:: Remember Me ::

::

::

KookV

::

::

::

::

::

January 2016.

Disebuah mansion mewah, terlihat seorang pemuda tampan tengah termenung dikursi yang ada dibalkon kamarnya. Matanya memandang kedepan, dimana halaman luas mansion dengan air mancur ditengah-tengah, tapi pikirannya tidak berpusat pada hal itu. Pikirannya kembali pada mimpi yang semakin sering dia alami sejak kepindahannya ke Korea.

"Jungkook-ie.."

Pemuda itu –Jungkook- langsung menoleh kesamping kanan, dimana sumber suara yang ia dengar.

"Ah, Jin hyung,, ada apa?"

"Kau yang ada apa.. aku sudah memanggilmu berulang kali, tapi kau tidak mendengarnya."

Jungkook yang tersenyum mendengar gerutuan sang kakak manis nya itu. Sambil memegang jemari kanan Seok Jin dan memainkannya, Jungkook bergumam maaf.

"Apa yang sedang kau pikirkan, hm?"

Jungkook memandang dalam Seokjin, menimang apakah dia harus menceritakan tentang mimpinya itu atau tidak. Tapi, setelah apa yang dialami mereka, dia tidak ingin membuat kakaknya itu menjadi khawatir padanya. Seok Jin hyung harus terus dan tetap bahagia, selamanya.

"Tidak ada." Jungkook menggeleng.

Seokjin menyipit tanda tidak percaya. "Benarkah?"

"Tentu saja. Aku hanya sedang melihat-lihat suasana diluar. Ini pertama kalinya aku kembali kesini. Jadi aku merasa harus kembali beradaptasi. Hehe.."

Sebuah cengiran menggemaskan membuat Seokjin tidak bisa mencegah tangannya untuk mencubit pipi Jungkook, membuat pemuda itu berteriak tidak terima.

"Kau menggemaskan sekali." Komentar Seokjin yang mendapat protesan dari Jungkook. Mengatakan kalau dia tampan, bukan menggemaskan.

"Kalau begitu ayo turun. Hyung sudah membuat makanan kesukaanmu."

"Benarkah?" mata bulat itu berbinar menatap Seokjin.

"Kau ini. Mendengar makanan saja langsung semangat."

"Seperti hyung tidak saja.. hehe…"

Sebelum dia mendapatkan omelan dari kakaknya itu, Jungkook langsung berlari keluar dari kamarnya dengan cengiran lucunya. Tapi, semua luntur setelah dia berada diluar. Langkahnya memelan. Sebenarnya, Jungkook merasa perasaannya begitu tidak enak sejak dia menginjakkan kaki dikampung halamannya. Ada perasaan sesak, sakit, dan rindu yang bercampur sekaligus, membuatnya kadang menangis tiba-tiba. Jungkook ingin menceritakan ini pada Seokjin, kakaknya yang selalu ada disampingnya itu. Tapi, sekali lagi, Jungkook tidak ingin melihat wajah cemas dan sedih dari Seokjin. Setelah kejadian itu, Jungkook melihat dengan jelas bagaimana kesedihan, kerapuhan Seokjin dibalik sikap tenangnya. Jungkook melihat bagaimana kakaknya itu berjuang untuk tetap menjalani hidup bersamanya. Dan baru dua tahun ini, Jungkook melihat Seokjing hyungnya bisa tersenyum dan tertawa tanpa beban. Jadi, Jungkook tidak ingin menghapus semua itu dengan menceritakan apa yang dialaminya.

"Jungkook, kenapa diam disana? Ayo kesini, bantu aku~"

Jungkook kemudian tersenyum melihat seorang wanita dengan apron merah muda yang sibuk menyiapkan makanan dimeja makan. Wanita itu, calon istrinya, mereka sudah bertunangan tiga bulan lalu. Jungkook mencintainya. Ya, Jungkook mencintai wanita itu, meski didalam hatinya, perasaan cinta itu seolah terusik oleh sesuatu.

"Ck. Kenapa melamun? Kesini cepat!"

Jungkook tertawa melihat wanita itu memajukan bibirnya, merengut dengan tangan yang terlipat didada. Jungkook menghampiri wanita itu, memeluknya dari belakang dan memberikan kecupan di pipi kiri.

"Aigoo~ Min calon istri Jungkook marah, hm?"

"Apa sih!"

