Married because of the incident

By

Narufia Uchiha

Naruto Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saya cuma numpang minjem

Author: Narufia_Chansoo

Warning: AU, Romance Drama, Typo, dan banyak kekurangan

Rate: T

Pairing: SasuSaku, SasuShion, GaaSaku, NaruHina

summary: karena sebuah insiden kecil saat study tour didesa Otogakure yang terpencil, Sasuke dan Sakura dinikahkan oleh warga desa yang primitif, menurut Sasuke. Sementara Sasuke dan Sakura sudah memiliki pacar masing-masing dan parahnya mereka berdua adalah musuh abadi.

"Kita nikahkan saja mereka, mereka harus bertanggung jawab atas perbuatan mereka!" jawab Hidan.

Sakura dan Sasuke membelalakan matanya, mereka saling pandang dalam keterkejutan. 'Ini gila!!' pikir mereka.

"Benar kata Hidan, kita akan menikahkan mereka, sesegera mungkin!" ucap Pain—seorang kepala desa yang memiliki sikap tenang.

"Apa kalian tidak waras, sudah kubilang kami tak berbuat apapun. Ini salah paham!!" teriak Sasuke saat ia mulai ditarik lagi oleh Kakuzu.

"Mana ada maling ngaku unn?" ucap Deidara cuek.

Chapter 2

Sasuke menggeram kesal, onyx-nya menatap tajam Deidara yang berjalan didepannya, 'Banci sialan, ngompor-ngomporin aja lagi,' dumelnya dalam hati.

Sementara Sakura yang diseret oleh Zetsu, terlihat pasrah saja. Ia takut dan tak berani melawan warga desa.

Ditengah perjalan yang entah Sasuke tak tau ia ingin dibawa kemana, Sasuke memikirkan bagaimana caranya ia bisa pulang. Tentu saja ia ingat dengan ponsel yang ada disaku celananya. Tapi dengan situasi seperti ini, bagaimana mungkin ia dapat menghubungi keluarganya dirumah?

Sasuke dan Sakura dibawa kedepan sebuah kuil tua yang terdapat dibawah sebuah tebing tinggi. Kuil tua ini kecil dan sederhana. Terlihat didepan kuil berdiri seorang pendeta yang memiliki rambut hitam panjang dan berkulit pucat.

Pendeta yang bernama Orochimaru itu menoleh saat ia merasa kehadiran Sasuke, Sakura dan penduduk desa lainnya. Ia terlihat sedikit terkejut, "Ada apa ini? Tumben sekali kalian ingin kekuil?" tanyanya.

Jangan heran kenapa Orochimaru bertanya seperti itu, itu semua karena warga desa ini memang amat jarang ke kuil. Terlebih sekarang yang datang ada seorang penganut agama dewa Jashin—Hidan, dan banyak pula pengikutnya.

"Kami datang untuk menikahkan pasangan muda ini," jawab Pain dengan suara baritone-nya.

Tatapan Orochimaru terarah pada Sasuke dan Sakura yang masih dalam cengkrama Kakuzu dan Zetsu. "Hn, baiklah. Aku akan melakukan persiapan dulu."

Setelah berujar demikian, Orochimaru berjalan menuju belakang kuil, dan entah apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

Sementara Sakura, hatinya begitu kesal dan marah. Bagaimana bisa ia menikah dengan Sasuke yang tidak lain adalah musuh abadi baginya? 'Aku tak sudi menikah dengan si pantat ayam!' raungnya dalam hati.

Bukan itu saja permasalahannya, bagaimana ia harus menjelaskan semua ini pada keluarganya? Dan lebih lagi pada Gaara, apa reaksi Gaara jika ia tau kalau Sakura telah menikah, dengan Sasuke pula?

Dan Sakura tak bisa membayangkan reaksi penghuni Konoha Global School atas pernikahan konyol ini jika merak tau, pasangan musuh abadi yang selalu bertengkar jika bertemu dimana pun berada, dan kini menjadi pasangan suami istri? Oh ayolah jangan bercanda..

Sakura menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia tak sanggup membayangkan semua yang akan terjadi dikemudia hari. Namun ia bisa apa sekarang? Ia tak bisa membantah warga desa yang memiliki pemikiran dangkal ini, terlebih jika ia masih ingin hidup.

