:: Remember Me ::

::

::

::

KookV

::

::

::

January, 2016.

.

.

.

.

.

.

Yoongi mengerang dalam hati. Ini masih jam lima pagi, demi Tuhan! Kenapa dia dibangunkan sepagi ini? Siapa yang berani mengganggu tidur tenangnya? Akan dia beri pelajaran orang yang berani mengganggu waktu tidurnya. Itulah rutukan yang tertahan dari Min Yoongi saat melihat bahwa Taehyung lah yang membangunkan tidur nyenyaknya. Hanya menghela napas karena seorang Min Yoongi tidak bisa marah pada bocah polos didepannya ini. Yoongi akhirnya memutuskan untuk bangun, duduk dan menatap Taehyung dengan wajah datar seperti biasa.

"Ada apa tae? Ini bahkan belum jam 6. Kau tahu kan aku bisa bangun sendiri tanpa harus dibangunkan?" ujarnya, terdengar datar dan sinis. Tapi Yoongi berani bersumpah bahwa bukan seperti itu yang sebenarnya. Salahkan wajah datar bawaannya.

Taehyung, orang yang sudah bertahun-tahun mengenal Yoongi, dia sudah hapal bagaimana watak kakak kesayangannya itu. Jadi Taehyung hanya memberikan cengiran lucu miliknya. Kemudian menarik Yoongi untuk berdiri yang diikuti dengan malas-malasan oleh pemuda berkulit pucat itu.

"Hyung harus cepat mandi dan bersiap. Hyung tidak lupa kalau kita akan ke Namsan Tower kan? Iya kan?"

Ah, benar. Sesuai janji dari Jimin, mereka hari ini akan pergi ke Namsan Tower. Tapi-

"Ini masih pagi Taetae.. belum buka.. Jimin juga pasti belum-"

"Dia sudah datang!" potong Taehyung semangat.

"Apa?" wajah blank Yoongi yang terlihat membuat Taehyung terkekeh geli.

"Jimin sudah datang hyung. Setengah jam yang lalu."

Yoongi hanya menggerutu dalam hati. Kenapa Park Jimin harus datang sepagi ini. Mereka bisa kan pergi agak siangan saja.

"Benar-benar. Memangnya kita akan langsung ke Namsan Tower? Belum buka. Apa kita harus menunggu sampai gedung itu buka, begitu? Membosankan!"

"Aku mengajak Taetae kerumahku.. Eomma merindukan kalian, katanya."

Jimin melenggang masuk kedalam kamar Yoongi yang dominan warna hitam dan putih. Yoongi terdiam melihat Jimin yang entah kenapa terlihat lebih tampan dari biasanya. Pemuda itu memakai jas merah menutupi dalaman hitam dengan kerah berdirinya, celana jeans melekat pas dikakinya. Sedangkan Taehyung menatap bingung Yoongi yang terdiam seketika saat Jimin masuk.

"Hyung.."

"…"

"Yoongi hyung!"

"Eh? Iya Tae?"

"Kenapa diam? Hyung melamun? Disaat seperti ini?"

"Apa? A-aku tid-"

"Dia hanya terpesona padaku."

Min Yoongi merengut mendengar kalimat dengan senyum percaya diri dari Jimin. Sebelum akhirnya, sebuah bantal berbentuk kumamon melayang kearah wajah Jimin.

"Sialan. Percaya diri sekali kau." Rutuknya kemudian tanpa menyadari rona merah yang menghiasi pipi putih itu.

"Hyung.. suster Ahn sudah bilang jangan berkata kasar…"

Dan Jimin tertawa mendengar peringatan bernada polos dari Taehyung. Kini Jimin menggiring Taehyung keluar dari kamar Yoongi.

"Sudahlah Tae, biarkan Yoongi hyung bersiap-siap."

.

.

.

.

.

.

.

