Edward (Add) : Lunatic Psyker

. . . . .

A/N : Ada sedikit perubahan di chapter sebelumnya, tapi gak sampai 30% dari keseluruhan cerita, 'kok. Dan maaf update agak lama soalnya saya merombak bagian kedua ini agar lebih 'padat' dan singkat. Saya bukanlah tipe orang yang mudah termotivasi kalau mengerjakan multichapter (yha ini gak guna banget). Semoga masih bagus—

Plus, tugas presentasi, ujian praktek, try out, dan makalah siap 'membunuh' saya. Ugh— /derita kelas XII /gulung diri /nangis guling-guling.


Keramaian dalam kafe tidak menurunkan kewaspadaan Elesis beserta bawahannya. Pendapatan tertinggi biasanya pada setiap hari Sabtu, yang artinya hari ini. Elesis menenangkan diri agar tidak panik. Ia terfokus melakukan beragam hal sekaligus; seperti menerima pesanan, mengantar makanan, dan mengurus kebersihan meja. Semua itu demi memuaskan hati para pelanggan. Situasi kacau yang menyibukkan ini justru kesukaannya. Daripada sepi, alangkah bagusnya kalau ramai, bukan?

Dentingan bel pintu sukses menangkap perhatian Elesis. Manik rubi menoleh dengan penuh rasa penasaran. Siapakah pelanggan selanjutnya? Elesis tidak sabar menemukan jawabannya. Sang manajer bersiap menyambut orang tersebut, tetapi sayangnya, kata-katanya tertahan pahit. Sosok tersebut bukanlah tamu reguler.

Lebih tepatnya, mimpi buruk pegawai El-Star.

Seorang pria tinggi bersurai gelap kebiruan; beberapa helainya sedikit memutih, memasuki kafe. Langkah bot hitamnya menggema sampai Elesis sendiri bergidik ngeri. Si pendatang sesekali mendengus sebelum menempati sebuah meja kosong di dekat jendela.

Setelan coat navy blue berkualitas tinggi dibiarkan terurai terbuka; memperlihatkan balutan kemeja hitam berkancing perak yang berkilau bak bintang. Belum lagi jemarinya terbungkus sarung tangan, meski musim dingin telah lama pergi.

Elesis gemetar, ia tahu betul siapa pria itu. Dan dia tahu siapa yang hendak dicarinya. Si rambut merah segera mundur mendatangi dapur. Langkahnya tergesa seperti dikejar oleh waktu.

"Ciel," Elesis memanggil lembut begitu membuka pintu dapur; walau batin sibuk menjerit. "Dia... disini."

Kekhawatiran si rambut merah yang biasanya selalu riang dan tak kenal takut ini, mengakibatkan seluruh staf merasa tidak tenang. Menyadari situasinya, Ciel langsung tahu siapa yang berkunjung.

Ciel terpaksa harus menghadapi ayahnya. Lagi.

Bagi orang luar yang hanya memuja paras penampilan, pasti akan beranggapan bahwa Roy adalah seorang lelaki tampan, walaupun telah berusia 53 tahun. Mereka menganggapnya sebagaimana anggur tua nan ranum; semakin tua, semakin berkualitas. Pernah terlintas di benak Ciel, bagaimana caranya si pria tua menjengkelkan itu mencegah ubanan.

Tentu saja, para wartawan maupun pencinta kuliner tidak memperdulikan pemikiran Ciel. Yang terpenting, sosok hebat macam Roy Guartismo takkan pernah mengecewakan ekspektasi kritikus dunia.

Setiap mawar memiliki duri tersembunyi. Hanya orang-orang idiot yang belum menyadarinya, Ciel terkekeh kecil di tengah imajinasinya saat menghampiri kursi di depan ayahnya.

Roy, menurut Ciel, kemungkinan datang berkat laporan Lu. Sudah diduga skenario macam ini akan menjadi nyata. Memanfaatkan orang sudah biasa, serta, Ciel mawas diri mengenai sifat agresif Roy. Dia memutuskan untuk duduk tenang tanpa melawan.

Kalaupun Ciel mampu bertahan.

. . . . .

"Lebih baik kita keluar saja, yah. Daripada mengganggu pelanggan—"

Roy seketika bangkit. Alisnya berkedut, suara menggeram dan mengamuk keras. Sang ayah menunjuk mantap batang hidung Elesis, "Kamu lebih baik dari dia! Buat apa kamu tetap disini; rela digaji murah, padahal keahlianmu melebihi koki bintang lima sekalipun?!"