Sasuke sendiri tak kalah bingung dan kesal dengan Sakura, tapi ia berusaha bersikap santai. 'Toh ini hanya pernikahan konyol,' pikirnya.

Setelah beberapa menit menunggu, Orochimaru pun kembali dengan sebuah nampan yang berisi dua gelas sake dan beberapa kitab.

Ia menggunakan isarat tangan untuk menyuruh kedua mempelai naik ke altar depan kuil.

Pain pun memanggutkan kepalanya sebagai isarat pada Kakuzu dan Zetsu untuk membawa Sasuke dan Sakura pada Orochimaru.

'Cih, aku tak bisa menolaknya, menyebalkan.' Sasuke merutuki dirinya yang pasrah saja. 'Biarlah, yang penting aku tak dibunuh oleh para warga primitif ini,' Pikirnya.

Teng... teng... teng...

Dentingan lonceng kuil terdengar, menandakan telah resminya Sasuke dan Sakura sebagai sepasang suami istri.

Setelah upacara pernikan yang sakral telah selesai, para warga satu persatu meninggalkan kuil, mereka hendak meneruskan aktifitasnya kembali.

Sakura hanya dapat diam seribu bahasa sejak tadi, ia tak habis pikir, mimpi apa ia semalam hingga ia menjadi istri dari Uchiha menyebalkan ini?

Kini disana menyisakan beberapa orang warga, Pain pun menghampiri Sasuke dan Sakura yang masih berdiri di ujung tangga kuil tersebut.

Saat Pain telah berhadapan dengan Sasuke, mulutnya terbuka hendak ingin mengatakan sesuatu. "Sebaiknya kalian ikut denganku, kerumahku!" ajak Pain.

Sasuke membuang nafasnya dengan kasar, "Tidak, kami ingin disini dulu. Nanti kami menyusul."

"Baiklah, katakan saja jika kalian butuh apa-apa!" setelah berucap demikian, Pain pun berbalik dan berjalan meninggalkan pengantin baru itu.

Kini dikuil tua ini hanya tinggal Sasuke dan Sakura saja.

Sakura duduk disalah satu tanggal kuil, wajahnya ia tenggelamkan diantara lututnya yang tertekuk. Kepalanya pening, kini ia bingung, dengan cara apa ia bisa kembali ke Konoha city? Ia terlalu malas untuk merutuki kebodohannya yang meninggalkan tas selempangnya pada Ino, padahal ponselnya berada di tas kecil itu.

Sementara Sasuke, yang masih berdiri terlihat menekan beberapa angka pada ponselnya.

"Nii-san, kau dimana sekarang?" ujar Sasuke pada seseorang disambungan telefonnya.

Sakura menoleh dengan cepat, kini ia lega karena Sasuke membawa ponselnya, dan kini tengah menghubungi kakaknya—Uchiha Itachi.

"Hn, cepatlah jemput aku di Otogakure! Aku terjebak disini," ucap Sasuke lagi saat tau kakaknya sedang ada dirumah.

'Kau pikir jarak dari Konoha city ke Otogakure dekat, hah? Kau seperti menyuruhku menjemputmu di supermarket tau !' dumel Itachi dari seberang.

"Ayolah Nii-san, aku tertinggal bis. Dan aku harus segera meninggalkan tempat terkutuk ini !"

'Ya, tapi—"

"Aku bersama Sakura, cepatlah Aniki !" ucap Sasuke cepat, memotong ucapan Itachi.

'Apa? Ada Sakura juga?' dari suaranya terdengar Itachi terkejut.

"Hn," respon singkat Sasuke, ia memutar bola matanya malas dengan respon kakaknya yang berlebihan saat tau ada Sakura bersamanya.

'Ya, tunggu aku 3 jam lagi Otouto ku!' seru Itachi sebelum ia memutuskan sambungan telefonnya.

Sasuke berdecak kesal dan segera menyimpan kembali ponselnya disaku celanya. Tatapannya terarah pada Sakura yang masih duduk terdiam ditangga kuil.

"Jangan katakan apapun pada keluarga kita, tentang pernikahan konyol ini!" ujar Sasuke ketus.

Sakura menoleh dengan cepat, tatapannya tajam penuh dengan emosi, namun dari emeraldnya keluar bulir bulir bening. Sasuke tertegun melihatnya.

