Tittle : Hold Me Tight

Author : Kim Joungwook

Pairing : NamJin

Length : 8 of

Genre : Romance

Summary :

Warning : Shounen-ai, BoyXBoy. Typo(s). Don't Like Don't Read!

.

.

.

BTS

.

Suasana hati Seokjin 3 hari ini berada di tingkatan paling atas. meski Namjoon sudah tiga hari ini juga tidak lagi menginap di rumahnya, tapi setiap hari, bahkan hampir setiap jam namja itu selalu mengirim pesan kepadanya. Entah itu pesan yang dapat membuat pipi Seokjin merona, hingga pesan yang membuat Seokjin tertawa terbahak-bahak. Setelah sekian tahun tak lagi memiliki kekasih, ia merasa seakan memiliki seorang kekasih lagi dengan segala pesan yang dikirimkan oleh Namjoon tiga hari ini.

From: Namjooniee~3

Bahkan nama yang ia simpan di ponselnya tak ia ganti, meski ia tahu, bahwa Namjoon sudah membuka ponselnya tanpa ijin, tapi siapa peduli? Lebih penting memikirkan keadaan jantungnya yang sudah tak menentu sekarang.

Kencan akhir minggu ini. Aku jemput.

Seokjin terdiam. Wajahnya tak lagi menampakkan sebuah senyuman. Padahal setengah jam sejak ia pulang dari kantor dan hanya duduk santai di depan TV, ia sudah dibuat tersenyum seperti orang gila oleh pesan-pesan cheesy yang dikirim Namjoon untuknya.

Tapi, mendapat pesan terakhir itu, entah kenapa senyumnya hilang meski pipinya masih merona.

"Apa-apaan ini?! Ia bahkan tidak menanyakan ketersediaanku! Ini namanya perintah! Perintah!"

"Sudahlah, hyung juga mau. Tak usah sok jual mahal."

Tiba-tiba suara Joungkook menimpali dari belakang, bahkan adiknya itu ikut mengintip layar ponselnya.

Seokjin menoleh ke belakang dan memukul kepala Joungkook yang tengah menunduk di bahunya, "Yah! Dasar tidak sopan?!"

Joungkook terkekeh dan berjalan memutari sofa untuk ikut duduk disamping Seokjin.

"jadi, sudah resmi nih sama Namjoon hyung?" Joungkook bertanya sembari menaik turunkan alisnya menggoda. Seokjin yang diberi pertanyaan dan tatapan menggoda seperti itu semakin merona parah, bahkan sampai ia mengipasi wajahnya sendiri.

"Siapa yang resmi, hah? Kau pikir kita mau menikah?!" jawab Seokjin ketus. Ia memalingkan wajahnya dari Joungkook dan berpura kembali sibuk dengan ponsel ditangannya.

Joungkook terkekeh dan dengan sengaja mengusap rambut Seokjin, "Tak apa, seokjinnie, tak apa kok menikah dengan Namjoon hyung." Bahkan bersikap seakan-akan lebih tua dari kakaknya itu.

Seokjin mendelik tajam dan sekali lagi memukul kepala Joungkook, "Seokjinnie?! Yah! Kau sungguh tak sopan, Joungkook ah. Panggil aku hyung~" Joungkook tertawa puas, meski kepalanya harus rela terkena pukulan mematikan milik kakak lelakinya itu.

"Makan diluar yuk, hyung!" ajak Joungkook tiba—tiba.

Seokjin menaikkan salah satu alisnya, memandang wajah Joungkook ragu, "Makan diluar? Kau tak ingin hyung masakkan sesuatu?"

"tidak. Aku ingin makan diluar berdua berama hyung. Sudah lama tidak makan malam berdua. Apalagi besok setelah Namjoon hyung sudah resmi dengan hyung, pasti hyung akan selalu berdua dengan namja itu."

Seokjin menatap tajam ke arah Joungkook yang sudah berdiri, bersiap pergi dari sana.

"Resmi apanya sih! Jeon Joungkook jangan kabur! Kemari kau!"

.

.

.

Seokjin akhirnya luluh – walau memang awalnya ia tak berniat menolak – dan makan malam diluar berdua dengan Joungkook. Dan namja Jeon itu yang memilih, Lamb skewer. Anak itu sedang tergila-gila dengan daging yang cukup mahal itu.

"jadi sebenarnya, bagaimana hubungan hyung dengan Kim Namjoon?" tanya Joungkook setelah 15 menit keduanya hanya diam dengan makanan masing-masing.

