02 Desember 2016

Bagaimana? Apakah kau sudah mulai mengerti bagaimana cerita ini akan berahir?

Atau... kau malah sudah bosan, anak muda? Jika menurutmu cerita ini tak lagi menarik, aku bisa mengakhirinya sampai disini. Tapi jika masih berminat, mari kita lanjutkan kembali. Karena di bagian ini, satu persatu rahasia akan terungkap.

.

.

.

Who is Your Father?

.

.

.

Hinata terus menatap Gaara-langit secara bergantian. Cuaca mendung yang sedari tadi ia khawatirkan, kini malah semakin menjadi. Awan diatas sana sudah berwarna hitam pekat, serta tiupan angin yang terasa semakin menguat akan membuat mereka berdua kesusahan dalam kembali ke Konoha jika nekat.

Sekarang, pemuda berambut merah yang ada dalam rangkulannya ini, tengah tertidur lelap. Entahlah, jangan tanya Hinata mengapa calon Kazekage itu bisa beristirahat disana dengan nyaman meski Hinata menyeret kakinya kasar. Dan yang lebih mengherankan lagi, Gaara akan bergumam dengan nada mengancam saat Hinata mencoba beristirahat sebentar.

Sulung Hyuuga itu ingin marah karena Gaara bisa memerintah sejelas itu saat ia berhenti sebentar untuk sekedar mengambil nafas. Namun, ketika Hinata menatap dua manik hijaunya yang masih bersembunyi dengan nyaman dibalik kelopak matanya, hal itu malah berhasil membuat Hinata terdiam. Heiress Hyuuga tersebut bahkan hanya mampu menghela nafas kecil saat suara dengkuran halus Gaara kembali terdengar ketika mereka melanjutkan kembali perjalanan.

Dia ini… sebenarnya pemuda yang seperti apa? Semenjak Hinata merawatnya kemarin malam, ia begitu tak berdaya. Pemuda bersurai merah ini bahkan tak terlihat berbahaya seperti yang orang-orang katakan. Meski memang, mulutnya yang kejam, tapi tetap saja, ia bisa merasakan bahwa Gaara adalah pemuda yang baik.

Langkah kaki Hinata tiba-tiba terhenti. Mata Byakugannya segera aktif ketika mengetahui aura musuh yang begitu asing, bergerak mendekat kearah mereka. Siapa?

Sosok itu, terasa tidak asing bagi Hinata. Namun, ia harus tetap waspada mengingat mereka sekarang jauh dari desa. Apalagi, ia membawa Gaara—calon Kazekage Suna. Dan bersamaan dengan munculnya sesosok pemuda bermata merah dihadapan Gaara dan Hinata, Hujan mulai turun dengan derasnya.

"Aku tak menemukan lawan seimbang, maukah kalian bermain sebentar denganku?"

.

.

.

Who is your father?

Disclaimer:Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pair:mmm... tergantung mood saya mau endingnya siapa :v #digantung

Rate:T semi M (mungkin)

HARD WARN: Typo dan alur maksa. Bagi yang ga suka Hinata centric, HARAP TEKAN BACK SEKARANG JUGA :3 damai itu indah ^^

Who is your father?

(c) Hikari No Aoi

Happy reading! : )

.

.

.

Hinata kalut luar biasa. Kini ia tahu, siapa pemuda tersebut. Dia adalah Sasuke Uchiha, adik dari Itachi, teman satu team Naruto, dan buronan tingkat S dalam binggo book yang begitu dicari. Ini tidak baik, bertemu dengan dia saat seperti ini sungguh sangat tidak baik.

"Kam-kami hanya ingin kembali kedesa," Hinata mencoba menjelaskan, walau suaranya lebih tepat dikatakan sebagai cicitan pelan. "Kami hanya ingin le-lewat."

Pemuda itu hanya terdiam. Dan Hinata tak berani menebak apa yang ia fikirkan karena hujan turun semakin lebat. Saat ini ia harus mengutamakan keselamatan Gaara. "Bisakah… t—tidak mengganggu kami?"