Jungkook tertawa, berusaha melupakan perasaan lain yang mulai tumbuh dihatinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Taehyung memamerkan senyum lebarnya dari tadi, tidak mempedulikan pandangan orang lain kepadanya. Meskipun sebagian besar orang yang melihatnya merasa gemas dengan senyum Taehyung. Saat ini, dia sedang mengendarai sepeda milik Jimin di sekitar sungai Han. Sungai yang selalu ramai dikunjungi para wisatawan, baik lokal maupun interlokal. Taehyung memang masih di Seoul –bersama Suga- dipaksa tinggal lebih lama oleh Ny. Park. Taehyung sih senang-senang saja, disini dia bisa menenangkan pikirannya sekaligus menikmati suasana Seoul yang jauh berbeda dengan Busan –tempat panti asuhan-.

Sebenarnya, Suga sudah melarang Taehyung untuk bersepeda sendiri. Takut ada yang akan menculiknya. Mendengar itu membuat Taehyung cemberut. Ya ampun dia bukan anak kecil lagi kan? Taehyung bisa jaga diri sendiri. Tapi Suga dengan protektif nya terus melarang Taehyung, membuat kabur dari apartemen Jimin. Biar saja dia dimarahi Suga, paling Taehyung hanya harus menampilkan puppy eyes miliknya untuk meluluhkan Suga.

Taehyung masih bersepeda dengan santai, tetap dengan senyum dan mata indahnya yang sesekali melihat kearah sungai Han yang begitu tenang. Sampai akhirnya, kedua mata itu menyipit saat melihat dua orang yang berjalan santai berlawanan arah dengannya. Taehyung merasa kenal dengan salah satu diantaranya. Setelah dua orang itu dan Taehyung semakin dekat, barulah, Taehyung sadar bahwa dia memang mengenal orang itu. Dengan cepat Taehyung menyimpan sepeda dan berjalan hampir berlari menghampiri dua orang yang sudah melewatinya itu.

"Seokjin hyung!"

Seru Taehyung dengan tangan yang menarik pundak orang itu. Membuat orang yang dipanggil Seokjin memekik kaget dan membuat orang yang disampingnya memasang wajah waspada. Siapa tau orang yang memanggil Seokjin ini adalah orang yang jahat?

"Seokjin hyung? Benarkan? Ini Seokjin hyung!" Taehyung tidak bisa menutupi rasa gembiranya, dengan begitu bahagia bahkan beberapa kali melompat kecil Taehyung memanggil Seokjin berulang kali. Taehyung bisa mengenali Seokjin, karena meskipun sosok ini sudah berubah dari gaya berpakaiannya yang terlihat begitu modis, tapi Taehyung tetap akan mengingat Seokjin –anak laki-laki berkacamata yang baik hati-

"Hyung?! Kau tidak lupa padaku kan?"

Seokjin mengerutkan keningnya. Dia merasa familiar dengan wajah laki-laki didepannya ini. Didalam hati Seokjin mengerang frustasi, sedikit merutuki ingatannya yang sedikit terganggu setelah kejadian itu.

"Hyuuung~~ ini aku Taehyung! Taetae! Kau ingat?"

Dan seperti mendapatkan hadiah, Seokjin membulatkan matanya. Seketika pula ingatan tentang anak ini berkelebatan dalam pikirannya. Sosok anak menggemaskan yang selalu tersenyum dengan khasnya.

"Taetae.." ucapnya lirih.

"Ne. Hyung ingat? Aku Taetae.."

"Ya Tuhan, Taehyung-ie!"

Taehyung hanya bisa membalas pelukan Seokjin dan memberikan cengiran menggemaskannya. Membuat sosok yang lainnya menurunkan kewaspadaannya. Anak yang dipanggil Taetae itu kenalan Seokjin, jadi dia tidak akan membahayakan bagi Seokjin. Begitu pikirnya.

Seokjin melepaskan pelukannya, tertawa kecil melihat Taehyung yang memberikan senyum kotak andalannya.

"Senyummu, tidak pernah berubah.." ujarnya sambil mengelus pipi Taehyung.

"Hehe.. Aku tidak pernah berubah.. hyung yang berubah.. banyak!"

"Apa? Aku berubah apanya?"

"Hyung jadi makin tampaaaaaan~~~"

Seokjin otomatis tertawa mendengar pujian bernada manis dari Taehyung. Ah, Seokjin merindukan anak ini.

"Hyung…"

"Ya?"

"Hyung kemana saja? Kenapa tidak pernah memberi kabar? Hyung kan sudah janji akan memberi kabar pada kami?"