Seokjin mengedikkan bahunya, "hubungan apa? Aku dan Namjoon tidak ada hubungan apa-apa."

Joungkook mendengus geli mendengar jawaban dari hyungnya itu, "tidak ada hubungan tapi saling berkirim pesan dan saling berbagi berciuman."

Kepalan tangan Seokjin langsung mendarat di kepala Joungkook, bahkan menekannya dengan kekuatan penuh, "aku dan Namjoon tidak berciuman sembarangan! Dan memang kau tidak berkirim pesan dengan temanmu, hah?!" tangan Joungkook langsung berusaha mengusap kepalanya, karena rasa nyeri akibat pukulan Seokjin tidak main-main.

"Hyung ingin membunuhku?!" teriaknya sebal.

"makanya, jangan mengatakan hal aneh-aneh."

"ngomong-ngomong, dimana Namjoon hyung sekarang? Aku sudah tidak melihatnya 3 hari ini." Tanya Joungkook begitu kepalanya sudah tak nyeri lagi. Ia tak mau lagi terkena pukulan mematikan Seokjin yang sudah 3 kali ia dapatkan sejak membahas mengenai hubungan kakaknya dengan Namjoon.

"aku tak tahu. Mungkin diumahnya." Jawab Seokjin asal. "dia juga punya rumah untuk ditinggali."

Lalu secara aneh kedua kakak beradik itu tak ada lagi yang berbicara. Seokjin yang sudah bertemu makanan memang fokus pada hal yang ia sukai itu. Dan Joungkook, ia memang memakan makanannya, tapi matanya tak fokus dan sesekali melirik ke rah Seokjin.

"hyung."

Seokjin mendongak, mengalihkan perhatiannya dari piring didepannya dan memandang Joungkook, "ya?"

Joungkook menjilat bibirnya yang tiba-tiba terasa kering, "sebenarnya, ada hal pentinng yang ingin aku bicarakan dengan hyung."

Tangan Seokjin berhenti bekerja dan tersimpan rapi diatas meja, siap mendengarkan penjelasan dari adiknya itu. Ia tersenyum, mencoba membuat Joungkook sedikit rileks, karena ekspresi wajah namja Jeon itu begitu terlihat gugup.

"ini tentang eomma."

Kening Seokjin mengernyit begitu mendengar kata 'eomma' keluar dari bibir Joungkook. Entahlah, ia sudah tak bisa mengingat kapan terakhir kali Joungkook menyebut kata 'eomma' dengan konotasi yang sama dengan mksudnya.

Senyum Seokjin semakin lebar, di pikirannya sudah berlarian berbagai kemungkinan baik yang akan membuat Joungkook merubah cara pandangnya pada sang eomma.

"kemarin dia ke rumah."

Senyum Seokjin menghilang begitu mendengar kalimat itu. Bahkan kedua bersaudara itu kini memasang wajah datar, saling menatap dengan intens satu sama lain.

Joungkook menelan ludahnya gugup, "Yeoja itu meminta uang."

Seokjin terdiam, ia tak menanggapi kalimat Joungkook dan tidak mencoba memecah keheningan diantara keduanya. Ia merasa kecolongan. Eommanya tak menghubunginya sama sekali sejak 3 hari kemarin, dan ia pikir sang eomma tidak akan melakukan apapun. Tapi, jika sang eomma sudah sampai pergi ke Seoul hanya untuk menemuinya dan meminta uang, berarti yeoja yang sudah melahirkannya itu benar-benar butuh.

Mengerti raut wajah Seokjin yang tidak menyenangkan, Joungkook kembali melanjutkan apa yang ingin ia katakan.

"dia hanya duduk sebentar. Bahkan aku tak mau repot-reopt menawarkan minum. Dia sendiri yang langsung masuk begitu aku bukakan pintu. Dan setelah mengetahui hyung tidak dirumah, yeoja itu langsung pergi lagi. Katanya akan kembali lagi. Entahlah, aku juga tak peduli."

Seokjin menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dalam satu hembusan. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum membukanya dan menyunggingkan sebuah senyuman tipis.

"gwenchana, Joungkook ah. Biar nanti hyung menelpon eomma. Jja, sekarang ayo kita habiskan makan malamnya."

Joungkook memandang Seokjin sangsi, "serius hyung? Maksudku kita bukan keluarga kaya yang bisa mengeluarkan uang kapanpun kita inginkan. Dan kemarin aku melihat eomma menggunakan mobil baru. Pasti eomma sudah menggunakan banyak uang kan?"