Sasuke mengedipkan matanya, lalu mendecih. Mengganggu… katanya? Wah, wah… padahal Sasuke tadi hanya ingin bermain sebentar teman lamanya dari Konoha. Tapi ternyata gadis yang suaranya kalah dari hujan itu, berani menghinanya. Dia cari mati, ya?

"Aku berniat menyapa, tadinya." Bungsu Uchiha tersebut membuka suara, lalu mengambil Kusanagi yang masih tersimpan rapi dalam tempatnya, dan mengarahkannya pada si gadis berambut biru tua. "Tapi aku berubah pikiran sekarang, majulah."

Apa akan ada pertempuran?

Hinata mematung. Amethystnya terbelalak. Astaga, mengapa ia melakukan ini padanya? mengapa laki-laki itu sangat sulit sekali ditebak? Hinata sudah berbicara dengan halus! Lalu bagian mananya yang salah saat meminta izin lewat? Demi kami-sama, mereka hanya mau kembali ke Konoha dengan selamat, mengapa banyak sekali yang menghambat?!

"A-aku rasa, kita salah paham."

Bungsu Uchiha itu kembali mendecih. Salah paham, katanya? Seumur-umur Sasuke belum pernah dilecehkan seperti ini! Bahkan, oleh rival orangenya dulu sekalipun. Baiklah, Gadis lemah sepertinya pasti tidak akan bisa bertahan lima menit melawannya! Mari taruhan!

"—ja-jadi, kami sedang dalam misi, d-dan tidak berniat menyerang Sas—"

"Berisik!" Mengayunkan Chidori keujung pedangnya, Sasuke berharap ia bisa bersenang-senang sedikit dengan pertarungan kecilnya ini. Karena jujur saja, ular dan manusia buatan yang sudah Kabuto berikan untuk latihan, semuanya sangat mudah sekali dikalahkan hingga membuatnya bosan.

Refleks gadis itu bagus. Ia menghindar ke dahan terdekat, meski gerakannya sedikit lambat karena harus menopang tubuh seseorang. Ia bahkan masih sempat mengambil kunai dengan tangan satunya, dan menyerang balik dengan kunai tersebut.

Sasuke menyunggingkan seulas senyum. Selain merasa senang karena hujan saat ini menguntungkannya, sosok berambut merah yang ada dalam rangkulan gadis itu ternyata adalah mantan musuhnya dulu. Yang berarti, ia benar-benar bisa bermain.

"Kuberi tahu satu hal." Adik Itachi itu bangkit, dan meningkatkan level sharingannya. Serangan gadis itu barusan, meski ia bisa menghindar tapi bidikannya lumayan akurat. "Sebaiknya letakkan bajingan lemah itu, agar kita bisa leluasa bertarung.

Hinata mengatupkan bibirnya. Menimbang elemen sang musuh yang berdiri lima belas meter darinya. Listrik dan hujan. Oh… betapa kombinasi yang sempurna. Kini, tubuhnya sudah benar-benar basah, akan semakin berbahaya jika ia jauh-jauh dari pohon dan terkena serangan.

Mengapa pohon? Tolong ingat kembali tentang konduktor dan isolator.

"A-ano, k-kurasa kita bisa—"

"Siapa yang kau sebut bajingan lemah, hah?!"

Hinata menoleh. Terkejut saat pemuda dalam rangkulannya mulai mengeluarkan tenaga dalam. Oh tidak! Gaara masih terluka! "Ka-Kazekage-sama?"

Sasuke kembali menyipitkan matanya. Namun saat mengetahui kelemahan Gaara, ia kembali tersenyum meremehkan. "Ah, kurasa sebentar lagi akan ada lumpur becek yang menjijikkan."

Gaara mendorong Hinata, hingga membuat gadis itu limbung dan hampir terjatuh andai ia tidak sigap berpegangan. "Menjauhlah!"

Pemuda berambut gagak itu kembali mengacungkan pedangnya, sambil terkekeh pelan. "Kau memang tak berubah, Gaara. Selalu lemah."

Jinchuriki Shukaku itu menyeringai, lalu mempersiapkan jurus yang akan ia gunakan untuk menyerang sang musuh sewaktu ujian chunnin dulu. "Kau juga sama brengseknya dengan Orochimaru, Sasuke."