"Kau pikir aku mau mereka tau, hah?" tetes demi tetes air mata jatuh dipipi Sakura, "Aku juga bingung harus apa, bagaimana respon keluargaku? Terlebih dengan Gaara?" lanjutnya dengan suara yang lebih lirih dan bergetar.

"Ya aku mengerti, oleh karena itu anggap ini tak pernah terjadi !" setelah berkata demikian, Sasuke melangkah menuruni anak tangga melewati Sakura yang masih terduduk.

"Mau kemana kau?" tanya Sakura dengan suara yang bergetar.

"Ketempat kepala desa," jawab Sasuke tanpa menoleh ke Sakura.

Sakura ikut bangkit dari duduknya, dan berjalan mengikuti Sasuke dari belakang.

3 jam kemudian..

"Permisi pak, boleh saya tanya?" ucap seorang pemuda dari dalam mobil Porsche hitam yang terbuka setengah jendelanya.

"Ya," jawab Kisame, pria yang ditanya oleh pemuda dimobil tadi.

"Apa ada dua pelajar didesa ini yang bernama Sasuke dan Sakura?" tanya pemuda tadi, rupanya ia adalah Itachi yang baru saja sampai di desa Otogakure bersama seorang wanita yang duduk dikursi sebelahnya.

"Oh, mereka. Ya tadi sih mereka masih berada di kuil setelah usai upacara pernikahan." Jawab Kisame dengan santai.

Itachi mengernyit bingung, "Pernikahan? Mereka menghadiri upacara pernikahan siapa?" tanya Itachi lagi.

"Tentu saja pernikahan mereka 'kan?"

Kedua onyx hitam Itachi terbelalak lebar, "Pernikahan mereka?" gumam Itachi tak percaya.

Wanita yang duduk disebelahnya juga ikut terkejut atas apa yang dikatakan Kisame.

"Kau telusuri saja jalan berbatu ini, nanti disana ada kandang ayam kau belok kiri," ucap Kisame sambil menunjukan jalan pada Itachi. "Disana ada rumah yang terbuat dari bilik dan coba kau tanyakan pada pemilik rumah itu. Dia adalah kepala desa kami, dia mungkin tau dimana dua orang itu."

Itachi hanya manggut-manggut mengerti, ia berterima kasih pada penduduk yang bertampang aneh itu, menurutnya. Dan setelahnya ia pun menjalankan mobilnya sesuai intruksi dari Kisame.

Setelah melewati kandang ayam, Itachi membelokan mobilnya kekiri dan ia tercengang. Bagaimana tidak? Ia bingung yang mana rumah kepala desa yang dimaksud Kisame tadi? Rumah berdinding bilik? Dan semua rumah yang Itachi liat memiliki dinding dari bilik!!

Itachi hanya bisa merutuki kebodohan manusia aneh yang ia tanyai tadi, 'Sial, yang mana rumah kepala desanya?' kesalnya dalam hati.

Itachi melihat ada orang yang melintas didepan mobilnya, langsung saja ia hendak bertanya pada penduduk desa tersebut.

"Hey, tunggu.." ucap Itachi menghentikan pria yang memakai topeng aneh diwajahnya.

"Ya, kenapa memanggil Tobi?" jawab pria itu yang ternyata adalah Tobi.

"Bisa kau tunjukan padaku, yang mana rumah kepala desa?"

"Emmm... rumah kepala desa ya...?" gumam Tobi, ia terlihat tengah berpikir keras sementara Itachi menunggu dengan sabar.

Tik tok tik tok tik tok tik tok..

20 menit telah berlalu, namun Tobi masih terlihat berpikir dengan keras sampai-sampai Itachi melihat kepalanya mengepulkan asap yang berbau gosong. Sepertinya otaknya telah terbakar karena digunakan terlalu keras.

Tak ingin membuang waktu terlalu lama lagi, Itachi pun menginjak gas mobil meninggalkan Tobi yang masih terus berpikir sambil terus bergumam "Rumah kepala desa.. rumah kepala desa.."

Tak jauh Itachi meninggalkan Tobi, ia kembali melihat penduduk desa yang melintas. Tanpa ragu ia hendak bertanya pada orang tersebut, dan berharap orang yang satu ini bisa diandalkan.

