26 november 2016

Tidak anak muda, cerita ini belum selesai begitu saja. Yang kau dengar—atau baca kemarin, baru permulaannya. Oleh karena itu, bagaimana jika sekarang kita sedikit bernostalgia sebentar di masa lalu untuk sedikit mengetahui kebenaran di baliknya?

.

.

.

Who is your father?

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pair: mmm… tergantung mood saya mau endingnya siapa :v #digantung

Rate: T semi M (mungkin)

HARD WARN: Typo dan alur maksa. Bagi yang ga suka Hinata centric, HARAP TEKAN BACK SEKARANG JUGA :3 damai itu indah ^^

(c) Hikari No Aoi

.

.

.

Manik cokelat Tsunade menatap dengan jeli setiap kalimat yang tertulis dalam surat gulungan di tangan kanannya. Dan tepat satu menit kemudian, ia memberikan cap persetujuan warna merah pada kertas tersebut. Jika ada yang kurang berkenan atau terasa janggal, ia akan melempar kertas itu ke sebelah kanan agar diperiksa Shizune. Begitu seterusnya, sampai pekerjaannya selesai pada pukul sepuluh malam.

Atau, bisa dikatakan tidak benar-benar selesai karena segiat apapun dirinya bekerja, tumpukan dokumen itu selalu bertambah. Walau semua yang ia lakukan sampai saat ini adalah makanan sehari-harinya sebagai seorang godaime Hokage-dan yah, cukup melelahkan, Tsunade masih menyukainya kok.

Ah, dibanding memikirkan hal itu… Tsunade tak habis pikir mengapa kebanyakan negara kecil seperti Hanagakure*, Kawagakure, Yamagakure* dan sekitarnya selalu meminta bantuan shinobi dari Negara Api-khususnya Konoha. Padahal, masih banyak juga Shinobi dari Negara lain yang bisa menyelesaikan tugas tersebut dengan baik.

Oke, memang benar dengan adanya misi itu, Konoha mendapatkan penghasilan yang besar. Hanya saja, jika ia tidak pintar mengimbangi… keadaanya tentu bisa fatal.

Seperti sekarang, Konoha mendadak krisis shinobi karena banyaknya misi mendesak yang harus dipenuhi. Lalu kalau ada apa-apa dengan desanya sendiri, bagaimana? pokoknya berita ini tidak boleh menyebar keluar.

Ketika membuka surat yang ke… lima puluh, mungkin? Pintu kantornya diketuk dengan pelan—bahkan nyaris tak terdengar andai ketukannya tak berulang.

Tsunade terdiam sebentar, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Masuk." Kata sang lansia—ehm, kata sang wanita jelita berkepala lima mempersilahkan tamunya menginterupsi kegiatannya.

Shizune mengangguk, ia segera berdiri dan membukakan pintu. "Ah, Hinata-san!"

Gadis itu tersenyum, dan memberikan salam dengan anggunnya. "Se-selamat pagi, Shizune-san."

"Oh Hinata—kau sudah datang," Berdiri dengan segera, Tsunade kemudian menghampiri souke dari klan Hyuuga tersebut dan merangkul pundaknya dengan gemas. "Kemarilah, kemarilah."

Sang heiress yang belum paham mengapa Hokage kelima Konoha bersikap demikian, hanya bisa menurut sambil memasang wajah terheran. "Y-ya, Tsunade-sama?"

Tsunade hanya tersenyum, dan membawa Hinata masuk keruangannya-meski tidak sampai disuruh duduk. "Shizune, tolong carikan misi Hinata kemarin."

"Baik, Tsunade-sama."

Lalu, Tsunade kembali mengalihkan pandangannya pada gadis remaja itu dan menyadari penampilannya yang sedikit berbeda. "Kau… tidak pakai jaket lagi?"

Kakak dari Hanabi itu tersipu, dan meremas ujung bajunya dengan malu-malu. "I-iya, Tsunade-sama."

Well, dari pada yang dulu, memang penampilan Hinata sekarang lebih terbuka sedikit. Maksudnya, ia tak lagi memakai jaket kebesaran warna ungu kesukaannya. Sebaliknya, baju tanpa lengan dengan kombinasi celana pendek yang ditutup mengunakan sepatu tinggi selutut dan… stocking? Itu sangat bagus.

Ah, kenapa ia malah mengomentari masalah baju yang dikenakan Hinata?

