Tittle : Hold Me Tight

Author : Kim Joungwook

Pairing : NamJin

Length : 9 of

Genre : Romance

Summary :

Warning : Shounen-ai, BoyXBoy. Typo(s). Don't Like Don't Read!

.

.

.

BTS

.

Setelah semalaman suntuk Seokjin tidur sangat nyenyak, dengan sebuah sms dari Namjoon yang sangat cheesy –

Selamat tidur, princess. Semoga kita bertemu lagi di mimpi.

– Seokjin mendapati dirinya menjadi lebih semangat untuk menjalani hari ini. Meski ada satu hal yang membuatnya cukup ribut pagi tadi.

Kissmark

Karena memang Namjoon bukan seseorang yang akan membiarkan pasangan seksnya pergi tanpa meninggalkan tanda di tubuhnya. Hingga Seokjin harus memutar otak untuk menutupi kissmark yang menutupi leher hingga pangkal pahanya. Beruntung ini sudah memasuki musim gugur, hingga ia tidak akan dilihat aneh jika memakai sweater turtle neck berwarna hijau muda yang ia rangkap dengan mantel hitam Namjoon. Sepertinya menggunakan milik Namjoon tak apa, sekalian ia cuci nanti sepulang kerja.

"Cie~ yang semalam habis kencan." Kalimat penuh godaan itu menjadi ucapan selamat pagi dari sahabatnya itu. Dan Seokjin hanya mengulum senyumnya dengan wajah merona, tidak mencoba untuk menyangkal.

Yoongi menggeser duduknya mendekati meja Seokjin, ia tanpa meminta ijin tiba-tiba menarik kerah turtle neck miliknya dan bersiul menggoda, "Woho~ sepertinya semalam kau benar-benar menikmati kencanmu, sampai meninggalkan banyak bercak merah di lehermu, hyung."

Seokjin mengulum senyumnya, diam-diam tangannya membenarkan kerah yang tadi dibuka Yoongi, "well, aku hanya terlalu terbawa suasana."

"sering-sering saja hyung terbawa suasana." Goda Yoongi lagi. Seokjin mengerang sebal, "kenapa akhir-akhir ini kau sangat menyebalkan Yoongi ya? Sejak kapan kau suka menggodaku?!"

Yoongi terkkeh melihat Seokjin yang mengerutkan keningnya sebal, "menggoda hyung akhir-akhir ini sangat menyenangkan. Dan apa hyung diberi kado berupa mantel ber merk dengan harga yang sangat fantastis?"

Rona merah dipipi Seokjin semakin menjadi, "ini milik Namjoon. Semalam ia meminjamiku ini."

"hey, hyung. Apa aku boleh bertanya sesuatu?"

Seokjin menoleh ke arah Yoongi, apalagi sahabatnya itu berbisik cukup pelan, "apa?"

"semalam, apa hyung diajak ke rumah Namjoon? Atau kalian melakukannya di hotel? Dan aku yakin tak mungkin di rumah hyung, kau pasti tak mau ambil resiko ketahuan Joungkook. Jadi, kalian melakukannya dimana?"

Seokjin tak bisa lagi menahan rona merah diwajahnya, bahkan menyebar sampai telinganya. Astaga! Kejadian semalam bena-benar memalukan untuk diceritakan. Ia haya bisa mengerang sembari menyembunyikan wajahnya di meja, mencoba menyembunyikan wajah meronanya dari Yoongi.

"hyung?"

"aku sangat malu, Yoongi ya. Semalam seakan-akan bukan aku yang menjalani kencan. Ya, itu bukan aku, pasti bukan aku."

Tawa Yoongi pecah melihat aksi Seokjin yang mnurutnya sangat menggemaskan, "memang hyung dan Namjoon melakukan apa? Hanya bercinta kan?"

Seokjin mengangkat kepalanya tiba-tiba, memandang Yoongi dengan wajah memerahnya yang sangat kentara, "kau pasti tak akan percaya jika kuberitahu."

"memang apa?" dan Yoongi justru menatap penuh minat pada Seokjin.

"semalam, kami melakukannya di mobil Namjoon."

Ada jeda beberapa detik sebelum Yoongi memekik, pekikan yang bukan Yoongi sekali.

"Astaga hyung! Serius? Aku tak menyangknya, astaga~ apa yang sudah dilakukan anak SMA itu terhadapmu, hyung?!"

Dan Seokjin hanya meringis melihat Yoongi yang begitu out of character. Ia masih memekik dan mencerca pertanyaan pada Seokjin, membuat namja cantik itu mengusirnya menjauh.

"Sudah jam kerja Yoongi, sana pergi! Kembali ke mejamu!"