Seokjin langsung terdiam mendengar serentetan pertanyaan dari Taehyung. Matanya berpendar saat kilasan mengenai kejadian mengerikan kembali masuk kedalam pikirannya. Membuatnya mematung.

"Hyung? Oh ya, dimana Kookie? Dia ada bersama hyung kan?" Pertanyaan Taehyung yang penuh harap itu semakin membuatnya melemas.

"Jungkook?" lirihnya.

"Iya. Kookie. Jungkook. Aku sangaaaaat merindukannya, hyung!" ungkap Taehyung. Anak itu benar-benar tidak sabar ingin melihat Jungkook. Taehyung tidak akan marah pada Seokjin atau Jungkook karena tidak pernah menghubunginya asal dia bisa bertemu dengan Jungkook lagi, bisa bersama dengan Jungkook lagi.

"Hyung? Seokjin hyung kenapa?"

Rasa bahagia Taehyung berubah menjadi perasaan khawatir saat melihat Seokjin terdiam dengan wajah pucat. Dan Taehyung menjerit kaget saat Seokjin tiba-tiba hampir terjatuh, ya hampir karena sosok disampingnya langsung memberikan sandaran untuk Seokjin dan dengan cepat membawa Seokjin duduk dikursi yang ada disana.

"Seokjing hyung kenapa? Hyung sakit? Kal-"

"Jin hyung!"

Taehyung terdiam mendengar suara penuh kekhawatiran itu, dan semakin terdiam saat melihat laki-laki dengan tubuh tinggi tegap yang dibalut dengan coat hitam. Mata indah Taehyung berkabut, cairan bening langsung menghalangi sedikit pandangan Taehyung. Tae Hyung menatap pemuda dihadapannya dengan penuh haru.

Itu Jungkook. Kookie.

Akhirnya setelah sekian lama dia mencari keberadaan orang ini. Dia bisa bertemu disini. Ditempat yang menjadi keinginan Jungkook untuk membelikannya rumah. Meskipun sudah lama tidak bertemu, meskipun dia tidak memiliki satupun poto Jungkook dewasa. Taehyung akan, dan tetap ingat pada sosok itu.

"Apa yang sudah kau lakukan padanya, huh?!"

"A-pa?" Taehyung tergagap. Benar-benar terkejut mendapatkan teriakan bernada amarah itu. Kenapa? Kenapa Jungkook marah padanya? Bukannya memeluknya seperti Seokjin tadi?

"Ke-kenapa.. marah?"

Mata Jungkook menatap nyalang pada Taehyung. Jelas sekali jika Jungkook marah pada Taehyung. Mendapati tatapan seperti itu membuat Taehyung merasa lemas seketika. Tangannya langsung berpegang pada sandaran kuris kayu itu.

"Kau bertanya kenapa? Kau bodoh?! Jelas-jelas aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Jin hyung seperti ini setelah bicara denganmu!"

Sebenarnya, Jungkook merasa bingung dengan perasaannya sekarang. Disatu sisi, dia merasa kaget dengan laki-laki didepannya. Wajahnya, mirip sekali dengan wajah yang selalu hadir didalam mimpinya. Hatinya seperti menghangat, semuanya seperti sempurna secara tiba-tiba. Tapi disatu sisi, dia juga marah melihat Seokjin seperti ini. Sejak kejadian itu, Jungkook selalu menjaga Seokjin dari apapun dan dari siapapun yang bisa membuat kakaknya terluka.

"Jungkook.. kau tidak perlu marah padaku.." Jungkook mendengar dengan jelas getaran yang ada dalam suara laki-laki itu. Dan itu membuatnya entah mengapa merasakan sakit.

"Kenapa aku tidak boleh marah padamu? Memangnya siapa kau, huh?"

Mata Taehyung melebar dan cairan yang sedari tadi menggenangi mata indahnya turun, membasahi kedua pipinya. Tanda bahwa dia benar-benar terluka dengan sebaris kalimat dari Jungkook.

"Apa aku mengenalmu?"

"Kau.. tidak mengingatku?"

Taehyung berharap, Jungkook akan memeluknya, mengatakan bahwa ini kejutan untuknya. Tapi, sepertinya Taehyung harus membuang jauh-jauh harapan itu. Karena jawaban Jungkook selanjutnya benar-benar membuatnya terluka.

"Aku tidak mengenalmu."

