:: Remember Me ::

::

::

KookV

::

::

January, 2016.

Kim Taehyung, pemuda berusia 21 tahun baru saja mematut dirinya didepan cermin setinggi tubuhnya. Terlihat manis dengan balutan sweater biru muda dan jeans yang melekat di kaki nya. Lantas menghela napas, hari ini tepat manusia akan menapaki tahun baru, dengan harapan baru yang lebih baik. Begitu juga dengan dirinya, meskipun, harapan setiap tahun dihari ulang tahunnya kemarin dan di awal tahun selalu sama. Harapan akan bertemu kembali dengan seseorang yang sudah lama tidak ia lihat. Meskipun sudah 12 tahun harapan dan doa itu belum juga terwujud. Tapi Taehyung percaya, percaya pada Tuhan bahwa suatu saat nanti harapan serta doanya akan terwujud. Maka dari itu, Taehyung selalu menjalani kehidupannya dengan penuh optimis, sebisa mungkin selalu tersenyum.

"Taetae hyuuuuung~~~ buka pintunyaaaa~~~"

Rengekan sekaligus teriakan, dan jangan lupakan ketukan nyaring dari pintu kamarnya membuat Taehyung menuntaskan lamunannya dan berjalan membuka pintu. Terlihatlah anak menggemaskan dengan pipi chubby, rambut mangkok yang sangat menggemaskan, bibir maju beberapa senti.

"Minguk-ie, ada apa?" tanya Taehyung kemudian mensejajarkan tinggi nya dengan tinggi bocah 6 tahun itu.

"Ayo kebawah, yang lain sudah menunggu.."

"Untuk?" dahi Taehyung mengerut, sedikit bingung karena seingatnya pagi ini dia dan anak-anak yang lain tidak memiliki acara apapun.

"Kasih hadiah buat hyung-ie.."

"Eoh?"

"Kemarin anak-anak ingin memberikan hadiah untukmu. Tapi kau malah ketiduran. Jadi mereka berjanji untuk memberikan hadiah itu pagi ini."

Sebuah suara membuat dua kepala itu menoleh kearah pemuda manis yang berdiri dengan bersandar pada pembatas tangga menuju lantai dua ini. Min Yoon Gi, pemuda dengan kulit putih pucat itu berjalan menghampiri Taehyung dan Minguk. Mengelus rambut bocah itu sebentar kemudian menatap Taehyung.

"Kemarin, rencananya anak-anak akan memberikan hadiah ulang tahun padamu.. tapi kau malah sakit… "

"Ah, aigoo~ maafkan hyung ya?" ujar Taehyung sambil membawa Minguk kedalam gendongannya. "Sekarang ayo kita kebawah, yang lain sudah menunggu kan?" lanjutnya.

"Ne! Semuanya sudah menunggu! Kkaajaaaa~~~" dengan semangat, Min Guk melonjak-lonjakkan tubuhnya dalam gendongan Taehyung, membuat pemuda manis itu kaget, takut bocah itu akan terjatuh.

"Minguk-ie sama hyung ya?"

Suara lain mengalihkan atensi ketiga orang itu.

"Jimin-ie hyuuuuung~~~" teriak Minguk sambil tangan yang ia rentangkan.

"Taetae hyung masih sakit, jadi digendong sama hyung saja ya?"

"Ne, ne. ayooo kebawaaah hyuuung~~"

Ji Min langsung berjalan menuruni tangga diikuti Taehyung dan Yoon Gi. Memang semalam dia terserang demam, suhu tubuhnya tinggi dan membuat rencana anak-anak yang akan memberi kejutan ulang tahun pada Taehyung gagal.

"Jimin kapan datang nya?" tanya Taehyung saat ia dan Yoongi berjalan beriringan di tangga.

"Pagi sekali! Kata suster Ahn jam lima pagi dia sudah datang." Nada ketus terdengar dari Yoongi membuat Taehyung terkekeh geli.

"Dia bersemangat sekali datang kesini.." komentar Taehyung.

"Huh! Memangnya dia pengangguran apa? Pagi-pagi sudah datang kesini. Lagipula kenapa dia sering sekali kesini. Hampir setiap hari Tae~"

"Hyung ini, itu karena dia ingin bertemu dengan mu.."