"Chidori; Kouken!"

"Saikoo zettai bogyoo; Shukaku no Tate!"

Ledakan hebat dari dua jurus yang saling bertabrakan tak mampu dihindari. Kilatan petir Sasuke, menyambar dengan liar jurus pasir Gaara yang mencoba untuk menangkapnya. Debu dan asap yang masih mengepul lebat, membuat keduanya waspada kalau-kalau musuh menyerang dengan tiba-tiba.

Harus Sasuke akui, bahwa Gaara memang mengagumkan karena bisa mengeluarkan jurus mematikan itu dengan kondisi fisiknya yang sekarat. Meski begitu, Gaara tak akan bertahan lama. Karena ia akan terus menyerang pasir pemuda Suna tersebut secara membabi buta, hingga Gaara lemas karena pertahanannya telah memakan banyak chakra. Sempurna.

Asap mulai menipis seiring derasnya hujan yang turun. Dan bisa Sasuke lihat, Pasir sang jinchuriki Shukaku yang mulai hancur akibat terkena air. Lihat, kan? "Hanya begitu saja kemampuanmu?"

Gaara langsung mendekat, menyerang Sasuke dengan tangan kosong hingga membuat murid Orochimaru itu terpaksa mundur. Wah dia pemuda yang nekat. Sialnya, meski dalam jarak dekat dan terkena hujan sekalipun, pasir itu masih sulit Sasuke tembus.

"Hah? Justru serangan petirmu itu hanya membuatku geli!"

Sasuke melompat mundur, mengambil jarak. Ia butuh waktu sedikit lagi supaya pasir Gaara benar-benar hancur. Hingga saat itu, ia bisa balik menyudutkannya. "Kau bedebah—"

Trang!

Sasuke berhasil menangkis kunai yang hampir menghunus jantungnya. Ia lengah. Sial, keberadaan gadis merepotkan tadi tidak ia pertimbangkan dengan baik. "Kau berani menyerang dalam jarak dekat juga, huh?"

Hinata menghindar ketika Sasuke balik menyerang. Merasa sebal karena bungsu Uchiha itu suka sekali menggunakan petir disaat seperti ini. "Sedikit lagi."

Gaara menangkap kaki Sasuke yang tak memiliki pertahanan diudara, dan menariknya hingga masuk dalam perangkap Sabaku; Roonya. "Oh jangan lupa, lumpur menjijikkanpun bisa menjadi lumpur hisap!"

Sasuke terkesiap. "Susanoo!"

Crash!

Gadis sialan! Ia masih bisa menyusup dalam titik butanya. "Kau—"

Hinata langsung menghindar lagi. Menjauh dari serangan Gaara dan Sasuke yang akan mereka berdua keluarkan. Padahal sedikit lagi ia bisa menggores perut Sasuke! Mengapa serangannya masih saja meleset?!

"Sabaku: soo taisoo!"

Hantaman pasir Gaara terjadap tubuh lawannya membuat ia yakin bahwa ia, telah melumat tubuh Sasuke dengan jurus mematikannya barusan. Namun saat merasakan ada keanehan dalam jurusnya, Gaara langsung bergerak mundur. Sial, ia terlambat!

Perlahan-lahan, Gaara ambruk. Disusul dengan pasirnya yang mulai hanyut bersama air hujan. Kurangajar, ia kehabisan tenaga disaat yang tidak tepat. "Brengsek!"

"Gaara-sama!" Hinata mendekat, dan langsung memberikan pertolongan pertama. Mengabaikan Chakranya sendiri yang harus ia sisakan untuk bertarung. "A-anda tidak apa-apa?"

"Hn."

Sementara itu, sesosok mahluk berbadan besar, mulai terlihat dari pasir Gaara yang berjatuhan. Itu adalah Susanoo. Jurus berbahaya milik Sasuke. Sekarang, mereka benar-benar dalam kondisi yang tidak menguntungkan! Jurus Gaara tadi, dapat dihalau dengan baik oleh Susanoo yang melindungi Sasuke.