"Hyung berhutang stau cerita padaku nanti siang, ok? Aku tunggu saat makan siang, jangan kabur!"

.

.

.

Tapi nyatanya, janji untuk makan siang tidak bisa Seokjin tepati, karena ada hal lebih penting yang harus ia lakukan saat istirahat makan siang.

Bertemu ayah Namjoon misalnya.

Ya, entah bagaimana, ayah Namjoon bisa memiliki nomor ponselnya dan meminta untuk bertemu siang ini, di kafe tak jauh dari tempatnya bekerja. Dan Seokjin tak kuasa untuk menolak ajakan ayah dari namja yang sudah menidurinya dua kali.

"Selamat siang, Tuan Kim, maaf saya terlambat."

Seokjin buru-buru menunduk dalam saat menyadari telah membuat ayah Namjoon menunggu. Namja paruh baya itu hanya mengulum senyumnya dan mengangguk samar, "duduklah Kim Seokjin ssi. Dan semoga kau tidak keberatan dengan segelas teh hangat yang sudah kupesankan untukmu."

Namja canik itu dengan kikuk duduk dan segera mengangguk cepat, "Gwenchana tuan Kim."

Namja paruh baya didepannya itu tersenyum kecil, "tidak perlu terlalu formal. Panggil saja Youngwoon, Kim Youngwoon."

Seokjin menjilat sekilas bibirnya yang tiba-tiba kering, "ne, Kim Youngwoon ssi." Ucapnya pelan. Ia segera mengambil cangkir teh didepannya, yang masih mengeluaran asap tipis. Ia meminumnya sedikit, merasakan betapa leganya cairan hangat itu membasahi lehernya yang tiba-tiba kering.

"jadi, bisa kau ceritakan bagaimana kau bertemu Namjoon?" Kim Youngwoon menyilangkan kakinya dan meletakkan tautan tangannya diatas meja, wajahnya sedikit mendongak, memberikan kesan angkuh didepan Seokjin.

Sekali lagi Seokjin menelan ludahnya gugup. Sangat rumit hanya untuk menceritakan mengenai pertemuan pertamanya dengan Namjoon. Tidak mungkin kan ia bercerita mengenai pengalaman ranjang pertama mereka? karena kenyataannya ia memang bertemu Namjoon di bar dan berakhir di ranjang.

"apa mungkin kau salah satu orang yang menjadi teman ranjangnya?"

Tubh Seokjin tersentak mendengar pertanyaan iitu keluar dari bibir ayah Namjoon.

Suara tawa berat Kim Youngwoon membuat Seokjin memperbaiki ekspresinya, "jadi benar ya? Well, tak kusangka ia bisa membangun hubungan baik dengan teman seksnya."

Kening Seokjin mengernyit tak suka, "maaf, bisakah anda menggunakan kalimat yang lebih baik? Saya bukan teman – maaf – ranjang Namjoon. Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan Namjoon."

Ekspresi namja didepan Seokjin tiba-tiba menggelap, ia menatap tajam ke arah Seokjin, membuat namja cantik itu menggerakkan kakinya gelisah, ia tak suka dikeadaan terpojok seperti ini.

"menurutmu, aku tak tahu apa saja yang dikerjakan oleh anakku sendiri? Bahkan aku mengetahui apa yang tidak kau ketahui Seokjin ssi."

Seokjin hanya diam, kepalanya tertunduk dalam. Ia tak berani lagi menjawab pertanyaan ayah Namjoon. Baru 15 menit duduk disana, ia sudah tidak tahan lagi. Tidak ayah, tidak anak, dua-duanya memiliki aura dominan dan arogansi yang kuat.

Ayah Namjoon berdehem keras, membuat Seokjin mau tidak mau mengangkat wajahnya, ia kembali memandang wajah namja itu.

"aku tidak memiliki banyak waktu. Jadi, langsung saja. Aku ingin kau tidak berhubungan lagi dengan Namjoon."

Meski Seokjin sudah menebak bahwa kalimat itu akan keluar dari bibir ayah Namjoon, tetap saja ia merasa hatinya diremas kuat saat kalimat itu benar-benar ditujukan untuknya.

"Aku tidak melakukan ini karena tidak menyukai hubungan apapun itu yang kau punya dengan anak berandal itu. Aku berbuat ini untuk kebaikanmu dan juga Namjoon sendiri. Kau pikir berapa lama Namjoon akan bertahan denganmu? Kau pasti paham bahwa Namjoon sudah berpuluh kali berganti partner, jadi jangan terlalu berharap pada namja itu. Ia masih terlalu muda untuk mengikat komitmen setelah bertahun-tahun hidup dilingkungan yang membebaskannya berbuat seenaknya."

