Tittle : Hold Me Tight
Author : Kim Joungwook
Pairing : NamJin
Length : 6 of
Genre : Romance
Summary :
Warning : Shounen-ai, BoyXBoy. Typo(s). Don't Like Don't Read!
.
.
.
BTS
.
Lapangan tempat Cypher biasa berkumpul terletak di sebuah tempat yang cukup terpencil. Harus melewati dua tikungan dari gerbang belakang sekolah membuat lapangan itu menjadi tempat yang cukup jauh namun juga terjangkau dengan jalan kaki. Terdapat sebuah gazebo besar di sudut lapangan, membuat nya menjadi tempat istirahat bagi anggota Cypher. Biasanya, mereka hanya berkumpul untuk makan, atau sekedar bercerita biasa. Karena memang tidak setiap hari mereka bertemu atau berkelahi dengan geng lain.
Namjoon hanya akan ikut berkumpul pada saat-saat tertentu. Seringkali hanya ada Hoseok sebagai wakil ketua – bahkan dia sendiri yang menentukan struktur. Namun, ada beberapa waktu tertentu yang mengharuskan Namjoon hadir. Seperti sekarang, acara yang wajib diadakan setiap kali ada orang luar yang ingin menjadi anggota Cypher.
Uji Coba.
Well, namanya sedikit seram. Namun sebenarnya hanya menguji kemampuan berkelahi dan juga alasan dan tetek bengek kesepakatan biasa. Dan itu yang tengah mereka lakukan sore ini.
"Namjoon sialan. Dia memang tak pernah bisa berpikir serius tentang Cypher." Ucap Hoseok malas. Dia sudah menunggu 1 jam lebih, dan Namjoon belum terlihat. Ia sudah menelponnya, dan seperti katanya, uji coba belum dimulai. Apalagi karena ini awal tahun ajaran, ada sekitar 5 orang yang perlu di uji coba, termasuk Joungkook didalamnya.
"Sunbae, apa masih lama?"
Salah seorang namja dengan nametag Kim Mingyu terlihat menghampiri Hoseok. Hoseok tersenyum lebar, "Mian, mian. Sebentar lagi Namjoon datang. Kau tunggu sebentar, oke?"
Sang hobae mengangguk dan kembali berjalan menjauh, menghampiri teman seangkatannya yang akan di uji coba juga sore ini.
"Bagaimana?" Tanya Joungkook. Mingyu menggeleng, "Tunggu sebentar." Jawabnya acuh. Ia kembali duduk dan bermain hape seperti sebelumnya. Joungkook menghela nafasnya kesal, "Kim Namjoon sialan. Ia benar-benar membuatku kesal."
"Joungkook ah!"
Sebuah teriakan dengan suara berat itu membuat Joungkook menoleh. Ia segera berdiri begitu mengetahui sosok Taehyung berlari ke arahnya. Memang, ia sudah memberitahu kekasihnya itu mengenai lapangan tempat ia akan di uji coba untuk Cypher, dan ia juga sudah menyuruh Taehyung untuk tidak datang dan pulang duluan.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau kemari?!" Tanya Joungkook khawatir. Ia tak mau Taehyung kenapa-napa, karena memang wilayah belakang sekolah termasuk kawasan yang cukup berbahaya dan jarang dihuni warga.
Taehyung berhenti dan menunduk, menumpukan kedua tangannya pada lutut dan terengah-engah.
"Nam – Namjoon sunbae."
"Ada apa dengan Namjoon?" tiba-tiba Hoseok ikut berdiri disebelah Joungkook.
Taehyung berdiri, kali ini dibantu oleh Joungkook, "Berkelahi – 7 orang, hah melawan Namjoon sunbae."
Hoseok membelalakkan matanya, "sial, namja itu selalu mencari masalah."
"Dimana?" Tanya Hoseok cepat.
"Gerbang belakang." Taehyung menjawab singkat dan sepenuhnya bersandar pada Joungkook.
Hoseok mengumpat dan segera berlari menuju gerbang belakang, diikuti Joungkook dan Taehyung yang mau tidak mau ikut. Ia merasa ikut andil terhadap apa yang menimpa Namjoon.
.
.
.
"Yak! Apa yang kalian lakukan?!"
Mendengar suara itu, ke tujuh namja yang tadi melawan Namjoon langsung berlari kabur. Suara yang sebenarnya – mau tidak mau dihafal oleh Namjoon karena sering sekali berteriak padanya. Guru BK di SMA nya, Jung sonsaengnim.
Setelah ke tujuh namja itu kabur, baru Hoseok dan yang lain datang. Mereka melihat Namjoon yang tengah dibantu berdiri oleh Jung saem.
"saem, apa yang terjadi?" kali ini yang bertanya Hoseok. Ia langsung maju dan menggantikan Jung saem untuk memapah Namjoon. Dan Namjoon berusaha menepis lengan Hoseok yang melingkari tubuhnya, "Aku bisa jalan sendiri." Ucapnya ketus, meski jelas sekali keadaannya mengenaskan.