"Kita mundur, Hinata." Gadis itu mengangguk, lalu bersiap memapah Gaara kembali andai lidah petir tak menyambar kearah mereka. Untungnya, mereka berhasil menghindar.

"Wah, wah, wah… semua ini belum berakhir." Pemuda Uchiha itu berdiri, ditelapak tangan Susanoo dan menyilangkan kedua tangannya dengan angkuh. "Jangan pulang dulu."

Gaara terengah, pandangan matanya mulai mengabur. Sialan Sasuke itu! Dia memang lawan yang sebanding untuknya. Andai ia dalam kondisi yang prima, sudah pasti Gaara akan melumat bocah sombong itu hingga tulangnya tak tersisa! Sayangnya, ia sudah mencapai batas dan tak mampu lagi bertarung. Belum lagi rasa pusing tak tertahankan yang tiba-tiba menyerang, telah mampu membuat calon Kazekage tersebut ambruk.

Melihat Gaara yang tak bisa lagi bertahan, Hinata memekik dan hendak berlari kearahnya kembali untuk mengobatinya. Namun ia juga tak bisa berbuat banyak saat missing-nin tersebut mengatakan hal yang membuat jantungnya seperti berhenti berdetak. Secara mendadak, Hinata menghentikan langkahnya. Tubuhnya membatu.

"Apa ini, sebuah kalung?"

Kakak Hanabi tersebut terbelalak, dan menatap horror pemuda yang saat ini tengah dililit oleh seekor ular berwarna ungu pucat. Firasatnya mengatakan bahwa kalung satu-satunya pemberian ibunya tersebut, dalam bahaya. Bagaimana Sasuke bisa— "I-itu—"

Mulut ular tersebut terbuka dengan lebar, seolah menunggu untuk diberi makan. Ia tak mau berlama-lama dan mengulur waktu lagi, Sasuke langsung menjatuhkan kalung itu untuk ditelan Manda. Sebelum akhirnya menghentikan jurus panggilan tersebut, dan membuat ular ungunya menghilang. "Baiklah, sampai dimana kita tadi?"

Manik mutiara Hinata berkaca-kaca. Tubuhnya lemas. Kejadian barusan begitu cepat hingga membuatnya tak bisa bergerak-bahkan menyerang untuk merebut kembali barang berharganya.Tidak… apapun boleh, asal jangan kalung itu!

Sasuke kembali menyeringai, dan mengaliri tubuhnya dengan listrik tinggat tinggi untuk menghabisi dua manusia lemah yang ada didepannya. Mari, kita akhiri semua ini. Ia sudah lumayan terhibur hari ini. "Kau marah, hm? Ingin balas dend…am?"

Tiba-tiba, pandangan matanya mengabur. Tubuh Sasuke terhuyung. Andai ia tak menancapkan pedangnya pada telapak tangan Susanoo, sudah pasti Sasuke jatuh. Kenapa ini? Kenapa sekarang banyak sekali tubuh gadis itu? Apa ia menggunakan bunshin?

Mendadak, kepala Sasuke terasa pening. Seperti ada sesuatu yang menghantam tengkuknya dengan keras hingga membuat kesadarannya nyaris hilang. Apa ia terkena serangan? Apa ia kehabisan chakra? Tidak, Susanoo masih menahannya. Dan gadis itu… masih disana, memandangnya dengan tatapan tak mengerti.

Lalu, kenapa ini?

Brughhh!

.

.

.

Who is your father?

.

.

.

Dewasa.

Jika memikirkan kata tersebut, sekarang Hinata sudah mulai beranjak dewasa. Dan ia tak sepolos… seperti yang ayahnya fikirkan selama ini. Bukannya ia bandel atau apa, tapi yang namanya kedewasaan pasti akan datang dengan sendirinya meski kau dikurung dalam mansion sekalipun. Yah, meskipun ia tak—belum sedewasa seperti kakak sepupunya-Neji, setidaknya ia sudah berusaha membedakan yang mana sikap remaja dan mana yang bukan.

