Life, Just For Love
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Disclaime : Naruto milik Kishimoto-sensei seorang
NaruHina milikku *geplaked*
Rated : T
Warning : Typo(mungkin), OOC, Author baru yg nekad,hehe..
.
.
.
Chapter 2 : Mengenalmu
Kiba P.O.V : On
"Ki..Kiba-kun!" panggilnya.
Aku menengok ke arah si pemanggil, "Ya",jawab ku singkat. Yang memanggil malah terkesan malu-malu.
"Ke..kenapa b..baru pulang?",
Pertanyaan itu lebih cocok jika aku yang mengajukan, kenapa seorang wanita manis di sampingku ini baru pulang?, meskipun aku sudah tau jawabannya.
"Tadi ada pertandingan basket di dekat area sekolah"ujarku,"lalu, kenapa Hinata-chan baru pulang?, apa kau tidak takut sendirian di sekolah?",tanyaku sambil berjalan. Ya, saat ini kami sedang di perjalanan pulang.
"Eh..ehn.. ti..tidak, hanya saja...", ia terdiam sejenak,"a..aku tak tau a..apa yang bisa ku lakukan di rumah?", 'BINGO' pikirku.
Bukankah jika di rumah kalian merasa nyaman? Berkumpul dan bercanda antara anggota keluarga adalah contoh hal yang bisa di lakukan dirumah, pasti menyenangkan. Lalu, kenapa Hinata tidak berpikir begitu? Bagaimana kalau keluarganya tidak bisa berkumpul ataupun bercanda? Bagaimana kalau mereka sudah terpecah belah atau bisa di bilang 'Broken Home'
Ya, hidup dengan keluarga yang tidak sesuai keinginan kita pasti cukup berat, bahkan masalah Hinata bisa di bilang terlalu berat untuk seorang gadis rapuh sepertinya.
Di mulai dari sang Ibu, orang yang seharusnya merawat dan menyayangi sang anak tidak melaksanakan tugasnya.
Lalu, si Ayah? Orang yang seharusnya tidak Cuma menafkahi keluarganya tapi juga memperhatikan keluarganya, terlihat sama sekali tak peduli.
Kemana yang lain? Status Hinata saat ini adalah anak tunggal, meskipun dia pernah 'menjabat' sebagai seorang kakak, si adik, Hanabi, meninggal saat umurnya 5 tahun, sayang.. fisik nya terlalu lemah untuk hidup lebih lama dan menemani hidup si kakak, itulah pengakuan dari Hinata kepadaku.
.
Kini ia terlihat murung, sepertinya aku salah bertanya. "Kalau gitu, bagaimana kalau mampir ke rumahku?", ajakku.
"Ta.. tapi, A.. apa tidak m..merepotkan?",jawabnya sedikit terkejut. Kami kenal sudah lama, sejak SMP aku sudah pindah rumah di samping rumahnya, itulah satu-satunya alasan kami dekat. Meskipun begitu, ajakkan ku mampir kerumah hampir tidak pernah berhasil, gagal di tengah jalan.
"Tentu saja tidak, aku senang jika Hinata-chan mau mampir. Mau ya, mau?",pinta ku dengan puppy eyes andalanku.
"Hihi", -*DEG*.
Hal itu yang selalu ku tunggu. Dia tertawa kecil, sangat manis.
.
Tanpa di sadari kami sudah sampai di depan rumah ku, rumah Hinata masih lurus ke depan, sekitar 5 langkah(?).
Rumahku tidak terlalu besar dibandingkan rumah keluarga Hyuuga, satu banding sepuluh.
"Hinata-chan, jadi mampir?"
"E.. eto.. eto...", Sepertinya dia ragu, aku merasa De Javu. "Ma.. maaf Kiba-kun, a.. aku baru ingat, aku be..belum mengerjakan PR untuk besok", tentu saja, itulah salah satu alasan yang sering dia berikan ketika sudah di hadapan rumahku, padahal hanya sekedar mampir? Sulit sekali. "O", jawab mulutku refleks.
"Ka..kalau gitu sampai besok, Ki..Kiba-kun", ujarnya sambil berlari kecil, pulang.
'Hinata, apa tidak ada harapan untukku?'
Kiba P.O.V : Off
.
.
Hinata P.O.V : On
"Ka..kalau gitu sampai besok, Ki..Kiba-kun", ujarku mencoba melarikan diri.
'Maaf, Kiba-kun', 'Maaf, aku tidak bisa melakukannya', 'Aku terlalu takut', Itulah alasanku tidak pernah memenuhi permintaannya untuk sekedar mampir. Lebih jelasnya, aku takut membuat sebuah hubungan yang terlalu dekat. Aku bahkan tidak becus menjaga hubungan yang sudah aku jalani sejak lahir, bersama keluargaku. 'Sekali lagi, Maaf Kiba-kun'.
.
"Tadaima~", ujarku pelan, tak ada jawaban. Pelan atau keras suaraku sama saja, tak ada orang di rumah.