"Oke, jadi begini," Godaime Hokage itu memulai pembicaraannya. "Ini adalah permintaan pribadi dari petinggi Suna, mereka memintamu untuk mengawal Gaara-calon Kazekage mereka yang sedang berada di sekitar perbatasan, ajak dia kemari karena disini adalah negara teraman untuknya."

Hinata mengernyit. "K-ke Konoha, Tsunade-sama?"

Melepaskan rangkulannya, cucu dari Hashirama tersebut lalu mengangguk sekali.

"G-Gaara-sama ke perbatasan tidak dikawal siapapun?"

Tsunade duduk kembali di kursi warna hitam kesukaannya, namun masih enggan melanjutkan pekerjaan memeriksa dokumennya. Ia lalu mendesah pelan. "Sepertinya ada sedikit masalah."

Shizune datang, membawa sebuah gulungan warna merah dengan ukiran emas yang langsung diberikan pada sang Hokage kelima. "Silahkan, Tsunade-sama."

"Terimakasih, Shizune. Jadi, kau akan menerimanya kan, Hinata-san?"

Gadis berusia Sembilan belas tahun itu tampak menimbang, menjaga—atau bisa dikatakan menjemput seorang Gaara membuatnya sedikit bimbang, namun saat memikirkan bahwa di Konoha sedang membutuhkan banyak bantuan, heiress Hyuuga itu akhirnya mengangguk dengan perlahan.

Senyum Tsunade merekah dengan indahnya. "Baiklah, akan ku terima misi ini. Kau bisa berangkat pukul dua siang nanti."

"Hee? Ha-hari ini?"

"Tentu saja, semakin cepat semakin baik."

.

.

.

who is your father?

.

.

.

Sementara itu, di dalam hutan yang letaknya jauh-amat jauh dari Konoha, seorang pemuda tengah mengiris ibu jarinya sendiri untuk meneteskan darah tersebut ke dalam tabung kecil.

Pemuda berambut putih yang usianya tak lagi muda tersebut, tersenyum lega.

Penelitiannya telah selesai.

Ya, Ia—yang diketahui namanaya sebagai Kabuto, adalah tipe ninja yang tidak memiliki kekuatan mata seperti Sharingan atau jurus ilusi seperti punyanya Kurenai. Oleh karena itu, menciptakan penemuan baru dengan bahan dasar bisa ular… adalah sesuatu yang menyenangkan.

Apalagi jika bisa digunakan.

Menatap tabung kecil seukuran ibu jari itu bangga, pemuda dari keluarga Yakushi itu lalu meletakkannya kembali di tempat khusus tabung—tepat di sebelah tabung warna kuning milik anak kesayangan tuannya-Sasuke Uchiha.

Ah benar, ia harus membuat laporan mengenai hal ini. Dan kalau bisa, segera. Tapi, ia masih kekurangan bahan untuk penelitian yang lain. Apa sebaiknya ia tanyakan dahulu pada Orochimaru-sama, ya?

Tentu saja. Lebih baik untuk menanyakannya sekarang, serta memberitahukan perkembangan lebih awal supaya Orochimaru-sama mengerti sampai sejauh mana ia meneliti. Mengambil beberapa kertas yang ada di meja sebelah, pemuda tersebut mengeceknya sekali lagi dan tersenyum puas.

Tepat saat Kabuto keluar dari labnya, Sasuke sudah terlihat dikejauhan dengan tatapan mata tajamnya. Oh iya, ia akan mengambil suplemen untuk latihannya hari ini.

"Jangan bilang kau belum selesai." Tegur adik Itachi itu kasar. Wajahnya kentara sekali bahwa ia tak suka berbasa-basi. Tunggu, apakah ia tak bisa menghargai usahanya dengan mengucapkan terimakasih? Membuat suplemen itu juga rumit, lho.

"Wow, tenang Sasuke… tenang." Ringis Kabuto pura-pura tersakiti. "Suplemenmu sudah selesai, ada di tempat biasa. Yang bukan warna kuning ya."

"Hn." Dan, Pemuda dari klan Uchiha itu hanya menjawab sesuka hatinya. Sepertinya memang mustahil untuk membuat Sasuke mengucapkan kata 'terimakasih' ya?

Menggaruk belakang kepalanya dengan kikuk, Kabuto kemudian mulai berjalan melewati pemuda berambut raven itu. "Aku harus menemui Orochimaru-sama sekarang, kau bisa mengambilnya sendiri ka—"

"Hn." Begitu lagi… astaga, apa ia sama sekali tak dididik untuk menghargai kerja keras orang lain?

