Life, Just For Love

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaime : Naruto milik Kishimoto-sensei seorang

NaruHina milikku *geplaked*

Rated : T

Warning : Typo(mungkin), OOC, Author baru yg nekad,hehe..

.

.

.

Chapter 3 : Saat Bersamamu


sebelumnya trima kasih untuk para senpai and reader sekalian yg sudi meluangkan waktu membaca fict hamba ini. fict ini saya persembahkan kepada sahabat, seseorang dan readers sekalian.

time to reply not login user :

Soputan : Arigatou soputan-san, saya jadi tambah ssemangat nulis fict nya, silahkan chap 3 nya...

Guest : Siap, dan silahkan chap 3 nya

yg login sudah saya jwb via PM, sekian terima kasih.

Chapter Special NaruHina, silahkaaann~~~


Konoha High School : U.K.S

Naruto perlahan membuka mata nya, mengedip-kedipkan kedua nya, menyesuaikan penglihatan mata biru amethys dengan cahaya terang yang tengah di hadap nya.

Hal yang pertama kali di lihatnya adalah plafon putih bersih, dengan sebuah lampu panjang, putih terang, menempel tepat di bawahnya.

Mengingat-ingat kalau pipinya telah di hantam oleh seseorang. Dia meraba kedua pipinya dengan tangan kanan. Memastikan tidak ada benjolan berarti di pipi miliknya yang di hiasi 6 garis tanda lahir itu."Itta~~", pekiknya pelan. Pukulan itu seperti nya memang menyebabkan benjolan juga memar dan rasa sakit di pipi kiri nya, tapi kini sudah berbalut kapas yang sedikit merah dan dua buah perekat luka. 'Aku sudah di obati', simpul nya.

Kini Naruto mencoba menggerakkan tangan kirinya, 'Tidak bisa',pikirnya.

Pukulan itu menyebabkan Naruto sedikit terlempar, bahkan menimpa meja. 'Jangan-jangan tanganku patah', firasatnya. Tapi tidak ada rasa sakit. 'Atau tanganku sudah di amputasi',pikirannya mulai ngawur.

Memastikan kalau tangannya tidak patah, atau setidaknya masih berada di tempatnya, Naruto memiringkan kepalanya ke arah kiri, mendapatkan seseorang dengan rambut panjang indigo nya sedang tertidur di atas kursi dan menggunakan tempat tidur Naruto sebagai sandaran kepalanya. Kedua tangannya ia gunakan sebagai alas kepalanya, dengan siku kanan tepat di atas lengan kiri Naruto, menindih. 'Pantas saja, mungkin darah ku tidak mengalir karna tertindih', pikirnya.

"Hinata-san.. Hinata-san.. bangunlah", ujar Naruto sambil mengelus-elus kepala Hinata dengan tangan kanan nya, Hinata pun terbangun. "Eehh, ada apah?", ujar Hinata sambil mengangkat kepala. Menggosok kedua kelopak mata lavender milik nya dengan kedua tangan yang begitu mungil.

"Aaaaahhhh...", Naruto setengah berteriak.

Reaksi akibat darah di tangan kiri Naruto yang secara tiba-tiba kembali mengalir setelah lama tidak bisa mengalir karna tindihan Hinata. "Eh, Ke.. kenapa Na..naruto –kun..?", tanya Hinata kaget.

"Ti.. tidak, hanya ke.. kesemutan", jawab Naruto gugup. Tentu saja dia tidak memberitahu siapa pelaku yang menyebabkan dirinya 'kesemutan'. Hinata nya? Dia baru saja terbangun, jadi tidak sadar akan kesalahannya. Bagaimana pun Naruto tidak ingin membuat Hinata merasa bersalah, setelah perbuatan nya yang membuat Hinata menangis di kelas.

'Pukulan tadi setimpal dengan perbuatan-ku?'

Setimpal? Hei Naruto, apa kau yakin tau penyebab sebenarnya kenapa Hinata menangis?,

"Maaf Hinata-san, tadi... kenapa kamu menangis? apa kamu tidak ingin berteman denganku?", itulah alasan Hinata yang terpikirkan oleh Naruto.

Hinata menunduk, "Bu... bukan itu", lontar nya. "lalu kenapa?", tanya Naruto kembali.

'Ku kira kau menyukaiku seperti antar-sepasang kekasih', pikir Hinata dengan sedikit semburat merah di pipi nya. "Bu... bukan apa-apa".