Tapi urusannya akan beda jika terkait dengan dua pemuda setengah waras—uhuk, setengah sadar, kan? Kedewasaannya yang masih seumur jagung itu belum mampu untuk menghadapi masalah dewasa saat ini! Baiklah, baiklah, kesampingkan itu dulu! Sekarang, apa yang biasanya wanita dewasa pikirkan saat dikepung dua pemuda setengah telanjang dan mengejar-ngejarnya?

Lari? Minta pertolongan? Atau nekat melawan orang yang statusnya diatasmu? Demi Tuhan, mereka berdua adalah calon Kazekage dan Buronan kelas S! dan belum genap satu jam lalu, keduanya berkelahi hebat berusaha untuk saling membunuh!

Hinata memekik. Lilitan ular di kaki kanannya mengakibatkan ia kehilangan keseimbangan hingga tersandung, dan jatuh. Belum lagi, sentakan kasar Sasuke untuk membuatnya terlentang, begitu menyakitkan bagian belakang tubuhnya. Namun rupanya, perlakuan kasar itu tak berhenti sampai disana. Bungsu Uchiha itu langsung menindihnya hingga Hinata kesulitan bernapas!

Sekarang Hinata menyesal, karena diusianya yang hampir matang... kedewasaannya malah belum bisa ia andalkan untuk mengatasi keadaan sulit saat ini. Seharusnya ia tenang dan memikirkan rencana terbaik untuk melarikan diri atau mencari bantuan, bukannya malah syok dan ketakutan seperti sekarang.

"Kau curang!" Gaara mendorong tubuh Sasuke menjauh, hingga pemuda itu menabrak sisi pohon satunya.

"Tch,"

Dan meski tidak suka, Hinata merasa tertolong dengan tindakan Gaara barusan karena akhirnya ia bisa kembali menghirup udara. Sayangnya, hal tersebut tak bertahan lama. Bungsu dari keluarga Rai tersebut, bahkan lebih parah dari tindakan Sasuke tadi. Ia dengan kuat, mengekang kedua tangan Hinata hingga membuatnya tak bisa bergerak. Lalu dengan tergesa, pemuda bersurai marun tersebut melumat leher Hinata sampai berwarna merah tua.

"Aku pemenangnya, brengsek."

Lavender Hinata terkesiap. Tubuhnya meronta. Ia berusaha menendang, menggelengkan kepala, atau apapun itu supaya bisa terlepas dan bebas. Sayangnya, sekeras apapun ia mencoba, hasilnya percuma. Kekuatan Gaara bukan tandingannya. Tuhan… cobaan apa yang engkau berikan?

Sasuke bangkit, kemudian menendang Gaara menjauh. Dan dengan sigap, ia menjambak rambut kelinci tersebut supaya tidak kabur. "Aku tidak curang, lembek!"

Kini sulung Hyuuga itu menyesal. Ia yang tadinya berniat untuk meneduhkan Gaara dan Sasuke yang pingsan, malah diperlakukan dengan kasar seperti ini. Ada alasan kuat mengapa Hinata mau repot-repot melakukan hal itu. Yang pertama, karena Gaara adalah misi utamanya. Keselamatan pemuda bertato Ai tersebut lebih berharga daripada dirinya sendiri. Dan yang kedua, Hinata berniat membelah perut Sasuke untuk mengambil kembali kalung berharga milliknya. Meski Hinata juga tak yakin kalung itu berada disana, Setidaknya, ia ingin mencari.

Sayangnya, tubuh dua pemuda yang baru saja ia letakkan dibawah pohon besar dekat area pertarungan, mulai siuman dan bertingkah aneh. Seolah mereka berdua adalah sahabat karib. Saat itulah Hinata merasa nyawanya yang terancam.

"Aku berhasil menandainya, brengsek. Dia kelinciku!" Gaara mencoba berdiri kembali, meski masih terhuyung-huyung. Ada memar di perut bagian atasnya akibat tendangan Sasuke barusan.