"Diamlah." Ucap Hoseok kasar. Bahkan ia menyentak lengan Namjoon agar melingkari bahunya. Namjoon hanya menghela nafasnya dan pasrah. Jika Hoseok sudah dalam mode tanpa bantahan seperti ini ia jadi malas meladeni.
"Ayo ikut ke kantor! Sepertinya poin pelanggaranmu akan bertambah Kim Namjoon. Dan apa yang kalian lakukan disekitar sekolah jam segini? Cepat pulang!" jung saem mengusir yang lain dan Hoseok mengangguk, membuat yang lainnya segera bubar. Meninggalkan Namjoon, Hoseok, Joungkook, dan juga Taehyung.
Jung saem memandang keempatnya, "kenapa kalian masih disini? Cepat pulang!"
"S – saem, saya tahu kejadian yang sebenarnya." Ucap Taehyung gugup. ia meremas lengan Joungkook yang ia peluk, ini kali pertama ia menghadapi guru BK karena melanggar peraturan.
"baiklah. Kalau begitu kalian berempat ikut saya kekantor."
.
.
.
Keempatnya keluar dari ruangan BK dalam keadaan hening. Hoseok masih sibuk memapah Namjoon, Taehyung juga masih memeluk erat lengan Joungkook. Mereka, tidak, maksudnya Namjoon diberi hukuman berupa skors selama satu minggu. Meski Taehyung sudah menjelaskan kronologi yang sebenarnya terjadi, bahkan Joungkook dan Hoseok ikut menimpali, tetap saja, Namjoon dihukum. Namun, meski ketiganya berusaha meyakinkan Jung saem bahwa apa yang Namjoon lakukan tidak salah, yang bersangkutan justru diam saja dan pasrah.
"Kenapa hyung tidak membalas sama sekali?!" tiba-tiba Joungkook berteriak. Mereka sudah sampai di gerbang depan dan langit sudah gelap.
Namjoon mendengus, "Merepotkan. Bagaimanapun juga dihukum. Entah berat atau ringan. Lagipula aku mendapat libur."
"Demi Tuhan, hyung! itu bukan libur! Itu skorsing, kau dihukum?!" sekali lagi Joungkook menjerit kesal. Namjoon terkekeh, "kau berlebihan, saengie~"
Joungkook secara reflek memukul perut Namjoon, membuat namja Kim itu memekik nyeri, "Brengsek! Itu sakit brat!"
"gzz, jangan panggil aku dengan sebutan menjijikkan seperti itu."
Hoseok dan Taehyung hanya tertawa melihat pertengkaran konyol dua namja itu. dan Namjoon menyikut Hoseok karena tertawa terlalu keras.
"berhenti. Aku lelah." Ucap Namjoon tiba-tiba. Bahkan mereka baru 10 langkah dari gerbang sekolah. Joungkook memutar bola matanya malas, "Dasar payah."
Namjoon memicing, "aku mendengarmu, brat."
"Kau bawa mobil, hoseok ah?" tanyanya kemudian. Hoseok menaikkan salah satu alisnya bingung, "hah? Mobil? Sekolah tidak memperbolehkan siswanya membawa kendaraan pribadi, Demi Tuhan, Namjoon! Kenapa aku harus bawa mobil?!"
Namjoon mengangkat kedua bahnya acuh, "aku bawa motor."
"Kau mau mengendarai motor dengan keadaan seperti ini? Lebih baik kau menyuruh ahjussi Park untuk membawa motormu balik." Ucap Hoseok. Namjoon menghela nafasnya lelah, "Kakiku mulai mati rasa dan perutku sakit sekali."
"Le – lebih baik memanggil taksi, sunbae." Ucap Taehyung tiba-tiba. Hoseok memekik, "Astaga, akhirnya kau berbicara juga, cutie~"
Joungkook melirik Hoseok tajam, "jangan menggoda pacar orang, sunbae."
Hosoek menyengir lebar dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi taksi, atau siapapun untuk menjemput mereka.
"Sebentar lagi seseorang akan datang menjemput kita." Ucap Hoseok begitu selesai membuat panggilan. Namjoon memcing, "darimana kau dapat nomor Ahjussi?"
Hoseok tersenyum lebar, "ahjussi yang memberikannya padaku. Katanya 'Jaga Tuan Muda.' Hahahahahaha!"
Namjoon mendengus kasar, "Ahjussi memang berlebihan."
Joungkook dan Taehyung hanya diam, karena mereka memang tak tahu siapa ahjussi park yang dibicarakan dua orang itu. selama 10 menit mereka menunggu jemputan tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Keempatnya memilih sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"Itu jemputan kita." Ucap Hoseok memecah keheningan. Ia kembali memapah Namjoon mendekati mobil sedan hitam didepan mereka. Seorang namja yang terlihat masih cukup muda keluar dari kursi pengemudi dan membukakan pintu belakang untuk Namjoon. Dan hal itu membuat Joungkook memicing heran.