"Permisi Tante, boleh saya numpang tanya?" tanya Itachi pada penduduk desa yang memiliki rambut kuning panjang dan poni yang menutupi satu matanya, eh? Tunggu dulu, ciri-ciri ini seperti...

"TANTE !!?" tuhkan, tante eh, maksudnya pria itu marah dengan panggilan Itachi untuknya.

"Kau tak lihat, aku ini pria tulen, beraninya kau memanggilku tante unn !!" pecahlah emosi pria itu yang kita tau bernama Deidara.

Itachi hanya cengo mendengar omelan Deidara, "E-eh, ma-maaf, saya pikir tadi—"

"Sudahlah jangan buang waktu, hal apa yang ingin kau tanyakan unn?" potong Deidara cepat.

"Dimana rumah kepala desa?" tanya Itachi to the point.

Deidara menunjuk sebuah rumah yang berdiri diujung dari sederetan rumah bilik yang ada. "Itu, disana !"

Itachi yang melihat arah tunjuk Deidara pun memanggutkan kepalanya, "Terima kasih," ucap Itachi dan setelahnya ia langsung menuju rumah kepala desa tersebut.

'Baka aniki, dia bilang hanya 3 jam aku menunggu. Sekarang sudah 4 jam aku duduk disini ia belum juga datang.' Omel Sasuke dalam hati.

Tampang Sasuke dan Sakura sudah terlihat bosan, mereka sudah menunggu Itachi didepan rumah kepala desa selama 4 jam.

"Ini, diminulah dulu!" ucap Pain sambil menyodorkan dua gelas air pada Sasuke dan Sakura, entah sudah berapa gelas mereka habiskan selama 4 jam menunggu. Pain pun terlihat bosan karenannya.

BRUUMM—terdengar suara deruan mesin mobil yang berhenti didepan kediaman kepala desa.

Sasuke dengan cepat berdiri dan menghampiri mobil tersebut, keluarlah Itachi dari pintu kemudi.

"Kau lama sekali baka aniki, aku menunggumu selama 4 jam!" racau Sasuke saat ia didepan Itachi.

"Maaf Sasuke, tapi aku mengalami kesulitan bertanya dengan warga desa disini," ucap Itachi menjelaskan. Dan Sasuke memaklumi akan alasan tersebut.

Sakura ikut menghampiri Itachi, dan tersenyum lembut pada Uchiha sulung itu.

"Kalian baik-baik saja 'kan?" terdengar suara seorang wanita, terlihat ia baru saja turun dari kursi penumpang.

Sasuke tercekat mendengar suara tersebut, "Kaa-san?" gumamnya pelan, Sasuke terkejut karena ibunya ikut menjemputnya.

Belum sempat dijawab oleh keduanya, Pain sudah menyambar duluan. "Mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri."

Bagai disambar petir dikepala keduanya, Sasuke dan Sakura merutuki kebodohan mereka karena lupa membungkam mulut sang kepala desa tersebut.

"Hn, kami sudah mendengarnya dari penduduk desa ini," ucap Itachi.

"Apa?" Sasuke nampak tak percaya dengan ucapan Itachi.

Sementara Itachi hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya pada adik kesayangannya itu.

"Bisa kau jelaskan, Otouto?" tanya Itachi sambil melihat Sasuke yang duduk dibelakang kursinya, dari pantulan sepion mobilnya.

Kini mereka sudah berada didalam mobil Porsche hitam milik Itachi.

Itachi yang mengendarai, Mikoto sang Ibu dari dua Uchiha ini duduk disebelah Itachi. Sementara Sasuke dan Sakura duduk dikursi belakang.

"Hanya karena insiden kecil, mereka menyangka aku dan Sakura berbuat mesum!" jawab Sasuke dengan malas.

"Memang apa insiden kecil itu?" tanya Itachi lagi yang masih fokus pada jalan didepannya.

"Kami terkunci didalam toilet umum, Nii-san," jawab Sakura ragu-ragu.

"Bagaimana bisa, dan kenapa kalian tertinggal bis kalian?"

"Sudahlah Nii-san, kubilang ini insiden kecil, mereka salah paham dan jadilah begini!" Sasuke mulai kehilangnan kesabaran dengan semua pertanyaan-pertanyaan dari Itachi.

Beberapa saat hening melanda mobil ini, didalam keheningan Sakura terus memikirkan respon keluarga dan kekasihnya Gaara. Kepalanya terasa pening karena terus memikirkan hal ini, terlebih ia belum makan sejak siang tadi.