"Ayah..." Ciel mulai naik pitam. Kesabarannya menipis seiring meningginya nada kasar sang ayah, "Aku tidak akan mengulanginya lagi. Suara lantang ayah membuat resah para pengunjung. Mari kita selesaikan baik-baik—"

"Aku tidak akan tenang sampai kamu setuju kembali ke tempatmu yang layak!" Roy memotong. Ia menyerang balik tanpa pamrih; tidak memperdulikan keadaan sekitar. Hati serta pikiran si rambut biru memanas.

Tanpa disadari oleh Ciel, Raven mengamati segalanya dari luar jendela. Iya, biolanya sibuk menghasilkan melodi menentramkan hati, dan iya, penonton cukup banyak. Sang gagak resah melihat pertarungan verbal tidak seimbang yang didominasi oleh Roy. Iris emasnya konstan bergulir dari jemarinya ke pemandangan di depan.

Beberapa diantara kerumunan bahkan menangkap dan menelusuri arah pandang Raven. Mereka secara jelas menyaksikan si rambut putih tak berkutik sambil menunduk; menghadap kedua tangannya yang terkepal kencang di bawah meja. Semuanya khawatir, terutama Raven.

Keresahan Raven terus menyelimuti bahkan ketika menggerakan kursinya seusai bermain. Dia kaget bukan kepalang begitu wajahnya berpapasan dengan Roy di pintu masuk. Muka sang ayah terlihat merah akibat murka, dan sempat menatap tajam pada Raven sebelum menjauh. Niat Raven untuk menanyai perihal masalahnya dengan Ciel ia urungkan. Emosi lelaki tersebut pasti bakal meledak habis-habisan.

Raven mendorong kursi rodanya masuk. Tidak mengherankan pandangan semuanya melekat pada seorang lelaki yang masih terduduk kaku, setelah kalah telak; tak mampu membela diri. Sang gagak perlahan mendekat, "Hei, ayolah." Raven mengelus pundak kiri temannya itu. Dia berusaha menghibur, "Suatu hari nanti, ia akan menyerah pada akhirnya, 'kan? Tetaplah percaya pada dirimu—"

Ciel berdiri tanpa suara. Membalas pun juga tidak dilakukannya. Si rambut putih malah menghindar, berjalan kembali menuju dapur. Tak lama berselang, sebuah suara keras memecah keheningan. Berkali-kali pukulan di dinding mengejutkan telinga, sampai isak tangisan Ciel turut mendapatkan simpati para pelanggan. Raven bergegas memutar kedua rodanya. Dia ingin berada di samping Ciel. Dia harus membantu.

Namun Elesis berbeda pendapat. Dia berdiri menghalangi pintu.

"Elesis... Kamu pernah bilang kalau aku sahabatnya, bukan?" Raven memberikan alibinya. "Lalu, kenapa sekarang...?"

Elesis sendiri tak bisa mengendalikan diri. Ucapan pria di depannya ini benar, tetapi kaki si manajer menempel pada posisi. Otaknya berpikir keras guna mendapatkan balasan yang logis. "Biarkan dia... sendiri dulu, Raven. Setidaknya, berikan dia waktu untuk mendinginkan kepala. Ini juga... yang ia mau; dia berbisik kepadaku sebelum masuk. Kalau saja Ciel tidak menginginkan demikian, mana mungkin aku menghentikanmu sekarang."

Raven memandang sejenak, kemudian membuang muka. "Iya. Aku lupa kalau aku hanyalah karakter baru yang bahkan belum genap 1 tahun bersamanya." Raven berbalik arah, emosinya tercampur aduk. Bingung antara kecewa karena dirinya tidak dipercayai, atau sedih melihat kondisi Ciel. Ia harus memilih antara egonya atau temannya. Siapa juga yang mau dikesampingkan ketika ingin membantu orang yang disayangi? Itulah yang Raven rasakan sekarang.

Salah satu tugas sahabat adalah membantu di masa sulit, bukan? Apa iya Ciel tidak mau 'sisi lemahnya' diperlihatkan? Itu... aneh.

"Aku mengandalkanmu, Elesis."

.

.

.

Tak ada yang berbicara maupun angkat suara menyangkut konflik tadi siang. Ciel terdiam sepanjang perjalanan, membuat Raven ragu ingin mengatakan apa untuk menghilangkan kesunyian. Si rambut hitam penasaran setengah mati. Apa yang sebenarnya Roy lakukan sampai temannya seperti ini?