"Apa kau bisa membawa motor?" Namjoon tiba-tiba bertanya pada namja itu. ia terlihat kaget sebelum mengangguk pelan, "n – ne tuan muda."
Namjoon mengangguk, "kalau begitu kau bawa saja motor yang ada di gerbang belakang sekolah ini. Lalu ikuti mobilnya."
"Ta – tapi siapa yang akan menyetir?" Tanya namja itu terlihat ragu. Namjoon menarik Hoseok, "Biar dia yang menyetir. Sudah sana, ambil dulu motornya." Ia berucap lagi dan memberikan kunci dari saku celananya.
Namja itu menunduk patuh sebelum berlari ke arah yang ditunjukkan Hoseok.
"Memang kau tahu siapa dia?" Tanya Hoseok. Kali ini ia membantu Namjoon untuk berputar agar duduk di kursi samping pengemudi. Namjoon mengangkat kedua bahunya acuh, "tidak penting juga."
Hoseok memutar bola matanya dan berlari untuk menuju kursi pengemudi. Ia melihat ke arah Joungkook dan Taehyung yang masih berdiri diam disamping mobil. "kenapa diam? Ayo masuk!" ucap Hoseok.
Joungkook mengangguk dan dengan ragu duduk didalam mobil dengan Taehyung.
"kita ke rumahmu?" Tanya Hoseok. Namjoon menggeleng, "ke rumah Joungkook."
"oh, kita mengantar Joungkook dan Taehyung pulang dulu?"
"tidak."
Hoseok mengangkat alisnya bingung, "lalu?"
"Aku tinggal di rumah Joungkook." Jawab Namjoon singkat. Ia memejamkan matanya nyaman di kursinya. Hoseok semakin mengerutkan dahinya bingung, "adakah yang bisa menjelaskan padaku? Aku bingung dengan hubunganmu dengan Joungkook. Kalian tidak sedang berkencan kan?"
"Kau bodoh? Kekasih Joungkook itu namja disebelahnya."
Joungkook memutar bola matanya malas, "biar aku yang jelaskan sunbae." Ucapnya.
Hoseok mengangguk sembari mulai menjalankan mobilnya. Ia sudah bisa melihat sopir Namjoon dengan motornya.
"sebelum itu, beritahu dulu alamat rumahmu."
.
.
.
Brrmmm. . . .
Mobil sedan hitam itu berhenti tepat didepan rumah Joungkook, namun keempat namja yang ada didalam tidak segera turun. Bahkan sang pemilik rumah, Joungkook.
"aku tak menyangka, ternyata teman kesayanganku memiliki cerita yang sangat mirip dengan drama yang sering ditonton umma. Kau memang luar biasa, Namjoon."
Namjoon memutar bola matanya malas, "Whatever." Lalu ia membuka pintu dan turun begitu saja. namja yang tadi membawa motornya langsung membantu Namjoon berdiri. Namun Namjoon menghempaskan tangan namja itu begitu saja, "aku bisa sendiri." Dan berjalan masuk rumah Joungkook dengan tertatih.
"Namjoon memang seperti itu. well, mungkin ia sedikit unik. Tapi sebenarnya dia tidak bermaksud jahat, mungkin hanya sedikit nakal." Ucap Hoseok sembari menoleh ke belakang, memandang Joungkook dan Taehyung bergantian.
Joungkook mengangguk samar, "ya, aku tahu."
"Sudah, ayo turun. Seokjin hyung pasti sudah menunggu." Ucap Taehyung. Ia segera membuka pintu mobil dan menarik Joungkook keluar. Hoseok juga melakukan yang sama, ia menghampiri sopir Namjoon dan mengembalikan kunci mobilnya, ia tukar dengan motor Namjoon.
"sudah, kamu pulang saja." Ucap Hoseok. Namja itu menunduk dan segera pergi.
Hoseok menarik nafasny panjang, "Namjoon memang tak terduga." Gumamnya sembari berjalan memasuki rumah yabg katanya ditinggali Joungkook dan kakaknya yang bernama Kim Seokjin.
Ia berhenti sebentar didepan pintu masuk, berdehem sejenak sebelum membukanya lebih lebar, karena memang sebelumnya tidak tertutup sempurna. Ia melangkah masuk dan menutup pintu dibelakangnya.
Hoseok menelan lludahnya gugup, karena ia tak tahu apa yang harus ia lakukan dihadapan Seokjin yang katanya sudah ditiduri oleh Namjoon. Yang well, termasuk sahabatnya itu. apakah ia juga akan dipukuli seperti Namjoon? Dan kata Taehyung, kakak Joungkook itu cukup menakutkan saat tengah marah. Dan ia tak mau kena marah oleh orang yang baru ia temui.
"An – annyeong haseyo." Hoseok berucap ragu. Namun yang ia dapat bukannya sambutan riuh atau Seokjin yang memarahinya, namun justru pemandangan yang well, memenuhi seluruh rumah dengan bunga-bunga pink yang bertebaran.