Suasana hening begitu menyesakan, hingga Sasuke menyadari bahwa sejak tadi Kaa-san nya diam saja.

"Kaa-san kenapa?" tanya Sasuke.

Mikoto menoleh kebelakang, ia pun tersenyum. "Tidak, Kaa-san hanya sedang membayangkan sesuatu." Jawabnya.

Sasuke menaikan sebelah alisnya bingung, "Membayangkan sesuatu?"

"Ya, Kaa-san membayangkan saat Kaa-san menggendong bayimu dan Sakura nanti, kyaaaa mimpi apa Kaa-san semalam?" Mikoto nampak begitu senang.

Sementara Sasuke dan Sakura sweatdrop dibuatnya.

"Hmmph," Itachi berusaha menahan tawanya.

Sasuke yang merasa tengah diledek oleh Itachi pun menjitak kepala Itachi yang duduk didepannya.

"Tsk, apa yang kau lakukan!" Itachi mengelus kepalanya sambil meringis kesakitan.

"Berhenti mengejekku, baka aniki !" ucap Sasuke sinis.

"Hahaha.. aku hanya tak percaya, kau mendahuluiku secepat ini my lovely otouto."

Sasuke yang mendengar ocehan Itachi hanya membuang muka keluar jendela, "Aku tak peduli, lagi pula ini hanya pernikahan konyol!" ujarnya acuh.

"Tidak Sasuke!" Mikoto menanggapi ucapan Sasuke, "Pernikahan adalah suatu hal yang sakral dan kau tak bisa mempermainkannya begitu saja."

Sakura yang mendengarnya hanya menundukan kepalanya, kedua tangannya mencengkram rok yang ia kenakan. 'Bagaimana bisa hal ini terjadi kepadaku?'

"Tapi Kaa-san—"

"Kalian berdua sudah mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan, kalian sudah resmi menjadi sepasang suami istri." Mikoto kembali memotong ucapan Sasuke.

Sasuke hanya bisa bungkam seribu bahasa.

"Pernikahan bukanlah hal yang sepele, Sasuke !"

Sesampainya dirumah pukul sudah menunjukan jam 7 malam, mobil langsung terpakir dihalaman kediaman Uchiha.

Terlihat Uchiha Fugaku, ayah dari Sasuke dan Itachi sudah menunggu di teras depan rumahnya bersama dengan Kizazhi Haruno dan Mebuki Haruno—orang tua dari Sakura.

Sakura turun dari mobil diikuti Sasuke dan Mikoto, Mebuki pun langsung menghampiri putri tunggalnya dengan raut kekhawatiran.

"Bagaimana keadaanmu nak?" tanyanya sambil memegang pundak Sakura kemudian memeluknya.

Dengan wajah lelah Sakura menjawab, "Aku baik Kaa-san," kemudian ia tersenyum tipis.

"Masuklah dulu kedalam, kalian pasti lelah!" ujar Fugaku saat Itachi juga telah turun dari mobilnya.

"Ya, Kaa-san sudah memasak makan malam untuk kalian." Ujar Mebuki sambil mengajak Sakura dan Mikoto untuk masuk kedalam kediaman Uchiha.

Sementara Sasuke, langsung melengos begitu saja menuju toilet rumahnya.

Kini seleruh anggota keluarga Uchiha dan Haruno tengah berkumpul dihadapan meja makan kediaman Uchiha.

Uchiha dan Haruno memang sudah lama bertetangga, hubungan mereka sudah seperti kerabat dekat, jadi jangan heran jika Mebuki memasak dikediaman Uchiha sudah seperti dirumahnya sendiri.

Tidak seperti yang lain, Sasuke dan Sakura, terlihat murung memandang makanan dihadapannya.

Mikoto melihat keadaan sekitar, ia tersenyum penuh arti dan kemudian menepuk kedua tangannya sehingga semua perhatian kini terarah padanya. "Aku ada kabar bahagia untuk kita semua!"

Mendengar ucapan Mikoto, Sasuke dan Sakura mendapat firasat buruk. Sambil melirik horor pada Kaa-san nya, Sakura berusaha meneguk ludahnya walau sulit.