Hinata mulai terisak. Rasa sakit yang kini menjalar dikulit kepalanya, benar-benar melukai harga dirinya. Belum lagi tindakan kedua pemuda yang memperlakukannya sebagai kelinci buruan, sangat melecehkan martabatnya sebagai seorang wanita. Ia ingin melawan, ia ingin memberontak, ia ingin lari dari situasi mengerikan ini. Namun, kekuatan dua pemuda tersebut selalu lebih kuat hingga ia sudah terlalu lemas untuk berteriak.

Sasuke memojokkan Hinata kedinding pohon dibelakangnya. Mendekatkan wajah stoicnya, dan mencium sang heiress Hyuuga tanpa perasaan disana. Bungsu Uchiha itu mengunci bibirnya dengan lumatan kasar. Matanya yang sehitam jelaga, menatap Gaara dengan tatapan meremehkan. Hingga setengah menit kemudian, ia menghentikan aktivitasnya dengan nafas terengah.

"Lihat? Dia lebih menyukai tandaku."

Hinata beringsut. Pandangannya berkunang-kunang, apa yang Sasuke dan Gaara perdebatkan kemudian, tak bisa ia dengarkan lagi dengan jelas. Semuanya terasa bergoyang, hingga membuat kepalanya pusing. Hal terakhir yang ia lihat hanyalah, sosok Gaara yang menghajar pipi Sasuke sebelum bungsu Uchiha itu terjatuh dan menarik dirinya, kedalam sebuah dekapan menyakitkan.

Selebihnya, semua terasa menghitam.

.

.

.

Who is your father

.

.

.

Gaara tentu saja merasa senang saat memenangkan debat dengan para tetua Suna yang masih terkapar dikamar sebelah. Ancaman mematikannya terbukti ampuh untuk mengantongi izin mencari si sulung Hyuuga. Tentu saja, tidak mendapatkan Hinata sama saja dengan tidak menjadi Kazekage. Mudah, kan?

"Baik, baik, kami akan mengizinkan anda, Gaara-sama," Ebizo-sama akhirnya menyerah, ia bahkan sudah terlihat lelah menghadapi sang bungsu Rai yang sudah tak bisa dibujuk. Sama sekali malah. "Tapi jika sampai besok tidak berhasil, anda harus—"

"Aku tahu." Tentu saja, kalau tidak mendapatkan apa yang ia mau, bukan Rai Gaara namanya. Gaara juga paham waktunya di Konoha tidaklah lama, Oleh karena itu ia harus segera bergegas menyelesaikan masalah ini dan menikahi Hinata. Sayangnya, senyuman kemenangan tersebut harus sedikit terganggu dengan kalimat papa Hiashi selanjutnya.

"Aku tidak akan menyerahkan putriku padamu begitu saja." Seluruh klan Hyuuga sudah bersiap di belakangnya, dan Gaara yakin hanya dengan satu kata perintah saja, semua keluarga besar Hyuuga tersebut bisa menghabisinya dalam sekejab mata.

"Tolong tinggalkan putriku, Gaara-sama." Lanjut sang kepala klan penuh penekanan. Tatapan matanya bahkan semakin tajam.

Tidak, tidak, ialah yang tidak akan menyerah untuk meninggalkan Hinata begitu saja. Dengan atau tanpa izin dari tetua klan tersebut, Gaara tetap akan meminang Hinata dan menjadikannya istri pertama sekaligus terakhir dalam hidupnya. Apapun yang terjadi. Jadi, kalau menyerah sekarang… rasanya masih terlalu dini. Gaara tidak mau kalah sebelum berperang. "Aku akan membawa Hinata kembali."

Kemudian, terdengar suara langkah kaki yang begitu nyaring. Memecah ketegangan yang kembali tercipta antara Hiashi dan Gaara. Dan meski tidak suka, seluruh pasang mata yang ada di halaman depan kediaman Hyuuga menatap sang Hokage kelima Konoha dengan tatapan bertanya-tanya. Sepertinya ada hal penting yang tengah terjadi—kecuali perang dingin antara calon menantu dan calon mertua, tentunya.

Berhenti ditengah Hiashi dan Gaara, Tsunade membuka suara lantang dengan menghadap keseluruh pasukan klan Hyuuga. Manik madunya menatap nyalang semua orang. "Aku baru saja mendapat kabar, Konoha sedang dalam masalah."