Oh sudahlah. Lebih baik ia segera menemui tuan Orochimaru dan membahas penelitian yang lain daripada sibuk mengomentari sikap kurang ajar Sasuke tadi.

Sampai sekarangpun, Kabuto masih tak mengerti mengapa Orochimaru menginginkan wadah yang… tak bisa bersopan santun seperti itu.

Ya—benar, Kenapa juga harus Sasuke saja? Apa tidak ada calon wadah yang lain? Wah, sepertinya untuk usul boleh juga. Ia sudah punya kandidat yang cocok untuk menggantikan Sasu—tunggu, ia tadi bilang yang warna kuning, kan?

Menoleh kebelakang, pemuda berkacamata itu kemudian mencoba untuk mengingat-ingat kembali kalimatnya beberapa saat yang lalu. Namun saat tahu bahwa jaraknya sudah sepuluh meter dari labnya, ia akhirnya enggan untuk menghampiri bocah yang irit bicara itu lagi.

Menggidikkan bahunya acuh, Kabuto lalu melanjutkan perjalanannya kembali.

Sudahlah, harusnya Sasuke juga paham yang mana suplemen miliknya sendiri.

.

.

.

Who is your father?

.

.

.

Sekarang, sudah pagi. Itu artinya, sudah 24 jam berlalu semenjak Hinata datang ke kantor Hokage dan menerima misi untuk menjemput Kazekage Sunagakure ini.

Dan ya, Hinata sudah berhasil menemukannya semalam. Di tengah hutan. Tanpa ada cahaya penerang. Sendirian. Ditengah mayat yang bergelimpangan.

Untung saja, Gaara seorang laki-laki. Jika tidak, Hinata sudah jantungan setengah mati karena penampilannya yang mengenaskan. Pakaian yang penuh dengan bercak darah-bahkan sobek di beberapa bagian, tubuh yang penuh sayatan pedang, juga kantung mata yang membuatnya seperti habis bergadang menanti sang fajar yang tak datang-datang.

Oh, maaf, yang terakhir memang bawaan ya?

Mengusap manik lavendernya yang belum lama terpejam, Hinata kemudian menatap pemuda Rai tersebut. Memastikan keadaannya setelah ia obati semalam.

Syukurlah, ia bisa tidur. Ya, dalam hal ini, benar-benar tidur. Dan luka-luka bekas sayatan itu sudah menutup. Hinata yakin, ia akan segera pulih jika mau beristirahat dengan cukup. Meski Hinata juga kurang yakin bahwa seorang Gaara akan melakukan apa yang ia sarankan padanya.

Mengecek jam dinding yang ada di penginapan, souke Hyuuga itu kemudian segera beranjak untuk cuci muka dan membelikan Gaara sarapan. Perjalanan mereka untuk ke Konoha masih panjang.

Dan tepat saat Hinata kembali dari luar, pemuda yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan pasir itu sudah terbangun—bahkan menatapnya tajam.

"Siapa kau?"

Hinata membuka mulutnya, namun tak bersuara. Terlalu terkejut dengan aura membunuh yang begitu terasa dalam menyambut kedatangannya.

"S-saya Hinata, Shinobi Konoha. Misi—saya adalah me-me—"

Menyelamatkan? Mendampingi? Mengawal? Menjemput? Membawa?

Mana yang pas?!

"—mengajak G-Gaara-sama kembali."

Hinata langsung menutup mulutnya. H-huh? Ia tidak salah bicara kan?

Pemuda itu hanya terdiam. Wajahnya tetap datar dan tak menanggapi kalimat yang Hinata ucapkan barusan. Meski begitu, Hinata bisa merasakan aura membunuh itu menghilang secara perlahan-lahan.

"Jadi kau yang semalam?"

Dengan sedikit takut, gadis bermahkota biru tua itu mengangguk dan bersuara dengan sangat pelan hingga terasa seperti sebuah bisikan. "Be-benar, Gaara-sama."

Lagi, Gaara hanya terdiam sesaat sambil memperhatikan. Sedetik kemudian, ia menoleh ke kiri sambil mendengus. "Aku lapar."

.

Who is your father?

.

Gaara melepaskan rangkulan Hinata dan merebahkan punggungnya pada batang pohon yang ada dibelakangnya, kemudian memejamkan matanya sejenak.

Sudah hampir seminggu ini ia meninggalkan desanya, dan memburu para penjahat di sekitar perbatasan. Tidak ada yang menyuruhnya untuk melakukan hal itu, karena memang Gaara melakukannya karena kemauan sendiri.