"Hinata-san, pipi mu merah, apa kamu sakit?", tanya Naruto dengan tangan kanan yang sudah di letakkan di kening Hinata.

*PLAKK*, Hinata spontan menepis tangan Naruto di kening nya. "A.. aa.. aa.. a.. apa yang k.. ka.. kamu laku.. lakukan?", kali ini tidak hanya pipi, kini wajah nya bertambah merah.

"Iyaaah, kupikir mungkin tubuh mu panas, jadi aku coba periksa suhu tubuhmu, Hahaha", jawab Naruto polos di sertai tawa segar khas Uzumaki muda itu. Melihat tawa pemuda tampan di depan nya, membuat wajah nya makin memerah, mirip dengan kepiting rebus.

.

"a.. an.. ano Na.. Naruto-kun!", panggil Hinata. "yah?", balas naruto singkat.

"Go.. gomenasai.., gara-gara aku..., kamu jadi terluka begini, se.. sekali lagi gomen, Na.. naruto-kun.",sesal Hinata.

'LOH? Bukankah harusnya aku yang meminta maaf duluan karna membuat nya menangis?, Tapi...',

Yang di minta untuk memaafkan malah memasang seringai tipis di bibir nya.

"Jadi kau menyesal Hinata?", tanya naruto. Hinata mengangguk pelan, lalu menunduk.

"Baiklah, aku akan memaafkan, tapi dengan beberapa syarat!", Hinata mulai mengankat kepala nya, "Syarat? Ta.. tapi?".

Bagaimanapun Hinata ragu untuk menerima apapun syarat dari Naruto, karna jika dia menerima nya, itu berarti dia akan sering berinteraksi dengan Naruto, jika interaksi sering terjadi maka akan terbentuk sebuah hubungan, dan Hinata masih takut membuat sebuah Hubungan baru, apalagi dengan orang yang belum lama dia kenal.

"Kenapa tapi?", tanya Naruto heran.

Mau bagaimana lagi? Hinata masih merasa bersalah kepada Naruto, bagaimana pun juga Naruto terluka karna ulahnya. Dengan penuh keraguan Hinata menyetujuinya. "Ba.. baiklah, tapi apa syarat nya?"

"Kamu harus berteman denganku, menemaniku saat istirahat, dan pulang-pergi sekolah bersamaku! Bagaimana?", itulah rincian syarat Naruto ke Hinata.

Mendengar syarat yang di ajukan Naruto cukup banyak, Hinata protes. "A.. apa tidak terlalu ba.. banyak, Naruto-kun?"

"Ayolah", pinta Naruto kembali. "Tapi...", gumam Hinata yang masih ragu. "Berarti kau tidak benar-benar menyesal ya, Hinata-san?", tanya Naruto sambil memalingkan wajah.

"Bu.. bukan itu, a.. aku memang benar-benar menyesal.", diam sejenak. "Ba.. baiklah, aku se..setuju.".

Naruto yang memalingkan wajahnya kini tersenyum penuh kemenangan.

Mendengar jawaban yang di harapkan, Naruto langsung bangkit dari posisi tidur nya, membalik tubuh nya dan memeluk erat Hinata. -*Naruto di geplak Author*-*Author malah di geplak reader : "ganggu aja nih, author"*-*Author : "Te-he~" :P.—

"Arigatooou~", teriak Naruto senang, masih memeluk Hinata.

Yang di peluk malah tidak bergerak, tubuh nya menegang hebat, lalu tiba-tiba lemas.

"Hinata-chan, Hinata-chan, hei!", panggil Naruto. Naruto melepaskan pelukan nya, menemukan Hinata dengan wajah merah padam dan kesadaran yang entah pergi kemana, pingsan.

"Hinata-chan~", teriak Naruto panik. 'Gawat, kenapa dia bisa pingsan?', pikir Naruto yang makin panik.

Siapa pun panik jika orang yang baru dia peluk tiba-tiba tidak sadarkan diri. 'Sebaiknya aku pindahkan ke tempat tidur', pikir Naruto berusaha tenang.

Tanpa usaha yang berarti, Naruto mengangkat tubuh kecil Hinata ala Bridal Style, ke atas tempat tidur. 'Ringan', pikirnya.

Setelah berhasil membaringkan tubuh Hinata yang masih pingsan, Naruto duduk di samping Hinata dengan kursi yang sebelumnya di pakai Hinata.