Aku berjalan melewati lorong menuju ruang tau, lorong yang cukup panjang. Rumahku memang tergolong cukup besar, di hiasi dengan cukup banyak barang antik. Tapi... selalu sepi.
Aku berjalan menaiki tangga ke lantai 2, membuka pintu kamarku yang tidak terkunci, menaruh tas di samping meja belajar, lalu berbaring di atas tempat tidur yang besar, cukup untuk 2 orang.
'Sepi dan membosankan', pikirku.
Sejak duduk di bangku SMP, hampir setiap hari aku sendirian dirumah, di sekolah pun hanya mengobrol dengan Kiba-kun, sekarang pun jarang karna kami tidak sekelas.
Alasan aku selalu sendirian...
Berawal saat aku masih kecil. Saat itu tubuhku memiliki keanehan, begitu lemah, aku sering sakit-sakitan. Dokter pun menyerah atas penyakitku. Mungkin karena itu, kedua orang tua ku merasa frustasi. Mereka memanggil paranormal, meminta mereka menyembuhkan penyakitku.
Ajaibnya, beberapa bulan kemudian penyakitku sembuh. Namun itulah penyebab semua ini di mulai, ibu ku mulai menyukai hal-hal yang berbau ghaib. Ia mengikuti aliran paranormal itu, dia bahkan sering menghaburkan uang untuk aliran itu. Tak pernah peduli lagi pada anaknya, aku.
Sedangkan ayahku? Ia lelah dengan kelakuan ibuku yang menghamburkan uang, ia pun memutuskan untuk meng-akhiri hubungan mereka. Hak asuh jatuh pada ayahku. Karena kami hampir jatuh miskin, ayahku menjadi pekerja keras, bahkan cenderung jadi 'penggila' pekerjaan. Tak pernah lagi mengurusku.
Bagaimana dengan adikku? Ia sakit, meninggal saat umur 5 tahun. Itulah pengakuan ku kepada Kiba-kun. Tapi itu salah, perlu di ketahui jika adikku di jadikan tumbal oleh paranormal sesat itu. Untuk apa? Untuk kesembuhanku. Itulah pengakuan ayahku setelah beberapa bulan bercerai dengan ibuku.
Aku yang mendengarnya begitu shock, sakit sekali, air mata mengalir begitu saja tanpa isakkan tangis, terlalu sakit.
'Maafkan kakakmu yang tak berguna ini, maaf karena menyusahkanmu, maaf karna mengambil nyawamu'.
.
Mengingat kembali kenangan masa lalu begitu menyakitkan. Tanpa aku sadari butir air mata menetes dari kedua mataku. "Kaa-san, Tou-san, Hanabi" lirihku.
...
.
Nitnit nitnit(?) –suara bunyi alarm-
"Hoamhh", aku menguap, ternyata sudah pagi.
"Hah, sekarang jam berapa?",teriakku. Semalam aku ketiduran sampai tak ingat makan malam. Aku melihat jam alarm yang telah menunjukkan pukul 07:35.
'Gawat, aku bisa terlambat sekolah', teriakku dalam hati. Akupun bergegas mandi, pakai seragam, membereskan pelajaran dan berangkat, aku melakukan semuanya dengan intensitas kecepatan cukup tinggi(?), alias seadanya.
Aku berlari menuju sekolah, tapi ini terlalu melelahkan jika harus berlari hingga ke sekolah, bagaimana aku bisa mengikuti pelajaran jika sudah kelelahan.
Tiba-tiba seseorang yang berseragam mirip denganku –tapi untuk laki laki- terlihat menaiki sebuah motor cukup besar dengan tulisan 'Bajaj' di samping motornya yang berwarna hijau itu. Dia mengendarainya dengan terburu-buru, rambutnya yang kuning seterang mentari pagi ini tertiup angin.
Tapi tunggu... Sepertinya dia melihat ke arahku. Dia memperlambat laju motornya, lalu berhenti sekitar 10 meter di depanku.
"Haaiiii, mau ikut?", ajaknya sambil melambaikan tangannya ke arah ku, masih tetap di atas motornya. "Eh, ke..kemana?", tanyaku kikuk. "Tentu saja ke sekolah, Hinata-san?", Oh, benar juga, kenapa aku menanyakan hal bodoh seperti itu?
'Eh, tunggu dulu, dia tau namaku...?',"Si..siapa kamu? Kok bisa kenal denganku?" tanyaku heran. "Hahaha, sudahlah nanti aku jelaskan, sekarang ayo naik!",ajaknya sambil tersenyum lebar kearahku, Pipinya yang masing-masing dihiasi 3 garis di bagian kiri dan kanan, seperti kucing, menambah kesan 'tampan'.
*DEG*, 'apa ini?', Ku rasa pipi ku memanas.
Melihatku yang masih bergeming membuatnya turun dari motor, menghampiri dan menarik ku perlahan,"Ayolah, jangan malu-malu", ucapnya. Otakku yang masih memproses apa yang baru terjadi, membuatku tidak bisa melawan atau bereaksi atas apa yang terjadi, bagaimanapun aku tidak mengenalnya.