Saat masuk ke dalam lift, tiba-tiba, lelaki berambut keperakan menahan pintu lift dari luar; memaksa masuk, lalu meneliti saksama tombol lift. Tak lama, kepala orang itu mundur ke posisi yang menurutnya nyaman; seolah memberi pertanda pada Raven bahwa pria ini juga akan turun di lantai yang sama.

Tetapi ada yang menganggu. Siapa dia? Mengapa baru kali ini Raven melihatnya?

"Boleh saya tanya, anda ingin menemui siapa?" Raven menoleh; berpapasan dengan sorot amethyst lawan bicaranya.

"A-aku mau menemui seseorang di apartemen 302. Kenapa?"

302? Kali ini Raven menatap Ciel. Masalahnya, keduanya tahu betul bahwa gadis sebaik Hanna mana mungkin memiliki teman macam ini. Hanna merupakan orang yang paling berjasa jauh sebelum Raven bertemu Ciel. Hanna sering membawakan sayuran dan kebutuhan bulanan Raven; bahkan tanpa diminta sekalipun. Dengar-dengar, Hanna sudah bertunangan dengan Prauss— Iya, Prauss temannya Ciel itu! Dunia memang sempit, ya.

Ah, Raven pikir apa sih?

"Jadi kamu rekan kerjanya?" Mana mungkin Raven mengatakan 'pacar'. Karena Hanna bukanlah tipe yang suka menduakan; Raven berbisik pada dirinya sendiri.

Lelaki tersebut mengangguk lemah. Dia memalingkan wajah sedetik kemudian.

Walaupun benak Raven bertanya-tanya, Ciel tak peduli sama sekali. Si rambut putih mempertahankan dirinya agar tidak terhanyut seperti temannya. Dia mendorong kursi roda Raven ke luar, bergerak meninggalkan pemuda 'aneh' tadi di tempat semula. Akhirnya Ciel membuka mulut, "Sudahlah, Raven. Jangan berlebihan. Daya khayalmu terkadang seram, loh."

Tetapi sang gagak tidak mengindahkan. Lega 'sih dirinya begitu mendengar Ciel berbicara, namun hatinya merasa sesuatu akan terjadi.

Andaikan Raven salah; itulah doanya saat ini.

Baru saja Ciel berniat mengunci pintu, sebuah tangan maskulin menahan pintu agar tidak tertutup.

BRAK!

Kepala Ciel terhempas begitu pintu menghantam. Begitu keras, sampai badannya tumbang seketika. Dia tidak berkutik sama sekali. Mata Ciel terpejam, darah segar mengalir dari kening.

Ini buruk. Siapa yang tega melakukan hal sebrutal ini?

Raven terkejut bukan main. Dia berusaha menoleh ke belakang; mencari tahu pelaku dibalik aksi kejahatan ini. Apa dia pencuri? Pembunuh? Beribu hal memenuhi kepala; paranoia merambat hingga ke sekujur tubuh.

Belum saja Raven bertindak, kursi rodanya tiba-tiba dibanting.

Semua berlangsung begitu cepat. Sang gagak terjatuh mengenai ubin; ia merintih menahan sakit. Detingan besi dari lengan nasodnya membuat Raven semakin kacau. Oh astaga, beban di sisi kirinya terlalu berat untuk ditanggung! Apabila lengannya ini rusak, entah apa yang bisa Raven lakukan. Tidak, tidak. Dia harus kuat, meskipun ia sadar badannya tak mampu menahan perih.

Siluet baru membayangi Raven. Seseorang baru saja datang; hanya diam berdiri mengamati penuh kebanggaan. Tirai surai legam Raven memang nyaris menutupi seluruh wajah, namun matanya mampu melihat jelas akan siapa yang berdiri di pintu.

Nafasnya tercekat, manik madu membulat tidak percaya.

"R-roy..."

Edward; nama si pria asing, menopang lengan Ciel di bahu. Ia yakin si rambut putih sudah pingsan dan mustahil bergerak apalagi meronta. Merasa puas, Roy memberi isyarat untuk pergi.

Posisi kursi roda sudah jatuh miring, akan lama mengangkatnya kembali. Merasa tidak punya pilihan lain, sang gagak tak membuang waktu. Jantungnya berdegup nyeri. Ia memutuskan mengambil opsi yang cukup nekat.

Dia menyeret kakinya; melintasi lantai.