Yoongi mengerutkan dahinya. "Maksudmu apa?"

"Hyung, Jimin-ie itu menyukai hyung, memangnya hyung tidak sadar apa?"

Min Yoongi langsung terdiam. Rona merah terlihat dikedua pipinya, membuat wajah pucat itu terlihat lebih manis.

Menyukaiku?

"A-apa maksudmu? Ish! Jangan mengada-ada!"

Taehyung hanya tertawa mendengar gerutuan khas dari kakaknya itu. Taehyung yang sudah berada di ruang tengah, melihat anak-anak panti ini tengah duduk manis di karpet lembut berwarna hijau. Ada kado ditangan mereka. Semua suster di panti asuhan ini juga berkumpul. Membuat Taehyung merasa senang sekaligus merasa bersalah karena menggagalkan rencana mereka kemarin.

Akhirnya, anak-anak dipanti asuhan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Taehyung tepat saat pemuda itu duduk dihadapan mereka. Setelahnya mereka berebut untuk memberikan kado kepada Taehyung. Selang satu jam, suster Ahn meminta anak-anak yang lain untuk pergi bermain. Dan kini tinggal dirinya bersama Taehyung, Yoongi, dan Jimin.

"Hadiah itu mereka sendiri, dari uang jajan yang mereka tabung.." ujar suster Ahn. Membuat Taehyung merasa terharu sekali.

"Ah, mereka selalu pintar membuatku terharu…" ujar Taehyung sambil menatap satu-satu kado dihadapannya.

Sedetik kemudian, Taehyung menatap Yoongi. Dengan senyum yang penuh makna. Membuat decakan sebal dari Yoongi.

"Ck. Iya. Ini, hadiah dariku.. bukalah…"

"Hehehe…" tawa Taehyung selalu menjadi salah satu kegembiraan tersendiri bagi Yoongi. Yoongi selalu ingin Taehyung bahagia, tidak ada lagi hal menyedihkan yang harus Taehyung alami. Yoongi akan selalu menjadi kakak yang akan melindungi, menjaga, dan menyayangi Taehyung, sehingga raut bahagia akan selalu ada di wajah manis adiknya itu.

"Wuah~~ ini benar untukku hyung?" seru Taehyung begitu gembira melihat sepatu impiannya ada ditangannya. Matanya berbinar menatap sepatu itu seolah sedang melihat berlian mahal.

"Ck. Tentu saja untukmu! Kau suka?"

"Suka sekali! Gomawo hyung-ie~~" sebuah pelukan didapat Yoongi membuat pemuda itu tersenyum. Meski dia masih merasakan hangat dari tubuh Taehyung.

"Lalu kau Jim? Mana hadiah untukku?"

"Kau ini, meminta hadiahnya lembut sedikitkan bisa.." keluh Jimin

"Seperti?"

"Jimin hyung-ie~, mana hadiah untukku~?" contoh Ji Min dengan wajah tersenyum manis.

Mata Taehyung mengerjap beberapa kali melihat sahabatnya bertingkah aegyo seperti itu. Lucu sih, tapi terasa menggelikan dimatanya melihat Jimin melakukan aegyo seperti itu.

"Haruskah?"

"Tidak perlu. Ini hadiah dariku." Jimin memberikan sebuah amplop berukuran panjang.

"Apa ini? Cek?"

Tebakan Taehyung mengundang tawa dari tiga orang disana. Taehyung memang menggemaskan meski kini dia sudah berusia 21 tahun.

"Buka saja."

"I-ini.. Ji- Jimin-ah, ini…"

"Kau suka?" tanya Jimin dengan menaik turunkan alisnya.

"Suka sekaliiii! Gomawo Jimin-ah~~" Taehyung memeluk Jimin, senang sekali karena akhirnya dia bisa pergi ke Namsan Tower.

"Hahaha… nanti lusa kita kesana…" ujar Jimin sambil membalas pelukan sahabat tersayangnya. Apapun, apapun akan Jimin berikan asal melihat Taehyung bahagia.

"Nah, dari suster Ahn mana?"

Suster Ahn tersenyum lembut, suster dengan sifat keibuan itu memberikan sebuah foto album kepada Taehyung.