"maafkan saya Kim Youngwoon ssi. Tapi saya dan Namjoon memang benar-benar tidak memilki hubungan apapun."

Ekspresi Kim Youngwoon menjadi keruh, ia mulai kehilangan kesabaran, "apapun itu, aku minta kau menjauhi Namjoon. Apa yang kau inginkan? Bukankah selama ini Namjoon tidak memberikanmu kasih sayang? Apa yang kau sebut itu cinta? Aku tahu orang seperti apa dirimu Seokjin ssi. Aku tahu kau tidak mengejar uang Namjoon. Tapi untuk pergi dari kehidupan Namjoon, apa yang kau inginkan? Uang? Berapa yang kau butuhkan?"

Seokjin membuka mulutnya tak percaya. Ia sudah pernah melihat di beberapa drama yang ia tonton, dimana pihak orang tua yang kaya meminta kekasih anaknya yang miskin untuk pergi dengan imbalan uang. Tapi ia tak menyangka bahwa hal itu akan terjadi padanya.

Harga diri Seokjin mulai tercoreng dengan kalimat itu. Ia memutuskan untuk segera pergi. Persetan dengan sopan santun!

Seokjin bangkit berdiri, ia memandang tak ramah ke arah ayah Namjoon.

"maafkan saya Kim Youngwoon ssi. Tapi saya tak pernah sekalipun mencoba mendekati Namjoon, justru anak anda yang berulang kali mendatangi saya. Jadi, silahkan anda memperingati anak anda untuk menjauhi saya. Dan untuk uang, maaf, saya tidak membutuhkan sepeserpun uang dari anda. Saya akan dengan senang hati menghindari Namjoon."

Sedikit banyak Kim Youngwoon tidak suka saat orang lain merendahkan keuasaan dan uang yang ia punya. Meski niatnya tidak buruk, tapi ia sungguh membenci orang miskin yang masih sombong didepan orang yang memilki banyak uang seperti dirinya.

"kau pikir, berapa uang yang sudah Namjoon keluarkan untukmu? Hah?!"

Seokjin terdiam. Ia masih berdiri ditempatnya duduk tadi. Seringai Kim Youngwoon keluar begitu melihat Seokjin yang diam.

"Kau pikir hanya rumahmu yang diberi berbagai fasilitas oleh Namjoon? Lalu, bagaimana dengan tagihan kartu kreditmumu yang membengkak dan tidak pernah kau bayar itu? Bagaimana dengan sms dari bank yang sudah tidak pernah kau terima lagi? Kau pikir siapa yang melunasinya?"

Seokjin tidak membalas perkataan ayah Namjoon, ia hanya menunduk dalam-dalam ke arah namja itu dan berjalan, setengah berlari meninggalkan cafe itu. Ia memutuskan untuk pulang, ya pulang. Ia tak akan kembali ke kantor dengan wajahnya yang sudah basah, entah sejak kapan air matanya turun begitu derasnya.

"Kim Namjoon brengsek!"

.

.

.

Seokjin membuka pintu rumahnya perlahan, langsung disambut dengan interior rumah yang terlihat sangat mewah. Dengan berbagai barang mahal yang menghiasi setiap sudut ruangan, yang semuanya dibeli menggunakan uang Namjoon. Dan ia tak mau lagi berpikir, berapa banyak uang yang sebenarnya sudah dikeluarkan Namjoon untuk membeli semua ini.

"seharusnya sejak awal aku memang tidak bertemu Namjoon."

Dengan membawa pikiran itu, Seokjin memasuki kamarnya. Ia melempar tasnya kesembarang tempat dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Yang bahkan juga dibeli dengan uang Namjoon. Matanya bengkak dengan warna merah disekelilingnya. Sepertinya sepanjang perjalanan dari cafe menuju rumahnya ia sudah terlau lama meangis.

"Kau pikir berapa lama Namjoon akan bertahan denganmu? Kau pasti paham bahwa Namjoon sudah berpluh kali berganti partner, jadi jangan terlalu berharap pada namja itu. Ia masih terlalu muda untuk mengikat komitmen setelah bertahun-tahun hidup dilingkungan yang membebaskannya berbuat seenaknya"

Kalimat yang dikeluarkan ayah Namjoon itu memukulnya telak, membawanya kembali ke alam nyata. Kesadarannya seakan ditarik kembali, ia ditampar oleh kenyataan. Mungkin ayah Namjoon memang benar,

bagaimana mungkin ia mengharapkan keseriusan dari bocah berndal seperti Namjoon?

