Life, Just For Love

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Kishimoto-sensei seorang

NaruHina milikku *geplaked*

Rated : T

Warning : Typo(mungkin), OOC, Author baru yg nekad,hehe..

.

.

.

Chapter 4 : Rasaku, Rasamu


Eitss~ sebelum masuk cerita, pertama-tama saya mau minta maaf karna updatenya ngaret. Selain sibuk kuliah saya juga lagi kurang enak badan. *huhu *readers:gak nanya *pundung dipojokkan

And now, untuk para reviewers yg tidak login.

Soputan : Untuk ketiga kalinya juga, updated, so enjoy it.

Namikaze Rikudou : Sudah lanjut, silahkan.

Guest : Chap 4 updated, maaf klo kurang kilat, hehe..

Dan yg login di bales via PM.

.

Dan Enjoy it.


"Ayo naik Hinata-chan", ajak Naruto.

"Tt-ta-tapi aku tidak bisa, Naruto-kun", balas Hinata. "Berboncengan seperti ini, a-a-aku tidak bisa".

'Bukankah tadi pagi kami berboncengan?', pikir Naruto heran.

Tadi pagi itu karena tak ada orang lain, tapi kini begitu banyak murid melihat mereka dengan tatapan, 'Wah serasi sekali'.

"Kalau gitu... Bagaimana kalau jalan kaki saja?", tanya Naruto mencoba menawar.

"Eh, ta-tapi bagaimana dengan motornya? Kita tidak bisa meninggalkan nya, bagaimana kalau hilang", ujar Hinata.

"Itu mudah, aku bisa menitipkan nya pada temanku Sasuke dan Sakura-chan, oh iya, mereka adalah sahabat baikku, apa Hinata-chan kenal mereka?.", jelas Naruto.

"Ti-tidak", Hinata menunduk. "Apa kau sudah menghubungi mereka, Naruto-kun?"

"Oh iya, benar juga. Aku harus secepatnya menghubungi mereka, mudah-mudahan mereka belum pulang", Naruto pun langsung mengambil handset miliknya, mencari contact Sasuke, menekan tombol panggil.

"Halo Sasuke, apa kau masih di area sekolah?...Benarkah? baguslah, bisa kau keparkiran sekarang?... nanti kujelaskan... kalau begitu aku tunggu Sasuke, oia, apa Sakura-chan bersamamu?... kalau begitu ajak dia juga... kalau begitu sudah dulu, Jaa."

Hinata yang mendengarkan percakapan Naruto dengan sahabatnya lewat telepon malah menundukkan kepalanya.

'Enaknya memiliki banyak sahabat', pikrnya dalam hati. 'Apa Kiba-kun sudah menganggapku sebagai sahabat? Entahlah', tanya nya pada diri sendiri.

"Bagaimana Naruto-kun?", tanya Hinata.

"Beres Hinata-chan, sekarang bagaimana kalau kita menunggu di sana?", tunjuk Naruto kearah sebuah pohon Sakura yang rindang dengan bangku yang melingkari penuh pohon itu.

Tanpa menunggu jawaban dari Hinata, Naruto langsung menarik perlahan lengan Hinata dan tentu saja mengajaknya duduk di bangku tersebut.

Mereka pun duduk berdampingan. Naruto terlihat sangat senang, wajahnya yang tampan dihiasi oleh cengiran lebar yang sepertinya merupakan turunan dari ayah nya. Hinata yang memperhatikan hanya bisa ikut tersenyum melihat orang di dekat nya ini hampir selalu terlihat bahagia.

"Na-Naruto-kun, kau terlihat sangat senang, ada apa?", tanya Hinata dengan senyum yang melekat di wajahnya.

Semburat tipis pun muncul pada pipi Naruto, melihat Hinata yang senyuman nya terlihat begitu alami dan menawan.

"Ti-tidak", jawab nya agak gerogi. "Hanya saja kukira kau sudah meninggalkan aku", ujar Naruto.