Sementara Fugaku, Kizazhi dan Mebuki yang tak tau apa-apa mengernyit bingung pada Mikoto. "Kabar baik apa, Mikoto?" tanya Mebuki penasaran.

"Kita sudah jadi besan, Mebuki!! kyaaa.." ucap Mikoto girang sambil mengarahkan kedua tangannya kedepan Mebuki.

Mebuki, Kizazhi dan Fugaku masih bingung, "Besan..?" gumam ketiganya berbarengan.

"Sasuke dan Sakura sudah menikah..!!" seru Mikoto semangat.

Diam..

Semua masih memproses apa yang baru saja dikatakan Mikoto..

Sakura sudah tak tau harus apa? ia hanya bisa diam dan berdoa semoga orang tuanya tak terkena serangan jantung dadakan.

Hening..

Hingga akhirnya Fugaku tersedak oleh makanan yang sedang ia makan.

Dan reaksi kedua ditunjukan oleh Mebuki, "Kyaaaaa akhirnyaaa.." jerit Mebuki, ia menggapai uluran tangan Mikoto dengan ekspresi bahagia yang tak terlukiskan. "Tanpa usaha keras kita, kita berhasil Mikoto."

Kemudian kedua ibu-ibu itu berpelukan bak teletabis.

Sasuke dan Sakura? Mereka hanya bisa sweatdrop sendiri dengan reaksi keluarga mereka atas pernikahan yang mereka anggap konyol ini. 'Nyatanya ini yang mereka harapkan, eh?' Batin mereka.

"Bagaimana bisa? ada yang bisa jelaskan, eh?" tanya Fugaku yang telah berhasil mengendalika keterkejutannya.

"Begini Tou-san...," Itachi membuka suara untuk menjelaskan semuanya pada Fugaku, Kizazhi dan Mebuki apa yang telah terjadi hingga Sasuke dan Sakura bisa menikah.

Kini jam dinding diruang tamu kediaman keluarga Uchiha menunjukan pukul 8:30 malam. Makan malam sudah usai, dan seluruh keluarga Uchiha dan Haruno berkumpul diruang tamu.

"Karena semua terjadi tidak sesuai dengan rencana, berarti akan ada perubahan rencana kedepannya!" ucap Kizazhi membuka topik pembicaraan diruangan itu.

'Rencana? Sebenarnya apa yang mereka rencanakan selama ini?' pikir Sasuke bingung.

"Hn, karena mereka sudah menikah diluar dugaan kita, sebaiknya kita harus segera menggelar resepsi!" ucap Fugaku dengan santainya.

"Apa?" ucap Sasuke dan Sakura bersamaan, keduanya saling tatap dengan ekspresi terkejut. 'Jadi hal seperti ini yang selama ini mereka rencankan?' batin Sasuke.

"Apa maksud Tou-san? Kami 'kan masih sekolah !" ucap Sasuke.

"Ya sayang, bukan kah lebih baik saat mereka sudah lulus nanti?" Mikoto menyentuh bahu Fugaku yang duduk disebelahnya.

"Hn, aku hanya mengetes saja," ucap Fugaku sambil bersidekap dada dan memejamkan matanya. 'Ternyata mereka masih menolak pernikahan ini,' pikirnya.

Sakura menghela nafas lega atas ucapan terakhir Fugaku.

"Tapi untuk meresmikannya, tak ada salahnya kita mengadakan pesta kecil. Bisa kita bilang pertunangan." Mebuki mengedipkan sebelah matanya pada Mikoto.

Mikoto seolah terkejut dengan ide Mebuki, ia melebarkan pupil onyx-nya dan sebuah senyum mengembang dengan lebarnya. "Yaa, aku sangat setuju, bagaimana sayang?" tanyanya kemudian pada suaminya—Fugaku.

"Ya, boleh juga." Jawab Fugaku singkat.

Sakura membelalakan matanya, hal seperti ini tak pernah terbayangkan olehnya. Terutama dengan Sasuke si musuh abadi baginya. Kenapa keluarganya tak bisa mengerti dirinya? 'Maafkan aku Gaara-kun..' ucapnya lirih dalam hati.

Sasuke melihat Itachi yang tengah melihatnya dengan tampang mengejek dan tatapan seolah mengatakan, 'Hahaha selamat ya my lovely Otouto, pengantin baru, eh!'