Tangan Seokjin terulur dan menggenggam tangan Joungkook, "Tak apa Joungkook. Tak usah kau pikirkan. Urusan uang biarkan hyung yang mengurusnya. Tugasmu hanya belajar dan jangan membuat masalah, oke?"

Joungkook mengangguk, meski masih ada kerutan samar di keningnya, "aku menyayangimu. Jangan lupakan bahwa kau masih memilikiku, hyung."

"iya, joungkookie~ hyung juga menyayangimu."

.

Dan untuk pertama kalinya sejak Joungkook dewasa, kedua kakak beradik itu tidur di ranjang yang sama, didalam selimut yang sama dan dalam posisi saling bepelukan. Namun, jika dulu Joungkook yang selalu meringkuk dalam pelukan Seokjin, kini sang kakak yang berada dalam rengkuhan sang adik.

.

.

.

Seharian ini Seokjin tak berhenti tersenyum, sampai-sampai Yoongi yang duduk disebelahnya mengernyit takut. Meski biasanya Seokjin memang selalu memasang wajah ramahnya, tapi hari ini kebahagiaannya sudah overload, sampai meluber kemana-mana.

"hyung, bisakah berhenti tersenyum? Aku mulai takut berada didekatmu." Ucap Yoongi saat mereka tengah makan siang bersama dikantin. Ada Jimin juga disana.

Seokjin bukannya menurut, ia justru tersenyum semakin lebar, "aku tengah bahagia, Yoongi ya. Tidak salahkan kalau aku tersenyum?"

Yoongi bergidik ngeri melihat Seokjin yang benar-benar bahagia berlebihan seperti ini.

"memang ada berita bahagia apa hyung?" tanya Jimin. Ia yang baru bertemu dengan Seokjin 30 menit yang lalu saat jam makan siang juga bisa merasakan kebahagiaan Seokjin yang tertuang kemana-mana.

Ada sedikit ragu saat akan bercerita pada Yoongi dan Jimin. Karena well, ia tak mau menjadi bahan ejekan keduanya untuk berbulan-bulan kedepan.

Seokjin berdehem pelan, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Jimin dan Yoongi yang duduk didepannya, "menurutmu, apakah aneh jika aku mengencani anak SMA yang lebih muda 7 tahun dariku?"

Jimin menyunggingkan sebuah senyuman miring, sedangkan Yoongi menghela nafasnya panjang. Jimin kembali melanjutkan makan siangnya, seakan tidak mendengar curhatan Seokjin, berbeda dengan Yoongi yang mulai memandang Seokjin serius.

"Kalau aku balas bertanya. Apakah hyung merasa tak nyaman menyukainya? Apa hyung membenci perasaan hyung? Apa hyung merasa tidak bahagia saat bersama anak itu? Hyung akan menjawab apa?"

Seokjin menggeleng, "tidak. Aku justru merasa sangat nyaman dengannya, aku juga tidak membenci perasaanku. Bahkan aku sangat bahagia saat bersamanya."

"berarti tak ada yang salah dan aneh jika hyung mengencani anak yang lebih muda 7 tahun dari hyung. Lagipula hanya beda 7 tahun. Ada puluhan pasangan di dunia ini yang terpaut usia jauh lebih banyak dari itu." Ucap Yoongi bijak. Yang mendapatkan sebuah usapan lembut dikepalanya dari Jimin.

"apakah anak itu bermarga Kim dan bernama Namjoon?" tanya Jimin dengan nada menggoda. Yoongi tertawa dan mengajak Jimin untuk melakukan high five

Seokjin mengerang kesal, ia tahu, bagaimanapun kedua orang didepannya itu pasti akan mengoloknya, "Bukan Kim, bukan Namjoon."

"lalu? Siapa namanya? Siapa tahu aku mengenalnya, hyung. Atau mungkin ia berada satu grup denganku." Tambah Yoongi. Seokjin berdecak dan memukul lengan yongi main-main.

"jangan mulai menggodaku, Yoongi. Kumohon." Ucapnya memelas. Yoongi tidak mendengarkannya dan terus melontarkan petanyaan yang memojokkan Seokjin, hingga membuat wajah lelaki cantik itu memerah.

"lalu, berita bahagia apa yang membuat hyung tidak berhenti tersenyum seharian?" Jimin tiba-tiba menyela pertengkaran tidak penting Yoongi dan Seokjin. Bahkan Jimin sudah tak tahu lagi apa yang tengah dibahas dua uke didepannya itu.