"Foto album?" ini Yoongi, yang merasa heran dengan hadiah dari suster favorite Taehyung itu.

"Ini kumpulan foto Taehyung dari awal Taetae disini sampai usia 20 tahun.. kau bisa melihatnya nanti Tae…"

Taehyung menatap foto album itu, matanya sedikit memanas melihat gambar yang ada dicover album itu. Ada gambar dirinya yang berusia 3 tahun, disampingnya ada balita menggemaskan dengan pipi tembam dan mata indahnya. Dibelakang mereka ada Yoongi yang berusia lima tahun. Taehyung tidak sadar bahwa suster Ahn sudah meninggalkan tempat itu, Taehyung juga tidak sadar jika Yoongi dan Jimin menatap sedih sekaligus cemas padanya.

Taehyung membuka album itu. Dihalam pertama dia lihat foto dirinya yang masih bayi, Taehyung tidak ingat apapun tentang itu. Yang pasti foto itu diambil saat awal-awal dia ada dipanti asuhan. Dia berakhir dipanti asuhan karena dibuang oleh orang tuanya, menyedihkan memang, tapi Taehyung tidak pernah menyalahkan takdirnya itu. Beberapa halaman penuh dengan fotonya. Dihalaman kelima, matanya terpaku pada sosok menggemaskan yang duduk berdampingan dengannya. Taehyung ingat, itu fotonya saat ia berusia tujuh tahun dan sosok disampingnya berusia enam tahun. Foto itu diambil saat Taehyung akan pergi ke sekolah dihari pertama nya.

"Hyuuung jangan pergiiiii~~~" rengekan dari anak disampingnya terdengar kembali. Dari tadi anak itu terus mengikuti kemana saja ia pergi, tidak ingin sekalipun berjauhan dengan Taehyung. Sekarang, anak itu menggenggam dengan erat kemeja sekolah Taehyung, mata bulatnya pun sudah berair, siap untuk meluncurkan cairan bening. Dia tidak ingin ditinggal Taetae hyung nya.

"Taetae harus pergi… Taetae kan sekolah dulu… Kook-ie disini…"

"Tidak mau! Tidak mau! Tidak mauuuuuu!" jeritan keras disusul dengan tangisan dari anak itu terdengar memilukan. Semua suster sudah berusaha untuk membujuk anak itu agar berhenti menangis dan membiarkan Taehyung pergi sekolah, termasuk Yoongi dan Taehyung. Bahkan sekarang Yoongi sudah angkat tangan dan hanya menjadi penonton.

"Taetae sekolahnya sebentar kok, Kook-ie sama suster Ahn dulu yaaa? Kookie kan anak baik…"

"Shireeeeooooo~~~ huweeeee~~ Kookie ingin sama Taetae, sama Taetae!" anak itu kembali menjerit dan tangisannya semakin keras, bahkan anak itu mulai terbatuk dengan wajah memerah akibat tangisannya. Membuat semua orang cemas, termasuk Taehyung.

Taehyung sebenarnya sangat bersemangat untuk pergi sekolah, menerima pelajaran, dan memiliki teman baru. Semalaman Taehyung memikirkan bahwa sekolah pasti akan sangat menyenangkan. Tapi,, melihat anak yang duduk disampingnya dengan tangisan parah, matanya menatap kearahnya, tatapan memelas ingin dituruti, tangan mungil yang terus menggenggem kemejanya. Membuat Taehyung merasa sedih, dia tidak tega membiarkan Kookie menjadi sesedih ini.

"Kookie ikut Taetae bagaimana?" sampai akhirnya ajakan itu membuat Kookie langsung menganggukkan kepalanya semangat, meski air mata masih mengalir.

"Kalau begitu Kookie jangan menangis lagi.. nanti Taetae jadih sedih…" anak yang dipanggil Kookie itu langsung menghapus airmatanya dengan lengan kaus merahnya.

"Nah, Kookie ganti baju dulu, cuci muka. Taetae akan tunggu disni.. oke?"

"Oke. Jangan ditinggal!"

"Tidak akan…"

"Kook-ie.." panggilan itu begitu lirih dan terdengar menyedihkan bagi dua orang yang masih setia duduk disamping kanan kiri Taehyung.