Taehyung menatap jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Sudah hampir jam enam, kini dia bersama dengan Yoongi berada dimobil mewah Jimin. Taehyung duduk dibelakang, setelah memaksa Yoongi untuk duduk disamping Jimin didepan. Taehyung hanya ingin hyung kesayangannya itu bisa lebih mendekatkan diri dengan Jimin. Mata indah Taehyung melihat-lihat gedung-gedung tinggi yang berjejeran dipusat kota Seoul. Mereka akan ke apartemen Jimin. Tadinya memang akan ke rumah keluarga Park, tapi dibatalkan begitu tahu Nyonya Park ada di apartemen anaknya.

"Tae kau senang?"

Taehyung menatap Jimin yang masih fokus menyetir "Hm. Senang sekali. Sudah lama aku tidak kesini." Kemudian mengalihkan kembali pandangannya pada jendela, melihat begitu indahnya kota ini.

Dulu, Taehyung dan Jungkook memiliki keinginan untuk memilki tempat tinggal disini. Keinginan anak kecil memang, yang muncul karena melihat drama favorite suster Kim. Taehyung ingat bagaimana mata Jungkook begitu berbinar saat melihat rumah yang ada dalam drama itu. Jungkook masih berusia enam tahun saat itu, dan Taehyung juga masih ingat bagaimana semangatnya Jungkook mengutarakan keinginannya.

..

"Taetae hyuung~~ Kookie ingin punya kayak gituuuu~~ kereeeennn~~"

"Benarkah?"

"Eum! Nanti kalau Kookie sudah besar,, Kookie akan beli rumah kayak gitu.. terus Kookie, Taetae dan Yoongi hyungie akan tinggal bersamaaa~~ hehehe…"

"Taetae juga bisa ikut?"

"Tentu saja! Nanti rumah itu akan Kookie berikan pada Taetae… hehehe…"

..

Taehyung mengerjapkan matanya, berusaha menggagalkan cairan bening yang kini sudah menghiasi mata indah itu. Taehyung kembali merasakan sesak saat sekelebat kenangannya dengan Jungkook melesak masuk kedalam pikirannya. Taehyung juga ingat, cengiran lebar dengan gigi kelinci yang ditunjukkan Jungkook saat mengatakan akan memberikan rumah pada Taehyung. Saat itu, Taehyung merasa yakin bahwa dia dan Jungkook akan hidup bersama selamanya. Membangun mimpi bersama, menciptakan kebahagiaan bersama, melewati masa sulit bersama. Taehyung selalu percaya dengan itu. Tapi, kenyataan terkadang tidak sesuai dengan apa yang diyakininya.

"Taetae.. kita sudah sampai.." suara pelan penuh kasih itu terdengar, membuat Taehyung menghentikan lamunannya. Dia melihat Yoongi yang kini duduk disamping kirinya, Taehyung tidak menyadari mobil sudah berhenti beberapa menit yang lalu.

"Ah, benarkah? Kalau begitu ayo masuuukkk~~ " serunya, kembali menjadi Taehyung si ceria sambil membuka pintu mobil sebelah kanan diikuti oleh Yoongi yang keluar dari arah kiri.

"Aku sudah tidak sabar melihat Park eomonim.. ayo Jim kita masuuuk~~~" lanjutnya dan berjalan mendahului Yoongi dan Jimin. Taehyung hanya berusaha menghindari tatapan sedih dan miris dari dua orang yang selalu bersamanya itu.

"Aku bersumpah akan memukul kelinci menyebalkan itu jika nanti bertemu.." bisik Yoongi penuh dengan kekesalan.

"Ya, kau harus melakukan itu hyung.." timpal Jimin.

.

.

.

.

.

.

.

Pintu apartemen terbuka, Jimin berjalan terlebih dulu diikuti oleh Yoongi dan Taehyung. Baru beberapa langkah, mereka sudah disambut dengan suara nyaring dari Nyonya Park, sang ibu dari Park Jimin yang tetap terlihat cantik dan anggun diusianya sekarang.

"Aigooo~~ Yoongi-ya, Taetae… kemarii.."

Taehyung berlari, melewati Yoongi yang juga berjalan kearah Nyonya Park. Taehyung menyambut pelukan wanita itu dengan erat.