.


Flashback : On

"Hinata-chan", panggil Naruto lirih. Naruto yang menemukan meja Hinata telah kosong mengira Hinata sudah pergi lebih dulu, mengingkari janjinya.

"Dobe, ada apa? Bukannya kau buru-buru.", tanya Sasuke yang kini telah berdiri di belakang Naruto.

"Eh, iya, kupikir aku akan pulang bersama Hinata-chan, tapi seperti nya dia sudah duluan", jawab Naruto sedikit murung.

Sasuke mengenyitkan dahi nya. "Hinata? –chan? Sejak kapan kau akrab dengan nya? Lagipula menghilang kemana saja kau setelah istirahat?", Sasuke meng-in terogasi.

Bukan nya menjawab, si Uzumaki malah terlihat tambah murung. "Sudahlah ayo pulang, besok saja mengurus nya. Dan juga dia kan meninggalkanmu, itu bisa berarti dia tidak ingin pulang denganmu, bukan?", Sasuke menambahkan.

"Tapi dia sudah berjanji Sasuke", jawab Naruto dengan menatap yakin ke arah Sasuke. "Tapi lihatlah, dia sudah pergi", bantah sahabat si Uzumaki itu.

"Tidak, dia pasti sedang menungguku di gerbang sekolah. Sebaiknya aku bergegas", tegas Naruto berusaha berpikir positif.

Dia pun meninggal kan Sasuke yang terlihat sedikit terkejut, 'Sepertinya dia mulai menyukai si Hyuuga itu. Kau beruntung Hyuuga mendapatkan hati sahabatku itu. Jangan pernah khianati dia Hyuuga-san', pikir Sasuke dengan senyuman tipis di wajahnya.

.

Naruto dengan penuh harap terburu-buru mencari Hinata kearah gerbang sekolah, ya, berharap Hinata ada di sana menunggunya. Entah kenapa, padahal baru kemarin Naruto melihat Hinata dan hari ini baru saja berkenalan dengan nya tapi kini Naruto benar-benar ingin berada di dekat Hinata, selalu bersama nya. Bagaimana dengan Hinata? Entahlah.

Naruto masih terus berusaha menembus keramaian siswa yang sedang membubarkan diri, menuju ke arah yang sama dengan Naruto, tapi dengan tujuan yang sama sekali berbeda. Peluh mengalir di kening nya di iringi rasa khawatir jikalau yang di cari tak ada di tempat yang Naruto inginkan. Namun begitu Naruto tetap ingin mempercayai janji Hinata kepada nya. 'Tidak bisakah kita bersama, Hinata?'. Entah kenapa pertanyaan itu terus saja terulang dalam benak nya.

Memang tak satu pun orang yang berhak memaksakan keinginan nya kepada orang lain, termasuk keinginan Naruto untuk terus bersama Hinata. Tapi mengingat Hinata yang di selimuti kesepian, mungkin memaksakan kehendak nya itu adalah pilihan yang cukup baik. Tinggal bagaimana pihak pemaksa kehendak menyadarkan pihak yang di paksa, betapa penting nya kebersamaan mereka. Egois memang, tapi itulah yang dibutuhkan.

.

Tak butuh waktu lama bagi seorang Uzumaki Naruto mencapai tujuannya, gerbang megah milik Konoha High School. Melihat sekitar di antara keramaian, mencari sosok bermata lavender dengan rambut indigo, sulit memang. Di belakang, depan, kiri, kanan, tak ada. "HINATA-CHAN!", teriak Naruto mencoba memanggil sosok yang dicari.

.

Sepuluh menit sudah lewat. Kini gerbang KHS itu tak seramai sebelumnya, hanya satu, dua atau sekelompok murid yang keluar bergantian. Hinata masih tidak terlihat. 'Sudah pulang, yah', pikir Naruto. Yah, mungkin ini bukan hari keberuntungan untuk Uzumaki Naruto. Semoga beruntung esok hari, Naruto.