Hoseok bisa melihat Namjoon yang duduk patuh di sofa dengan seorang namja yang memiliki wajah cukup cantik namun dengan bahu lebar yang mengobati lukanya, bahkan tanpa ragu membuka seragam Namjoon. Ia juga bisa melihat Taehyung dan Joungkook keluar dari salah satu kamar disana.
"Oh, ayo duduk disini sunbae." Joungkook menarik Hoseok menuju meja makan dan mempersilahkannya duduk disana, karena sofa ruang tamu sudah penuh oleh Seokjin dan Namjoon.
Hoseok melirik ke arah Namjoon yang tertawa meski seringkali mendesis nyeri saat diobati, dan namja yang ia duga sebagai Seokjin yang mengomel juga sesekali membentaknya. Namun entah kenapa pemandangan itu justru menurutnya romantic.
"Jadi, Namjoon sudah menginap disini selama dua hari?" Tanya Hoseok. Ia menerima segelas jus dari Joungkook. "ya." jawabnya singkat.
Hoseok mengangguk paham, sekali lagi melirik ke arah Namjoon. Dan ia hanya bisa menganga melihat Namjoon yang tertawa begitu bebasnya didepan Seokjin. Bahkan saat ia dibenatak bahkan dipukul oleh namja cantik itu.
"Namjoon didepan Kim Seokjin ssi bukan Namjoon didepanku." Ucap Hoseok sebal, "padahal aku yang lebih lama mengenalnya saja tidak mudah membuatnya tertawa, tapi Kim Seokjin berhasil membuat Namjoon tertawa berkali-kali."
"eum, sunbae." Joungkook dengan ragu memanggil Hoseok.
Hoseok kembali mengalihkan perhatiannya ke arah Joungkook, "ya?"
"mungkin ini sedikit pribadi, tapi, bisakah aku bertanya mengenai Namjoon hyung?" Tanya Joungkook, masih dengan keraguannya. Taehyung yang duduk disampingnya hanya diam dan meminum dari gelasnya dengan tenang.
"boleh saja. lagipula kau juga harus tahu, dan aku yakin Namjoon juga tidak akan membertitahumu dengan suka rela. Namja itu tak suka harus menjelaskan mengenai hidupnya." Jawab Hoseok lebar. "dan panggil aku hyung, untuk taehyungie juga." Tambahnya dengan senyum lebar.
Taehyung yang mendengar namanya disebut hanya mengangguk kikuk, "n – ne, h – hyung." jawabnya ragu. Joungkook mengerutkan keningnya tak suka, "hyung, Taehyung itu kekasihku. Jangan menggodanya terang-terangan didepanku."
Hoseok tertawa lebar, "sangat lucu melihat kekasihmu saat malu, Joungkook ah."
Joungkook hanya memandang Hoseok malas, "jadi, bisakah aku bertanya bagaimana hyung bisa bisa bersahabat dengan Namjoon hyung?"
"aku dan Namjoon sudah bersahabat sejak lahir, mungkin. Karena kedua orang tua kami memang bersahabat. Kami selalu masuk ke seskolah yang sama, bahkan pindah ke New Zealand juga bersama. Namun aku duluan kembali ke korea saat SMP, dan dia baru menyusul saat SMA. Jadi, ya begitulah."
Joungkook bergidik ngeri, "hyung betah bertahun-tahun menjadi teman Namjoon hyung?"
Hoseok tertawa mendeegar pertanyaan itu, "Namjoon tak seburuk yang kau pikirkan. Sebenarnya ia baik. Buktinya ia mau membantu Taehyung, bukankah begitu taehyungie?"
Taehyung tertawa lebar, "nada yang hyung gunakan untuk memanggil namaku terdengar menggelikan."
Hoseok ikut tertawa, "astaga, Joungkook ah, Taehyung tertawa, dia tertawa karena aku!"
Saat kedua orang itu tertawa dan saling melemparkan candaan, Joungkook hanya menghela nafasnya panjang dan memilih untuk melempar pandangannya ke arah Namjoon dan Seokjin yang kini saling berhadapan dan seperti membicarakan hal yang serius.
Joungkook tahu, ada yang berbeda dari rumahnya saat ia masuk pertama kali tadi. Dan ia yakin, pasti Namjoon yang merubah seluruh bagian rumahnya, dan semuanya baru. Astaga, ia tak mau membayangkan berapa uang yang sudah dikeluarkan oleh Namjoon untuk membeli semua ini.
.
.
.
"kenapa kau melakukan semua ini?"
Namjoon memutar bola matanya malas, ini sudah ketiga kalinya Seokjin menanyakan hal yang sama.
"tidak ada alasan khusus, princess. Aku hanya ingin membuat rumahmu menjadi lebih nyaman untuk ditinggali."
Seokjin merengut, bibirnya mengerucut sebal, "tapi bukan berarti merombak seluruh bagian rumah. Dan kau juga tak perlu membeli perabotan baru untuk semuanya, Namjoon. Astaga! Berapa uang yang kau keluarkan untuk membeli semuanya?"
Namjoon tersenyum lebar, "aku juga tak tahu."