Senyuman Seokjin kembali lagi begitu Jimin bertanya begitu. Niatnya untuk memukul kepala Yoongi menguap begitu saja, "nanti malam anak itu mengajakku kencan." Jawabnya lirih. Hampir-hampir tak bisa didengar oleh Jimin.

"Cie~ yang kemaren aja bilang gak bakal kencan ama Namjoon. Sekarang justru berbunga-bunga." Lagi-lagi Yoongi menggoda Seokjin. Sedangkan Jimin ikut tertawa bersama kekasihnya, "ternyata ucapanku terkabul ya, hyung. Hyung memang hanya menunggu waktu untuk menjadi kekasih Namjoon."

Seokjin mengerang, "Jangan sebut nama anak itu! Memalukan?!"

"memang, sekarang apa hubungan hyung dengan Namjoon?" pertanyaan Jimin satu ini membuat Seokjin terdiam. Ia memandang bingung ke arah pasangan dihadapannya.

"hubungan ya? Aku juga tak tahu. Kami belum pernah membahas mengenai komitemen untuk berhubungan."

Yoongi tanpa diduga memukulkan telapak tangannya ke atas meja, membuat Jimin dan Seokjin berjengit kaget, bahkan beberapa karyawan lain yang tengah makan di kantin ikut melirik ke meja mereka

"hyung jangan mau digantung tanpa status seperti ini! Meski Namjoon lebih muda dari hyung, anak itu pasti sudah tahu bagaimana memulai sebuah hubungan. Hyung harus meminta kepastian pada Namjoon."

Seokjin hanya meringis mendengar kalimat menggebu dari Yoongi. Ia tidak menanggapinya dan justru sibuk melayangkan pemintaan maafnya pada penghuni kantin yang lain.

"Kau terlalu bersemangat, sayang." Ucap Jimin sembari memeluk bahu Yoongi, mencoba membuat kekasihnya itu kembali ke karakternya yang bisanya, bukan Yoongi yang ribut seperti ini.

Meski Seokjin mencoba acuh dengan kalimat Yoongi, sedikit banyak ia juga berpikir mengenai statusnya dengan Namjoon. Dan ia juga sudah membuat note untuk dirinya sendiri, ia harus meminta kejelasan Namjoon nanti malam.

.

.

.

Setelah memberitahu Joungkook bahwa ia akan pergi malam ini – dan Seokjin tidak sebodoh itu hingga memberitahu bahwa sebenarnya ia akan kencan dengan Namjoon – adik lelakinya itu langsung pamit akan pergi ke rumah Taehyung. Dan katanya, jika aku tidak dirumah saat hyung pulang, berarti aku menginap di tempat Taehyung.

Bagus Jeon Joungkook, lanjutkan saja. Sering-serng saja menginap di rumah Taehyung, agar Seokjin bisa memiliki banyak waktu berdua dengan Namjoon. Dan pikiran kotor Seokjin mulai membayangkan puluhan adegan yang bisa ia lakukan bersama Namjoon saat rumah kosong.

"enyahkan kpikiran kotormu, Kim Seokjin!"

Kepala Seokjin menggeleng cepat, berusaha mmengusir pikiran apapun itu yang sempat melintas di otaknya. Ia kembali membawa fokus pandangannya ke kaca full body yang terpasang di kamarnya. Yang baru saja dibelikan Namjoon minggu lalu. Sekali lagi, ia mencoba mematut dirinya, mencoba melihat adakah yang kurang dari penampilannya malam ini.

"kurasa ini yang paling baik dianatara yang lain." Gumam Seokjin. Ia mengamati tubuhnya yang kini memakai sebuah kemeja putih yang ia tumpuk dengan sweater v-necknya yang berwarna kuning cerah. Ia memakai sebuah celana berwarna putih yang membalut kakinya dengan sempurna.

"kau sudah cantik, sayang." Sebuah suara serak dan cukup berat itu menyapa pendengaran Seokjin. Suara yang sudah 3 hari ini tidak ia dengarkan secara langsung, hanya melalui beberapa panggilan yang juga jarang mereka lakukan.

Seokjin segera membalik tubuhnya, menemukan sosok Namjoon yang tengah bersandar dipintu kamarnya. Bersedakap dan memasang senyum andalannya, "kau memakai apapun tetap mempesona, princess. Tapi aku tetap lebih suka kau yang tidak memakai apapun."

Seokjin mendengus dan kembali berbalik, memunggungi Namjoon untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Astaga! Namjoon terlihat sangat mempesona malam ini dengan turtle neck putih dan jas hitam selututnya.