"Na-naruto-kun"

Namun, suara yang entah kenapa terasa sudah lama tak terdengar itu akhir nya berdengung merdu di telinga sang Uzumaki muda itu. Naruto membalik badan nya dan menemukan Hinata berdiri tepat di belakang nya.

"Hinata-chan", Naruto tak bisa menyembunyikan rasa bahagia nya. Kini ia menatap tepat ke mata lavender di depannya dan memegang kedua pundak Hinata. "Ku kira kau sudah pulang duluan, Hinata-chan", ujarnya.

Hinata yang merasa canggung di tatap oleh mata biru saphire itu berusaha menyembunyikan rona merah dengan memalingkan wajahnya. "Ma-maaf aku hanya ke toilet sebentar".

'Terus, adegan dramatisku yang terburu-buru mengejar Hinata-chan sia-sia donk?', pikir Naruto. -Author: *GUBRAKK* ; Readers:" ?"-.

"YAH, sepertinya aku saja yang terlalu panik duluan", ucap Naruto sambil menggaruk belakang kepala nya yang tidak gatal. "Kalau gitu, ayo pulang, Hinata-chan".

Flashback : Off


.

Dua orang remaja yang terlihat seperti pasangan itu berjalan berdampingan di jalur footpath kota Konoha. Larut dalam pembicaraan, serasa dunia milik mereka berdua. Terlihat sekali jika si pria-lah yang mendominasi obrolan ringan mereka. Sedangkan wanita? Terkadang menjawab dan terkadang terlihat tersipu malu.

Saat masih larut dalam pembicaraan mereka sendiri, sebuah mobil merah bermodel J*guar dan ber-roda empat(?) terlihat berhenti tepat di dekat calon pasangan muda itu. "Naruto!", panggil seseorang dari dalam mobil.

"Kaa-san?"

.

*Dalam mobil*

.

"Jadi, sudah sejauh mana hubungan kalian Hinata-chan?", tanya Kushina to the point. Tentu saja Hinata bingung harus menjawab apa. Mereka baru kenal tadi pagi, dan setelah banyak kejadian tak terduga, kini mereka pulang bersama. Mungkin itulah jawaban yang paling tepat, tapi Hinata masih tak bisa menjawab.

"Hahaha, Kaa-san ini, kami baru berkenalan tadi pagi kok", jawab Naruto mewakili.

"Baru kenal tadi pagi sekarang sudah pulang bareng? Jangan-jangan kamu mengancam-nya ya, Naruto.", tebak Kushina.

"Ya, eto- bu-bukan begitu, hanya banyak yang terjadi dan akhirnya kami memutuskan pulang bersama. Hehe-hehehe", jawab Naruto berusaha berkilah. Memang bukan sebuah ancaman atau paksaan, hanya sebuah tekanan yang Naruto berikan ke Hinata.

"Haha, ada-ada saja. Kamu ini memang mirip sekali dengan Mina-, maaf Naruto, Kaa-san lupa", sesal Kushina yang tidak sengaja membahas tentang ayah Naruto.

"Tidak apa-apa... Kaa-san, tolong berhenti di sini!", pinta Naruto. "Kaa-san kan sudah minta maaf, Kaa-san tidak sengaja membahas nya", Kushina mencoba menawar.

"Bukan itu, aku hanya ingin turun, tolonglah!", pinta Naruto lagi. "Tapi...", jawab Kushina mencoba menolak. "KAA-SAN!", pinta Naruto dengan nada hampir berteriak.

"Dasar kau ini...", Kushina pun melambatkan laju kendaraan nya dan berhenti perlahan. Naruto langsung membuka pintu kendaraan itu, keluar dan menutupnya kembali. Pergi melanjutkan perjalan dengan berjalan kaki, entah ingat atau tidak, dia meninggalkan Hinata yang masih kebingungan di dalam mobil.