"lalu bagaimaana aku bisa mengganti uang yang kau pakai?!" Seokjin memekik frustasi. Namjoon menggeleng, "kau tak perlu menggantinya princess. Hanya biarkan aku tinggal disini. Itu saja sudah cukup."
"Kau tahu, jika kau saja bisa membeli seluruh perabotan ini, seharusnya kau juga bisa membeli rumah untuk dirimu sendiri."
"tapi aku ingin tinggal bersamamu."
"kenapa harus aku?!"
Namjoon menaikkan salah satu alisnya bingung, "maksudmu?"
"kenapa harus aku yang kau inginkan untuk tinggal dirumahmu. Kau pasti punya banyak teman, atau ajak saja teman yang bersamamu kemari itu. kenapa harus aku?"
"Karena kau lebih dari teman."
Nada serius dalam kalimat Namjoon itu membuat Seokjin terdiam, bahkan tanpa sadar wajahnya memerah sampai kelehernya. Namjoon yang serius kembali ia temui, yang seksi dengan aura dominasi yang kuat. Dan mungkin ini sedikit memalukan, tapi jantungnya berdebar mendapat pernyataan seperti itu dari Namjoon.
"Jadi, bisakah kau hanya diam dan menerima semua kenyamanan yang aku berikan?"
Seokjin masih diam, ia juga tidak menolak lengan Namjoon yang tiba-tiba melingkari pinggangnya, bahkan namja itu dengan santai menyadarkan kepalanya di perpotongan lehernya. Membuatnya bergidik merasakan nafas hangat Namjoon mengenai kulitnya.
"Aku sangat lelah dan seluruh tubuhku terasa sakit." Gumam Namjoon, bahkan ia masih sempat memberikan kecupan ringan di leher Seokjin.
Seokjin mengerjapkan matanya cepat, posisi ini membuatnya gugup, "Sa – salahmu! Kau tak mau kuajak ke rumah sakit."
"aku tak mau ke rumah sakit." Dan dia semakin menelusupkan wajahnya pada leher Seokjin, membuat bulu kuduk Seokjin meremang. Ini termasuk posisi yang cukup intim, dan Seokjin belum terbiasa dengan posisi seperti ini, atau mungkin karena yang melakukannya Namjoon.
Beberapa menit terlewati dalam diam, Seokjin masih dengan rasa gugupnya, bahkan detakan jantungnya menggila, dan Namjoon diam-diam menyeringai merasakan jantung Seokjin yang sangat riuh.
Astaga Seokjin, dia hanya Namjoon. Anggap saja dia Joungkook, ya, anggap saja dia adikmu. Tak ada alasan kenapa harus gugup dipeluk oleh adikmu sendiri, iyakan?!
Seokjin tiba-tiba tertawa kecil, Ya, dia hanya seorang bocah bahkan ia balas melingkarkan tanngannya pada punggung Namjoon, punggung polos Namjoon yang masih topless.
"Kau seperti Joungkook. Dia juga tidak suka ke rumah sakit."
Namjoon merengut dan melepas pelukannya, gantian menangkup kedua sisi wajah Seokjin, "jangan samakan aku dengan bocah itu."
Seokjin memutar bola matanya malas, menjauhkan tangan Namjoon dari wajahnya, "siapa yang kau panggil bocah, hah?! Kau juga masih bocah!"
Keduanya kembali beradu argumen, melupakan posisi yang err cukup intim. Bahkan kedua lengan Seokjin kini melingkari pinggang Namjoon, dan tangan Namjoon yang tak berhenti mengusap tengkuk Seokjin, entah apa tujuannya.
"hyung aku lapar." Suara Joungkook yang berteriak dari dapur membuat Seokjin menghentikan ocehannya pada Namjoon. Ia menatap Joungkook lalu jam yang ada di dinding atas TV.
"ah, sudah jam 8. Kau ingin makan apa? Kita pesan saja." ucap Seokjin. Ia sudah akan beranjak berdiri saat lengannya ditarik begitu saja oleh Namjoon dan membuatnya terjatuh diatas pangkuan namja itu. keduanya sama-sama berteriak.
"Sakit~" Namjoon merengek dengan modus memeluk Seokjin dan menyembunyikan wajahnya di punggung namja cantik itu. Seokjin memutar bola matanya malas, "salah siapa menarikku?!"
"Joungkook ah, kau pesan saja apa yang kau inginkan. hyung akan mengurusi bayi besar ini dulu."
.
.
.
Keadaan meja makan di rumah Seokjin terasa ramai malam ini, jika biasanya hanya ada Joungkook dan Seokjin, kini ada tiga namja lain yang mengisi kursi baru dari Namjoon. Tentu saja, ada Namjoon, Hoseok, dan juga Taehyung. Ketiga namja itu juga sudah mandi, dan berganti baju. Bahkan Taehyung tidak repot-repot kembali ke rumahnya yang hanya berjarak lima rumah dari sini, ia lebih memilih meminjam baju Joungkook.