"Tenang Seokjin, tenang. Baru 3 hari kau tidak bertemu makhluk itu dan kini kau gugup hanya berhadapan dengannya?" gumam Seokjin sembari berpura memberesskan kekacauan yang ia buat hanya untuk memilih baju kencannya dengan Namjoon.

Seringai Namjoon langsung keluar begitu melihat Seokjin yang menghindarinya dengan wajah merona. Ia memutuskan untuk mendekati namja cantik itu dan langsung memeluknya tanpa mengatakan apapun. Ia tidak mencoba melakukan lebih dan hanya menenggelamkan wajahnya di tengkuk Seokjin, memberikan satu dua kecupan disana.

"aku merinduanmu."

Bisikan Namjoon mengirimkan getaran yang membuat Seokjin hampir-hampir ambruk jika saja Namjoon tidak menahan tubuhnya. Seokjin menarik nafasnya dalam-dalam sebelum melepas pelukan Namjoon dan segera berbalik untuk gantian memeluknya. Dengan begini, ia bisa dengan bebas menyembunyikan wajah memerahnya di dada Namjoon.

Namjoon terkekeh melihat telinga Seokjin yang memerah. Namun ia tak mengatakan apapun dan hanya balas memeluk pinggang Seokjin. Tangannya mengusap lembut punggungnya, mencoba membuat namja cantik itu rileks.

"Aku juga merindukanmu."

Suara lirih Seokjin benar-benar pelan, hampir-hampir tak terdengar jika ia tidak memasang pendengarannya baik-baik. Ia mengulum senuymnya dan membalas dengan mencium sisi kepala Seokjin, "I miss you the most, princess."

Dan tawa Namjoon pecah saat merasakan remasan Seokjin pada punggungnya, sepertinya namja cantik itu benar-benar merona parah. Bahkan ia bisa membayangkan uap imajiner keluar dari kedua telinganya.

"sekarang, ayo kita pergi untuk melaksanakan kencan kita."

.

.

.

Kencan Seokjin dan Namjoon diawali dengan sebuah makan malam romantis di sebuah restoran mewah yang bahkan Seokjin tidak pernah sedikitpun berpikir akan pernah mencicipi masakan disana. Dan dengan gampangnya Namjoon memesan menu tanpa melihat daftarnya, sekaan-akan ia sudah hafal diluar kepala.

"kau sering kesini?" tanya Seokjin saat Namjoon menarik sebuah kursi untuknya. Ia menggumamakan terima kasih dan dibalas Namjoon dengan senyum berdimplenya. Namjoon memutari meja untuk dudu diseberang.

"beberapa kali." Jawab Namjoon singkat. "Aku mengenal salah seorang yang bekerja disini." Tambahnya.

Seokjin tersenyum lebar, siapa tahu ia juga bisa berkenalan dengan teman Namjoon dan bisa kembali lagi kesini, tanpa mengeluarkan uang ratusan ribu won hanya untuk seporsi makan malam.

"Siapa? Apakah chefnya? Atau pekerja part-time? Atau pelayannya?"

Namjoon terkekeh mendengar spekulasi Seokjin, "princess, sebelum kujawab, aku ingin memberitahumu satu hal. Lingkaran pertemananku sepertinya sedikit berbeda denganmu. Diluar statusku sebagai pelajar SMA, status sosialku jika boleh sombong, jauh berada diatasmu."

Penjelasan Namjoon itu membuat Seokjin terdiam. Ia mengepalkan tangannya erat diatas pahanya. Ia tahu, meski Namjoon sebelumnya belum pernah menjelaskan, dari tingkah laku dan juga bagaimana mudahnya Namjoon mengeluarkan uang, ia sudah bisa menebak tingkat sosial namja itu.

"Jadi, siapa kenalanmu?" tapi Seokjin tetap melanjutkan bertanya. Kali ini minus tatapan berbinarnya.

Namjoon menjilat bibirnya pelan, yang entah kenapa terlihat sensual dimata Seokjin. Dalam hati namja cantik itu merutuki pikirannya yang tak berhenti membayangkan hal-hal kotor.

"Pemilik restoran ini adalah rekan kerja appa, dan anaknya berteman cukup baik denganku."

Sebenarnya Seokjin sudah bisa membayangkan jawaban setipe ini yang akan keluar dari mulut Namjoon. Tapi mendengarnya langsung dari bibir Namjoon tetap saja membuatnya speechless. Jika pemilik restoran semewah dan sebesar ini adalah rekan kerja appa Namjoon, berarti, bukankah keluarga Namjoon sangat kaya?