"Hhhh", lenguh Kushina. "Bagaimana aku harus bilang ya, maafkan sikap Naruto ya Hinata chan, dia selalu menjadi sangat sensitif kalau mengenai masalah ayahnya", jelas Kushina.

'Sensitif? Apa maksudya? Memang apa yang terjadi dengan ayah Naruto-kun?', tanya Hinata dalam hati.

"Sebelumnya Naruto tak pernah bersikap seperti ini. Tapi setelah...", Kushina memberi jeda pada kalimatnya. "...kematian Ayahnya...".

'Ayah Naruto-kun sudah meninggal?', pikir Hinata.

"...Dia jadi benar-benar sangat sensitif, apalagi mengenai Ayahnya", sambung Kushina. "Saat beliau masih hidup, hubungan mereka layaknya sahabat dekat, karena itulah sikap nya menjadi seperti ini setelah sepeninggal ayahnya, dia benar-benar terpukul, mungkin dia masih belum menerima kepergian Ayahnya", lanjut Kushina.

'Ibu dan Ayah yang baik', pikir Hinata.

"Jadi Hinata-chan, bisakah saat ini kau menjaga Naruto untukku, aku sangat khawatir kalau harus meninggalkan nya sendiri dalam keadaan seperti ini", pinta Kushina.

"Baik, kalau begitu aku akan menyusul nya, permisi", ucap Hinata tegas. Entah kenapa tatapan Hinata sedikit menunjukkan keseriusan. Apa yang di pikirkannya?

Meskipun Hinata sudah meninggalkan mobil, Kushina masih belum menginjakkan pedal gas mobil itu. 'Pendiam ya. Tapi sepertinya dia bisa tegas juga. Entah kenapa aku jadi menyukainya, semoga kamu cocok dengan Naruto, Hinata-chan', pikir Kushina dan melanjutkan perjalanannya sendiri.

.

Menuju tempat Naruto dan Hinata.

Kini Hinata sudah hampir menyusul Naruto yang sudah pergi terlebih dahulu itu. "Naruto-kun!", panggil Hinata tegas.

Naruto yang mendengar nada tak biasa dari ucapan Hinata merasa gelisah. Naruto pun membalik tubuhnya dan melihat Hinata sudah ada di hadapan nya.

*PLAKK*

Naruto membelalakkan matanya. Tak terpikikirkan sama sekali, seorang Hyuuga Hinata yang Naruto pikir pemalu bisa menamparnya. Sakit? Tidak, Panas? Iya.

"Ada apa, Hinata-chan?", tanya Naruto bingung.

"Tega-tega nya *Hiks* Naruto-kun membentak *Hiks* Kaa-san mu sendiri, dia kan sudah meminta maaf *Hiks* dia bahkan menghawatirkan mu Naruto-kun", kemarahan Hinata yang diselingi isakkan darinya.

"Maaf Hinata-", "Padahal dia *Hiks* Ibu yang sangat baik, kamu malah kurang ajar padanya *Hiks*", Hinata masih terisak.

Hinata yang masih terisak berusaha menatap Naruto. "Kamu tau Naruto-kun, kamu beruntung memiliki Ibu yang tetap di sisimu bahkan saat kau tak menghargainya, aku bahkan cemburu karna tak memiliki ibu seperti dia", jelas Hinata dengan nada bicara makin tinggi.

"Aku tak punya seseorang yang selalu disisiku"

"Aku tak punya seseorang untuk memperhatikanku"

"Aku tak punya seseorang yang mendengarkanku"

"Aku bahkan tak tau dia masih menganggapku anak atau tidak"

"Aku merasa tak ingin pernah dilahirkan"

"Aku tak pernah merasakan kebahagiaan memiliki Ibu"

"Ribuan penderitaan aku alami, tapi hampir tak ada kebahagiaan...

... yang tersisa untukku"

.