"Cih," Sasuke hanya bisa berdecih dan membuang mukanya dari tatapan Itachi. Ia malas dengan aniki-nya yang selalu menyebalkan menurutnya.

Sementara kini pandangannya mengarah pada Sakura yang juga tak sengaja menatapnya, tatapannya datar tapi serat akan kekesalan.

Itachi yang duduk di sofa yang berhadapan dengan Sasuke dan Sakura, menatap adik dan adik iparnya dengan sebuah seringai jahil.

Itachi dengan sengajanya menginjak kaki Sakura dari bawah meja, sontak Sakura mendelik, namun bukan pada Itachi melainkan pada Sasuke yang ada disebelahnya.

"Aduh, apa yang kau lakukan pantat ayam?" bisik Sakura geram pada Sasuke.

Sasuke menoleh mengangkat satu alisnya. Ia bingung dengan sikap Sakura yang tiba-tiba terlihat kesal padanya. "Kenapa kau?" tanyanya sinis.

Sakura makin kesal karena ditanggapi sinis oleh Sasuke, ia pun dengan kencangnya menginjak kaki Sasuke yang tak berdosa.

"Ugh.. apa kau gila? Apa yang kau lakukan?" ucap Sasuke cukup kencang, menatap marah Sakura.

Yang lain menoleh menatap heran Sasuke, kini Sasuke jadi kikuk karena jadi pusat perhatian.

Sementara Sakura jadi merasa tidak enak.

"Ada apa Sasuke?" tanya Mikoto.

"E-eh, ta-tadi aku tak sengaja menginjak kaki Sasuke, maaf Obasan."

"Menginjak?" kini Fugaku yang bertanya.

Emerald Sakura bergerak gelisah, mencari alasan yang logis, tapi apa? "Ta-tadi ada cicak didekat kaki Sasuke, Ji-san," Sakura nyengir kikuk dan bernafas lega dalam hatinya.

"Apa ci-cicak? Di-dimana? Kyaaa kenapa dirumahku bisa ada cicak?" Mikoto tiba-tiba jadi panik sendiri, ia mengankat kakinya ke sofa dan memeluk Fugaku yang ada disebelahnya.

'Bodoh !' Sasuke menatap tajam Sakura yang juga tengah menatapnya, kini ia harus menggunakan otaknya. "Bukan cicak Kaa-san, hanya kecoa!" ucap Sasuke datar.

Kau salah Sasuke, alasan itu juga kesalahan besar!!

"Ke-kecooaaaa kyaaa, dimana kecoa itu?" teriak Mebuki panik.

Sakura hanya menepuk jidatnya yang lebar atas perbuatan bodoh Sasuke.

"Suamiku singkirkan kecoa itu!!!"

Pada akhirnya Mikoto, Fugaku, Kizazhi dan Mebuki meninggalkan ruang tamu dan memilih keruang keluarga untuk melanjutkan pembicaraan mengenai rencana pertunangan anak mereka, atau lebih tepatnya perayaan pernikahan yang disembunyikan sementara.

Tinggalah sekarang, Sasuke, Sakura dan Itachi diruang tamu.

"Apa yang kau lakukan pinky !!?"

"Apa katamu? Kau yang lebih dulu menginjakku pantat ayam!"

"A-ap—cih," Sasuke membuang mukanya ke Itachi yang kini tengah berdiri siap untuk kabur ke kamarnya sambil cekikikan.

"BAKA ANIKI!!" teriak Sasuke kesal.

To be Continue

Taaaraaaaa...

Naru ga nyangka lumayan juga yang respon fic ini

Arigatou minna-san yang udah Review, semua aku bales lewat PM 'kan?

Makasih juga yang uda Fav dan Follow fic ini ;)

Di chap 2 ini gak sepanjang kemarin, tapi semoga minna-san puas ya hehehe..

Sungguh saku melongo baca review dari kalian, saku ga ada niatan sedikitpun masukin unsur humor di fic ini. Tapi sepertinya banyak yang terhibur ya.. syukurlah...

Padahal genre-nya romance and drama loh, hehehe

Jadi sekarang Naru nunggu respon dan pendapat minna-san ya buat chap 2 ini ;) mohon REVIEW !

Buat next chapnya, ada yang masih nungguin ga, eh?

Kalo ada, kode 'LANJUUUUTTT' nya jangan lupa ya !

SIGN,

Narufia Uchiha