Beruntung bagi Raven, Roy belum jauh. Dia merangkak sekuat tenaga. Desahan berat meluncur, keringat membuat basah kuyup wajahnya. Kontak antar karpet dengan lengannya meninggalkan sedikit luka gesekan. Tetapi semua halangan itu bukanlah masalah bagi Raven— takkan ia biarkan menjadi masalah.

Jerih payahnya membuahkan hasil. Raven berhasil meraih pergelangan kaki kiri sang ayah.

"Ciel adalah anakmu, bukan boneka! Dia berhak menentukan hidupnya sendiri!" Cengkraman Raven tidak melemah sedikitpun, walau sudah berusaha dihempas. "Pikirkan kebahagiaan yang anakmu peroleh sejak dia bekerja di kafe itu. Sejak dia diterima, hanya dalam waktu 1 tahun, ramai dikunjungi, bukan—"

"Itu semua berkat ilmu yang kuberi dan kuajarkan padanya!" Roy membentak balik. "Kamu tahu apa, hah?! Pembuat kue rendahan mana mungkin setara dengan keahlian seseorang yang telah kudidik sejak kecil! Reputasi restoran ini merupakan usahaku selama 25 tahun, dan aku tidak berniat ada orang lain kecuali darah dagingku yang berhak mewarisi."

"Pernahkah anda berpikir jika anda melucuti kebahagiaan Ciel, hanya agar dirinya menjadi apa yang anda mau; dikendalikan, itu sama saja membunuh anak anda sendiri?"

"Apa pedulimu?! Memangnya dia begitu penting bagimu?"

"Tentu saja dia penting, karena saya mencintainya!"

Roy berhenti berjalan.

"M-maksud saya," Raven sukses mendapat perhatian Roy, tetapi nafasnya yang menderu menyamarkan ucapannya. Dan nampaknya dia salah bicara. Raven langsung mengalihkan kesalahannya. "Tentu Ciel mahir memasak, menumis, memanggang kue, ataupun lainnya. Tangannya memang terampil, namun apakah mentalnya siap? Anda seharusnya lihat seberapa senang Ciel saat dirinya bersama rekan-rekannya di dapur. Mereka menyempatkan diri untuk berbincang serta berkelakar meski di bawah tekanan.

"Ciel membutuhkan teman yang dapat membuatnya bahagia agar tetap mencintai apa yang ia kerjakan. Kalau tidak, hatinya akan perlahan kehilangan gairah; walau saya yakin anda bisa memberinya bahan masakan berkualitas terbaik, ataupun tutor terhebat sekalipun. Hidupnya hanya sekali, tuan. Ciel tidak peduli uang maupun jabatan— bukan itu alasannya. Namun karena ia tulus mencintai apa yang ia kerjakan. Apa demi menjadi 'sempurna' harus mengorbankan kebebasan?"

Raven akhirnya menggadah, "Saya berani bertaruh anda tidak mengenal sendiri anak anda. Hanya menganggap Ciel sebagai mesin untuk mewujudkan impian hampa orang tua. Ciel benci dikekang; lebih baik dia mati daripada kebebasannya direnggut. Dia pernah... bilang begitu." Sang gagak menatap tegas lawan bicaranya, "Anda sudah kehilangan istri. Jangan sampai anak sehebat Ciel ikut menjemput ajal hanya karena stress. Saya mohon... Jika ini bentuk kasih sayang anda, maka anda-lah yang salah."

Roy terdiam sejenak. Dia melirik anaknya, kemudian menatap kembali pria di bawah yang tengah menggigit bawah bibir. Baru kali ini... ada yang berani mengungkapkan perilaku Roy sedetail itu.

Ia kemudian teringat masa-masa Ciel 'memberontak' di dapur rumah. Anak itu sengaja memberikan bumbu yang salah, mengasapi ikan sampai gosong, hingga melamun ketika sedang memotong sayuran. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana nanti nasib restoran Roy kalau Ciel dipekerjakan. Apa nanti bisa kebakaran— Argh! Itu horor, horor!

Restorannya diperuntungkan bagi koki berbakat yang bersedia mempertahankan nama baik, bukan menghancurkannya. Sifat keras kepala Roy tampaknya menurun ke anaknya itu.

Menyakitkan memang, tetapi perkataan Raven ada benarnya. Membelenggu Ciel demi menjadi 'tiruan sempurna' sepertinya tidak akan bisa diterapkan dengan baik. Well, walaupun dia masih bersikeras ingin memaksa, siapa yang berani membantah pemilik manik emas berkarisma macam Raven?