Setelah itu, Jungkook membawa Seokjin yang masih terdiam menjauh dari tempat itu. Meninggalkan Taehyung yang kini jatuh terduduk dengan air mata yang tidak bisa berhenti keluar. Rasanya sakit sekali mendengar jawaban Jungkook tadi. Kenapa? Apa yang terjadi? Taehyung melewatkan banyak hal tentang Jungkook. Tapi kenapa harus seperti ini? Kenapa Jungkook tidak mengingatnya? Lalu bagaimana setelah ini?

"Aku hanya merindukanmu, hiks.. hiks.. aku hanya ingin bersamamu.. hiks.."

Berbanding terbalik dengan dia yang tersenyum saat bersepeda tadi, sekarang sosok manis itu kembali hancur. Taehyung tidak bisa untuk tersenyum sekarang, hatinya hancur, pikirannya terasa kosong. Semuanya terasa hampa secara tiba-tiba. Taehyung memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya disana. Seluruhnya mengabaikan orang-orang yang menatapnya heran sekaligus cemas. Orang-orang yang hanya mampu menatap kasihan, tanpa ingin mendekati dan menanyakan keadaannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook tidak bisa untuk tenang sekarang. Laki-laki tampan itu terus berjalan mondar-mandir di sebuah kamar rawat. Menunggu orang-orang yang memeriksa Seokjin keluar. Dia benar-benar cemas pada kakaknya itu. Jungkook tidak tahu alasan kenapa kakaknya kembali seperti itu. Sudah lama sekali dia tidak melihat kakaknya kembali rapuh.

"Jungkook-ie.. tenanglah, Jin oppa pasti baik-baik saja.."

Sentuhan lembut membuat Jungkook menghentikan kegiatannya, menatap wanita cantik yang tersenyum menenangkan. Cho Min Ah, calon istrinya, sosok lain yang selalu berada disampingnya, yang selalu memberikan dukungan kepadanya. Jungkook memeluk wanita itu, menenggelamkan kepalanya dipundak kecil Min Ah. Jungkook benar-benar tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Semuanya terlalu mendadak, semuanya terlalu campur aduk. Sampai membuat Jungkook merasa tersiksa karena jantungnya berdetak lebih cepat setelah melihat wajah yang selalu hadir dalam mimpinya itu.

"Tenang ya? Nanti setelah keadaan Jin oppa membaik. Kau bisa menanyakan tentang itu.."

Jungkook hanya bisa mengangguk sambil menikmati elusan dipunggungnya. Perasaannya lebih baik daripada tadi. Meskipun ada perasaan aneh yang hadir dalam hatinya, Jungkook masih tetap tidak bisa lepas dari calon istrinya itu. Anggap saja Jungkook sudah menggantungkan dirinya pada wanita dalam pelukannya. Tanpa menyadari takdir apa yang siap menyambut didepannya.

CKLEK.

Suara pintu kamar rawat itu terbuka, membuat keduanya melepaskan pelukannya. Jungkook masih diam, melihat pria tegap dengan penuh karisma yang berbicara dengan dokter, kemudian setelah dokter itu pergi baru Jungkook menghampiri pria itu.

"Namjoon hyung, bagaimana keadaan Jin hyung?"

Pria yang mengenakan kacamata berframe coklat itu tersenyum, menampilkan dimple yang manis.

"Tidak apa-apa. Dia hanya mengalami guncangan kecil akibat kembali mengingat hal yang tidak perlu diingat." Jawabnya tenang.

"Ini pasti gara-gara laki-laki tadi!" geram Jungkook.

"Hey, kau tidak perlu menyalahkannya. Taehyung tidak tahu apa-apa."

"Taehyung?"

DEG. Entah kenapa saat mulutnya mengeluarkan nama itu, jantungnya kembali berdetak dengan cepat. Nama itu seperti tidak asing baginya. Nama itu seolah pas untuk dia ucapkan. Seolah, memang nama itulah yang hilang dari hidupnya.

"Hmm.. Aku juga tidak tahu siapa dia. Jin belum sadar. Jadi kita hanya bisa menunggu keadaannya membaik, baru kita menanyakan siapa itu Taehyung."

Jungkook menundukkan kepalanya, menatap lantai rumah sakit yang dingin. Kemudian menyambut tangan Min Ah yang kini menggenggamnya erat, menguatkan sekaligus menenangkan. Tapi, sekali lagi, perasaannya tidak sama lagi. Sekarang, ada yang berbeda saat dia berhadapan dengan calon istrinya. Ada yang berbeda saat dia menyentuh wanita itu.

Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa Taehyung itu?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Suga kembali menatap jam yang tertempel cantik didinding apartemen Jimin. Ini sudah jam sepuluh malam dan Taehyung belum pulang. Itulah yang membuat Suga panik setengah mati. Jimin sudah mencarinya dari sore tadi dan baru pulang setengah jam yang lalu. Suga ingin melapor pada pihak polisi, tapi Jimin bilang tidak bisa karena belum 24 jam dan yang hilang adalah laki-laki dewasa bukan anak kecil.

"Hyung, lebih baik hyung duduk dulu.."

"Ya Tuhan Jimin! Taehyung belum pulang, dan kau memintaku untuk duduk?! Aku akan mencarinya!"

"Hei.."

Dengan cepat Jimin menarik tangan Suga, menghentikan langkah pria berkulit pucat itu. Jimin tahu Suga sangat mengkhawatirkan Taehyung, dia juga begitu. Tapi Jimin tidak ingin membiarkan Suga mencari Taehyung seorang diri.

"Kita cari bersama. Tunggu sebentar."

Suga menatap Jimin yang kini tengah mengambil jaket dan kunci mobil dengan tatapan bersalah sekaligus kasihan. Dari sore tadi Jimin mencari Taehyung, melarang Suga ikut dengan alasan siapa tahu Taehyung pulang saat Jimin sedang mencarinya. Jimin juga baru pulang setengah jam yang lalu, Jimin pasti sangat capek. Karena setelah dia pulang dari kantor dan mengetahui Taehyung belum pulang dari pagi, pria itu langsung kembali mengambil kunci mobil, mencari Taehyung.

"Hyung? Kenapa?" tanya Jimin yang heran melihat Suga terdiam sambil menatap kearahnya.

"Ada ap-"

Ting Tong

Suara Jimin terhenti, kini keduanya saling bertatapan.

"Apa itu Taehyung?"

Tidak menjawab apa yang ditanyakan Jimin, Suga langsung berjalan cepat membuka pintu apartemen dan begitu terkejut melihat keadaan Taehyung saat ini. Mata indah yang memerah, wajah pucat, pandangan yang kosong.

"Taetae? Ada apa?"

"Hyung…" panggilan lirih yang serak itu terdengar menyakitkan bagi Suga, apalagi saat melihat airmata mengalir begitu saja.

"Ya Tuhan Taehyung-ie, ada apa?"

Tidak menjawab apapun, Taehyung langsung menghempaskan tubuhnya kedalam pelukan Suga. Kemudian menangis dengan keras. Menumpahkan kembali semua perasaan sakit yang baru saja dialaminya.

"Hyuung.. hiks… hiks…"

"Sshhh… ada apa, hm?"

"Hikss… a-aku.. aku.. bertemu dia.. Jung-kook… a-aku bertemu.. dengan-nya.."

Mata sipit Suga dan Jimin melebar mendengar kalimat tersendat dari Taehyung.

"Bertemu… Jungkook?" Jimin bertanya ragu.

"Lalu apa yang terjadi? Bukankah kau bilang akan sangat senang jika bertemu lagi dengan Kook-ie?"

Taehyung melepaskan pelukannya. Menatap Suga sedih sekaligus frustasi.

"Dia tidak mengingatku! Dia melupakanku hyung!" Taehyung menjerit. Perasaannya begitu sesak. Dia seperti kehabisan pasokan oksigen. Membuatnya bernapas dengan tersengal.

"Dia lupa padaku! Dia bertanya, siapa aku! Dia melupakanku!"

"Taetae.. sshh.. sayang.. tenanglah…"

Suga berusaha memeluk Taehyung, tapi Taehyung terus berontak dan terus berteriak histeris. Perasaannya begitu terluka, semua rasa percaya yang selalu dia yakini seolah terenggut paksa. Tuhan seolah sedang mempermainkannya saat ini. Taehyung kesal, marah, terluka, tapi dia tidak bisa memungkiri perasaan rindunya sedikit terobati. Taehyung bingung dengan semua ini.

"Dia tidak mengingatku hyung.." suara lirih itu yang mengakhiri semuanya. Taehyung terpejam, kesadarannya menghilang seiring dengan tubuhnya yang terkulai lemas dipelukan Suga.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Horeee akhirnya bisa diposting juga...

Maaf kalau ada yang sudah menunggu lama...

Nah, untuk calon istrinya Jungkook, biar lebih aman pake nama aku aja ya? Hahaha...

Baiklah, tanpa banyak omong lagi.. silahkan menikmati ceritanya..

semoga tidak mengecewakan, kalau bisa kasih reviewnya... hehe...