"Namjoon." Seokjin memberanikan diri menggenggam tangan Namjoon yang berada di atas meja. Ia memandang penuh harap ke arah Namjoon yang juga balas memandangnya.

"bisakah kau bercerita mengenai dirimu? Kau sudah mengetahui segalanya tentangku. Tapi aku tak tahu sama sekali mengenai kehidupanmu. Hanya sebatas bahwa kau anak SMA dan bergabung dengan converse. Selain itu aku tak tahu apapun."

Namjoon terdiam, ia mengalihkan tatapannya dari Seokjin, meski tangannya masih balas menggenggam erat tangan Seokjin. Ia terlihat sedang berpikir sebelum kembali menatap Seokjin. Kali ini dengan sebuah senyuman simpel yang lagi-lagi memperlihatkan dimplenya.

"jangan berpikir bahwa kehidupanku seperti di drama yang sering kau tonton. Aku bukan anak broken home yang memiliki seorang ayah workaholic yang sampai melupakan anaknya dan memiliki banyak istri simpanan. Karena hidupku tidak semengenaskan itu."

Seokjin tersenyum tipis karena Namjoon seakan bisa membaca pikirannya. Ia bisa mengingat beberapa drama yang sejenis.

"well, yang kutahu dan kuyakini, ibuku adalah satu-satunya istri yang dimiliki appa. Namun eomma sudah meninggal jauh sebelum aku bisa mengingat apapun. Kata appa, eomma meninggal saat umurku belum genap 5 tahun. Sehingga hanya appa satu-satunya yang kupunya. Kenyatannya, hubunganku dan appa tidak buruk, bahkan cukup baik. Sesekali appa masih menghubungiku. Meski sesekali dalam kamusku adalah sebulan sekali atau bahkan beberapa bulan sekali. Tapi itu sudah cukup menurutku. Aku tahu, meski appa selalu berada jauh diluar sana, tapi dia selalu mengawasiku melalu Park ahjussi. Kehidupanku cukup baik kan?"

Seokjin membalas senyum Namjoon. Tapi masih ada hal yang ingin ia tanyakan. Namun, sebelum ia sempat bertanya lagi, pesanan mereka sudah datang.

"kau bisa bertanya sambil makan, princess." Ucap Namjoon saat melihat Seokjin yang masih mengerutkan kening ke arahnya. Namja cantik itu tersenyum lebar dan melepas genggaman Namjoon untuk mulai menyantap makan malamnya. Seokjin tak akan bisa menyebutkan menu makan malamnya kali ini, karena ia bahkan tak tahu namanya. Namun yang pasti, rasanya benar-benar luar biasa.

"jadi, kenapa kau bisa menjadi anak nakal yang hobi berkelahi?"

"Well, sebenarnya aku tidak suka berkelahi. Mereka saja yang ingin mencari masalah denganku. Dan sebagai seorang namja, bukankah cara menyelesaikan masalah dengan berkelahi?!"

"Aku tidak setuju dengan pikiranmu. Aku seorang namja, tapi aku tidak menggunakan perkelahian untuk menyelesaikan masalah."

Namjoon tertawa, "karena kau bukan namja sejati, princess."

"yah! Kau pikir aku namja jejadian?!"

"well, kau berada di posisi yang mengerang dibawahku."

"hah! Apa-apaan itu?!"

"kkk~ lupakan saja, princess. Ada yang masih ingin kau tanyakan?"

Seokjin menngambil waktu untuk menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menhembuskannya kasar. Berbicara dengan Namjoon memang bisa menguras energinya, belum lagi pipinya yang terasa terbakar.

"jadi, apakah appamu diam saja melihat dirimu yang seperti ini?"

Namjoon mengangkat kedua bahunya acuh, "Entahlah. Appa memang akan menasihatiku beberapa kali. Bahkan tiga hari dirumah aku benar-benar dihabisi oleh appa. Beratus nasihat seakan menjadi makananku. Tapi appa tidak melakukan tindakan ekstrim seperti mengurungku atau memperlakukanku kasar."

Tiba-tiba Seokjin tersenyum kikuk, ia sedikit ragu untuk bertanya mengenai topik ini, "lalu, mengenai orientasi seksualmu? Eum, maksudku apakah appamu tahu bajwa kau menyukai err namja?"

Kekehan Namjoon membuat Seokjin semakin bersemu, ia merasa malu telah bertanya hal yang menurutnya sangat pribadi. "aku dan appa sudah memiliki perjanjian untuk tidak mengurusi masalah pribadi masing-masing. Jadi, orientasi seksualku bukan urusannya."