"Eomonim~~ Taetae rinduuuu~~"

"Aku juga merindukanmu.. anak nakal, kenapa baru sekarang kesini, huh?" tanya Ny. Park dengan nada yang dibuat kesal, Taehyung hanya membalas dengan tawa lucunya.

Yoongi merengut melihat itu. Dia juga merindukan Ny. Park, wanita itu memang memperlakukan Taehyung dan Yoongi seperti anak mereka sendiri. Dan Yoongi-Taehyung kadang kala berlomba untuk mencari perhatian dari wanita itu saat mereka bertemu.

"Eomma, Yoongi hyung juga ingin dipeluk tuh.."

Yoongi menatap tajam Jimin. Kenapa Jimin bisa bicara seenaknya seperti itu? Yoongi kan tidak mau terlihat kekanakkan dihadapan orang lain. Sedangkan Jimin menahan tawanya melihat Yoongi yang begitu menggemaskan.

"Aigoo, aigoo~~ kesini calon menantuku…"

"Hee?"

"Lihatkan Yoongi hyung, kau satu-satunya calon yang dapat diterima ibuku." Bisik Jimin sebelum Yoongi ditarik oleh Ny. Park kedalam pelukannya.

Taehyung yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Dia bersyukur, Yoongi bisa mendapatkan orang yang mencintainya sepenuh hati seperti Jimin. Taehyung yakin, kehidupan Yoongi akan semakin sempurna jika dia dan Jimin bersatu. Hmm.. andai kisahnya dan Jungkook juga seperti itu.. Aissh~ Kim Taehyung, berhenti berandai-andai!

Setelah acara berpelukan, Ny. Park mengajak ketiga orang itu ke meja makan yang sudah tersedia banyak sekali makanan. Membuat Yoongi dan Taehyung memandang makanan itu dengan penuh minat. Makanan Ny. Park adalah favorite mereka berdua.

"Lain kali, kalian berdua menginaplah dirumah, ya?" Ny. Park mengawali pembicaraan.

"Ne, eomoniiiimm…" jawab Taehyung.

"Aku sangaaat merindukan kalian berdua. Sudah lama sekali kalian tidak kemari."

Yoongi dan Taehyung hanya memberikan cengiran mereka. Membuat Ny. Park berdecak sebal.

"Oh ya, kata Jimin kau sedang sakit Tae?"

"Aku sudah sembuh kok."

"Benar?"

"Tentu saja!"

"Maaf, eomonim tidak sempat datang ke panti. Ada banyak hal yang harus dikerjakan."

"Ne, kami mengerti eomonim.." jawab Yoongi.

"Ah, Jimin-ie. Nanti setelah dari Namsan Tower, kau harus bertemu dengan seseorang yang akan bekerja sama dengan perusahaan."

"Benarkah? Kenapa aku baru tahu?" tanya Jimin heran. Karena seingatnya hari ini dia tidak memiliki agenda apapun, dia sudah mengkosongkan semua jadwalnya karena ingin menghabiskan waktu bersama Yoongi dan Taehyung.

"Mendadak memang. Eomma juga baru tahu tadi."

"Dia pasti orang berpengaruh sampai kita harus mengikuti jadwalnya, iya kan?"

"Ya kau benar, Jimin-ie. Dia CEO dari salah satu perusaahan berpengaruh didunia.."

"Aku mengerti."

.

.

.

.

.

.

.

Taehyung, Yoongi dan Jimin sampai di gedung Namsan Tower sekita jam satu siang. Jimin jujur ikut merasa senang melihat Taehyung dan Yoongi yang terlihat bahagia. Dia masih ingat betapa semangatnya Taehyung saat mereka menaiki kereta gantung tadi. Jimin juga masih ingat berapa banyak keluhan yang dikeluarkan oleh Yoongi saat mereka berjalan kaki untuk menuju menara ini. Beberapa kali mereka berhenti karena paksaan Yoongi dan membuat Taehyung menjadi kesal sendiri. Tapi sekarang, mereka bertiga benar-benar senang bisa menghabiskan waktu mereka disini. Disebuah gedung yang menjadi landmark Korea Selatan, dimana semua turis dalam negeri atau luar negeri merasa wajib kesini jika mereka mengunjungi Seoul. Setelah ketiganya beristirahat sejenak di café, mereka memutuskan untuk masuk kewilayah gembok cinta dilantai atas. Ini keinginan Taehyung sebenarnya, pemuda manis itu lebih tertarik dengan deretan gembok cinta dipagar daripada gembok cinta yang dipasang seperti pohon dilantai bawahnya.