Apa yang ia dapatkan dari hubungannya sekarang dengan Namjoon?

Kepuasan seks?

Atau cinta untuk hatinya?

Memang selama ini Namjoon sudah memberinya kasih sayang?

Padahal baru semalam ia menimati kisah romantis miliknya bersama Namjoon, meninggalkan kissmark yang bahkan belum hilang. Namun keadaan sepertinya tidak membiarkan Seokjin terlarut dalam kebahagiaannya, ia disadarkan dengan cara yang tidak ramah sama sekali.

Dan berpuluh pertanyaan lanjutan mulai kembali memenuhi kepalanya, membuatnya pening. Ia bisa melihat jam di kamarnya menunjukkan pukul 3, ia sudah menangis cukup lama tadi. Dan sepertinya energinya sudah mulai habis. Ia lapar, ia ingat belum makan siang.

Sebelum ia berganti baju, ia memutuskan untuk mengecek ponselnya yang sejak tadi tidak berhenti bergetar. Ia memang memasang mode getar pada ponselnya. Dan hampir semua panggilan masuk dan pesan masuk berasal dari Yoongi. Pasti sahabatnya itu kebingungan karena tidak bertemu dengannya lagi setelah jam istirahat makan siang.

Saat Seokjin tengah membaca pesan dari Yoongi yang masuk ke ponselnya, tiba-tiba sebuah panggilan dari nomor yang tidak ia kenal masuk, membuatnya sedikit terkejut. Seokjin memutuskan untuk bangkit duduk sebelum menjawab panggilan itu.

"yoboseyo?"

"apa anda mengenal saudari Kang Haeri?"

Seokjin mengernyitkan keningnya, itu nama eommanya, "ya. Saya mengenalnya."

"bisakah anda segera datang ke rumah sakit Myungwoo? Saudari Kang Haeri mengalami kecelakan dan sekarang tengah berada di UGD."

"ya."

"terima kasih."

Lalu sambungan diputus. Perlu beberapa detik bagi Seokjin untuk menecerna apa yang baru saja ia dengar. Bukankah ibunya saat ini harusnya ada di Busan? Ya, kecuali jika sejak kemarin ibunya tidak kembali lagi ke busan setelah bertemu Joungkook.

"Tidak. Kuharap eomma baik-baik saja." Ucapnya cepat sebelum kembali berlari keluar kamar. Ia tidak berpikir untuk berganti baju atau sekedar membasuh muka. Yang ia pikirkan sekarang hanya bagaimana keadaan eommanya. Kesadaran kembali membuatnya panik, ia harus segera ke rumah sakit, ya secepatnya. Lupakan masalah Namjoon, kali ini ada masalah yang lebih penting.

"Kuharap tidak parah."

.

.

.

Keadaan rumah sakit cukup ramai saat Seokjin menginjakkan kaki disana. Ia segera bertanya pada salah satu suster yang ada dan mencari tahu letak ruangan UGD yang dimaksud. Dan ia dengan tergesa menuju arah yang ditunjuk oleh suster itu.

"semoga baik-baik saja, semoga tidak parah, semoga eomma selamat."

Seokjin merapal do'a sepanjang langkahnya menuju ruang UGD tempat ibunya berada. Wajahnya kembali basah, lagi-lagi ia menangis. Seburuk apapun perlakuan yeoja itu terhadapnya dan Joungkook, ia masih menyandang gelar sebagai ibu, yang bagaimanapun menjadi satu-satunya orang tua yang mereka miliki.

Begitu melihat sebuah ruangan dengan tulisan UGD berwarna merah diatasnya, Seokjin langsung menghentikan langkahnya. Kedua tagannya menumpu pada lututnya yang setengah tertekuk, wajahnya sudah basah, setengah kerigat setengah air mata yang belum berhenti keluar.

"apa anda kkerabat dari saudari Kang Haeri?" seorang suter dengan pakaian putihnya menghampiri Seokjin. Namja cantik itu segera menegakkan tubuhnya dan mengusap seadanya jejak air mata dan keringat diwaahnya sebelum mengangguk, "ne."

Suster tersebut tersenyum, "Saudari Kang Haeri sudah selesai kami tangani. Sekarang berada di kamar pasien di bangsal C no.7."

Seokjin mengulas senyum seadanya dan menunduk, "Gamshahamnida."

Suster tersebut balas menunduk dan berlalu dari hadapan Seokjin. Namja cantik itu menarik nafasnya dalam-dalam sebelum berlalu menuju kamar sang eomma. Ia belum tenang sebelum melihat keadaan sang eomma. Ia butuh melihatnya sekarang.