"Hyung, kau tak bisa memakan semuanya seorang diri!" Joungkook berteriak sebal pada Namjoon yang mengambil ayam kesukaannya. Ngomong-ngomong, mereka membeli samgyeopsal, jajangmyeon, juga ayam goreng. Khusus ayam goreng ini pesanan Joungkook, yang justru Namjoon paling banyak ambil.
"Masih banyak makanan lain, brat! Habiskan dulu jajangmyeonmu, baru ambil ayamnya!" balas Namjoon dengan mulut yang penuh dengan ayam goreng. Joungkook berdecak sebal sebelum memakan jjangjangmyeonnya yang sudah mulai dingin.
Seokjin menghela nafasnya panjang, ini bukan yang pertama mereka makan semeja, tapi Namjoon dan Joungkook tak pernah bisa diam.
"Haish! Diamlah kalian?! Semua ini aku yang membayarnya, jadi aku yang berhak atas semua makanan ini. Namjoon, kau bukan pecinta ayam! Demi Tuhan, biarkan bocah itu memakan ayam yang ia pesan! Lihat Taehyung, dia diam saja. dan Seokjin hyung juga mulai lelah melihat kalian bertengkar. Bisakah kita melewati makan malam dengan tenang?!" teriak Hoseok. Ia hampir saja melempar sumpitnya sebelum tangannya ditahan Taehyung.
Ngomong-ngomong, setelah tadi Joungkook yang memesan makan malam, Namjoon menyuruh Hoseok yang membayarnya. Ia bilang sebagai bayaran karena sudah ia pinjami baju ganti. Memang sialan di Namjoon itu.
Seokjin menarik nafasnya panjang, "Hoseok ah, gomawo, ne. dan Taehyung, kau harus makan yang banyak, habiskan saja ayam yang jadi rebutan dua bocah labil itu. sudah hampir jam 10, kalian harus segera pulang." Ucapnya lembut.
Taehyung menyengir lebar, "Ok, hyung." dan tangannya mengambil sepotong ayam sebelum memeletkan lidahnya kearah Joungkook.
Hoseok ikut-ikut mengambil ayamnya, mengabaikan raut kesal Namjoon.
"Ya, segera pergi dari sini." Ucap Namjoon ketus.
"kau juga Namjoon. Sudah tiga hari kau tidak pulang, apa orang tuamu tidak khawatir? Kau harus pulang malam ini." Ucap Seokjin. Namjoon menggeleng, "ini rumahku. Aku yang membeli semua perabotan disini."
"Aku tak pernah memintamu membeli semua ini. Ambil lagi dan bawa pulang kerumahmu sana!" balas Seokjin ketus.
Namjoon hanya mendengus lalu melanjutkan makannya, tak menggubris ucapan Seokjin barusan. Ketiga namja lainnya pura-pura tak mendengar apapun dan melanjutkan makannya dalam tenang. Meski dalam hati Joungkook menyetujui ucapan Seokjin, yah walaupun ia juga tak menolak pemberian Namjoon, hehe.
.
.
.
Ini pertama kalinya dalam hidup Seokjin berbagi ranjang dengan orang lain. Lupakan soal Joungkook dan kejadian malam saat ia mabuk. Karena sekarang, dalam keadaan ia yang benar-benar sadar, ia membiarkan sesosok makhluk bernama Kim Namjoon berbaring disampingnya, tepat disampingnya, di atas ranjang yang sama, bahkan berbagi selimut.
"Astaga, Kim Namjoon! Sudah beruntung aku membiarkanmu tidur seranjang denganku, kenapa kita juga harus memakai selimut yang sama?! Ambil selimutmu sendiri!" Seokjin berteriak frustasi. Karena sejujurnya, sejak Namjoon berhasil mengusir Hoseok dan Joungkook pergi mengantarkan Taehyung pulang – yang astaga! Haya lima rumah dari sini – Namjoon sudah merengek untuk tidur bersamanya.
"Ini ranjangku, ini juga selimutku, jadi terserah aku mau menggunakannya." Jawab Namjoon santai. Ia berbaring menyamping dan memandang Seokjin yang menghembuskan nafasnya kasar. Namja cantik itu telentang dan berada di paling ujung ranjang, menjaga jarak sejauh-jauhnya dari Namjoon.
"Kalau begitu biarkan aku tidur di ruang tamu, atau kamar Joungkook. Aku lebih baik tidur dengan Joungkook daripada tidur denganmu." Ucap Seokjin kesal. ia segera bangun dan bersiap turun dari ranjang. Namun gerakan Namjoon lebih cepat untuk menahan lengan Seokjin menjauh dari sisinya, ia kembali menarik namja cantik itu dan membuatnya telentang. Kali ini lengannya memeluk erat-erat pinggang Seokjin.
"Sofa depan TV juga aku yang membelinya. Ranjang Joungkook juga, jadi kau juga tak berhak kemana-mana." Ucap Namjoon. Ia mengeratkan pelukannya saat merasakan Seokjin memberontak.
"baiklah! Kalau begitu biarkan aku tidur di lantai! Atau biarkan aku tidur diluar malam ini?!"