Untuk pertama kalinya, Roy menyatakan kalah.

"Aku hanya... ingin dia sukses. Aku mau... dia senang; dengan segala tindakanku yang sebenarnya bertujuan baik demi masa depannya. Tiada di dunia ini yang mau anaknya bernasib malang, 'kan?"

"Tetapi anda harus tahu, tuan. Ciel sudah memilih takdirnya. Saya yakin, segala macam rintangan ataupun resikonya nanti, dia akan memantapkan dirinya untuk berjuang. Dia... takkan mudah menyerah."

Dengan hati-hati, Roy mengangkat kakinya dari Raven. Dia berjongkok, tangannya menyokong punggung serta kedua bawah paha Raven. Ia angkat si rambut hitam, kemudian menyuruh anak buahnya untuk membawa Ciel kembali ke apartemen.

Sebelum tiba, Roy menyempatkan diri bertanya.

"Kebahagiaan yang kau singgung tadi. Dapatkah kau memberikannya pada anakku?"

Raven seketika menggaruk pipi. Kepalanya berputar ke sumber suara, "Dia teman saya, tuan. Sepertinya saya sanggup."

'Teman', ya? Roy mencari jawabannya dengan menatap dalam-dalam iris madu Raven. Dia berupaya menyingkap makna kalimat lawan bicaranya. Sebenarnya, Roy merasa biasa saja menyangkut cinta sesama jenis. Asalkan memliki tekad kuat, buat apa diganggu? Toh, masalah orientasi seksual juga tak banyak mempengaruhi daya kinerja manusia.

Berbicara tentang cinta, bukan rahasia di keluarga Roy terkait Ciel yang ternyata tertarik dengan laki-laki. Keintiman anak sulungnya terhadap sahabatnya melebihi batas wajar. Teman saling mencium pipi? Teman saling meraba pantat? Teman saling menyentuh perut yang terpahat sempurna sambil mengatakan, 'Wah, Lento. Aku ingin sekali menyicipi tubuhmu.'

Kasihan sekali anaknya itu. Pertemanannya kandas begitu wisuda.

Lalu bagaimana dengan Raven? Penawaran menarik macam apa yang bisa didapat? Apakah janji akan ditepati?

'Aku akan mengawasimu. Sebagai pembuktian kamu bersungguh-sungguh atau tidak.'

. . . . .

Ciel menemukan dirinya terbaring di sofa dengan kondisi kepala masih berkunang-kunang. Ruangan berputar, beragam objek bergerak, neon tampak berbayang; sebelum kesadaran sepenuhnya kembali. Jemari kanannya tak sengaja menyentuh plester di dahi yang terluka. Apa yang terjadi? Ini tempatnya Raven, 'kan? Terus...? Lalu...?

Mulutnya bingung harus berucap apa. Pemuda tampan ini bersua setelah Raven berganti pakaian. Seribu kata tampak lancar meluncur, begitu langkah kaki berhenti di depan kursi roda. Kedua tangan mencengkram sang gagak, "Ini dimana? Kamu Raven, 'kan? Pas aku teler, ada kejadian apa saja? Kok aku bisa disini? Sekarang jam berapa? Raven? Raven, please, jawab—"

"W-woah!" Si pemilik kamar seketika meminta Ciel untuk tenang, yang untungnya diikuti. "Ayahmu sudah pulang sejak 40 menit yang lalu. Iya, ini di apartemenku, dan iya, aku Raven. Aku hanya mengatakan bahwa kamu ya kamu, sementara dia ya dia. Tidak mungkin seorang Marciel Adrean diubah semirip Roy Guartismo. Untungnya, dia paham dan memaklumi. Kurasa, dia takkan mengganggumu lagi dalam waktu lama."

Emosi Ciel meluap bahagia. Tanpa sadar, kedua lengan melingkari tubuh maskulin Raven dengan mesra.

Dan tanpa disadari pula, Ciel mengecup bibir si rambut hitam.

Singkat, lembut, penuh haru. Daripada disebut ciuman, lebih cocok 'sih, bibir saling menabrak. Tapi tetap saja, kejadian ini meninggalkan raut ekspresi langka di wajah Raven.

Raven syok— melebihi dari syok; jika saja ada kata yang cocok.

Bodohnya Ciel baru menyadari kecerobohannya sesaat menatap lawan mainnya yang perlahan memerah padam.