Sekali lagi Seokjin bertaya pada suster yag ia temui, arah mana yang harus ia ambil untuk mencapai ruangan tempat eomanya diawat. Setelah dua kali bertanya, akhirnya ia bisa menemukannya, sebuah ruangan dengan 6 ranjang yang sudah terisi 5, salah satunya sang eomma yang bisa ia kenali tertidur di ranjang paling ujung.

"astaga, eomma." Seokjin berusaha untuk tidak berlari dan menyempatkan diri menunduk saat bertatap muka dengan pasien yang lain. ia berhenti disisi ranjang ibunya dan seketika itu juga air matanya kembali mengalir. Keadaan ibunya tidak bisa dikatakan baik-baik saja, karena bahkan ia hampir-hampir tidak bisa mengenali wajah yeoja itu.

"eomma, hiks, eomma." Seokjin duduk dikursi samping ranjang, menggenggam hati-hati tangan ibunya yang terpasang infus. Tubuh yeoja itu penuh dengan lebam berwarna merah sampai hitam, kaki dan tangannya penuh perban, bahkan kepalanya masih terdapat bercak merah diperban yang juga dililit disana. Mata sang eomma tertutup rapat, dengan bantuan alat pernafasan, ia bisa melihat dada sang eommma naik turun dengan teratur.

Setidaknya, eommanya masih bernafas.

.

.

.

Seokjin duduk diam dikursi tunggu diluar ruangan tempat eommanya dirawat. Ia sudah bertemu dengan dokter yang bertanggung jawab terhadap sang eomma, dan ia juga sudah diberikan penjelasan mengenai keadaan dari eommanya. Ia juga sudah bertemu dengan polisi, karena memang kecelakaan sang eomma adalah kecelakaan tunggal, sehingga polisi juga tidak bisa membantu banyak dalam hal biaya dan pengajuan asuransi.

Hasil pemeriksaan yang tadi diberitahukan oleh dokter membuat Seokjin terdiam. Dokter bilang, luka-luka yang didapat sang eomma disekujur tubuhnya bukan hanya dari kecelakaan mobil, namun kemungkinan besar yeoja itu sudah dipukuli dan dianiaya sebelum mengalami kecelakaan. Dan hal itu sudah menjelaskan mengenai puluhan lebam disekujur tubuh eommanya.

"Seokjin hyung?"

Suara Joungkook membuat Seokjin menoleh. Ia tersenyum tipis melihat Joungkook dan Taehyung yang masih memakai seragam berjalan kearahnya. Ia merentangkan tangannya dan langsung disambut dengan pelukan erat oleh Joungkook.

"eomma kecelakaan, Kookie ya." Ucap Seokjin pelan. Ia memeluk Joungkook erat sekali, melampiaskan kekalutannya yang sejak tadi hanya seorang diri mengurus seluruh keperluan eommanya.

Joungkook hanya mengangguk dan balas memeluk Seokjin, mengusap lembut punggung kakaknya itu, mencoba menenangkan perasaan namja cantik itu yag pasti sangat kalut. Bagaimanapun, Joungkook tahu bahwa kakaknya masih menghormati dan menyayangi yeoja yang telah melahirkan mereka. walau Joungkook meragukan perasaannya sendiri.

Taehyung yang melihat kakak beradik yang saling berpelukan itu hanya tersenyum dan ikut duduk disamping Joungkook, menepuk pelan pundak kekasihnya.

"Aku akan membeli minum." Ucapnya tanpa suara saat Joungkook menatapnya. Namja Jeon itu mengangguk, dan Taehyung menyempetkan untuk mencium rambut Joungkook sebelum berjalan menjauh. Setidaknya ia bisa membantu dengan membelikan coklat hangat untuk Seokjin.

Hampir 15 menit Joungkook membiarkan Seokjin memeluknya, bahkan sampai tertidur dan terkulai dibahunya. Ia tahu, ia yakin bahwa kakak cantiknya itu pasti sudah lelah menangis sejak mengetahui berita kecelakaan sang eomma.

"Kookie?" Taehyung memanggil, ditangannya ada 3 gelas yang mengeluarkan asap tipis. Joungkook mengangkat wajahnya yang tadi bersembunyi pada helaian lembut Seokjin. Ia tersenyum dan sedikit memperbaiki tubuh Seokjin hingga ia bisa menerima segelas coklat hangat dari Taehyung.

"Gomawo, sayang." Ucap Joungkook sebelum meminum cairan hangat ditangannya. Perasaannya membaik berkat kehadiran Taehyung dan segelas coklat hangat yang baru saja ia minum. Taehyung ikut duduk disampig Joungkook, "lalu, apa yang sekarang akan kau lakuan?"