Selama seminggu, ia ingin melakukan sesuatu yang masih berbau positif—ya, membunuh kalau perlu. Karena ia juga butuh pelampiasan untuk memuaskan rasa kesal dan amarahnya.

Ia—lari dari Suna, bukan karena sebab. Tepat dua minggu sebelum ia ditetapkan sebagai seorang kage, ia mendengar dengan telinganya sendiri bahwa monster sepertinya tidak pantas untuk menyandang gelar tersebut.

Akan beda ceritanya jika yang bilang begitu adalah kakak-atau warga desanya, karena telinganya sudah sangat kebal. Tapi sayangnya bukan. Yang mengatakan hal itu justru para tetua Suna yang masih belum bisa mempercayainya.

Jadi percuma kan, menjadi seorang pemimpin yang tak memiliki kepercayaan? Untuk apa ia dicalonkan jika tak bisa diberi kepercayaan? Oleh karena itu, menenangkan diri adalah satu-satunya pilihan. Meski bisa dikatakan, apa yang ia lakukan ini adalah sebagai pelarian.

"An-anda tidak apa-apa, Gaara-sama?" Suara lembut itu membelai indra pendengaran Gaara, dan membuat pemuda berambut merah marun tersebut membuka iris jadenya perlahan.

Angin sepoi yang bertiup, membawa aroma lavender samar-samar yang terasa begitu menenangkan. Ah-benar, Gaara tahu mengapa gadis ini bisa disini sekarang.

"A-apa ada yang sakit?"

Sakit, tapi tidak berdarah. Adalah kata yang ia suka sewaktu ia masih kecil. Tapi masa iya, Gaara ingin menjawab pertanyaan gadis itu dengan kata-kata lamanya tadi?

"Tidak." Nah, itu lebih… uhm, mencerminkan dirinya. Gaara tahu, bahwa ia memang irit bicara dan tak mudah mengekspresikan apa yang ia rasakan, oleh karena itu... berinteraksi dengan orang lain memang terasa sedikit sulit untuknya.

Gadis itu tak menjawab, dan Gaara lebih suka untuk memperhatikannya lagi dari pada bertanya. Sekarang, perempuan yang ia ketahui bernama Hinata itu, membuka tas punggung kecilnya dan mengeluarkan sebotol minuman yang terlihat menyegarkan.

"M-mohon minumlah, ini tidak—beracun kok."

Dalam hati, Gaara tertawa geli. Ia—seorang monster yang ditakuti, tengah ditawari minuman dengan senang hati begini?

"Tidak butuh,"

Manik bulan itu berkedip-kedip selama beberapa saat, dan setelah hampir lima detik tangannya mengambang di udara, Hinata kemudian menariknya dengan perlahan. Harusnya ia bisa menebak jawaban itu.

"Ka-kalau begitu, kita beristirahat dulu."

Jinchuriki Shukaku itu mendengus, terhibur dengan sikap sang gadis bermata pucat yang terlihat melawak di depan matanya. Sayangnya, bagi seorang Gaara... berkata dan membatin itu adalah sesuatu yang sangat berbeda.

"Kau... berani memerintahku?"

gadis itu langsung terkesiap. Bahkan tingkahnya sangat gelagapan dengan kalimat Gaara barusan. "A-AP—Tidak, bukan begitu Gaara-sama. Sas-saya hanya—"

"Diam."

Bolehkah Gaara tertawa sekarang? atau agar lebih spesifik, bolehkah ia menertawakan dirinya sendiri? soalnya ini sangat lucu sekali. Ia-sebuah wadah untuk monster berekor satu yang mampu meluluhlantakkan sebuah desa sekejab mata, ditolong oleh seorang wanita?

-yang terlihat lemah dan tak bisa apa-apa?

hahaha, para tetua itu memang minta dihajar rupanya.

"Lanjutkan saja perjalanannya."

"Tapi kondisimu—"

"Kau bisa mendengar, kan?"

.

.

.

Who is your father?

.

.

.

Hinata mengerjabkan manik lavendernya beberapa kali agar terbiasa dengan suasana ruangan yang temaram. Dengan perlahan, diamatinya setiap obyek asing yang terdapat diruangan-yang mirip dengan kamar pengap tersebut. Namun, belum sampai kesadarannya pulih sepenuhnya, souke dari klan Hyuuga itu harus dibuat terkejut—bahkan memekik keras dengan hal tak biasa yang tengah terjadi di depan matanya.