"Kau tidak mengenalku, ya?", tanyanya padaku, kami berhenti di samping motornya.
"Akan ku beri tahu kalau sudah sampai sekolah, sekarang ayo naik, nanti kita bisa terlambat",ujarnya.
"Ba..baiklah", entah kenapa tubuhku menuruti syaratnya tadi. Aku pun menaiki motor, di bonceng olehnya.
.
.
Sampai. Ya, sekarang aku berada di area parkir Konoha High School. 'Banyak juga murid yang menggunakan motor ke sekolah', pikirku. Datang sendirian banyak juga yang berdua, Laki-laki dan perempuan, 'seperti pacar saja',pikirku lagi.
*Blush*,'Aduh, apa yang kupikirkan, aku kan juga datang berdua dengannya', aku merutukki diri sendiri.
"Nah, ayo ke kelas", Ke kelas? Maksudnya kelas 2-B? Dia sekelas denganku?, "Ki..Kita sekelas?" tanyaku.
"Iya, ayo!", ujarnya semangat. "Tu..Tunggu dulu",
"Eh, kenapa Hinata-san?",
"Se..sebelum itu... Beri..tahu na..namamu!", "OH,IYA!", teriaknya, membuatku hampir lompat karna terkejut.
"Gomen, hampir lupa", ujarnya sambil menggenggam tanganku, tangannya cukup besar."Uzumaki...
...Naruto Uzumaki".
.
Hinata P.O.V : Off
Normal P.O.V
Suasana kelas saat ini begitu tegang. Bagamana tidak? Guru yang terkenal killer bernama Tsunade tengah mengajar pelajaran paling menyebalkan, bahkan lebih sulit dari matematika, fisika.
Sudah di pastikan, para manusia tak kuat beban, termasuk sang tokoh utama kita, Naruto, sudah tak lagi kuat bahkan hanya untuk melihat ke arah papan tulis yang di penuhi grafik, angka, tabel dan hal rumit lainnya. 'aku mual', keluh Naruto.
Begitupun Hinata, meski tidak terlalu tertarik dengan pelajaran, ia masih tetap memperhatikan Tsunade yang sedang menjelaskan arti dari hal rumit yang tercetak di papan tulis itu.
.
.
Tongnengnongneng~ Tongnengnongneng~ (?)
Akhirnya, bel istirahat tanda penyiksaan psikis(?) itupun berakhir.
Naruto baru menyadari kelas sudah mulai sepi, bahkan kedua sahabatnya sedang tidak di kelas. "Eh, aku di tinggal?", keluhnya. Dia melihat sekitar kelas, memastikan masih ada orang di dalam kelas.
'Ada.', Naruto tersenyum lebar.
Dia pun berdiri meninggalkan tempat duduknya, arah yang di tuju adalah satu-satunya orang selain dirinya yang masih ada di dalam kelas.
"Hinata-san", panggil Naruto. Tak ada jawaban. Naruto mendekatkan dirinya ke Hinata."Hi~na~ta~",bisiknya pelan.
"Eh", yang di panggil bergidik, merinding. "A..ada apa, Na..Naruto-kun?", tanyanya kikuk.
"Aku...
.
"Aku...
.
...menyukaimu".
.
*Blush*,Tubuh Hinata melonjak, sekarang pipi Hinata sudah semerah kepiting rebus, dia kaget bukan main. Bagaimana mungkin seorang yang baru bertemu tadi pagi sudah bisa menyatakan perasaannya secepat ini?
"Eh, A..apa maksudmu, Na..naruto-kun?"
"Iya, aku menyukaimu, jadi mau berteman denganku?", 'Eh, itu maksudnya', pipi Hinata kembali memerah, bukan karena pernyataan Naruto yang pertama, tapi yang kedua, dia malu karna sudah berpikir yang tidak-tidak.
'Benar juga, kebahagian seperti memiliki seorang kekasih, hanya mimpi bagiku',tiba-tiba Hinata terisak. "Hiks, hiks"
Naruto yang melihatnya tiba-tiba menangis benar-benar kaget. Naruto berusaha menenangkan Hinata dengan memegang kedua pundaknya.
"Ma.. Maaf Hinata, aku tidak bermaksud untuk...", tiba-tiba omongan Naruto terpotong oleh seseorang yang menarik pundaknya dari belakang.
*DUAGH*...*BRAKK*
Naruto sedikit terlempar akibat pukulan orang itu tiba-tiba. Mendarat di meja, menyebabkan si meja sedikit terguling. Pasti sakit.
Hinata yang melihat kejadian itu terkejut, tapi tetap bergeming.
.
.
"Jangan Sentuh Hinata".
.
-To be continued-
.
akhirnya selesai~, chapter 2 updated, kesedihan Hinata nya kerasa ga feel nya, semoga terasa ya~
Ok. akhir kata, RnR, please!