"aku perlu bertemu dokter untuk mengetahui keadaan Kang Haeri. Seokjin hyung belum bercerita apa-apa tadi." Ucap Joungkook. Taehyung hanya mengangguk, ia tidak berhak ikut campur dalam masalah keluarga kekasihnya itu, yang ia bisa hanya mencoba berada disamping Joungkook selama namja itu menginginkannya.

"jadi, bisakah kau menemani Seokjin hyung disini selama aku bertemu dengan dokter?" tanya Joungkook. Taehyung melihat Seokjin yang tengah tertidur dengan sangat nyenyak, bahkan sepertinya tidak akan bangun bahkan jika Joungkook memindahkan tubuhnya. Dan karena itu juga kini Seokjin berpindah menjadi bersandar pada bahu Taehyung, meski tingginya melebihi Joungkook, tapi Seokjin lebih ringan dari pada adiknya.

Joungkook mengusap lembut rambut Seokjin yang bersandar nyaman pada bahu Taehyung sebelum gantian mengusap milik Taehyung, "aku tinggal sebentar, tae."

Dan Taehyung mengangguk, mengalihkan perhatiannya kini pada sosok Seokjin yang masih terlelap. Ia menggenggam tangan Seokjin dan mengusap punggung telapaknya lembut, kakak lelaki kekasihnya ini terlihat sangat luar biasa. Dibalik sosoknya yang terlihat lembut dan cantik, Seokjin adalah pekerja keras yang sangat mencintai adiknya. Ia berusaha keras seorang diri untuk memenuhi kebutuhannya dan adiknya, melarang Joungkook untuk membantu bekerja.

Taehyung sangat mengagumi sosok Seokjin, menyayanginya seakan ia adalah hyung kandungnya. Karena memang ia adalah anak tunggal, dan mengenal Seokjin serta Joungkook membuatnya seakan memiliki keluarga baru.

Taehyung masih terus mengusap tangan Seokjin, lengkap dengan segala pikiran dan lamunannya, hingga langkah Joungkook dan kursi disebelahnya yang diisi membuatnya tersadar kembali. Ia menoleh, mendapati Joungkook yang sudah kembali.

"bagaimana?" tanya Taehyung. Joungkook menghela nafasnya panjang, "Yeoja itu sepertinya mengalami kekerasan fisik sebelum kecelakaan, dan membuat tubuhnya benar-benar parah. Terdapat beberapa luka dalam yang mengharuskannya operasi, namun harus menunggu yeoja itu sadar. Dokter sudah mengambil tindakan seperlunya untuk mempertahankan nyawa yeoja itu, namun keputusan untuk operasi lebih besar sepenuhnya diatangan Seokjin hyung. Dokter juga perlu menunggu yeoja itu sadar untuk mengetahui keadaannya lebih lanjut."

Taehyung meringis, "separah itu ya?"

Joungkook menganguk lemah, "ya, sepertinya luka dikepalanya juga sedikit parah."

"lalu pa yang akan kau lakukan sekarag?" tany Taehyung, "aku akan pulag dengan Seokjin hyung, biar besok pagi setelah keadaan Seokjin hyung lebih baik kesini lagi."

"lalu eommamu?" Joungkook sedikit mengernyit tak suka saat kata 'eomma' disandingkan dengan 'mu' yang ditujukan untuknya. Dan Taehyung menyadari itu. Namja manis yang menyandang gelar sebagai kekasih jeon Joungkook itu dengan cepat tersenyum lebar menunjukkan senyum simetrisnya.

"kalau begitu kita pulang saja sekarang, ya? Sudah jam 7 lebih, dan aku lapar." Ucap Taehyung setengah merengek. Joungkook terkekeh dan mengacak lembut Taehyung, "kajja."

Dengan mudah Joungkook menggendog tubuh Seokjin dengan kedua lengannya, berjalan meninggalkan rumah sakit.

.

.

.

3 hari sudah berlalu sejak Seokjin bertemu ayah Namjoon, juga kecelakaan yang menimpa sang eomma. Dan sejak itu ia mencoba menghindari Namjoon, tidak membalas pesannya dan mengabaikan semua panggilan telponnya. Beruntung Namjoon tidak menghampirnya langsung ke rumah, mungkin, ini hanya mungkin, ayah Namjoon yang memang tidak memberikan waktu bagi anaknya untuk bertemu Seokjin. Dan sedikit banyak Seokjin merasa kehilangan, tidak, maksudnya hanya sedikit, ya, benar-benar sedikit.

"kau tidak terlihat baik, hyung."

"hah?"