Ya, tentu saja siapapun akan berteriak ketika tahu ada pemuda yang kurang femiliar tengah menindihnya, dengan wajah datarnya, saat ia baru sadar dari pingsannya pula. Jadi kalau sampai kaget begitu adalah hal yang wajar kan?

"S-Sasuke-san!"

Sasuke akhirnya mundur, ia lalu menegakkan tubuhnya sendiri dan membiarkan Hinata duduk. Namun mata jelaganya yang begitu awas, sama sekali tak mengalihkan perhatiannya pada si wanita Hyuuga yang masih terlihat shock.

Reaksinya manis juga.

"Ap—apa yang kau—"

"Katakan padaku, berapa usianya saat ini?" Tanya pemuda missing-nin itu pada Hinata. Oke, Sasuke akui, Mungkin ia dan Gaara memiliki kesamaan bila berbicara langsung saja ke intinya. Akan tetapi, lihatlah siapa yang bisa bersama dengan Hinata sekarang.

Hah, Rai Gaara bukanlah tandingannya.

Putri sulung Hiashi Hyuuga itu hanya terdiam. Keningnya mengernyit. Pertanyaan aneh yang dilontarkan sang bungsu Uchiha barusan membuat Hinata tak mengerti sama sekali apa yang ia maksud. Yang ia sayangkan saat ini adalah, keputusannya untuk duduk di kepala ranjang.

Tiba-tiba saja, rasa sakit yang lumayan hebat menyerang perut bahkan punggungnya. Astaga, bahkan sekarang pinggangnya juga terasa sakit sekali.

Apa yang telah terjadi?

Apa ia terkena serangan? Apa ia terluka? Atau Jangan-jangan... Sasuke yang melakukannya?

Mengetahui ada yang tidak beres dengan heiress berambut biru tua dihadapnnya, Sasuke langsung bersikap waspada. "Apa ada masalah? Ada yang sakit?"

Menggigit bibir bawahnya perlahan, Hinata mencoba untuk mengingat-ingat kembali bagaimana ia bisa terkena... encok begini?

-tunggu, sejak kapan ia punya riwayat penyakit encok? Tidak, Hinata yakin sakit yang ia rasakan ini adalah bukanlah penyakit seperti itu.

Tak kunjung mendapatkan jawaban, Sasuke kemudian memegang kedua pundak Hinata, dan memaksa kakak Hanabi tersebut untuk menatapnya.

Hinata terkesiap. "!"

"Apa yang terjadi?" Tanya Sasuke khawatir. "Katakan padaku."

Souke itu masih terdiam. Dan entah mengapa, melihat Hinata yang kini mulai berkeringat dingin dan menatapnya dengan pandangan mata yang Sayu membuat dada Sasuke seakan dihantam oleh bijuudama milik Naruto.

Sasuke bahkan tak bisa menggambarkannya secara pasti, hanya saja... rasanya seperti luka menganga yang mirip lubang hitam dan membuat sistem pernafasannya terganggu hingga ia kesulitan bernafas.

"—ta?"

Wanita berusia sembilan belas tahun itu mulai terengah, dan wajahnya semakin memucat.

Sekarang, Hinata ingat semuanya.

"Gaara—Dimana Gaara-sama?"

Bolehkah Sasuke mengamuk sekarang? Ia mengkhawatirkan Hinata-dan dia... malah mengkhawatirkan Gaara?

.

.

.

Who is your father?

.

.

.

Gaara dan Sasuke terkekeh bersamaan, sontak saja hal itu membuat Hinata hanya bisa melongo dan terdiam dengan pemandangan ganjil yang ia saksikan.

Sejak kapan mereka berdua bisa akur seperti itu? apakah... hubungan mereka memang sedekat ini sebelumnya? Seingat Hinata... tidak.

"Hei Sasuke, kau tidak bertato lagi hah?" Gaara mendorong pelan pundak si bungsu Uchiha, namun ia sendiri terlihat sempoyongan setelah melakukan hal tersebut. "Seperti saat itu lho!"

"Ck," Menepis tangan pemuda berambut merah itu agak kasar karena ia tak suka disentuh, Sasuke kemudian memilih untuk menyandarkan tubuhnya pada dinding pohon yang ada di belakangnya. "Berisik. Itu bukan tato, tahu."

Lalu keduanya berpandangan dalam diam, dan kembali terkekeh.

"Hei Sasuke, kita kehujanan nih, bukankah kau bisa membuat api?" Tanya Gaara kalem. "Dan kita bisa memasak Barbeque!"