"J-jadi maksud Lu dan ayahmu kalau k-kamu—"

"S-soalnya aku jarang membuka hati pada o-orang lain. Tidak pada Lu pula!" Ciel spontan panik. Dia tersipu setengah mati. "A-awalnya aku penasaran denganmu, t-tapi tidak kusangka bakal jadi suka—"

"K-kalau sama kamu, kurasa tidak apa-apa, 'sih..." Ah. Apa yang barusan keluar dari mulut Raven? Ia memutar matanya menghindari pandangan Ciel; menahan malu.

Bisa kalian bayangkan apa yang Ciel rasakan? Ugh, dia menahan diri agar tidak mencium lagi. Senyuman lebar menghias wajah si rambut putih sebagai balasan. "Maafkan aku karena telah menyeretmu dalam masalah ini. Kamu pasti sempat terluka, 'kan?" Ciel menatap sendu. Kedatangan Roy adalah sebuah pelajaran berharga yang takkan pernah ia lupakan.

Namun, Ciel bertanya-tanya. 'Mantra' apa yang Raven beri pada ayahnya itu? Bagaimana Roy luluh begitu mudahnya? Raven seolah-olah datang berpakaian zirah besi dan menyandang pedang tajam, bertarung mengusir 'iblis' dalam jiwa Roy, seperti ksatria dalam dongeng.

Dialah penyelamat Ciel; entah sang gagak menyadari ini atau tidak.

"M-maukah... kamu tidur... b-bersamaku?" Raven terbata-bata; menelan ludah. Lamunan Ciel buyar seketika. "Apakah berlebihan? Apakah terlalu cepat?"

"Apa kau bercanda?" Ciel justru memperlakukan Raven layaknya bayi kecil; ia menggendong si rambut hitam di depan dada. Kursi roda dibiarkan begitu saja di ruang tamu. Surai lembut sang pujaan hati dielus perlahan, sembari menuju kamar tidur. Senyum masih terukir. "Kamu tidak tahu berapa lama aku mengharapkanmu, Raven."

Bisikan rendah Ciel mengirimkan sebuah sensasi aneh pada tubuh Raven. Ia bergidik; bulu kuduknya berdiri, tapi bukan karena takut. Telinga terasa geli begitu nafas si rambut putih berhembus. Belum lagi lengan Ciel kian erat memeluk.

Apa Ciel sengaja menggodanya? Jantung Raven berdegup kencang.

Setidaknya, satu hal yang pasti adalah malam ini sampai seterusnya takkan sama seperti dulu.

.

.

.

Hari berganti, sang ayah bersama Lu sekali lagi mendatangi kafe El-Star. Mereka hanya sekedar ingin menikmati suasana pagi ditemani oleh secangkir minuman hangat sebelum meninggalkan kota. Dibalik penyamaran payah mereka ( Roy memakai topi derbi dengan masker mulut, sementara Lu melepas kunciran rambutnya sambil mengenakan sweater magenta ), keduanya tidak bisa berpaling dari Raven. Ternyata tidak hanya dari gaya bicara, baik senyuman serta karisma sang gagak disaat jemari besinya memainkan biola merupakan nilai tambahan tersendiri. Wah, lelaki itu memiliki banyak daya tarik, ya.

"Andai dia seumuran denganku..." Lu mengeluh. Tangannya menopang dagu, "Aku memang bahagia pada kakak, tapi kalau orang yang ia sukai ternyata seperti itu... Ah! Aku juga mau!"

Sementara itu, manajer El-Star menyadari sosok baru duduk di dekat jendela. Sadar belum ada yang mendatangi, Elesis segera mengambil nota dan pulpen. Hebatnya, hanya dengan sekali melihat, si rambut merah langsung tahu. "Lu dan... T-tuan Guartismo!" Nafas Elesis nyaris tercekat. Kalau mereka disini, berarti... "A-apa saya perlu memanggil—"

Roy menggeleng, "Secangkir kopi hitam dan cokelat hangat akan sangat membantu," tuturnya.

"Dan donat!" Si rambut gulali menambahkan, lalu tersenyum lebar.

Elesis mengikuti arah pandang Roy, hanya untuk menyaksikan kekonyolan Ciel yang tiba-tiba keluar dari pintu belakang sambil tergopoh-gopoh membawa gitar akustik miliknya. Beruntung tidak tertabrak mobil, Elesis menghela nafas. Ciel berdiri di samping Raven, lalu mulai bermain bersama sang terkasih. "Ciel sekarang membuat adonan tambahan supaya 10-20 menit waktunya bisa ia gunakan untuk berduet dengan Raven," Elesis menjelaskan.