Masing-masing dari mereka membawa gembok dengan warna berbeda. Ketiganya duduk disebuah bangku disana.

"Apa yang akan kau tulis, hyung?" tanya Jimin melihat Yoongi yang terlihat seperti sedang berpikir keras.

"Bukan urusanmu." Jawab Yoongi, datar seperti biasa.

"Kau akan menuliskan nama kita berdua kan? Iya kan?" dengan kedua alis yang dinaik turunkan, Jimin menggoda Yoongi.

Taehyung tertawa melihat Yoongi menarik beanie hat Jimin sampai menutupi wajahnya.

"Ck. Sudah kubilang bukan urusanmu." Jawabnya kemudian.

Ketiganya kemudian diam dengan kegiatan masing-masing. Jimin dengan senyuman manisnya menuliskan "Park Jimin love Min Yoongi" kemudian merasa geli sendiri. Tapi tidak apa-apa, karena dia memang mencintai orang itu. Min Yoongi sendiri masih ragu untuk menuliskan nama dibawah namanya. Wajahnya terangkat melihat Taehyung dan Jimin, merasa kedua orang itu masih sibuk menulis, Yoongi menundukkan wajahnya. Pemuda berkulit pucat itu berusaha menutupi kertas yang sedang ia isi dengan coretan sebuah nama. Yoongi tidak mau jika ada yang melihatnya. Kemudian, Yoongi tersenyum puas melihat nama Jimin yang ia tulis dibawah namanya dan langsung melipat kertas itu. Tetap tidak ingin ada yang tahu.

Sedangkan Taehyung, matanya masih menatap kertas yang sudah berisikan namanya. Haruskah dia menulis nama Jungkook? Apakah boleh? Apa, jika ia menuliskan nama itu, dia bisa bertemu lagi? Ah, Taehyung tidak peduli. Yang jelas, saat ini dia ingin mewujudkan salah satu keinginannya. Maka Taehyung menuliskannya.

[ Taetae & Kookie

Bersama selamanya

Saranghae]

Taehyung menghela napas sejenak sebelum akhirnya berdiri menyusul Jimin dan Yoongi yang sudah berjalan menyusuri pagar, memilih dimana tempat untuk menaruh gembok mereka.

"Hyung, Taetae, disini saja.." seru Jimin. Taehyung langsung menghampiri sahabatnya itu.

"Shireo!" namun Yoongi menolak.

"Wae?" Tanya Taehyung, heran.

"Aku mau disini saja.." jawab Yoongi, pemuda itu memang berdiri agak jauh dari Taehyung-Jimin.

"Baiklah, aku juga-"

"Andwe!"

Jimin langsung menghentikan langkahnya dan menatap heran bersama Taehyung. Ada apa dengan hyung nya ini? Aneh sekali.

"Wae?" tanya Jimin.

"Pokoknya tidak boleh!"

Jimin tidak mempedulikan larangan Yoongi, kakinya tetap melangkah dengan Taehyung yang tetap diam melihat kejadian lucu ini.

"Ya, Ya, Park Jimin! Kau tidak boleh kesini! Pasang saja gembokmu disana, bersama Taetae. Aku disini." Seru Yoongi, wajahnya terlihat panik saat Jimin tetap saja melangkah.

"Memangnya kenapa hyung? Aku hanya ingin memasang gembok ini bersamamu.."

"Andweeee~~" Taehyung benar-benar tidak mengerti dengan Yoongi. Kenapa dia tidak ingin memasang gembok bersama dengan Jimin? Jika memang tidak mau, kenapa hyung nya itu hanya berteriak saja tapi kakinya tetap tidak melangkah, seolah memang menunggu Jimin menghampirinya.