Seokjin mengerjapkan matanya cepat, ia menoleh dan mendapati Yoongi yang berdiri disampingnya. Seokjin segera tersenyum dan menggeleng, "tidak. Aku baik-baik saja."

Yoongi menghela nafasnya panjang, "kau tidak baik-baik saja hyung. Lihat kantung matamu, dan nafsu makanmu yang berkurang drastis. Kau pasti sangat tidak baik-baik saja. Dan berhentilah lembur, aku dan Jimin bisa membantumu untuk melunasi administrasi rumah sakit ahjumma."

Mata Seokjin meredup, "tidak Yoongi, aku tidak mau merepotkanmu lebih dari ini. Dan kau juga perlu banyak biaya untuk pernikahanmu bulan depan, lebih baik kau menabung. Dan aku memang butuh lembur Yoongi, aku per – "

"tidak! Hyung tidak boleh lembur hari ini. Ayo, au dan Jimin berniat mengunjungi ahjumma sore ini. Kuantar sekalian hyung kesana. Kau tidak membawa mobilkan hari ini?"

Seokjin ingin sekali menolak, tapi tatapan tajam Yoongi membuatnya urung, karena saat Yoongi mulai menatapnya tajam setengah memohon seperti itu, tandanya ia tak ingin dibantah. Hingga ia hanya bisa menghela nafasnya pasrah, "baiklah. Tunggu aku dibawah, aku akan membereskan barangku dulu."

Yoongi tersenyum lebar, memperlihatkan gusi pink nya yang terlihat sangat manis, "aku tunggu dibawah bersama Jimin ya hyung, jangan lama-lama."

"ya."

Dan begitulah cerita bagaimana Seokjin bisa terjebak dibangku belakang dari mobil merah milik Jimin. Setengah dipaksa bersama menuju rumah sakit tempat eommanya dirawat. Ini sudah hari ketiga, tapi sang eomma juga belum juga sadar, meski kata dokter masih belum gawat, tapi tetap saja Seokjin khawatir.

"Benar kata Yoongi hyung, kau terlihat kacau, hyung."

Seokjin melihat kedepan, bertatapan dengan Jimin dari cermin rear-view didepannya. Ia tersenyum lebar, "aku baik-baik saja, Jimin. Berhentilah mengucapkan kalimat seakan-akan aku terlihat sangat berantakan kalian berdua. Aku sehat, dan aku merasa baik, terima kasih. Hehehe"

Jimin dan Yoongi saling betatapan sebelum akhirnya hanya menghela nafas pendek, "terserah kau saja hyung. Kami hanya ingin mengingatkan hyung bahwa kau tidak sendiri, masih ada aku dan Yoongi hyung jika butuh bantuan."

Seokjin tersenyum dan mengangguk, "aku tahu, Jimin, aku tahu."

.

.

.

Waktu berlalu begitu saja, dan seminggu telah terlewati sanpa disadari oleh Seokjin. Dan sang eomma belum juga bangun. Hal itu membuat Seokjin semakin kacau. Ia berusaha mati-matian mengumpulkan uang untuk menutup biaya rumah sakit yang tidak murah, bahkan ia seakan melupakan Joungkook. Ia selalu beragkat pagi dan pulang larut, terkadang menginap di rumah sakit. Dan ia bersyukur karena Joungkook mengerti hal itu.

"hyung, pulanglah. Aku akan gantian menjaga disini." Ucap Joungkook saat sudah 3 hari Seokjin tidak pulang kerumah. Membuat kantung mata Seokjin semakin parah, juga wajahnya yang semakin pucat, belum lagi tubuhnya yang terlihat semakin kurus.

Seokjin tersenyum melihat sosok Joungkook dikamar ibunya. Bahkan Joungkook tidak pernah kemari, hanya sekali dulu saat pertama menjemput Seokjin. "benarkah? Memang kau mau bermalam disini?"

Joungkook mengangguk, "ya, tak apa. Lagipula besok hari libur hyung, tak apa. Taehyung akan menemaniku selamanan nanti."

"hah? Kau juga mengajak Taehyung?!"

"ada apa denganku?" tiba-tiba Taehyung datang dengan plastik ditangannya, sepertinya ia habis membeli sesuatu di minimarket bawah.

"kau akan menemani Joungkook disini?"

Taehyung tersenyum lebar lalu mengagguk, "ya, aku akan menemani kookie. Aku sudah ijin eomma hyung, tenang saja. Oke?"

"hah, terserah kalian saja. Terima kasih ya Taehyung, sudah mau direpotkan oleh bocah nakal satu itu."