Taehyung masih ingat dengan jelas setiap lekuk wajah dari anak itu. Kookie, Jungkook, anak yang begitu dekat dengannya. Mereka tidak bisa terpisahkan. Baik Taehyung maupun Jungkook tidak mau jika harus berjauhan. Meski hatinya mulai merasakan sakit, tapi tidak ada atau belum ada air mata yang keluar dari mata indah Taehyung. Tangan lentiknya kembali membuka halaman selanjutnya. Ada beberapa foto dirinya sendiri, bersama Yoongi, dan bersama Jungkook. Tangannya mengusap wajah Jungkook yang sudah terlihat tampan meski saat foto ini diambil Jungkook masih berusia delapan tahun. Tahun dimana Taehyung merasa sebagian dari dirinya hilang. Tahun dimana dia harus merelakan Jungkook bersama keluarga baru. Tahun dimana dia menanamkan janji dan kepercayaan diantara mereka berdua.

Taehyung menatap Jungkook yang sedang bermanja dengan seorang anak yang berusia 3 tahun diatasnya. Namanya Seokjin, anak yang sangat baik, dia sudah seperti kakak bagi semua anak-anak dipanti termasuk dirinya. Semuanya menyukai sosok anak itu. Setahun terakhir ini Seokjin sering sekali mengunjungi panti asuhan, tepatnya sejak sang ayah menjadi donatur tetap bagi panti asuhan ini. Taehyung senang, sangat senang mendapatkan satu lagi kakak yang sangat baik. Tapi, ada perasaan tidak menyenangkan dari dalam hatinya sejak Seokjin sering kesini. Jungkook jadi lebih sering menghabiskan waktunya bersama Seokjin. Jika Seokjin ada disini, Jungkook seolah lupa dengan kehadirannya. Taehyung tidak menyalahkan bahkan membenci Seokjin. Tidak. Taehyung menyayanginya, sama seperti anak yang lain. Tapi sekali lagi, ada perasaan sedih saat melihat Jungkook lebih sering bersama Seokjin.

"Kookie~~~" Taehyung berlari menghampiri Jungkook yang sedang duduk disofa, menonton kartun sore hari, dengan toples cookies ditangannya.

"Taetae hyungie~~"

Mata Taehyung memanas melihat Jungkook. Tadi, sesaat sebelum kesini, Taehyung mendengar pembicaraan antara suster Ahn dan kepala suster. Hal yang membuatnya sedih adalah,,,

"Kookie benar akan pergi?" tanya Taehyung pelan.

"Ne?"

"Tadi, Taetae dengar dari suster Ahn sama kepala suster, kalau Kookie akan pergi ke rumah Jin hyung.. benar?" dalam hati Taehyung merapal doa jika apa yang didengarnya bohong. Tapi, semua doa nya runtuh saat mendengar Jungkook menjawab.

"Benar. Jin hyung mengajak Kookie, tinggal sama appa dan eomma nya Jin hyung…"

"Terus Kookie mau? Taetae bagaimana kalau Kookie pergi?" Taehyung sudah menangis sekarang, meski tidak terdengar isakan tapi airmatanya mengalir tanpa bisa dicegah. Membuat hati Jungkook sakit melihat hyung kesayangannya sedih.

"Kookie ingin pergi, ingin punya ayah ibu lagi. Tapi kalau Taetae hyung sedih, Kookie gak akan pergi kok…"

Seketika Taehyung sadar sesuatu. Jungkook berbeda dengannya yang dibuang orang tuanya dari ia bayi. Jungkook awalnya dititipkan di panti asuhan ini karena suatu alasan, ibunya Jungkook sering mengunjung Jungkook sampai akhirnya dia benar-benar ditinggal di usianya yang ke enam tahun. Taehyung juga sadar, bahwa setiap doa yang Jungkook ucapkan, salah satunya adalah memiliki keluarga lagi, memiliki ayah dan ibu lagi. Bukankah Taehyung akan jadi anak yang nakal jika menghalangi keinginan Jungkook?

"Kookie boleh pergi kok~"

"Eh? Benarkah?" mata Jungkook membulat.