Roy berdiri dari kursinya. "Lu, kau tunggu disini. Ayah mau..." Kedua manik safirnya melirik singkat ke dua sosok yang tengah memulai aksinya di bawah mentari pagi. Lu mengangguk paham.

"Kalau begitu, aku akan segera mengambilkan pesanan kalian," Elesis lalu izin undur diri.

. . . . .

Alunan dari senar Ciel bertindak sebagai pembuka. 3 kali dirinya mengulang rangkaian bait yang sama; terdengar sederhana, lembut, dan memberi efek relaksasi. Raven pun mengikuti tak lama kemudian. Gesekan biola menghasilkan melodi bernada tinggi, mengiringi serta menyesuaikan permainan gitar Ciel yang bernada rendah. Roy terkagum, lalu menyadari banyaknya orang yang menonton aksi kedua pemuda ini. Dan Roy pikir memang sudah sepantasnya. Kakinya sendiri bersatu dengan lagu; menghentak pelan ingin berdansa mengikuti musik.

Rasa tentram yang Ciel beri seolah membawa kita berjalan melintasi kaki gunung, sekaligus membuka kenangan indah yang sekiranya telah lama terkunci. Sementara permainan biola Raven diibaratkan beribu kembang berwarna cerah yang terbawa angin; elok, memikat, mempesona. Sungguh sebuah harmonisasi yang tiada duanya. Mereka berhasil membawa imajinasi semua orang menyelami lagu musim panas yang menyejukkan hati ini.

Sehabis pertunjukan, gadis kecil bersurai lavender berkuncir dua di kiri Roy bertanya tiba-tiba. "Kalian sepertinya dekat sekali. Kapan kalian menjadi teman?"

Belum saja Raven menarik nafas untuk menjawab, Ciel sudah mewakili. "Oh. Kita sebenarnya pacaran—"

"Ciel. Stop." Raven mengarahkan penggesek senarnya tepat pada si rambut putih. "Ingin mencoba rasanya digesek pakai ini?" Mulutnya berkata kasar, tapi sorot matanya tak bisa membohongi. Gugup, malu, terpancar bak cermin di kedua manik emas itu.

Duh, Ciel gatal menggoda. Manis sekali.

"Aw, selamat, ya!" Si gadis asing tersenyum girang. Ia pun bertepuk tangan mendoakan kebahagiaan keduanya. Tidak hanya dia. Hampir seluruh penonton ikut memberikan sambutan selamat. Ada 'sih yang kecewa dengan mengatakan, "Aih, Raven-ku sudah direbut. Tidaaak!"

Disaat semuanya membubarkan diri, Roy mendekati. 2 lembaran 50.000 ED ia taruh di sarung biola Raven. Melihat nominal besar yang diterima, Raven dan Ciel hampir terlompat kaget. Meski wajah sang ayah ditutupi masker, mereka langsung tahu; berkat kemilau safir yang hanya Roy miliki.

"Kau benar, Raven. Aku mempercayaimu sekarang." Suara bass Roy malah semakin meyakinkan. Matanya bergulir menuju anaknya, "Ciel, kali ini... aku akan melepaskanmu. Kalau kamu sudah nyaman dengan keadaanmu sekarang, dan kalau kamu memang bersungguh-sungguh mencintai Raven, aku akan mendukungmu. Kamu sungguh beruntung memiliki dia, Ciel. Dialah yang menyadarkanku dari ego. Aku bukanlah tipe yang mudah mengalah, tetapi nasihat pacarmu itu memang akurat."

Akal sehat Ciel serasa terputar-balik setelah mendengar pernyataan tersebut dari bibir ayahnya sendiri. Disetujui untuk tetap tinggal di Velder, sampai menyetujui hubungannya bersama Raven?

Ditengah mengumpulkan kesadaran, Ciel merasakan getaran familiar dari saku celana.

From : Bos
Subject : None

'Hei, Cassanova. Bukan bermaksud mengganggu, tapi tadi kita mendapat pesanan kue tart Black Forest 3 lapis berukuran 30x20 cm. Akan lebih baik jika kamu SEGERA KEMBALI supaya CEPAT SELESAI karena pelanggan ingin kuenya DIAMBIL SIANG INI.'

"Umm, Raven...?" Ciel memperlihatkan isi pesannya kepada Raven.

"Pergilah. Mereka lebih membutuhkanmu." Raven hanya bisa tertawa kecil.