Namjoon melepas pelukannya dan merubah posisinya hingga menindih Seokjin, tidak sepenuhnya menindih, karena ia masih menahan beban tubuhnya dengan kedua lengan yang berada di sisi kepala Seokjin. Gerakannya begitu cepat hingga Seokjin tidak sempat menghindar.
"Princess, kesabaranku sangat terbatas. Jadi, saat aku masih bersikap baik padamu, bisakah kau menurutiku? Aku tak akan menyakitimu." Bisik Namjoon dengan suara rendahnya. Suara seksi yang sungguh entah sejak kapan menjadi kelemaham Seokjin.
Jadi, saat ia sudah dalam keadaan tak berdaya seperti ini, apalagi yang bisa ia lakukan selain menangguk dan menuruti aura dominasi Namjoon?
"Y – ya. tapi bisakah kau menyingkir dari atasku?" Tanya Seokjin pelan, hampir-hampir berbisik.
Namjoon terkekeh dan mengambil kesempatan untuk mengecup bibir Seokjin, bahkan menggigit pelan bibir bawahnya.
"Kau sangat menggemaskan saat ketakutan, princess."
Seokjin mengerang dan segera berbalik memunggungi Namjoon, wajahnya memanas dengan cepat mendapati perlakuan Namjoon yang tak terduga. Dia tidak terbiasa dicium tiba-tiba seperti itu. lagipula siapa yang tidak malu jika dicium tiba-tiba dalam posisi yang sangat 'meyakinkan'! di atas ranjang pula!
Namjoon berhenti tertawa dan ganti memeluk pinggang Seokjin, ia menempelkan dadanya di punggung namja cantik itu. wajahnya berada di tengkuk Seokjin, dan bibirnya memberikan sebuah ciuman disana.
"Namjoon! Bisakah kau berhenti menciumku?" Seokjin melepas pelukan Namjoon dan berbalik menghadapnya.
Namjoon mengerucutkan bibirnya, moodnya kembali naik setelah berhasil mencuri kecupan dari Seokjin.
"Kalau begitu pelukan?"
Seokjin menggeleng, "Kita hanya akan tidur di atas ranjang sama. Itu saja."
"Hanya pelukan, aku sudah berjanji tak akan berbuat apa-apa padamu kan? Lagipula disebelah ada Joungkook, dia pasti langsung mendobrak pintu saat menderang suaramu yang berteriak."
Seokjin menghela nafasnya pasrah, alasan Namjoon cukup masuk akal.
"terserah."
Namjoon tersenyum lebar dan segera memeluk Seokjin, menempatkan tubuhnya lebih rendah hingga wajahnya menghadap dada Seokjin, ia menarik tangan namaja itu untuk memeluknya, dan Namjoon mengerang nyaman.
"Sudah lama aku tidak dipeluk seperti ini saat tidur." Gumam Namjoon yang masih samar-samar didengar Seokjin. Hal itu membuat Seokjin tersenyum kecil dan mengeratkan pelukannya, bahkan ia menepuk pelan punggung Namjoon.
"Kau seperti Joungkook saat dulu masih tidur denganku. Cih, anak itu sejak masuk SMP sangat anti kupeluk."
Namjoon tak menanggapinya dan hanya tersenyum tipis. Setidaknya untuk malam ini, ia berhasil tidur seranjang dengan Seokjin.
Kalau malam ini ia hanya bisa tidur dalam pelukan Seokjin di atas ranjang, malam selanjutnya apa yang bisa ia lakukan di atas ranjang bersama Seokjin?
Dan seringai Namjoon semakin lebar membayangkan malam-malam selanjutnya.
.
.
.
Pagi ini mungkin menjadi pagi terburuk yang pernah dialami Seokjin. Ia membuka mata dan langsung dihadiahi sebuah ciuman dengan ucapan, Morning princess.
Lalu mendapati fakta bahwa Namjoon di skors selama satu minggu dari sekolah, membuat ia terlambat 30 menit hanya untuk mengomel dan memberi nasihat disana-sini untuk Namjoon. Yang hanya ditanggapi dengan malas oleh namja nakal itu.
"Terserah dirimu saja Namjoon. Aku sudah terlambat, dan semoga kau tidak menghancurkan rumahku, jauh-jauh dari dapur. Dan kalau bisa, ambil lagi semua barangmu dan kembalikan perabotannya yang lama lalu pulang sana!"
Seokjin mengoceh lagi sebelum benar-benar beragkat kerja. Bahkan Joungkook sudah berangkat duluan sejak bermenit-menit yang lalu.
"hah~ Kim Seokjin memang penuh drama." Gumam Namjoon. Ia menyandarkan tubuhnya pada sofa dan menyalakan TV. Hari ini ia tidak berniat keluar rumah, ia ingin mendekam saja disini. Untuk urusan makan, ia bisa delivery. Apalagi lukanya juga masih sakit, tadi pagi Seokjin benar-benar tidak niat untuk mengganti perbannya, membuat nyerinya menjadi berkali-kali lipat.