"hah~ aku tak bisa memahami jalan pikiranmu dan appamu."

"tak perlu dipahami, princess. Sekarang habiskan makan malammu dan lanjutkan kencan kita."

"memang kita akan kemana?"

Namjoon tersenyum, lagi-lagi membuat Seokjin terpesona, "Kau ingin kemana?"

Seokjin berpikir sebentar, mencoba mencari tempat yang cocok untuk kencan mereka selanjutanya, "Hangang?"

"Baiklah."

.

.

.

Seokjin dan Namjoon duduk di kap mobil milik Namjoon. Mobil mewah berwarna merah itu membuat beberapa orang yang juga tengah menikmati pemandangan malam di tepi sungai Han melirik ke arah mereka. Mobil Namjoon sangat mencolok.

Tangan Namjoon menyangga tubuhnya dibelakang, sehingga ia seakan bersandar dan membiarkan Seokjin tetap duduk manis disampingnya. Seokjin menekuk kakinya dan menyandarkan kepalanya dia atas lipatan lututnya. Ia memandang berbagai warna dari lampu dan music yang diputar disana. Ia pernah kemari sebelumnya, bersama Joungkook. Tapi, berdua bersama Namjoon di spot paling diminati untuk kencan membuat jantungnya tidak mau tenang.

"apa kita hanya akan saling diam dan tidak melakukan apapun?" tanya Namjoon setelah bermenit-menit keduanya hanya diam. Seokjin menoleh kebelakang, melihat Namjoon yang kini menatapnya.

Namja cantik itu tersenyum, "Memang kau ingin kita melakukan apa?" tanyanya pelan. Angin malam yang cukup kencang membuat beberapa rambutnya terbang dan menutupi sebagian wajahnya.

Namjoon yang melihat itu seakan otomatis menegakkan duduknya dan mengulurkan tangan untuk menyingkirkan helaian rambut dari wajah Seokjin, "wajahmu tertutupi." Gumamnya lembut. Tangannya tidak beranjak dari wajah Seokjin, justru mengusap pipi Seokjin yang masih memerah.

"Kau kedinginan?" tanya Namjoon. Seokjin mengangguk, melepas pelukannya di lipatan kakinya dan begeser mendekat. Namjoon tersenyum lebar dan mengarahkan tangannya untuk memeluk bahu Seokjin, membawa tubuh mereka semakin dekat.

Keduanya kini berbaring dan Namjoon membiarkan lengannya sebagai bantal Seokjin. Mereka telentang, memandang langit malam seoul yang bersih tak berbintang. Mungkin tertutupi awan, atau apapun itu. Suara music dari speaker yang dipasang disekeliling mereka masih terdengar samar, karena memang Namjoon mencari spot yang sedikit jauh dari keramaian.

"aku ingin menciummu."

Seokjin reflek menoleh begitu mendengar suara Namjoon. Ia mendapati lelaki itu tengah menatapnya intens. Keduanya hanya diam dan saling bertatapan. Perlahan, Namjoon menggerakkan tubuhnya mendekat, menaungi tubuh Seokjin yang kini berada dibawahnya. Langit malam yang tadi menjadi pemandangan satu-satunya diatasnya, kini berganti menjadi wajah Namjoon. Yang bahkan nafasnya bisa ia rasakan berbenturan dengan miliknya.

Tangan Namjoon yang tidak menjadi bantal Seokjin bergerak menulusuri lengan kanan namja itu, mencari jemarinya untuk ia genggam. Kaki keduanya saling membelit, dengan Seokjin yang mulai gelisah. Nafasnya menjadi tidak teratur, apalagi merasakan hidung Namjoon yang menyentuh ringan pipi kirinya.

"kau sangat mempesona malam ini, princess." Bisik Namjoon tepat ditelinga Seokjin. Ia menyempatkan untuk memberi sebuah ciuman ringan disana, membuat sekujur tubuh Seokjin meremang. Ia memilih untuk memejamkan matanya dan balas menggenggam tangan Namjoon erat. Posisi mereka benar-benar terlalu intim buatnya.

Chup chup

Namjoon mencium kedua mata Seokjin, membuatnya terbuka. Dalam keadaan mata yang terbuka lebar, Namjoon mencium bibir Seokjin, tanpa melepaskan tatapan mereka. Ia menempelkan kedua bibir mereka selama 3 detik sebelum mulai menggerakkan bibirnya dan memagut lembut belahan merah milik Seokjin. Ia benar-benar memperlakukan Seokjin dengan lembut, memagut dengan hati-hati bibir atas dan bawah miliknya, menyapu seluruh sisi bibir Seokjin dengan lidahnya.