Sembari Ciel melambaikan tangan, diam-diam Roy melanjutkan pujiannya. "Terima kasih, Raven."

"Untuk?"

Roy menatap anaknya yang berlari, "Hal-hal yang tidak pernah kuberikan pada anakku."

Mendengar hal itu membuat Raven tersenyum. "Maka seharusnya saya juga berterima kasih pada Anda."

Sang ayah menengok ke samping. Ia heran, "Apa maksudmu?"

"Karena telah mengkaruniakan cahaya baru di kehidupan saya."

Mengikuti jejak Ciel, Roy bergerak begitu memeriksa sebuah pesan baru; ternyata dari Lu. "Ini aba-abaku. Sepertinya kopiku sudah disajikan. Jaga dirimu, Raven."

. . . . .

Meskipun tubuhnya tidak sempurna,

Dan andaikata seluruh dunia menutup sebelah mata padanya,

Kata kasar menjadi asupan sehari-hari,

Raven yakin masih memiliki sebuah tempat aman yang rela menerima semua keburukannya.

Hanya satu saja sudah lebih dari cukup. Karena tempat itu hangat, dan selalu ada setiap saat Raven membutuhkan.

Cukuplah bahu Ciel sebagai sandarannya dari segala masalah. Cukuplah tawa Ciel menyemangati hari-harinya. Cukuplah pelukan Ciel untuk membenam air mata.

.

.

.

"Bunga-bunganya indah, ya?" Aroma musim semi mengusik indera penciuman Raven. Salju telah kehilangan kejayaannya. Sudah waktunya dunia serba putih ini dihiasi ratusan—mungkin ribuan corak warna-warni beragam bunga yang sekiranya bersembunyi dari cuaca dingin. Pipit bernyanyi menyambut suasana baru; terbang tinggi menggapai langit yang sudah lama tak disentuhnya

"Jujur," Raven membungkuk sedikit. "Waktu itu, aku mau ikut bersamamu ke Lanox; untuk melayat ke makam Ibumu. Tetapi Walikota mendatangiku secara langsung dan memintaku memainkan sebuah lagu dalam acara pembukaan Festival Kelahiran Kota Velder. Aku sempat bersedih karena terpisah darimu 4 hari lamanya, tapi aku tahu, kau akan kembali. Kamu akan mengecup dahiku lalu memberi salam, 'Aku pulang'. Aku menunggu lama. Hatiku menunggumu.

"Tetapi Tuhan berkehendak lain. Sehari setelah kamu berjanji kamu akan kembali, Roy datang ke kafe. Dia terlihat serius berbicara dengan Elesis di dekat meja kasir. Kuamati pelan-pelan, lalu Elesis seolah terpaku kaget; menggeleng menolak suatu fakta yang baru saja Roy beri. Manik merahnya menoleh ke arahku. Aku kemudian tahu suatu hal telah terjadi.

"Kamu... tertabrak mobil waktu sedang makan malam. Mobil tersebut kehilangan kendali sampai menabrak restoran yang kamu tempati. Semua tulang rusukmu, hancur tergilas roda.

"Roy terus menambahkan informasi lain. Kamu menyimpan sebuah kotak kecil putih di saku celanamu. Di dalamnya terdapat cincin perak berbatu topaz, lengkap dengan sebuah nota kecil terselip dalam cincin.

"Kamu ingin melamarku begitu kembali ke Velder..."

Raven meletakkan ikatan lili putih dengan berat hati. Air mata yang memupuk tak kuasa terbendung; tetesannya membasahi pipi. Isakan parau memenuhi atmosfir kelabu pemakaman Lanox yang sunyi. Tangan nasod mencengkram kuat jaket hitam; ia ingin meredakan pedih, tetapi gagal.

Dahulu, Seris mengajarkan Raven untuk tidak mudah menyerah, sampai sang gagak melakukan segala macam cara supaya diakui dan pantas. Amanat gadis itu ia bawa hingga ajal menjemput; Raven tak menyerah mempompa jantung istrinya guna mendapatkan denyut Seris.

Ciel menumbuhkan rasa percaya diri Raven; agar tak mudah terjatuh dan terhasut. Saking percaya nya, Raven mendambakan keberadaan si rambut putih selalu disisinya.

Sang gagak malang menjeritkan nama kedua cahayanya, seperti orang bodoh.

Karena dia tahu teriakannya takkan mengembalikan orang-orang yang ia cintai.

.

.

.

End


Mencoba bikin angst ahahahh orz