"besok lagi lebih baik ke rumah sakit."
Namjoon bukannya takut ke rumah sakit, demi Tuhan! Dia Kim Namjoon! Kenapa juga takut ke rumah sakit?! Jeon Joungkook beda lagi urusannya. Ia hanya ingin dirawat Seokjin saja kemarin jadi menolak dibawa ke rumah sakit.
Namun senyum Namjoon muncul begitu saja, bukan senyum tipis ataupun seringai setengah ikhlas miliknya. Namun benar-benar senyum tulus yang sangat jarang, hampir tidak pernah ia lihatkan pada orang lain. Dan pagi ini ia berada pada standar moodnya yang tinggi.
"Rasanya diomeli tidak seburuk yang kupikir. Well, it's rather nice though."
It feels as if you are being loved.
Dan Namjoon tidak membenci perasaan itu.
Namun perasaan berbunga-bunga itu dipecahkan oleh bunyi nyaring dari panggilan masuk di ponsel Namjoon. Dan Namjoon menyempatkan diri untuk mengumpat sebelum mengangkat panggilan dari nomor yang tidak terdaftar di ponsel Namjoon. Well, hanya nomor Hoseok dan Seokjin yang ia simpan.
"ada apa?" Namjoon sudah bicara ketus bahkan sebelum orang yang menelponnya sempat untuk memberikan sapaannya.
"Kau dimana? Kudengar sudah tiga hari tidak pulang."
Namjoon mengernyitkan keningnya, ini bukan suara ahjussi park. Apalagi ahjussi juga tahu bahwa ia menginap di rumah Seokjin.
"Ini siapa?"
"astaga, Namjoon. Ini appa! Appa!"
Namjoon tertawa garing, ia tak tahu harus menanggapi bagaimana. Bahkan ia melupakan suara appanya. Ah, memang sudah berapa lama mereka tidak bertemu. Satu hari? Satu minggu? Satu bulan? Atau bahkan mungkin satu tahun? Namjoon sudah lupa.
"Ada apa menelpon, appa?" Namjoon melunakkan nada suaranya. Bagaimanapun sebenarnya ia sudah tahu alasan appanya menelepon.
"kau dimana sekarang? Appa akan pulang lusa. Dan kata ahjussi kau tidak dirumah."
"appa pasti sudah tahu aku dimana. Bahkan mungkin berikut biodata lengkap pemilik rumah yang aku tinggali."
Suara tawa dari appa Namjoon itu terdengar berat, "kau belum berubah ya, nak. Appa hanya ingin kau tinggal dirumah selama appa di Korea."
Namjoon mendengus kasar, "aku tidak bisa janji."
"Kau pasti tahu akibatnya jika tidak menurut."
"Appa mengancamku?"
"apa itu terdengar seperti ancaman?"
"appa juga tidak berubah."
"Yah, tidak bisa berubah begitu saja. dan kudengar kau membuat masalah lagi di sekolah. Apalagi kali ini?"
"Appa pasti sudah tahu kejadian aslinya."
"apa kau harus begitu ketus pada appamu?"
"Yah, tidak bisa berubah begitu saja." Namjoon meniru kalimat yang diucapkan appanya tadi.
"baiklah, kita bicarakan saat appa sudah sampai Korea. Ingat, kau sau-satunya penerus appa, jangan buat malu."
Namjoon tak menanggapi kalimat itu dan langsung melempar ponselnya ke atas meja begitu saja.
"mengganggu liburan saja." gumam Namjoon kesal. Ia sudah akan memejamkan matanya sebelum ponselnya kembali berbunyi.
"APA?!" Namjoon langsung membentak begitu panggilannya ia angkat. Bahkan ia tak repot-repot melihat siapa yang menelpon. Lagipula buat apa? Paling hanya nomor asing.
"Woa, woa, calm there!"
Namjoon manarik nafasnya dalam-dalam dan menjauhkan ponselnya untuk melihat yang menelpon, suaranya familiar, "ada apa menelpon, Hoseok ah?"
"aku hanya mengingatkan, nanti malam kita tampil lagi."
"Ah, converse? Aku tak akan lupa."
"baiklah kalau begitu."
"kau menelpon hanya untuk memberitahuku itu? ini masih jam 10 pagi, kita baru akan tampil jam 10 malam nanti. Kenapa kau menelpon sepagi ini?"
"sekolah memebosankan tanpamu."
"sudah kuduga. Kututup telponnya."
"Ya Nam – "
Dan Namjoon langsung memutus panggilannya begitu saja. ia tak mempedulikan temannya yang kelebihan energy itu.
"aku perlu istirahat."
.
.
.
TBC
Entah kenapa, Taehyung paling OOC di fic ini~ maafkan ya :'(
Dan aku tengah sibuk mempersiapkan semester baru, maaf ya semakin ngaret updatenya~
Love you all! Dan sepertinya chapternya semakin panjang deh, maaf ya~
Dan terima kasih atas waktunya untuk membaca dan reviewnya~ Love love love 3