Awalnya Gaara ingin menjawab 'siapa perduli'dengan bersedekap tangan, dan melempar pandangan kesal. Namun ia segera mengurungkan niat tersebut saat sang Godaime Hokage melanjutkan kalimatnya.

"Sekelompok shinobi gabungan dari beberapa Negara, tengah melarikan diri atas tuduhan kudeta. Dan menurut kabar dari Negara Air, jumlah mereka ada ribuan. Saat ini, mereka tengah menuju kemari, ke Negara Api. Kita harus waspada dan bersiap jika perang sewaktu-waktu akan terjadi!"

Sang cucu Hokage pertama tersebut, kemudian menolehkan kepalanya dan menatap ayah Hinata dengan serius. "Hiashi-san, aku tahu situasimu saat ini sangat… buruk. Tapi sebagai Hokage, keamanan penduduk jauh lebih penting, kau pahamkan?"

Pria paruh baya tersebut hanya terdiam dengan pernyataan sang pemimpin desa barusan, wajahnya mengeras selama beberapa saat. Namun sedetik kemudian, ia membungkukkan tubuhnya—untuk memberi hormat. "Ya, Tsunade-sama."

Lalu, Tsunade mengalihkan pandangan matanya pada bocah tanggung berambut merah disebelah semakin menajam."Aku tidak tahu apakah kau ada hubungannya dengan hilangnya jelas Gaara, jika kau memang bersungguh-sungguh ingin menikahinya, bawalah ia kembali dan buktikan pada kami bahwa kau memang serius terhadapnya."

Sontak, perkataan Tsunade barusan membuat Hiashi dan seluruh klan Hyuuga tersentak. Namun saat melihat kondisi desa yang tengah kacau seperti ini… mereka tidak punya pilihan. Godaime Hokage tersebut benar. Saat ini Konohalah yang harus diutamakan.

"Benar kan, Hiashi-san?"

Sang souke berambut cokelat sepunggung tersebut menatap calon menantunya beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab dengan nada kecewa yang kentara."Akan ku pertimbangkan kembali."

Menyunggingkan seulas senyum atas jawaban sang calon mertua yang-entah-mengapa-terdengar-seperti-Ya-bagi-Gaara, Pemuda jinchuriki Shukaku tersebut kemudian menatap Hiashi dan Tsunade bergantian dengan mantap. Seringai jelas sekali tersungging diwajah tampannya "Pasti, akan ku bawa Hinata kembali. Apapun yang terjadi."

"Baiklah, dengan ini kuserahkan misi pengejaran Hinata padamu, Gaara-sama. Dan untuk klan Hyuuga, dengan sangat rendah hati, saya mohon bantuannya untuk menyutujui misi tersebut dan memfokuskan diri pada keamanan desa."

Gaara tahu ia brengsek. Ia juga sadar karena sudah menjadi pria bajingan karena telah memperkosa Hinata saat itu, dengan tidak mengatakan apapun setelahnya. Tapi setidaknya, saat ini ia sudah mau bertanggung jawab. Gaara juga tidak akan membiarkan Sasuke menang dengan menjadikan Hinata miliknya. Ia tidak akan kalah dari Sasuke. Tentu saja, sulung Hyuuga tersebut lebih pantas menyandang marga Rai nantinya.

.

.

.

Who is your father?; TBC

.

.

.

Entah karena apa, saya sedang mood membuat fict dengan sedikit 'kasar'. Disini memang romance/humor, tapi setelah masuk ke ch 3 saya merasa perlu mengganti genrenya menjadi hurt O.o apakah readers sekalian akan berfikir demikian nantinya? Yang jelas, saya susah memakai alur cepat. Jadi mohon bersabar jika fict ini seperti ga maju2 :') #hiks

Mengapa Hinata diam saja ketika dijodohkan Gaara, bagaimana Sasuke memperlakukan Hinata, dsb, mari kita bahas di chapter 4 besok ya! :3 sepatah dua patah kalimat kalian adalah motivasi hika sampai jumpa di chapter selanjutnya! :D

Salam hangat, Hikari no Aoi.