"eungh." Seokjin memejamkan matanya erat-erat saat bibir Namjoon menerobos masuk ke dalam mulutnya, menyapa seluruh bagian mulutnya, membuatnya melenguh saat lidah itu menyapa langit-langit mulutnya.

Namjon benar-benar pencium yang sangat handal.

Namun, ciuman lembut yang memabukkan itu hanya berlangsung tak lebih dari 3 menit, karena selanjutnya, seorang Kim Namjoon mulai menunjukkan taring aslinya. Ia mulai mencium Seokjin dengan ganas, melibatkan gigi, lidah dan bibirnya yang sangat luar biasa. Membuat Seokjin hanya bisa mengerang dan membalas sebisanya.

Chup chup chup

Namjoon mengecup cepat bibir Seokjin sebelum menjauhkan wajahnya. Nafas keduanya masih menjadi satu, bahkan tautan saliva diantara bibir keduanya belum terlepas, sampai Seokjin mengusap bibirnya dengan tangannya yang bebas.

"Aku akan memberimu satu pengalaman seks yang luar biasa."

Dan Seokjin dikeadaan yang tidak bisa membuatnya menolak. Jadi, ia hanya bisa kembali melenguh dan mengerang saat Namjoon kembali menciumnya dan kali ini mengangkat tubuhnya memasuki mobil.

Mungkin, beberapa jam kedepan akan ada mobil yang bergoyang disalah satu sudut sungai Han.

.

.

.

Mobil merah milik Namjoon berhenti tepat didepan gerbang rumah Seokjin. Namun keduanya tidak ada yang turun, bahkan Seokjin sekalipun. Kemeja putih yang tadi ia pakai sudah hilang, robek akibat ketidaksabaran Namjoon. Hingga kini ia hanya memakai sweater V-neck yang ditutupi Namjoon dengan mantel hitamnya. Aroma khas sehabis seks masih menguar tajam didalam mobil, dan hal itu membuat pipi Seokjin tidak berhenti merona.

"Maaf, aku merusak kemejamu. Aku akan membelikanmu yang baru, princess."

Namjoon yang pertama memecah keheningan yang terjadi sejak mereka pulang dari Hangang. Respon Seokjin hanya berupa lirikan sekilas dan anggukan samar. Ia terlalu malu untuk menatap wajah Namjoon sekarang.

"A – aku akan masuk sekarang. Maaf sudah mengotori mobilmu." Suara lirih Seokjin membuat Namjoon mengulum senyumnya. Namja cantik disampingnya benar-benar menggemaskan, mengabaikan tentang umurnya yang lebih tua.

"Terima kasih untuk kencannya malam ini." Kali ini Seokjin memberanikan diri dan mengangkat wajahnya untuk menatap Namjoon. Ia tersenyum dengan wajah yang memerah sampai ke telinga.

Namjoon tak bisa menahan dirinya lebih lama dan mencondongkan tubuhnya untuk mengecup bibir Seokjin yang terlihat merekah dan merah sempurna akibat ia cumbu terlalu lama. "Sama-sama, princess."

Dengan cepat Seokjin membuka pintu mobil dan keluar. Ia menyempatkan diri untuk menatap Namjoon sebentar sebelum berlari memasuki rumahnya. Namjoon hanya terkekeh melihat kelakukan Seokjin yang benar-benar menggemaskan.

"astaga~ dia benar-benar bertingkah tidak sesuai umurnya."

.

.

.

TBC

Hueee, ottohke~ maafkan aku yang baru update sekarang. Apalagi kemaren aku salah nulis, harusnya masih TBC, belum END. Hehehe, masih ada dua atau tiga chap lagi sebelum end, jadi sabar ya~

Mungkin cerita yang aku tulis membosankan, karena well, aku memang gak banyak masukin konflik disetiap fic yang aku tulis, karena aku punya prinsip, Jika hidup di dunia nyata sudah sulit, kenapa di dunia fiksi yang kita bisa menjadi 'pembuat' ceritanya juga kita buat sulit? Jadi aku sangat menjunjung tinggi kebahagaian tokoh di ceritaku, hehehehehe

Terima kasih atas segala waktu dan reviewanya, yang masih setia menunggu fic ini. Hiks, akan kuusahakan bakal cepat update, tapi gak janji. Semester 3 itu menakutkan, kkkk

Annyeong~