Mendengar kenyataan menyedihkan dari Hinata, seorang gadis lemah tapi menanggung beban perasaan dan kekejaman hidup, membuat Naruto merasa iba dan khawatir. Bagaimana juga dia tak tega melihat Hinata yang tersakiti.

.

Hinata tak lagi terisak, tapi air mata jauh lebih deras dari sebelumnya. Menunjukkan raut muka yang terluka. Memegangi dadanya yang terasa amat sakit.

Naruto tak tahan lagi melihat keadaan Hinata. Dia memeluk tubuh Hinata dan mengelus puncak kepala nya, mencoba mengambil sebagian rasa sakit yang di rasakan Hinata, meskipun mustahil. "Maaf Hinata-chan", ujarnya.

"Aku sangat cemburu Naruto-kun *Hiks*, kenapa aku tidak memiliki Ibu seperti dia *Hiks*. Kau yang beruntung tapi malah menyia-nyiakannya *Hiks*. Aku tak terima Naruto-kun *Hiks*", Hinata kembali terisak.

"Maafkan aku Hinata-chan, aku benar-benar minta maaf, aku menyesal aku memang bodoh", sesal Naruto dan merutuki kebodohannya.

.

Sedikit butuh waktu memang untuk menenangkan Hinata yang kembali mengingat rasa sakitnya.

"Bagaimana Hinata-chan, sudah lebih baik?", tanya Naruto yang di balas anggukan Hinata, pertanda dia sudah merasa lebih baik. Setelah lepas dari pelukan Naruto, Hinata mencoba bicara.

"Na-Naruto-kun", Hinata kembali dalam mode normal. "Berjanjilah untuk meminta maaf kepada Kaa-san mu!", pinta Hinata. "Dan tak mengulanginya lagi", tambah Hinata.

"Iya Hinata-chan pasti. Dan aku punya permintaan untukmu", jawab Naruto dan kini menatap Hinata dengan tatapan serius.

"Jangan lupakan aku. Waktu mungkin akan memisahkan kita suatu hari nanti. Tapi, walaupun begitu, sampai hari itu datang, mari tetap bersama. Mulai saat ini dan seterusnya aku ingin tetap bersamamu", ucap Naruto serius.

Hinata yang mendengar pernyataan Naruto benar-benar terkejut. Secara tidak langsung dia mengatakan 'Maukah kau menjadi pendampingku'.

'Tunggu, apa ini pernyataan cinta, *BLUSH* eh, ah, a-a-aku harus bagaimana?', Hinata bingung, tak tau harus bagaimana. Lagipula, apa ini tidak terlalu cepat?. Sekali lagi, mereka baru bertemu tadi pagi.

"A-a-apa maksudmu, Na-Naruto-kun?", tanya Hinata pura-pura tak mengerti. "Jadi singkatnya...", Naruto sedikit menahan kalimatnya, "...menjadi kekasihku?", lanjut Naruto langsung ke inti.

Dengan rona pipi yang sedikit merona, Hinata berusaha memberikan senyum termanisnya. Meskipun matanya kembali meneteskan air mata, tapi memiliki arti berbeda dari yang sebelumnya. Namun tanpa keraguan dia menjawab...

.

.

"Ya, Naruto-kun"

.

.

TBC?

or

The End?


Jadi, itu dia chap 4. saya ngga yakin fict ini pantas dilanjutkan apa tidak, padahal kiba masih blom jelas nasibnya, huhu.

entah knapa ada ide yg muter-muter di kepala saya buat bikin fic naruhina yg baru. jadi mohon review nya ya klo mau ada chap 5 atau epilog gituh. *maksa *ditimpuk readers..

Arigatou gozaimasu, bagi readers yang udah ngikutin cerita abal saya dari awal, jelaslah klo abal, toh saya baru pertama kali nulis cerita.

Oh iya hampir lupa, walau telat sehari, Otanjoubi omedetto buat Naruto!, inspirasi terbesar hidupku.. :)

Akhir kata, see you in the next chapter or next story.

Nue Uzumaki *Pofft*