Taehyung terkekeh, "sama-sama hyung lagipula aku juga tidak direpokan kok, iya kan kookie?" Joungkook mengangguk, "ya, bukankah memang seperti itu gunanya kekasih? Kita harus saling merepotkan satu sama lain!"

Seokjin tertawa, "yah! Teori darimana itu?!"

"ngomong-ngomong, hyung tidak memberitahu Namjoon hyung ya kalau Kang Haeri masuk rumah sakit?" tanya Joungkook. Seokjin yang tengah membereskan barangnya terdiam, "ada apa dengan membicarakan mengenai Namjoon tiba-tiba?"

Joungkook mengangkat kedua bahunya acuh, "hanya heran saja, sudah seminggu hyung bolak-balik rumah sakit, namun aku belum melihat Namjoon hyung sama sekali. Kalian bertengkar hyung?"

"aku tidak bertengkar dengan Namjoon, Joungkook. Sudahlah, jangan berbicara yang tidak-tidak. Hyung pulang dulu, jika ada apa-apa langsung hubungi nomor hyung, ya?" ucap Seokjin cepat. Ia tidak mau berlama-lama disini jika nantinya Joungkook akan terus bertanya mengenai Namjoon.

"ah, iya, Namjoon hyung! Aku juga tidak melihat Namjoon hyung di sekolah. Memang Namjoon hyung kenapa, hyung?" belum sempat Seokjin mengambil langkah menjauh, Taehyung sudah ikut-ikutan bertaya. Kali ini pertanyaan itu menggelitik perut Seokjin, memaksanya untuk berbalik dan memandang Taehyung juga Joungkook.

Seokjin terlihat ragu sebelum akhirnya berani menanyakan "memang sudah berapa lama Namjoon tidak masuk sekolah?"

"satu minggu? Sekitar itu. Iyakan, kookie?"

Joungkook mengangguk, "ya. Sekitar itu semingguan. Hoseok hyung juga tidak tahu dia dimana. Hyung tahu?"

Seokjin menggeleng, "tidak, aku tidak tahu. Ia terakhir menghubungiku 3 hari yang lalu, setelah itu ia tidak memberi kabar apapun padaku." Ya, karena memang Seokjin tidak mencoba untuk membalasnya. Walau sebenarnya ia merasa kecewa karena sejak 3 hari yang lalu Namjoon berhenti menelpon dan mengiriminya pesan. Tapi ia mencoba untuk tidak peduli, toh, ia juga yang ingin memutus kontak dengan namja Kim yang arogan itu.

"well, tapi mungkin saja ia memiliki acara keluarga yng mengharuskannya ijin sekolah? Kalian tahukan, terakhir Namjoon kembali ke rumah karena appanya pulang. Paling sebentar lagi ia akan muncul."

"ya, sebentar lagi dia pasti akan muncul dihadapan Seokjin hyung, mana bisa si Namjoon itu menahan rindunya pada hyung tercantikku."

.

.

.

Dan Seokjin tak menyangka, bahwa kata 'sebentar' yang tadi baru saja diucapkan Joungkook dirumah sakit akan datang secepat ini. Benar-benar waktu yang singkat untuk mewujudkan kalimat Joungkook.

Karena kini, saat Seokjin tepat sampai didepan pintu rumahnya, melangkah ke dalam, ia melihat sosok Namjoon disana. Berdiri sepuluh langkah dari pintu masuk.

"akirnya aku bisa bertemu denganmu lagi, princess."

.

.

.

TBC

Oh My God! Maafkan akuuuu, auk bersalah, aku benr benar bersalah. Sudah berapa bulan gak update? Duh, maafkan aku, padahal tinggal 2-3 chapter, malah ngaret. Maaf yaaaa

Dan ini akhirnya aku bisa update, dan semoga tidak mengcewakan. Aku tidak berani menjanjikan update cepat, karena memang kuliahku sedang penuh dengan penutupan organisasi akhir tahun, penuh dengan lpj dan tetek bengek administrasi lainnya, jadi maaf.

Tapi aku janji akan menyelesaikan fic ini secepatnya. Ada banyak ide mengenai namjin diotakku, hanya butuh waktu untuk menuliskannya, sabar ya~

Hehehehe, dan gomawo yang telah menunggu, bahkan sampai mengingatkanku di kotak review, gomawo~ kalian benar-benar membuatku terharu.

Dan semoga chapter ini tidak mengecewakan, chap depan klimaks, dan semoga kalian tidak mengharapkan yang muluk-muluk, aku tidak suka drama yang terlalul drama. Bahkan kemunculan ayah Namjoon disini sudah terlalu drama, heheheee

Annyeong~ sekian dulu saja cuap-cuapku, sampai bertemu lagi chapter depan.

Gomawo~~~