New York, New York

A BTS Fanfiction

Rating: T

Warning: Slow Update

Disclaimer: BTS milik diri mereka sendiri. Aku hanya memiliki jalan cerita ini. Kesamaan cerita atau plot adalah suatu kebetulan.

Kritik dan saran diperbolehkan, tetapi tidak diperbolehkan bashing dan menggunakan kata-kata kasar dan kata-kata yang bersifat menghina dan mengejek.

.

.

.

24 Desember 2014, 20.45

"Aku akan pergi ke New York."

Yoongi menghentikan gerakan jari-jarinya di keyboard seketika. Dia menghela nafas dan memutar kursinya menghadap Seokjin. Seokjin bersikap tak acuh, memfokuskan dirinya dengan novel di genggamannya. Seolah dia tidak baru saja mengatakan suatu hal yang besar, tidak hanya baginya tapi juga bagi Yoongi.

"Apa maksudmu, hyung?" Tanya Yoongi.

"Aku diterima di Columbia University International and Public Affairs," ucap Seokjin. Dia menutup novelnya dan kini menatap wajah Yoongi lekat. Yoongi bangkit dan duduk di samping Seokjin di sofa studionya. "Aku akan berangkat bulan depan."

"Kau bahkan tidak menyebut apa-apa soal itu padaku dan sekarang kau tiba-tiba berkata bahwa kau akan pindah ke benua lain untuk waktu yang tidak sebentar?!" nada bicara Yoongi semakin naik pada akhir kalimatnya. Seokjin sama sekali tidak menyebut apa-apa tentang kuliah, Amerika, ataupun mendaftar untuk Columbia University. Memang akhir-akhir ini Yoongi lebih sibuk dengan lagunya tetapi dia dan Seokjin selalu meluangkan waktu untuk membicarakan hari mereka pada malam hari. Dia hanya tidak menyangka bahwa Seokjin akan berbohong dan egois seperti ini.

"Yoongi, kau tau betapa aku menyukai cerita romansa dengan akhir yang bahagia di mana mereka menghabiskan hidup mereka bersama dan tumbuh tua bersama?" ucap Seokjin. Tangan kanannya terangkat dan menyentuh pipi Yoongi. Yoongi menggenngam tangan kanannya dan mengecup pergelangannya. "A-aku tahu itu mungkin terdangar saat mustahil, tapi itu yang kuinginkan. Rumah, keluarga, dan pasangan untuk menghabiskan sisa hidupku-

-dan Yoongi, aku tidak bisa jika kau tidak memiliki kepastian seperti ini. Kau selalu menghindari pembicaraan tentang menikah dan masa depan kita bersama."

"Kau tahu aku memiliki masalah dengan komitmen, Jin-ah." Yoongi hanya menyebut namanya tanpa hyung saat dia benar-benar marah. Seokjin tahu Yoongi bukan hanya marah tapi mungkin murka.

"Kita sudah berpacaran selama 7 tahun, Yoon. Jika kau tidak ada niatan untuk melanjutkan hubungan kita ke tingkat yang lebih lanjut, kurasa lebih baik kita menyudahinya," Seokjin tersenyum lembut dan mengecup bibir Yoongi sekilas. Dia mengambil novel dan tasnya dan baru akan keluar saat suara Yoongi menghentikannya.

"Kenapa New York?"

"Berada di dekat seseorang yang sangat kau cintai tapi tidak ada keinginan untuk memiliki komitmen denganmu itu menyakitkan," ucap Seokjin. "Aku juga bisa menamabah ilmu untuk mencapai mimpiku menjadi jurnalis."

"Bagaimana kalau aku bisa membuktikan padamu bahwa aku ingindan berkomitmen menghabiskan sisa hidupku denganmu?"

Seokjin membalikkan badannya dan tersenyum pada Yoongi, lalu membuka pintu studio. "Aku pastikan aku akan menunggu hari itu dan menerimanya dengan senang hati."

Yoongi terbangun dari mimpinya dalam keadaan berkeringat dingin. Dia memencet tombol pramugari, hendak meminta minum. Ini kesekian kalinya dia bermimpi tentang 'itu' dalam beberapa hari belakangan. Mengingat bahwa tujuannya ke New York adalah untuk melamar Seokjin, ia rasa itu adalah hal yang wajar. Seorang pramugari dating menghampirinya.

"Can I have water, please?"

Tidak lama kemudian, pramugari itu kembali dengan segelas air putih. Yoongi bergumam 'thanks' dan langsung meneguk habis airnya. Dia mendesah dan memijit pangkal hidungnya dengan jarinya. Pesawat baru berangkat 45 menit dan dia sudah bermimpi seperti itu. Yoongi bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Siapa tahu dengan mencuci mukanya dia bisa merasa lebih segar.

Di depan pintu toilet, seorang pemuda berambut coklat tengah mengantri. Pemuda itu melihat Yoongi dan menutup mulutnya dengan tangannya dengan ekspresi kaget di wajahnya. "K-kau Min Yoongi?!"

'Fans..' pikir Yoongi. Memang dia hanya aktif di dunia underground, tapi bukan berarti tidak banyak yang mengetahuinya. "Ah, hai."

"Silahkan! Kau bisa mengantri di hadapanku, aku memaksa," pemuda itu berpindah ke belakang Yoongi. Pemuda it uterus tersenyum senang pada Yoongi, membuatnya sedikit tidak nyaman. "Kenalkan, aku Kim Taehyung, fans setiamu dari Daegu!"

"Kau dari Daegu?"