Memperhatikan wajah sang tuan putri yang sedang tertidur, membuat pipi Naruto sedikit merona. Bagaimana tidak? Wajah ayu yang di hiasi mata lavender juga di hiasi bibir yang tipis, membuat siapapun ingin mengecup nya.

Di tambah rambut panjang indigo nya yang terlihat begitu indah, tercium wangi shampo, membuat Naruto merinding karna menghirup aroma nya. Tidak cukup sampai di situ, tubuh nya yang langsing di hiasi dengan seragam putih bersih dan juga bagian atas nya yang terlihat begitu, ehem, menonjol. Kulit nya yang putih bersih, membuat nya benar-benar sedap di pandang mata.

Entah sadar atau tidak, Naruto mulai menggenggam tangan kiri Hinata yang kecil, secara perlahan namun pasti mengurangi jarak wajah Hinata dengan wajah nya. Begitu dekat, 5 cm... 4cm... 3cm... 2cm... 1cm... . *Blush*

"Aaaaaaah, apa yang coba kulakukaaaaaaan", teriak Naruto sambil mengacak-acak rambut pirang nya sendiri.

-Event indah yang di gagalkan oleh kesadaran diri Naruto sendiri.-

.

.

'Tunggu, ada yang aku lupakan, siapa pelaku nya?'

.

.

Kiba P.O.V : On

'Haaah, kenapa aku harus membelikan minuman untuk si brengsek itu juga', protes ku dalam hati.

Ya, saat ini aku dalam perjalanan kembali ke U.K.S setelah membeli tiga gelas minuman. Tapi kenapa Hinata-chan menyuruhku membeli 3 minuman. Lagipula, siapa laki-laki itu? Setau ku laki-laki yang dekat dengan nya hanya satu, yaitu aku.

.

Sampai juga. Perlahan aku membuka pintu, dan menyodorkan kepala ku terlebih dulu,

"Hinata-chan, ini minuman pesanan muuuuuuuUUUUUUUU ?!", suaraku yang awalnya lembut, langsung berubah keras ketika melihat keadaan yang ganjil di depanku.

Tunggu. Bukankah tadi dia yang berbaring? Tapi, kenapa sekarang dia yang duduk di kursi? Dan kenapa Hinata-chan yang malah terbaring, seperti tidur atau... 'PINGSAN'.

.

Kiba P.O.V : Off

Naruto P.O.V : On

.

Melihat Hinata yang tiba-tiba pingsan tentu membuat ku kaget. Setelah membuat dia menangis, sekarang aku membuat nya pingsan?!. Sebenarnya apa yang salah?, Belum selesai satu masalah, malah muncul masalah lain, dan sekarang perasaan ku pun benar-benar tidak enak. Entah kenapa, seperti masalah selanjut nya akan segera menyusul.

.

"Hinata-chan, ini minuman pesanan muuuuuuuUUUUUUUU ?!".

'Siapa itu?', Aku pun menoleh ke arah suara.

.

'BRAKK', suara pintu di banting. Benar saja, seorang laki-laki ber-tato segitiga merah terbalik terlihat sangat geram, ia berdiri tegak di dekat pintu yang malang itu. 'Masalah', pikirku.

.

Dia mendekat dan menatap tajam ke arah ku, tangan kanan nya di genggam kuat-kuat, siap menghunuskan senjata tumpul miliknya itu.

'Tunggu, jangan-jangan dia pelaku nya?', tebak ku.

"Tt-tu-tunggu dulu", pinta ku. Kini dia sudah tepat di hadapan ku. Menyeringai dengan senyuman mengerikan.

"Rumah sakit atau kuburan?", tanya si pria di hadap ku.

"A-ha-haha-hahaha, jangan bercanda ya", tawaku garing. Bukannya takut atau apa? Hanya saja pukulan nya itu, lumayan.

Kini tatapan nya makin tajam, membuatku berlinang keringat. Seperti nya tak ada tanda-tanda ingin berdamai.

'Haah, mau bagaimana lagi, seperti nya aku harus lebih serius dikit', pikir ku sambil berdiri, meregangkan seluruh tubuh ku, mulai serius.

Si penantang malah mengernyitkan dahi nya, tanda heran. Lalu menyeringai licik, meremehkan.