Sasuke menatap Gaara sebentar, mengacungkan jari telunjuknya, dan menggoyangkannya dengan pelan. "Tidak, tidak, tidak, Gaara."

Gaara mengernyit. Manik hijaunya terlihat menyipit. "Kenapa?"

Bungsu Uchiha itu hanya terkekeh sebelum bangkit dan melepas bajunya. Lalu Sasuke menyeringai. "Karena apiku juga basah!"

Gaara tertawa-bahkan sampai terbahak dengan sikap konyol si pemuda Uchiha barusan, hingga tak lama kemudian, ia juga melakukan hal yang sama. "Pasirku juga basah, lho! Hahaha!"

"-dasar lembek! Hahaha!"

Hinata merona. Bingung harus bagaimana. Atau lebih tepatnya... ia tidak tahu harus bersikap seperti apa!

Duh, soalnya Roti sobek dimana-mana! Kalau ia sampai khilaf bagaimana?

"An—ano—"

Gaara dan Sasuke menghentikan tawa mereka dan menoleh bersamaan, keduanya mengamati dengan seksama sosok asing yang ada di hadapan mereka.

Sasuke menyipitkan onyxsnya, dan menunjuk Hinata dengan santainya. "Gaara, kenapa ada kelinci disana?"

"H-huh?" kelinci? Siapa? Hinata menoleh kekiri dan kanan, namun saat tak menjumpai siapapun selain dirinya sendiri... mendadak perasaannya menjadi tidak enak.

Gaara menatap Sasuke dan mengangkat bahu. Ia terlihat acuh. "Dia juga kehujanan, mungkin?"

Hinata terkesiap. Apa mereka mabuk?

Pemuda berambut raven itu berjalan mendekat dan merangkul Gaara. "Hei, Gaar. Pernah dengar tidak?"

"Hmm?"

"Katanya, kalau saat berteduh dan kau bertemu dengan kelinci yang kehujanan di lubang yang sama... maka tangkaplah!"

Calon Kazekage itu menatap heran dengan pemuda yang dulu sempat jadi rivalnya di ujian Chunnin. Namun ingatan itu segera tergantikan dengan pertanyaan lain. Kenapa Gaara harus menangkapnya? "Kenapa?"

Menunjuk kelinci itu lagi, Sasuke mengisyaratkan Gaara untuk melihat kembali kelinci yang saat ini tengah menatap mereka berdua dengan pandangan mata yang bingung. Lihat, dia mau kabur! "—karena, kelinci itu akan mengabulkan permohonanmu!"

Hinata terbelalak. Dua pemuda yang saat ini tengah terganggu kewarasannya—uhuk, maksudnya, yang tengah tidak sadar itu kini menatapnya dengan tatapan bahwa seolah ia adalah kelinci sungguhan, dan mereka serius ingin memburunya!

Uh-oh, ini tidak baik!

"Kita tangkap, yuk?"

Gaara mengangguk setuju, namun ia segera melepaskan rangkulan Sasuke dan menyeringai. "Yang berhasil mendapatkan dia, adalah pemenangnya!"

Sasuke balas menyeringai. "Uchiha tidak akan kalah, Gaara."

"Oh ya?"

"Kita lihat saja!"

Lari, Hinata!

.

.

.

Who is your father?

.

.

.

TBC

.

.

.

Special thanks to:

Merliana, Guest, Reita Chan, Hime, Ana, Arum Junnie, Onxy Dark Blue, Clareon, Heartlesssoul.712, Mprill Uchiga, Hina Hime, Green Oshu, Hanayou, Wkup, Kawaii Uchiga, Laventa288, Code, Nazuka, Name Indah Tabi, Hl, Hinataholic, Sifa, Hana Yuangka, Sushimakipark, Taomio, Ayu493.

Ucapan terimakasih saya haturkan *?* pada readers semua yang setia menunggu fict saya, dan mendukung saya selama ini : )

Hampir enam tahun sudah saya berada di FFN, dan saya tidak akan bisa sejauh ini tanpa kalian! ^^ terimakasih banyak minna :') jangan lelah untuk selalu menunggu cerita-cerita Hika selanjutnya ya?

Terimakasih untuk follow, fave, kritik, saran, dukungan baik di FFN dan wattpad serta FB, bahkan review kalian semua yang belum bisa Hika balas satu-persatu :')

Semoga ceita ini menghibur kalian semua ya? :D Sampai jumpa di chapter selanjutnya!

Salam hangat, Hikari No Aoi :*