"Eum. Kookie kan dari dulu ingin punya ayah dan ibu lagi.. jadi Kookie boleh pergi kok sama Jin hyung.. lagipula Jin hyung baik sekali, jadi Kookie pasti bahagia…." Sekuat tenaga anak itu menahan tangis dan rasa sakitnya demi mewujudkan keinginan Jungkook.

"Taetae gimana? Apa mau ikut sama Kookie?"

Taehyung menggelengkan kepalanya, kemudian memberikan senyum kotak andalannya.

"Tidak mau. Taetae tidak akan pergi. Taetae lebih suka disini.." memang benar, Taehyung memang bertekad akan menghabiskan seluruh waktunya ditempat ini.

"Tapi-"

"Pokoknya, Kookie bisa pergi sama Jin hyung.. asal Kookie senang, Taetae juga senang…"

"Benar?"

"Benar sekali! Tapi jangan lupakan aku ya?"

"Tidak akan pernah. Kookie akan ingat selamanya sama Taetae.."

"Janji?" Taehyung mengulurkan kelingking kanannya, pinky promise.

"Janji.." Jungkook menyambut uluran jemari Taehyung, membuat pinky promise.

"Tae sayang Kookie.."

"Kookie juga sayang Taetae.."

Keduanya berpelukan erat sekali. Terlebih Taehyung, anak itu seolah ingin mengingat bagaimana pelukan Jungkook. Entah bagaimana, Taehyung merasa ini adalah pelukan terakhir mereka. Taehyung merasa mereka tidak bisa bertemu lagi.

Tes

Tes

Tes

Yoongi tidak bisa menahannya lagi, segera dia peluk Taehyung yang kini sudah menjatuhkan airmatanya. Dia tidak bisa membiarkan Taehyung kembali dalam lamunannya tentang kenangan seorang Jungkook. Mata Yoongi ikut memerah, pemuda itu jarang sekali menangis, tapi tiap kali melihat Taehyung sedih bahkan sampai menangis, membuatnya tidak bisa menahan air matanya.

"Sudah, Tae, kau masih sakit…" ujar Jimin sambil mengelus kepala sahabatnya penuh kasih.

"Aku merindukannya, hyung… aku merindukkan Jungkook… hiks…" Yoongi merasa bajunya diremas dengan kuat oleh Taehyung. Biarkan saja, Yoongi tahu itu salah satu melampiaskan perasaan sakit dihatinya. Yang bisa dia lakukan adalah memberikan pelukan, memberi tahu bahwa masih ada dirinya yang siap menjadi sandaran Taehyung kapanpun.

"Ini sudah lama sekali… Jungkook belum juga menghubungiku,, dia tidak pernah menghubungiku sejak dia pergi bersama Jin hyung… dia melupakanku, hiks.. dia melupakanku.. Kookie melupakanku hyuuung…."

Jatuh sudah pertahanan Yoongi, airmatanya ikut terjatuh mendengar tangisan Taehyung yang lebih keras dan lebih menyakitkan. Memang benar, sejak Jungkook pergi bersama keluarga Seokjin, belum pernah sekalipun Jungkook menghubungi Taehyung atau pihak panti, keluarga Seokjin juga tiba-tiba berhenti menjadi donatur bagi panti. Semuanya hilang, seperti ditelan bumi. Taehyung sudah berusaha semampunya untuk mencari Jungkook, tapi tidak ada jejak sedikitpun dari anak itu. Membuat kepercayaan Taehyung memudar, meski dengan sekuat tenaga Taehyung kembali membangun kepercayaannya kepada Jungkook.

"Aku merindukannya, aku sangat merindukannya, hyung…"

::

::

KookV

::

::

Oke. Selesai untuk chapter 1… Bagaimana untuk chapter ini? Ini masih pembuka…

Apa aku harus buat Taetae nya lebih menderita lagi? Lebih sakit lagi?

Kira-kira kemana Kookie? Kenapa dia tidak menghubungi Taetae?

Terus, kira-kira Yoongi suka nggak ya sama Jimin?

Hahaha… tanpa banyak omong lagi…

Minta review nya chingu-deul…..

Dan buat just love u series tetap tunggu ya chapter selanjutnya.. hehe…

Oh ya, congrats for BTS.. mereka menang dua penghargaan di AAA kan?