"Kenapa hyung?" akhirnya Jimin sudah berdiri disamping Yoongi.

"Kenapa kesini sih?"

"Kan sudah kubilang tadi, aku hanya ingin memasang gembok dengan hyung.. ayo, pasang disini.."

Min Yoongi merutuk hati dan pikirannya yang selalu tidak sejalan jika sudah berhubungan dengan seorang Park Jimin. Pikirannya sudah berteriak dia harus menghindar, tapi hatinya menahan kakinya untuk bergerak. Malah hatinya berdebar penuh gembira saat Jimin berada disampingnya.

"Baiklah, terserah kau saja."

Taehyung akhirnya tersenyum melihat Yoongi dan Jimin memasang gembok bersama. Taehyung meraih ponselnya dan dengan cepat mengabadikan momen ini. Dan Taehyung tersenyum puas melihat hasil jepretan diponselnya, Jimin dengan senyum lebar dan Yoongi dengan wajah memerah. Setelah itu, Taehyung tersenyum miris menatap gembok yang sedang ia pasang. Taehyung hanya berharap, apa yang ia tulis bisa menjadi kenyataan.

"Jungkook-ie,, cepatlah kembali.. aku merindukanmu…"

.

.

.

.

.

.

.

London, January 2016.

Seorang pemuda tampan masih termenung ditempat tidurnya. Dia baru saja terbangun dengan keringat yang membasahi tubuh atletisnya, mimpi itu kembali mengganggu tidur pulasnya. Mimpi yang terasa menyenangkan sekaligus menyakitkan. Menyenangkan karena dimimpi itu dia melihat sosok dirinya versi kecil sedang tersenyum lebar kadang tertawa lepas, menyakitkan karena didalam mimpi itu, dia sedang bersama seseorang tapi, dia tidak ingat siapa orang itu. Di awal mimpinya, wajah orang itu tidak jelas. Akan tetapi, semakin lama, semakin sering mimpi itu hadir disetiap tidurnya, wajah itu semakin jelas. Pemuda itu yakin, jika orang yang ada dalam mimpinya ada sosok yang penting untuknya, tapi siapa?

"Sshh…"

Pemuda itu meringis sakit begitu merasakan kepalanya berdenyut saat memaksa untuk mengingat siapa orang yang hadir dalam mimpinya.

"Jungkook-ie, kau sudah bangun sayang?"

Pemuda itu –Jungkook- mengalihkan atensinya kearah pintu kamarnya. Jungkook langsung duduk dengan senyuman yang membuatnya semakin tampan, menyambut sosok manis yang kini berjalan kearahnya.

"Jin oppa bilang kalian akan kembali ke Korea, benar?"

Jungkook tersenyum, melihat wanita itu memasang wajah sedih. Ditariknya sosok itu sampai duduk dipangkuannya, tangan Jungkook melingkar dipinggang sosok manis itu.

"Hmm. Bukan kami saja, kau juga."

"Aku juga? Benarkah?"

"Eum. Tentu saja. Calon istriku tidak boleh berpisah denganku.."

::

::

KookV

::

::

TBC

..

..

Oke.. selesai untuk chapter ini, semoga tidak mengecewakan.. hehe…

Aku mau minta saran, kan tadi diatas ada cast buat calon istri Jungkook. Bantu pilih ya

1. Lebih baik dikasih cewek aja atau cowok?

2. Kalau cewek lebih baik OC atau ngambil dari girlgroup/artis? Kalau dari gg/artis bisa kasih saran siapa yang pantes?

3. Kalau cowok bisa pilih dari boyband mana yg panters buat Jungkook?

Naaah, kasih tahu ya pas kalian review buat chapter ini.. hehe…

Terima kasih buat yang udah review dichapter kemarin, aku baca semua review nya kok..

Jangan lupa kasih jejak, kasih respon buat part ini yaa, biar aku lebih semangat lagi ngelanjutinnya… hehe…