jeon Joungkook ada disana kan?"

"Ya. seharusnya dia datang sore ini."

Namjoon dengan tergesa langsung berdiri, mematikan TV dan segera menyambar jaket kulit miliknya yang tadi baru aja ia beli. Ngomong-ngomong, ia membeli pakaian baru dan sudah tertata rapi di lemari baru kamar Seokjin.

"Jangan biarkan siapapun berduel dengannya. Jangan sentuh dia sampai aku datang!"

"Wae? Wae? Wae? Kau benar-benar berpacaran dengan anak itu?!"

"Pokoknya tunggu aku sampai sana!"

Lalu lagi-lagi Namjoon memutus sambungan sepihak. Ia segera berlari keluar rumah dan mengendarai motor sport berwarna hitam yang tadi juga diantarkan oleh ahjussi park. Tak ada tempat parkir jika ia membawa mobilnya kemari.

"Gzz, aku bisa benar-benar dihajar Seokjin jika tahu adiknya kenapa-napa."

.

.

.

Brrrmmmm . . . .

Ini belum sampai di lapangan belakang sekolah yang biasa menjadi basecamp bagi Cypher, namun Namjoon sudah menghentikan laju motornya. Masih kurang 2 tikungan sebelum sampai di lapangan yang dimaksud, namun ia menemukan hal yang lebih penting untuk diurusi daripada Joungkook yang akan dihajar oleh anak buahnya.

"Kim Taehyung?"

Sosok bernama Taehyung itu terlonjak kaget, ia tak menyadari adanya Namjoon yang berdiri disampingnya. Ia menunduk takut, "n – ne, sunbae."

Namjoon hanya bergumam dan memandang ke depan, tepatnya ke arah 7 namja yang tengah menghadang Taehyung. Alasan kenapa Namjoon menghentikan motornya.

"Well, lihat siapa yang datang. Ketua Cypher kita yang terhormat mencoba menjadi pahlawan ternyata." Ucap salah seorang diantara mereka.

Namjoon berdecih, "Kalian sudah melanggar aturan." Ucapnya singkat. Ia melepas jaket kulitnya, menyisakan kaos pendek berwarna abu-abu.

"lalu? Kami hanya ingin bermain dengan salah satu 'teman'mu, ia cukup manis."

"aku tak suka banyak basa-basi. Kau pilih pergi, atau well, fight – "

Dan Namjoon tidak menunggu jawaban sebelum melayangkan tinjunya ke salah satu namja yang paling dekat dengannya. Bisa terlihat darah mengalir dari sudut bibir namja itu, sepertinya sobek akibat pukulan Namjoon.

" – dan dia bukan temanku." Tambah Namjoon dengan posisi siap menyerang. Ia melirik Taehyung yang hanya diam mencengkeram tasnya erat.

"Sialan!" teriak namja yang terkena pukulan Namjoon. Ia bergerak maju dan mencoba membalas.

Lalu keadaan menjadi berantakan. Namjoon menghadapi ke 7 namja itu seorang diri. Mungkin memang bukan pertama kalinya ia berkelahi dengan lawan yang jumlahnya tak seimbang, tapi ini geng dari sekolah lain, yang berarti mereka juga pandai berkelahi.

"Shit! Bisakah kau tidak hanya berdiri disana?!" Namjoon membentak Taehyung saat salah seorang berhasil memukul perut dan rahangnya. Ia meludahkan darah dari mulutnya.

"A – apa yang harus aku lakukan?" Taehyung bertanya takut. Ini pertama kalinya ia melihat perkelahian langsung tepat didepan matanya.

Namjoon berdecak sebal, "Panggil Hoseok, Joungkook, siapapun! Cepat!" lalu ia kembai membalas pukulan dari lawannya. Taehyung yang melihat Namjoon kembali sibuk langsung berlari, meninggalkan Namjoon dan 7 namja menjadi lawannya.

Bukannya Taehyung tak bisa berkelahi, dia juga pernah belajar taekwondo, tentu saja. namun berkelahi dengan geng liar dan berandalan seperti itu tentu saja menakutkan. Dan Taehyung lebih memilih cara aman dengan kabur.

Ia menoleh kebelakang sebentar, melihat Namjoon yang mulai kewalahan menghadapi 7 namja yang tadi menghadangnya.

"aku harus cepat!"

.

.

.

TBC

Hehehehehe, bagaimana? Apakah cukup panjang? Ini sudah 6K word lho~ jangan minta tambah lagi. Ini juga sebagai permintaan maaf karena menunda update lebih dari satu bulan. Mianhae~~

Dan terima kasih atas semua reviews yang sudah masuk, jeongmal gomawoyo! Aku sangat terharu dengan antusias kalian, wkwkwkw, apaan dah. Dan smeoga chapter ini tidak mebgecewakan. Kalao disini Namjoon sudah tahu tentang Seokjin dari A sampe Z, mungkin kedepannya bakalan Namjoon yang terungkap identitasnya, kkkk

Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Bbuing~