Tak ada pilihan lain, aku pun mulai mengangkat kedua pergelangan tangan dan menggengam jari-jariku, bersiap dengan posisi seperti petinju.

.

.

Tapi kini si penantang malah terlihat tak peduli, meng-alihkan pandangan nya ke arah tempat tidur. "Hinata-chan", ujar nya.

Dia mengabaikanku dan menghampiri Hinata di tempat tidur. Bagaimana denganku? Meratap sedih. Usaha ku untuk terlihat keren telah sia-sia.

Tapi sekarang yang lebih penting adalah keadaan Hinata. "Eh, K-kiba-kun?".

'Jadi nama nya Kiba', ujarku dalam hati. "Hinata-chan, apa yang terjadi? Ada yang sakit? Apa yang sudah si brengsek ini lakukan padamu? Jawab aku, Hinata-chan!', tanya si Kiba cepat.

Bukannya menjawab, Hinata malah terlihat kaget, mukanya memerah, "Ti-ti-ti-ti-ti-ti-tidak", jawab Hinata kagok, menyembunyikan wajah nya di balik kedua telapak tangannya yang mungil.

'Nah loh, kenapa pertanyaan beruntun itu di jawab dengan reaksi seperti itu?', pikirku bingung.

.

*Author note : "semoga para readers paham alasan di balik reaksi Hinata di atas, amin"*

.

Naruto P.O.V : Off

Normal P.O.V

"Lalu kenapa kau bisa pingsan?", tanya Kiba lagi. "Ti-ti-tidak ada apa-apa, oh iya, kita harus kembali ke kelas", ucap Hinata melarikan diri. Meninggalkan Naruto dan Kiba di dalam U.K.S.

Melihat Hinata setengah berlari, Naruto langsung mengejar. Namun tangan kanannya di tahan oleh Kiba.

"Apa yang sudah kau lakukan?", Kiba menatap Naruto tajam.

"Tak ada, aku hanya ingin membuatnya merasa lebih baik.", jawab Naruto tegas.

"Apa maksudmu?", tanya Kiba lagi.

"Lihat saja nanti, Kiba-san", ucap Naruto tersenyum simpul.

.

.

Langit di atas Konoha High School terlihat begitu cerah. Terik matahari memanggang siapun yang berjalan menantang kilauan cahaya nya.

"Panas", keluh Naruto pelan. Saat ini jam pelajaran terakhir sedang berlangsung. Orochimaru tengah mengajar pelajaran yang entah mengapa menjadi mapel terfavorit para remaja lelaki, biologi. Namun Naruto terlihat tidak tertarik sama sekali, kenapa? Apa dia sudah tak normal? Tentu bukan. Dia sudah tak sabar menunggu bel pertanda pulang, karena perjalanan pulangnya kali ini akan berbeda dari biasanya. Kalau biasanya dia sendiri, sepertinya kali ini akan ada seorang Hyuuga Hinata yang akan pulang bersamanya.

Tongnengnongneng~ Tongnengnongneng~ (?)

Bunyi yang terasa merdu di telinga Naruto akhirnya terdengar. Para murid mulai membubarkan diri. Dengan tergesa-gesa Naruto memasukkan buku-buku nya yang masih tergeletak di atas meja.

"Sasuke, Sakura-chan, aku duluan ya", ujar Naruto kepada kedua sahabatnya. "Kenapa buru-buru Naruto?", tanya Sakura heran.

"Hahaha... Iya, aku ada keperluan mendesak, Jaa ne...", jawab Naruto, meninggalkan Sakura dan Sasuke yang masih terlihat heran.

Naruto dengan segera menghampiri meja Hinata. Kosong tak berpenghuni. Ya, Hinata sudah tak ada di tempatnya.

'Hinata-chan', sedih Naruto dalam hati. 'Bukankah kau sudah berjanji akan bersamaku?', 'Apa kau membenciku?','Apa kau tak tau aku ingin bersamamu?','Aku hanya ingin menghapus rasa sepimu?','Kenapa kau tak memberiku kesempatan?', lirih Naruto dalam hati.

.

.

"Hinata-chan!", panggilnya lirih.

.

-To be continued-


the end of the chapter, but it's not the end of story. *plakk**ngomong apa saya ini*

romance nya kerasa ngga yah? Restyviolet-san kecewa ngga ya?

akhir kata, arigatou n tunggu next chapter ,ASAP. RnR please~~~