"Yep, born and raised!" ucap Taehyung seraya menepuk dadanya bangga, membuat Yoongi terkekeh.

"Terima kasih merelakan antrianmu untukku."

"Tidak apa-apa, aku tulus melakukannya," ucap Taehyung. "Jadi, apa yang seorang Min Yoongi lakukan di pesawat menuju New York pada malam natal? Sebagai fansmu, aku tahu kau biasa menghabiskan natal di rumah orangtuamu."

"Oke, itu sedikit menyeramkan, tetapi tidak ada alasan tertentu," Tangan Yoongi masuk ke saku celananya. Jari-jarinya memainkan cincin yang terdpat pada sakunya. "Hanya ingin berganti suasana kurasa."

"Oh begi-"

"Tae!" Seorang pemuda berambut hitam datang menghampiri Taehyung. "Apa yang kau lakukan di toilet business class? Aku minta maaf, tuan. Ayo kembali ke kursi kita!"

"Tapi aku mau ke toilet."

"Kalau begitu gunakan yang di kelas ekonomi!" Pemuda itu menarik tangan Taehyung pergi.

"Sampai jumpa, hyung!" ucap Taehyung sambal melambiakan tangannya sebelum kembali ke kelas ekonomi.

"Jadi dia bukan penumpang kelas bisnis?"

.

.

.

Namjoon masih merasa berdebar-debar. Wajah manis dari pramugara tadi masih tercetak jelas di ingatannya. Rambut hitam, hidung mancung yang sempurna, kulit yang sedikit tan sepertinya dan oh- jangan lupakan lesung pipi yang menghiasi wajahnya. Sial sekali Namjoon tadi tidak sempat menanyakan namanya.

Namjoon bangkit dan berjalan menuju toilet kelas ekonomi di bagian belakang pesawat. Melihat tulisan 'Occupied' pada pintu toilet, Namjoon bersandar pada dinding pesawat. Dia mengalihkan pandangannya pada bagian belakang tempat prmugara dan pramugari berkumpul den tempat menyimpan troli makanan. Namjoon yakin dia pasti termasuk ke dalam Nice List Santa karena di situlah dia berdiri.

Pramugara dengan lesung pipi itu tengah berbincang-bincang dengan temannya. Tidak sengaja matanya bertemu dengan Namjoon yang masih memperhatikannya. Pramaugara itu tersenyum padanya dan menganggukkan kepalanya sebelum kembali berbincang-bincang. Namjoon merasakan wajahnya memerah dan berpura-pura sibuk dengan ujung lengan kemejannya. Setelah beberapa saat, Namjoon kembali memperhatikan pramugara tersebut dan kembali dibalas dengan senyuman dari pramugara tersebut.

"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" Pramugara itu akhirnya bertanya dan temannya ikut menoleh ke arah Namjoon.

"A-ah, tidak," Namjoon tiba-tiba merasa otaknya kosong dan berkeringat dingin sehingga dia tidak menyadari apa yang ia katakan. "Kau hanya terlihat manis."

Pramugara itu tertawa kecil bersama temannya mendengar perkatan Namjoon. "Terima kasih, tuan."

Melihat senyuman dengan lesung pipi di wajah pramugara itu, Namjoon menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan kembali ke tempat duduknya. Toilet bisa menunggu, tapi harga dirinya tidak.

.

.

.

Jungkook tengah berjalan-jalan di lorong pesawat untuk menggerakkan kakinya yang mulai kaku dan kesemutan. Beberapa penumpang menatpnya aneh karena sedari tadi bolak-balik berjalan di lorong. Beruntung pesawat malam itu cukup kosong. Melihat satu baris bangku kosong di bagian ekonomi, Jungkook merasa tergoda. Kursi kelas bisnis mungkin memang empuk, tapi tidak cukup untuk badannya yang terus saja bertambah tinggi.

Jungkook menaikkan lengan kursi, membuat 4 kursi tersebut menjadi tempat tidur buatan. Dai kemudian melepas blazernya dan merebahkan dirinya di baris tersebut. Jujur, ini jauh lebih nyaman ketimbang kursi empuk kelas bisnis. Jungkook baru saja akan memejamkan matanya.

"Permisi tuan, tapi aku yakin kalau kursi yang kau tiduri itu adalah kursi milikku dan temanku."

Jungkook langsung bangkit dari posisinya. Seorang pemuda berambut hitam dengan sweater rajut berwarna krem tengah berdiri di lorong dengan ekspresi kesal pada wajahnya. Jungkook menggerutu dan kembali merebahkan tubuhnya. "Hei, ya! Tuan1"

Teriakan pemuda itu membuat beberapa penumpang menoleh dan menatapnya tajam. Pemuda itu meminta maaf dan kembali focus ke Jungkook. "Bangun, kau sudah membuatku dimarahi penumpang lain."

Jungkook hanya bergumam 'hmm' dan menutup kedua matanya.

"Hei, kalau begini bagaimana aku bisa duduk?"

"Gunakan saja kursiku di kelas bisnis, nomor 7A. Sudah jangan ganggu aku," ucap Jungkook. Tidak lama kemudian dengkuran pelan terdengar dari mulut Jungkook. Pemuda itu mendecakkan lidahnya kesal dan mengambil tas di bawah kursi sebelum berjalan menuju kelas bisnis sambal menggerutu.

"Dasar seenaknya. Tae juga ke mana? Padahal dia kusuruh menjaga tempat duduk, dasar."

-continued-

peringatan: slow update karena sekolah T-T

(aku sedang tergila-gila dengan anime free dan friendshipnya yang terlalu indah)